Sayup-sayup terdengar tangisan pilu di dalam ruangan yang telah hancur berantakan. Tangisan seorang gadis yang merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya hanya bisa terduduk di atas tempat tidur merasakan pilu. Hanya selembar selimut berwarna hijau dengan motif animasi katak favorit yang menutupi tubuhnya.
Perlakuan bejat dan kasar dari seorang pria yang tidak ia kenal mampu mencabik-cabik hati dan harga dirinya. Kehormatan yang selalu ibu ingatkan harus dijaga untuk pendampingnya kelak, kini sudah di renggut dengan paksa dan kejam.
Gadis remaja yang masih sangat rapuh sudah harus mengalami kejadian yang sangat mengerikan. Kekerasan seksual yang ia alami telah melukai fisik dan psikis nya sangat dalam.
Braaaaakk
Terdengar suara pintu yang terbuka dengan paksa. Terlihat seorang ibu muda memegang bangku yang baru saja digunakan untuk membuka pintu yang terkunci.
Wanita itu melihat anak gadisnya dalam kondisi yang sangat mengenaskan terisak-isak di atas tempat tidur,
dengan tubuh bergetar dan hanya menggunakan selimut menutupi tubuh mungilnya.
Dadanya sesak, hati pun ikut teriris pilu, melihat putri cantik yang ia sayangi melebihi diri sendiri dalam kondisi yang sangat tidak berdaya.
Wanita itu menatap anaknya yang memiliki banyak luka di wajah. Kening yang memar, sudut bibirnya yang berdarah, bekas tamparan di wajah, entah bagaimana keadaan tubuh anak gadisnya di balik selimut.
Luka yang tergambar dan bercak darah segar terlukis di seprai, sudah sangat jelas menggambarkan kejadian yang sangat mengerikan dialami putri kesayangannya..
Wanita itu menatap wajah putrinya, tanpa perlu gadis itu bersuara, sorot mata penuh luka sudah membuat ia sangat mengerti apa yang putrinya rasakan. Ia memeluk berharap luka pada putrinya bisa berpindah ke dirinya.
"Hahahaha" tawa menggelegar keluar dari mulut seorang pria yang terlihat seumuran dengan wanita itu.
"Kurang ajar" teriak wanita itu dengan keras meluapkan gemuruh yang ada di dada.
"Apa salah putriku?" Teriakannya tertahan oleh tangisnya sendiri.
"Salahnya ia sangat mirip denganmu!" Pria itu kembali tertawa.
" Bejat dasar kau pria bejat!" wanita itu melempar semua benda yang dapat ia raih kearah pria bejat itu.
Benda tabung berdasar keramik yang biasa digunakan untuk minum, sukses mendarat di kening pria itu.
"Aauuu" pria itu meringis merasakan sakit.
Ia memegang keningnya yang mengeluarkan dara segar mengalir dari kening pria itu.
Melihat pria bejat itu lengah, segera wanita itu menjauh dari putrinya ia meraih gunting dan mengarahkan kepada penjahat itu.
Jleebb gunting itu berhasil menembus leher jenjang wanita itu ya karena lawan yang tak sebanding hasil sudah dipastikan dimenangkan oleh sang pria
"Buuuunnnndaaaaaaaa" gadis mengenaskan itu menatap nanar Ibunya, tubuhnya bergetar, air matanya mengalir tangannya terulur seakan ingin menggapai tubuh yang terkulai di lantai.
"Ssiit!" Pria itu menarik gunting yang tertancap, kemudian berjalan ke arah gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan
"JANGGANNNNN" Nayyara terbangun dari tidurnya.
Luka masa lalu yang Nayyara miliki membuat trauma yang begitu dalam padanya. Mempengaruhi sikapnya terhadap orang lain terutama lawan jenis.
Nayyara sangat sulit untuk percaya dengan seseorang, ia pun sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mimpi buruk bayangan masa lalu pun sering datang pada saat kondisi tubuh dan pikirannya terganggu.
Kini ia harus berjuang menghapus mimpi buruk itu dan berjuang menjalani hidup dengan normal.
***
Nayyara berangkat dengan menggunakan mobil kantor agar bisa mengangkut semua barang yang akan ia bawa. Nayyara menuju pusat perbelanjaan yang berada tidak jauh dari kantor.
Sebenarnya Nayyara bisa saja meminta salah satu supir atau karyawan lain untuk berbelanja, tapi Nayyara memutuskan untuk pergi sendiri karena ia juga harus menyiapkan keperluan yang diperlukan untuk menyambut kedatangan orang tua Tama.
Berbekal catatan di ponselnya, Nayyara mencari semua kebutuhan yang diperlukan untuk Kavi dan istrinya. Ia juga membeli beberapa barang untuknya dan juga membeli sayuran serta daging, ayam dan bumbu-bumbu untuk persiapan memasak besok di rumah Tama.
Nayyara menelpon Tama untuk mampir sebentar memberikan bahan-bahan masakan yang sudah ia beli tadi.
Tama adalah kekasih Nayyara.
"Abang dimana? Aku habis beli sayuran buat masak besok. Aku nitip sayurannya di tempat Abang, Sebelum ke rumah Pak Kavi," ujar Nayyara panjang lebar sambil membuka pintu mobil.
"Kamu belanja sendirian? Kenapa nggak minta temenin Abang,"Tama protes dan kaget
"Iya biasanya ada supir. Cuman ini awal bulan emang sibuk semua, ya udah ini gimana sayurnya mau ditaruh di mana?" Nayyara mendudukan dirinya dan memakai sabuk pengaman.
''Ya udah kamu ke hotel aja. Titip sama anak-anak, abang lagi sidak dulu, kalo udah selesai nanti abang ambil."
Nayyara mengendarai mobil dan menuju hotel milik Tama. Sesampai di hotel Nayyara langsung disambut para karyawan hotel. Sebagian karyawan hotel Tama mengetahui kalau Nayyara adalah kekasih Narotama bos mereka. Mereka menurunkan barang-barang yang akan dibawah Tama.
Tidak butuh waktu lama untuk menurunkan semuanya, Nayyara langsung pamit dan menuju rumah bosnya.
Nayyara membunyikan klakson tanda ingin dibukakan pintu pagar. Terlihat wanita mungil yang seumuran dengannya membuka pagar yang sangat besar.
"Makasih ya Mba" Nayara tersenyum ramah
"Songong lu sama istri Bos!" Mike mendengus kesal
Mike merupakan sahabat Nayyara di kantor. Mike menjalin hubungan dengan bos sampai ke jenjang yang serius dan akhirnya mereka menikah. Walau dalam kisahnya Mike selalu di nomer duakan.
Nayyara memarkirkan mobil di halaman dan berhambur memeluk Mike melepaskan rasa rindu.
"Kangen banget aku sama kamu." Nayyara memeluk erat
"Sama aku juga Nay," Mike membalas pelukan Nayyara sambil mengelus punggung Nayyara
"Aku nganter keperluan Si Bos dan Bu Bos ni." Nayyara melepaskan pelukannya dan mengejek Mike dengan menyebutnya Bu Bos yang dibalas Mike dengan pukulan ringan di lengan atasn, lalu ia membuka pintu bagasi mobil.
"Kamu ko ga bilang-bilang si kan aku bisa ikut belanja," protes Mike
"Ogah belanja sama kamu mah sampe sore."
Nayyara menurunkan barang-barang.
"Udah Nay biar aja biar nanti ada mamang jali yang bawa," Mike menghentikan gerakan tangan Nayyara.
"Mampir dulu Nay, kamu tu dikirim kesini buat nemenin aku tau!" Mike menarik Nayyara masuk ke rumahnya. Nayyara hanya menurut dan mengikuti langkah Mike.
Di dalam ruang tamu yang megah dan mewah di dominasi warna putih, lampu kristal indah nan mewah menghiasi ruangan beserta figura-figura besar sebagai bingkai foto-foto kebersamaan Mike dan Kavi, beberapa lukisan yang indah dan unik tergantung di sudut-sudut ruang menampilkan kesan mewah dan artistik.
"Enak yah!" Nayyara duduk di sofa berwarna putih yang empuk.
"Gimana Ke tinggal di sangkar emas gini?" Naya mengedarkan penglihatannya keseluruh penjuru ruangan.
Mike tersenyum. "Semua hal pasti ada baik dan buruknya Nay."
Nay mengangguk
"Semoga kamu bahagia selalu ya Ke," Naya menggenggam dan mengelus punggung tangan Mike yang berada di sebelahnya.
Mike tersenyum "Dia udah mulai berubah Nay. Udah mulai menyadari keberadaanku."
"Alhamdulillah. Semoga ini awal yang baik ya Ke."
Nayyara bersyukur rumah tangga sahabatnya sudah menemukan titik terang.
Bi Ras, salah satu asisten rumah tangga di rumah Mike membawakan dua gelas minuman dan kudapan untuk mereka.
Nayyara menikmati kudapan yang dibawa oleh Bi Ras. Setelah puas mengobrol yang entah ke mana arah tujuannya, Nayyara berpamitan dan kembali ke kantor.
Nayyara berdiri dari duduknya," aku pamit ya Ke, aku takut suamimu marah-marah."
"Bentar banget si Nay belum juga sejam, lagian mana perna dia marahin kamu, " Mike memukul lengan Nayyara pelan.
"Pernah tau, serem kalo udah marah!" Nayyara terkekeh
"Udah jangan bahas itu lagi."
Mike tersipu malu mengingat kejadian memalukan saat suaminya marah-marah mencarinya padahal dia tertidur di gazebo di belakang rumah.
"Hahaha, muka kamu merah tuh udah kaya udang rebon," Nayyara tertawa puas.
"Udang rebon? Bau dong!" Protes Mike.
"Udah ah tar aku ga pulang-pulang," Nayyara mengambil tas dan memakainya di bahu.
"Sana-sana" ucap Mike ketus sambil mengikuti langkah Nayyara dari belakang lalu menutup pintu rumahnya, setelah melihat mobil yang dikendarai Nayyara keluar dari halaman rumahnya.
Sesampainya di kantor Nayara berpapasan dengan Nura yang habis mengantar tamu dari bosnya Pak Fatir. Nura tersenyum kepada Nayyara
"Wah abis jalan-jalan ya Nay? Ko ga ajak-ajak aku kan mau ikut!"
Entah menyindir atau sok akrab dari perkataan Nura terhadapnya.
Nayyara yang lelah hanya melirik dan meninggalkanya.
"Ih sombong banget lu, Pa Pranoto udah lengser, liat aja seberapa lama Elu bertahan tanpa backupan." Nura merutuki sikap Nayyara.
Rupanya di belakang ada Khalingga yang mendengarkan ucapan Nura.
"Memangnya ada hubungan apa dia dengan Papa?" gumam Khalingga pelan
Khalingga menghampiri Kavi ke ruangan untuk mencari tahu hubungan Papanya dan Nayyara
"Vi skeretatis lu lama amat baliknya dari luar?" tukas Khalingga menyelidiki dan duduk di sofa.
Kavi menghentikan pekerjaan dan meletakan kacamatanya "Dia abis beli barang-barang buat keperluan meeting di luar kota, paling dia lama di rumah ga boleh pulang sama Mike."
"Mike bini lu? Dia kenal bini lu?" Khalingga menyandarkan bahunya
"Iya dia temenan bahkan sahabatan, bini gua udah paling seneng ketemu dia, dulu aja di panggil kembar, tapi menurut gua beda si kalo Nayyara tipe tertutup pake banget, tapi mike humble banget. Mike temennya banyak, Nayyara temennya itu-itu aja. Cuman mike lebih sering bareng Nayyara, anaknya ga neko-neko kalo kata Mike, "aku nyaman banget sama Nay, dingin-dingin empuk." bhuahaha Kavi tertawa mengingat kata-kata mike
Uhuk- uhuk terdengar suara Naya terbatuk-batuk seperti tersedak.
"Orangnya keselek no, lu omongin." tunjuk Khalingga ke arah pintu yang tertutup.
"Hahahah, gua rasa bini gua juga keselek." Kavi masih tertawa sambil menggeleng-geleng kepalanya.
BERSAMBUNG
Tama membelokan mobilnya memasuki menara dari sebuah bank terkemuka di Indonesia. Ia memarkir mobilnya di tempat strategis, menurut pemikiranya yang dekat lift itu adalah strategis karena tidak perlu jalan terlalu jauh.
Tama keluar dari mobil dan sedikit berlari membukakan pintu untuk Nayyara.
Taman menggenggam tangan Nayyara dan meletakan di lengannya, "yuk."
Nayyara hanya bisa mengikuti kemauan Tama.
Mereka lalu masuk ke dalam lift menuju lantai 56. Sesampainya di lantai yang dimaksud, mereka disambut oleh resepsionis lalu mempersilahkan mereka masuk dengan mudah. Sedangkan ada pengunjung yang tidak diperbolehkan masuk karena pakaian mereka tidak sesuai standar aturan.
"Kita duduk di luar aja."
Ajak Tama sambil mengedarkan pandangan mencari tempat yang kosong. Karena ini hari kerja jadi masih ada beberapa meja kosong.
Tama menawarkan Nayyara untuk duduk di dekat kolam yang mejanya bertuliskan reserved. Nayyara menolak karena yang ia dengar dari percakapan Tama dan resepsionis ada minimal order 1 jutaan.
"Engak ah, ada minimal order gitu sampe 1 jutaan."
Nayyara menggeleng tak setuju.
Akhir mereka random saja memilih meja yang kosong. Sebenarnya Tama tidak masalah dengan minimal order, tapi dia lebih menurut dan menghargai pendapat Nayyara.
"Kamu mau pesan apa?" Tama membolak-balikan menu
"Terserah kamu aja aku ga ngerti," jawab Nayyara pasrah.
Tama menunjuk gambar pada menu yang diikuti anggukan waitress. Tidak menunggu waktu lama pesanan mereka datang.
Nayyara mengambil minuman yang sudah dipesankan untuknya.
"Ini minuman apa Bang? Cantik banget rasanya unik, rasa apel campur jeruk nipis ada rasa-rasa berrinya juga."
Ia mengangkat dan memutar-mutar gelas minuman tersebut.
"Forget me not, minuman itu tu kaya kamu, penampilanya cantik rasanya unik pas dan seger," jawab Tama sambil mengunyah makanan dan menunjuk-nunjuk Nayyara dan minuman cantik itu bergantian.
Nayyara mencibirkan bibirnya mendengar perumpamaan Tama.
"Tau ah."
Nayyara menoleh ke samping seolah malas melihat Tama.
"Aku baru tau kalo di tower ini ada tempat seperti ini." Nayyara memandang lurus ke depan melihat pemandangan Jakarta pada malam hari. Ia menikmati indahnya kota Jakarta pada malam hari. Kilauan lampu dari berbagai bangunan, jalan dan kendaraan berbaur menjadi kesatuan yang indah seperti lautan cahaya.
Kini Tama berpindah tempat duduk di samping Nayyara. Memandang lurus ke arah yang sama.
"Orang-orang si bilang ini tu atap bumi Sky Bar and Restaurant."
Suasana yang nyaman untuk menikmati malam Jakarta, tanpa suara bising degupan musik DJ, bahkan hanya segelintir orang yang merokok di sana. Membuat siapapun betah berlama-lama untuk melupakan kesibukan kota Jakarta.
Setelah merasa kenyang dan puas, mereka memutuskan untuk pulang. Tama mengantar Nayyara pulang terlebih dahulu.
"Mau mampir?" Nayyara membuka seat beltnya.
Tangan Tama ikut membantu Nayyara melepaskan seat belt.
"Besok aja biar kamu bisa istirahat cepet."
Tama hendak membuka seat bealtnya namun ia urungkan karena Nayyara menahannya.
"Udah nggak usah turun."
Nayyara lalu membuka pintu mobil.
"Tunggu! ada yang ketinggalan."
Sebelum Nayyara keluar Tama mencegahnya.
Tama bermaksud melancarkan aksi balas dendamnya kepada Nayyara. Dia berusaha mencium pipi Nayyara namun tertahan oleh seat beltnya yang masih terpasang. Tama berusaha menarik-narik tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Nayyara tapi usahanya sia-sia.
"Isss pake nyangkut lagi ni."
Tama mendengus kesal.
Nayyara terkejut menyadari tindakan yang akan Tama lakukan kepadanya. Sedetik kemudian tersadar dengan posisi Tama yang masih menyangkut pada seat belt.
"Hahahaha," Nayyara tertawa puas.
"Kasian deh kamu."
Ia lekas pergi dan meninggalkan Tama di mobil.
Dari dalam mobil Tama melihat Nayyara yang berlari dan memasuki rumah. Tama masih tak habis pikir dengan kelakuan dirinya sendiri, yang tidak memastikan kelancaran aksinya, ia menggeleng-gelengkan kepala dan menertawakan kekonyolannya.
***
Paginya Nayyara bangun dengan keadaan yang masih terlihat berantakan khas orang bangun tidur. Kaos yang kebesaran dan celana boxer pendek yang nyaman untuk ia gunakan saat tidur.
Semua sudah bersiap untuk sarapan bersama. Nayyara terkejut ternyata Tama sudah datang dan ikut sarapan bersama orang tuanya.
"Abang!" Nayyara terkejut
"Dari tadi loh Tama datangnya, udah ngobrol-ngobrol lama sama Papa."
Pak Riswa berbicara sambil mengunyah makanan.
Tama hanya merespon dengan senyuman.
“Kamu nggak kerja Nay?" Bu Ani bingung melihat putrinya yang masih mengenakan kostum tidur kebangsaan.
"Aku hari ini izin Bu, mau jemput orang tua Bang Tama."
Bu Ani membulatkan mulutnya, "Ooo."
Mereka melanjutkan sarapan sampai habis. Selesai sarapan Nayyara ingin membantu bu Ani untuk cuci piring dan merapikan peralatan makan tapi malah dicegah karena sudah ada Tama yang menunggu.
"Yuk, jalan!" suara Nayyara membuyarkan konsentrasi Tama pada ponsel yang sedari tadi ia gunakan untuk menghilangkan rasa bosannya menunggu Nayyara berdandan, sudah dipastikan menunggu seorang wanita bersiap-siap tidak membutuhkan waktu yang sebentar.
Mereka lalu berpamitan kepada Bu Ani dan Pak Riswa untuk ke rumah Tama.
Sesampainya di apartemen Tama, Nayyara langsung bergegas ke dapur dan memasak. Ia memotong sayuran seperti kol dan wortel. Menyiapkan bumbu untuk dihaluskan dan merebus ayam dan daging.
Tama dari tadi hanya memperhatikan Nayyara lalu berjalan mendekati Nayyara,
"Kamu mau masak apa?"
"Aku mau bikin soto aja ya Bang, kan Abang bilang kalo Bapaknya Abang suka soto." ucap Nayyara sambil menggoreng bumbu halus yang berwarna kuning.
"Kamu bisa bikin soto?" bukanya menjawab Tama balas bertanya.
"Hhmmm" jawab Nayyara dengan berdehem.
"Hebat banget si kamu." Tama mengacak2 puncak kepala Nayyara.
Nayyara memisahkan kol, bihun, dan kentang setelah matang. Kuah soto yang mengepul dan mendidih menandakan soto sudah siap. Semuanya sudah ia pisah di wadah yang berbeda dan berjajar rapi agar mudah saat ia meraciknya.
Setelah selesai memasak Nayyara merapikan apartemen Tama yang sebenarnya sudah tertata rapi.
"Ok finish" ujarnya setelah selesai memasak dan merapikan apartemen Tama.
"Kamu makan lagi Bang?" Nayyara heran melihat Tama seperti orang belum sarapan padahal ia sudah sarapan cukup banyak di rumahnya. Ya begitulah Narotama sikap yang humble dan apa adanya membuat orang nyaman terhadapnya tanpa rasa sungkan.
"Iya abis soto kamu enak banget sih," Tama menyantap soto buatan Nayyara yang entah sudah mangkuk keberapa.
Nayyara duduk di samping Tama, "Mau ke bandara jam berapa?"
"Jam 13.00 kita berangkat." Tama menggeser mangkuk nya yang sudah kosong.
Nayyara mengangguk, lalu ia mengambil mangkuk kotor milik Tama dan menuju dapur untuk mencucinya.
"Astaga aku lupa bikin bawang gorengnya." Nayyara menepuk jidat, ia langsung mengambil bawang merah dan segera ia mengupas lalu memotongnya.
Air mata Nayyara menetes merasakan perih akibat memotong bawang.
"Kamu nangis?" Tama langsung memutar tubuh Nayyara hingga menghadapnya.
Nayyara mengerjap-ngerjapkan mata, "Nggak apa-apa udah biasa kalo motong bawang emang kaya begini"
Tama menghapus air mata di pipi Nayyara. Seketika pandangan mata mereka saling bertemu.
Rasa panas tiba-tiba menjalar di wajah Nayyara. Tangan Tama masih berada di pipi Nayyara, Tama semakin dalam menatap manik milik Nayyara, debaran jantung Nayyara semakin tak terkendali. Tama memberanikan diri untuk memajukan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka.
Nayyara terdiam rasa takut akan teringat kejadian kelam masa lalu membuat dadanya bergemuruh.
"Boleh?" Tanya Tama pelan.
Entah harus menjawab apa, Nayyara hanya mengangguk.
Saat tidak ada lagi jarak di antara mereka. Nayyara sedikit menahan tubuh Tama.
"Jangan dipaksa," ujar Tama sambil mendorong pelan kepala Nayyara dengan satu telunjuknya.
Saat Tama ingin membalikan tubuhnya, Nayyara menahan Tama dan memberanikan dirinya menci*m Tama.
Jantung Nayyara semakin berdegup kencang ia bingung harus apa lagi.
Sedangkan Tama sedikit terkejut tapi sedetik kemudian ia tersadar dan menikmati benda kenyal milik Nayyara.
Nayyara masih tertegun pada posisi awal, tubuhnya sangat kaku, jantung masih terus memompa begitu cepat, ia hanya membiarkan Tama bergerak aktif.
Sensasi manis dan lembut dari bibir Nayyara, serta aroma bunga yang lembut dari tubuh Nayyara, membuat Tama tidak mau berhenti untuk menikmatinya.
Entah memiliki keberanian dari mana Nayyara membuang dan melupakan lukanya. Perlahan ia terhanyut akan sentuhan Tama memberanikan diri untuk membalas dan merespon gerakan Tama.
Keraguan di hati yang sempat mendominasi hati dan pikirannya telah lenyap. Tubuh yang tadinya menolak sekarang tidak sungkan untuk menerima dan membalas.
Gerakan mereka semakin berirama saling berbalas, meluapkan perasaan satu sama lain. Yang sesekali terjeda untuk memenuhi udara di paru-paru mereka masing-masing
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Tama terus tersenyum bahagia, seperti anak kecil mendapatkan mainan kesukaannya. Sedangkan Nayyara hanya menahan malu karena kejadian tadi masih berputar-putar di kepalanya.
Tama masih fokus mengendarai mobil, lalu melirik Nayyara, "kamu cepet belajar yah?" Dengan senyum lebar nan bahagia.
Nayyara makin tersipu malu, mendengar Tama membahas kejadian tadi. "Apaan si?!" Nayyara menjawab yang disertai pukulan ke bahu Tama.
Bukanya merasa sakit Tama malah tertawa "hahaha".
Sedangkan Nayyara cemberut dan menatap jalan.
Sebenarnya ia juga ingin menertawakan kebodohannya, tapi ditahan karena rasa malu yang mendominasi.
Sesampainya di bandara mereka langsung berjalan menuju pintu kepulangan.
Tama mengedarkan pandangan meneliti setiap orang yang keluar. Ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah sepasang suami istri paruh baya yang masih terlihat segar dan awet muda.
"Itu Amai sama Bapak!" Tama menunjuk ke arah sepasang suami istri paruh baya yang berjalan ke arah nya, dan dijawab anggukan oleh Nayyara.
Nayyara hanya memperhatikan Tama dan orang tuanya, ia melihat sesekali bahu Tama ditepuk-tepuk ayah Tama, sambil berbicara menggunakan bahasa daerah yang Nayyara sama sekali tidak mengerti. Ia hanya memperhatikan sambil tersenyum ramah.
"Ini?" ujar ibu Fatma sambil melemparkan senyum kepada Nayyara.
Tama mengangguk, "iya yang ini…"
Nayyara pun ikut mengangguk pelan dan tersenyum. Lalu menci*m tangan mereka.
Tama merangkul bahu Nayyara, "Ini Nayyara calonku." Nayyara hanya tersenyum menahan rasa canggung nya.
Lalu Tama mengenalkan Nayyara pada bu Fatma dan pak Ridwan, ya mereka adalah Amai dan Bapak Tama.
Di dalam mobil orang tua Tama menceritakan keadaan kampung beserta sanak saudaranya.
Kali ini Nayyara bisa mengerti apa yang mereka bicarakan. Ya, karena kali ini mereka berbicara tidak menggunakan bahasa daerah lagi.
Ibu Fatma bercerita bahwa saudara laki-lakinya, baru saja menikah dan mendapatkan Uang japuik yang sangat mahal dari mempelai wanitanya, karena dalam adat masyarakat Pariaman mempelai wanita memberi sejumlah uang untuk mempelai pria.
Entah mengapa perasaan Tama menjadi tidak nyaman.
Pak Ridwan langsung mengalihkan pembicaraan, yang sadar akan sinyal-sinyal bahaya.
"Amai ga cape? Udah Amai istirahat dulu aja!" Sambil melihat ke arah istrinya. Yang dibalas senyuman khas orang terpaksa oleh bu Fatma.
Sepanjang perjalanan hanya Pak Ridwan yang mendominasi pembicaraan, sambil diselipkan canda-canda kecil.
Sesampainya di apartemen milik Tama, Nayyara membantu menurunkan barang-barang yang dibawa orang tua Tama. Walaupun Tama melarangnya tapi Nayyara bersikeras ingin membantu.
Ibu Fatma terus memperhatikan Nayyara dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kamu tinggal di sini sendirian??" Tanya Pak Ridwan kepada Tama sambil mengedarkan pandangan melihat apartemen.
"Pengennya si sama yang itu Pak, cuman yang itunya ga mau." Tama menunjuk Nayyara yang sedang menghangatkan kuah soto.
Sedangkan bu Fatma beristirahat merebahkan tubuhnya di ranjang salah satu kamar. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
Rupanya Pak Ridwan sedang memperhatikan Bu Fatma sedari tadi. "Dari siapa Mai?" Suara Pak ridwan mengagetkan Bu Fatma.
"Bukan siapa-siapa Pak." Bu Fatmah meletakan ponselnya.
"Ooo, yuk makan! udah siap semuanya." ajak pak Ridwan.
Bu Fatma terpaksa bangun dari kasur nyaman, yang sedang ia tiduri kemudian berjalan menuju meja makan.
Di meja makan sudah tersedia soto dan bahan pelengkap lainya seperti sambal, kecap, bawang goreng, emping dan aneka sate sudah tertata rapi di meja makan.
Tama sudah terlebih dulu di meja makan, yang disusul bu Fatma dan pak Ridwan, Nayyara yang terakhir bergabung karena dia harus menyiapkan minum terlebih dahulu.
Sebelum makan, bu Fatmah mencicipi sotonya terlebih dahulu, dengan menyendok sedikit kuah soto lalu merasakanya.
Ia hanya merespon dengan menganggukan kepala, tanpa berkomentar apapun, entah apa yang ada dipikirannya. Lalu ia langsung menyantap sotonya.
Sedangkan Tama dan pak Ridwan menyantap sotonya tanpa ragu. Sesekali mereka memuji soto buatan Nayyara, yang membuat hidung Tama kembang kempis mendengar gadisnya dipuji. Puas menyantap soto mereka melanjutkan perbincangan di ruangan tengah.
Nayyara yang pada dasarnya tertutup lebih banyak diam dan mendengarkan. Membuat bu Fatma terus saja memperhatikan Nayyara.
Bu Fatma sangat tahu bahwa Nayyara gadis yang sempurna, cantik, baik, dan mapan, tapi entah apa yang membuat Bu Fatma merasa ragu.
Memang sudah bisa dipastikan firasat seorang Ibu sangat kuat menyangkut kebaikan anaknya.
"Sudah sejauh mana hubungan kalian?" Bu Fatma melirik ke arah Nayyara.
Nayyara bingung harus menjawab apa, karena sejauh hubungannya dengan Tama, belum pernah membicarakan hal yang serius.
"Rencana tahun ini, aku mau melamar Nayyara, Mai." Ucapan Tama bagai petir di siang bolong, sukses membuat Nayyara dan Bu Fatma terkejut.
"Bagus, tinggal kabarin aja, Bapak pasti siap!" Pak Ridwan tersenyum sambil menepuk bahu Tama.
"Sebelum kalian memutuskan untuk menikah, apa Nayyara tau tradisi kami sebagai orang Pariaman?" Seketika raut wajah Tama berubah mendung mendengarkan pertanyaan bu Ratna untuk Nayyara.
Nayyara menggeleng, "belum Bu." Jawabnya pelan. Sambil berpikir keras, tentang istilah yang disampaikan calon mertuanya, yang bahkan ia baru mendengarnya sekarang.
"Kalo tradisi kami sebagai orang Pariaman ada namanya tradisi bajupuik, jadi pihak perempuan memberikan Uang japuik kepada mempelai laki-laki, sesuai kualitas lelaki seperti pendidikan dan status sosial di masyarakat."
Deg
Sebenarnya Nayyara tidak terlalu mengerti yang bu Fatma katakan, tapi ia merasa dadanya sedikit sesak karena merasa sekarang ia sedang terpojok.
Sesekali Nayyara melirik Tama, mencari arti dari pembicaraan bu Fatma yang hanya dibalas senyuman oleh Tama.
Keluarga Tama sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi entah apa yang membuat bu Fatma seolah mencari alasan untuk menjauhkan Tama dengan wanita pilihannya.
"Tujuan tradisi Bajupuik sebenarnya untuk mengangkat derajat mempelai pria beserta keluarga." ujar pak Ridwan menengahkan pembicaraan.
Nayyara hanya mengangguk-ngangguk mendengar pak Ridwan berbicara.
Tama yang sedang terdiam, menahan dan menata perasaannya yang kecewa, karena pertemuan orang tua dan kekasihnya yang Ia pikir akan berjalan lancar, ternyata menjadi hancur berantakan.
"Sebenarnya nanti akan dikembalikan pada acara Manjalang Mituo, setelah pesta pernikahan."
Deg
Pak Ridwan yang bermaksud menenangkan, malah membuat hati Nayyara tiba-tiba merasakan sakit dan sesak di dada. Secara tidak langsung Nayyara mengerti akan keraguan bu Fatma terhadapnya.
Pikirannya berkelana entah kemana, ia yg tadinya cukup bersemangat bertemu calon mertua, dan berharap mendapat kesan yang baik, seketika merasakan lemas mengetahui kebenaranya.
Senyum keterpaksaan tercetak dari bibir Nayyara, Menutupi kekecewaannya, berharap semua orang disana tidak ada yang menyadari.
***
Insyaallah info bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya.
Tradisi Bajapuik ini mengandung makna saling menghargai antara pihak perempuan dengan pihak laki-laki, dihargai dalam bentuk uang japuik atau dinamakan dengan uang jemputan.
*sumber info hipwee.