Keadaan ekonomi, satu-satunya hal yang Intan syukuri lahir dari rahim Ibunya. Takdir menuliskan ia menjadi anak tunggal dari pemilik sebuah pabrik tahu besar.
Sebagai anak satu-satunya, apa saja yang Intan mau akan terkabul dengan mudah. Kalau doraemon punya kantong ajaib, Intan punya lisan magic. Ingin ini, ingin itu, apa yang tidak bisa? Apa pun yang ia sebutkan dengan embel-embel “mau” sebisa mungkin orang tuanya mengabulkan. Harga dan tempat tak jadi soal.
Sejujurnya bukan perkara anak tunggal, sih. Ibu dan Bapak hanya ogah mendengar celotehan Intan yang panjangnya melebihi rel kereta. Sama halnya dengan bocah-bocah lugu yang menggunakan jurus tantrum, begitulah Intan melancarkan aksi. Hanya saja ia tak pakai acara ngamuk-ngamuk. Simpel. Hanya membicarakan keinginannya sampai terwujud. Kadang-kadang disampaikan lewat sindir menyindir. Membesarkan volume di hadapan siapa saja kalau ibu dan bapak tidak juga menuruti. Kan, memalukan.
Rupanya kebiasaan memanjakan dan menuruti harus pula terjadi pada kriteria pendamping Intan kelak alias jodoh yang sudah Ibu dan Bapak rencanakan jauh-jauh hari. Awalnya Bapak dan Ibu bersikap biasa ketika Intan dengan terang-terangan mengakui suka anak tetangganya. Paling-paling cinta sesaat, begitu mereka pikir. Siapa juga yang berani memacari anak konglomerat sejagad kampung? Hanya orang sinting yang memilih mengakhiri hidupnya.
Namun, dugaan Bapak dan Ibu salah. Rasa suka Intan bisa terpelihara tanpa terkontaminasi calon-calon yang Ibu berikan. Padahal calon-calon jodoh Intan kelak adalah anak-anak pengusaha yang memiliki cabang di berbagai kota. Raup keuntungannya pun bukan lagi puluhan juta, tapi sudah mencapai ratusan hingga milyaran.
“Dari dulu aku cuma suka Iman. Hanya Iman. Aku mohon Ibu dan Bapak mengerti. Cinta itu tidak bisa dipaksa. Kalaupun Ibu dan Bapak memberikan calon seganteng Rezky Aditya, aku tetap akan memilih Iman.”
Itu kalimat Intan ketika orang tuanya mencoba membicarakan lelaki pilihan mereka.
Wajah Ibu sontak berubah. Padahal sudah lebih dari satu jam berusaha basa-basi.
Adalah Iman, seorang pemuda dari kasta rendah. Anak yatim dengan ibu seorang pekerja serabutan. Tidak ada yang istimewa ditilik dari latar belakangnya. Salahsatu alasan kenapa Intan tertarik karena kumis tipis yang membingkai bibirnya yang tipis dan minimalis.
Tidak ada waktu pasti kapan Intan mulai menyukai Iman. Seingat Intan, ia pernah ditolong saat jatuh di acara Agustusan. Saat itu, ketika usianya kurang lebih lima belas tahunan, ia menonton perlombaan Agustusan. Sendirian. Intan memang tak punya teman warga sini.
Ada berbagai perlombaan yang bisa warga tonton. Menarik, menghibur, dan ramai. Intan senang menontonnya. Selama ini Intan sering dilarang Ibu dan Bapak walaupun sekadar main ke rumah tetangga sebelah. Jadi, acara perlombaan ini menjadi hal baru untuknya.
Awalnya Intan tidak mau menonton. Tapi, karena di sekolah sudah ramai dari beberapa minggu sebelumnya, Intan tertarik. Akhirnya Intan nekad pergi tanpa sepengetahuan Ibu dan Bapak. Hhh … kalau saja Ibu dan Bapak tahu sudah pasti Intan kena omel.
‘Duh, Intan, lingkungan mereka itu kotor! Gak baik buat kesehatan.’
‘Jangan, deh, kamu punya teman kayak mereka. Miskin, kucel, kumel, bau pula.’
Atau yang lebih esktrem Ibu bilang begini :
‘Pokoknya Ibu dan Bapak melarang kamu bergaul dengan warga kampung sini. Gak sepadan. Kamu ini orang kaya. Anak semata wayang Ibu dan Bapak. Keluarga Haji Junaedi. Siapa, sih, yang gak tahu Haji Junaedi? Semut dan ulat saja tahu.’
Begitulah Ibu dan Bapak. Sebagai gantinya Intan diberi apa saja yang ia mau.
Oke, kembali ke perlombaan. Jadi, dalam perlombaan Agustusan saat itu ada lomba membuka kulit pisang pakai mulut. Mata peserta ditutup sedang tangannya diikat ke belakang. Nahas, setelah lomba itu selesai, Intan malah jatuh gara-gara menginjak kulit pisang sisa peserta. Jadilah Intan bahan tertawaan warga kampung. Sakitnya, sih, tidak seberapa, cuma malunya luar biasa.
Tanpa diduga seorang bocah kisaran 10 tahunan segera menghampiri Intan yang masih terduduk. Lelaki itu bernama Iman. Dengan sigap ia bertanya, “Sakit, Kak? Kakak baik-baik saja?” Setelah itu dia mengulurkan tangan untuk membantu Intan berdiri.
Memang tidak ada yang istimewa dari kerjadian tersebut. Hanya saja dia menjadi satu-satunya orang yang bertanya dan menolong. Itu cukup membuat Intan terkesan. Kebaikan Iman berhasil membuat hati Intan terpincut.
Seiring berjalannya waktu, ketika Intan sudah berseragam SMA, teman-teman Intan heboh membahas asmara. Intan rapat-rapat mengunci mulut. Kalau ditanya Intan hanya akan menggeleng disertai senyuman. Teman-teman Intan yang pengalamannya jauh lebih banyak justru mencium sebuah kecurigaan bahwa sesuatu tengah terjadi. Sikap itu memancing ingin tahu berlebih. Tentulah teman-teman Intan tidak tinggal diam. Apalagi entah keceplosan atau sengaja Intan memberi titik terang. Malu-malu Intan berkata, “Aku memang menyukai seseorang.”
“Andre?” Mia menebak. Tapi, itu salah. Bukan Andre.
“Oh, aku tahu. Fadli?” Intan masih tersenyum. Sepertinya ia masih ingin bermain-main. “Fahmi? Fakhri? Gian?”
“Iman.”
Akhirnya nama itu meluncur. Sayangnya, respons teman-teman hanya bengong. Bukan tanpa alasan, sebab belum ada nama itu dalam daftar pertemanan mereka.
Untuk menjelaskannya, Intan tidak langsung mengatakan secara rinci. Sekali lagi, Intan ingin teman-temannya dibalut rasa penasaran.
***
“Ayo, Intan!” tiba-tiba Mia berdiri di pinggir meja Intan sesaat bel pulang berbunyi. Siswa-siswa lain menunut keluar.
“Sebentar!” jawab Intan sambil memasukkan buku Bahasa Indonesia.
“Jadi, Mi?” tanya Indri yang baru saja membalikkan badannya ke belakang, menghadap bangku Intan.
“Iya, dong!” jawab Mia.
“Apanya yang jadi?” Intan yang tak tahu asal muasalnya langsung bertanya.
“Oh, iya. Jadi, hari ini kita akan main ke rumah kamu. Jangan ditolak pokoknya!” Indri langsung menjawab. Kepada Mia dan Indri, orang tua Intan sangat baik dan sopan. Mereka dibolehkan main kapanpun waktunya, bahkan kalau perlu sampai menginap. Bersama mereka, orang tua Intan sangat percaya, utamanya senang. Jelas saja, Ayah Indri pemilik toko elektronik termasyhur, sedang orang tua Mia memiliki toko sayur terbesar di pasar. Hubungannya dengan Haji Junaedi adalah karena dia menjadi satu-satunya pemasok tahu di toko orang tua Mia.
Melihat gelagat Indri dan Mia, Intan tahu ada sesuatu yang mereka inginkan.
“Kami cuma ingin tahu Iman. Itu aja.”
Intan tersenyum. Ah, dia berhasil membuat teman-temannya penasaran. Tentu saja, sebab dalam pertemanan yang sudah bertahun-tahun terjalin itu belum sekali pun Intan membicarakan soal lelaki, kecuali hari ini. Baiklah, untuk kali ini Intan tak bisa mengelak.
“Jadi kita bisa menemuinya dimana?” Mia tak sabar sesampainya di rumah Intan.
“Iya. Aku sudah tak sabar,” timpal Indri sambil menyeruput es jeruk.
“Sebentar lagi!” jawab Intan sambil melirik jam dinding berawarna emas. Intan sudah hapal jam berapa Iman akan lewat. Kesempatan itu menjadi ajang untuk Intan leluasa melihat sang pujaan hati.
Dua teman Intan langsung bersiap. Matanya tak lepas dari jalanan di depan rumah.
Tak berapa lama, sekitar tujuh menit, lewatlah lelaki yang mereka tunggu.
“Itu! Dia Iman.”
Intan akhirnya menunjuk lelaki pilihannya yang lengkap memakai seragam putih biru. Jalan di depan rumah Intan memang jalur yang biasa Iman lewati. Siswa lelaki itu yang memakai tas hitam itu masih tampak rapi meskipun jam sudah siang. Biasanya kebanyakan siswa hanya rapi pada jam-jam pertama sekolah. Kalau sudah pulang, penampilan mereka sudah acak-acakan. Rupanya hal itu tidak berlaku bagi Iman. Bukatinya penampilan Iman oke-oke saja, tuh, meskipun wajahnya jelas tidak bisa menipu. Ada kelelahan yang nampak.
Seketika, suasana mendadak hening. Teman-teman Intan yang berjumlah dua orang itu saling menatap.
“Anak kecil? Serius?” Indri masih menatap Intan dengan mata agak melotot. “Kamu salah orang, kan?”
Malu-malu Intan tersenyum.
“Kalian tidak sedang salah dengar dan lihat. Dia memang Iman. Lelaki yang kuceritakan tadi di sekolah.”
“Tapi dia anak kecil, Tan!” Mia kali ini unjuk gigi.
“Cinta tak memandang usia. Iya, sih, usiaku tujuh belas. Selisih kami juga jauh. Bahkan dia pantas jadi adik ketimbang pacar.”
“Kamu gila, Intan! Dia masih bau kencur. Apa yang kamu harapkan dari anak SMP?”
“Apa salahnya? Oke, kamu mungkin aneh karena umur dia masih dua belas. Tunggulah delapan tahun kemudian. Umur dia dua puluh.”
“Dan kamu dua puluh lima.”
“Ya, terus? Ada yang salah?”
Mia dan Indri memilih diam. Kalau sudah urusan cinta, apa yang bisa diperbuat? Seringnya akal kalah sama perasaan.
Tidak ada yang berubah dengan perjalanan cinta Intan, kecuali rasa sayangnya yang makin membesar. Terpaut usia lima tahun menjadi tantangan tersendiri ketika orang tuanya terus mendesak soal pernikahan.
“Dia anak kecil, Intan! Masih dua puluh tahun. Apa yang kamu harapkan darinya?” Begitu Bapak menjawab ketika Intan berusaha jujur.
Ini tahun ke sekian dari pertanyaan serupa yang Bapak lontarkan. Bapak pikir dugaannya dulu tepat. Bahwa cinta yang anak gadisnya rasakan adalah sesaat. Ternyata tidak.
Selama ini Intan sengaja tidak terlalu mengumbar rasa cintanya. Ia gunakan cara ala-ala pendekar yang memilih menyisir tanah. Sembunyi-sembunyi. Diam-diam.
Lima tahun!
Bayangkan saja menunggu waktu selama itu dengan keputusan belum pasti. Bukan tidak mungkin Iman menolak.
Ah, tapi Intan tak berpikir pendek. Yang ia tahu hanyalah kesabaran dan perjuangan. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi Bapak dan Ibu menyudutkan Iman dengan usia yang masih muda.
“Aku menyukainya sejak lama. Aku berharap Bapak dan Ibu tidak menghalangi,” ucap Intan.
Hanya kalimat itu yang Intan keluarkan. Sekarang Ibu dan Bapak pasrah. Sulit mengubah keinginan anak gadisnya mengingat rentang waktu menyukai lelaki itu cukup lama. Berarti Intan sudah masuk dalam tahap sangat sangat sangat mencintai Iman. Ditambah sifat Intan yang akan terus mengupayakan keinginannya selama belum tercapai.
Ibu Bapak sudah hapal. Kalau pun dipaksakan menikah dengan orang lain alias dijodohkan, Ibu dan Bapak khawatir akan kondisi mentalnya. Bagaimana kalau Intan stres? Atau bahkan sampai gila?
Tidak! Ibu Bapak tidak mau itu. Intan anak semata wayangnya. Apapun akan dilakukan Ibu dan Bapak untuk kebahagiaan Intan, termasuk mungkin menrima lelaki pilihan sang putri. Apa boleh buat.
Ibu memang susah memiliki keturunan kendati puluhan dokter spesialis didatangi. Katanya tidak adanya masalah dengan kesehatan reproduksi Ibu dan Bapak.
Rahim Ibu subur. Menstruasi pun terjadwal setiap bulan. Bapak juga bukan perokok. Ditilik dari gen keluarga, tidak ada yang mandul atau mempunyai riwayat sulit punya keturunan. Sebaliknya malah mereka lahir dari keturunan banyak anak.
Namun, itulah takdir. Tidak ada yang bisa melangkahinya. Semua sudah ketetapan Tuhan.
Bisa menjadi bijak, Ibu Bapak bukanlah malaikat yang memiliki hati suci dan mulia karena bisa menerima takdir menyakitkan begitu saja. Semua diterima karena telah melewati proses panjang dan rumit, yang akhirnya memaksa mereka menyerah.
Pasrah tepatnya. Apapun yang diberikan Tuhan akan diterima. Toh, sudah ada Intan. Cukup sudah satu anak kalau memang itu takdirnya. Sekarang tinggal menyayangi Intan sepenuh hati dan membesarkannya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
“Ibu tahu. Tapi, ada baiknya kamu mencoba dulu kenalan sama Faisal. Dia anak kepala dinas. Beberapa kali Faisal menanyakan kamu. Ibu sudah bingung jawabnya,” keluh Ibu.
“Pokoknya Intan cuma mau Iman.” Intan malah keukeuh dengan keinginannya.
“Ini, kan, cuma kenalan, Tan! Kalau cocok lanjut kalaupun enggak ya menjadi teman. Kita tidak memaksa kamu harus nikah sama Faisal,” jawab Bapak bijak. Padahal dalam hati Ibu dan Bapak jelas doa yang sama diulang-ulang, semoga kali ini Intan luluh dan mau menikah dengan pilihan mereka.
Ada beberapa keuntungan jika Ibu dan Bapak berhasil menjadi besan orang tua Faisal. Derajat Haji Junaedi akan lebih terangkat. Ayah Ibu Faisal bekerja di pemerintahan.
“Oke, Bapak akan turuti kemauan kamu. Tapi, Bapak minta satu saja kamu sebutkan apa kelebihan Iman,” ujar Bapak setelah semua cara dilakukan.
Intan mendadak diam. Dia sadar tidak ada yang bisa dibanggakan dari Iman. Dia tidak tahu keseharian Iman. Selama ini Intan hanya tahu sosoknya saja. Selebihnya tidak.
Sudah dijelaskan dari awal bahwa Intan tidak bergaul dengan warga kampungnya. Adapun media sosial tidak banyak membantu. Intan tidak menemukan informasi apapun tentang lelaki pujaannya. Sama sekali tidak ada informasi apapun di sana, apalagi foto.
“Tuh, kamu diam. Itu artinya tidak ada yang istimewa dari Iman 'kan? Dia hanya anak kemarin sore yang bahkan tidak memiliki kelebihan sama sekali.”
“Ada, Pak!” Intan tak tahan mendengar ucapan Bapak. Telinganya panas. Gatal rasanya ingin menjawab. "Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan.”
“Iya, tapi apa? Coba Bapak mau dengar.”
Hening lagi.
“Kalau Faisal 'kan sudah jelas. Dia pegawai negeri. Dia juga dari keluarga terhormat. Hidup kamu akan dihormati orang lain. Percaya sama Bapak." Bapak terus meyakinkan anak semata wayangnya itu.
“Terserah Ibu dan Bapak saja! Intan pokoknya cuma mau Iman, bukan yang lain. Kalaupun Faisal bisa menjanjikan kehidupan nyaman buat aku, coba, dong Bapak juga bisa menjamin kehidupan Iman. Bapak 'kan punya pabrik. Ajak saja dia bantu-bantu di pabrik. Sama saja 'kan? Justru dengan bekerja di pabrik kita dia bisa memajukan usaha Bapak,” ucap Intan yang akhirnya malah lebih memilih meninggalkan orang tuanya. Lama-lama ngobrol sama Ibu Bapak malah menambah ribet urusan Intan.
“Dengar dulu, Tan! Kamu anak kami satu-satunya. Sebagai orang tua kita gak mau kalau kamu memiliki masa depan suram. Setiap orang tua pasti menginginkan kehidupan anaknya lebih baik. Jadi, menurut kami kamu layak dan sangat cocok menikah dengan Faisal. Kehidupan kamu akan terjamin. Kalau si Iman, kamu tahu sendiri. Warga kampung sini hidupnya miskin. Apa yang kamu harapkan dari keluarga miskin? Kamu mau jadi orang susah? Harus beradaptasi dari kehidupan serba cukup ke kehidupan kekurangan itu tidak enak, Tan!” Bapak meninggikan ucapannya agar Intan mendengar. Intan santai saja melenggang. Dibiarkannya kalimat-kalimat itu menguap ke udara. Biar menyatu dengan gas karbondioksida.
Brug!
Pintu kamar dibanting keras.
Masuk ke kamar dan menyendiri adalah jalan terbaik, begitu Intan meyakini.
***
“Anak itu!” ucap Bapak dengan nada agak tinggi, “Kalau sudah ada maunya begitu, tuh! Persis kamu, Bu!”
Ibu yang tak menerima disalahkan jelas menjawab sambil merengut.
"Enak aja! Bapak juga sama.”
Bapak tersenyum meski hatinya dongkol luar biasa. Meski begitu, menggoda Ibu adalah kebahagiaan kecil bagi Bapak. Makin Ibu kesal, Bapak makin suka. Makin manis, katanya.
“Salah kita, Pak! Kita terlalu memanjakannya. Apa yang Intan mau pasti kita kasih. Intan keenakan. Jadi, kita susah mendikte dia," ucap Ibu.
Bapak diam, pertanda setuju. Dulu Bapak dan Ibu pikir menuruti segala keinginan anaknya adalah cara mendidik paling baik. Ibu Bapak mencari uang buat siapa kalau bukan buat anak. Nahasnya, kejadian ini tidak bisa diprediksi sebelumnya.
“Jadi, bagaimana ini? Sepertinya tidak ada yang bisa kita lakukan, Pak! Mau tak mau kita harus menikahkan Intan dengan anak kecil itu. Ibu gak mau kalau Intan jadi perawan tua. Apa kata orang lain? Ibu malu. Disangkanya Intan gak laku. Duh, anak secantik Intan masa iya gak laku?”
“Ya, sepertinya kita memang begitu. Usia Intan sudah cukup dewasa,” kata Bapak. “Bapak akan mengundang anak itu besok.”
“Secepat itu, Pak?”
“Umur anak kita sudah dua puluh lima. Kalau kelamaan bisa jadi perawan tua. Katanya Ibu malu.”
“Terus Bapak mau ngomong apa?”
Bapak menggeleng.
“Bagaimana besok saja, lah, Bu! Bapak pusing!”
Bu Haji sebenarnya kesal bukan main. Gondok. Ada keinginan untuk memaksa Intan. Ada juga bayangan untuk menjebak Intan dan Faisal. Maksudnya, Ibu akan mengundang Faisal ke rumah. Biar Intan tahu sosok lelaki pilihan ibunya. Ibu akan memberi kesempatan Intan dan Faisal mengobrol dan mengenal lebih jauh. Siapa tahu cocok.
Ah, tapi … Ibu takut Intan marah dan murung.