Bab 1

“Halo, maaf ini siapa ya?” Aku menyapa seseorang di ujung telepon sana yang nomornya sama sekali tidak kukenal.

“Siska, ini gua, Alex!” ujarnya singkat.

Seketika jantungku langsung berdebar-debar. Sekujur tubuhku serasa mati rasa, kaku laksana tersambar petir di siang bolong.

“Iya Bang, ada apa ya?” tanyaku agak gemetar setelah terdiam beberapa saat.

“Nanti jam satu malam, datang ke rumah gua lewat belakang. Datang dalam keadaan telanjang bulat. Saat gua ngeliat lu keluar dari pintu belakang rumah, harus udah bugil. Kalau lu gak mau, maka nyawa suami lu jadi taruhannya!” ancam Alex setelah itu menutup teleponnya.

Aku masih ternganga. Terbayang harus berjalan menyeberangi pekarangan belakang rumah sejauh dua puluh meteran dalam keadaan bugil di tengah malam buta. Preman kampung super bejad ini benar-benar sudah gila!

Ingin rasanya aku memaki dan menolaknya. Namun aku sangat takut dengan ancamannya. Alex punya banyak teman sesama preman yang bringas dan terekenal raja tega. Ancamannya bukan main-main, sewaktu-waktu mereka bisa dengan mudah menyakiti bahkan membunuh suamiku. Mas Bayu tidak mungkin mampu melawan gerombolan manusia biadab itu.

Bagaimana jika nanti malam ada yang melihatku kelayapan dalam keadaan begitu?

Apa yang yang akan Alex dan gerombolannya lakukan terhadapku?

Mengapa mereka tidak membunuhku sekalian?

Apa yang harus aku lakukan?

^*^

Seminggu yang lalu.

Tak pernah kubayangkan peristiwa itu akan menjadi serumit ini. Namaku Siska Maelastri, usia 24 tahun. Ibu rumah tangga, istri yang sangat mencintai suamiku. Mas Bayu, lelaki berusia 30 tahun, berpenampilan kalem dan menarik, dan pastinya sudah cukup mapan karena mempunyai pekerjaan tetap. Walau tidak memiliki jabatan mentereng.

Mas Bayu bekerja di salah satu perusahaan pertambangan emas ternama di Negeri ini. Dia juga memiliki bisnis sampingan yang sedang berkembang walau belum banyak membantu perekonomian keluarga. Namun aku sangat yakin, kejujuran dan keuletan dalam berusaha akan membawa kami meraih kesukseskan kelak.

Aku pun aktif dalam berbagai kegiatan ibu-ibu kompelks dan juga komunitas persatuan istri-istri karyawan di perusahaan suamiku bekerja. Sebelum menikah aku sempat menjadi tenaga honorer pemda selama dua tahun.

Kehidupan keluarga kami relatif standar dan stabil tak beda jauh dengan kehidupan rumah tangga muda golongan menengah pada umumnya. Kami menikah dengan jalan dijodohkan oleh Pak Yusuf, atasanku di kantor dulu. Beliau adalah suadara sepupu Mas Bayu. Walau terkesan dijodohankan, namun pada akhirnya kami bisa saling mencintai.

Saat pertama dikenalkan oleh Pak Yusuf kepada Mas Bayu, aku tidak menduga jika mereka sepupuan. Tampang mereka jauh berbeda, walau sama-sama menarik. Namun sejujurnya Pak Yusuf jauh lebih gagah dan ganteng diusianya yang lebih tua. Pada awalnya aku sangat tertarik dengan Pak Yusuf, namun sadar karena dia sudah berkeluarga.

Tak terasas pernikahanku dengan Mas Bayu sudah berjalan hampir dua tahun, namun masih belum dikaruniai momongan. Bukan karena kami sengaja menundanya, melainkan karena Mas Bayu mengalami banyak gangguan dalam kejantanan dan keperkasaannya. Sering disfungsi ereksi, bahkan terkadang sama sekali tidak berfungsi.

Kami relatif sering bercinta, tapi sepertinya sperma dia tidak sampai masuk ke rahim, sehingga tak mampu membuahi sel telurku. Saat rudal dia baru masuk setengahnya, terkadang sudah keluar duluan isinya. Hal seperti itu nyaris terjadi setiap kami melakukan hubungan intim. Berutung kami tinggal agak jauh dengan sanak saudara, sehingga tidak terlalu panas telinga mendengar pertanyaa ‘Kapan punya anak?’

Untuk urusan cinta, perhatian dan kasih sayang, Mas Bayu juaranya. Hanya saja untuk urusan ranjang, aku harus benar-benar bersabar, ikhlas dan rela menerima dia apa adanya. Gairah seksualku yang terbilang sangat tinggi dan menggebu-gebu, terpaksa harus ditekan kuat-kuat karena suamiku tiidak sanggup mengimbanginya.

Tak ada gading yang tak retak. Harus aku akui jika suamiku memiliki banyak kelemahan dalam aktivitas ranjangnya. Pembawaannya saat di atas ranjang tidak sejantan dan sebergairah lelaki normal pada umumnya. Jauh sekali dengan ekspetasiku yang senantiasa menggambarkan para lelaki itu seperti yang kubaca di novel-novel dewasa atau yang pernah kutonton dalam film-film dewasa.

Kami menjalani hidup berumah tangga dengan sangat bahagia di sebuah rumah kontrakan yang relatif sederhana. Lingkungan sekitar pun terasa sangat tenang dan nyaman. Hubungan interaksi antar sesama warga kompleks pun cukup baik. Hanya saja selalu ada kekurangan di baliknya. Tak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini. Kebahagiaan kami pun terkadang masih sering terusik.

Di belakang rumah kami tinggal seorang pemuda yang dijuluki sebagai preman kampung. Dia terkenal arogan, bersikap semena-mena dan semau gue kepada semua orang. Terlebih lagi kepada aku dan suamiku yaang notabene sebagai warga baru di kompleks itu.

Namanya Amri Alamsyah, tapi semua orang biasa memanggilnya Alex. Usianya mungkin sebaya denganku kisran dua empat tahun. Alex belum menikah, dan tinggal bersama neneknya yang sudah tua. Tidak banyak yang mengetahui silsilahh keluarganya, karena semua orang pun berusaha tidak terlalu dekat dengannya.

Kini Mas Bayu terkesan menjadi sangat takut kepada preman kampung itu. Bermula saat kami sedang jalan berdua, kebetulan berpapasan dengan Alex. Mas Bayu mencoba bersikap sopan kepadanya, namun Alex justru membentak dengan melontarkan kata-kata yang sangat kasar. Bahkan mengeplak kepala Mas Bayu di depan semua orang.

Saat itu Alex maksa meminta uang. Mas Bayu buru-buru menyerahkan selembar uang lima puluh ribu yang ada di kantongnya. Alex menolaknya karena dia meminta lima ratus ribu. Tentu saja kami tidak mampu memenuhi keinginannya.

“Bang tolonglah, kami kan hanya karyawan biasa yang gaji bulannnya hanya cukup buat makan sehari-hari saja.” Mas Bayu mencoba bernegosiasi.

“Heh, lu pikir gua Lemabga Sosial? Terserah elu mau cukup atau kagak itu gaji. Yang pasti gua minta duit gope, sekarang juga!” Alex menjambak kerah baju Mas Bayu, hingga suamiku kesulitan bernapas.

“Bang, tolonglah kami, Bang.” Aku mencoba melepaskan cengkeraman tangan Alex dari kerah baju suamiku. Wajah Mas Bayu benar-benar pucat.

“Heh, Siska! emang lu punya duirnya? Gak usah banyak bacot, sini mana!” Alex melepaskan cengkremannya dan berbalik seakan mau menyerangku. Bau alkhohol dari mulutnya kangsung menyergapku.

“Ti..tidak ada Bang. Kami hanya punya sisa lima puluh ribu lagi, itu pun jatah kami dua hari ke depan.”

“Hahaha, dasar manusia-manusia pelit lu. Gua denger keluarga kalian itu orang-orang kaya di sana, bener kan?” Alex menyeringai menatap kami.

“Bohong Bang! Saya bahkan sudah tidak punya Bapak lagi.” Entah mengapa aku masih bisa berbohong. Namun sebenarnya tidak terlalu salah, karena memang Bapakku sudah lama pergi dengan selingkuhannya entah kemana.

Alex beralih menatap suamiku, “Jadi gimana ini Bayu? Masa lu jadi suami kagak punya duit. buat apa lu kerja tiap hari. Mendingan lu jual aja istri lu yang cantik ini! gua yakin banyak yang minat!”

JEGER!

Bagai terkena petir ganas yang mendadak menyerang. Sekujur tubuhku mendadak kaku dan jiwaku terkesima. Sungguh biadab ucapan si Alex ini. Bbenar-benar telah merendahkan harkat dan martabatku sebagai seorang manusia yang juga seorang wanita baik-baik yang sudah bersuami.

Ingin rasanya aku mengamuk dan menangis sejadinya sambil merobek-robek mulutnya yang menjijikan itu. Namun apalah dayaku hanyalah seorang wanita. Mas Bayu pun yang sehausnya bisa melindungiku, bahkan hanya tertunduk ketakutan.

“Baaang, mohon diterima dulu ini, nan…nan…ti kita bisa bicarakan lagi lebih lanjut.” Mas Bayu kembali bernegosasi sambil terus menydorkan uang lima puluh ribu pada Alex.

“Oke kali ini masih bisa gua maklumi. Nanti kita akan bicarakan lagi semuanya, Bayu!” Akhirnya Alex menerima uang yang disodorkan suamiku.

Untuk sesaat aku bisa menarik napas lega. Serasa baru saja keluar dari himpitan goa angker yang gelap gulita. Namun demikian tatapan mata Alex yang beringas kemerahan tak ayal membuat nyaliku nyaris terjatuh ke dasar lembah yang terdalam. Alex pun pergi meninggalkan kami sambil mengantongi uang suamiku.

“Sayang maafkan kelemahan suamimu ini,” ucap Mas Bayu sambil merangkul bahuku. Lalu dia pun menyeka air mataku yang tak kusdari ternyata sudah mengalir deras membasahi pipiku.

“Mas janji untuk selanjutnya akan benar-benar melindungimu.” lanjutnya.

“Aku sudah gak betah tinggal di sini Mas,” jawabku lirih sambil terus melanngkah pulang ke rumah.

“Iya, secepatnya kita akan pindah dari sini, tapi mas harap kamu bersabar dulu ya, Sayang.” Mas Bayu terus menghiburku sambil memapah tubuhku yang terasa limbung. Benar-benar tak terima dan sakit hati direndahkan oleh manusia yang bahkan aku senantiasa mengalah dan berbuat sopan kepadanya.

^*^

Bab 2

Entah ilmu apa yang dimiliki Alex, hingga tak ada seorang pun yang berani menghentikan aksi tengil dan kesewenang-wenangannya itu. Para aparat maupun pihak berwajib setempat pun seolah tinduk pada kearoganan seorang Alex. Mungkin hanya Tuhan yang bisa menghentikannya kelak.

Sepertinya Alex mempunya rekam jekak yang sangat mengerikan hingga semua orang lebih memilih diam daripada berurusan dengannya yang besar kemungkinan menjadi korban berikutnya.

Menurut bisik-bisik tetangga, sebenarnya Alex sudah sering keluar masuk penjara karena berbagai tindak kriminalnya. Bahkan dia pernah terlibat dalam perampokan dan pembunuhan sadis satu keluarga. Namun anehnya dia bisa lolos dari jerat hukum. Jika masuk jeruji besi,, hitungannya hanya beberapa hari saja.

Sungguh sakti sekali manusia bernama Alex ini. Pantas saja dia semakin semean-mena. Jangan-jangan dia memang dibacking oleh oknum-ioknum aparat yang tidak bertanggung jawab? pikirku.

Sejak peristiwa itu, Alex semakin menjadi-jadi dan sering bersikap semena-mena terhadap Mas Bayu. Sudah tak terhitung berapa kali dia memalak suamiku yang tak punya kuasa untuk menolaknya.

Mas Bayu benar-benar telah lelaki lemah dan kerap menjadi bulan-bulannya. Terlebih lagi suamiku memang terkenal dengan sikapnya yang lemah lembut cenderung lembek untuk ukuran seroang laki-laki. Alex bahkan sering mengatainya sebagai banci atau bencong. Sungguh sangat menyakitkan.

Tubuh Alex memang begitu gagah dan kekar bukan tandingan bagi Mas Bayu, walau tampaknya dia jauh lebih kurus. Suamiku tidak akan menang jika pun harus berduel mati-matian melawannya.

Mas Bayu bukan tipe lelaki yang senang mencari keributan. Bahkan dalam sepanjang hidupnya belum pernah dia berkelahi dengan siapapun. Setidaknya itu yang aku tahu dari cerita-cerita dia dan keluarganya. Masa muda Mas Bayu benar-benar flat dan baik-baik saja.

Sementara itu Alex dikabarkan pernah bekerja di daerah Pedalaman Kalimantan dan di berbagai pelabuhan laut. Juga dia pernah menjadi kuli ilegal di Perkebunan Sawit, Malaysia sana untuk jangka waktu beberapa tahun. Mungkin itu yang membuat tubuhnya tampak kekar dan berisi serta wataknya tempremannya yang menjengkelkan sekaligus mengerikan.

Aku sudah berusaha melakukan berbagai cara agar Alex tidak lagi menganggu ketentraman hidup keluargaku. Bahkan aku sering mengirimkan makanan untuk neneknya yang sudah tua renta itu. Namun Alex sepertinya manusia yang sudah mati hati dan nurani kemanusiaannya.

Semakin didekati dan dibaiki justru dia semakin melunjak dan menjadi-jadi. Aku pernah mengajak Mas Bayu untuk pindah rumah dan tinggal dengan keluargaku. Namun dia menolak dengan alasan jauh dengan tempatnya bekerja. Mas Bayu justru selalu memintaku untuk bersabar dan tawakal menghadapi ujian yang datangnya dari manusia biadab bernama Alex itu.

“Tapi mau sampai kapan kita begini, Mas?” Aku sempat protes.

“Kita tunggu setengah tahun lagi. Insya Allah kita akan pindah dari sini dengan sangat terhormat. Doakan suamimu ini cepat naik jabatan sehingga kita bisa menempati rumah dinas yang jauh lebih layak dan nyaman,” hibur suamiku untuk menenangkan kegelisahan dan kegundahanku.

Sejatinya Mas Bayu mungkin tidak terlalu merasa terganggu dengan keberengsekan Alex. Dia lebih banyak menghabiskan harinya di kantor. Sementara aku lebih sering beraktivitas di rumah yang jaraknya tidak lebih dari dua puluh meter dengan Alex.

Dan sepandai-pandainya aku berusaha menghindar dari segala mala bahaya yang senantiasa mengintai. Namun akhirnya hari sial dan naas itu pun datang juga. Ajaibnya kesialan itu datang pada siang hari yang benar-benar sangat indah dan cerah…..

Entah mengapa hidupku jadi sangat mengerikan seperti ini.

“Hai Sis, baru pulang dari mana?” sapa seseorang saat aku baru saja tiba di depan rumahku setelah dari warung.

Aku refleks menolehkan wajah mencari asal suara yang sepertinya milik seseorang yang sudah sangat familiar di telingaku.

Deg!

Jantungku seketika terasa berhenti berdetak. Bola mataku terbelalak dan napasku sedikit tertahan saat melihat sosok yang penyapaku itu ternyata lelaki yang paling kubenci sekaligus paling kutakuti.

Alex berdiri di dekat pohon jambu samping rumahku. Dia memakai celana jeans hitam yang robek sana-sini, dipadu dengan kaos hitam ketat tanpa lengan, seolah ingin memamerkan semua tato yang tergambar pada kedua lengan dan dadanya.

“I… i… iya Bang, sa…saya baru dari wa..warung,” jawabku gelagapan seraya menatap lelaki bengis yang tampaknya sangat suka melihat keterkejutanku.

Sebelah tangan Alex memutar-mutar sebatang rokok yang masih menyala. Sementara tangan yang lainnya mengelus-elus celana robek-robeknya tepat di bagian selangkangannya yang menyembul. Tatapan mata dan seringai bibirnya yang hitam benar-benar sangat mengintimidasiku.

“Bayu belum pulang, Sis?” tanya dia sambil bersandar pada pohon jambu di belakangnya.

“Be…be..belum, Bang. Kan bi..bi..biasanya pulangnya sore atau malam. Sa… sa.. saya juga ini mau pergi ke pas… pas..ar, pu..pu..pulang dulu juga mau ngam..ngam..bil yang ketinggalan,” jawabku berbohong sambil tergesa-gesa memasukan anak kunci pada lobangnya.

Sekilas aku melihat lelaki bertampang kriminal itu bangkit dari bersandarnya, lalu melangkah pelan mendatangiku. Sekujur tubuhku terasa bagai dicerabut dari akarnya, lemas dan tak berdaya, ketakutan mulai menyergap segenap jiwa ragaku.

“Makin gede aja susu lu, Sis,” ucap Alex dengan tatapan liar yang tertuju pada bagian depan tubuhku. Wajahku mendadak terasa sangat panas, mungkin warnanya pun berubah merah padam, saking kesal, marah dan takutnya. Pikiranku benar-benar berkecamuk dalam kekacauan.

“Sudah dua kali gua ke sini, kebetulan si Bayu-nya selalu tidak ada. Kemarin juga gua ke sini, tapi hanya sampai samping rumah aja,” ucap dia tanpa beban, sambil terus mendekatiku. Dan aku sama sekali tidak tahu kalau dia kemarin datang ke sekitaran rumahku.

Jantungku makin dag-dig-dug tak karuan. Ada niat untuk berlari meninggalkanya sambil berteriak-teriak minta tolong. Namun seluruh tenagaku seolah telah hilang dihisap bumi. Aku pun berpikir itu bukan ide yang baik, karena percuma saja tidak akan ada yang bisa menolongku.

Ingin rasanya aku pun mengusir dia dengan cara baik-baik namun aku yakin Alex bukanlah manusia yang bisa luluh dengan kelembutan dan kebaikan.

“Me,,me..,mangnya ada perlu apa sama Mas Bayu, Bang?” Aku memberanikan diri bertanya walau tubuhku semakin terasa mengigil.

“Hehehe, keperluan dengan Bayu sih gak terlalu penting, justru gua ada keperluan yang sangat mendesak dengan lu, Siska,” balas Alex yang membuatku makin terperanjat dan ciut nyali.

“Dengan saya?” tanyaku sambil tak sadar menunjuk dadaku sendiri dan kedua mataku makin intens menatapnya, walau hatiku sebenarnya tak ingin beradu pandang dengan matanya yang sangat mengerikan itu.

“Betul, tapi hanya kita berdua yang bisa bicaranya, kecuali kalau lu menginginkan semua orang mengetahuinya.” Alex makin membuatku bingung sekaligus penasaran dengan pernyataanku itu.

“Ada masalah apa dengan saya, Bang?” Aku masih mencoba bicara kalem dan baik-baik agar bisa sedikit menenangkan diri dan mengasai keadaan.

“Ini menyangkut masa depan rumah tangga lu dengan si Bayu suami lu,” balas Alex sekenanya dan bibirnya kembali menyeringai menampilkan deretan giginya yang purih bersih dan rapi.

“Hah, ada apa dengan rumah tangga kami, Bang?” Aku semakin tak mengerti dengan ucanpan Alex.

“Sebaiknya kita bicara baik-baik di dalam, kecuali lu ingin dengan cara-cara lain!” tawar Alex dengan nada bicara yang masih sangat tegas dan mengintimidasi.

Aku tidak mungkin lagi menolaknya walau yakin itu hanya sebuah modus. Namun demi masa depan kehidupan dan rumah tangga kami, aku harus menurutinya. Aku tidak ingin terjadi keributan dengan mansuia seperti dia. Terlebih lagi tidak ingin membuatnya marah hingga preman super tengik ini kalap dan membunuhku, atau setidaknya menyakitiku.

Berhadapan dengan manusia seperti Alex, sebisa mungkin harus tetap tenang, sabar dan mengalah. Jika perlu harus bisa mengambil hatinya. Melawan pun percuma hanya akan membuat rugi dua kali. Setidaknya itu pesan dari Mas Bayu suamiku. Berteriak minta tolong pun percuma. Semua orang enggan melibatkan diri berurusan dengan Alex agar tidak menjadi korban berikutnya.

“Silakan masuk, Bang!” Dengan sangat berat hati, aku pun mempersilakan dia masuk ke rumahku yang sepi dan seluruh gordengnya pun tertutup, karena aku memang berniat akan pergi ke pasar.

“Saya buatkan kopi dulu ya, Bang,” ucapku setelah Alex duduk di ruang tamu. Lalu dengan jantung yang makin berdebar-debar serta sekujur tubuhku terasa lemas, aku bergegas menuju dapur.

“Gulanya sedikit aja, Sis. Gua lagi sedikit diet nih, hahahahaha.” Teriak Alex sambil tertawa lepas.

Entah apa maksud dari tertawa manusia iblis itu. Aku bahkan sama sekali tidak merasa ada yang harus dianggap lucu apalagi harus ditertawakan. Kalau pun dia mau diet atau apapun, itu bukanlah urusanku. Lagian ngapain juga lelaki harus diet, tubuh dia juga gak gendut-gendut amat, kok!

Dasar manusia aneh!

^*^

Bab 3

Bukan baru kali ini aku ketakutan dengan kehadiran lelaki brandalan itu di rumahku. Namun saat ini rasa takutku sangat berbeda. Ada aura aneh yang kurasakan saat menatap mata jalangnya hingga bulu kudukku sedikit berdiri dan merinding. Aku merasakan ada sesuatu yang ganjil namun sulit diungkapkan.

Alex terkenal sebagai preman kampung yang tidak setiap hari ada di rumahnya. Pasar, terminal, stasiun kereta, tempat hiburan malam dan pelabuhan yang menjadi rumah keduanya.

Beberapa tetangga sudah mewanti-wanti agar kami jangan pernha kenal apalagi dekat dengannya. Namun karena rumah kami berdekatan, mau tidak mau kami menjadi sering berpapasan dan bahkan bertegur sapa.

Memang Alex tidak pernah berbuat kurang ajar secara fisik terhadapku. Namun tatapan mata serta ucapannya terkadang sangat arogan, mengintimidasi bahkan melecehkan.

Aku sering dibuat gerah, jengah dan juga muak oleh tingkahnya itu. Namun demikian aku tetap berusaha seolah baik padanya. Semua kulakukan agar dia tidak terlalu merendahkanku juga suamiku.

Harus kuakui, andai saja Alex mau sedikit peduli dengan penampilannya, mungkin dia akan menjadi sosok idola emak-emak atau bahkan gadis-gadis di kompleks sini. Kulit wajahnya yang sedikit legam, akan tersamarkan dengan hidungnya yang mancung, sorot matanya yang setajam elang, serta alisnya yang tebal.

Rambutnya yang gondrong ditambah tato-tato sangar di sekujur tubuhnya, yang menurutku sebenarnya itu bisa sebagai daya tariknya tersendiri.

Setelah menyuguhkan kopi dan sedikit penganan yang tadinya kusimpan buat Mas Bayu, aku pun segera beranjak menuju kamar tidurku untuk menghindarinya dan sedikit menenangkan jantung serta pikiranku yang masih kacau tak karuan. Dalam hati aku terus berdoa memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa dan berharap ada seseorang yang datang menolongku.

“ASTAGA!” teriakku keras karena sangat terkejut.

Rupanya Alex mengikutiku saat akan ke kamar. Tangannya yang kekar dan legam, dengan begitu saja menahan pintu kamar yang hendak aku tutup. Dan dalam hitungan detik berikutnya dia sudah berada dalam kamarku, sebelum aku benar-benar menyadarinya.

Seketika tubuhku menggigil, wajahku pun pastinya pucat pasi, mataku terbelalak memandnginya dengan mulut komat-kamit memebacakan mantra dan doa-doa yang aku bisa. Bulu kudukku mendadak ikut merinding dan sekujur tubuhku lemas karna ketakutan.

Semuanya terjadi demikian cepat. Bahkan aku masih tak menyadari saat dia merapatkan pintu kamar dan menguncinya.

“Hah, Ba…Ba… Baaang Alex ke..napa ke sini?” hardikku terbata-bata dengan suara yang benar-benar bergetar. Daguku bahkan bergetar seperti orang yang kedingingan.

Aku segera merebut kunci dari genggamannya. Berencana keluar kamar dan berlari keluar meninggalkannya. Tetapi dia jauh lebih siap dan sigap dibanding denganku yang masih menggigil ketakutan.

"Tenang, Siska, jangan takut. Gua gak bakal nyakitim cewek secantik lu. Gua cuma sangat kagum dengan kecantikan dan keseksian tubuh yang lu miliki. Benar-benar kecantikan yang sangat sempurna. Sayang sekali suami lu tak berdaya. Khayalan gua menjadi melambung setiap kali membayangkan bisa ngentotin elu, Siska.” Ucapan Alex benar-benar sangat biadab.

“Ja… ja..jangan sok tahu kamu, Bang? Su..su.. suamiku baik-baik saja! di…dia sangat perkasa!” Aku melawan karena tak terima Mas Bayu direndahkannya.

“Hahahaha, lu yakin si bayu bisa ngentotin lu dengan memuskan?” Alex menyeringai. Entah mengpa kulit wajahku pun semakin terasa panas menahan malu dan marah.

“Yakin?” Aku mencoba meyakinkan diriku dan menjawab tegas.

“Hahaha, sejak kapan banci cowok ayam sayur begitu bisa ngentotin bininya dengan memuaskan. Wajah elu aja terlihat sangat sangean, Siska. Itu akibat dari kurangnya kepuasan dari suami lu!” Alex semakin keji merendahkanku.

Entah analisa apa yang dia pakai untuk memojokan dan merendahkan sauamiku. Walau sebenarnya apa yang dia ucapkan sama sekali tidak salah. Namun dari mana manusia tekutuk ini bisa tahu kalau Mas Bayu belum pernah bisa membuatku puas dalam bercinta. Mungkinkah suamiku pernah curhat padanya?

“Lu sebenarnya sangat ingin mendapat kepuasan dari cowok kan?” tanya Alex dengan tatapan sangat merendahkan serta bibir mencibir.

Aku benar-benar tercekat kehabisan kata-kata. Alex memandang mataku dengan sorot matanya yang sangat tajam. Omongannya benar-benar biadab dan sukses membuatku tak berkutik. Nyaliku telah benar-benar terccerabut dari dalam jiwaku.

“Gua yakin, lu akan bisa dapat kepuasan ngentot sama gua!” Alex berbicara dengan sebegitu yakinnya dan arogan. Dia bahkan menganggapku akan rela melayani nafsu bejad hewaninya.

Tubuhku seketika terasa limbung akibat ketakutan yang teramat sangat. Bulu kudukku semakin kuat merinding. Aku seperti jatuh dari ketinggian tanpa tahu batas akhirnya. Sesak napasku demikian menekan, dan aku sangat lemah karena tak punya pilihan.

Jangan harap ada keadilan dan kebaikan dari lelaki biadab seperti Alex. Dia jelas menyadari dan sangat paham betapa aku sangat kesepian dan kehauasan akan belaian jantan seorang lelaki. Namun dia pasti tidak tahu jika model-model seperti ini sangat tidak kusuaki. Aku tidak ingin ada pemaksaan apalgi penerkosaan. Aku sama sekali tidak siap akan hal-hal yang sedang kuhadapi saat ini.

Sungguh mengerikan!

Sejurus kemudian dengan kalemnya Alex meraih tangan dan pinggangku untuk dipeluknya. Harga diri dan martabatku langsung bangkit dan meradang dalam amukan amarah.

“Hentikan bangsaaaaaat!” Aku berontak dan melawannya habis-habisan. Tanganku meraih apapun untuk kupukulkan pada manusia tak bermoral ini.

“Hahahaha, lanjutkaaaan, hahahahah!” Alex malah mencandaiku.

Aku tendangkan kakiku ke tubuhnya dengan arah sekenanya, kucakarkan kukuku pada tubuhnya sekenanya pula. Tetapi, dia sangat tangguh dan kuat. Alex yang berpostur tegap dan sedikit kurus, ternyata dengan mudah bisa mengimbangi dan menaklukan pemeberontakanku.

“Sekarang nikmati kontolku!” bentaknya sambil menyeret paksa tubuhku ke atas ranjang. Dia mengangkatku dan membantingnya ke atas kasur.

“Bangsaaaaaar biadaaaab kamu Alex!” Teriakanku tidak ada artinya, semua sia-sia karena rumahku relatif jauh dengan tetangga. Jarang sekali ada lewat di dekat rumahku walau keadaan masih siang. Dan memang tidak mungkin ada yang berani menghentikan Alex.

Karena perlawananku yang tak kenal menyerah, Alex dengan cepat meringkus tangan-tanganku dan mengikatnya dengan kain kerundung panjangku yang dia temukan dari tumpukan pakaian dekat ranjang.

“Lu mau mati atau tetap berontak, bangsat!” bentaknya dengan penuh amarah seraya mengikat tanganku ke backdrop ranjang.

“Hentikaaaaan Bang Alex, tolooooong kasihanilah saya, Baaang…” Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi-jadinya hingga akhirnya dia menyumpal mulutku, entah pakai apa hingga aku tak mampu lagi bergerak banyak, maupun berteriak.

Sesudah itu dia tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya. Alex mencoba menenangkanku, dengan cara menekan mentalku. "Ayolah, Siska, jangan lagi memberontak. Nanti lu lelah sendiri. Percuma aja perlawan lu kagak akan ada orang yang berani membela gua. Waktu kita tidak banyak, bukankah lu mau ke pasar?" bisiknya sedikit lembut.

Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir. Ini orang memang betul-betul lihai. Mungkin memang dia tukang perkosa profesional. Dia bahkan sudah sangat tahu kondisi kejiwaaanku dan seolah sudah menghitung semuanya kemungkinannya dengan seksama.

Alex lalu menarik sekaligus mengoyakkan bajuku dengan sekerasannya untuk menelanjangi dadaku. Dia hentakkan behaku hingga lepas. Lalu dilemparkannya ke lantai. Kemudian dengan wajahnya yang menyirai, dia membenamkan di ketiakku. Alex menciumi, mengecup dan menjilati lembah-lembah ketiakku yang sangat menggelikan.

Dari sebelah kanan kemudian pindah ke kiri. Yang kurasakan hanyalah perasaan risih yang tak terhingga. Aroma tubuhnya yang kurang sedap sontak membuatku hampir muntah. Sepertinya sudah lama dia tidak mandi. Namun sejurus kemudian aku merasakan seusatu yang merangsek tubuhku. Bau tubuh Alex berubah menjadi sangat maskulin dan menggairahkan.

Tangan-tangannya terus menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggul, punggung dan dadaku. Tangannya juga meremas-remas payudaraku dan dengan jari-jarinya dia memilin puting-putingku. Di sini dia melakukannya mulai dengan sangat pelan, tenang, penuh kelembutan.

“Lu sangat cantik, Siska. Gua kagak akan nyakiti lu, kalau mau berdamai,” bisiknya lagi.

Alex benar-benar telah menundukkanku dengan caranya yang demikian. Aku mencoba berontak dan menggeliat, namun sia-sia. Aku laksana kijang yang telah lumpuh dalam terkaman sang pemangsa, tak ubahnya hanya menjadi seonggok daging yang siap dikonsumsinya.

Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara yang keluar dari mulutku yang tersumpal. Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamarku. Sungguh sangat menyakitkan kenyataan hidupku diperlakukan tidak-adil dan tidak manusiawi seperti ini.

Aku sangat membenci pemerkosaan dan ketidak berdayaan ini. Kini Alex menatapku dengan penuh birahi. Aku menghindari tatapan matanya, namun dia justru menciumi pipiku dan menjilat air mataku dengan penuh gairah yang membuncah,

Ingin rasanya aku mengigit hidunya dengan sekuat tenagaku agar dia berhenti melakukan ciumannya yang sangat menjijikan itu.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED