Bab 2

Tama membelokan mobilnya memasuki menara dari sebuah bank terkemuka di Indonesia. Ia memarkir mobilnya di tempat strategis, menurut pemikiranya yang dekat lift itu adalah strategis karena tidak perlu jalan terlalu jauh.

Tama keluar dari mobil dan sedikit berlari membukakan pintu untuk Nayyara.

Taman menggenggam tangan Nayyara dan meletakan di lengannya, "yuk."

Nayyara hanya bisa mengikuti kemauan Tama.

Mereka lalu masuk ke dalam lift menuju lantai 56. Sesampainya di lantai yang dimaksud, mereka disambut oleh resepsionis lalu mempersilahkan mereka masuk dengan mudah. Sedangkan ada pengunjung yang tidak diperbolehkan masuk karena pakaian mereka tidak sesuai standar aturan.

"Kita duduk di luar aja."

Ajak Tama sambil mengedarkan pandangan mencari tempat yang kosong. Karena ini hari kerja jadi masih ada beberapa meja kosong.

Tama menawarkan Nayyara untuk duduk di dekat kolam yang mejanya bertuliskan reserved. Nayyara menolak karena yang ia dengar dari percakapan Tama dan resepsionis ada minimal order 1 jutaan.

"Engak ah, ada minimal order gitu sampe 1 jutaan."

Nayyara menggeleng tak setuju.

Akhir mereka random saja memilih meja yang kosong. Sebenarnya Tama tidak masalah dengan minimal order, tapi dia lebih menurut dan menghargai pendapat Nayyara.

"Kamu mau pesan apa?" Tama membolak-balikan menu

"Terserah kamu aja aku ga ngerti," jawab Nayyara pasrah.

Tama menunjuk gambar pada menu yang diikuti anggukan waitress. Tidak menunggu waktu lama pesanan mereka datang.

Nayyara mengambil minuman yang sudah dipesankan untuknya.

"Ini minuman apa Bang? Cantik banget rasanya unik, rasa apel campur jeruk nipis ada rasa-rasa berrinya juga."

Ia mengangkat dan memutar-mutar gelas minuman tersebut.

"Forget me not, minuman itu tu kaya kamu, penampilanya cantik rasanya unik pas dan seger," jawab Tama sambil mengunyah makanan dan menunjuk-nunjuk Nayyara dan minuman cantik itu bergantian.

Nayyara mencibirkan bibirnya mendengar perumpamaan Tama.

"Tau ah."

Nayyara menoleh ke samping seolah malas melihat Tama.

"Aku baru tau kalo di tower ini ada tempat seperti ini." Nayyara memandang lurus ke depan melihat pemandangan Jakarta pada malam hari. Ia menikmati indahnya kota Jakarta pada malam hari. Kilauan lampu dari berbagai bangunan, jalan dan kendaraan berbaur menjadi kesatuan yang indah seperti lautan cahaya.

Kini Tama berpindah tempat duduk di samping Nayyara. Memandang lurus ke arah yang sama.

"Orang-orang si bilang ini tu atap bumi Sky Bar and Restaurant."

Suasana yang nyaman untuk menikmati malam Jakarta, tanpa suara bising degupan musik DJ, bahkan hanya segelintir orang yang merokok di sana. Membuat siapapun betah berlama-lama untuk melupakan kesibukan kota Jakarta.

Setelah merasa kenyang dan puas, mereka memutuskan untuk pulang. Tama mengantar Nayyara pulang terlebih dahulu.

"Mau mampir?" Nayyara membuka seat beltnya.

Tangan Tama ikut membantu Nayyara melepaskan seat belt.

"Besok aja biar kamu bisa istirahat cepet."

Tama hendak membuka seat bealtnya namun ia urungkan karena Nayyara menahannya.

"Udah nggak usah turun."

Nayyara lalu membuka pintu mobil.

"Tunggu! ada yang ketinggalan."

Sebelum Nayyara keluar Tama mencegahnya.

Tama bermaksud melancarkan aksi balas dendamnya kepada Nayyara. Dia berusaha mencium pipi Nayyara namun tertahan oleh seat beltnya yang masih terpasang. Tama berusaha menarik-narik tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Nayyara tapi usahanya sia-sia.

"Isss pake nyangkut lagi ni."

Tama mendengus kesal.

Nayyara terkejut menyadari tindakan yang akan Tama lakukan kepadanya. Sedetik kemudian tersadar dengan posisi Tama yang masih menyangkut pada seat belt.

"Hahahaha," Nayyara tertawa puas.

"Kasian deh kamu."

Ia lekas pergi dan meninggalkan Tama di mobil.

Dari dalam mobil Tama melihat Nayyara yang berlari dan memasuki rumah. Tama masih tak habis pikir dengan kelakuan dirinya sendiri, yang tidak memastikan kelancaran aksinya, ia menggeleng-gelengkan kepala dan menertawakan kekonyolannya.

***

Paginya Nayyara bangun dengan keadaan yang masih terlihat berantakan khas orang bangun tidur. Kaos yang kebesaran dan celana boxer pendek yang nyaman untuk ia gunakan saat tidur.

Semua sudah bersiap untuk sarapan bersama. Nayyara terkejut ternyata Tama sudah datang dan ikut sarapan bersama orang tuanya.

"Abang!" Nayyara terkejut

"Dari tadi loh Tama datangnya, udah ngobrol-ngobrol lama sama Papa."

Pak Riswa berbicara sambil mengunyah makanan.

Tama hanya merespon dengan senyuman.

“Kamu nggak kerja Nay?" Bu Ani bingung melihat putrinya yang masih mengenakan kostum tidur kebangsaan.

"Aku hari ini izin Bu, mau jemput orang tua Bang Tama."

Bu Ani membulatkan mulutnya, "Ooo."

Mereka melanjutkan sarapan sampai habis. Selesai sarapan Nayyara ingin membantu bu Ani untuk cuci piring dan merapikan peralatan makan tapi malah dicegah karena sudah ada Tama yang menunggu.

"Yuk, jalan!" suara Nayyara membuyarkan konsentrasi Tama pada ponsel yang sedari tadi ia gunakan untuk menghilangkan rasa bosannya menunggu Nayyara berdandan, sudah dipastikan menunggu seorang wanita bersiap-siap tidak membutuhkan waktu yang sebentar.

Mereka lalu berpamitan kepada Bu Ani dan Pak Riswa untuk ke rumah Tama.

Sesampainya di apartemen Tama, Nayyara langsung bergegas ke dapur dan memasak. Ia memotong sayuran seperti kol dan wortel. Menyiapkan bumbu untuk dihaluskan dan merebus ayam dan daging.

Tama dari tadi hanya memperhatikan Nayyara lalu berjalan mendekati Nayyara,

"Kamu mau masak apa?"

"Aku mau bikin soto aja ya Bang, kan Abang bilang kalo Bapaknya Abang suka soto." ucap Nayyara sambil menggoreng bumbu halus yang berwarna kuning.

"Kamu bisa bikin soto?" bukanya menjawab Tama balas bertanya.

"Hhmmm" jawab Nayyara dengan berdehem.

"Hebat banget si kamu." Tama mengacak2 puncak kepala Nayyara.

Nayyara memisahkan kol, bihun, dan kentang setelah matang. Kuah soto yang mengepul dan mendidih menandakan soto sudah siap. Semuanya sudah ia pisah di wadah yang berbeda dan berjajar rapi agar mudah saat ia meraciknya.

Setelah selesai memasak Nayyara merapikan apartemen Tama yang sebenarnya sudah tertata rapi.

"Ok finish" ujarnya setelah selesai memasak dan merapikan apartemen Tama.

"Kamu makan lagi Bang?" Nayyara heran melihat Tama seperti orang belum sarapan padahal ia sudah sarapan cukup banyak di rumahnya. Ya begitulah Narotama sikap yang humble dan apa adanya membuat orang nyaman terhadapnya tanpa rasa sungkan.

"Iya abis soto kamu enak banget sih," Tama menyantap soto buatan Nayyara yang entah sudah mangkuk keberapa.

Nayyara duduk di samping Tama, "Mau ke bandara jam berapa?"

"Jam 13.00 kita berangkat." Tama menggeser mangkuk nya yang sudah kosong.

Nayyara mengangguk, lalu ia mengambil mangkuk kotor milik Tama dan menuju dapur untuk mencucinya.

"Astaga aku lupa bikin bawang gorengnya." Nayyara menepuk jidat, ia langsung mengambil bawang merah dan segera ia mengupas lalu memotongnya.

Air mata Nayyara menetes merasakan perih akibat memotong bawang.

"Kamu nangis?" Tama langsung memutar tubuh Nayyara hingga menghadapnya.

Nayyara mengerjap-ngerjapkan mata, "Nggak apa-apa udah biasa kalo motong bawang emang kaya begini"

Tama menghapus air mata di pipi Nayyara. Seketika pandangan mata mereka saling bertemu.

Rasa panas tiba-tiba menjalar di wajah Nayyara. Tangan Tama masih berada di pipi Nayyara, Tama semakin dalam menatap manik milik Nayyara, debaran jantung Nayyara semakin tak terkendali. Tama memberanikan diri untuk memajukan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka.

Nayyara terdiam rasa takut akan teringat kejadian kelam masa lalu membuat dadanya bergemuruh.

"Boleh?" Tanya Tama pelan.

Entah harus menjawab apa, Nayyara hanya mengangguk.

Saat tidak ada lagi jarak di antara mereka. Nayyara sedikit menahan tubuh Tama.

"Jangan dipaksa," ujar Tama sambil mendorong pelan kepala Nayyara dengan satu telunjuknya.

Saat Tama ingin membalikan tubuhnya, Nayyara menahan Tama dan memberanikan dirinya menci*m Tama.

Jantung Nayyara semakin berdegup kencang ia bingung harus apa lagi.

Sedangkan Tama sedikit terkejut tapi sedetik kemudian ia tersadar dan menikmati benda kenyal milik Nayyara.

Nayyara masih tertegun pada posisi awal, tubuhnya sangat kaku, jantung masih terus memompa begitu cepat, ia hanya membiarkan Tama bergerak aktif.

Sensasi manis dan lembut dari bibir Nayyara, serta aroma bunga yang lembut dari tubuh Nayyara, membuat Tama tidak mau berhenti untuk menikmatinya.

Entah memiliki keberanian dari mana Nayyara membuang dan melupakan lukanya. Perlahan ia terhanyut akan sentuhan Tama memberanikan diri untuk membalas dan merespon gerakan Tama.

Keraguan di hati yang sempat mendominasi hati dan pikirannya telah lenyap. Tubuh yang tadinya menolak sekarang tidak sungkan untuk menerima dan membalas.

Gerakan mereka semakin berirama saling berbalas, meluapkan perasaan satu sama lain. Yang sesekali terjeda untuk memenuhi udara di paru-paru mereka masing-masing

Bab 3

Sepanjang perjalanan menuju bandara, Tama terus tersenyum bahagia, seperti anak kecil mendapatkan mainan kesukaannya. Sedangkan Nayyara hanya menahan malu karena kejadian tadi masih berputar-putar di kepalanya.

Tama masih fokus mengendarai mobil, lalu melirik Nayyara, "kamu cepet belajar yah?" Dengan senyum lebar nan bahagia.

Nayyara makin tersipu malu, mendengar Tama membahas kejadian tadi. "Apaan si?!" Nayyara menjawab yang disertai pukulan ke bahu Tama.

Bukanya merasa sakit Tama malah tertawa "hahaha".

Sedangkan Nayyara cemberut dan menatap jalan.

Sebenarnya ia juga ingin menertawakan kebodohannya, tapi ditahan karena rasa malu yang mendominasi.

Sesampainya di bandara mereka langsung berjalan menuju pintu kepulangan.

Tama mengedarkan pandangan meneliti setiap orang yang keluar. Ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah sepasang suami istri paruh baya yang masih terlihat segar dan awet muda.

"Itu Amai sama Bapak!" Tama menunjuk ke arah sepasang suami istri paruh baya yang berjalan ke arah nya, dan dijawab anggukan oleh Nayyara.

Nayyara hanya memperhatikan Tama dan orang tuanya, ia melihat sesekali bahu Tama ditepuk-tepuk ayah Tama, sambil berbicara menggunakan bahasa daerah yang Nayyara sama sekali tidak mengerti. Ia hanya memperhatikan sambil tersenyum ramah.

"Ini?" ujar ibu Fatma sambil melemparkan senyum kepada Nayyara.

Tama mengangguk, "iya yang ini…"

Nayyara pun ikut mengangguk pelan dan tersenyum. Lalu menci*m tangan mereka.

Tama merangkul bahu Nayyara, "Ini Nayyara calonku." Nayyara hanya tersenyum menahan rasa canggung nya.

Lalu Tama mengenalkan Nayyara pada bu Fatma dan pak Ridwan, ya mereka adalah Amai dan Bapak Tama.

Di dalam mobil orang tua Tama menceritakan keadaan kampung beserta sanak saudaranya.

Kali ini Nayyara bisa mengerti apa yang mereka bicarakan. Ya, karena kali ini mereka berbicara tidak menggunakan bahasa daerah lagi.

Ibu Fatma bercerita bahwa saudara laki-lakinya, baru saja menikah dan mendapatkan Uang japuik yang sangat mahal dari mempelai wanitanya, karena dalam adat masyarakat Pariaman mempelai wanita memberi sejumlah uang untuk mempelai pria.

Entah mengapa perasaan Tama menjadi tidak nyaman.

Pak Ridwan langsung mengalihkan pembicaraan, yang sadar akan sinyal-sinyal bahaya.

"Amai ga cape? Udah Amai istirahat dulu aja!" Sambil melihat ke arah istrinya. Yang dibalas senyuman khas orang terpaksa oleh bu Fatma.

Sepanjang perjalanan hanya Pak Ridwan yang mendominasi pembicaraan, sambil diselipkan canda-canda kecil.

Sesampainya di apartemen milik Tama, Nayyara membantu menurunkan barang-barang yang dibawa orang tua Tama. Walaupun Tama melarangnya tapi Nayyara bersikeras ingin membantu.

Ibu Fatma terus memperhatikan Nayyara dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kamu tinggal di sini sendirian??" Tanya Pak Ridwan kepada Tama sambil mengedarkan pandangan melihat apartemen.

"Pengennya si sama yang itu Pak, cuman yang itunya ga mau." Tama menunjuk Nayyara yang sedang menghangatkan kuah soto.

Sedangkan bu Fatma beristirahat merebahkan tubuhnya di ranjang salah satu kamar. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.

Rupanya Pak Ridwan sedang memperhatikan Bu Fatma sedari tadi. "Dari siapa Mai?" Suara Pak ridwan mengagetkan Bu Fatma.

"Bukan siapa-siapa Pak." Bu Fatmah meletakan ponselnya.

"Ooo, yuk makan! udah siap semuanya." ajak pak Ridwan.

Bu Fatma terpaksa bangun dari kasur nyaman, yang sedang ia tiduri kemudian berjalan menuju meja makan.

Di meja makan sudah tersedia soto dan bahan pelengkap lainya seperti sambal, kecap, bawang goreng, emping dan aneka sate sudah tertata rapi di meja makan.

Tama sudah terlebih dulu di meja makan, yang disusul bu Fatma dan pak Ridwan, Nayyara yang terakhir bergabung karena dia harus menyiapkan minum terlebih dahulu.

Sebelum makan, bu Fatmah mencicipi sotonya terlebih dahulu, dengan menyendok sedikit kuah soto lalu merasakanya.

Ia hanya merespon dengan menganggukan kepala, tanpa berkomentar apapun, entah apa yang ada dipikirannya. Lalu ia langsung menyantap sotonya.

Sedangkan Tama dan pak Ridwan menyantap sotonya tanpa ragu. Sesekali mereka memuji soto buatan Nayyara, yang membuat hidung Tama kembang kempis mendengar gadisnya dipuji. Puas menyantap soto mereka melanjutkan perbincangan di ruangan tengah.

Nayyara yang pada dasarnya tertutup lebih banyak diam dan mendengarkan. Membuat bu Fatma terus saja memperhatikan Nayyara.

Bu Fatma sangat tahu bahwa Nayyara gadis yang sempurna, cantik, baik, dan mapan, tapi entah apa yang membuat Bu Fatma merasa ragu.

Memang sudah bisa dipastikan firasat seorang Ibu sangat kuat menyangkut kebaikan anaknya.

"Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Bu Fatma melirik ke arah Nayyara.

Nayyara bingung harus menjawab apa, karena sejauh hubungannya dengan Tama, belum pernah membicarakan hal yang serius.

"Rencana tahun ini, aku mau melamar Nayyara, Mai." Ucapan Tama bagai petir di siang bolong, sukses membuat Nayyara dan Bu Fatma terkejut.

"Bagus, tinggal kabarin aja, Bapak pasti siap!" Pak Ridwan tersenyum sambil menepuk bahu Tama.

"Sebelum kalian memutuskan untuk menikah, apa Nayyara tau tradisi kami sebagai orang Pariaman?" Seketika raut wajah Tama berubah mendung mendengarkan pertanyaan bu Ratna untuk Nayyara.

Nayyara menggeleng, "belum Bu." Jawabnya pelan. Sambil berpikir keras, tentang istilah yang disampaikan calon mertuanya, yang bahkan ia baru mendengarnya sekarang.

"Kalo tradisi kami sebagai orang Pariaman ada namanya tradisi bajupuik, jadi pihak perempuan memberikan Uang japuik kepada mempelai laki-laki, sesuai kualitas lelaki seperti pendidikan dan status sosial di masyarakat."

Deg

Sebenarnya Nayyara tidak terlalu mengerti yang bu Fatma katakan, tapi ia merasa dadanya sedikit sesak karena merasa sekarang ia sedang terpojok.

Sesekali Nayyara melirik Tama, mencari arti dari pembicaraan bu Fatma yang hanya dibalas senyuman oleh Tama.

Keluarga Tama sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi entah apa yang membuat bu Fatma seolah mencari alasan untuk menjauhkan Tama dengan wanita pilihannya.

"Tujuan tradisi Bajupuik sebenarnya untuk mengangkat derajat mempelai pria beserta keluarga." ujar pak Ridwan menengahkan pembicaraan.

Nayyara hanya mengangguk-ngangguk mendengar pak Ridwan berbicara.

Tama yang sedang terdiam, menahan dan menata perasaannya yang kecewa, karena pertemuan orang tua dan kekasihnya yang Ia pikir akan berjalan lancar, ternyata menjadi hancur berantakan.

"Sebenarnya nanti akan dikembalikan pada acara Manjalang Mituo, setelah pesta pernikahan."

Deg

Pak Ridwan yang bermaksud menenangkan, malah membuat hati Nayyara tiba-tiba merasakan sakit dan sesak di dada. Secara tidak langsung Nayyara mengerti akan keraguan bu Fatma terhadapnya.

Pikirannya berkelana entah kemana, ia yg tadinya cukup bersemangat bertemu calon mertua, dan berharap mendapat kesan yang baik, seketika merasakan lemas mengetahui kebenaranya.

Senyum keterpaksaan tercetak dari bibir Nayyara, Menutupi kekecewaannya, berharap semua orang disana tidak ada yang menyadari.

***

Insyaallah info bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya.

Tradisi Bajapuik ini mengandung makna saling menghargai antara pihak perempuan dengan pihak laki-laki, dihargai dalam bentuk uang japuik atau dinamakan dengan uang jemputan.

*sumber info hipwee.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED