Pria gagah itu berdiri menatap salju yang memenuhi daerah tempat tinggalnya selama lima tahun di Swiss. Rumah besar itu, hanya dihuni dirinya dan pelayan yang bekerja hingga pukul lima sore. Setelahnya, semua ia minta kembali ke paviliun yang ada di belakang rumah utama tempatnya tinggal.
PRAS JOSEPH HADILAKSMONO, atau di dunia bisnis ia dikenal dengan panggilan 'Sir', atau 'Pras' bagi orang yang dekat dengannya.
Salju dingin itu sama seperti hatinya yang kembali dingin setelah masa lalu pahit dengan mantan istri yang mengkhianatinya. Pakaian hangat yang ia kenakan pun sebenarnya masih belum bisa menutupi hawa dingin yang ia rasakan. Napasnya terasa berat, kedua matanya menatap nanar, sungguh ia tak ingin mati seorang diri. Kedua orang tuanya dua tahun lalu sudah pergi selamanya. Ia anak tunggal dengan kekayaan berlimpah namun miskin kebahagiaan.
Gelas wiski ia pegang erat. Berniat sekedar menghangatkan tenggorokan tapi berakhir sia-sia. Ponselnya berbunyi. Ia meletakan gelas dan menerima panggilan dari tanah air - Indonesia.
"Ya," jawabnya dingin.
"Selamat malam waktu tanah air, Pak, apa kabar?" Suara yang lama sudah ia tak dengar.
"Ya. Kabar saya baik, kamu apa kabar, Galang. Ada hal penting apa sampai telepon saya." Pras masih berdiri didekat jendela besar rumahnya.
"Apa Pak Pras bisa kembali ke tanah air? Tiga hari lagi gala dinner untuk para pengusaha karena ada pembukaan beberapa brand ternama perhiasan, dan launcing mobil sport terbaru dari perusahaan eropa, kali ini saya minta maaf tidak bisa mewakili Pak Pras. Mereka meminta Pak Pras yang hadir."
Helaan napas terdengar dari Pras. Ia memijat pangkal hidungnya.
"Saya akan hadir. Siapkan hotel untuk saya menginap. Saya juga merasa bosan di sini, sekaligus liburan sebentar."
"Baik, Pak. Apa Pak Pras butuh hal lain?" tanya Galang.
"Tidak. Ah... ada!" tegas Pras.
"Apa itu, Pak?"
Pras terkekeh sebentar. "Sampaikan salamku ke Jevan dan Aira, kapan Aira melahirkan bayi kembar kalian?"
Tawa Galang diseberang sana terdengar begitu bahagia, Pras pun tersenyum.
"Tiga hari lagi Pak, dan Jevan sehat, dia udah nggak sabar jadi, Abang."
"Wah! Jagoan saya sudah siap ya jadi Abang. Ok. Saya bawa hadiah terbaik untuk Jevan dan si kembar. Tunggu barangnya sampai di sana nanti."
"Jadi merepotkan Pak Pras." Galang kembali terkekeh.
"Ck. Masih kaku. Panggil saya Kakak kalau bukan urusan kantor, Galang." gerutu Pras. Lalu tawa keduanya pecah.
Pras sudah menganggap Galang orang yang paling ia percaya mengurus perusahaannya di tanah air dan cabang lainnya di saat ia sudah lelah terjun langsung serta ia menganggapnya sebagai adik. "Ok, Kak. Siap. Safe flight. Gue siapin semua di sini. I have to go. Aira butuh sesuatu kayaknya."
"Ok. Bye." Pras menyudahi pembicaraannya, ia lalu menekan nomor lain kemudian berbicara sambil melangkahkan kaki ke arah tangga menuju ke kamar. "Ya. Siapkan semuanya, penerbangan secepatnya ke Indonesia." Ia menelepon asistennya yang bekerja bersamanya di Swiss, Andreas, yang asli pribumi.
***
Seorang pramugari memberi tahu kalau tiga jam lagi akan mendarat di Jakarta. Pras mengangguk dan meletakan buku yang sedang ia baca ke dalam tas yang ia bawa. Ia melihat ke jendela pesawat. Matahari bersinar terang, ia kembali ke tanah kelahirannya. Pras juga tak sabar melihat Jevan yang sudah berusia empat tahun. Galang dan Jevan yang akan menyambut kedatangannya. Hanya mereka. Sanak saudara lain ada di Surabaya dan tak begitu dekat hubungan kekeluargaannya.
Pesawat mendarat dengan sempurna. Ia menempati kelas bisnis. Tak banyak barang yang ia bawa. Bahkan koper pun tidak. Hanya satu tas ransel berbahan kulit dari merk terkenal dunia yang ia bawa. Kaca mata hitam ia kenakan. Tubuh tinggi kekar dengan potongan rambut cepak tak menggambarkan dirinya yang berusia hampir kepala lima.
Tak ada perasaan jet lag atau aneh. Ia berjalan santai dengan satu tangan ia masukan ke saku celana jeansnya. Hingga selesai pemeriksaan imigrasi pun ia lewati dengan lancar. Beberapa orang menghampiri dan memberi salam dengan membungkukkan badan.
"Mobil sudah siap, Pak," ucap salah satunya.
"Andreas. Apa permintaan saya sudah siap?" Ia melirik dari balik kaca mata hitamnya ke arah Andreas.
"Sesuai permintaan Pak Pras. Nanti akan siap di tempat." Andreas berbicara tanpa menatap ke kedua mata Pras, menunjukan kesopanan dan segan.
"Good. Saya satu mobil dengan Galang, mobil yang kalian siapkan, bawa kembali ke hotel. Sudah buka kamar untuk kalian, kan?"
"Sudah, Pak. Terima kasih."
"Ok."
Pras lalu berjalan kembali dengan empat orang ikut berjalan di belakangnya. Langkah Pras terhenti saat melihat cengiran anak kecil laki-laki yang berlari menghampirinya. Pras berlutut dan menyambut dengan rentangan kedua tangan.
"Sir," sapa bocah lelaki itu. Pras tertawa. Ia lalu memeluk dan mengangkat tubuh anak kecil itu ke gendongannya.
"Panggil apa tadi? Nggak denger?" ledek Pras.
"Sir." lalu anak kecil itu tertawa karena Pras mengeletikinya.
"Ok. I am so sorry uncle," tawa Jevan terdengar keras.
"Call me what?" Pras kini menciumi Jevan yang kegelian karena bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang lelaki dewasa itu.
"Uncle Pras. My uncleee! Geli uncle." Jevan tertawa. Pras lalu menurunkan Jevan dari gendongannya. Dan menyambut Galang dengan berpelukan ala pria.
"Welcome back, Kak..." ucap Galang.
"Thank you, Bro..." jawab Pras.
Mereka lalu berjalan ke arah mobil Galang yang juga, ia sendiri yang menyetir. Tak lama, sedan hitam mahal itu melesat di jalan bebas hambatan.
"Bener mau mampir ke rumah dulu? Nggak ketemuan di hotel aja?" Galang melirik ke mantan bosnya yang sudah menjadi kakaknya itu.
"Nope. I miss your wife too, gue mau lihat perut Aira gendut. You are so lucky dude. Gue nggak bisa rasain apa yang lo rasain. So let me see the baby bumb."
"Mulai, deh. Our kids is your kids too bro, Jevan boleh kok panggil kamu Dad, Papi, Ayah, or Bapak." Galang tertawa.
"Can i call you 'Dad', sir?" Ledek Jevan yang duduk di jok belakang. Pras menoleh ke belakang dan tertawa.
"Kecil-kecil udah bisa ngeledek?" Pras terkekeh.
"No. I just try to make you laught and i did it right?" sahut Jevan lagi. Pras dan Galang tertawa. Aira mendidiknya memang harus bisa membaur dengan siapa saja. Tak boleh merasa malu atau minder. Tapi kadang terlalu bawel juga untuk seorang anak kecil.
Mereka sampai di depan rumah Galang yang tak terlalu besar untuk seorang CEO perusahaan ternama. Pras turun dan di susul Jevan. Bocah kecil itu menggandeng tangan Pras dan berjalan ke dalam rumah.
"Aira..." sapa Pras dengan suara beratnya. Aira berjalan dengan perlahan. Perutnya sudah besar sekali.
"Kak Pras, apa kabar?" Aira berjabat tangan. Pras mengusap kepala Aira. Lalu berganti mengusap perut buncit wanita itu.
"Kamu apa kabar, sudah keras banget perut kamu. Aku baik-baik aja, Aira," jawab Pras.
"Iya. Hasil olahan Galang, nih. Kembar kali ini." Kekeh Aira. Pras tertawa. Galang masuk ke dalam rumah dan mengecup kening Aira. Lalu melirik Pras.
"Kita bikin Kak Pras iri sayang...." Galang tak risih. Ia menciumi wajah Aira di depan Pras yang hanya tertawa lalu berjalan masuk ke dalam rumah itu. Ia langsung duduk di sofabed warna kuning terang dan memanggil Jevan sambil mengeluarkan sebuah amplop coklat.
"Apa ini, Dad?" tanya Jevan ia lalu membukanya. Lembaran uang dollar ia letakkan di atas meja. Jevan bingung.
"Buat beli mainan," jawab Pras sambil merentangkan kedua tangannya ke udara meregangkan otot tubuhnya.
"Home sweet home...." ucap Pras, ia lalu tersenyum sambil memejamkan mata.
"Pa! Ma! Ini kata Daddy Pras buat beli mainan. Bisa dapet berapa?" Jevan masih bingung. Galang berjalan menghampiri sambil berbicara,
"Sama toko-tokonya." Celetuk Galang sambil merapikan dan memasukan kembali ke dalam amplop.
"Kak, berlebihan ini." Galang protes.
"Shut your mouth, buat keponakan gue, uang segitu nggak ada artinya buat gue," jawab Pras sambil memejamkan mata.
"Kak, jangan begitu, Aira nggak bisa terimanya." Kini suara Aira terdengar. Pras membuka kedua matanya.
"Do what you wanna do, gue udah kasih buat Jevan. Terserah kalian sisanya mau diapain."
Tatapan Pras mengintimidasi. Duda matang nan menggoda itu tak bisa dibantah. Galang dan Aira saling menatap. Ia lalu meninggalkan Pras ke dalam kamar yang sedang duduk santai di temani Jevan.
"Kita cari calon istri buat dia deh, Ra. Risih aku lama-lama kalau dia manjain anak-anak kita kayak gini. Keburu lapuk juga nanti." Galang tertawa hingga kedua matanya menyipit.
"Hus. Ngaco ngomongnya. Nggak lihat tuh penampilan dia masih setegap itu. Om-om inceran cabe-cabean banget itu. Sugar daddy. Tapi aku nggak mau kalau sampai dia punya baby sugar atau pelacur buat jadi one night standnya dia, Ya."
"Makanya. Kita jodohin sama siapa ya?" Galang mondar mandir di dalam kamarnya.
"Sabar aja dulu. Dua minggu kan di sini, siapa tau ada jalannya nanti, kita fokus ke ini duit segepok 3000 dollar mau diapain. Ini kalo di rupiahin bisa buat bayar sekolah Jevan sampe lulus TK dua tahun."
"Salah kita anggap dia Kakak sekarang, kalau manjain Jevan sampe segini. Kenapa nggak dari dulu aja kan ya, aku jadi nggak perlu lewatin fase kerja di pabrik." Aira melotot mendengar penuturan suaminya itu.
"Eh... eh... eh... mau buka kisah lama?!" Aira berkacak pinggang.
"Hahaha, nggak sayang. Hah..., si kembar mau lahir, aku puasa dong, empat puluh hari?"
"Iya dong, Papa Galang, enak kan, pu-a-sa." Pelotot Aira. Galang menunduk lesu sambil mengusap perut buncit Aira.
"Makanya. Jangan kelupaan cabut melulu," ledek Aira. Ia lalu melepaskan tangan Galang dan berjalan ke arah lemari.
"Idih. Aku disalahin. Kamu kan yang suka nahan-nahan, dikit lagi, Lang, jangan, cab--" Aira membekap mulut Galang dengan tangannya.
"Aku cabein mulut kamu mau?!" Pelotot Aira lagi. Galang terkekeh. Ia lalu mengecup kening dan bibir Aira.
"Biarin. Aku mau punya anak banyak pokoknya," Galang memeluk Aira walau pelukannya terhalang kedua anak kembarnya di dalam perut istri tercintanya itu.
"Aku kasian sama Kak Pras, dia nggak bisa kasih keturunan ke perempuan mana pun." Suasana menjadi sendu. Galang setuju dengan ucapan Aira.
"Mudah-mudahan ada wanita yang bisa terima kondisi Kak Pras suatu saat nanti."
"Kak," Seorang pegawai toko pakaian grosir wanita memanggil wanita tiga puluh satu tahun bernama Laurent yang sedang menekan angka di kalkulator dengan jemari tangan kanannya. Sedangan tangan kirinya membuka lembar demi lembar nota rekapan transaksi pembeli.
"Hm..." Respon yang menyimpulkan bahwa Laurent tak bisa diganggu. Pegawai itupun mengurungkan bertanya kepasa boss nya. Telfon disebelah Laurent bersering. Ia mengambil gagang telfon dan menahan dengan lengannya seraya menempelkan ke telinga.
"Ya halo."
"....."
"Seri 10052. Bentar gue tanya." Laurent menatap sekitar. Empat pegawainya sedang sibuk melayani pembeli. Ia lalu mengetik sesuatu di laptop dan menekan kode 10052.
"Halo, ada nih. Tapi tinggal 3. 1 seri semua. Gue nggak mau lu ambil pisah-pisah."
"...."
"Iya. Cash. Ogah gue lu ngebon. Nanti Lani gue suruh ke tempat lu."
"...."
"Hmmmm! Awas lu. Ada duit ada barang"
Ketus Laurent sambil menutup telfon.
"Lani!" Panggil Laurent. Lani berlari menghampiri boss nya.
"Kamu bawa 10052, 3 seri ke tempat si Johan. Kamu terima dulu duitnya. Hitung, baru kasih barangnya"
"Iya kak. Siap." Lani menuju ke sudut ruangan dan mencari pakaian dengan kode tersebut. Sedangan Laurent menyiapkan nota nya.
Laurent. Wanita tiga puluh satu tahun yang merantau dari manado ke jakarta sejak usia sembilan belas tahun. Jalan hidupnya miris. Hingga ia bisa berjuang dan bertahan hingga menjadi boss dari dua toko pakaian wanita di tempat grosir terbesar se-asia tenggara.
Laurent tak ada sanak saudara. Ia benar-benar berusaha dengan dirinya sendiri dan otak analisa yang baik. Tak ada yang tau kalau Laurent adalah seorang mantan Wanita BOOKING ORDER atau BO para pria pengusaha atau biasa kita sebut om-om kesepian, sugar daddy, pria hidung belang atau apapun sebutannya.
Hidupnya hancur sebelum ia menjadi sukses dengan usaha toko pakaian dan wanita BO. Perlu diingat. Laurent yang cerdas, sejak dulu tak membuka identitas dirinya kepada setiap pelanggan yang memakai jasanya. Ia bermain apik dengan banyak cara supaya para lelaki itu tak meminta ia menunjukan wajahnya.
Uang yang ia dapatkan pun dijadikan modal untuk membuka usahanya. Ia telah pensiun satu tahun lalu untuk menjajaki dirinya di dunia prostitusi tersebut. Tujuan lain datang saat ia merasa sudah cukup mapan dengan usahanya.
Ia ingin mencari kembarannya. LAURA. Yang terpisah sejak mereka usia sepuluh tahun. Keluarga mereka menjadi korban perampokan dan pembunuhan saat masih tinggal di sana. Laura dan Laurent bersembunyi di dalam gudang kecil di dekat dapur saat hal menyeramkan itu terjadi. Rumah mereka pun di bakar para perampok. Mereka berdua berusaha keluar dari Api dengan cara berlari bersama dan saling merangkul. Sejak saat itu, kehidupan miris mulai terjadi.
***
"Lo nggak pingin balik ke Manado, Ren?"
Asap rokok mengebul dari bibir wanita sepantaran dirinya saat mereka makan siang di tempat makan kaki lima yang ada disekitar pusat grosir.
"Nggak. Ngapain." Jawab Laurent sambil meneteskan liquid rasa leci di alat penghisap rokok elektrik miliknya.
"Nggak kangen keluarga?" Lanjut Cita.
"Keluarga gue udah mati. Udah lah, nggak usah bawa-bawa keluarga. Bikin mood gue drop."
Laurent lalu menghisap dan menghembuskan asap tebal dari mulutnya. Beberapa pria menatapnya. Laurent hanya melirik sinis tak perduli.
"Nanti malam jadi, ya, Rent. Gue minta tolong banget ke elo." Citra mematikan puntung rokoknya. Laurent mengangguk.
"Orangnya si udah di hotel. Stay di sana dua minggu. Tapi dia pingin ngobrol dulu sama lo. Acara besarnya besok malam. But please, jangan kasar sama ni orang, dia bukan sembarang laki-laki." Citra berbisik sedikit. Mencondongkan tubuhnya kedepan Laurent.
"Lo tau, ini orang udah bisa di sejajarkan sama sultan Dubai tau nggak lo."
"Really?" Respon Laurent justru terkekeh sinis. Ia akan selalu sama menganggap bahwa pria yang bisa atau mau membooking seorang wanita bayaran itu justru pria rendahan yang tak ada harga diri.
"Yaudah. Kalau gitu suruh jemput gue aja. Atau gue samperin dimana kalau dia nggak mau di hotel." Laurent kembali menghisap dan menghembuskan asap tebal dari mulutnya.
"Gue kabarin lo deh nanti. Lo ke toko lagi kan? Gue coba hubungin ajudannya." Citra mengeluarkan ponsel, sementara Laurent menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Oke."
Laurent lalu membayar makan siang mereka dan bersiap beranjak. Rambut panjang warna coklat gelap ia kuncir kuda, memperlihatkan leher jenjang putih mulusnya.
***
Langkah kaki dengan sepatu hak tujuh sentimeternya mengantarkannya pada sebuah parkiran basemen sebuah hotel bintang lima. Wajah dingin dan angkuhnya tampak dari pantulan kaca besar yang ia lewati.
Kali ini ia tak akan memakai topeng. Karena pria yang memakai jasanya hanya meminta dirinya sebagai teman kencan untuk suatu acara penting.
"Laurent?" tanya pria tinggi kekar dengan setelan serba hitam. Laurent mengangguk.
"Silakan, boss saya sudah menunggu didalam mobil."
Andreas mengantarkan Laurent menuju ke mobil sedan mewah warna hitam yang dibalik kemudinya sudah ada Pras yang duduk. Pras, pria itu yang akan memakai jasa Laurent.
Laurent sudah duduk di kursi penumpang. Ia lalu menatap Pras yang sedang menatapnya lekat dengan mata elang yang tajam.
"To the poitn. Apa yang harus saya lakukan." ucap Laurent dingin.
Pras diam. Ia kemudian menginjak pedal gas dan mengarahkan mobil ke luar hotel. Sebelumnya ia sudah memberi tahu andreas kalau jangan mengawalnya.
Lima belas menit perjalanan tak ada suara. Hingga akhirnya Pras yang memulainya.
"Your name is?"
"I'm Laurent. Dan kamu... Mmm?" Laurent bingung.
"Kamu nggak tau saya?" Sarkas Pras.
"I know. Pria rendahan yang mau menyewa wanita seperti saya kan." Jawab Laurent asal. Pras menoleh. Ia mengetatkan rahangnya keras.
Tanpa menjawab. Pras justru membawa ngebut mobil yang ia kendarai ke suatu tempat sejuk di daerah pegunungan. Laurent tampak terkejut. Namun, ia memilih diam.
Pras tak banyak berkata. Hanya sesekali melirik ke arah wanita yang tampak angkuh dalam kepalsuan. Senyum tipis di bibir Pras pun tampak.
***
Mereka sampai di lokasi yang dituju, tak butuh waktu lama. Hawa dingin terasa. Pras berjalan keluar dari mobil dan duduk bersandar di depan kap sambil bersedekap. Di susul Laurent.
"Nggak bisa make a deal di tempat lain. Harus banget bawa saya jauh ke sini?"
Laurent tak tahan untuk tak berkata. Pras hanya menoleh dan terkekeh sinis.
"Kamu mau minta bayaran berapa?"
Laurent itu menatap Pras sambil terkekeh dengan asap rokok elektrik aroma leci mengebul tebal di udara.
"Kalo cuma sekedar untuk temenin anda gala dinner sama pengusaha-pengusaha, saya nggak pasang tarif. Tapi kalau anda mau service lebih, diatas sepuluh, perjam." Jawabnya santai. Mereka bersandar di depan kap mobil.
"Sebutin." Lanjut pria itu dengan deep voicenya.
"Yang mana. Paket biasa apa paket lengkap?"
Wanita itu melirik. Lelaki itu beranjak dan berdiri menghadap wanita itu dengan kedua tangan ia masukan ke dalam saku celananya.
"Full service? How about that?" Senyum smirk muncul diwajah lelaki itu.
"Ok. Empat puluh ke atas. Dibayar dimuka." jawab Laurent yang ikut berdiri berhadapan. Tak takut atau mundur. Justru ia semakin maju.
"Tapi saya maunya--" Bibir pria itu mendekat ke telinga wanita tersebut lalu berbisik, "Keluarin di dalam. Kamu Minum obat, kan?"
Lalu ia memundurkan wajahnya dan menatap lekat ke wanita di hadapannya.
"Obat? Nggak perlu. One night stand with you? Deal." Tangan wanita itu terulur. Seketika raut wajah lelaki di hadapannya berubah.
"Semua wanita sama saja. Rela jual badan demi uang." Ucap Pras.
Laurent tersebut terkejut dan tersinggung. Ia berdiri dan menunjuk Pras sambil berbicara.
"Hati-hati mulut anda kalau bicara ya. Tidak semua wanita seperti saya yang menjual diri untuk alasan yang tak perlu saya jelaskan ke anda. Take it or leave it!" Wanita itu emosi. Direndahkan, ia sudah biasa. Seorang wanita bookingan pria hidung belang. Namun jika semua perempuan dianggap sama. Ia akan marah sejadi-jadinya.
Pras itu menatap lekat ke Laurent. Air mukanya berubah tajam dan marah. "Saya mau tau dulu alasan kamu kenapa bekerja seperti ini, sebelum saya lanjut booking kamu."
"Ck. Apa pentingnya alasan saya!" Laurent berbicara dengan kepala sedikit terangkat.
"Karena dari mata kamu, saya bisa lihat kamu terpaksa jalanin ini."
GLEK.
Wanita itu tak bisa menjawab apa-apa lagi. Ia hanya diam dan terus berdiri menatap lelaki di hadapannya.
'Sialan.' Maki Laurent dalam hati.
Gaun mahal berwarna hitam dengan aksen emas di pinggang begit pas dengan tubuh Laurent yang proporsional. Rambutnya ia blow bergelombang, warna lipstiknya yang merah juga menjadi senjata untuk menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.
Kedua bahunya juga tampak terbuka, betapa seksi Laurent. Ia berada di kamar apartemennya. Menunggu telepon dari ajudan Pras untuk memberi tahu jika pria itu sudah tiba di lobby.
"Oke Laurent. Just gala dinner. No full service." Ia berbicara dengan dirinya sendiri saat berdiri di depan cermin.
Laurent mengambil mantel berwarna merah untuk menutupi penampilannya saat keluar dari apartemennya.
***
Langkah kakinya anggun menghampiri Pras yang berdiri dengan sudah menatapnya sejak ia baru keluar dari lift. Laurent tersenyum. Ia akan lebih baik dalam bersikap kepada Pras karena pria tersebut sudah membayar jasanya sejak beberapa jam lalu.
"Good evening sir," sapa Laurent.
"Hm." Jawab Pras lalu berjalan bersama Laurent hingga ke dalam mobil SUV hitam. Pras membukakan pintu yang bergeser secara otomatis. Mempersilakan Laurent masuk terlebih dahulu. Andreas yang menyetir. Ia juga memberi salam kepada Laurent yang tampak luar biasa.
"Jaga mata mu Andreas." Tegur Pras sambil menekan tombol di pintu. Laurent hanya terkekeh dan duduk dengan anggun.
Selama perjalanan, Pras menceritakan tentang siapa saja orang-orang yang akan hadir di sana. Laurent harus bersikap apa dan mengakui bahwa ia adalah kekasih Pras.
Pras sudah mulai tak waras. Ia harus melakukan itu demi menghindar gunjingan orang-orang dan para wanita matre yang ingin mendekatinya.
Laurent paham. Ia lalu melihat hotel super mewah yang menjadi lokasi mereka. Ia membenarkan posisi duduknya dan melepaskan mantel yang ia gunakan.
Wangi parfume yang dikenakan Laurent sangat menggoda Pras. Ia tertegun melihat wanita bayaran di sebelahnya. Seorang pelacur kelas kakap.
Laurent menoleh. "What? Nggak pernah lihat perlacur se-seksi saya?" Laurent pun tak risih menyebut dirinya pelacur.
"No. I just--" Pras menatap lekat sambil memiringkan kepala.
"Berapa umur kamu?" tanya Pras. Ia menelisik penampilan Laurent.
"Tiga satu. And you?" Laurent balas menatap Pras. Jarak wajah mereka pun cukup dekat.
"Hampir lima puluh." Jawab Pras masih dengan menatap lekat Laurent.
"Hmh. Well.. hot sugar daddy right? Pasti banyak anak gadis yang jadi korban kamu."
Senyum sinis Laurent pun tampak. Pras menatap lekat ke kedua netra mata wanita di hadapannya. Laurent sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Pras.
"I dont know. Menurut kamu?" Ibu jari Pras memegang dagu Laurent lalu memainkan di tepi bibir bawah Laurent. Keduanya diam.
"No kiss or anything else. Paham?" ucap Laurent berbisik menggoda. Pras tersenyum. Ia kembali duduk bersandar.
"I know." Ia melepaskan jemarinya dari wajah dan bibir Laurent lalu tersenyum sinis.
"Saya cuma mau lihat kamu lebih dekat. Ternyata kamu--" Pras menoleh ke Laurent yang menunggu kelanjutan ucapan pria itu.
"Biasa aja. Nggak menarik." Pras lalu mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang. Ia berbicara dengan bahasa inggris.
Laurent menatap sinis. Ia lalu melihat Andreas terkekeh dari pantulan spion tengah.
'Dia belum tahu siapa gue.' Laurent merengut. Ia membuang tatapan ke luar kaca mobil.
Sedangkan Pras melirik ke Laurent sambil berbicara di telepon namun sudut bibirnya menunjukkan senyum tipis.
***
Mereka berjalan bersama masuk ke dalam tempat acara.
"Bisa profesional kan, Rent? I will pay you more. Saya harus melakukannya."
"Why?" Mereka berbicara saling berbisik.
"I need your help. And trust me, nanti kamu juga akan tahu."
"Emang kamu mau ap--"
Pras sudah mengecup bibir seksi Laurent sebelum ia selesai bertanya.
"PRASSS!" Suara itu terdengar senang dan terkejut menyambut kedatangannya. Laurent diam dan berusaha kembali sadar.
"Hai Steve!" Sapa Pras sambil berjabat tangan dengan pria pengusaha yang merupakan rekannya.
"Welcome Pras. Stay disini kan. Udah lah, jangan ngilang di Swiss terus." Ledek Steve. Kedua mata pria itu tertuju pada Laurent yang sejak tadi mencoba santai karena jemari tangan kanannya digenggam erat Pras.
"Ya. Tapi hanya sementara. Dua minggu," jawab Pras sambil terkekeh. Steve menunjuk ke Laurent.
"Oh. Ya, this is Laurent, calon masa depan saya, Steve." Steve mengulurkan tangan dan disambut Laurent. Mereka berjabat tangan. Namun kedua mata Steve menatap nakal ke Laurent yang disadari Pras.
"Kita masuk." Pras mencium pipi kanan Laurent.
"Sure," jawab Laurent lalu menarik tangannya dari tangan Steve. Pras mengeratkan genggamannya.
"Sakit Pras, biasa aja kali." Bisik Laurent. Pras menoleh.
"Sorry...." jawabnya. Mereka lalu kembali menyapa orang-orang yang ada di sana. Laurent pun selalu dikatakan calon masa depan seorang Pras.
Ia mulai tak nyaman. Bukan karena julukan itu. Tapi karena Pras begitu possesif dan sesekali melakukan skinship atau mencium beberapa kali jemari dan pipinya.
"Aku mau klaim ke kamu banyak. Udah berapa kali kamu cium-cium aku, Pras!" Bisik Laurent mulai emosi.
"Please. Nggak lama lagi kita pergi dari sini dan aku transfer berapa pun klaim yang kamu minta. I need your help."
Pras berbicara sambil berbisik juga. Laurent menghela napas. Mengapa pria dewasa di hadapannya seperti berbeda dari pria yang suka memakai jasanya dan tampak sorot mata kesedihan di dalamnya.
"Oke, aku bantu. Pras, disudut sana ada beberapa laki-laki dan wanita yang lihatin kamu terus Pras. Siapa mereka?"
Laurent sudah mengamati sejak mereka duduk ditempatnya. Keempat pasang mata itu menatap tajam ke mereka berdua.
"Aku ceritain nanti. Aku juga sudah sadar. Sekarang, i want you to kiss me, real kiss, paham kan?" Wajah Pras sudah begitu dekat dengan wajah Laurent.
"Hah?" Laurent terkejut.
"Rent. Do it your job. Now."
Lalu Laurent menempelkan bibirnya di bibir Pras. Laurent cukup kaget karena Pras sedikit melakukan lebih. Lalu melepasnya.
"Thank you, and.. see. mereka nggak liatin kita lagi, kan?" Laurent menoleh. Dan benar. Ia menoleh ke Pras yang menatapnya.
'Sialan, Pras!' Geram Laurent dalam hati. Ia harus bisa mengontrol kekesalannya. Jantungnya sedikit berdegup saat merasakan bibirnya di sentuh lembut oleh Pras.
Pras bertepuk tangan saat fokus melihat tampilan mobil yang akan masuk ke pasar otomotif tanah air. Sedangkan Laurent menatap Pras yang begitu maskulin juga tampak awet muda dengan rahang tegas dan tubuh atletis itu
'Laurent. Stop!" Ia merutuki dirinya sendiri. Menggigit-gigit bibir bawahnya karena kesal.Napasnya tercekat saat Pras mengecupnya lagi.
"Jangan di gigit-gigit. Banyak mata laki-laki yang lihatin kamu dari tadi. Paham?" Bisik Pras. Laurent mengangguk.
Ah, Laurent. Sosok angkuhnya menguap begitu saja dengan perilaku Pras. Ia kesal dan sebal sendiri. Pesona Pras tak terkalahkan. Bahkan untuk seorang Laurent yang kini kembali menatap Pras walau hanya dari samping.