Ninda selalu berada di sisi sahabat baiknya ini yang bernama Yani. Sahabatnya sedang berusaha untuk melawan kanker getah bening ini selama 2 tahun. Sahabat karibnya yang mana sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Harus berjuang melawan kanker ini dan terus berada di rumah sakit.
"Ninda," ucap Yani dengan suara yang parau.
"Iya?" jawab Ninda seraya mengupas apel yang ada di genggaman tangan dirinya ini.
"Maafkan aku."
"Behenti mengatakan kalimat itu," sahut Ninda yang masih sibuk mengusap apel ini.
Hiks.. hiks.
Ninda menoleh ke arah ranjang rumah sakit yang ditempati sama Yani. "Berhentilah menangis, elu membuat gue juga mau menangis."
"Ninda maafkanku yang selalu saja merepotkan dirimu. Bahkan aku benar-benar seperti hama didalam kehidupan kamu." Yani berkata sambil terus saja menangis.
"Berhentilah mengatakan kalimat itu!!" tegas Ninda dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Aku selalu menyusahkan kamu dalam segala hal. Bahkan membiayai rumah sakit saja aku tidak mampu. Hiks… hiks kamu juga mengurus putraku sedari masih bayi. Aku benar-benar menyusahkan kamu sekali."
"Kita saudara, jadi sudah sepatutnya saling membantu. Kamu juga sudah sering membantu aku."
"Aku benar-benar minta maaf ya Ninda. Masa muda kamu telah hilang karena harus mengurus Leon, bahkan kamu bekerja untuk membiayai rumah sakit ini dan juga kehidupan Leon. Ini semua karena wanita lemah ini yang selalu sakit-sakitan."
"Berhentilah bicara. Makan sana nih apel. Aku juga tidak mau, kalau Leon melihat kita berdua menangis. Pasti Leon akan sedih."
Ninda menyerahkan apel yang sudah dikupas dan dipotong ke Yani. Sedangkan Yani nerima potongan kecil apel tersebut dan memakannya, tapi dengan kedua matanya yang masih terus menangis.
"Terima kasih Ninda," lirih Yani yang masih sesegukan saat mengatakan kalimat tersebut.
Ninda menatap sahabatnya tersebut. Memberikan pelukan dan mengusap punggung sahabatnya yang sudah seperti saudara kandung bagi dirinya ini.
"Kamu tidak menyusahkan aku sama sekali Yani. Jadi jangan pernah berpikir hal itu lagi. Apa salahnya membantu saudara sendiri, lagian kamu juga dulu sering membantu aku. Oh satu hal lagi, Leon juga anakku. Sudah sepantasnya aku merawat Leon dalam segala. Aku juga tidak kehilangan masa mudaku, malah masa muda aku sangat indah karena ada kau dan Leon si pria tampan."
Yani semakin menangis mendengar ucapan dari Ninda. "Terima kasih terima kasih Ninda. Aku harap kalau di masa depan nanti, kebaikan yang kamu lakukan ini mendapatkan hadiah yang besar dari Tuhan. Aku hanya bisa berdoa saja, agar suatu hari nanti kamu akan bahagia."
"Kita akan bahagia bersama-sama. Bertahanlah sebentar lagi. Bertahan demi Leon, kamu harus optimis kalau kamu bisa sembuh dan bisa kembali ke kehidupan yang normal macam dulu. Setelah itu kita akan melakukan banyak hal bersama-sama. Sungguh menyenangkan sekali tentunya," tutur Ninda dengan senyuman tulus.
Huak…. Huak… hiks.
Ninda dan Yani sontak saja melepaskan pelukan yang terjadi ini disaat mendengar suara yang sudah sangat familiar sekali bagi mereka berdua.
"Ada apa sayang?" tanya Yani lembut seraya menghapus air matanya dengan cepat saat melihat kehadiran anaknya di ruang Vvip rumah sakit ini.
"Mamah dan Bunda kok saling berpelukan. Kenapa ga mengajak aku juga? Leon sedih deh kalau gitu," ucap Leon. Bocah laki-laki yang sudah berumur 4 tahun.
"Anakmu benar-benar pintar bicara sekali. Sangat beda darimu Yani. Aku semakin penasaran siapa Ayah anakmu itu," bisik Ninda kepada Yani dengan suara yang pelan.
Yani tidak menanggapi ucapan dari sahabat karibnya ini. Pandangan matanya fokus menatap ke anaknya. "Kemarilah sayang. Biar Mamah memeluk kamu," ucap Yani.
Leon mendekati Mamahnya yang ada di tempat tidur. Memeluk Mamahnya dengan erat. "Mamah, Bunda ga diajak berpelukan? nanti Bunda nangis kaya Leon tadi."
Ninda adalah orang yang disebut Bunda sama Leon. Kenapa Leon memanggilnya seperti itu karena Ninda sudah merawat Leon dari bayi sampai sekarang, oleh karena itu Ninda mengajukan permohonan kalau Leon bisa memanggil Ninda dengan sebutan Bunda dan Yani dengan senang hati sekali menerima kalau Ninda dipanggil Bunda sama Leon.
"Bunda!!" ucap Leon dengan tinggi.
"Leon, kalau di rumah sakit jangan teriak-teriak ya!" ucap Yani kepada putra kanduangannya ini.
"Iya Mah," jawab Leon seraya tersenyum lebar.
"Leon tidak berteriak Yani. Hanya saja putramu itu terlalu sering lihat aku buat video, yang mana aku bicara harus keras di depan kamera. Makannya Leon macam itu," tutur Ninda.
Yani menganggukan kepalanya mengerti. "Leon," panggil Yani.
"Iya Mamah?" sahut Leon memandang raut wajah ibu kandungnya ini.
"Jangan mengikuti sikap Bundamu itu. Kamu bukan selebgram," tutur Yani.
"Tidak Mamah. Leon selebgram macam Bunda," jawab Leon dengan lantang.
"Tidak Leon!! Kamu bukan selebgram," ujar Ninda cepat mendengar ucapan dari bocahnya tersebut.
"Kenapa?" Leon dengan wajah kesal mendengar bantahan dari kedua Ibunya itu.
"Kamu jangan mengikuti Bunda. Lakukan apa yang benar-benar mau kamu lakukan Leon," tutur Ninda seraya mengusap puncak kepala Leon.
"Aku mau jadi selebgram Bunda," sahut Leon.
"Jangan Nak. Cukup Bunda saja yang jadi selebgram dengan pengikut Instagram dan Tiktok yang banyak. Di balik itu semua ada hatters dengan kata-kata pedes mereka dan terus menghujat Bunda. Cukup Bunda saja yang mengalami hal ini, kamu jangan sampai di hina sama orang lain yang bahkan belum mengenal kita dengan baik," tutur Ninda sambil menatap tulus ke arah Leon yang sudah dirinya anggap anaknya sendiri.
Kedua mata Leon berkedip-kedip mendengar ucapan Bundanya yang sama sekali tidak dipahami sama Leon.
"Bunda, aku ga paham ucapan Bunda," ucap Leon dengan polosnya.
"Kamu akan mengerti ucapan Bunda kamu seiring berjalannya waktu," tutur Yani seraya mengusap kedua mungil anaknya ini.
"Jangan buru-buru besar ya Leon karena jadi orang dewasa tidak terlalu menyenangkan, tapi ada kalanya senang," ujar Ninda.
"Leon ga mau jadi orang dewasa Bunda. Aku mau jadi anak kecil terus biar di sayang sama Mamah dan Bunda," ucap Leon dengan suara yang lantang disaat mengatakan kalimat itu.
"Anak pintar," jawab Ninda.
Setelah mengatakan kalimat itu. Ninda pergi ke arah sofa seraya membuka laptop yang sudah Ninda bawa sedari tadi.
Yani melihat Ninda yang membuka laptop, itu tandanya kalau wanita itu akan mengedit video yang sudah dibuatnya tersebut. Lalu menguplodnya di media sosial yang dimiliki sama Ninda.
Yani kembali menatap putra kandungnya yang masih ada di dalam pelukan dirinya ini. "Leon pintar dan tampan. Kalau sudah besar nanti jaga Bunda kamu dengan baik ya."
"Iya Mamah," jawab Leon seraya menatap raut wajah Mamahnya dengan seksama.
"Jaga Bunda kamu dan sayangi Bunda kamu dengan tulus. Bunda Ninda sangat sayang sekali sama Leon, jadi Leon harus sayang juga," tutur Yani seraya mengusap lembut puncak kepala anaknya ini.
"Iya Mamah. Aku akan menjaga Mamah dan Bunda dengan baik sekali!!!" ujar Leon dengan semangat.
Yani menatap putranya dengan dalam-dalam. "Kamu sangat pintar sekali seperti Papah kandung kamu Leon. Padahal umur kamu baru 4 tahun, tapi sudah mengerti banyak hal," ujar batin Yani yang terus menatap putra tersebut.
Pandangan mata Yani beralih melihat ke arah Ninda yang sedang bekerja keras. "Terima Ninda atas segalanya. Maaf sepertinya aku akan meninggalkan dunia ini."
Pukul 9 malam. Ninda baru selesai mengedit 4 video yang di dalamnya ada beberapa kerjasama endorse. Membutuhkan waktu 12 jam sedari jam 8 pagi hari. Akhirnya Ninda selesai juga dan membuat Ninda bisa sedikit lega karena pekerjaannya satu-satu sudah selesai
Sebenarnya Ninda bisa saja menyewa orang untuk mengedit Video-Video miliknya ini. Tapi setelah dipikir 2 kali. Sangat sayang sekali jika menyewa editor. Lebih baik uang menyewa editor untuk membiayai pengobatan Yani.
Perawatan Yani di rumah sakit ternama di negeri ini membutuhkan banyak biaya. Apalagi sahabatnya ini menempati ruangan Vvip. Awalnya Yani sangat menolak keras, tapi Ninda sangat memaksa sekali. Agar Yani cepat sembuh, makanya Ninda nekat memindahkan Yani keuangan Vvip saja. Agar penanganannya jauh lebih baik dan cepat.
Tapi karena itu semua. Ninda harus lebih bekerja keras sekali, agar bisa membiayai segalanya. Satu hal yang Ninda harapkan adalah agar Yani cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan Leon.
Pandangan mata Ninda menatap ke arah ranjang rumah sakit. Melihat sahabatnya Yani sudah tertidur di atas ranjang itu. Langkah kaki Ninda berjalan mendekati Leon yang tidur bersama dengan Yani.
Ninda mengusap lembut puncak kepala Leon yang terjadi di satu ranjang yang sama dengan Yani.
"Leon, kamu harus mendoakan Mamah kamu agar cepat sembuh. Bunda sangat takut kalau Mamah kamu meninggalkan dunia ini. Bunda berharap kalau kamu selalu di dampingi Mamah kandung kamu sampai kamu besar dan punya anak. Cukup Mamah kamu saja yang ga punya kedua orang tua, tapi kamu jangan Leon."
Ninda tersenyum seraya menatap Leon dengan tatapan lembut. "Jangan juga seperti Bunda. Punya orang tua tapi ga peduli sama sekali."
"Ninda!" panggil Yani.
"Aku mengganggu ya?" Ninda menatap sahabatnya tersebut.
Dahi Ninda berkerut bingung disaat melihat Yani menggenggam tangannya. "Ada apa?"
"Jaga Leon baik-baik ya," ucap Yani.
"Aku selalu menjaganya dengan baik," jawab Ninda.
"Aku tahu itu. Kalau kamu menjaga Leon dengan baik. Jaga Leon sampai dia besar nanti."
"Tidak mau! Ada kamu Mamah kandungnya Leon, jadi kamu yang harus menjaga Leon sampai besar."
"Maaf," seru Yani.
"Kenapa minta maaf?"
"Sepertinya kalau aku tidak akan lama di dunia ini lagi."
"Stop Yani!! Berhenti mengatakan kalimat gila itu lagi!!!" tegas Ninda dengan ekspresi wajah yang marah.
"Nin, kamu sudah tahu pasti kan kondisi tubuh aku ini. Semuanya hanya sia-sia saja."
"Tidak ada sia-sia. Harus berjuang dulu!!" ucap Ninda yang masih menunjukan ekspresi wajah yang marah dan kesal.
Yani melihat ekspresi wajah Ninda yang marah. "Jaga Leon untuk aku."
"Jaga saja sendiri. Aku bukan ibu kandungnya, aku punya banyak mimpi dan ga mungkin terus menjaga Leon saja. Tidurlah!! Aku harus pulang untuk live streaming."
Setelah mengatakan kalimat itu. Ninda keluar dari ruang Vvip rumah sakit dengan ekspresi wajah yang masih marah. Sedangkan Yani hanya bisa menghela nafas saja, melihat sahabatnya yang marah karena ucapannya.
"Ninda aku benar-benar minta maaf karena ga bisa membalas semua kebaikan kamu yang luar biasa ini. Maaf sekali lagi aku harus merepotkan kamu," cicit Yani seraya menghapus jejak air matanya ini.
"Leon, maaf karena Mamah ga bisa melihat kamu tumbuh menjadi pria yang gagah dan hebat. Mamah hanya berharap kalau kamu bisa lebih hebat dari Papah kandung kamu. Jika seperti itu itu bisa melindungi Bunda kamu dan memberikan segalanya sama orang yang telah membantu kita," ucap Yani seraya menatap putra kandungnya ini.
***
Ninda sampai di apartemen yang dirinya sewa dengan bayaran pertahun 30 juta. Memiliki 2 kamar tidur dan juga pemandangannya sangat indah. Apalagi jika malam hari pemandangan indah ibu kota akan nampak jelas dari lantai 32 apartemen ini.
Sesampainya di apartemennya ini. Ninda langsung saja merebahkan dirinya di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Menatap apartemennya yang sepi karena Ninda tidak membawa pulang Leon.
Huft. Hanya ada helaan nafas yang terdengar di apartemen ini.
"Lelah sekali," gumam Ninda.
Hiks… hiks. Ninda tiba-tiba saja menangis disaat mengingat ucapan Yani. Ingatan Ninda juga mengingat perkataan dokter tentang kondisi yang dialami sama Yani.
"Aku mohon sekali ada keajaiban yang terjadi. Semoga Yani sembuh dan bisa bersama dengan Leon lagi. Kalau perlu aku saja yang meninggal, jika aku yang meninggal setidaknya keluarga kandungku sendiri tidak ada yang peduli," tutur Ninda dengan air mata yang menangis bercucuran.
"Leon tidak punya Ayah. Setidaknya berikan bocah kecil itu kebahagiaan dengan kesembuhan Ibu kandungnya. Biarkan Leon menikmati hidup di dunia ini dengan Ibu kandungnya," cicit Ninda yang yang menangis.
Selama 20 menit lamanya. Ninda menangis di apartemennya ini. Hingga akhirnya kedua tangan Ninda menghapus dengan kasar air mata yang keluar dari mata indahnya.
Ninda menatap ke arah jam yang sebentar lagi akan menunjukkan pukul 11 malam hari. Lantas saja dengan cepat, Ninda menyiarkan peralatan untuk Live streaming yang mana menghasilkan uang yang banyak bagi dirinya ini.
Tidak lupa juga Ninda menyiapkan banyak make up. Live streaming Ninda adalah tutorial make up dari berbagai macam brand. Ninda juga tidak lupa menyiapkan barang endorse, yang nanti akan muncul dalam live streaming yang dirinya lakukan ini.
Setelah melakukan persiapan selama 7 menit, semuanya sudah siap dan tinggal menekan tombol live dari ponselnya saja. Tapi sebelum itu, Ninda melihat wajah dan kedua matanya yang sembab sehabis menangis. Ninda memakai foundation sedikit untuk menutupi wajahnya ini.
"Pencahayaan sudah bagus, wajahku jauh lebih baik tadi. Semoga saja tidak ada yang menyadari kondisi wajahku," ucap Ninda.
Barulah Ninda menyalakan live streamingnya di TokTok, setelah memastikan kalau semuanya sudah siap dan juga dirinya siap. Bibir Ninda tersenyum cerah saat sudah dimulai.
"Hai hai!! My fansku!!! Kembali Kembali lagi bersama dengan Nin cantik ini. Ayo ayo bestie ku semua join ke live aku sekarang, sebelum aku membuat kalian jadi keracunan dengan produk make up baru yang aku gunakan ini!!" tutur Ninda dengan wajah riang dan ceria.
Menyembunyikan rasa sedih yang sedang dirinya alami ini.
"10k baru aku mulai ya beb," ucap Ninda di depan ponselnya ini.
Selama menunggu. Ninda membaca komentar-komentar dari fans dan juga hattersnya yang selalu saja membandingkan dirinya dengan selebgram ternama lainnya. Walaupun begitu Ninda tetap tersenyum dan mengabaikan semua hatters tersebut.
"Wow!! Cepat sekali ini. Terima kasih yang sudah share dan memberikan gift kepadaku. Karena sudah sampai 10K, malah sekarang udah 25 ribu yang nonton ini. Kalau begitu, mulai saja oke okey!! Racun make up dan skincare akan di mulai. Siap-siap kantong uang kalian habis," tutur Ninda seraya terkekeh di depan layar ponselnya tersebut.
Drt
Drt.
Drt.
Suara ponsel yang kencang. Membuat kedua bola mata Ninda terbuka lebar. Tangan Ninda dengan cepat mengambil ponsel tersebut. Ninda langsung saja mengangkatnya panggilan masuk tersebut.
"Ya hallo," ucap Ninda seraya melihat sekeliling unit apartemennya yang berantakan sehabis live streaming sampai jam 1 pagi hari.
Ninda mendengarkan orang yang menghubungi dirinya ini. "Oke, saya akan datang dan terima kasih," sahut Ninda.
Panggilan masuk ini berakhir.
"Aku harus ke rumah sakit," ujar Ninda dengan pandangan matanya yang masih melihat ruang tengah unit apartemennya ini.
Ninda memijat keningnya sendiri karena pusing, bagun tidur secara tiba-tiba. "Aku ketiduran lagi disini dan make up ini masih melekat di wajahku."
Pandangan mata Ninda melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 8 pagi hari. Lantas saja Ninda bergegas menuju kamar mandi untuk menghapus make up yang dirinya pakai semalam.
Ninda menghapus make up dengan cepat sekali, sebab panggilan dari dari sakit. Membuat Ninda harus bergegas, oleh karena itu Ninda hanya membutuhkan waktu 11 menit saja untuk menghapus make up dan mandi. Bahkan pakaian yang dikenakan sama Ninda, hanya setelan olahraga.
Ninda mengendarai mobil miliknya menuju rumah sakit. Mengendarai mobil dengan cepat, walaupun ini jam sibuk. Ninda tetap tekad berkendara dengan cepat. Hingga akhirnya Ninda sampai di rumah sakit pukul 8 lewat 45 menit.
Setelah memarkirkan mobil yang dikendarai sama dirinya itu. Ninda berlari cepat menuju kamar Vvip yang di tempat sahabatnya tersebut.
Ting. Ninda keluar dari lift dan kembali berlari menuju kamar VVIP rumah sakit tersebut. Saat Ninda masuk ke dalam kamar rumah sakit itu. Ninda melihat Yani sedang diperiksa dengan intein sama dokter yang menanggani Yani.
"Selamat pagi dokter," sapa Ninda dengan senyuman ramah seraya mengenggam tangan Leon yang datang memeluknya disaat dirinya baru saja masuk ke dalam kamar ini.
"Wali dari pasien Nyonya Yani?" tanya dokter laki-laki yang nampak berusia 65 tahun.
"Iya saya," jawab Ninda.
"Bisa bicara?"
"Tentu bisa dok."
"Bisa datang ke ruangan saya?” tanya dokter laki-laki itu yang ramah.
"Bisa dok," sahut Ninda
Dokter yang menangani Yani keluar dari kama rumah sakit ini bersama dengan 2 perawat itu.
Setelah melakukan pembicaraan dengan dokter selama 1 jam untuk menjelaskan penyakit yang dialami sama Yani. Setelah itu semua, Ninda kembali ke dalam kamar rumah sakit tersebut dan melihat Yani yang sudah terbangun dari tidurnya.
“Mamah kok ga makan? Leon saja sudah makan, bahkan Leon makan sendiri tadi," ucap Leon.
Ninda yang baru saja masuk, mendengar ucapan Leon.
“Kenapa kamu ga makan Yani?” tanya Ninda.
“Jujur saja Ninda kalau aku sama sekali tidak semangat makan. Makanan rumah sakit sangat hambar dan tidak enak," jawab Yani.
"Jika sudah sembuh. Nanti aku akan mentraktir dirimu makan makanan yang enak di negeri ini, jadi bertahanlah untuk memakan makanan rumah sakit," ungkap Ninda.
Yani tersenyum mendengar jawaban itu. "Bertahan sampai kapan Ninda? kamu sudah tahu sekali kondisi tubuh aku yang sekarang ini."
"Jangan mengatakan kalimat buruk. Apalagi di depan leon," ujar Ninda.
"Ninda," panggil Yani.
"Iya?" jawab Ninda
"Yani!!" seru Ninda melihat sahabatnya itu sepertinya mengalami sesak nafas.
“Sus!!” panggil Ninda dengan suara yang lantang.
"Sus, apa yang terjadi?" tanya Ninda disaat melihat perawat masuk ke dalam kamar ini.
"Tiba-tiba saja kondisi tubuh Nyonya Yani menurun drastis," ucap perawat itu.
Ninda melihat sekeliling saat dirinya menyadari akan satu hal yaitu Leon. Kedua mata Ninda berkaca-kaca disaat melihat Leon yang berada di dekat sofa seraya menangis.
Ninda lantas saja langsung mendekati Leon dan memeluknya dengan sangat erat. "Jangan menangis jagoan Bunda," ucap Ninda seraya memberikan usapan di puncak kepala Leon.
"Bunda, apa Mamah baik-baik saja?"
Mamah kamu harus baik-baik saja," jawab Ninda seraya menatap ke arah dokter yang sedang melakukan sesuatu untuk membuat kondisi Yani tidak drop lagi.
"Nona Ninda bisakan anda mendekat," ucap dokter laki-laki dengan ramah.
Ninda menganggukan kepalanya. Ninda mendekati ranjang Yani seraya terus memeluk Leon yang mana tangisannya sudah berhenti.
"Anda tahu bukan kalau Nyonya Yani memiliki kanker getah bening stadium 4. Kondisi Nyonya Yani semakin buruk, seharusnya pasien melakukan perawatan lebih awal."
"Saya mohon dok. Bantu saudara saya sembuh, saya akan membayar berapapun yang rumah sakit inginkan. Jadi saya mohon tolong saudara saya agar cepat sembuh," ungkap Ninda.
Saat Ninda menunggu jawaban dari dokter itu. Tiba-tiba saja tangannya disentuh. Membuat Ninda spontan saja menoleh dan melihat kalau yang melakukan hal itu adalah Yani.
"Berdoalah, semoga saja ada sebuah keajaiban yang terjadi. Besok pagi pasien akan kembali kemo," ucap dokter.
"Baik dok dan terima kasih," sahut Ninda.
Dokter dan beberapa perawat pergi dari kamar rumah sakit ini yang ditempati Yani.
"Ninda."
"Iya?" jawab Ninda seraya duduk di dekat ranjang yang yang tempati sama Yani.
Leon masih di dalam gendongan Ninda dan terus mengusap puncak kepala bocah laki-laki berumur 4 tahun.
"Ninda, jaga Leon ya. Maafkan aku membuat kamu harus melakukan tugasku, aku tidak bisa mempercayai siapapun kecuali dirimu."
"Aku akan menjaga Leon dengan baik. Kamu urus sana kondisi kamu itu," sahut Ninda.
"Jaga Leon untuk selamanya."
“Jika kamu tidak mampu merawat Leon. Kamu bisa memberikannya sama kandung Leon. Pria itu sangat baik dan bertanggung jawab.”
“Bertanggung jawab gimana!!! Pria bajingan itu sudah membuang kamu dan juga Leon!!” balas Ninda dengan ekspresi wajah yang marah.
"Jangan membahas pria bajingan itu lagi disini!!” timpal Ninda.
"Dia tidak bajingan. Hanya saja keadaan yang membuatnya harus begini."
"Cih!!! Pria bajingan itu meninggalkan mu dan pergi bersama wanita lain!! Membuang dirimu seperti sampah!!”
Yani hanya tersenyum saja. "Dia tidak buruk, karena dia aku bisa melihat Leon."
"Ku harap kehidupan bajingan itu tidak baik-baik saja," balas Ninda.
"Ninda jangan mengatakan kalimat itu. Dia tetap Ayah kandung Leon," ucap Yani dengan suara yang pelan. Agar hanya Ninda saja yang mendengar ucapan yang tadi Yani katakan.
"Aku sangat ingin melihat wajah bajingan itu!!" ujar Ninda.
"Kau sangat cocok dengan pria itu, Ninda. Sifatmu yang sendiri kasar dan keras kepala sangat sempurna untuk pria itu," sahut Yani.
"Ih amit-amit sekali bersama dengan pria itu, yang meninggalkan kamu bersama dengan wanita lain dalam keadaan hamil muda!!"
"Sudah takdir Ninda," jawab Yani.
"Pria siapa yang meninggalkan Mamah, Bunda?"
Ninda dan Yani yang tadi asik bicara. Pandangan mereka berubah menatap ke arah Leon, saat bocah laki-laki berumur 4 tahun bertanya seperti itu.
"Ay…" cicit Ninda, tapi mulutnya sudah ditutup dengan telapak tangan Yani.
"Tidak ada sayang," jawab Yani cepat sambil menatap tajam ke arah Ninda yang mau mengatakan sebenarnya.