Di lorong sebuah sekolah, sepasang murid sedang berdiri saling berhadapan. Siswi itu hanya mampu menatap lantai saat siswa yang berdiri di depannya sedang berbicara dengannya.
"Maaf, saya tidak bisa menerima hadiah ini. Saya yakin jam tangan ini pasti sangat mahal. Saya tahu kamu membelinya dari uang tabunganmu. Nanti, setelah tiga atau empat tahun lagi. Kamu boleh memberikan ini kepada saya kembali. Seandainya jam tangan ini masih kamu simpan. Seandainya kita bertemu kembali," ucap pria tersebut tersenyum tipis.
🍂🍂🍂
Chelia sedang duduk menyandar di kepala tempat tidur di dalam kamarnya. Matanya menatap nyalang kepada benda persegi yang berada di ujung kakinya. Kenangan itu teringat kembali ke dalam pikirannya.
"Sudah empat tahun berlalu,kak. Tapi takdir tidak juga mempertemukan kita. Apa kabar mu, kak?"
Gadis itu meraih kotak yang berisi jam tangan yang dulu pernah ingin diberikan kepada seorang pria. Pria yang dia sudah sukai sejak masih SMP. Akan tetapi, di SMA lah gadis itu baru berani mengutarakan isi hatinya.
Suara hujan di luar sana membuat suasana semakin sendu untuk Chelia. Dia menarik selimut menutupi tubuhnya lagi.
"Tidak ada yang berubah dari kotak ini, sama seperti hatiku, masih tetap sama."
Ketukan pintu kamar memecahkan lamunan Chelia pada masa sekolah dulu.
Gadis itu berdiri dan membuka pintu kamar dengan cepat.
"Kamu sudah makan malam?"tanya mama di luar kamar.
"Sepuluh menit lagi Cheli ke bawah, ada makalah kampus yang harus di kirim ke Abel."
Tadinya gadis itu memang sedang mengerjakan sebuah makalah kampus yang akan dikumpulkan saat liburan berakhir. Tapi suasana hening di dalam kamar membuatnya mengingat masa lalu.
***
"Kamu kapan mulai kuliah?"tanya papa Chelia saat makan malam berlangsung.
"Senin depan, Pa."
"Besok kita akan berangkat ke tempat om Gery, penerbangan pagi. Kamu tidak ada janjian dengan teman-teman mu yang lain,kan?"
Kening Chelia berkerut."Kenapa tiba tiba sekali, Pa? Om Gery sedang sakit?"
Papa Chelia menggeleng."Tidak, tapi besok adalah pertemuan Rachel dengan calon suaminya."
"Kak Rachel akan menikah?"tanya gadis itu sangat antusias dan bahagia.
"Kamu doakan saja, semoga Rachel kali ini setuju dengan calonnya,"sela mama Chelia.
"Ah mama! Jangan begitu dong dengan kak Rachel. Bagaimanapun juga cinta itu tergantung hatinya, tidak bisa dipaksa."
"Kamu akan selalu membela Rachel,"sindir mama Chelia tersenyum mengalah.
Dengan senyuman lebar Chelia menjawab."Oh pastinya, aku sangat menyayangi kak Rachel. Walau kami sudah mulai jarang bertemu tapi kak Rachel sedikit dari banyak sepupu yang dekat denganku. Tapi Chelia bahagia, kalau untuk hal satu ini, Chelia akan cancel semua janji dengan teman teman, Pa."
"Jangan begadang lagi nanti malam, kita sudah harus berangkat dari rumah shubuh."mama nya menyipitkan mata mengingatkan.
Chelia mengacungkan kedua jempolnya penuh semangat.
"Besok Abimana yang akan menjemput kita di bandara sana,"ucap papa Chelia melanjutkan.
"Bang Bima sudah ada di sana?"tanya Chelia dengan sangat sangat antusias.
"Iya, kemarin papa memintanya untuk langsung ambil penerbangan ke tempat Rachel. Tadi sore sudah sampai di sana, tidak semua keluarga berkumpul di sana. Hanya beberapa, nanti kalau sudah oke baru kita berkumpul bersama."
***
"Rindu, brother!"seru Chelia berlari memeluk Abimana saat sudah keluar dari Bandara.
"Apa kabar mu?"tanya Bima lembut kepada adik bungsunya.
"Bang Bima tidak lihat aku kehilangan berat badanku beberapa kilo, karena merindukan kakak tertua ku yang kerja serabutan di luar sana karena patah hati,"jawab Chelia menggoda Bima.
Bima menggetok pelan kepala Chelia karena selalu mengingatkannya kepada masa lalunya.
Bima mengangkat sebelah alis mata sambil melirik sinis dengan kilatan mengejek kepada Chelia.
"Kalau jam tangan itu masih belum bertemu dengan pemiliknya, lebih baik kamu serahkan kepadaku, dek." Kali ini Bima balas menyindir.
Pria itu tahu tentang kisah jam tangan yang selalu dibawa adiknya itu kemanapun dia pergi. Menurut Chelia mana tahu dia bertemu dengan pria itu secara tiba-tiba. Walau Bima tahu tentang kisah cinta adiknya yang bertepuk sebelah tangan itu. Akan tetapi sampai sekarang Chelia masih mampu menyembunyikan siapa pria tersebut.
"Idih, bang Bima bisa beli sendiri, atau minta ama papa dan mama aja."
Bima mengacak-acak rambut Chelia dengan gemas.
Bima menyalami kedua orangtuanya dan membantu memasukan koper ke dalam mobil.
"Loh, mobil kita pisah sama mama dan papa?"tanya Chelia bingung.
"Kamu temani abang dulu beli baju buat acara nanti malam. Kalau mama dan papa biasa ada pertemuan para orangtua. Anak anak jangan kepo,"jawab Bima.
"Asyik jalan jalan dulu,"kata Chelia sangat bahagia.
Setelah memastikan mobil kedua orangtua mereka keluar bandara. Bima dan Chelia melanjutkan perjalanan mereka dengan mobil yang lain.
"Sudah puluhan tahun berlalu dia masih belum ditemukan? Sampai kapan kamu akan menantinya,dek?"tanya Bima sedikit berlebihan saat di dalam mobil.
Chelia memainkan kotak jam tangan di tangannya. Gadis itu memandangi kotak tersebut dengan tenang.
"Kalau hatiku sudah berhenti dengan namanya bagaimana, bang?" Chelia balik bertanya.
Bima menimpali dengan pelan."Bagaimana kalau dia sudah milik orang lain?"
Gerakan tangan Chelia terhenti mendengar pertanyaan Bima. Dia pernah terpikirkan ke arah itu, tapi hati kecilnya selalu menepis perasaan tersebut.
"Bagaimana Chelia? Bagaimana kalau pria itu sudah memiliki seseorang yang dia cintai?"
Dengan senyuman terpaksa gadis itu bernyanyi sebagai jawaban atas pertanyaan Bima.
"Jika Tuhan mau begini, robahlah semua jadi yang kumau. Karena kuingin semua berjalan seperti yang kumau." Gadis itu bersenandung (lagu krisdayanti)
Bima tertawa."Sepertinya kamu melupakan beberapa liriknya. Jangan memaksakan ini, jika memang bukan yang ini. Karena sesuatu yang peka, buat kita jadi masalah."Bima melanjutkan beberapa liriknya.
Mereka berdua tertawa bersama karena saling mengejek.
***
"Selamat kak Rachel,"ucap Chelia dengan penuh bahagia sambil memeluk Rachel kakak sepupunya.
"Terima kasih kamu mau datang adik ku sayang," Rachel tidak kalah bahagia melihat kehadiran Chelia.
"Cantik sekali, mentang ketemu ama calon ayang beb," goda Chelia melihat polesan make up Rachel yang dibantu oleh seseorang.
Rachel mencebikan bibirnya melihat Chelia. "Kamu cantik juga malam ini, dek."
Gadis itu mengenakan dress berwarna kuning pastel dengan motif bunga.
"Pasti kak Rachel deg deg kan parah sekarang." Chelia menaik turunkan alis matanya.
"Suatu saat kamu akan merasakan hal ini juga. Jika waktunya tiba kakak yang akan menggoda mu sampai wajahmu memerah seperti kepiting rebus."
***
Halaman belakang kediaman Rachel sudah dihias secantik mungkin. Mereka sepakat makan malam outdoor karena cuaca juga mendukung.
Chelia juga sibuk membantu mama dan tante nya, serta berkumpul dengan para sepupu yang hadir malam ini.
Rachel turun dengan anggunnya menuju halaman belakang. Senyuman di wajah Chelia tidak pernah pudar sedikitpun menatap memuja kepada kakak sepupunya itu.
Keluarganya sudah berkumpul di halaman belakang selagi menunggu keluarga pria. Chelia kembali ke kamar atas untuk mengambil tas kecil miliknya. Yang pasti isi tas itu adalah ponsel dan jam tangan yang selalu dibawanya.
"Mereka datang,"terdengar suara penuh bahagia dari keluarganya menyambut tamu yang sudah mereka nanti nantikan.
Gadis itu pun tidak ingin ketinggalan momen bahagia sedikit pun. Dia mengeluarkan ponselnya untuk memotret setiap momen yang indah. Dia berlari melewati tangga dan menyusul beberapa anggota keluarga yang lain.
"Kamu cantik malam ini," ucap seorang pria kepada Rachel.
Dengan senyum mengambang Chelia mengarahkan kamera ponselnya ke arah Rachel dan pria itu.
Tapi saat gadis itu melihat dengan jelas siapa pria yang sedang menyanjung Rachel. Dadanya terasa nyeri dan sangat sesak melihat pria itu. Pria yang dirindukannya setiap hari, pria yang diharapakannga hadir setelah perpisahan mereka empat tahun lamanya. Pria cinta pertama yang tidak bisa dilupakan oleh Chelia.
Air mata mengenang di pelupuk matanya, terlebih saat pria itu menolehkan kepala ke arah Chelia. Mata mereka bertemu, cukup lama mereka saling menatap. Sampai akhirnya Chelia menyerah dan mengalihkan tatapannya.
Gadis itu mundur selangkah demi selangkah untuk mengurangi kecurigaan keluarganya yang sedang penuh bahagia. Saat sudah sepi Chelia berlari ke luar rumah dengan air mata yang telah membasahi wajahnya.
"Rochelia," panggil Bima penuh heran.
Pria itu baru saja ingin masuk ke dalam rumah setelah memikirkan mobil. Tapi melihat adiknya berlari dengan penuh air mata, dia mengejarnya.
"Chelia!"seru Bima setengah berteriak.
***
Gadis itu berlari ke arah halaman samping rumah Rachel. Dia memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri. Air mata yang tidak bisa dihentikannya.
"Tidak mungkin," ucapanya mengulangi dengan suara gemetar.
Chelia mengambil kotak jam tangan itu dari tas kecilnya. Dengan perasaan campur aduk dia melempar asal kotak tersebut.
Bima yang berhasil menyusul adiknya dibuat heran ketika mendapati kotak yang selama ini selalu dibawa Chelia. Kotak segi empat yang sangat berarti untuknya sudah rusak terlempar ke tanah.
Bima memunguti kotak itu dan mendekati adiknya dengan segera ketika mendengar suara tangisan Chelia yang cukup keras.
"Apa yang terjadi, dek?" tanya Bima panik.
Chelia berlari ke dalam pelukan kakak nya.
"Cinta pertama ku tidak terbalas, bang. Cinta pertama ku berakhir, kisah cintaku sudah berakhir,"ucapnya pilu meredam tangisan di dada Bima.
Bima memeluk erat tubuh adiknya yang sangat terguncang. Pria itu membiarkan Chelia menangis tanpa bertanya apapun terlebih dahulu.
Bima mengelus pelan punggung Chelia yang bergetar karena tangisan. Dia menatap puncak kepala adiknya dengan sedih. Melihat Chelia seperti ini tidak pernah terbayang olehnya.
"Maukah kamu menceritakan apa yang telah terjadi?" tanya Bima penuh kelembutan.
"Pria yang aku tunggu selama ini sudah bertunangan dengan wanita lain,"jawab Chelia sesegukan.
Bima tidak bisa berkata apapun, padahal tadi pagi dia masih menggoda adiknya. Nyatanya malam ini dia mendengar kabar yang selama ini ditakutinya.
" Kamu bertemu dengannya? Dia menghubungimu?"tanya Bima penuh selidik.
Chelia terdiam, dia tidak mungkin mengatakan kalau tunangan Rachel adalah pria itu. Dia tidak ingin menghancurkan perasaan Rachel dan keluarga yang lain.
Dengan sisa tangisannya gadis itu menjawab, "salah satu teman ku di SMA menghubungi dan mengatakan kepadaku,"ucapnya berdusta.
" Kamu mempercayainya?"
Chelia mengangguk. "Tadi dia mengirimkan videonya, aku yakin pria itu."
Bima lebih mengetatkan lagi pelukkannya, kemudian membiarkan adiknya menangis menumpahkan kekecewaannya.
"Cintaku tidak berjalan dengan baik, bang."
Bima hanya menepuk pelan punggung adiknya. Tidak ada satu kata dan kalimat pun yang dapat membuatnya tenang. Tidak! Karena dia pernah berada di posisi Chelia, dikecewakan karena cinta. Menangis mungkin bisa meredakannya, tapi tidak bisa menghilangkan rasa kecewa itu.
***
Gadis itu memilih sendiri di dalam kamar, dia meminta Bima mengantarkannya ke kamar. Lalu meminta Bima juga memberi pengertian kepada Rachel dan keluarganya.
"Empat tahun aku selalu menanti untuk bertemu dengan mu. Tapi pertemuan bukan yang seperti ini yang aku inginkan."
Gadis itu membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Dia masih saja belum berhenti menangis, karena hatinya terasa pilu sekali. Dia tidak pernah berpikir kalau pria yang selalu di idamkannya menjadi bagian keluarganya. Bukan sebagai pasangannya, tapi sebagai kakak iparnya.
"Kenapa harus dengan kak Rachel?" tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
Di bawah sana acara tetap berlangsung sesuai rencana. Mama dan papa menanyakan keberadaan Chelia. Bima mencoba memberikan pengertian kepada mereka berdua.
"Chelia dimana, Bi?" tanya Rachel karena tidak melihat keberadaan adik sepupu kesayangannya itu.
Bima tersenyum kaku sambil memperlihatkan kotak jam tangan yang ada di tangannya. Rachel pun tahu tentang kisah itu, karena kepada Bima dan Rachel lah Chelia selalu mencurahkan isi hatinya.
Dengan mata merah dan sedih."Dia mendapatkan kabar yang tidak mengenakan tentang pria itu."
Rachel menghela napas sedih. "Dimana dia?"
"Dia menangis di dalam kamar, mungkin sudah tidur sekarang."
"Lu nggak perlu sedih kak, kalau lu sedih Chelia bakal marah juga. Tadinya dia tidak mengizinkan gua untuk menceritakan keadaan sebenarnya. Karena ini adalah hari bahagia lu, kak."
"Nanti kakak coba menemuinya."
Semua kelurga menyambut baik ketika Rachel menerima perjodohannya kali ini. Karena selama ini gadis itu selalu tidak cocok. Entah kenapa dia menyukai pria yang sedang tersenyum kepadanya.
Bima berbaur dengan tamu dan sanak keluarga yang lainnya. Walau pikirannya selalu kepada adiknya.
Saat acara telah selesai, dan mereka mengantarkan para tamu ke halaman rumah.
"Maaf Rivaro, tadi gua tidak sempat berkumpul dan foto bersama. Tapi gua bahagia karena tidak akan lama lagi kita bukan hanya sekedar teman. Kita akan menjadi keluarga besar, ternyata lu punya banyak keluarga sama seperti keluarga gua."
Rivaro tersenyum membenarkan, mereka berjalan beriringan menuju mobil pria itu.
"Minggu depan lu jadi akan mengajar di kampus yang lu ceritakan waktu itu?" tanya Bima kepada temannya.
Rivaro mengangguk. "Semua administrasi sudah gua penuhi, kemungkinan senin atau selasa depan sudah mulai mengajar."
Bima tertawa mengolok. "Betah lu Var ngajar? Apalagi yang lu ajar mahasiswa yang jaraknya tidak jauh dengan umur kita."
Rivaro tertawa menimpali kegundahan Bima. "Masih jadi asisten dosen, Bi. Nanti dilihat dulu apakah gua betah atau nggak. Kalau nggak, sepertinya harus menerima tawaran ayah buat usahanya,"ucap pria itu cengengesan.
Abimana menatap nyalang ke arah Rivaro. " Lu harus jaga mata di kampus, awas saja lu mencari para mahasiswi di sana, nih!"seru Bima menampakan bogem nya.
Rivaro tertawa. "Kecuali kalau mereka yang dekati ya. Itu nggak masuk kesalahan gua kan? "
Mereka tertawa bersama dan berhenti di dekat mobil Rivaro yang terparkir.
"Adik gua Chelia kuliah di sana, tapi nggak tahu apakah dia mengambil jurusan yang lu ajar. Tapi, gua minta lu jagain dia kalau di kampus,"lirih Bima.
Rivaro tahu betul seberapa sayang Abimana kepada adik perempuannya.
" Dia itu ceroboh dan mudah mempercayai orang. Ya... Selama ini dia baik baik saja dengan teman dan pergaulannya. Mumpung lu juga ngajar di sana, tidak salah kan gua meminta bantuan untuk menjaga Chelia."
"Gua pasti akan bantuin lu, Bi. Gua akan menganggap dia sebagai adik sendiri."
Abimana menghela napas lega, pekerjaannya di luar kota membuatnya tidak bisa memperhatikan Chelia dari dekat.
"Gua lega mendengarnya Var, tapi lu jangan macem macemin adek gua. Apalagi mempersulit pelajarannya kalau dia ngambil jurusan lu."
Rivaro terkikik geli."Semacam boleh kan?"
Abimana menyepitkan mata memperingatkan Rivaro. Lalu, perhatian pria itu beralih ke tangan Abimana. Kening Rivaro mengernyit melihat kotak yang dibawa oleh Bima sejak tadi.
"Apa itu?" tanya Rivaro penasaran.
"Sejak tadi gua lihat benda itu berada di tangan lu."
Bibir Abimana mencebik pelan, hatinya terasa sedih kembali karena mengingat Chelia.
"Punya adek gua Rochelia," jawab Abimana sambil memamerkan kotak itu kepada Rivaro.
"Jam tangan?"tanya Rivaro lirih.
Dia meraih kotak tersebut dari tangan Abimana, pria itu memperhatikan dengan teliti.
" Iya, kotak jam beserta isinya, hadiah yang pernah diberikan Chelia kepada pria yang dia cintai. Tapi, pria itu menolaknya karena menurutnya jam ini terlalu mahal. Chelia selalu membawa jam ini kemanapun dia pergi. Dia tidak pernah sedikit pun meninggalkannya. Karena dia merasa akan bertemu kembali dengan pria itu, pria yang menjadi cinta pertamanya."
Abimana nampak tersenyum sedih. "Pria itu meminta adik gua memberikannya setelah empat tahun dari pertemuan kala itu. Chelia mengingat janji tersebut, tapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan oleh Chelia. Empat tahun setelahnya Chelia kembali mengetahui dimana pria itu. Akan tetapi.... "
"Tetapi apa?"tanya Rivaro ingin tahu.
" Tadi dia mendapati kenyataan kalau pria itu sudah bertungan dengan wanita lain. Teman di sekolahnya dahulu menghubungi Chelia dan mengatakan kebenarannya."
Mata Abimana meredup sedih. "Gua tidak menyangka melihat adik sendiri menangis seprti itu. Rasanya lidah ini kelu, dia menangis sampai kelelahan."
"Lu tahu siapa pria itu?"
Abimana menggeleng."Gua tidak pernah tahu siapa dia dan siapa namanya. Hanya yang gua tahu Chelia sangat mencintainya."
Rivaro memperhatikan serius kepada kotak jam tangan itu. Lalu, pria itu melihat asal ke atas rumah Rachel. Rivaro melihat seorang gadis memandangnya dari kejauhan. Walau tidak terlalu jelas, tapi Rivaro yakin kalau mata itu sedang memperhatikannya.
***
Abel merangkul temannya. "Kita tidak pernah tahu takdir akan memihak kemana, Chel!"
Wajah Chelia masih terlihat sendu, mata bengkaknya tidak bisa menutupi kalau dia menangis hampir setiap malam menjelang dia tidur.
"Gua tahu itu, Bel. Tapi gua butuh waktu untuk melupakan dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi." Sesekali gadis itu menghapus air matanya dengan tisu yang dibelikan Abel di kantin kampus.
Mereka berdua sengaja memilih taman kampus yang sedikit menyudut dan sepi, agar Chelia leluasa mengeluarkan isi hatinya. Karena sejak pembelajaran pertama dia sama sekali tidak semangat. Padahal ini adalah hari pertama kuliah setelah beberapa minggu libur.
Abel hanya menjadi pendengar yang baik, sesekali dia memberi nasehat untuk temannya itu. Melihat betapa sedihnya Chelia itu membuktikan perasaannya tidak main-main kepada pria tersebut.
"Jadi, lu mau ngapain sekarang? Mau masuk ke pelajaran berikutnya atau kita jalan jalan ke mana gitu?" tanya Abel memberi penawaran.
Menurut Abel percuma saja Chelia masuk ke pelajaran berikutnya dengan situasi hati yang tidak karuan begini. Bahkan tadi saja gadis itu hanya meletakan kepala malas di atas meja. Tidak sekali saja dia menghapus air matanya saat pelajaran sedang berlangsung.
"Ayuuk lah kita nonton ke bioskop, atau lu mau duduk manja di pantai? Gua jadi bingung harus berkata dan melakukan apa kepada lu sekarang."
Abel mencebikan bibirnya ikut prihatin kepada temannya itu. Chelia menghela napas dan menepuk pelan dada kirinya.
"Bayangan kemarin itu masih melekat di kepala gua, Bel. Karena itu lah gua merasa sesak sekali, sangat sesak."
Abel berdiri dari tempat duduknya dan berpindah di dekat Chelia. Gadis itu merangkul Chelia dan menepuk punggungnya pelan.
"Lu nangis sampai sesegukan gini, Chel. Nanti dada lu bisa nyeri jika begini terus."
Lalu, Chelia terdengar menangis lagi. "Gua patah hati, Bel. Gua nggak tahu harus melakukan apa setelah ini. Selama ini gua terlalu banyak berharap bertemu lagi dengannya kembali. Tidak pernah berhenti berdoa untuk bertemu dengannya. Tapi, bukan pertemuan seperti ini yang gua harapkan."
"Lu mau gua peluk?"
Abel memeluk erat tubuh rapuh temannya, pelukan itu membuat tangisan Chelia semakin tidak tertahankan.
"Gua mesti bagaimana, Bel? Rasanya nyeri sekali."
Abel hanya membiarkan Chelia menangis di dalam pelukannya sampai gadis itu tenang lagi.
***
"Ini," Abel menyerahkan satu plastik tisu kepada Chelia.
"Makasih, Bel."
Mereka sedang berada di toilet, Chelia mencuci wajah dan membersihkan make up nya yang sudah acak-acakan.
"So, kita tetap masuk kelas atau bolos?"
"Hari pertama masa harus bolos, masih ada waktu sepuluh menit lagi kan?"
Abel mengangguk.
"Hati lu sudah tenang?"
"Hmm... " Chelia mengangguk pelan.
"Coba tarik napas dulu lalu hembuskan biar agak plong dikit."
Chelia mengikuti intruksi dari Abel, walau sudah tidak ada air mata lagi. Sisa sisa kesedihan itu masih nampak, saat menarik napas Chelia sesegukan.
"Sudah?" tanya Abel lagi.
Chelia mengangguk lagi.
"Oke, kita masuk kelas."
Abel merangkul Chelia menuju kelasnya, saat di kelas mereka mengambil tempat duduk paling belakang dan di dekat jendela.
"Katanya ada dosen pengganti, semacam asisten dosen gitu. Karena dosen yang sebelumnya cuti."
Chelia hanya diam dengan berita yang dikatakan oleh Abel. Dia sama sekali tidak tertarik siapa dosen penggantinya.
"Dari mahasiswa sebelumnya yang gua dengar, dia cakep loh Chel. Banyak mahasiswi yang menyukai dosen baru itu."
Rochelia tidak tertarik sekalipun mendegar berita kedatangan dosen yang dihebohkan oleh kelas sebelumnya. Gadis itu melihat keluar jendela sambil menopang kepalanya dengan satu tangan.
Lamunan Chelia terhenti saat Abel mencoba menyikutnya.
"Chel.."
"Rochelia," bisik Abel gregetan dengan Rochelia yang bergerak malas.
"Itu dia,"bisik Abel melihat ke depan kelas.
Chelia melihat siap dosen yang dikatakan oleh Abel itu. Baru saja air matanya kering karena mengingat pertemuan Rachel dengan pria yang dia cintai. Rochelia harus menerima kenyataan kalau pria yang ditemuinya beberapa hari yang lalu sekarang berdiri di depannya. Dosen yang sedang dinanti oleh mahasiswi itu ternyata orang yang sama yang telah menghancurkan hatinya.
Gadis itu melihat dengan tenang ke arah Rivaro. Walau hatinya sudah bergemuruh tapi sebisa mungkin dialihkan oleh Chelia.
"Senyuman itu masih sama," lirih Chelia.
Rivaro sedang memperkenalkan dirinya di depan mahasiswa/mahasiswi dengan senyuman indahnya.
Ketika mata mereka saling menatap, Chelia langsung berpaling kembali ke luar jendela.
Abel kembali menyikut lengan Chelia. "Namanya juga bagus sebagus wajahnya," gumam Abel dengan senyuman genit.
"Rivaro Dewa Garendra,"gumam Abel lagi seperti memuja nama itu.
Seketika Chelia ingin keluar dari kelas secepat yang dia bisa."
***
Abel tidak berhenti berbicara berapa gantengnya Rivaro kepasa Chelia.
"Lu harus move on, Chel. Mumpung kita kedatangan dosen kece seperti Sir Varo. Gua yakin lu cepat move on, tapi lu harus buka hati. Lupakan pria itu, lu kudu dapat yang baru seperti dia."
Chelia mempercepat langkahnya menuju parkiran. Hatinya kembali tidak enak karena harus bertemu dengan Varo kembali.
"Jangan marah dong, Chel," sahut Abel ketika mereka sudah diparkiran mobil Chelia. Sedangkan mobil Abel masih jauh ke ujung jalan.
"Gua hanya memberi saran aja, siapa tahu wajah seperti Sir Varo bisa memikat lu."
"Abel," gumam Chelia sedih.
"Bagaiman mungkin dia bisa membuat gua move on. Sedangkan pria yang selama ini gua harapkan dan juga yang mematahkan hati ini adalah Kak Varo itu. Pria yang baru saja lu kenal sebagai dosen pengganti itu adalah pria yang menjadi penyejuk hati ini sekaligus juga yang mematahkannya."
Ingin rasanya Chelia berteriak di sini agar plong hatinya.
"Rivaro Dewa Garendra, nama yang tidak akan pernah bisa gua lupakan seumur hidup ini. Sekalipun nantinya gua menemukan pria yang lain, tapi nama itu sudah ada tempat khusus di hati ini, Bel."
Senyuman Abel langsung memudar saat dia baru mengetahui kenyataannya.
Tubuh Chelia terduduk di lantai di dekat mobilnya.
"Maaf, Bel, mungkin hari ini suasana hati gua sedang tidak baik-baik saja. Lu pikir gua terlalu berlebihan, tapi gua sudah berusaha untuk bersikap baik-baik saja."
Abel mengangguk paham dengan kondisi Chelia.
"Lu hati hati di jalan ya, Chel. Jangan macam macam, pikiran harus tenang." Abel mencoba memberi pengertian kepada gadis itu.
Dengan sisa air mata Chelia mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya. Ketika Abel sudah menjauh darinya gadis itu tidak langsung menghidupkan mesin mobil. Chelia menutup wajahnya kembali menangis.
Dia menyadari dia sudah berlebihan, tapi dia sudah berusaha tetap saja rasanya sama. Chelia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
"Ya Tuhan apa yang harus aku perbuat? Mana mungkin aku sanggup melihat nya setiap hari di saat hatiku sudah berantakan karena dia," gumam Chelia.
Gadis itu menenangkan hatinya terlebih dahulu. Beberapa kali dia mengehela napas untuk mengatur keadaan hatinya.
Ketukan kaca mobil menghentikan tangisan Chelia. Sambil menghapus jejak air matanya, gadis itu menoleh siapa yang telah mengetuk kaca mobilnya.
"Kak Varo," bisiknya melihat Varo berdiri menjulang di samping mobilnya.
Varo tersenyum kepada Chelia, bukan senyuman ramah seperti dulu yang pernah dilihat Chelia. Akan tetapi senyum canggung dan sedih.
***