“Claire dan adiknya seharusnya ada di dalam sana,”bisiknya lirih.
Mengapa tidak cahaya apapun di dalamnya?
Alex mengeraskan cengkeramannya pada roda besi dan menguatkan diri. Kursi roda bergerak membawa dirinya ke depan pintu restoran. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu kaca dan bibirnya hendak berteriak memanggil nama Claire.
Mendadak sesuatu menahan keduanya. Tubuhnya mematung dengan tangan menggantung di udara dan suara tercekat. Keraguan menggerogotinya dan segera kesunyian menyelimutnya, hanya menyisakan jeritan pikiran yang sedang memberontak melawan rasa ragu.
“Sialan, Alex!!!!” Tangannya terkepal keras.
Aku mengenal Claire dan gadis itu mengenalku. Kami akrab dan sering tertawa bersama dalam beberapa bulan terakhir ini. Tadi malam, Claire meninggalkanku di universitas sambil melambaikan tangan dan memberikan senyuman bahagianya. Dia bahkan mengucapkan ‘sampai jumpa besok’ yang masih berdengung di telingaku. Dia tidak akan keberatan menemuiku.
Pesetan dengan ketakutanmu Alex, maju dan temui dia, ulurkan tanganmu. Sudah berapa lama kamu bersabar? Harus berapa lama lagi kamu bersembunyi darinya. Tangan yang terulur bergerak untuk mengetuk pintu mendadak kembali berhenti.
Meski hubungan kami baik, aku tidak bisa muncul di tempat ini begitu saja, saat tengah malam dan mengulurkan bantuan. Aku dapat menjentikkan tangan dan membuat semua masalahnya hilang dalam sekejap bersama angin. Aku dapat mengurus semua keinginan Claire dan melimpahinya dengan kebahagiaan dalam sekejap mata.
Tapi...
Desah napas lelah terhembus keluar dari dadanya. Tangannya yang menggantung di udara terjatuh lunglai. Ia terlalu takut... Ia takut gadis itu akan membencinya. Di antara dinginnya udara yang menembus daging dan mengigit tulang, Alex duduk tak berdaya di atas kursi roda selama satu jam. Sudah ada ratusan alasan yang terlintas dalam pikirannya untuk membuat Claire percaya dan menerimanya jika ia memanggil gadis itu pada saat ini.
Sudah ratusan kata sama yang terulang pada ujung lidahnya sebagai ucapan pertama pada gadis itu jika ia keluar dari restoran. Namun, tidak satu pun keberanian yang terpupuk untuk memulainya dan menerjang semua batasan kepengecutannya. Mata Alex basah. Tangannya terkepal keras dan memukul pahanya.
Aku benci kaki ini, aku benci diriku!
Sesungguhnya, ia teramat takut Claire akan mencurigainya, bertanya banyak hal dan pada akhirnya akan membencinya. Terutama saat menemukan semua kebenaran tentang dirinya dan apa yang telah ia lakukan pada gadis itu. Ia tidak ingin semua itu terjadi.
Rasa cinta selalu tumbuh bersama rasa takut untuk kehilangan.
“Aku tidak akan meminta lebih, hanya untuk menghadapi kehilangan...” Alex memutar balik kursi roda untuk kembali ke rumahnya.
Kursi rodanya terlihat bergerak lambat menembus angin dingin. Tubuhnya menggigil kedinginan, lelah dan letih. Masih harus melakukan perjalanan pulang sejauh empat kilometer berteman sepi, sesal dan benci pada kepengecutannya sendiri. Claire, satu-satunya gadis yang pernah dicintainya seumur hidupnya namun tak akan pernah mampu dimilikinya.
Aku tidak pernah memilih untuk mencintainya, hatiku yang memilih dan aku tidak berdaya melawannya.
Semua itu membuat dadanya terasa sesak. Setibanya di rumah dengan gelembung-gelembung air pada kedua telapak tangan yang telah pecah menyisakan rasa perih, Alex mendekati telepon yang berada di atas meja ruang kerjanya. Ia memutar angka yang sudah sangat dikenalinya dan menunggu sesaat.
“Suryo, maaf membangunkanmu sepagi ini,” bisik Alex melalui gagang telepon. “Aku membutuhkanmu... tentang Claire... lagi. Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan.”
***
“Selamat datang pagi hari!!!!”
Semuanya dimulai dari sebuah pagi cerah yang menjengkelkan, pacarku baru saja meninggalkanku setelah pertengkaran karena masalah sepele. Menurutnya, aku tidak memerhatikan, menyayangi, dan mencintainya. Menurutku, hidup tidak hanya untuk dicintai, mencintai atau bercinta, ataupun ketiganya. Manusia juga harus bekerja dan mencari uang untuk kehidupan.
Cinta tidak pernah berada pada urutan pertama ataupun masuk dalam urutan sepuluh besar daftar tujuan kehidupanku. Lain cerita jika cinta dapat dimakan atau diuangkan. Sayang sekali, gadis cerdas itu tidak setuju dengan pendapatku. Cinta telah membuatnya bodoh. Ia lebih memilih untuk menangis. Tidak ketinggalan, ia meninggalkan jejak badai yang mengerikan di dalam rumahku.
Beberapa barang pecah karena dilempar olehnya, kursi terbalik, buku-buku berserakan dan hampir semua benda tidak pada posisi mereka. Rumahku persis seperti kapal pecah, dihajar oleh badai yang bernama Chrisna. Nasehat bijakku untuk hari ini, jika seorang wanita sedang marah dan menangis, kaburlah untuk menyelamatkan nyawamu. Semakin lama ia melihatmu, semakin banyak benda yang akan dilemparkannya. Semakin dalam juga kamu harus merogoh dompetmu.
Itupun jika masih ada yang dapat dirogoh keluar.
Siang harinya seorang pemuda pengantar paket mengetuk pintu rumahku. Aku sudah melihat kedatangannya dari jendela rumah sejak dia memarkirkan sepeda motornya di halaman. Aku selalu berharap, akan tiba saatnya para gadis-gadis cantik yang akan menjadi para pengantar paket ke rumah-rumah. Tidak ada salahnya mendapatkan sebuah senyuman indah dari makhluk cantik ciptaan Tuhan itu dan mencerahkan hidup para pria yang merana, terutama pada hari yang menjengkelkan.
Aku selalu mendukung emansipasi wanita.
Membukakan pintu bagi pengantar paket, pemuda itu melirik sejenak ke dalam rumahku yang berantakan dan kemudian menyerahkan sebuah surat tanda terima pengiriman beserta paket dengan wajah curiga.
“Aku seorang pemarah,” kataku sambil menandatangani surat penerimaan paket dan menatapnya garang.
“Saat hatiku tidak senang, aku akan menghancurkan benda-benda atau memukuli sembarang orang.”
Ketakutan segera menghias wajahnya dan dia kabur dengan cepat. Aku sendiri tersenyum sinis sambil membanting pintu. Aku bukanlah tipe orang yang suka menghancurkan benda dan menemukan dirinya harus mengeluarkan uang untuk membelinya lagi. Atau juga memukuli orang dan berakhir di kantor polisi. Aku tipe orang yang dipukuli dan kabur bersembunyi tanpa melakukan apa pun.
Mungkin aku akan mengutuk tujuh turunannya... lalu melupakannya untuk kesehatanku.
Duduk di atas sofa, aku membuka paket yang di dalamnya terdapat dua buah surat, sebuah kunci kecil yang terlihat kuno dan sebuah cek tunai. Surat pertama adalah sebuah surat pengantar dari sebuah kantor pengacara. Mereka ingin menggunakan jasaku untuk membuat sebuah buku biografi dari seorang yang bernama Joko Alex Sudono.
Nama yang aneh, jelas aku tidak mengenalnya. Tanganku menyambar telepon genggam di atas meja untuk melakukan pencarian nama tersebut pada internet. Mungkin saja, dia adalah seseorang yang sedang ingin mencalonkan dirinya menjadi anggota DPR atau presiden. Lama menunggu dan mencari, tampaknya mbah Google yang tersohor juga tidak banyak membantu memberikan petunjuk dan informasi apa pun tentangnya.
Surat kedua berisi salinan tulisan tangan milik klien kantor pengacara yang meminta secara resmi pembuatan biografi. Surat itu tanpa nama, membuatku menduga jika penulis suratnya adalah Joko Alex Sudono sendiri yang meminta untuk membuat biografinya. Namun, selalu ada kemungkinan jika anak, istri, sanak keluarga atau orang lain yang ingin membuat buku biografi Joko tersebut. Terutama jika seorang bernama Joko Alex telah meninggal dunia.
Hal aneh lainnya adalah penulis surat meminta agar dalam pembuatan buku tersebut, nama-nama lokasi, tempat dan perusahaan yang terkait agar disamarkan. Aku sadar, ini akan menjadi sebuah buku kisah nyata yang dikritik banyak orang.
Baiklah, aku memang seorang penulis lepas yang terkadang menulis untuk surat kabar dan majalah. Tetapi, hingga saat ini belum pernah rasanya aku membuat penawaran untuk membuat buku biografi seseorang. Meski beberapa kali aku merasa tertantang untuk menawarkan jasa pembuatan buku biografi orang kaya atau politikus ternama, terutama saat keuanganku memburuk.
Pada kenyataannya, hingga detik ini buku yang pernah kutulis dan kirimkan pada penerbit belum juga pernah diterbitkan. Aku duduk sambil menatap jumlah nominal pada cek yang menurutku sebagai biaya pengerjaan dan akomodasi selama pembuatan buku.
Bagaimana mungkin seseorang dapat mempercayaiku untuk membuat sebuah buku biografi, dengan biaya yang dapat dikatakan tidak murah, berkisar satu tahun biaya hidupku dan kami tidak saling kenal?
Pada cek tunai yang ditujukan atas namaku, terlihat tanda tangan atas nama Michael Lee sebagai pemilik rekening. Mungkin, dialah klien yang menulis surat permintaan itu. Aku membolak-balikkan cek melihat tanda-tanda cek palsu. Belakangan ini, sudah terlalu banyak cara penipuan yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Termasuk beberapa temanku yang suka usil dan iseng. Berharap aku menjadi orang bodoh di dalam bank dan menertawaiku setelahnya.
Mungkin hanya orang bank yang tahu keaslian benda ini.
Satu jam berikutnya, aku kembali dari bank dengan perasaan tidak percaya dan rekening tabunganku yang sudah bertambah. Aku menatap pada kalender yang tergantung miring pada dinding rumah, dalam seminggu ke depan aku tidak memiliki acara atau janji apa pun juga. Jika hendak jujur, hingga setahun ke depan pun aku tak punya janji atau rencana apa pun. Aku hidup cukup terasing, seperti layaknya para penulis terkenal, atau penulis tak laku.
Mataku bergerak melirik pada tas ransel yang tergeletak keluar dari lemari pakaian. Benda malang yang dibeli dengan mimpi sebuah perjalanan panjang dan berakhir seumur hidup dalam lemari.
Mungkin ini waktu yang tepat untuk bepergian selama beberapa minggu menghindari badai Chrisna.
Seperti yang sudah aku katakan, aku bukanlah seorang storm chaser atau pengejar badai. Aku adalah seorang storm runner, seorang yang kabur secepat kilat saat melihat berita badai di televisi meski jaraknya masih sangat jauh. Aku mengambil tas, mengemas pakaian dan pergi begitu saja. Membiarkan rumahku tetap dalam keadaan kacau. Meski jika aku merapikannya, saat sang badai tidak menemukanku, dia akan memporak porandakan isi rumah lagi.
Melihatku membuatnya mengamuk, tidak melihatku membuatnya mengamuk juga. Dasar wanita...
***
Dua hari kemudian.
Aku berjalan di sebuah kota kecil yang tenang. Tempat yang berhawa dingin dan memiliki banyak pepohonan di sepanjang jalanan utamanya. Para penduduknya terlihat cukup ramah. Mengikuti alamat yang tertulis pada surat pengantar, aku tiba di sebuah klinik yang terlihat lebih mirip sebuah rumah pribadi bertingkat dua. Beberapa pasien terlihat sedang mengantre di dalamnya.
Singkat cerita, aku bertemu dengan pemilik klinik yang bernama Claire, nama lengkapnya Claire Putrie Puspita. Ia menerimaku dengan hangat di dalam kantornya yang berbau obat-obatan, tentunya setelah aku menjelaskan maksud dan tujuanku berkunjung.
“Siapa yang memintamu untuk membuat biografi Alex?” tanya wanita berumur pertengahan empat puluhan.
Matanya terlihat hitam dan bening. Perawakannya tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar. Akan tetapi, sesuatu dalam diri dan sorot matanya membuatnya tampak kuat sekaligus lembut. Dari pengalamanku, hanya orang-orang yang sudah matang dan pernah melewati kerasnya ombak kehidupan yang memancarkan kekuatan semacam itu. Mereka memiliki ketegaran yang luar biasa dan memberikan perasaan menenangkan pada orang di sekitarnya.
“Aku tidak tahu,” kataku jujur sambil menyerahkan surat-surat yang ada padaku. “Aku mendapatkan surat-surat ini dan juga sudah menerima pembayaran penuh.”
Claire menerimanya dengan penasaran dan mulai membacanya. Entah perasaanku saja atau hal itu memang terjadi, matanya terlihat basah dan bibirnya bergetar setelah membacanya. Ia menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.
“Ikuti aku,” katanya berdiri dan membawaku keluar dari ruangan kantor.
Kami menjalani sebuah lorong panjang menuju pada sederetan kamar beraroma obat-obatan. Mendadak, ia berhenti pada sebuah pintu kayu berwarna coklat yang terukir cantik. Ia berhenti cukup lama menatap pintu tersebut dan dengan gerakan perlahan membuka pintu dengan kunci khusus, lalu mengajakku memasuki sebuah ruang kerja pribadi beraroma khas. Aroma kayu cendana.
“Ini adalah tempat kerja Alex.”
Aku melihat deretan-deretan rak buku, sebuah meja tulis yang besar dari kayu, sofa yang terlihat empuk, sebuah kursi roda dan jendela menghadap taman kecil yang membiarkan cahaya mentari membanjiri ruangan.
“Ruang kerja yang sangat indah,” sahutku tanpa sadar.
“Kamu bisa memakai ruangan ini untuk menyelesaikan buku biografinya dan kurasa ia memiliki catatan hariannya di tempat ini,” bisik Claire.
“Catatan harian? Benarkah?” tanyaku senang. Itu akan memudahkan pekerjaanku dalam membuat buku biografinya.
“Entahlah, aku tidak pernah mencarinya.” Claire memandang seluruh ruangan dengan pandangan penuh arti. Mendadak sosoknya yang tegar terlihat rapuh dan kesepian. “Aku membiarkan ruangan ini tetap seperti dua puluh tahun yang lalu.”
Terlihat air mata mengalir perlahan pada pipinya.
“Maafkan aku.” Claire mengusap air matanya. “Terlalu banyak kenangan di tempat ini. Aku tidak pernah kuat terlalu lama berada di sini. Semua benda-benda ini selalu mengingatkanku padanya.”
Aku mengangguk dan Claire mengeluarkan sebuah kunci untuk diserahkan padaku, “Ambillah kunci ini, kamu bisa menggunakan ruangan ini kapan saja. Aku akan memberitahu perawat untuk mengizinkanmu masuk sesuka hatimu.”
Dia melihatku lekat-lekat sebelum menambahkan, “Terlalu banyak yang telah ia berikan padaku dan terlalu sedikit yang dapat kuberikan padanya. Datanglah kepadaku kapanpun jika kamu membutuhkan bantuan.”
Aku melihat kepergiannya dan mendadak dari belakang tubuhnya, ia terlihat sangat rapuh.
***
Arief Purnama Sudono dan Gede Bagoes Prama. Dua nama pengusaha besar yang membangun perusahaan raksasa berkelas internasional. Perusahaan mereka bergerak pada berbagai produk kimia seperti sabun mandi, cairan pembersih, makanan, minuman, kosmetik dan masih banyak lainnya. Perusahaan mereka pernah mencatatkan diri ke dalam peringkat 100 besar perusahaan raksasa manca negara.
Aku tidak menyangka, hanya dengan sebuah telepon untuk membuat janji, keduanya langsung bersedia menemuiku di kantor mereka. Tanpa antrian janji temu yang panjang dan bahkan tanpa perkenalan orang dalam. Arief dan Gede yang menemuiku, tampak sudah berumur enam puluhan dengan rambut mereka yang sudah memutih dan keduanya terlihat akrab. Mereka berdua bergantian membaca surat yang kuterima.
“Apakah anda tahu siapa yang menulis surat tanpa nama itu?” tanyaku berusaha sesopan mungkin dan merasa penasaran akan siapa penulisnya.
Aku sudah menemui Michael Lee, seorang kepala keuangan perusahaan Arief dan Gede. Pria itu tidak menjawab apa pun mengenai cek yang diberikan padaku kecuali, ‘perintah dari atasan.’ Alex sudah meninggal dunia, tidak mungkin ia yang menulis surat itu. Kecuali jika ternyata Alex tidak meninggal tetapi bersembunyi. Imajinasi liar seorang penulis. Kemungkinan terbesar adalah seseorang menginginkan buku biografi Alex.
Tapi, siapa?
Mereka hanya saling pandang dan kemudian tersenyum. Gede mengembalikan surat itu padaku. “Katakan saja pada kami apa yang kamu butuhkan. Kami siap membantumu membuat buku biografi Alex.” Gede mengelak memberikan jawaban langsung, tampaknya ia tahu siapa penulisnya. Sama seperti Claire.
Mereka jelas mengetahui siapa penulisnya, mungkin salah satu dari mereka.
“Hanya sedikit pertanyaan mengenai kehidupan Alex. Semoga aku tidak menghabiskan terlalu banyak waktu kalian,” ucapku merasa segan. Bagaimanapun juga, mereka adalah dua orang pengusaha besar internasional dan tentu saja kesibukan mereka cukup luar biasa.