DIHINA KARENA MOTOR JADUL PADAHAL PUNYA SHOWROOM MOBIL
"Mas, sudah dua hari ibu dirawat di rumah sakit. Mbak Sinta memintaku pulang. Dia minta aku gantian menjaga ibu karena cuma aku yang belum pernah merawat ibu. Bukan karena capek, tapi mereka memang sibuk bekerja, Mas. Aku juga sudah berulang kali bilang sama ibu supaya ikut kita aja di sini, tapi ibu selalu menolak. Ibu nggak mau pindah kota. Hidup dan mati ingin tetap berada di kampung halamannya."
Dua kali sudah kuutarakan niat untuk merawat ibu di kampung, apalagi ibu sudah tua. Usianya lebih dari 65 tahun. Selama itu pula aku belum pernah merawatnya, hanya tiap bulan mengirimi uang untuknya saja.
Kutitipkan pada Mbak Sinta atau Mila, karena memang mereka yang gantian merawat ibu selama ini. Sementara Mas Angga-- kakak keduaku pun sama sepertiku.
Hanya mengirimkan uang saja. Istrinya dan ibu kurang akur, makanya Mas Angga tak ada niat untuk mengajak ibu tinggal bersamanya. Daripada makin sakit dan hipertensi, katanya.
"Cuma ibu orang tua kita satu-satunya, Mas. Selama ini aku juga sudah merawat mama dan papa hingga mereka tutup usia, kan? Sekarang waktunya aku merawat ibu kandungku sendiri," ucapku lagi.
Air mata kembali menetes ke pipi, mengingat semua pengorbanan ibu dahulu. Dia yang single parent itu harus mengurus empat anaknya sendirian. Hanya Mas Angga yang kuliah, itu pun dari beasiswa, sementara tiga anak ibu lainnya tamat SMA.
Kulihat Mas Huda masih berpikir. Selama dua hari ini pun aku yakin dia masih memikirkan permintaanku itu.
"Bagaimana dengan sekolah anak-anak?" tanyanya kemudian.
"Kalau mas setuju, aku bisa mengurus pindahannya, Mas. Kasihan juga Mbak Sinta sama Mila kalau terus izin nggak masuk kerja, takutnya mereka dipecat atasan. Sementara aku di sini memang nggak ada kerjaan, kan?"
Mas Huda menoleh, menatapku lekat lalu menganggukkan kepala. Bola mataku berbinar seketika.
"Jadi mas setuju aku pulang kampung bersama anak-anak untuk merawat ibu?" tanyaku memastikan. Lagi-lagi ibu menghela napas lalu mengangguk pelan.
"Iya. Besok kamu pulang duluan naik pesawat atau kereta, soal sekolah Gala sama Gina nanti mas yang urus. Pokoknya kamu fokus rawat ibu saja. Kesuksesan kita saat ini juga tak lepas dari doa orang tua," ucap Mas Huda lagi.
Spontan kupeluk dia erat. Air mataku tak jua berhenti menetes. Setelah dua harian dirundung kepedihan dan kegelisahan, akhirnya Mas Huda mengabulkan permintaanku.
"Mas juga sudah menyusun rencana cukup cantik setelah urusan sekolah anak-anak selesai. Kita akan sama-sama merawat ibu, ya? Dulu kamu juga begitu ikhlas merawat papa dan mama saat mereka sakit. Sekarang gantian, Mas juga ingin merawat ibu," ucapnya meyakinkan. Lagi-lagi aku tak berhenti bersyukur karena memiliki suami sepertinya.
Dia yang setia, penyayang keluarga dan tak pernah patah semangat dalam mencari rezeki halalNya. Pantas almarhum papa dan mama begitu membanggakannya. Bahkan dulu sempat tak merestui hubunganku dengannya karena perbedaan strata.
Meski Mas Huda terlahir dari keluarga berada, tapi dia selalu berpenampilan sederhana. Tak pernah neko-neko. Dia memang seorang introvert, lebih menyukai keheningan dibandingkan keramaian sama sepertiku. Mungkin karena itu pula, dia tak banyak memiliki teman pun tak banyak teman yang tahu kalau dia orang berada.
Pergi ke mana-mana sering pakai vespa. Kecuali jika bersamaku dan anak-anak. Dia akan memakai mobilnya. Dia selalu mengutamakan kebutuhan istri dan anak-anaknya dibandingkan kebutuhannya sendiri.
Dia pun tak tega jika melihat keluarga kecilnya kesusahan, karena itulah selalu melakukan berbagai cara untuk membuat kami bahagia.
Berulang kali gagal usaha tak pernah membuatnya menyerah, hingga akhirnya kini benar-benar memiliki showroom mobil sendiri. Sedangkan warisan dari orang tuanya tinggal kontrakan dan rumah berlantai dua yang kami tinggali.
Esoknya. Aku pun pamit sama Gala dan Gina untuk berangkat lebih dulu. Mereka sudah tahu rencana kedua orang tuanya untuk pulang kampung.
Awalnya mereka menolak tapi akhirnya setuju saja, setelah aku jelaskan bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anak-anaknya. Bagaimana pula perintah Allah dan RasulNya pada seorang ibu.
Gala yang kini duduk di bangku kelas lima sementara Gina duduk di bangku kelas tiga itu pun mengangguk pelan saat aku berpamitan. Mereka mencium punggung tanganku lalu memberikan sesuatu. Entah apa isinya, tapi mereka bilang kado untuk nenek.
MasyaAllah, aku bahagia sekali memiliki anak yang berjiwa besar dan patuh pada orang tua seperti mereka.
Aku dijemput Mbak Sinta di bandara Ahmad Yani. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai di rumah ibu. Rumah peninggalan bapak yang tak berpenghuni itu. Tiap minggu, Mbak Sinta meminta asistennya untuk membersihkan rumah.
Jadi meski tak terpakai, tetap terawat dan bersih. Karena ibu memang tinggal bersama Mbak Sinta atau Mila di rumah mereka. Gantian tiap bulan.
Baru menginjakkan kaki di lantai teras, dua tetanggaku sudah muncul di halaman. Kupikir sekadar menanyakan kabar atau apa. Ternyata hanya datang untuk menghina.
"Gitu dong, Rum. Gantian kamu yang merawat ibumu. Kasihan kakak sama adikmu kerepotan sendiri, lagipula merantau di ibukota puluhan tahun kok nggak punya apa-apa. Mending di kampung halaman seperti Sinta itu, kerja di pabrik juga sekarang sudah punya rumah di perumahan sama mobil."
Aku hanya melirik Mbak Sinta yang baru saja membuka pintu rumah ibu.
"Bener deh, Rum. Buat apa jauh-jauh merantau, kalau pulang nggak bawa apa-apa. Waktu itu Si Mesya juga lihat kamu lagi bersih-bersih kontrakan. Jadi bener ya gosip yang beredar kalau selama ini kamu agak kekurangan uang, makanya jarang pulang."
Aku hanya mengelus dada. Mereka tak tahu kalau kontrakan yang kubersihkan itu memang kontrakan yang baru saja kosong. Ada yang tanya-tanya makanya aku bersihkan sendiri. Kontrakan lima belas pintu warisan dari mertua.
Lagipula aku jarang pulang karena memang sibuk, anak-anak nggak pernah mau ditinggal. Namun setidaknya empat bulan sekali aku juga pulang demi menjenguk ibu. Kalaupun nggak bisa pulang, aku selalu mengirim uang tiap bulan untuk memenuhi semua kebutuhan ibu dan sedikit uang saku untuk keponakan.
💕💕💕
DIHINA KARENA MOTOR JADUL PADAHAL PUNYA SHOWROOM MOBIL
Dua tetanggaku makin ngoceh saat aku diam saja tak menjawab pertanyaan mereka. Mbak Sinta pun sepertinya tak ada niat untuk membelaku. Entahlah. Mendadak aku punya pikiran buruk padanya kalau begini.
"Kasihan ibumu, Rum. Harus pindah-pindah tiap bulan. Kakak sama adikmu juga sibuk kerja, tapi mereka masih berusaha merawat ibumu dengan baik. Meski harus gantian tiap bulan. Sementara kamu? Bukannya ikut andil merawat ibumu malah nggak pulang-pulang. Ingat, Rum. Surga anak itu terletak pada kaki ibunya. Lah kamu, nggak pernah mau mendekati ibumu gimana mau masuk surga?" ucap Budhe Nur sembari melipat tangannya ke dada, menatapku dengan sinisnya.
Kuhirup napas panjang lalu menghembuskannya. Baru duduk di kursi kayu di ruang tamu untuk melepas lelah, kembali mendapatkan ceramah mereka. Budhe Narni, Budhe Nur sama Mbak Sri.
"Lagian kalau di sana nggak ada kerjaan lebih bagus di sini jaga ibumu, Rum. Buat apa merantau kalau di sana juga nganggur. Anak-anakmu sekolah aja di kampung, biaya juga lebih murah. Suamimu biar aja di Jakarta sendiri. Tetangga juga banyak tuh yang suaminya merantau, tapi anak istri tinggal di kampung. Bisa nabung banyak. Pada beli sawah sama ternak. Daripada sekeluarga ikut semua tapi nggak punya apa-apa buat apa?" Budhe Narni ikut menimpali.
"Aku memang nggak kerja di sana, Budhe tap--
"Nah, kan. Kalau istri cuma pengangguran, anak-anak sekolah semua sementara yang kerja cuma laki doang ya pantes kalau nggak punya tabungan. Biaya hidup di sana juga mahal. Memangnya suamimu kerja apa sih, Rum? Sampai kamu nekat ikut merantau di sana? Apa kamu nggak mikir masa depan?" Mbak Sri yang usianya tak terpaut jauh dariku itu pun ikut menimpali.
Sejak dulu dia memang selalu iri denganku. Di sekolah, tiap kali aku mendapatkan peringkat lima besar, dia selalu menyindir nggak jelas. Tiap kali aku nggak bisa ngumpul bersama teman-teman, dia juga memfitnahku macam-macam. Padahal jelas aku di rumah sibuk membantu ibu membuat keripik yang akan dititipkan ke warung-warung.
Apalagi saat aku menikah dulu, Mbak Sri juga paling nyinyir. Dia bilang, "Buat apa cari jodoh jauh-jauh kalau kerjanya juga cuma serabutan. Lebih baik tetangga sendiri yang sudah kenal sejak awal. Lihat jelas bibit, bebet dan bobotnya."
"Sudah ya Mbak dan Budhe-budhe, aku mau istirahat. Malas berdebat. Yang pasti suamiku itu punya pekerjaan halal dan selalu semangat cari nafkah buat keluarga. Dia juga penyayang dan setia. Itu sudah cukup buatku, soal harta yang lain itu kuanggap sebagai bonusnya," ucapku lagi demi mengakhiri perdebatan nggak jelas ini.
"Halah, Rum. Kamu dulu waktu sekolah 'kan paling pintar diantara aku sama Betty, tapi lihat sekarang hidup kamu paling biasa aja. Sementara aku meski tinggal di kampung, kami sudah punya rumah, sawah, ternak, dan kendaraan. Betty juga sama, dia malah udah kredit mobil segala. Kami mikirin masa depan soalnya, bukan kebahagiaan sesaat saja."
Aku hanya tersenyum. Malas menanggapi mereka yang dari dulu memang sibuk menghina keluargaku. Aku masih ingat betul, dulu saat ibu bersikeras menyekolahkan anak-anaknya sampai SMA, para tetangga dengan entengnya menghina ibu sedemikian rupa.
"Buat apa sekolah, lebih baik langsung kerja. Sekolah SMA 3 tahun itu menghabiskan banyak biaya. Coba kalau langsung kerja, malah dapat duit bisa bantu orang tua."
"Sekolah juga buat apa kalau ujung-ujungnya di dapur? Lebih baik kerja, kalau sudah cukup umur ya nikah saja. Biar nggak terus-terusan menjadi beban orang tua."
"Kasihan ibumu, Rum. Demi kamu dan kakak adikmu sekolah, dia harus pontang-panting cari duit. Nggak kenal panas, nggak kenal hujan. Putus sekolah aja sih mumpung masih kelas dua, kerja sana. Itu Mbak Ambar cari orang buat diajak kerja jadi asisten rumah tangga di Bandung. Ikut aja."
Kata-kata itu kembali terngiang di benak. Sejak dulu, mereka memang selalu meremehkanku dan keluargaku. Membuatku down saat sekolah dulu. Namun aku sangat beruntung karena memiliki ibu yang berpendirian kuat.
"Ibu nggak punya modal harta buat kalian semua, Nak. Ibu cuma punya tenaga, jadi selama ibu masih kuat kerja ibu akan terus bekerja. Ibu beri kalian modal pendidikan sampai SMA, setelah itu ... cari uang sendiri untuk modal kalian nikah nanti. Sekarang jangan pikirkan ibu, fokuslah sekolah. Buktikan pada mereka kalau kalian akan sukses suatu saat nanti. Setidaknya, bisa hidup mandiri dan jauh lebih baik dari kehidupan kita saat ini."
Kuseka air mata yang menetes di pipi. Betapa aku merindukan hadirnya ibu di sini. Sekarang, aku akan merawat ibu dan suami juga anak-anak di rumah ini kembali. Rumah yang penuh kenangan bersama ibu dan almarhum bapak dulu.
"Kalau nggak bisa pulang, harusnya kamu juga kirim uang, Rum. Bukannya malah enak-enakan dan lepas tangan. Kaishan tuh kakak dan adikmu kadang cari pinjaman buat belikan ibumu ini itu. Merawat orang tua itu nggak mudah, Rum. Mereka beralih seperti anak kecil lagi," ucap Budhe Narni dengan ketus sebelum meninggalkan rumah ibu.
Mendadak aku menoleh ke arah Mbak Sinta. Apa dia ngomong yang nggak-nggak tentangku selama ini? Kenapa dia dan Mila harus cari pinjaman segala? Padahal jelas aku selalu mencukupi kebutuhan ibu tiap bulan, bahkan aku juga sering mentransfer lebih untuk anak-anaknya dan juga anak Mila. Apa uang empat juta untuk ibu di kampung masih kurang?
💕💕💕
DIHINA KARENA MOTOR JADUL PADAHAL PUNYA SHOWROOM MOBIL
"Mbak, kok mereka bilangnya begitu?" tanyaku pada Mbak Sinta yang sibuk membersihkan kamar ibu.
"Bilang begitu maksudmu apa sih, Rum?"
"Itu tadi, Mbak. Budhe Narni bilang Mbak Sinta sama Mila sering pinjam duit buat perawatan ibu. Kan tiap bulan aku kasih empat juta buat biaya ibu sehari-hari. Memangnya masih kurang?"
Kulihat mimik wajah Mbak Sinta sedikit berubah. Dia pun agak gugup, tapi berusaha menetralkan perasaannya.
"Omongan tetangga kok kamu dengerin, Rum. Bikin tensi naik kalau kamu selalu dengerin ocehan mereka. Kalau di kampung begini kamu harus tebal mata sama telinga. Stress kalau selalu mikirin cibiran mereka. Kamu lupa, sejak kita kecil kan mereka memang rajin menghina," balas Mbak Sinta lagi.
Aku pun mengiyakan saja. Meski begitu, aku tetap akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi selama aku dalam perantauan. Benarkah uang itu untuk biaya perawatan ibu, atau justru digunakan Mbak Sinta dan Mila untuk biaya lainnya.
Selama ini, mereka sering pinjam duit padaku, tapi aku jarang sekali menagih Justru kubilang buat mereka saja, karena aku masih ada tabungan. Mbak Sinta tahunya aku jualan online saja, tak tahu kalau sudah lima tahun terakhir ini Mas Huda memiliki showroom mobil. Mas Huda memang memintaku untuk diam-diam saja, buat apa koar-koar. Yang penting saat ibu butuh uang, kami bisa mentransfernya.
Tak lama kemudian, Mila menelpon. Katanya ibu sudah diperbolehkan pulang. Cukup tiga hari dua malam di rumah sakit, kontrol bulanan tetap harus dilakukan karena ibu terkena hipertensi, lambung bermasalah dan gejala stroke juga.
"Mil, kamu sama ibu naik taksi aja, ya? Nanti Mbak bayar kalau sudah sampai rumah. Mbak Sinta baru aja jemput Mbak dari bandara soalnya, mungkin dia masih capek. Gimana?"
"Iya, Mbak. Ibu juga sudah pengin ketemu Mbak ini," pungkasnya seraya mengucap salam.
Baru mau menyelonjorkan kaki di tikar ruang keluarga, beberapa tetangga kembali datang. Aku pun mulai was-was lagi dengan obrolan mereka.
Awalnya memang sekadar tanya kabar, tapi aku yakin ujung-ujungnya tak mengenakkan. Pasti membanding-bandingkan lagi soal penghasilan dan kesuksesan.
"Kamu tahu Si Amin, kan, Rum? Itu loh yang dulu suka sama kamu. Sekarang sukses di kampung sebelah. Punya pabrik tahu, rumah gedong sama mobil mewah. Kamu sih dulu nggak mau sama dia hanya karena dia doyan minum sama playboy. Sekarang dia juga punya bini dua. Nggak masalah kan, yang penting semua bininya kecukupan," ucap Minah. Dia teman sekolahku dulu.
"Namanya jodoh sudah ada yang atur, Minah. Suamiku sekarang Alhamdulillah juga mapan kok. Nggak mabok dan judi pula. Ngerokok pun nggak," balasku.
"Tetap bedalah, Rum. Si Amin itu udah sukses sekarang, karyawannya aja banyak. Coba kamu dulu nikah sama dia, tinggal ongkang-ongkang kaki juga pastinya," timpal Mbak Ambar. Dia yang dulu sering mencari asisten rumah tangga di kampungku, kini juga sudah pensiun. Buka warung sembako di rumah.
"Ningrum itu malu sama kita-kita. Dia merantau hampir dua puluh tahun lamanya, tapi pulang nggak bawa apa-apa. Sementara kita nggak perlu merantau jauh-jauh dan bisa merawat orang tua, tapi hidup jauh lebih mapan."
"Sudah. Sudah. Ibuku datang, aku nggak mau bahas soal begini lagi. Tolong, hargai kehidupan dan pilihan masing-masing orang. Nanti, kalau kujelaskan sedetail-detailnya tentang hidupku di sana dibilang riya' pula," balasku kemudian. Gegas menyambut ibu dan Mila yang sudah sampai di halaman.
Halaman tanpa pagar dan menghubungkan dengan kebun tetangga. Di kampungku memang jarang sekali rumah berpagar. Alasannya biar menambah keeratan dan tak terkesan individual.
Kucium punggung tangan ibu yang mulai mengeriput, lalu memeluknya hangat. Akhirnya kurasakan kembali peluk hangat dan cinta ibu yang begitu tulus itu.
"Berapa taksinya, Mil?" tanyaku kemudian.
"Seratus--
"Lima puluh ribu, Mbak," ucap supir taksi saat menyerahkan koper ibu. Mila mendadak pias.
"Oh, ini seratus ribu, Mil. Sisanya buat jajan ponakan," balasku.
Mila pun agak gugup menerima selembar uang itu dariku. Jarak dari rumah ibu ke rumah sakit nggak terlalu jauh, nggak mungkin juga seratus ribuan.
"Alhamdulillah, Budhe Wahyuni sudah pulang. Baru kita rundingan mau jenguk, malah sudah pulang duluan," ucap Mbak Ambar kemudian saat melihatku dan ibu masuk ke ruang keluarga.
Ibu pun tersenyum ramah. Dari dulu, ibu memang sangat sabar dan tak pendendam dengan siapa pun. Meski dulu selalu mendapatkan caci maki dari mereka bahkan sempat dikucilkan warga karena terlilit hutang demi menyekolahkan kami berempat.
Jarak usia kami memang cukup rapat, jadi sekolah pun berderet hanya beda satu atau dua tingkatan saja antara aku dengan saudaraku yang lainnya.
"Iya, Mbar. Alhamdulillah sudah sehat. Sejak dengar Ningrum pulang dan mau merawat budhe di rumah, mendadak lekas sehat dan pengin cepat ketemu dia," ujar ibu lagi dengan senyum tulusnya. Aku pun mengusap lengan ibu. Begitu terharu.
"Alhamdulillah akhirnya Ningrum mengalah ya, Yun. Lagian kalau di sana nggak ngapa-ngapin mending di kampung to, merawat kamu sambil bertani daripada kamu gadein terus sawahnya. Suaminya Ningrum sekalian suruh pulang, kerja di tempat Pak Anin itu saja si juragan tahu. Daripada di kota juga cuma kerja jadi karyawan dealer, kan?" ucap Mbak Sri lagi.
Aku menoleh ke arahnya. Darimana dia tahu soal pekerjaan Mas Huda. Apa dia dengar dari tetangga juga? Atau sengaja cari tahu tentang kehidupanku di Jakarta?
"Kenapa, Rum? Kamu malu kalau semua tetangga tahu pekerjaan suamimu?"
"Nggak juga. Kenapa harus malu? Mau kerja serabutan, kuli bangunan, jualan gerobakan, karyawan dealer atau lainnya yang penting kan halal tidaknya. Iya, kan?"
"Bilang aja malu. Percuma merantau ke kota bertahun-tahun kalau cuma jadi kuli juga. Di kampung juga banyak lowongan begitu," pungkasnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah tetanggaku.
Cukup lama meninggalkan kampung. Pulang empat bulan sekali paling hanya tiga sampai lima hari di kampung, tak membuatku tahu bagaimana karakter mereka sekarang. Ternyata, dari dulu sampai kini sama saja. Suka membanding-bandingkan kehidupan seseorang.
Aku khawatir mereka akan jantungan kalau tahu bahwa suamikulah pemilik showroom itu. Dia pemiliknya, bukan bekerja sebagai karyawan di sana.
💕💕💕