Yogyakarta, di suatu hari yang terik.
Prameswari turun di terminal bus Giwangan dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu. Marah, kecewa, benci, takut tapi juga sedih. Dalam benaknya yang sehancur Bantul seusai diguncang gempa tahun 2006 silam, berjejalan banyak pertanyaan tentang Abah dan Ummi yang telah sampai hati menjodohkannya dengan Ustadz Rayyan. Sosok yang selama ini menjadi bahan candaan di kalangan santriwati, termasuk dirinya sendiri. Mengapa begitu?
Karena Ustadz Rayyan masih belum menikah juga padahal umurnya sudah empat puluh lima tahun. Ustadz Lapuk. Begitulah Prameswari dan teman-teman memberikan label padanya. Siapapun orangnya, jika ketahuan berpapasan atau berdekatan dengannya, pasti habis, dibercandai. Bahkan, tak jarang juga jadi bahan olok-olokan di sepanjang hari. Oleh karenanya, tak seorang pun santriwati di Pondok Pesantren Al-Hidayah mau berurusan dengan Ustadz Rayyan. Termasuk Prameswari, meskipun kadang-kadang Abah atau Ummi menitipkan sesuatu untuk Ustadz Rayyan melalui dirinya. Sebisa mungkin, dia menciptakan alasan. Terlambat, tergesa-gesa atau apa saja, yang membuat mereka membatalkan untuk menitipkan sesuatu itu padanya.
'Apa sih, yang membuat Abah sama Ummi begitu?' tanya hatinya yang semakin remuk redam, 'Mereka kan tahu, Ustadz Lapuk sudah setua itu? Tega, tega, tega! Kenapa mereka setega ini padaku?' tanya hatinya lagi, kali ini sambil mengamati sekitar yang terasa asing baginya, 'Jahat, semua jahat!'
JOGJA - JAKARTA
JOGJA - SOLO
JOGJA - MAGELANG
Prameswari mengeja plakat bercat hijau dengan tulisan putih yang ada di depan sana. Sekitar lima puluh meter dari tempatnya berdiri. Sekeras mungkin, dia mengingat-ingat petunjuk yang diberikan Meyka, sahabat baiknya di facebook. Dia nggak berani mengeluarkan ponsel di keramaian---seperti yang diajarkan Meyka---jadi nggak ada jalan lain kecuali menggunakan ingatannya dengan baik. Ingatan yang sebenarnya tajam dan cemerlang jika bukan dalam keadaan sedarurat ini. Antara hidup dan mati.
"Kamu jangan sekali-kali ngeluarin hp di terminal ya, Ri? Bahaya!" begitulah pesan Meyka tadi malam sebelum dia benar-benar kabur dari rumah, "Dari terminal Giwangan, kamu ke luar. Sampai di luar, cari halte bus trans …!"
Prameswari tersenyum tipis sekarang, karena sudah berhasil mengingat dengan baik apa yang dikatakan Meyka. Sekarang, tanpa berpikir panjang dan berliku-liku, dia berjalan ke luar terminal. Meskipun sudah mati-matian menguatkan hati, tetap saja langkahnya gontai. Oleng, seperti layang-layang yang baru saja putus dari gulungan benangnya. Ditambah dengan wajah yang pucat berkeringat, sempurnalah sudah penampilannya hari ini, kusut masai kuadrat. Untung, tengah hari. Kalau nggak? Bisa-bisa, dia jadi santapan preman jalanan!
Sesampainya di halte bus trans Jogja, Prameswari langsung bergegas menuju loket pembelian tiket. Napasnya naik turun setelah berjalan kaki cukup jauh dari terminal bus. Tak tanggung-tanggung, wajahnya sekarang sudah bukan pucat berkeringat lagi tapi biru banjir. Untung nggak terlalu banyak antrian, hanya tiga orang di depannya. Jadi, Prameswari bisa menghela napas lega untuk pertama kalinya setelah berhasil kabur dari rumah.
Sebenarnya, dia juga meneteskan air mata karena teringat Ummi. Dia berpikir, Ummi pasti sedih dan hancur dengan kepergiannya yang seperti ini. Tapi, apa boleh buat? Ummi juga nggak bisa membelanya di depan Abah. Nggak berdaya, untuk lebih tepatnya. Cara apa lagi yang bisa membuatnya selamat dari perjodohan yang sangat sangat sangaaat menyedihkan itu? Nggak ada lagi, hanya ini. Ya, yaaahhh, meskipun tadi sebelum berangkat, hatinya sempat digelayuti keragu-raguan.
"Maafkan Wari, Ummi." bisiknya lirih,"Tapi Wari harus pergi, Ummi. Wari nggak mau nikah sama Ustadz Rayyan, sampai kapan pun, nggak mau. Karena cinta dan harti Wari hanya untuk Mas Eiden."
"Apa, Mbak?" kata petugas dari dalam loket menyentakkan kesadaran Prameswari, "Tujuannya ke mana, Mbak?"
Malu dan gerapan, Prameswari menjawab, "Sa saya ma mau ke Condong …?"
Kata-kata Prameswari terpotong begitu saja karena tiba-tiba bayangan Abah yang sedang murka muncul dalam benaknya dengan sempurna. Membara. Sementara Ummi hanya bisa berlinang-linang air mata di hadapannya.
"Oooh, Condong Catur?" tanya petugas dengan hangat, ramah dan sopan.
Prameswari mengangguk, tersenyum tipis lalu mengangsurkan selembar uang sepuluh ribu dan menerima selembar tiket bus untuknya. Sekarang, wajah pucat itu mulai terpulas warna lain, merah muda. Cantik.
***
Sejauh mata Prameswari memandang, yang ada di dalam benaknya hanya Ummi dan Abah. Marah sekali rasanya setiap kali teringat bagaimana tiba-tiba Abah mengatakan, "Wari, sekarang kan kamu sudah besar. Sudah saatnya kamu menyempurnakan ibadahmu dengan menikah. Siapkan dirimu Wari, karena besok malam, Ustadz Rayyan akan mengkhitbah kamu!"
Duaaarrr!
"Apa Bah, Ustadz Rayyan mau mengkhitbah Wari?" Prameswari bertanya dengan kemarahan yang berkobar-kobar hingga ke ubun-ubunnya, "Nggak salah, Bah?" tanya Prameswari lagi tanpa bisa dicegah, "Abah yakin, kalau Ustadz Lapuk bisa membahagiakan hidup Wari?"
Plaaakkk, plaaakkk!
Abah melayangkan tamparan mautnya ke pipi Prameswari, kanan dan kiri hingga meninggalkan bekas jari tangan di sana. Ummi yang menjerit tertahan di samping Abah, tak mampu menghentikan gerakan ringan telapak tangan Abah. Begitu juga dengan jerit tangis kesakitan Prameswari, sia-sia. Abah sudah terlanjur murka.
Tilulit, tilulit!
Ringtone chat di whatsapp memberai ingatan Prameswari tentang Ummi, Abah dan Ustadz Rayyan. Seketika konsentrasinya tertuju pada chat yang baru saja masuk. Harapannya membuncah, semoga itu Meyka. 'Eh, ya Meyka, lah. Siapa lagi? Dia kan satu-satunya yang tahu nomer whatsapp-ku?' batinnya mempertegas buncah harapan di hatinya.
Chats (11) Status Calls (7)
Ternyata, selain chat, Meyka juga voice call sebanyak tujuh kali. Karuhan saja nggak terangkat, benak Prameswari terlalu padat. Overload.
Meyka:
[Ri, km udh smpe mana?]
[Kabari ea kalo dah smpe?]
[Aku tunggu di halte bus trans concat]
[Jgn smpe slh turun ea?]
[Reply!]
[Aq dah di sini]
Dengan perasaan mengharu biru, Prameswari membalas chat Meyka. Dikatakannya kalau dia sudah di atas bus trans, seperti yang dipesannya kemarin. Dia juga cerita, kalau rasanya gemetar, hampir pingsan karena menahan lapar. Uangnya hanya tersisa tujuh ribu rupiah lagi.
Namanya juga Meyka, bukannya sedih atau bagaimana, malah mengirimkan emotikon senyum lebar sekali pada Prameswari. Kontan, Prameswari cemberut dan mengomel panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang, di chat room. Hehe. Dua sahabat baik di facebook itu sekarang saling balas chat di whatsapp dengan santainya. Dari hati ke hati. Eh, salah. Dari jari ke jari. Hehe. Iyalah, dari hati ke hati. Jari kan, hanya perantara hati?
Tilulit, tilulit!
Meyka:
[Ea udh ea Ri? Ati2]
[Aq tunggu ea? Bntr lg smpe kug!]
Lemas, gemetar dan pusing karena kelaparan, Prameswari mengetik chat balasan untuk Meyka, [Ya. Makasih banyak sebelumnya ya, Mey?]
Sayang sekali! Prameswari, gadis berumur delapan belas tahun dan baru saja menamatkan pendidikannya di SMU itu nggak tahu, kalau sebenarnya Meyka yang selama ini dia kenal dengan baik di facebook itu seorang laki-laki paruh baya. Dia, menggunakan aplikasi perubah suara setiap kali menelepon Prameswari. Sehingga yang dia tahu, Meyka benar-benar seorang gadis belia, sama seperti dirinya. Ah, sungguh disayangkan juga, Prameswari nggak begitu memperhatikan mengapa Meyka selalu menolak jiga dia Mengajaknya video call.
Apa yang akan terjadi setelah mereka bertemu nanti?
Apakah Prameswari kuat menghadapi semua kenyataan pahit ini?
Dalam bus yang sudah berhenti di halte tujuan, Prameswari menguatkan hatinya yang semakin tercabik-cabik, remuk. Bagaimanapun, ini pilihan dan keputusannya, jadi dia melarang diri sendiri untuk terlihat rapuh dan cengeng. Terlebih ketika tiba-tiba bayangan Meyka datang menyelinap ke dalam benaknya. Bayangan sahabat baiknya di facebook itu mengatakan, "Ri, jangan nangis. Ini di depan umum, lho. Bahaya banget, lho. Ingat, banyak orang jahat di sekitarmu! Kamu kan, nggak lagi di pondok pesantren abahmu?"
Prameswari mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai tergenang air hangat, mati-matian menahan, supaya nggak setetes pun terjatuh. Kini, ketakutan mulai merambati hatinya. Hati yang sebenarnya diguncang oleh keragu-raguan yang begitu besar, bahkan sejak pertama kali melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Mengapa dia sampai nekat seperti itu? Karena baginya, menikah dengan Ustadz Rayyan adalah aib. Mau dikemanakan mukanya nanti, jika itu benar-benar terjadi? Teman-temannya pasti akan menghujaninya dengan olok-olokan, setiap hari. Walaupun, mungkin akan jarang-jarang bertemu Karena kegiatan sehari-hari yang tak lagi sama. Semua akan menjadi berbeda, bukan? Tapi tetap saja, Ustadz Rayyan akan menjadi sesuatu yang sangat memalukan dalam hidupnya. Beban yang sangat berat.
"Mbak, turun di mana, Mbak?" tanya seseorang, mengejutkan sekaligus menapakkannya pada kenyataan, "Ini sudah di halte Condong Catur, Mbak." Terang seseorang yang ternyata kondektur bus, sambil menunjuk ke luar.
Terkesiap, Prameswari merapikan kerudungnya yang acak-acakan. Mencangklong tas ransel di pundak sebelah kiri dan dengan canggung, beringsut turun. Gontai, dia berjalan menuruni undak-undakan bus. Tubuhnya benar-benar ringan sekarang, melayang-layang. Dia berpikir, mungkin seperti inilah rasanya ketika terdampar di luar angkasa.
Jlep, plaaasss!
Dia baru menyadari sesuatu sekarang, setelah bus berjalan jauh meninggalkannya. Dia merasa sudah salah mengambil keputusan. Salah besar. Terlebih ketika melihat halte yang sepi, hanya ada seorang petugas di loket pembelian tiket. Satu lagi, petugas keamanan. Apa yang bisa diharapkannya sekarang? Dimanakah Meyka, sahabat baiknya di facebook itu berada? Batin Prameswari semakin meradang.
"Meyka di mana, ya?" bisiknya bingung dan pedih pada diri sendiri, "Katanya dia sudah nungguin aku di sini, tadi?" Prameswari semakin bingung dan takut.
Sementara itu, kelelahan sekaligus kelaparan membuatnya semakin lemas dan gemetar. Pusing, matanya berkunang-kunang. Maklum, selama di perjalanan dari Tangerang ke Yogyakarta, matanya nggak terpejam sama sekali. Itu semua juga karena pesan dari Meyka, "Awas Ri, jangan sampai kamu ketiduran di bus. Tahu kan, maksudku? Kamu bisa diculik dan dibawa lari, terus kita nggak jadi ketemu, and dong? Kamu mau? Mumpung di tempat kerjaanku lagi butuh banyak karyawan baru, nih!"
Otomatis, Prameswari menuruti nasehat Meyka. Menurutnya, Meyka lebih banyak pengalaman tentang dunia luar dibandingkan dirinya yang dua puluh empat jam full hanya tinggal di rumah. Eh, kalau sekolah? Nah, iya, hanya kalau sekolah saja dia bisa ke luar rumah. Selain itu, jangan tanya! Pintu pagar pesantren nggak akan sejari pun terbuka untuknya.
Tiba-tiba, dalam kondisi yang semakin tak berdaya, Prameswari terpikir untuk mencari Masjid. Iya, dia belum shalat Dhuhur. Eh, nggak shalat Dhuha juga sih, sebenarnya. Hal yang mustahil terjadi jika dia berada di rumah. Jadi, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Prameswari mengambil ponselnya dari dalam tas ransel blue donker yang masih tergantung di pundaknya. Niat hati mau mencari Masjid melalui aplikasi Google Map tapi apalah daya? Matanya sudah terlanjur panas dan pedih oleh kenyataan yang ada.
'Apa? Meyka memblokir whatsapp-ku? Ya Allah, Astaghfirullahaladhim?' batinnya kembali bergemuruh, seolah-olah ada badai yang masuk dan memporak porandakan seluruh harapannya, 'Nggak, nggak mungkin. Ini pasti salah, pasti ada yang salah!'
Gemetar, karena jantungnya nyaris terlepas dari tempatnya, Prameswari mencari akun Meyka di facebook. Meykaputri Funky Girl, tapi nggak ada. Benar-benar nggak ada, menciptakan sebentuk nyeri yang begitu kuat di hati terdalam Prameswari. Nyut, nyut, nyut! Terlebih ketika dia melihat chat mereka di messenger, You can't send messages for Meykaputri Funky Girl.
Nyut, nyut, nyut!
Dalam keadaan yang separah itu, Prameswari mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari Meyka. Sisi lain hatinya berkata, 'Siapa tahu di benar-benar sudah ada di sini tapi aku nggak tahu? Ah, coba mana, aku lihat lagi Fotonya?'
Terbayang kembali dalam benaknya, bagaimana selama ini mereka bersahabat baik di facebook. Bertukar foto, curhat-curhatan, bercanda tertawa … Siapa sangka, Meyka tega memblokirnya? Bukannya tadi, beberapa menit yang lalu masih bisa komunikasi dengan baik?
'Apa ponselnya hilang ya, diambil orang?' batinnya bertanya sambil terus mencari foto Meyka di Gallery, 'Terus orang yang ngambil ponselnya itu yang blokir whatsapp sama facebookku?'
Sekarang Prameswari terduduk lemas di bangku kayu samping halte. Perasaannya sudah seperti sekaleng wafer yang terjatuh dari balkon. Meskipun begitu, senyum tipis kembali melengkung di bibir manisnya, senyum penuh harapan.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga foto Meyka!" gumamnya sambil berdiri dari bangku kayu. Dalam hatinya muncul sebuah ide cemerlang untuk bertanya pada petugas keamanan yang sedari tadi memperhatikannya.
'Meyka kan, sudah ke sini tadi?' bisik hatinya, 'Pasti petugas itu tahu!'
***
Ramah dan hangat, Mbak Honey mengajak Prameswari masuk ke dalam rumah kontrakannya yang cukup besar dan mewah. Senyum manis penuh sayang terus mengembang di wajahnya yang cantik kebule-bulean. Mbak Honey-lah yang tadi menolong Prameswari sewaktu nyaris pingsan di halte bus. Kebetulan dia sedang melintas di sana, sepulang kerja dan melihat orang-orang berkerumun. Ternyata mereka sedang menolong Prameswari yang terjatuh karena lemas.
"Duduk Ri, anggak aja rumah sendiri!" kata Mbak Honey setelah mereka sampai di ruang tamu, tak sedikit pun berkurang kehangatan dan keramahanya, "Mandi dulu apa makan dulu, Ri? Kalau mau mandi dulu, aku siapin handuk sama bath jasnya dulu, ya?"
Takut-takut, Prameswari menjawab, "Mandi dulu aja, Mbak. Wari belum shalat seharian ini."
Setelah memastikan Mbak Honey nggak marah atau semacamnya mendengar jawabannya, Prameswari melanjutkan, "Sebelumnya, Wari makasih banyak ya, Mbak? Nggak bisa membayangkan, gimana jadinya kalau nggak ada Mbak tadi?"
Mbak Honey menatap dalam-dalam mata Prameswari, "Iya Ri, sama-sama. Kamu nggak usah mikirin apa-apa dulu ya, Ri? Istirahat saja dulu, malam ini. Besok kita pikirkan lagi, pekerjaan apa yang pas buat kamu. Oh ya, masalah temanmu yang di facebook itu, jangan sampai membebani pikiranmu, Ri. Seorang penipu seperti itu, nggak pantas untuk kamu pikirkan. Percaya deh, sama aku!"
Dengan berat hati, Prameswari mengangguk. Tak terasa, air matanya menetes hangat, panas. Sementara pikirannya melayang-layang ke pertemuan pertamanya dengan Meyka di facebook, tiga tahun yang lalu. Waktu itu, dia baru pertama kali memiliki akun facebook. Itu pun setelah mencuri-curi kesempatan dari pengawasan Ummi. Meykaputri Funky Girl lah, yang pertama kali menjadi temannya, sampai hari ini. Eh, tadi, beberapa jam yang lau.
Siapa sangka, pertemanan mereka akan kandas di kedalaman lautan kebohongan seperti ini? Nggak, tentu, Prameswari nggak menyangkanya sama sekali. Terlebih, selama ini Meyka begitu baik terhadapnya. Selalu ada dalam suka dan dukanya.
From Meykaputri Funky Girl: [Hai, aku Meyka. Kamu siapa?]
_
From Prameswari Saidi Putri: [Hai, Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh! Aku Wari!]
Dari sanalah persahabatan mereka tersemai indah dan membahagiakan satu dengan yang lainnya. Meyka yang tumbuh dan besar di sebuah panti asuhan, merasa sangat beruntung bertemu dengan Prameswari yang seorang puteri kyai. Begitu juga sebaliknya, Prameswari merasa sangat beryukur mendapatkan sahabat sebaik dan sekuat Meyka. Sebenarnya, selain kebohongan tentang jati diri Meyka yang sebenarnya, mereka sahabat yang layak untuk mendapatkan standing applause dalam hal ketulusan dan kesetiaan.
"Meyka," Prameswari berbisik memanggil, "Kenapa tega membohongi aku? Apa salahku, Meyka?"
Dengan segenap kemurkaan yang berkobar-kobar di seluruh rongga dadanya, Giga membanting pintu mobilnya. Dalam sekejap mata, mobil bercat putih bunga melati itu sudah melaju dengan kencang di jalanan yang sudah mulai sepi. Baginya, apa yang baru saja dikatakan Peony tadi benar-benar menyulut bara amarah yang selama ini dipendam di dalam hatinya. Bagaimana tidak? Peony juga selalu ikut dalam setiap check up yang mereka lakukan dan dia juga tahu, bagaimana hasil akhirnya. Sehat, mereka dalam keadaan sehat dan subur. Apa masalahnya, mengapa Peony justru menuduhkan kata terlarang itu padanya?
Mandul!
Kata itulah yang tadi, beberapa menit yang lalu dituduhkan Peony pada Giga, tanpa perasaan. Sebenarnya, itu bukan yang pertama kalinya terjadi---Peony yakin kalau Giga lah yang mandul, bukan dirinya---tapi kesabaran di hati Giga sudah semakin menipis. Nyaris habis. Bayangkan! Setiap bulan, setiap test pack-nya menunjukkan satu garis, Peony mengamuk besar-besaran. Terlebih, ketika the moonlight datang tepat pada waktunya atau malah mencuri start. Wuaaahhhh, bisa-bisa Giga remuk dalam cengekeramannya.
Padahal, siapa sih, yang nggak ingin punya keturunan?
Orang utan pun pasti menginginkannnya!
Selalu itu yang mengisi benak Giga, setiap terjadi perang besar dengan Peony. Tak terkecuali malam ini. Rasanya, seluruh bara kemarahannya menyala, berkobar-kobar. Teringat kembali bagaimana dulu mereka berjumpa di sebuah kafe di Jalan Parangtritis. Peony bekerja sebagai waitress di sana, sedangkan Giga … Biasa lah, sedang ada meeting bersama teman-teman sekantornya. Entah bagaimana, komunikasi singkat antara waitress dengan pengunjung kafe itu pun berlanjut hingga ke tahap yang serius. Tahapan yang terus mendorong mereka untuk melangkah lebih jauh lagi, menuju jenjang pernikahan.
Awalnya Giga sempat ragu, karena pekerjaan Peony yang pasti dipandang sebelah mata oleh Mama. Mama sudah menetapkan kriteria khusus untuk calon menantunya. Salah satunya, mau menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga. Sehebat apapun karir seseorang, kalau dia nggak mau menjadi ibu rumah tangga, Mama pasti menolak. Ya, Giga maklum, karena Mama pun demikian adanya semenjak menikah dengan Papa.
Jadi, sebelum benar-benar mencapai jenjang yang paling tinggi dan serius, Giga membicarakan semuanya dengan Peony. Bersediakah dia melepaskan pekerjaannya? Terlebih, waktu itu Peony juga sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Rela kah dia, mengantongi gelar sarjana tanpa pekerjaan yang mungkin telah diidam-idamkannya selama ini?
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Ternyata, Peony bersedia dan rela memenuhi semua persyaratan yang diajukan oleh Giga, asalkan Giga serius untuk menikahinya. Kesepakatan pun mereka buat dalam waktu dekat dengan disaksikan oleh Mbak Honey. Mbak Honey itu sahabat dekat sekaligus pemilik Honey Karaoke and Cafe, tempat Peony bekerja. Sekitar dua tahun setelahnya, mereka menikah. Siapa sangka, takdir berkata lain? Sudah hampir sebelas tahun berjalan tapi Peony belum menunjukkan tanda-tanda akan mengandung. Bahkan, test pack-nya masih menunjukkan satu garis.
Hampa!
Giga beringsut turun dari mobil dan berjalan gontai menuju Honey Karaoke and Cafe yang masih buka. Dalam hati membatin, 'Tumben masih buka? Padahal kan sudah hampir jam satu?'
Bersamaan dengan gerakan menghempaskan tubuhnya ke kursi, Giga melambaikan tangan ke waitress yang terlihat sibuk dengan pecahan botol di sudut ruangan, "Mbak …!"
Serta merta, si Mbak langsung mendekat kepadanya. Dengan perasaan takut yang terpancar dari sorot mata sayunya, dia menjelaskan kalau sebenarnya kafe sudah tutup. Karena ada pengunjung yang nggak sengaja memecahkan beberapa botol dan gelas, dia masih di sini untuk membereskan semuanya.
"Oh, baik!" kata Giga sedikit kecewa, "Kalau saya numpang duduk di sini, boleh kan, Mbak?"
Si Mbak yang kalau dilihat dari badge bernama Mytha itu mengangguk dan tersenyum santun, manis sekali, "Silakan, Pak! Mau saya ambilkan air putih?"
Mendengar suara si Mbak yang lembut dan merdu, Giga terkesiap. Seketika darah dalam jantungnya berdesir hangat dan tanpa dikomando dua kali, matanya sudah langsung merayapi tubuh si Mbak---Mytha---dari ujung rambut sampai ujung kaki. 'Putih, cantik, masih muda … Pasti masih segar dan wangi!'
"Maaf Pak, Bapak mau minum air putih atau apa?"
Pertanyaan Mytha mengejutkan sekaligus menapakkannya pada kenyataan. Sedikit gugup dia menjawab, "Kamu masih lama di sini?"
Mytha menggigit bibir bawahnya, membuatnya terlihat lebih cantik dan seksi. Sedetik kemudian, dia menyibakkan poninya yang tebal, lembut dan hitam ke belakang. Kekaguman di hati Giga bertambah besar, bergulung-gulung. 'Cantik sekali, anak ini! Hebat, Mbak Honey, bisa mendapatkan karyawan secantik dia.'
"Tergantung Bunda Ho---"
"Hei, Giga!" sapa Mbak Honey memotong jawaban Mytha, "Apa kabar kamu, lama nggak mampir ke sini?"
Mbak Honey melemparkan isyarat untuk Mytha melanjutkan pekerjaannya dengan melebarkan senyuman. Untung Mytha cepat tanggap, jadi dia langsung bergegas ke tempatnya membersihkan pecahan botol dan gelas di sudut ruangan.
"Karyawan baru," kata Mbak Honey pada Giga sambil duduk di kursi depannya, "Gimana Peony, masih suka ngambek?"
Giga hanya menggedikkan bahu, wajahnya terlihat semakin ruwet dan abstrak. Hehe. Dalam hatinya masih sangat marah dengan Kejadian tadi, di rumah. Menurutnya, Peony jahat karena sudah menuduhnya sebagaia laki-laki mandul. Padahal, seenggak sabar-nggak sabarnya dia, nggak pernah menuduhkan hal yang sama pada Peony.
Apa coba, maunya?
***
Peony sudah tidur di sofa ruang tamu sewaktu Giga pulang. Berjingkat-jingkat dia masuk dan mengunci pintu sampai pol. Masih dengan gaya berjingkat, dia berjalan ke kamar. Hati-hati, meletakkan tas kerja di meja dan melepaskan semua pakaiannya. Ringan, dia berjalan ke kamar mandi.
Sejenak, Giga memandangi wajahnya yang terlihat semakin tua di kaca cermin yang tergantung di atas wastafel. Ganteng. Hanya perlu dirapikan kumis dan jenggotnya saja agar terlihat lebih segar. Sekarang Giga tersenyum sambil terus memandangi bayangan dirinya di dalam kaca cermin. Dalam hati dia berseru, 'Keep spirit Giga, never give up!'
Bruuusss!
Dengan cepat dia membasuh seluruh wajahnya yang terasa berminyak dan lengket. Menggosok gigi dan kembali memandangi bayangan dirinya di kaca cermin. 'Ah! Masa, aku yang mandul, sih? Masa, hasil pemeriksaannya salah? Kalau begitu, nggak profesional dong, rumah sakitnya? Hemmm, Peony!'
Bruuusss!
Lagi, Giga membasuh wajahnya. Kali ini lebih merata dan lama, sampai kulit wajahnya terasa pedih karena digosok-gosok dengan telapak tangan. Gosokan yang lebih keras dari biasanya. Giga merasa, hanya dengan jalan itulah dia bisa melampiaskan seluruh kemarahannya. Apa lagi, coba? Mustahil, mengamuk. Bisa-bisa Peony malah semakin menggila. Biar pun terlihat kalem, manja dan manis begitu, sebenarnya dia nggak berbeda jauh dengan balon. Pantang tertusuk sedikit, sudah langsung meletus.
Bruuusss!
"Ah, mending mandi, sekalian!" gumamnya pada diri sendiri, "Tanggung, sudah terlanjur dingin, juga?"
Akhirnya, Giga menyeret tubuhnya ke bawah shower dan mulai mengatur kehangatan air. Seeerrr, bruuusss! Dengan penuh kenikmatan, Giga menikmati shower time-nya. 'Mumpung Peony sudah tidur!' batinnya penuh dengan semangat, 'Kalau belum, bisa sesak napas aku menampung semua pertanyaannya!'
Sebenarnya, apa yang membuat Giga bertahan hidup bersama Peony?
Apakah karena ingin membuktikan kalau dia nggak mandul?
Ataukah karena Mama yang melarangnya menceraikan Peony?
Mungkinkah karena rasa cintanya sudah habis untuk Peony dan nggak mungkin ada wanita yang lain lagi?
Kadang-kadang, Giga nggak mampu memberikan jawaban untuk semua pertanyaannya sendiri. Peony. Walaupun nyaris depresi karena menunggu kehadiran si Buah Hati, tapi dia wanita yang baik. Setia, sabar dan penurut. Semenjak menikah dengannya, belum pernah sekalipun mengecewakan hatinya. Ya, yaaahhh, kecuali soal tuduhan mandul itu tadi. Eh, bukannya sedikit lho, yang menyarankan dia untuk menikah lagi. Tapi.Giga bergeming karena baginya itu bukan solusi. Iya kalau langsung punya anak, kalau nggak? Apa nggak sama dengan menyingkap aibnya sendiri.
Selalu itu yang menjadi beban berat pikirannya. Baginya, lebih baik fokus bekerja dan berusaha. Karena yakin, kerja keras nggak akan pernah mengkhianati hasil. 'Bukan begitu? Semoga. Aamiin.'