Nadia tiduran telungkup dengan salah satu kaki, sengaja menjuntai ke bawah, dan mengayun malas. Kedua matanya memang terpejam, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Nad...! Nad, bangun, Nad!" Robin membangunkan istrinya dengan guncangan kasar di punggung.
Nadia yang kesal langsung angkat kepala dan menoleh kasar ke suaminya, Robin.
"Apa sih, Mas? Ganggu orang tenang aja," gerutu Nadia yang tak urung bangun juga dan duduk.
"Itu, Mama datang," jawab Robin dengan suara agak panik.
"Mamanya siapa? Kamu apa aku?"
"Mamaku."
Nadia langsung terlonjak bangun. Kedua matanya yang tadinya sayu, juga langsung terbuka. Nadia melompat bangun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi tanpa menutup pintunya. Robin sendiri langsung ke lemari pakaian, mengambil salah satu gaun harian untuk dikenakan Nadia.
"Tumben mamamu datang pagi-pagi, sih?" tanya Nadia di tengah-tengah kesibukannya menyikat gigi.
"Aku juga gak tau. Untung tadi Mbok Min langsung bilang, waktu mobil Mama masuk, jadi aku langsung ke kamar dulu buat bangunin kamu."
Nadia sudah menyikat gigi dan mencuci wajahnya. Dia melepaskan pakaiannya begitu saja, menampilkan kemolekan tubuhnya tanpa rasa malu di hadapan Robin yang sudah menjadi suaminya selama sepuluh bulan.
Robin menelan air liurnya saat mengulurkan gaun santai untuk si istri. Hasrat liarnya mulai tergoda dan bangun. Tapi, Robin menahan diri untuk itu.
Setelah Nadia mengenakan bedak dan perona bibir, pasangan suami istri itu keluar kamar, dengan bergandengan tangan. Keduanya langsung ke ruang makan, yang disambut kehadiran Mama Anita, yang sudah duduk di salah satu kursi makan.
"Mama kira kamu sudah berangkat kerja lho, Rob. Untung belum," ucap Mama Anita yang kemudian menyambut pelukan dan ciuman hangat di pipi dari putra dan menantunya.
"Nadia duduk sini, Sayang." Mama Anita menepuk kursi di sebelah kirinya. "Nih, Mama bawain bubur ikan teripang dan jus seledri campur bayam, buat kamu."
Nadia yang melihat suguhan di depannya, menjadi mual. Dia tidak suka jus sayuran dan dia juga tidak suka bubur, apalagi ada ikan teripangnya. Itu membuatnya ingin muntah.
"Dimakan semuanya sampai habis. Jusnya juga diminum sampai habis." Meski diucapkan dengan lembut dan dengan senyuman, tapi kalimat yang keluar adalah perintah Anita untuk menantunya.
"Aku makan nanti aja ya, Ma," elak Nadia.
"Jangan nanti-nanti. Ini buburnya mumpung masih hangat. Dimakan sekarang, ya."
"Nadia gak biasa sarapan, Ma." Robin yang duduk di sebelah nadia, mencoba membantu istrinya yang gelisah.
"Diem kamu, Rob. Ini buat kebaikan Nadia. Biar rahimnya sehat dan hangat. Jadi telur yang masuk dari kamu, bisa langsung terbuahi di dalam."
"Tapi kan Nadianya gak biasa sarapan, Ma. Mama juga biasanya ngantar beginian sore atau malam. Kok, tumben pagi?"
Mama Anita tidak langsung menjawab. Kepalanya sedikit dimiringkan dan kedua bola matanya bergulir ke sudut mata, menatap si menantu yang masih terlihat enggan memakan buburnya atau meminum jusnya.
"Karena Mama curiga, kalau Nadia gak makan buburnya atau semua makanan yang udah Mama kirim ke sini."
Nadia menunduk, menggigit bibir atasnya dengan perasaan tak menentu.
"Nadia makan kok, Ma," ujar Robin yang masih melindungi istrinya. Pada kenyataannya memang Nadia tidak mau memakan atau meminum apa-apa yang dikirimkan ibunya. Nadia punya alasan untuk itu.
"Kalau makan kok gak hamil-hamil? Perempuan-perempuan lain sudah pada hamil setelah makan bubur ini dan minum jus ini. Bahkan satu hari setelah menikah juga, langsung hamil. Ini malah sudah sebelas bulan, gak hamil juga."
"Sepuluh bulan, Ma," ralat Robin.
"Halah sama aja." Mama Anita mengibaskan tangan. "Ayo, Nad, dimakan buburnya. Keburu dingin."
"Aku udah makan roti sama telur, Ma," dusta Nadia. "Aku makan nanti siang, ya."
"Udahlah, makan sekarang. Banyak ngelaknya kamu ini." Mama Anita sudah tidak sabar dengan Nadia yang dianggapnya lambat.
Tidak punya pilihan. Nadia terjepit. Dengan tangan lemas Nadia memegang sendoknya, mulai mengaduk buburnya yang memiliki kuah berwarna abu-abu. Aroma amis, semakin menguar, dan perut Nadia semakin bergejolak.
Di bawah tatapan mata ibu mertuanya, Nadia menyuap sesendok bubur ikan teripang. Begitu masuk ke dalam bibir mungilnya, seketika itu juga Nadia memuntahkannya.
"Lho, kok dimuntahin?" tanya Mama Anita dengan mata mendelik lebar.
Bukannya menjawab, Nadia justru keluar dari kursinya, dan tergopoh-gopoh meninggalkan ruang makan.
"Lihat, itu istrimu! Bisa-bisanya dia muntahin makanan yang Mama bawa!" pekik kesal Mama Anita.
"Kan tadi aku sudah bilang kalau dia gak biasa sarapan. Mama pake maksa segala," protes Robin yang bersiap berdiri dan akan menyusul Nadia, yang dia yakini lari ke kamar.
"Mau ke mana kamu? Duduk!" bentak Mama Anita dengan wajah garang.
Dengan patuh, Robin duduk. Pun begitu, arah matanya masih tertuju pada kepergian Nadia.
"Jadi, selama ini istrimu itu gak makan makanan yang Mama kirim? Iya?" tanya Mama Anita galak.
Robin menghela napas lelah. "Lagian kenapa Mama kirim makanan yang gak jelas gini sih, Ma?"
"Tadi kan Mama sudah bilang kalau itu untuk kebaikan rahimnya. Memangnya buat apa lagi?"
"Tapi makanan yang Mama bawa, aneh semua rasanya. Aku aja mau muntah, apalagi Nadia."
"Ya, ditahan dong. Itu semua kan makanan herbal. Makanan kesehatan."
Robin menarik napas panjang. Ibunya sudah ngotot dan itu tidak bisa didebat.
"Kamu ini memangnya gak khawatir kalau istrimu gak hamil-hamil?" tanya Mama Anita.
"Apa yang dikhawatirkan sih, Ma?" tanya Robin malas.
"Khawatir, dong. Orang lain yang setelah nikah, langsung hamil. Ini udah mau setahun, belum juga hamil. Kalian udah periksa ke dokter?"
"Tidak ada yang salah dengan aku dan Nadia, Ma."
"Kalau gak salah kok gak hamil-hamil?"
"Ya, belum dikasih aja sama Tuhan. Dan lagi, buat apa hamil cepat-cepat, Ma? Udahlah, biarin kami jalani rumah tangga ini dengan tenang. Lagian, aku sama Nadia masih ingin pacaran dulu."
"Apa?!" Mama Anita mendelik menatap putra tunggalnya dengan kesal. Sedari tadi, Robin selalu bersikap melindungi Nadia, padahal yang dia lakukan sebagai ibu adalah untuk kebaikan.
"Kurang puas ya, tiga tahun lebih kalian pacaran? Sampai-sampai sudah menikah aja, masih mau pacaran segala. Yang bener sajalah kamu ini!
Di mana-mana, orang menikah itu tujuan utamanya adalah memiliki anak! Memiliki penerus! Apalagi kamu adalah anak laki satu-satunya, penerus kejayaan papamu. Kalau kamu sampai gak punya anak juga, apa kata orang nanti ke kita?
Kalau bukan karena istrimu itu yang mandul, ya bisa aja kamu yang loyo! Dan Mama gak mau rumor kedua menimpa dirimu. Bikin malu itu namanya!"
Mama Anita berdiri dengan kasar. Ditatapnya Robin yang diam saja, tidak memberikan reaksi apa-apa.
"Dari awal kamu kenalkan Nadia sebagai calonmu, Mama sudah merasakan aura negatif. Aura kesialan. Aura ketidakberuntungan. Kamunya aja yang ngotot tetap nikahin dia.
Kalau sampai akhir bulan ini ,istrimu itu gak ada tanda-tanda hamil, sebaiknya kamu segera pertimbangkan cari istri kedua atau ceraikan saja dia dan menikah lagi dengan wanita yang memiliki rahim kuat."
Anita meluncurkan ultimatumnya tanpa perasaan, sebelum kemudian berpamitan pulang, mengabaikan sang putra yang diam termangu. Di sudut lain rumah, di tempat yang tersembunyi, Nadia mendengarkan sisa percakapan dengan tangan terkepal kuat dan kemudian berlalu kembali ke kamar.
***
Robin berdiri di depan pintu kamarnya. Ada perasaan ragu untuk masuk, tapi kalau tidak masuk, bagaimana dia bisa bekerja tanpa tas kerja, dan itu ada di dalam kamar. Selain itu, jauh di dalam hati Robin, ada keinginannya untuk mengetahui keadaan istri tercinta.
Saat masuk, Robin mendapati istrinya duduk bersandar di tempat tidur. Sedikit pun Nadia tak berpaling untuk menatap Robin. Suasana kamar terasa dingin dan kaku. Itu membuat Robin salah tingkah.
"Mama sudah pulang. Aku berangkat kerja dulu, ya." Robin melangkah perlahan menuju ke meja , di mana tas kerjanya berada.
"Sampai kapan drama ini berjalan, Mas?" Kali ini Nadia menatap Robin dengan marah. "Aku dengar semua yang mamamu omongin."
Robin langsung tercenung. Berdirinya tak nyaman. Mau bicara pun tak berani, lebih ke khawatir salah.
"Jawab Mas!" tuntut Nadia dengan suara meninggi. Tubuhnya ditegakkan dan kakinya diturunkan.
"Gak usah kamu masukkan hati, semua yang Mama omongin. Abaikan aja." Robin memunggungi Nadia dan mengambil tasnya. Tapi, dia belum siap berbalik, Robin pura-pura memeriksa isi tas kerjanya.
"Gimana caranya?"
Robin tidak menjawab dan Nadia yang gemas, mendekati suaminya.
"Gimana caranya, aku mengabaikan ucapan mamamu, hah? Bilang segala aku mandul. Bilang segala aura aku gelap. Dan apa lagi itu.... Ahhh..., suruh kamu cari istri baru, hah?"
Robin berbalik dengan lemah. Percuma untuk berkelit, istrinya sudha mendengarkan semua. Yang harus Robin lakukan saat ini adalah mencoba menenangkan nadia yang rasanya itu akan sangat sulit.
"Makanya tadi aku bilang apa? Gak usah dengerin apa pun yang Mama omongin. Gak penting juga."
"Gak penting buatmu, tapi sangat penting buatku! Di sini, aku yang mendapat tekanan. Suruh makan inilah, suruh minum itulah, harus ke dokterlah, ke dukunlah, apa aja semua ditimpakan ke aku. Sedangkan kamu apa, hah? Malah disuruhnya kawin lagi."
"Ya, udahlah. Toh, akunya juga gak peduli. Aku juga gak akan nurutin apa mau Mama, kok." Robin mendekati istrinya dan mencoba membelai pipi si istri.
"Gak usah pegang-pegang." Nadia menepis tangan Robin dengan kasar.
"Aku capek, Mas kalau direndahkan seperti ini terus-menerus. Semua orang menatapku dengan tudingan macam-macam. Yang aku penyakitan lah. Yang aku mandullah. Padahal, kamu yang salah! Kamu yang gak sehat, Mas! Kamu yang harusnya diobati!"
"Nad, sudah ya. Cukup. Gak usah lagi bahas ini. Aku harus ke kantor." Robin buru-buru melakukan pengalihan. Dia berbalik dan mengambil tas kerjanya.
"Aku akan bilang ke orang tuamu."
Robin berbalik panik. Kedua matanya mendelik sangat lebar. Itu adalah ancaman yang tidak dibayangkan Robin.
"Apa maksudmu, Nad?" tanya Robin.
"Aku akan bilang ke mama dan papamu, apa yang sebenarnya terjadi di pernikahan kita ini. Aku akan bilang ke meraka siapa yang lemah dan siapa yang perlu pengobatan," jawab Nadia dengan sikap tenang yang mengancam. Kedua tangannya terlipat di dada.
"Buat apa kamu melakukan itu? Gak perlulah kamu perbesar masalah ini."
"Gak diperbesar bagaimana, kalau setiap hari, setiap waktu, setiap kesempatan, semua orang selalu mengata-ngataiku di belekangku? Aku gak sanggup. Aku gak kuat direndahin ters."
"Ya, gak usah kamu masukkan hati. Toh, aku selalu membelamu. Dan aku sedang mencari obatnya. Gak lama lagi, semua akan baik-baik saja, Nad. Bersabarlah kamu ini," ucap Robin yang mulai kesal.
"Enak aja kamu kalau ngomong. Aku tetap mau bicara sama mama papamu dan mama papaku," ucap Nadia keras kepala.
"Jangan macam-macam kamu, Nad. Kita sudah sepakat untuk ini."
"Kesepakatan itu aku batalkan. Aku gak kuat, Mas, selalu berada di posisi salah terus-menerus. Aku gak bisa. Di sini, akulah yang menderita. Punya suami lemah. Punya mertua modelan begitu, yang hanya melihat dan membela sepihak. Aku gak sanggup."
"Ayolah, Sayang. Jangan begini. Tidak lama lagi aku pasti sembuh."
"Kapan? Ini sudah sepuluh bulan lho, Mas. Sebenarnya kamu kenapa, sih? Kenapa burungmu bisa lemes begitu? Kamu gak nafsu sama aku? Kalau memang iya begitu, ya sudah, ceraikan aja aku."
"Sudah cukup, Nad! Cukup!"
Akhirnya Robin mengeluarkan nada keras untuk istrinya. Kesabarannya mungkin bisa awet saja, andai kata Nadia tidak mengungkit-ungkit kelemahannya sebagai lelaki. Keperkasaannya sedang direndahkan oleh si istri dan itu sangat menyakitkan untuk diakui.
Wajah Robin yang mengeras hingga urat rahangnya menonjol, membuat Nadia terdiam. Meskipun Nadia masih marah, tapi melihat Robin yang sudha mulai naik darah, tak urung membuat nyali Nadia perlahan surut.
"Cukup membahas ini semua! Bukan hanya kamu saja yang menderita. Aku juga!" teriak kasar Robin.
"Tidak ada yang tahu tentang penyakitmu itu. Jadi buat apa kamu merasa menderita." Nadia masih ingin meluapkan keluhannya. Tapi, kali ini suaranya dilemahkan.
"Pakai otakmu itu! Aku ini laki, Nad. Harga diriku tinggi. Kalau keluargaku tahu kelemahanku, atau bahkan orang-orang di luar sana tahu kalau aku lemah, kamu pikir aku masih bisa hidup?"
Pertanyaan Robin tidak dijawab Nadia. Wanita itu mulai sedikit ketakutan dengan nada suara dan ekspresi Robin. Apalagi Robin justru maju mendekat, yang membuat Nadia otomatis mundur.
"Atau semua kata-katamu itu hanya omong kosong saja? Mencintaiku? Apa benar kamu mencintaiku? Apa benar selama hampir dua tahun kita pacaran, kamu memang mencintaiku?"
Tetap Nadia tidak menjawab apa-apa. Mulutnya terkunci rapat. Sedangkan jarak Robin dengan Nadia begitu tipis. Pria itu sedikit saja membungkuk, hanya agar wajahnya sejajar dengan wajah Nadia.
"Atau, kamu berpacaran denganku, hanya agar bisa menikah dengan keluarga kaya. Keluarga yang banyak ...."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Robin, menghentikan kalimat-kalimat suaminya lebih lanjut. Air mata tak bisa ditahan, luruh begitu saja di pipi Nadia.
"Keluargaku memang tidak sekaya keluargamu, Mas. Tapi, aku tidak serendah itu menerima cintamu, menjadi kekasihmu, dan menikahimu. Jahat kamu!"
Nadia berlari ke kamar mandi, membanting pintunya, dan menguncinya. Robin terhenyak. Dia menarik napas dalam-dalam. Ada penyesalan meny0isip, membuat Robin semakin frustasi. Karena gemas, Robin mengacak-acak rambutnya sendiri dan menghentakkan kaki di lantai.
Setelah beberapa saat terdiam, Robin menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Perlahan dia mendekat dan mengetuknya pelan.
"Nadia, aku berangkat kerja dulu, ya. Maafkan aku dan lupakan yang tadi."
Tak ada sahutan dari dalam. Dengan langkah gontai, Robin keluar dari kamar.
Nadia menghentikan tangisnya, tubuhnya kemudian merapat ke daun pintu, mencoba mendengar suara pintu kamar terbuka kemudian menutup. Setelah yakin suaminya sudah keluar kamar, Nadia pun keluar dari kamar mandi.
Sesaat, wanita itu memandangi daun pintu kamar yang tertutup. Dengan helaan napas, Nadia menuju ke meja nakas di sebelah tempat tidur dan mengambil ponsel pintarnya. Nadia kemudian menelepon seseorang yang saat ini sedang dia butuhkan sebagai teman bicara.
"Halo..., Ris, kamu ada di rumah? Aku main ke sana, ya."
Bunyi bergetar ponsel dengan meja, membuat bunyi berderak yang kasar dan mulai sangat mengganggu. Seorang pria dengan jubah mandi, yang baru keluar dari kamar mandi, memandangi mendekati meja nakas di sisi kiri tempat tidur. Di sana, tidur dengan nyenyaknya seorang wanita yang tubuhnya hanya ditutupi selimut, sedangkan pakaiannya berserakan di lantai.
Pria itu melihat nama yang tertera di layar ponsel dengan kernyitan kening yang dalam. Dirinya merasa aneh dengan nama tertera di layar.
Tangan si wanita tiba-tiba terulur dan dengan kasar meraih ponselnya. Dengan sikap tak acuh, si pria berbalik, berjalan menuju ke meja rias.
"Halo," sapa si wanita dengan setengah menguap. "Kenapa Nad?"
"Ris, kamu ada di rumah? Aku main ke sana, ya," ucap Nadia dari seberang telepon.
Wanita bernama Riska itu, seketika tidak jadi mengantuk lagi. Dia bangun dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Sekarang?" tanya Riska dengan tatapan tertuju ke punggung lebar si pria, yang mulai mengenakan kemeja lengan pendeknya.
"Iya, sekarang. Aku butuh bicara denganmu."
"Tentang apa?"
"Nanti aja aku cerita. Sekarang aku ke rumahmu, ya."
"Aku mau cek salonku dulu. Gimana kalau nanti siangan aja, sekalian kita makan siang," tawar Riska. Wajahnya terlihat gusar saat si pria melepaskan lilitan handuknya dan mulai mengenakan celana panjang jeans hitamnya.
"Okelah kalau begitu. Aku ke salonmu, ya?"
"Kita ketemu di resto biasa aja, ya." Riska menurunkan kedua kakinya, menarik selimut sebanyak-banyaknya, membelitkannya ke tubuhnya secara serampangan, baru kemudian berjalan mendekati si pria.
Nadia mengiyakan. Segera Riska berpamitan lebih dulu, agar tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Dia perlu segera mendekati si pria, sebelum pria itu pergi.
Begitu telepon terputus, Riska langsung memeluk si pria dari belakang. Kepalanya menempel di punggung lebar si pria.
"Kamu mau ke mana?" tanya Riska dengan suara dimanja-manjakan.
"Mau pulanglah," jawab si pria datar.
"Memangnya kamu sudah punya istri? Sampai harus buru-buru pulang." Tangan Riska bergerak nakal, menyusup dari bawah ke meja, dan membelai pusar si pria.
"Jangan ginilah." Si pria terlihat risih. Dia membebaskan tangan Riska dari pusar perutnya. Dia kemudian langsung berbalik, melepaskan diri dari pelukan Riska.
"Aku pulang dulu, ya. Mmm..., berapa bayar kamu?" tanya si pria sedikit ragu.
Riska tidak menjawab. Dia justru melipat kedua tangannya di dada—menahan selimut turun dan juga menahan diri dari keinginannya menampar pria gagah di hadapannya itu. Selain itu, ketenangan si pria, membuat rasa segan muncul di dalam hati Riska.
"Aku bukan perempuan bayaran. Aku bukan perempuan dari aplikasi."
Si pria tercenung menatap Riska. Terlihat sekali kalau dia bingung sendiri. Seolah-olah dia sudah memberi cap, tapi ternyata itu salah.
"Ohhh, maaf. Aku ... aku kira ...," ucap si pria dengan kalimat mengambang.
Sikap salah tingkah si pria, terlihat menggemaskan di mata Riska. Kemarahannya surut, di wajahnya tersungging senyuman.
"Gak semudah itu aku memaafkan seseorang. Apalagi, kalimatmu tadi, cukup merendahkan aku."
"Lalu aku harus apa?"
Riska tidak menjawab. Dia justru mendekati si pria dengankedua matanya yang tidak lepas menatap mata cokelat gelap si pria. Kedua tangan Riska terulur yang langsung memeluk pinggang si pria. Kembali tangan kanannya bergerak liar, menyusup ke balik kemeja, lalu membelai punggung si pria.
"Jangan pergi dulu. Aku masih mau," goda Riska dengan kepala mendongak dan bibir yang sudah dibasahi. Selimutnya mulai melorot, Riska mengabaikan meskipun kedua bongkahan dadanya mulai terlihat setengahnya.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku harus kerja."
Riska menghentikan aktifitasnya. Keningnya berkerut, terkejut dengan pernyataan si pria.
"Kamu kan Arfan, seorang pemilik Restoran Gagak di Bali dan Jakarta. Kamu juga pengusaha tambang. Gak ada kewajibannya kamu harus berangkat kerja jam sekian, 'kan?"
"Kamu menyelidiki aku?" tanya si pria bernama Arfan. Ketidaknyamananbya terlihat semakin jelas.
"Tidak. Tapi, mereka yang memberitahukannya ke aku dan semalam..., kamu yang mendekati aku."
"Aku bukan sengaja mendekatimu. Kamu adalah teman Roy dan dia yang mengajakku untuk satu table denganmu dan teman-temanmu. Ya sudahlah, aku tetap harus pulang. Hotel ini dalam tanggunganku," tegas Arfan.
"Tunggu," cegah Riska sembari menahan lengan Arfan. "Simpan dulu nomermu." Riska menggoyang-goyangkan ponselnya yang kemudian diulurkan ke si pria.
"Aku tidak suka menyambung hubungan setelah permainan singkat semalam."
Wajah Riska kembali merengut. Untuk kedua kalinya, Arfan menolak dirinya. Setelah yang tadi ingin buru-buru pulang, sekarang menolak membagi nomer ponsel. Padahal, pria itu adalah seorang lajang. Bahkan dari Roy, dikatakan kalau Arfan sudah lama menjomlo.
"Kalau semalam terasa singkat buatmu, ayo kita lanjutkan lagi sekarang," ajak Riska tanpa rasa malu.
"Dan aku tidak suka melanjutkan permainan semalam, menjadi episode berlanjut di kemudian hari. Bagiku, semalam hanya kesenangan yang tidak perlu dipertahankan."
"Jadi, aku ini hanya tempat pelepasan kesenanganmu?"
Arfan mengedikkan kedua bahunya dengan sikap tak acuh. Membiarkan Riska menilai sendiri.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Arfan. Pria itu memang sangat terkejut, tapi bahkan kepalanya bergeming sedikit pun, seolah-olah tamparan itu hanyalah sabetan angin biasa saja.
"Brengsek kamu! Aku bukan penjual tubuh! Aku tidak pernah tidur dengan sembarangan pria."
Arfan menarik napas dan memasukkan kedua tangannya ke dalam masing-masing saku celana. Sikapnya masih adalah ketidakpedulian, kalaupun dia diam, itu hanya menunggu saja sampai wanita di hadapannya selesai bicara sampai puas.
Siratan mata Arfan yang begitu maskulin, menjalar hangat di diri Riska. Keinginannya begitu kuat untuk kembali berdekatan dengan Arfan.
"Aku memilihmu seperti kamu memilihku semalam. Kurasa, kita bisa memulai sesuatu yang baik bersama-sama," lanjut Riska. Jari telunjuknya yang lentik, bermain di dada Arfan. Tubuhnya kembali merapat dna pinggul bawahnya sengaja menggesek bagian jantan Arfan.
"Aku bukan memilihmu. Aku hanya bermain dengan yang ada di dekatku. Kamu mau dan aku mau. Kalau permainannya sudah selesai, kita menjadi masing-masing.
Aku tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan. Aku tidak mengenalimu secara personal dan kamu juga tidak perlu mengenaliku, atau bahkan menjadi bagian dari diriku, karena aku sedang tidak ingin ada tujuan apa-apa dengan seorang wanita mana pun, termasuk kamu.
Tidak peduli sebanyak apa informasi yang kamu dapatkan tentang aku, yang jelas sekarang aku harus pergi dan aku harus kerja. Selamat tinggal."
Riska menjadi gelisah ketika Arfan dengan serius berbalik dan melangkah menuju pintu. Dia tidak bisa melepaskan pria itu, setelah semalaman dirinya menaruh harapan pada pria tersebut. Riska punya tujuan dan Arfan adalah jalan keluarnya. Hanya Arfan yang paling bisa diandalkan untuk bisa merealisasikan tujuannya.
Dengan sedikit terhuyung-huyung, Riska mengejar Arfan. Tepat sebelum Arfan menjangkau pintu, Riska sudah lebih dulu berdiri di depan pintu. Dia menghalangi tangan Arfan yang akan memegang gagang pintu.
"Aku tidak izinkan kamu pergi." Riska melilitkan selimutnya dengan kasar di dada, lalu merentangkan kedua tangannya.
"Minggir. Jangan buat aku memaksamu." Arfan memberikan peringatan tajam.
"Paksa aku, pukul aku..., aku tetap tidak akan minggir. Dan kalau pun kamu berhasil membuka pintu, trus kemu keluar, maka aku akan ikut keluar, mengikutimu. Tidak peduli meskipun keadaan diriku begini."
Arfan menarik napas kesal. Jelas ini adalah ancaman dan Arfan benci itu. Tapi, dia tahu kalau Riska tidak main –main dengan ucapannya. Arfan terdesak. Dia tidak punya jalan.
"Kalau aku berikan nomerku, apa aku bebas sekarang?" tawar Arfan putus asa.
"Tergantung kejujuranmu." Riska tersenyum lebar dan menyodorkan ponselnya ke Arfan.
***