"Lira, kenalkan, ini Om Aji."
Pada suatu siang, Si ibu memperkenalkan-nya pada seorang pria berpenampilan sangat necis dan berkacamata.
Lira yang saat itu masih berusia 6 tahun hanya melihat sebentar, lalu kembali merunduk.
"Selamat siang, om..." sapa-nya hampir tak terdengar.
"Siang, Lira." Pria berkacamata dan bercambang itu tersenyum ramah. "Lira cantik seperti Mama, ya.." ia memuji.
Lira menengadah. Ragu-ragu dia memperhatikan ibunya yang telah lama menjanda, saling lempar senyum dengan pandangan penuh arti kepada si Om.
Lira ketika itu hanya anak kecil polos, yang hanya bisa menyimpan semua tanya tanpa sanggup mengutarakan apa yang tengah berkecambuk dalam hati.
Yang pasti, ia tak tak akan menyangka bahwa makan siang mewahnya hari itu adalah pembuka gerbang akan nasib-nya yang dramatis.
.
.
Beberapa hari setelah makan siang, si ibu memberi tahu dirinya, bahwa ia akan menikah dengan pria bernama Aji tersebut.
Lira yang cuma mengikuti apa yang di kehendaki oleh si ibu.
Namun, yang membuat Lira terkejut. Ternyata Aji memiliki 3 orang anak dari istri- nya yang telah meninggal.
.
.
Karena Aji merupakan pengusaha sukses, otomatis pernikahan kedua Ibu-nya di langsungkan meriah.
Lira melongo ketika melihat deretan gaun-gaun pengantin di sebuah showroom, di mana dia dan ibunya tengah fitting gaun pengantin.
"Lir, cobalah." si ibu memperlihatkan dress anak berwarna pink dengan renda bunga-bunga. "Gaun ini sepertinya cocok untukmu."
Lira kecil yang hidup serba pas-pas an sejak meninggalnya sang Ayah, terpesona oleh gaun indah tersebut. Ia sampai begitu hati-hati memegang kain-nya yang terasa sangat halus di kulit tangannya.
"Pasti kau akan terlihat sangat cantik." Rona ibunya berseri-seri.
Sejak berkenalan dengan Aji dan mereka melanjutkan ke jenjang pernikahan, ibu-nya yang dulu terlihat muram, mendadak memang terlihat lebih muda dan cantik.
Lira tersenyum lebar, dia ikut bahagia melihat ibu yang selama ini banting tulang untuk hidupnya, sebentar lagi akan jadi nyonya besar.
Lira hendak mencoba dress pink itu, ketika calon Ayahnya datang bersama 3 orang anak yang mengekor di belakang-nya.
"Sudah kau pilih, Liana sayang?" Aji langsung mengecup sesaat kening ibu Lira.
Lira yang melihatnya memalingkan muka dengan kedua pipi memerah. Orang tuanya yang bersikap mesra di tempat umum. Namun, dia yang malu.
"Belum, " Liana menjawab. "Baju-baju di sini sangat bangus. Aku kebingungan." ia terkekeh sembari menatap calon suaminya yang duda tampan.
"Bagimanan denganmu, Lira?" gantian Aji bertanya pada Lira yang berdiri di tengah-tengah mereka sambil menenteng dress pink yang di berikan si ibu.
"Su, sudah...Om." jawab Lira serayak menunjukkan dress di tangan.
"Baguslah." Pria itu sumringah, lalu mengacak rambut panjang Lira yang di kuncir ekor kuda.
Lira yang masih menganggap Aji orang asing, tertunduk canggung.
"Oya, kenalkan, mereka akan menjadi saudaramu Lira." Aji memberi kode pada anak-anaknya agar maju ke depan.
Dengan patuh, atau lebih tepatnya terpaksa patuh, ketiganya berjalan ke arah Ayah dan calon ibu serta adik tiri mereka.
"Ini Lira, anak dari Tante Liana." Aji memperkenalkan.
"Ha, halo..." Sapa Lira canggung.
"Ini, James." Aji menunjuk ke arah anak lelaki paling tinggi. "Tahun ini dia berusia 15 tahun."
Lira mencoba tersenyum. Namun, James hanya menyalami tanpa minta.
"Dia Jasmine," Aji sedikit membungkuk, ketika memperkenalkan anak perempuan-nya. "dengan adanya Lira, akhirnya kau punya teman main rumah-rumahan." ia mengerlingkan satu mata.
Jasmine terlihat senang mendengar ucapan si Ayah.
"Salam kenal, Lira." penuh semangat ia menjabat tangan calon adik tirinya.
"Salam kenal, kak Jasmine." Lira sumringah melihat respon Jasmine yang ramah dan terlihat lebih bersahabat dari pada James.
"Waah...senang ya, Lir." Si ibu meletakkan kedua tangan ke pundak anaknya. "Lira yang hanya anak tunggal, sekarang jadi punya banyak saudara."
Meski kikuk. Tapi, di akui memang Lira senang, karena ada Jasmine yang langsung bisa mengakrabkan diri dengan sikap cerianya.
"Kau masih punya satu saudara lagi."
Ucapan Aji membuat pandangan Lira terarah pada anak lelaki yang bertubuh paling kurus di antara mereka bertiga.
Diantara keramian toko, dia hanya menatap lurus ke arah jendela besar yang mengarah ke jalan raya.
Sikapnya berkesan tak peduli. Tetapi, wajahnya yang pucat, menimbulkan rasa iba.
"Johan!" panggil Aji.
Suara pria itu membuat detak jantung Lira meningkat dratis.
Ia kaget, sebab setahu dirinya, Aji adalah orang yang ramah dan tak pernah mengeluarkan suara bak petir menyambar.
Perlahan Johan berjalan lebih maju. Tatapnnya bertemu dengan Lira yang sedari tadi sudah memperhatikannya.
Seketika Lira beku, karena tatapan Johan terasa begitu kelam, seolah tak ada setitikpun cahaya kehidupan di dalam sana.
"Hai..." Ia menyapa.
"Ha, hai..kak Johan." Lira gugup.
Dia berusaha bersikap sewajarnya, meski tetap ada perasaan tak nyaman saat Johan memandang.
.
.
Hidup Lira bak Cinderella, dari gadis biasa menjadi seorang Nona Muda bergelimang harta.
Aji yang Lira kira akan bersikap jahat layaknya ayah tiri di film-film, nyatanya begitu baik dan memperlakukannya sama seperti anak kandungnya yang lain.
Seperti kata si Ibu pula, Jasmine menjadi teman terbaik-nya dalam hal apa pun. Bahkan kamar mereka bersebelahan, karena begitu akrabnya.
Lira tak begitu dekat dengan James, karena usia James memang jauh berada di atasnya. Tetapi, Lira tak mempermasalahkannya, sebab James tak pernah mengusik atau bersikap buruk padanya.
.
.
Hari ini, tepat setahun si ibu menikah dengan Aji dan ia tinggal di rumah mewah keluarga Prawira.
Lira sedang berjalan menikmati indahnya taman belakang yang banyak tumbuhan anggrek bergelantungan.
Ia begitu kagum dengan warna-warni tanaman tersebut, yang konon merupakan bunga kesayangan mendiang istri pertama Aji dan sampai sekarang masih begitu di rawat.
"ANAK PEMBAWA SIAL !!"
Lira berjingkak kaget mendengar suara bentakan yang membuat jantungnya hendak melompat keluar.
Dia segera bersembunyi di balik pohon Akasia yang tumbuh di situ.
Mata Lira membelalak, ketika mengintip di balik celah dan melihat Aji memukul Johan berkali-kali menggunakan ranting pohon.
Ia ngeri, saat Johan yang belum genap 10 tahun hanya meringkuk sambil menutupi wajahnya di tengah hujan sabetan ranting Ayah kandungnya.
"GARA-GARA MELAHIRKAN MU ANITA MENINGGAL !!" Aji membuang ranting pohon, lalu menarik kerah baju si anak dan memukul wajahnya sampai darah mengalir dari hidung Johan.
Lira menutup mulutnya rapat-rapat dengan tubuh mengigil. Ia begitu ketakutan sampai menangis.
Siang itu rumah memang dalam keadaan sepi.
Tapi, ada banyak pelayan di rumah ini.
Tadi Lira lihat di ruang tengah juga ada James dan Jasmine yang sedang main game bersama.
"Kenapa tidak ada yang menolong?" tanya Liradalam hati.
Mendadak Lira tersadar, jika saat ini Ibu-nya lah satu-satu nya orang tak berada di rumah.
"PEMBAWA SIAL !!" Teriakan Aji di barengi suara pukulan kembali menyakiti telingan gadis kecil itu.
.
Lira merapatkan tubuh di balik pohon, ketika Aji telah selesai dengan aksi tak berperi kemanusiaan-nya.
Pria itu tak melihat Lira, dan hanya melewati tempat persembunyia-nya begitu saja.
Lira menunggu sampai Aji benar-benar telah pergi.
Setelah di rasa aman, dengan cepat Lira berlari ke arah Johan yang terduduk di tanah dengan baju kotor dan wajah bengkak.
"Kakak nggak apa-apa?"Lira bersimpuh di hadapan Johan dan menatap khawatir.
Johan yang awalnya merunduk, mengangkat wajah dan menatap Lira.
Sekali lagi ia di buat berdesir, tak kala menatap kedua netra kelam tersebut
Tak ada ekspresi kesakitan atau pun ketakutan di wajah Johan, padahal wajahnya lebam dan tubuhnya penuh luka sabetan.
Darah dari hidung-nya mengalir,membuat Johan ingin menyeka dengan punggung tangan. Namun, sebelum ia melakukannya, Lira telah lebih dahulu memegangi tangan Johan, Kemudian mengusadarah tersebut dengan ujung bajunya sendiri.
Mata hitam Johan menbulat. Rasanya itu ekspresi pertama yang di perlihatkan kakak tirinya selama setahun mereka tinggal bersama.
"Kenapa Papa tega menyakit Kakak sampai seperti ini?" mata Lira berkaca-kaca.
Lira memang memiliki simpati yang tinggi.
Ia ikut sedih, ketika membersihkan luka Johan dengan ujung roknya sendiri.
"Papa biasa melakukan hal seperti ini, saat sedang stres dengan pekerjaan." Johan menjawab santai tanpa beban.
"Apa?" Lira terkejut.
Johan cuma menatap.
"Kenapa Kakak tak minta tolong?" Lira makin sedih.
"Siapa yang mau menolong?" Johan balik bertanya.
Lira tertegun.
Jadi benar sebenarnya orang-orang di rumah ini tahu. Tapi tidak ada yang berani menolong?
Johan bangkit berdiri, kemudian mulai berjalan pergi.
Lira ikut bangkit dari duduk. Di pandanginya punggung kecil Johan yang terlihat sangat rapuh.
"Aku yang akan menolong Kakak!"
Langkah Johan terhenti, kemudian perlahan menoleh ke belakang dan menyringai ke arah Lira.
Sesaat Lira bergidik, sebab senyum Johan terasa ngeri.
Tetapi, sesaat kemudian senyum itu berubah menjadi senyum paling menawan yang membuat siapa pun terpesona.
"Terima kasih, Lir." ucap Johan lalu berbalik pegi.
Kedua pipi Lira langsung merona, karena kakak tirinya itu terlihat sangat tampan.
Sama sekali tak terbesit di pikiran Lira, jika ia akan sangat menyesali hari itu.
"Tidak,ungkapkan.Tidak,ungkapkan..." Lelaki berusia 23 tahun dengan kaos warna abu tua dan tengah duduk di halaman depan rumah mewah keluarga Prawira itu bergumam.
Kepalanya menunduk dalam dan sedang asik mencabuti kaki laba-laba yang tak sengaja melintas dan ia tangkap.
"...Tidak,ungkapkan...?" ia menarik kaki terakhir dari Laba-laba malang tersebut, kemudian membuang hewan malang tak berkaki itu begitu saja.
Dia menghela nafas panjang penuh keputusasaan yang di buat-buat,lalu menengadahkan kepala pada kursi taman.Di pandangi langit pagi yang berwarna biru cerah dengan awan yang berarak dengan posisi kepala terbalik.
"Harus di ungkapkan,tapi bagaimana mengungkapkan?" Ia berkata seorang sendiri.
"Kak Johan,sedang apa?"
Suara wanita erdengar,membuat lelaki itu mengangkat kepala dan melihat ke sumber suara.
"Kau tanya aku sedang apa,Lir?" ia balik bertanya pada adik tirinya yang kini tumbuh cantik dengan rambut ikal panjangnya.
"Buku ku tertinggal dan aku lupa menaruhnya di mana semalam." bibirnya mengerucut.
"Dasar ceroboh." Johan bangkit dari duduknya,kemudian menyentil kening Lira pelan.
Gadis itu meringis sambil mengusap keningnya yang tak sakit.
Di ikuti langkah kakak tirinya tersebut ke arah Mobil Cevrolet Camaro RS warna metalic yang terparkir tak jauh dari situ.
"Kakak kebiasaan." Lira kesal sambil pura-pura kesakitan.
Johan hanya tertawa seraya menyalakan mesin mobil.
Tak lama mobil warna metalic tersebut keluar dari gerbang Rumah mewah dengan pilar-pilarnya yang kokoh dan memiliki beberapa Paviliun serta taman indah beserta kolam renang di belakang.
Dulu ketikapertama kali tinggal di Rumah ini, Lira seperti sedang bermimpi.Apalagi sikap dari kakak-kakak tirinya yang ia kira akan seperti di film-film,jahat terhadap anak dari Ibu sambung.Tapi ternyata tidak.Mereka hidup rukun berempat dengan dirinya.
Tak seperti dugaan Lira yang dulu mengira akan akrab dengan Jasmine, namun dalam tahun-tahun yang di lalui,ka justru lebih dekat dengan Johan.
"Mungkin karena jarak usia ku dengan Kak Johan dekat." Pikir Lira dalam hati.
Johan memang yang menjaga dan lebih sering bersamanya.Dia pula yang mengantar dan menjemput Lira sejak lelaki itu bisa menaiki kendaraan. Bersekolah di tempat yang sama dan membantu Lira dengan sepenuh hati.
"Dulu aku pikir kak Johan dingin,namun dia begitu baik dan hangat." Lira tersenyum dalam hati.
Dan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kali ini pun Lira berkuliah di tempat yang sama dengan Johan.
"Aku tidak menyangka kau bisa masuk Jayabaya dengan nilai mu yang pas-pasan." Johan terkekeh,lalu melihat Lira yang duduk di sampingnya sesaat, sebelum kembali berkonsentrasi menyetir.
"Meremehkan sekali." Lira menjulurkan lidah ke arah Kakaknya. "Aku kalau sudah berusaha,pasti lebih pandai dari Kakak." ucapnya sombong.
Johan terbahak.
"Apa kalau nggak berusaha,itu artinya kau bodoh Lir?"ia bertanya.
Seketika wajah Lira merah padam,dia sadar salah bicara,namun enggan mengakui.
"Pokoknya aku ini juga pintar."Lira berkata untuk menutupi rasa malu.
Johan tergelak melihat raut cemberut Lira yang tak mau kalah.
"Aku memamg sial punya Kakak seperti mu." Lira mengerutu,lalu menyandarkan punggung pada jog dan melipat kedua tangannya ke dada.
Mobil itu terus melaju lurus melewati jalan raya yang padat,sebelum berbelok ke sebuah Gedung dengan pintu gerbangnya yang tinggi terbuat dari besi.
Tulisan besar bertulis UNIVERSITAS JAYABAYA menyambut mereka.Mobil itu terus lurus,lalu berbelok lagi ke lahan parkir luas yang berada di samping gedung.
Hari ini Lira menjadi Mahasiswa Baru,dan di wajibkan menjalani OSPEK. Tidak seperti OSPEK-OSPEK lain yang identik dengan perpeloncoan.Di Universitas Jayanaya OSPEK hanya pengenalan pada lingkungan kampus dan kegiatan Organisasinya saja.
Biasanya Mahasiwa baru di kelompokkan ke dalam 3-5 Mahasiswa baru yang akan di bimbing selama 3 hari oleh Senior untuk mejalani OSPEK tersebut.
"Kak, aku cemas banget..." Lira meraih lengan Kakaknya saat mereka telah turun dari Mobil dan berjalan ke Lapangan utama yang berada di tengah Kampus yang bentuknya melingkar itu.
Di sana lah nanti Lira akan bergabung dengan Mahasiswa baru lainnya.
"Aku lebih cemas padamu Lir..." Johan terdiam sambil mengamati Adiknya yang hari ini memakai kemeja putih dan rok pendek warna hitam dengan papan nama dirinya yang terbuat dari kardus bekas, yang terkalung pada lehernya.
"Kakak cemas apa...??" Kening Lira berkerut sambil mengoyang lengan Johan yang di pegangnya. Lira pikir Kakaknya itu sedang berpura-pura dan hanya ingin mengerjai nya seperti biasa.
"Karena kau cantik..." Johan memandangnya dengan sorot mata tak biasa, sayang Gadis polos itu tak begitu memperhatikannya.
"Aku kan sejak dulu memang cantik !" Lira berkata bangga.
Johan tersenyum lebar mendengarnya, namun matanya yang berwarna hitam tetap menyorot tajam ke arah Adiknya tersebut.
Memasuki area lapangan luas yang sudah di penuhi dengan Mahasiswa dengan seragam putih-hitam seperti yang ia kenakan, Lira segera melepas pegangan tangannya pada lengan Johan.
Beberapa Mahasiswa Senior yang memakai Jas Almamater warna abu tua secara serempak melihat ke arah Johan yang berjalan dengan Lira di sebelahnya, dan itu membuat Gadis berkuncir tersebut menjadi tak enak.
"Reen...!" Panggil Johan saat melihat seorang Laki-laki berambut rapi dengan Jas Almamaternya di antara gerombolan Mahasiswa baru.
Laki-laki itu menengok ke arah Johan, dan segera berlari ke arahnya yang berada di pinggir lapangan.
"Kak Johan ke sini...?? Bukannya ada rapat BEM di Gedung sebelah...?" Tanya laki-laki itu setelah dekat.
"Iyaa, aku cuma mengantar Adikku." Jawabnya sambil menunjuk Lira.
"Oh, Adik Kak Johan yaa..??" Laki-laki dengan wajah yang ramah itu tersenyum.
"Halo Kak..." Sapa Lira ramah.
"Lir, dia Rendy. Junior ku di Judo dan tae kwon do, sekaligus Ketua OSPEK tahun ini." Johan mengenalkan Lelaki itu pada nya. "Kalau ada apa-apa, kau tanya lah padanya..."
Laki-laki bernama Rendy itu kembali tersenyum, membuat wajah Johan terlihat dingin sesaat.
"Saya mintak tolong yaa Kak, nanti..." ucap Lira kepada Rendy.
Melihatnya Johan langsung memegangi kedua pundak Adiknya supaya melihat ke arahnya, kemudian memeluknya sesaat.
Walaupun hanya sesaat, tentu saja Lira terkejut, karena di situ sedang banyak orang. Dan orang-orang itu sejak mereka datang sudah memperhatikannya.
Lebih tak enak lagi, saat Lira melihat ekpresi terkejut dari Rendy yang berada di sebelah mereka.
"Lir, ingat." Johan berkata pelan tepat di depan wajahnya yang hanya berjarak sejengkal dengan kedua tangannya yang masih berada di kedua bahunya.
Lira memandang Kakaknya dengan wajah memerah dan gelisah karena di perhatikan orang-orang. Namun ia berusaha mengabaikan dan berkonsentrasi pada ucapan Kakanya.
"Jangan dekat-dekat dengan siapa pun, apa lagi seorang laki-laki tanpa sepengetahuan ku." Johan berkata pelan, hampir seperti bisikan. Namun matanya tajam menatap Adik Tiri nya tersebut. "Dengan siapa pun kau berteman, harus atas ijinku." Johan kembali berbisik, kali ini tepat di telingan Adik perempuannya, yang membuat tengkuk leher Lira langsung meremang.
Tiba-tiba terdengar siulan seseorang tak jauh dari mereka.
"President BEM lagi pamer adegan panas yaa...??" Ucap seorang Laki-laki kisaran usai 22 tahun berwajah oriental dengan mata sipitnya.
Ia berjalan mendekat ke arah mereka dengan tangan kiri di saku celana, sedangkan tangan kanannya sibuk memegangi permen cupa cup rasa stroberi.
"Tuan Muda, anda ini bicara apa...??" Rendy berkata dengan suara yang di rendah kan di telingan Laki-laki yang di panggil Tuan Muda tersebut.
Mata Johan menyipit dan memandang dengan pandangan merendahkan ke arahnya, meski begitu bibirnya tetap tersungging senyum lebar.
"Tuan Muda Jas Almamaternya di mana..??" Tanya Johan dengan sikap pura-pura ramahnya
"Nggak bawa tuh !" Jawab laki-laki berwajah oriental itu santai sambil mengulum permen rasa stroberinya dan melihatnya dengan pandangan menantang.
Lira langsung terkekeh mendengarnya, membuat Johan langsung memandang ke arahnya.
"Johan...!" Panggil seorang wanita dengan rambut panjangnya yang tergerai dari kejauhan. Ia melambaikan tangan ke arah nya.
Johan menengok sebentar ke arahnya, sebelum fokusnya kembali pada Adiknya, kemudian pandangannya teralih pada Rendy yang masih sibuk menasehati orang yang ia panggil Tuan Muda itu.
"Ren, kau jaga Lira selama masa OSPEK." Ucapnya sambil memandangi Lelaki berambut lurus dan tersisir rapi tersebut.
"Baik Kak." Rendy menjawab patuh.
Johan melirik sekilas ke arah Laki-laki bermata sipit yang masih sibuk dengan permen cupa cup nya.
"Aku percaya pada mu Ren." Johan menepuk pundak Rendy sesaat, membuat Lelaki itu mengangguk pasti
"Lir, Kakak tinggal. Kalau ada apa-apa segera telpon." Ucap nya dengan raut wajah khawatir.
"Aku nggak apa-apa Kak, Kakak tenang saja." Lira tersenyum lebar.
"JOHAANN...!!" kali ini wanita berambut lurus itu memanggilnya lebih keras dari kejauhan. Raut wajahnya tampak tak suka melihat Johan yang begitu perhatian dengan Lira.
Dengan wajah kaku, di pandanginya wanita yang memanggilnya itu dari kejauhan. Sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari situ meningglkan Lira bersama Rendy dan temannya tersebut.
"Namamu Lira kan..??" Rendy tersenyum ramah. "Kenalkan, Rendy. Junior Kak Johan di Judo dan tae kwon do." Ia mengulurkan tangannya.
"Halo Kak..." Lira menjabat tangan Rendy sambil tersenyum.
"Kita cuma beda 1 tingkat, tidak usah memanggil Kak..." Rendy tersenyum.
"Ah, iyaa..." Lira balas tersenyum.
"Pacarnya Johan yaa...?" Tanya laki-laki bermata sipit dengan bola matanya yang berwarna cokelat terang itu memandangnya.
Lira langsung tergagap dengan wajah bersemu merah.
"Tuan muda, dia ini Adik nya, bukan pacar." Rendy menerangkan.
Mulut lelaki yang tampak memerah karena mengulum permen warna pink itu membulat memandang Lira.
"Namamu Tuan Muda Kak...??" Lira memandangnya, membuat Laki-laki itu tertawa.
"Lihat, gara-gara kau Ren !" Ia ikut tertawa sampai kedua matanya yang memang sipit seperti orang Asia Timur itu tinggal segaris.
Wajah Lira merona memandangnya.
Rendy terlihat tak enak, ia mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Namanya bukan Tuan Muda." Ia berkata sambil melirik ke arah Tuan muda nya yang masih tertawa terkekeh. "Aku memanggilnya begitu karena kebiasaan..." lanjutnya.
Lira ikut terkekeh melihat wajah tak enak Rendy. "Aku pikir namanya unik sekali Tuan muda." Ia tertawa.
"Panggil Andreas, jangan ikut-ikutan dia." Laki-laki bermata sipit itu tertawa sambil merangkul pundak Rendy dan menepuk-nepuknya.
"Andreas...??" Lira memandangnya, lagi-lagi wajahnya merona dengan jantungnya yang berdebar lebih kencang.
"Pinter !" Puji Lelaki bermata sipit dengan bola mata cokelat terangnya itu sambil menujuk Lira, yang sebenarnya Lira tidak sadar saat mengucap namanya.
Dari kejauhan terdengar beberap Senior yang menyuruh berkumpul.
"Ayo Lira, kau juga harus ikut berbaris." Rendy berucap sambil menoleh ke arah gadis yang masih terdiam di belakangnya.
Tergagap Lira langsung berjalan cepat ke arah tengah lapangan.
"Hei, Lira !" Panggil Andreas sambil melempar sesuatu yang langsung di tangkapnya.
Sebuah permen cupa cup rasa sttoberi.
Lira tertegun memandang permen warna pink yang kini berada pada telapak tangannya itu, sebelum kemudian ia mengangkat wajahnya ke arah si Pemberi permen yang ternyata telah berkumpul dengan Para Senior lain di pinggir lapangan.
Lira mengenggam permen itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya yang berwarna putih polos. Ia tersenyum bahagia, dan segera ikut berbaris bersama Para Mahasiswa baru ke tengah lapangan.
Lewat Mahasiswa baru lainnya Lira jadi tahu tentang Andreas, dan kenapa ia di panggil Tuan muda oleh Rendy. Ternyata ia anak Pemilik Universitas Jayabaya tempatnya kuliah.
"Pantas saja nggak ada yang berani menegurnya walaupun dia nggak pakai jas Almamater..." Lira berkata dalam hati sambil memperhatikan Andreas dari kejauhan yang sedang berkumpul bersama Senior lain yang kesemuanya memakai jas Almamater warna biru dongker, sedangka ia hanya berkaos pendek warna putih.
"Kau suka yaa sama Kak Andreas...??" Tanya seorang berambut pendek yang berbaris di samping Lira. "Dari tadi tanya tentang dia dan ngeliatin dia terus." Ia tertawa.
Wajah Lira langsung bersemu merah. "Enggak..." ia mengeleng. Dari tadi ia memang bertanya terus tentang Senior nya itu pada kawan baru nya tersebut yang juga mahasiswa baru seperti dia.
Wanita berambut pendek itu geli dengan sikap yang di tunjukkan Lira yang jelas-jelas menunjukkan rasa sukanya pada Andreas.
"Kata kakakku yang yang juga Kuliah di sini, Kak Andreas memamg banyak yang suka, tapi...." suara wanita berambut pendek itu merendah dan melirik ke kanan dan ke kiri.
Lira tak mengerti,
"...Tapi kabarnya Kak Andreas itu pakek dan suka tidur bareng wanita-wanita kayak gitu..." bisik nya.
Lira langsung menutup mulutnya dengan tangan dengan wajah merah padam.
"Ma, masa sih...??" Lira tak percaya. "Kau nggak bohong kan Anya..?? Atau itu cuma gosip...??" Tanyanya.
"Entahlah..." wanita berambut pendek bernama Anya itu mengangkat bahunya. "Tapi begitulah yang ku dengar dari Kakak ku..." ucapnya.
Matarhari semakin tinggi, membuat Para Mahasiswa baru yang berbaris dan sedang di bagi menjadi kelompok-kelompok kecil berisi 5 orang menunduk kepanasan, berharap giliran mereka cepat di panggil, agar bisa secepatnya keluar dari Lapangan luas dengan lantai paving yang berada tepat di mana Matahari di atasnya.
Lira masih tak percaya saat namanya di panggil dan Senior yang bertanggung jawab atas kelompok nya adalah Andreas.
"Selamat siang, Saya Andreas. Mulai 3 hari kedepan kalian menjadi tanggung jawab saya." Andreas berkata tegas di depan Lira dan 4 mahasiswa baru lainnya.
"Waah..kau beruntung.." bisik Anya yang berdiri di sampingnya.
Lira tak memberi respon apa-apa karena masih melongo memandang Senior nya tersebut.
Sementara itu di Gedung lain, di ruangan di lantai 3, di pintu cokelatnya yang bertulis PRESIDENT BEM.
Johan duduk di bangkunya dengan posisi membelakangi pintu, kepalanya menegadah dengan mata yang sesekali memejam dan bibir bawah yang ia gigit.
Di bawahnya duduk bersimpuh wanita berambut panjang yang beberapa saat lalu memanggilnya.
Ia mengocok dan mengulum milik Johan yang menegang dengan begitu ahli, membuat Lelaki itu mendesis nikmat dan memegangi kepala wanita itu agar lebih memasukkan milik nya ke dalam mulutnya.
Wanita itu sampai tersedak, karena milik Johan yang mencapai kerongkongannya, namun ia tersenyum menengadahkan kepalanya menatap Lelaki yang duduk di kursi dan menunjukkan senyum miring nya yang berkesan dingin seperti biasa.