Bab 1

“Ini sel kanker. Meski ukurannya masih kecil, kami menyarankan untuk melakukan operasi pengangkatan benjolan di payudara Anda.”

Risa pada awalnya datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin sebagai kewajiban yang harus dilakukan setiap karyawan perusahaan. Namun, bukannya mendapat hasil baik, tiba-tiba saja dia divonis menderita kanker payudara.

“Di bagian kanan ada benjolan sebesar biji kelengkeng,” kata dokter bernama Margareth itu. Dia menunjukkan foto rontgen pada Risa dan melingkari benjolan yang dimaksud. “Seharusnya Anda bisa merasakan tiap kali menekannya. Atau setidaknya pasangan anda harusnya sadar ada yang tidak beres.”

Risa masih terdiam di posisinya. Dia menatap foto rontgen yang kali ini membawa kabar buruk. “Kalau saya operasi, apa dijamin saya bisa hidup dan penyakit itu tidak akan muncul lagi?”

“Untuk kanker stadium awal, kemungkinannya sangat besar untuk bisa bertahan hidup. Namun, sel kanker bisa saja kembali jika Anda tidak menjalani hidup sehat.” Dokter Margareth menjelaskan dengan baik agar pasiennya itu bisa menerima dan berpikir sungguh-sungguh. “Setelah operasi juga Anda diharuskan menjalani perawatan rutin.”

“Kira-kira berapa biayanya, Dok?” tanya Risa putus asa.

Margareth memberitahu banyak rincian, mulai dari biaya operasi, lalu perawatan pasca operasi, juga biaya rawat jalan yang harus dilakukan setiap satu bulan sekali sampai dipastikan sel kanker itu tidak kembali.

Tidak sedikit yang harus Risa keluarkan, bahkan bisa saja semua tabungannya selama lima tahun ini ludes untuk biaya kesehatannya. Dia bukannya perhitungan, tetapi menghabiskan banyak uang untuk sesuatu yang bahkan tidak seratus persen menjamin kesembuhannya, Risa agak merasa sayang.

Dia masih ingin bepergian ke beberapa tempat, salah satunya ke sebuah desa yang terletak di Kanada Utara. Jika boleh memilih, dia akan menghabiskan uang dan sisa waktunya untuk mengunjungi banyak tempat, lalu mati dengan damai. Namun, dia juga masih ingin hidup lama dan melakukan banyak hal seperti orang-orang.

“Apa kamu bisa meminjamkan aku uang?” tanya Risa tiba-tiba. Margaret menggeleng seraya melipat kedua tangan. “Atau setidaknya apa aku bisa mencicil selama beberapa tahun? Kau tahu, aku belum ingin mati, tapi aku tidak bisa menghabiskan semua uangku untuk operasi!”

“Memangnya aku bank-mu?” Margareth mencemooh. Risa beranjak dan memohon padanya dengan mata berkaca-kaca. “Ris, aku turut bersedih dengan kondisimu, tapi aku juga masih jadi Dokter Residen. Kamu tahu maksudku, bukan?”

Risa lantas melepaskan tangannya dari Margareth, lalu menghela napas panjang dengan bahu lemas. Dia juga tahu posisi Margareth saat ini yang bahkan jauh lebih sulit dibandingkan dengan dirinya.

Mereka berdua adalah teman satu kelas saat di sekolah menengah atas, tetapi kemudian berpisah haluan ketika Risa memilih kelas ekonomi, sementara Margareth memutuskan untuk sekolah kedokteran. Meski demikian, mereka tidak pernah putus kontak.

“Jadi aku harus bagaimana?” Risa menatap temannya dengan wajah memelas, seolah-olah tidak ada harapan yang tersisa.

“Atur ulang masa depanmu dan segera operasi! Kamu bisa pergi saat kondisimu kembali seperti semula. Aku tidak mau kamu mati lebih dulu.”

Margareth pikir temannya itu bakal menuruti perkataannya, tetapi setelah beberapa hari kemudian, Risa mengunggah foto sebuah bandara di Kanda.

“Dasar gila! Kalau cuma ingin melihat aurora, di Norwegia juga ada!”

Begitu teriak Margareth ketika Risa telah berada di Kota Yellowknife, tempatnya aurora berada. Selama berjam-jam ini gadis itu tidak pernah berhenti, sejak tiba di Bandara Saskatoon, dia kembali terbang ke Kota Yellowknife, lalu menaiki mobil untuk sampai di sebuah desa yang mempunyai banyak teepee, tenda yang secara tradisional terbuat dari kulit binatang yang dipasang pada tiang-tiang kayu.

Pada masa kini, hanya ada dua puluh satu teepee yang masih asli, sementara teepee lain yang digunakan untuk menginap para pelancong terbuat dari jenis-jenis yang berbeda, alias lebih modern.

Tepat pukul sepuluh malam, Risa duduk di depan tendanya. Ditemani api unggun kecil dan minuman hangat, gadis itu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Musim dingin di Kanada memang mempunyai suhu rendah sekali sehingga selimut dan api hanya sedikit membantu.

Risa pikir bepergian kali ini akan sepi dan tenang, hanya ada dirinya di desa terpencil ini. Namun, ada banyak orang yang juga datang berpasangan, memadu kasih dan bercinta di dalam tenda dengan cahaya aurora yang terlihat samar menggantung di udara.

“Ya bodoh saja jika aku mengira hanya ada aku di sini. Aku datang ke desa ini juga karena informasi dari internet,” gumam Risa dengan nada tidak semangat. Dia lalu menyeruput minuman hangatnya yang manis.

“Aku juga datang ke sini setelah melihat foto-foto di internet,” kata seseorang yang baru saja menghentikan kaki di depan tenda Risa.

Gadis itu mendongak, menatap pria berambut pirang dengan mata biru seperti samudera. Sebagian wajahnya tertutup oleh syal yang hangat.

“Apa kamu punya gelas alkohol?” tanya pria itu seraya menunjukkan alkohol yang dibawanya. Dia menarik syalnya ke bawah, menampilkan hidung mancung dan bibir tipis yang agak kemerahan.

Tampan sekali, pikir Risa. Dia tidak berpikir menolak pria itu sebab kedatangannya ke sini adalah untuk bersenang-senang, termasuk bermalam dengan seorang pria.

“Duduklah. Aku punya dua gelas kosong dan aku masih punya tempat kosong di sebelah.”

Tersenyum, pria itu lantas mengambil duduk di sebelah Risa dan meletakkan alkohol yang membuat suhu tubuhnya semakin hangat. “Alkohol memang lebih bagus daripada minuman hangat seperti itu,” ujarnya sambil melirik minuman milik Risa.

Keduanya melanjutkan obrolan, bertanya nama dan asal masing-masing yang lantas membuat mereka terkejut karena berasal dari negara yang sama.

“Aku juga dari Indonesia!” seru Risa girang, “bukankah ini takdir?”

Pria yang mengaku bernama Jaya itu tersenyum dengan tatapan fokus kepada mata Risa. Perempuan itu cantik dan mudah diajak berbicara, bukan tipe perempuan yang jual mahal dan membatasi diri dengan orang lain.

“Jadi, kamu jauh-jauh ke sini hanya untuk melihat aurora?” tanya pria itu.

Risa mengangguk. “Tiga tahun ini aku tinggal di Prancis karena pekerjaan, tapi sesuatu terjadi begitu saja dan akhirnya membawaku ke tempat ini.”

Jaya mengangguk-angguk mengerti meski tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat perempuan itu datang ke tempat jauh ini. Akan tetapi, pertemuannya ini tentu bukan hanya sekadar kebetulan, melainkan pertemuan yang sudah tertulis dalam garis takdirnya yang sebentar.

“Mau bersenang-senang denganku?” tawar pria itu dengan tatapan yang terkesan menggoda.

"Bersenang-senang seperti apa contohnya?" Risa bertanya balik tanpa melepas pandangan. Dia juga ingin menggoda pria yang baru saja ditemuinya itu.

"Kamu mau yang seperti apa?" Jaya bertanya lagi. Kini pandangannya tertuju pada bibir Risa yang terbuka seolah-olah ingin dikecup. "Aku bisa memberi apa yang kamu mau jika kita masuk ke tenda sekarang juga."

Tanpa balasan berupa kata-kata, Risa menarik tubuhnya mundur perlahan-lahan dan memasuki tenda yang besarnya tidak seberapa. Jaya yang mengerti pun lantas menyusul gadis itu tanpa sedetik pun melepas pandangan darinya.

"Kamu sungguh bisa memberi apa yang aku mau?"

Jaya mengangguk dan setelah itu dia memperhatikan Risa yang berusaha melepas jaket bulu miliknya, menanggalkan satu persatu pakaian hingga tersisa bra hitam yang menutupi payudara sintal itu.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, jadi ... kuserahkan semuanya padamu."

Tanpa banyak bicara, Jaya mendekat ke arah Risa, menyentuh sisi wajahnya dan bergerak ke leher lalu meremas bagian belakang kepala gadis itu sebelum akhirnya dia mendaratkan ciuman yang menggebu-gebu di bibir gadis itu.

Ini memang bukan ciuman pertama bagi mereka, tapi ini adalah kali pertama bagi keduanya melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar ciuman. Risa bahkan dibuat tidak bisa apa-apa ketika tangan kiri Jaya meremas-remas payudaranya yang masih tertutupi oleh bra, sementara ciuman pria itu berangsur turun ke area leher dan membuat Risa mendesah tanpa bisa ditahan.

"Kamu serius ini pengalaman pertamamu?" tanya Jaya memastikan. Dia berhenci mengecup leher Risa dan tangan kirinya pun berhenti meremas payudara perempuan itu meski masih berada di sana.

"Aku tidak tahu bagaimana membuktikan ucapanku."

Jaya menyeringai, kembali mengecup dan meninggalkan jejak kemerahan di leher Risa sebelum melepas bra wanita itu dan melemparnya ke sembarang arah. Lalu tanpa melepas pandangan dari payudara sintal itu, dia kembali menyentuhnya dengan pelan, memberi remasan-remasan sensual yang membuat Risa melenguh panjang. Belum lagi ketika dirinya menggunakan lidah serta mulutnya untuk memberikan kenikmatan lebih.

Risa hilang kendali dan dia kehabisan kekuatan untuk tetap duduk. Dia perlahan-lahan berbaring menikmati sapuan lidah Jaya di ujung payudaranya yang terasa tegang, juga merasa gugup ketika pria itu melepas pakaiannya dengan cepat dan memperlihatkan kejantanan miliknya yang telah berdiri tegak.

"Maaf jika terlalu tiba-tiba, tapi aku tidak bisa menahannya," ujar Jaya tanpa berusaha menyembunyikan perasaannya.

"Ya. Aku sedikit terkejut, tapi tidak masalah," balas Risa tanpa mengalihkan pandangan dari milik Jaya yang terlihat kuat. "Setelah ini apa?"

Bab 2

"Tidak perlu cemas. Biar aku yang maju. Kamu bilang ini pertama kali untukmu."

Jaya kembali menunduk, menghisap payudara Risa yang menggelinjang, sementara tangan kanannya meremas payudara lainnya selama beberapa waktu sebelum bergerak turun menyelusup ke dalam celana dalam milik wanita itu dan memberi sentuhan-sentuhan awal yang sesekali membuat Risa tersentak, antara terkejut dan juga geli.

"Ah , ini ... aku tidak pernah merasakannya."

Risa memejamkan mata merasakan gerakan jari Jaya di dalam kewanitaannya yang membuat dadanya berdebar-debar. Semakin cepat gerakan tangan Jaya, semakin cepat pula debaran di dada yang membuat kepalanya serasa dipukul-pukul. Apalagi ketika sensasi aneh tiba-tiba hadis dan memaksa kedua kakinya untuk merapat, memenjara lengan kekar Jaya yang masih terus meningkatkan sensasi tersebut.

"Ah ...!"

Jaya menyeringai mendengar desahan Risa yang paling keras. Dia juga senang merasakan kehangatan yang mengalir keluar dari titik kenikmatan wanita itu malam ini sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan penyatuan dalam sekali sentak.

Risa menjerit keras karena rasa sakitnya, tetapi semua itu percuma karena Jaya telah membenamkan seluruh miliknya di dalam kewanitaan Risa yang hangat dan sempit.

"Orang bilang kamu akan tersiksa, tapi jika kamu menyerah, kamu tidak akan melayang tinggi," kata pria itu seraya mengambil posisi.

Dengan gerakan pelan, Jaya menarik ulur miliknya sambil kedua tangannya menahan pinggul Risa yang masih meringis kesakitan. Meski kasihan, dia tidak akan berhenti karena itulah satu-satunya cara mereka bisa melakukan hubungan intim ini penuh dengan kenikmatan di masa mendatang.

Tiap kali Jaya mendorong miliknya, suara berat keluar dari mulutnya. Lalu ketika dia menarik miliknya keluar, desahan lolos dari bibir keduanya meski dalam perasaan berbeda. "Maaf jika aku egois, tapi aku benar-benar tidak ingin berhenti."

Setelah mengatakannya, Jaya mempercepat gerakan maju mundurnya, membiarkan Risa berteriak di tengah malam penuh salju. Karena jarak antara tenda satu dengan yang lainnya lumayan jauh, mereka tidak segan-segan melepaskan perasaan yang menggebu-gebu itu.

Jaya terus melepaskan kekuatannya, menikmati tubuh wanita yang baru pertama kali ditemuinya, menerima pijatan-pijatan memabukkan pada penisnya yang digenggam erat oleh kewanitaan Risa yang rapat. Ini benar-benar kali pertama yang yang memuaskan bagi pria itu.

"Aku belum bisa berhenti. Maafkan aku. Argh ...."

***

"Apa masih sakit?" tanya Jaya saat pagi harinya dia terbangun di sebelah Risa yang sedang duduk diam menatapnya.

"Ya, lumayan, tapi tidak begitu buruk. Sepertinya semalam kamu benar-benar menikmati tubuhku." Risa tertawa setelah itu.

"Ya, setidaknya aku bisa menikmati bagaimana rasanya bercinta sebelum aku mati."

Risa tidak begitu mengerti apa maksud Jaya, tetapi dia bisa menebak jika ada hal buruk di dalam perkataan pria itu dan sekarang membuatnya cukup merasa sedih. Dia dipertemukan dengan seseorang yang juga tidak akan berumur panjang.

Ini benar-benar takdir. Risa pikir Tuhan mengirimnya ke Kanada memang untuk menjalani sisa hidupnya penuh dengan kebahagiaan dengan Jaya, termasuk bercinta dengan pria itu. Semua ini adalah kehendak Tuhan.

Setelah bermalam di tenda yang sama, Jaya dan Risa menikmati beberapa fasilitas lainnya seperti menaiki kereta anjing berduaan mengelilingi desa yang terselimuti salju, lalu berseluncur dari perbukitan bersama-sama.

“Sepertinya aku bisa mati dengan damai setelah ini,” ujar Jaya setelah bangun dari tumpukan salju setinggi lutut. Dia juga membantu Risa yang terjatuh bersama dengan dirinya. “Kamu satu-satunya wanita yang membuatku bahagia seperti ini.”

“Sudah berapa wanita yang kamu temui selama ini?” tanya Risa penasaran. Dia tidak akan kecewa jika dirinya bukan wanita pertama yang Jaya ajak menghabiskan malam bersama dan menikmati wahana seperti ini.

“Entahlah, aku tidak tahu pasti. Tapi kalau kamu mau dengar pengakuanku, kamu adalah wanita pertama yang mau kuajak bercinta.” Jaya tertawa setelahnya. Dia tahu pengakuannya ini akan membuat Risa menilainya sebagai lelaki yang haus akan seks, tapi itu bukan masalah besar.

“Kalau begitu, aku wanita murahan yang menerima ajakanmu.” Risa membalas penuh tawa.

Jaya menggeleng. “Sepertinya tidak begitu. Aku ingat semalam kamu berteriak kesakitan meski berusaha menikmatinya. Kata orang, perempuan yang belum pernah berhubungan seksual tidak akan pernah menikmati pengalaman pertama.”

Risa tertawa mendengarnya. “Agaknya memang benar. Aku tidak menikmati pengalaman pertamaku karena rasanya sangat menyakitkan.”

Jaya tiba-tiba menarik pinggang Risa, lalu mencium bibirnya di tengah hutan bersalju. Saling berbagi kehangatan di antara pohon-pohon berdaun putih, mengukir kenangan manis yang akan dibawa sampai mati. Dinginnya salju membuat pagutan mereka semakin bergairah dan panas hingga tanpa sadar Jaya mulai membawa tangannya untuk meremas pantat Risa di siang bolong itu.

"Aku tahu kita di tempat asing, tapi bukankah ini terlalu vulgar?" Risa berkata sambil menahan tangan Jaya.

"Ada sauna di dekat sini. Kamu mau ke sana?" Jaya mengangkat sebelah alis, mencoba menarik perhatian Risa.

"Di sana lebih baik."

Lantas dengan perasaan menggebu-gebu, keduanya berlari menerobos tumpukan salju yang setinggi betis, memasuki sauna hangat yang bisa digunakan para turis jika mereka merasa kedinginan, sama seperti Jaya dan Risa yang sedang berusaha mencari kehangatan dengan bercinta di dalam sauna.

Pria itu mendorong Risa tanpa melepas ciumannya. Seraya melepas pakaian masing-masing, keduanya tidak berhenti bertukar saliva sampai mereka kehabisan napas dan berhenti sebentar untuk mengambil pasokan udara. Lalu, setelah itu mereka kembali berciuman saat baju-baju yang mereka pakai telah tanggal.

Risa melingkarkan tangannya di leher Jaya, sementara pria itu mengelus punggung Risa, lalu bergerak turun meremas pantat sintal kekasihnya dan mengangkat tubuh wanita itu dan dibawa duduk ke sebuah bangku panjang yang menempel pada dinding.

Dalam posisi Risa duduk di pangkuan Jaya, wanita itu bisa merasakan gerakan penis sang kekasih yang telah membengkak. Dia kemudian menggodanya dengan cara menggerakkan pantatnya dan merangsang Jaya lebih dari itu dan membuat desahan lolos begitu saja.

Risa tertawa. "Aku berhasil membuatmu mendesah!"

"Kamu tahu itu tidak baik, bukan?" Jaya mengernyit, menatap Risa dengan sayu sebelum tangannya bergerak memegang miliknya sendiri untuk dibimbing masuk ke dalam vagina Risa yang telah basah.

"Aku sudah mulai menikmatinya. Rasanya tidak sesakit saat pertama kali," ucap wanita itu sambil memaju mundurkan tubuhnya di atas Jaya.

"Lebih nikmat lagi kalau kita sering melakukannya," balas Jaya sambil memejamkan mata. Dia menikmati gerakan Risa yang pelan, tapi pasti. Sementara tangannya meremas-remas payudara wanita itu.

"Kamu suka saat aku berada di atas seperti ini, bukan?" tanya Risa. Sesaat setelah itu dia mempercepat gerakannya sebelum Jaya memberikan jawaban.

Pria itu terus mengerang nikmat, menatap Risa yang terlihat begitu seksi dan menggairahkan sampai-sampai Jaya tidak sabar untuk segera memimpin permainan. Dia membalikkan posisi. Sekarang Risa duduk di bangku, sementara Jaya yang menggerakkan tubuhnya maju mundur dengan satu kaki bertengger di sebelah wanita itu.

"Kamu tahu, aku ... rasanya mau gila!"

Risa menggapai wajah Jaya, kemudian memintanya menunduk dan kembali berciuman mesra, sementara pria itu terus menarik ulur penisnya yang tertanam di kewanitaan Risa yang seolah meremas-remasnya.

"Aku ... sudah gila," balas Jaya setelah melepas pagutan.

Dia kembali mengangkat tubuh Risa, membawanya berdiri dan bersandar pada pintu agar orang lain tidak bisa masuk tanpa berhenti menghentak-hentakkan miliknya yang seperti akan meledak dan melepaskan semua rasa puas yang ada. Ditambah lagi desahan dan juga racauan tak jelas yang keluar dari bibir perempuan itu membuat Jaya semakin gila dan tidak bisa berhenti.

Semakin dalam dan semakin keras kekuatannya, seiring dengan perasaan memuncak yang membuat kepalanya penuh hingga pada akhirnya mereka mencapai kepuasan tiada tara.

Sejak saat itu, keduanya selalu bersama seolah tiada hari esok. Mereka menginap bersama, menghabiskan malam panas yang membuat Risa menemukan seperti apa rasa indah bercinta. Dia bersumpah tidak akan menyesal jika tiba-tiba mati besok pagi.

Dua minggu berada di Kanada bagai satu malam untuk mereka berdua. Semua hal-hal manis dan menyenangkan Jaya dan Risa lakukan sebagai tanda bahwa mereka bahagia dengan pertemuan itu. Namun, keduanya sepakat untuk tidak membawa harapan jauh lebih dalam.

Bahkan ketika Jaya berpamitan untuk pulang lebih dulu pun, Risa tidak bersedih atau menahannya. Gadis itu sadar hubungan mereka cukup sampai di situ, tidak ada yang namanya kemajuan dan lainnya. Lagipula, dia juga tidak akan hidup lama.

“Sebenarnya aku punya sesuatu untuk dikatakan, Jay.” Risa menghentikan langkah dan itu membuat Jaya melakukan hal yang sama. Sekarang pria itu memandangnya. “Hidupku juga tidak akan lama lagi.”

Bab 3

“Apa?” Jaya mengernyit, tak yakin dengan apa yang barusan didengarnya. “Jangan bercanda, Ris.”

“Sumpah. Dokter mendiagnosis kanker padaku. Apa kau tidak merasakan ada benjolan di payudaraku saat menyentuhnya?”

Jaya menutup mulut menggunakan tangan, tak percaya jika gadis yang ditemuinya pun mempunyai kondisi yang sama. “Apa mungkin Tuhan mempertemukan kita agar bersatu di surga nanti?”

Risa terbahak-bahak mendengar perkataan Jaya yang dikiranya bakal menunjukkan rasa sedih atau iba dan lain-lain. Namun, rupanya pria itu lebih pandai membuat suasana menjadi lebih baik.

“Kamu mau menungguku di surga?” Risa menanggapi candaan Jaya dan pria itu mengangguk. “Kalau begitu jangan bertemu dengan wanita lain sebelum aku datang menyusulmu.”

“Jangan lama-lama karena aku bukan tipe orang yang suka menunggu!”

Malam sebelum keduanya berpisah, Jaya dan Risa menghabiskan malam panas dengan semangat membara, menghabiskan seluruh tenaga seolah-olah itu adalah kali terakhir mereka bisa merasakan nikmat dunia dengan seseorang yang disukai.

Wanita itu pun memaksa diri, bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan yang Tuhan beri untuknya sebelum kembali ke tangan-Nya. Risa pikir, dia benar-benar mati menyesal jika tidak memanfaatkan kesempatan ini.

Di bawah kungkungan pria bernama Jaya Bratadikara, Risa membiarkan semua harga dirinya direnggut, membiarkan tubuhnya yang suci menjadi wanita kotor yang berhubungan intim dengan laki-laki yang bukan suaminya.

Lagipula, setelah didiagnosis menderita kanker, Risa tidak berpikir untuk menikah dengan laki-laki mana pun. Hidupnya tidak akan lama, menikah hanya akan membuat dirinya dan suaminya berada dalam kesedihan yang lama nantinya.

Satu minggu sebelum bulan November habis, Jaya dan Risa menyatakan perpisahan dengan baik. Mereka pun tidak saling berharap untuk saling bertemu setelah tiba di Prancis karena keduanya tidak ingin terlibat lebih jauh.

Mereka memang suka, tetapi tak ingin berpisah karena kesedihan.

"Di surga nanti, kita harus bertemu lagi karena aku membutuhkanmu dan kamu membutuhkan aku."

***

Setelah Jaya pergi, Risa melanjutkan perjalanannya di berbagai negara yang bertetanggaan dengan Kanada. Dia benar-benar akan menghabiskan seluruh uangnya dan membawa mereka ke surga dalam bentuk ingatan.

Setelah satu bulan lebih, gadis itu kembali ke Prancis dengan perasaan senang; lupa dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dan lantas menemui Margareth. Risa ingin segera memeriksakan kondisinya, barangkali rasa gembira yang dia rasakan bisa mengalahkan penyakit ganas itu. Namun, mengingat akhir-akhir ini dia sering meriang, harapan itu pupus. Dia tahu sisa waktunya di dunia ini tinggal sedikit.

Padahal gadis itu tidak mau mati mendahului Margareth yang selama ini mengeluh ingin mati daripada menjalani kehidupan sulit. Namun, Risa juga tidak bisa melepaskan keinginan terbesarnya untuk pergi ke salah satu kota di Kanada dan menjalani operasi yang bakal menguras habis semua uangnya.

Margareth ingat betul bagaimana Risa menghubunginya enam minggu yang lalu dan berkata bahwa dia tidak akan menjalani operasi atau perawatan lainnya. Kesehatan dan hidup lama memang penting, tetapi kebahagiaan yang telah dirancangnya sejak jauh-jauh hari tidak boleh digagalkan.

“Benar! Hidup dan mati itu sudah menjadi takdir. Aku tidak akan marah pada Tuhan meski hanya hidup selama dua puluh empat tahun.”

Perempuan yang sebentar lagi menginjak usia dua puluh empat tahun itu yakin jika dirinya tidak akan menyesal. Dia akan menghabiskan tabungan hasil bekerja sebagai administrasi di sebuah perusahaan selama satu tahun dan empat tahun menjadi pegawai paruh waktu dari satu tempat ke tempat yang lain.

Minggu pertama pada bulan november, Risa memesan tiket penerbangan dari Prancis ke Kanada. Dia ingin ke tempat indah yang tidak akan pernah ada di negaranya, yaitu melihat lampu-lampu cahaya dari alam bernama aurora.

“Kamu gila atau apa? Kondisimu bisa saja semakin parah, tapi kamu malah memilih bepergian?!” teriak Margareth.

Perempuan itu baru saja datang dan berteriak seperti orang gila ketika Risa sedang berkemas. Margareth tahu jika temannya itu sangat ingin pergi melihat aurora yang cantik, tetapi apa gunanya jika setelah itu dia mati.

“Ris, dengar dan pikirkan lagi. Kamu bisa pergi nanti saat semuanya membaik. Kanada tidak akan runtuh dan aurora juga tidak akan lenyap. Dia muncul setiap tahun saat musim dingin!” Margareth kesal sekali ketika Risa tak acuh padanya.

“Reth, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya karena Tuhan pandai sekali memberi kejutan–”

“Memangnya kamu punya Tuhan?” timpal Margareth cepat. “Kamu pernah berdoa dan mengikuti acara mingguan? Jangankan itu, selama aku kenal denganmu, kamu bahkan tidak pernah datang ke gereja, tapi sekarang kamu ingat Tuhan?” Dia tertawa lepas. “Lucu sekali.”

“Ya, aku memang sempat hilang arah, tapi sekarang aku sadar kalau aku ini cuma manusia yang tidak abadi.” Risa menunjukkan ekspresi sok tenang dan itu membuat Margareth mendengkus keras.

“Semoga Tuhan menerima taubatmu.” Margareth melakukan gerakan berdoa dengan menyentuh kedua bahu dan kening, lalu menyatukan telapak tangan di depan dada. “Kamu pikir Tuhan bakal mengampunimu?!”

Margareth menghela napas panjang. Meski perasaan kesalnya kepada Risa masih begitu memenuhi ruang di hatinya, seperti ketika wanita itu sengaja mematikan ponsel agar tidak ada yang bisa menghubunginya, atau juga ketika Risa memilih menginap di hotel saat Margareth mencarinya di rumah.

Wanita bermata biru itu benar-benar kesal mengingat perlakuan Risa yang seperti ingin mati sendiri di negara pecahan es di Amerika Utara tersebut dan mengirimkan video rekaman di Saskatoon di Kanada setelah terbang selama delapan jam dari Bandara Internasional Charles De Gaulle.

Margaret bersyukur bahwa gadis itu kembali dengan utuh, tidak dalam kondisi kritis yang tinggal menunggu hari kematian. Dia lantas memelototi Risa begitu perempuan itu masuk ke ruangan sambil tersenyum tanpa dosa. “Kamu masih hidup? Kukira kamu sudah mati terkubur salju di bawah aurora itu!”

“Mana mungkin,” balas Risa sambil duduk di depan Margareth. “Aku tidak akan mati sebelum dirimu.”

Setelah itu Margareth memeriksa kondisi Risa yang membuatnya terperangah melihat hasil pemeriksaan sang sahabat. Dia berulang kali menatap Risa dan lembar kertas yang kini dipegangnya. Ada perasaan takut dan bersalah, tetapi daripada itu, dokter muda tersebut merasa terkejut melihat hasil yang tidak bisa diduga-duga.

“Katakan. Kamu bersenang-senang dengan siapa di Kanada?” tanya Margareth begitu meletakkan kertas hasil medical check up di atas meja.

“Kenapa?” Risa balik bertanya dengan kening berkerut. “Kenapa kamu bertanya soal itu?”

Margareth menutup mulut, merasa ragu untuk mengatakan semua kabar buruk yang tercetak dalam kertas itu. Namun, dia tidak bisa diam begitu saja saat dirinya telah melakukan kesalahan besar. “Kamu tahu, Peneliti itu manusia. Mereka bisa yakin dengan hasil penelitian mereka, tapi terkadang hasil bisa berubah tanpa bisa diduga,” ucapnya berbelit-belit.

“Apa yang sedang kamu coba katakan?” Risa mendesak, tak sabar dengan omong kosong Margareth yang membuatnya bingung sekaligus penasaran.

“Hm … sama seperti Peneliti, Dokter juga terkadang salah mendiagnosis–”

“Bicara yang jelas!” sela Risa dengan mata melotot. Dia sudah merasakan ada sesuatu yang salah.

Margareth begitu saja beranjak dari kursinya, lalu berlutut di depan Risa dengan ekspresi menyesal. “Maafkan aku, Ris! Aku sudah salah mendiagnosismu! Maafkan aku!” Dia tampak malu.

Benjolan yang ada di payudara kanan Risa bukanlah sel kanker, tetapi benjolan kista yang tidak menunjukkan sifat berbahaya. Bisa dihilangkan dengan operasi kecil, atau dibiarkan dengan catatan harus menjaga pola hidup dan rutin memeriksakan keadaan.

Risa tercengang, tak bisa berkata apa-apa selain diam dan mengatur pikirannya yang campur aduk. Jika memang dia tidak salah dengar, maka ini benar-benar menjadi berita baik. “Jadi, maksudmu aku tidak akan mati, ‘kan?” tegasnya sekali lagi.

“Ya,” jawab Margareth pelan. Dia masih menyembunyikan sesuatu yang lebih mengejutkan daripada kesembuhan Risa yang mendadak. Namun, saat hendak mengatakannya, Risa tiba-tiba berdiri.

Gadis itu terlihat senang bukan main dan tiba-tiba dia berteriak sambil berlompat kegirangan. Dia bersalah telah membenci Tuhan selama beberapa waktu sampai-sampai menjalani semua yang dilarang.

“Ya Tuhan ampuni semua dosaku lima minggu ini!” teriak Risa dengan jantung berdebar-debar.

Gadis berambut coklat itu masih berlompatan, merayakan anugrah paling indah dalam hidupnya sampai-sampai membuat Margareth cemas. Dia berusaha menghentikan Risa yang terus melompat-lompat itu.

“Jangan melompat begitu, bisa bahaya,” gumam Margareth dengan dahi mengernyit, tetapi dia tidak berani mengatakan yang sesungguhnya. “Ris, jangan melompat lagi nanti kau bisa keguguran ….”

Risa berhenti begitu saja setelah mendengar ucapan Margareth yang terdengar pelan. Dengan wajah kebingungan, dia menatap sahabatnya itu. “Kamu bilang apa barusan?”

Margareth mendongak, kembali mengeluarkan ekspresi bersalah. “Ris, kamu hamil.”

“Apa?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED