Bab 1

"Assalamu'alaikum, rajin men, Cekgu." Tetiba sebuah suara yang tak asing di indra pendengaranku terdengar menyapaku saat aku sedang disibukkan oleh kegiatan bersih bersih teras halaman depan rumah di sore yang cerah ini.

"Wa'alaikumussalam, ee ... Juragan Kosan to. Iya niih Gan cari keringat," balasku serta merta menghentikan kegiatan menyapu, begitu mengetahui mbak Mini sahabatku datang bersama seorang wanita yang terlihat asing dalam pandanganku. Seperti bukan warga sini.

"Panas-panas gini mo kemana, Gan? Ayo mampir sini dulu!" tanya dan ajakkku sembari melangkah berjalan mendekati pintu pagar.

Mbak Mini adalah sahabatku. Dialah orang kedua yang kujumpai setelah kepala sekolah tempat aku bekerja saat ini saat aku datang ke kampung ini kali pertama.

Saat aku baru saja selesai menyerahkan SK pengangkatan CPNSku sebagai guru di sekolah yang letaknya tepat di seberang rumahnya.

Sangat kebetulan sekali ternyata rumahnya selain digunakan untuk tempat tinggal dia bersama kedua orang tuanya juga ada beberapa kamar yang sengaja dijadikan kos-kosan.

Dan aku adalah salah satu penghuni kamar kontrakannya dari sejak awal datang sampai beberapa saat setelah menikah dengan Mas Tama sebelum mempunyai rumah sendiri.

Setelah ke dua orang tuanya meninggal dunia mbak Mini yang melanjutkan usaha orang tuanya sebagai Juragan kosan. Begitu aku sering menyebutnya, sama halnya dia menyebutku 'Cekgu' seperti layaknya film kartun asal negara tetangga dengan tokoh fenomenalnya dua anak kembar berkepala plontos.

"Kami ini ya mau kesini loo Cekgu," balasnya seraya melangkah mendekati pintu pagar rumahku.

"Lho ... Memangnya mak War enggak bantu-bantu lagi, to?" Mbak Mini menanyakan tentang mak War, ARTku. Sebelah tangannya berusaha menggapai kunci grendel pagar rumahku. Aku bergegas mendekatinya lalu membukakan pagar sambil tersenyum.

"Yo masih lah Gan," sahutku. Senyum manis masih setia bertahta di wajahku yang saat ini sudah bersimbah keringat akibat pekerjaan beres beresku.

"Aku tanpa mak War, yo ambyaar Gan," lanjutku terkekeh sambil membuka pintu pagar menyilahkan mereka untuk masuk. Ucapanku barusan spontan menimbulkan kekehan dari mbak Mini.

"Tumben-tumbenan Juragan Kosan wayah gini keluyuran sampe dimari. Emangnya gak dagang, tah?" tanyaku sambil meletakan sapu lidi di sudut tembok lalu mencuci tangan di keran dekat pintu pagar samping.

"Yoo dagang laah Cekgu. Klo gak dagang yo piye, too? Bakalan enggak ngebul dapurku," jawab mbak Mini masih sambil terkekeh.

"Iki loo, aku nganter tamune sampeyan," lanjutnya sambil menunjuk pada seorang wanita yang sejak tadi ikut bersamanya. Hal ini seketika menyadarkanku bahwa saat ini ada orang lain selain kami berdua. Orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya.

"Tamuku? Siapa, yaa?" jawabku reflek beralih menatap intens pada wanita yang saat ini berada disamping mbak Mini. Otakku cepat menafsir tentang wanita yang datang bersama mbak Mini.

Seorang wanita yang menurut perkiraanku memiliki usia yang tak jauh beda dengan usia Mas Tama, suamiku. Saat ini dia melangkah perlahan disamping mbak Mini masuk ke halaman rumahku, tangan kirinya menenteng tas tangan branded berwarna hitam seolah ingin menunjukkan tingkatan kastanya pada kami, sedangkan tangan kanannya sibuk memindahkan kaca mata hitam yang dipakainya dari wajah ke arah kepala, kemudian kaca mata itu diletakkan tepat diatas rambut pirangnya yang sedikit bergelombang. Terlihat elegan memang. Namun terkesan angkuh. Tak terbersit sedikitpun senyum di wajahnya.

Sebenarnya wanita berkulit putih yang bersama mbak Mini ini cukup cantik namun karena riasan wajahnya sedikit agak tebal dan tidak rata sehingga menunjukkan beda warna kulit wajah dan leher yang sangat kentara. Celana jeans ketat yang dikenakannya dipadu dengan kaos tanpa kerah yang juga sangat ketat membungkus tubuhnya sampai lekuk tubuh seksinya tergambar sangat jelas, ditambah dengan kaos biru muda yang dipakainya bergambar jari telunjuk di depan bibir merah marun sedikit terbuka membuat mata lelaki manapun yang melihatnya akan susah mengendalikan hawa nafsunya.

“Soraya Maharani," ujarnya. Suaranya terdengar sangat tegas cenderung sedikit agak angkuh menurutku. Wanita itu berucap sambil tetap melangkah melewati gerbang yang barusan kubuka tanpa memandang padaku yang sedang diajaknya berbicara, pandangannya lurus menatap arah rumah. Seolah ada yang dicari dan ingin segera ditemuinya.

"Biasanya mas Beri memanggilku 'Aya'," lanjutnya. Suaranya menjadi sedikit kemayu ketika menyebut sebuah nama, entah aku yang baper atau memang begitu kedengarannya, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku masih terkesima beberapa saat melihat tingkah lakunya.

"Eeh ... Sebentar! Kok dia menyebut nama mas Beri? Apakah Mas Beri itu adalah Beri Pratama? Suamiku?" Otakku cepat berpikir, mengingat-ingat. Sel sel membrane yang ada di otakku mengirimkan sinyal-sinyal yang aneh, tapi apa ya? Sinyal sinyal itu tak mampu kucerna. Semakin aku berusaha mencernanya, semakin terasa ada sebuah ruang kosong dalam benakku yang tak dapat kurengkuh.

"Monica," balasku mengulurkan telapak tangan kananku berusaha menjabat tangannya dan sejenak menghentikan langkahnya, namun sepertinya wanita yang bersama mbak Mini itu enggan memberikan tangannya.

Segera kuraih pundak mbak Mini untuk kuajak menuju rumah.

"Ayo masuk, Gan!" ajakku mempersilahkan sahabatku itu untuk ikut masuk ke ruang tamu.

Kok sepi, Cekgu? tanya mbak Mini setelah memindai sekeliling halaman rumahku beberapa saat.

Karena biasanya dimana ada aku pasti akan ada mas Tama juga. Hampir tak pernah kami melakukan kegiatan atau bepergian secara terpisah kecuali urusan pekerjaan di sekolah kami masing masing.

Hampir seluruh warga kampung ini sudah sangat hapal, bahkan mereka selalu menyebut bahwa kami adalah pasangan paling romantis dan keluarga yang harmonis. Kemana mana kami selalu bersama kecuali berangkat ke tempat bekerja masing masing dan tidak pernah terdengar kami bertengkar. Anak anakpun rukun serta bahagia. Bahkan kami sering dijadikan contoh yang baik tidak hanya bagi pengantin baru tapi juga bagi pengantin lama.

Dari mulai kehidupan kami sebagai pengantin baru hingga kini sudah lebih dari 25 tahun usia pernikahan kami, alhamdulillaah rumah tangga kami tak pernah menjadi bahan pembicaraan tentangga. Permasalahan rumah tangga dapat kami selesaikan tanpa sampai mengikutsertakan pihak orang ketiga untuk menyelesaikannya. Aku dan mas Tama berkomitmen untuk menyelesaikan masalah yang ada sesegera mungkin dan tak boleh ada yang keluar rumah dalam keadaan memendam masalah.

Begitu juga dengan anak anak, Eka dan Dwi. Anak anak tumbuh dan berkembang selakyaknya anak anak pada umumnya. Kini mereka sedang menyelesaikan sekolah di universitas pilihan mereka, sehingga kami hanya tinggal berdua saja di rumah ini. Rumah kebanggaan yang kami bangun dengan keringat, air mata dan cinta.

Bisa dikatakan kini aku dan mas Tama tinggal menikmati hasil dari jerih payah kami. Kami yang saat bertemu sama sama tak punya apa apa lalu berkomitmen membangun rumah tangga bersama, memulai segalanya dari nol. Sedikit demi sedikit kami bersama sama menikmati prosesnya dalam suka dan duka, hingga saat ini kami sudah dapat menikmati hasilnya. Anak anak yang tumbuh sehat dan tidak merasakan kekurangan baik harta terutama perhatian dan kasih sayang, perkejaan kami yang makin mapan, juga sebuah usaha toko roti yang belum lama ini kami bangun sebagai kegiatan sampingan kami dan akan menjadi andalan saat kami pensiun kelak.

"Iyo, Gan. Mas Tama lagi gak ada di rumah, lagi pelatihan, jawabku sambil tetap berjalan bersisian dengan mbak Mini.

Ealaaah ... lagi njomblo to Cekgu...? ledek mbak Mini disertai kekehan renyahnya yang kujawab dengan senyum dikulum.

"Eh ... Ngomong ngomong ini bener rumahnya mas Beri, kan?" tanya wanita bernama Soraya itu entah pada siapa.

Ucapannya barusan spontan membuat candaan kami terhenti. Dia mondar mandir sambil telapak tangannya tak henti dikibas-kibaskan di depan wajahnya sebagai pengganti kipas. Mungkin dia gerah, batinku.

"Mas Beri? Maksudnya Mas Beri Pratama, kah?" tanyaku memastikan dengan menyebut nama lengkap suamiku.

"Iyaa, Beri Pratama, kalo saya biasa panggil dia mas Beri. Itu panggilan sayang saya ke dia, mana mas Beri nya?" cerocosnya tanpa jeda dengan nada bicara manja yang membuatku agak sedikit terkejut dengan kata-kata 'panggilan sayang' tadi.

Ada apa ini? Siapa sebenarnya wanita ini? Selingkuhan mas Tama? Rasanya enggak mungin deh. Mas Tama adalah orang yang hampir dibilang tak pernah ngobrol receh dengan kaum hawa kecuali keluarga dekat atau orang yang sudah dia kenal dekat. Dan semua teman teman di tempatnya bekerja sudah aku kenal semua. Apakah ada yang dirahasiakan oleh mas Tama selama ini? Apakah memang sepintar itu mas Tama menyembunyikan kebusukannya? Atau aku yang terlalu naif sehingga tak pernah merasakan perubahan sikap mas Tama walau sekecil apapun?

"Mas!"

"Mas!"

"Mas Beri sayaang! Ini aku, Aya mu!" teriaknya membuyarkan keterkejutanku.

Bab 2

"Mas!"

"Mas!"

"Mas Beri sayaang! Ini aku, Aya mu!" teriaknya membuyarkan keterkejutanku.

Kulihat wanita asing yang mengaku bernama Soraya itu berjalan dengan mantap menuju pintu ruang tamu rumahku, meninggalkan aku dan mbak Mini yang berada dibelakangnya sambil terus berteriak memanggil manggil nama mas Tama, membuat aku dan mbak Mini sontak terkejut dan geleng geleng kepala melihat kelakuan aneh wanita tersebut.

Aku dan mbak Mini yang berada sedikit agak tertinggal beberapa langkah di belakangnya hanya bisa saling pandang menyaksikan tingkah polahnya. Bahkan kini kami spontan menghentikan langkah kami.

"Hey ... Kamu nemu dimana orang kek gitu, Gan?" tanyaku setengah berbisik pada mbak Mini yang juga masih diliputi kebingungan dan was-was teramat sangat.

"Lha ... ini, aku yo heran. Dia itu tadi ikut travel ayahnya Reza. Katanya sih naik dari Bandar, dari depan rumah ibu mertuamu lo. Wong yo ibu mertuamu yang bilang suruh dianter ke rumahmu. Jadi palingan bayangan Ayahe Reza dia itu masih kerabat suamimu," terang mbak Mini juga setengah berbisik.

Kentara sekali bahwa dia tak mau jika suaminya disalahkan karena sudah mengantar wanita asing dan enggak jelas ke rumahku. Dan sama sepertiku saat ini mbak Mini pun masih setengah tak percaya memperhatikan kelakuan wanita yang tadi bersamanya.

Ibu mertua? Lha memangnya dia ini siapa, to? Saudara? Saudara dari mana, coba? Masa aku yang sudah lebih 25 tahun menikah dengan mas Tama masih ada saudara yang belum kukenal? Tapi kalau bukan saudara, siapa dong? Terus apa maksudnya ibu mertua nyuruh dia kesini, Gan?" tanyaku pada mbak Mini gamang.

Kalau memang begitu aku yakin ibu mertua ada dibalik semua permasalahan ini? Tapi untuk apa? Untuk apa ibu mertua mengutus seorang perempuan genit seperti Soraya kesini?

Meskipun memang sejujurnya hubunganku dengan ibu mertua dan kedua adik iparku bisa dikatakan kurang harmonis. Namun suatu hal yang aneh bila ibu mertua mengutus wanita aneh ini hanya untuk menggoda mas Tama dan merusak keharmonisan rumah tangga anaknya yang sudah terbina hampir 30 tahun lamanya.

Memang aku merasakan perubahan sikap dan ucapan ibu mertua dan keduaadik iparku itu terjadi sesaat begitu kami memutuskan untuk tinggal dikontrakan setelah tiga bulan pernikahan kami. Tiga bulan pertama kami menikah memang tinggal bersama ibu dan kedua adik mas Tama yang saat itu masih lajang.

Mengingat jarak dari rumah ibu ke tempat kami bekerja yang cukup jauh yaitu kurang lebih empat jam lamanya dan harus kami tempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua, kami merasa waktu dan tenaga kami begitu terkuras, apalagi saat itu aku sudah mulai positif hamil, buah cinta kasih kami yang pertama, sehingga kami mantap memutuskan untuk mengontrak rumah yang dekat dengan tempat kami bekerja.

Mulai hari itu juga dan hingga saat ini setelah hampir 30 tahun pernikahan kami, ibu mertua dan adik-adik ipar selalu menunjukkan ketidaksukaannya terhadap aku dan kedua anakku.

"Waduuh ... Aku yo enggak ngerti lo, Cekgu! Yo wes gini aja, Cekgu ngobrolnya dilanjut di dalem aja ya. Kenal kenalan dulu sambil tanya silsilah keluarga, dibawa santai aja, Cekgu," saran mbak Mini menanggapi tanya beruntunku.

Sengaja mbak Mini menghentikan sejenak ucapannya untuk memberikan kesempatanku mencerna kata-katanya.

"Pasti Cekgu bisa, kan sudah biasa ngadepin orang tua murid, to? Anggep anggep aja dia itu orang tua murid. Yang akur yaa! Jangan bar bar loo, ya! Tunjukkan wibawa seorang guru. Jangan grusa grusu!" lanjutnya menyemangati aku yang masih bergeming.

Hah! Sembarangan aja mbak Mini. Mana bisa masalah begini kok disamakan dengan ngadepin orang tua murid untuk menyelesaikan masalah kenakalan anaknya.

"Tapi aku gak bisa lama lama, mau terus balik, ya? Barusan Reza ngeWA ada yang belanja di warung, dia gak bisa ngelayani. Wong tugas dia itu cuma anter-anter aja kok. Kalau ada apa apa WA atau telpon aja. Aku siap bantu!" timpal mbak Mini seraya memasukkan kembali gawainya ke saku kulot yang dipakainya.

Hanya anggukan kepala dan senyum kecut dari bibirku sebagai respon terhadap ceramah panjang lebar mbak Mini.

"Saya pamit dulu mbak Soraya. Nanti koper mbaknya biar dianter sama Reza, anak saya," lanjut mbak Mini berpamitan pada wanita yang tadi bersamanya, dan dengan langkah tergesa mbak Mini berbalik arah melangkah menuju pintu pagar rumahku.

Soraya hanya menoleh dan tersenyum tipis sambil menautkan ibu jari dengan jari telujuknya membentuk huruf 'O'. Tanpa basi-basi ucapan terima kasih sedikitpun keluar dari mulutnya.

"Iya Gan, makasih yaa! Oh ... Iya sekalian aku pesen pecel lelenya dua sama sayur asem juga ya. Nanti biar dibawa Reza aja sekalian anter koper," balasku.

"Halaah kebiasaan! Mentang mentang lagi njomblo. Pasti lagi males masak yo," celoteh mbak Mini sambil lalu.

"Teeste wae laah, sambele sing pedes yoo, Gan!" ujarku sedikit berteriak karena mbak Mini sudah semakin jauh berjalan dan dibalas hanya dengan acungan jempol pertanda 'iya' olehnya.

"Ayo silahkan masuk mbak Aya," undangku pada tamu yang masih belum seutuhnya kukenal untuk masuk ke ruang tamuku setelah aku berdiri mensejajarinya.

"Hey...stop! Hanya mas Beri dan keluarga saya yang boleh memanggil saya dengan panggilan 'Aya',"

"Tidak ada yang lain! Apalagi Kamu, yaa!” hardiknya mengejutkanku.

"Ooh maaf, Mbak! Silahkan duduk dulu, Mbak! Sebentar kuselesaikan dulu kerjaan bersih-bersihnya yaa. Tanggung tinggal angkut sampahnya aja,” lanjutku sambil meninggalkan tamu aneh itu duduk sendiri di ruang tamu minimalisku.

Kupikir tak apalah dia kutinggal sebentar, toh dia bukan tamu yang ada perlu buru buru kemudian berpamitan. Dia pasti akan menginap, buktinya dia membawa koper, lagi pula di kampungku ini takkan ada lagi kendaraan yang beroperasi bila sudah sore seperti ini. Karena travel di sini hanya mempunyai trayek 1 kali perjalanan pergi pulang. Sementara bis tidak ada yang bisa sampai masuk ke sini, bis hanya sampai di terminal induk, dan itu jaraknya 30 km dari sini. Jadi setidaknya masih besok pagi dia baru akan pulang. Lagian aku juga harus menyiapkan hati dan pikiran dalam menghadapinya.

"Tunggu! ujarnya seketika menghentikan langkahku menuju pintu keluar halaman depan rumahku.

Dengan jari telunjuk berdiri tegak dan digoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri seperti halnya nyonya rumah memberikan instruksi pada ARTnya dia berucap, "Dan satu lagi, jangan pernah Kamu memanggil saya dengan sebutan 'Mbak' karena saya bukan kakakmu!" diucapkannya kata-kata tersebut dengan penuh penekanan.

"Nggak level deh saya punya Adek seorang pembantu seperti Kamu!" lanjutnya dengan mimik wajah meremehkan.

"Hah...kurang ajar! Ternyata dia bersikap seperti ini karena dia mengira aku ini seorang pembantu! Huh ... ! Belum tahu saja dia siapa aku yang sebenarnya. Lihat saja nanti kalau aku sudah mandi dan berdandan, bisa-bisa kalah jauh penampilan dia yang seperti sedang make topeng itu," jiwa cantikku meronta saat mendengar ucapannya.

Masih kudengar ocehannya panjang lebar, namun aku gegas berlalu meninggalkannya. Karena aku belum tahu apapun tentang dirinya maka aku tak boleh gegabah meladeni ucapan-ucapannya yang terdengar amat sangat nyelekit didengar.

Meskipun sebenarnya hati dan telinga ini sudah sangat panas rasanya namun aku harus tetap bisa menjaga kewarasan dan bersikap santun pada tamu meskipun aku masih belum tahu apa maunya tamuku ini.

Bab 3

Kulangkahkan kakiku lebar-lebar menuju teras halaman depan rumah. Kumasukkan sampah-sampah daun yang sudah kusapu tadi ke dalam ember lantas kubawa ke halaman belakang lewat gerbang samping.

Segera kumasukkan sampah daun tersebut kedalam lubang yang sudah disediakan oleh mas Tama, katanya untuk dijadikan kompos.

“Lumayan kita bisa hemat pengeluaran pembelian pupuk untuk tanaman buah-buahan yang ada di halaman belakang rumah. Sehingga pastinya tanaman buah-buahan kita otomatis terbebas dari zat zat kimia," begitu seloroh mas Tama kala itu. Disambut anggukan kepalaku bermakna mengaminkan idenya. Kenapa enggak? Toh tidak merugikan siapapun malah bisa berhemat.

Selesai memindahkan sampah daun yang ada, aku lalu masuk ke rumah melalui pintu dapur. Berniat untuk membuatkan minum dan menyuguhkan kudapan untuk tamuku. Tamu yang sejujurnya masih membuatku bingung dan kesal itu.

Namun bagaimanapun keadaanya dia adalah tamu kami, tamuku dan suamiku. Meskipun aku belum tahu maksud kedatangannya ke rumah ini untuk apa namun aku tetap harus menghormatinya sebagaimana yang sudah diajarkan oleh kedua orang tuaku, agar kita selalu menghormati dan melayani tamu sebaik-baiknya.

Setelah mencuci tangan dengan sabun dan membuatkan teh panas gegas kutemui tamu yang tadi kutinggakan di ruang tamu minimalisku.

Dengan santai aku berjalan menuju ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan brownies kukus sisa sarapan tadi pagi yang hanya tinggal beberapa potong saja, namun kurasa cukuplah untuk kudapan teman teh sore ini. Toh sebentar lagi juga sudah waktunya makan malam.

Namun sesampainya di ruang tamu tak kulihat wanita aneh yang mengaku bernama Soraya di ruang ini, "Hmm ... Kemana wanita itu, yaa?" gumamku.

"Ooo lagi telponan, too! Telponan sama sapa yaa? Kok manja gitu suaranya," aku bersenandika menebak-nebak kira-kira dengan siapa dia sedang berbicara melalui hapenya saat ini.

"Apakah dia saat ini sedang bertelponan dengan mas Tama? Tapi rasanya tak mungkin, karena sampai saat ini mas Tama juga belum menghubungiku. Berarti dia saat ini masih disibukkan oleh kegiatannya disana," hatiku masih terus menerka nerka.

Setelah meletakkan teh panas dan kudapan yang tadi kubawa dari dapur lalu aku duduk di sofa ruang tamu, menunggu dia selesai bertelpon ria. Aku tak ingin mengganggu kegiatannya.

"Biarlah setidaknya aku bisa menyimak pembicaraannya walau hanya dari suaranya sehingga sedikit banyaknya bisa menduga-duga kemana arah pembicaraan mereka," pikirku.

Bukan bermaksud ingin nguping, tapi sejujurnya aku memang sedang mengumpulkan sebanyak banyaknya informasi tentang tamu anehku ini. Salah satunya cara dengan ikut mendengarkan obrolan dia dengan orang lain.

"Iya Bu, Aya sudah sampai di rumah mas Beri. Tapi gak tau nih, dari tadi mas Beri nya enggak keluar-keluar. Istrinya juga enggak ada. Padahal Aya sudah teriak teriak manggil mas Beri," terdengar suara manja Soraya.

Saat ini dia sedang duduk di kursi rotan yang ada di teras depan dengan sebelah kaki ditumpangkan pada kaki satunya.

"Yang ada cuma seorang perempuan katanya namanya Monika," terlihat bibir Soraya sedikit agak dimajukan pertanda dia sedang tidak baik-baik saja.

Sengaja aku mencari tempat duduk di sofa yang strategis, yang bisa melihat semua tingkah lakunya dan juga bisa mendengarkan apa yang dia bicarakan dengan seseorang dari gawainya.

Sayangnya wanita itu tidak meloadspeaker hapenya sehingga aku tak dapat mengetahui obrolan mereka secara keseluruhan. Tapi biarlah, ini pun sudah cukup.

Kini terlihat wanita itu sedang tertawa saat mendengar ucapan dari lawan bicaranya melalui gawai yang dipegangnya. "Mungkin ada sesuatu yang lucu," batinku bermonolog, lagi.

"Mungkin mas Beri sedang keluar sama istrinya, Bu. Biar Aya tunggu aja disini. Enggak papa, Bu. Rumah mas Beri nyaman kok, Aya suka! Tempatnya sejuk banget, penataan barang barangnya juga rapi dan bersih lagi. ART nya lumayan rajin juga!

"... ....'

Sayangnya tadi Aya enggak sempat nanya sama ART nya mas Beri lagi pergi kemana. Nanti deh Aya tanya. Dia tadi sedang bawain sampah ke belakang, tadi waktu Aya datang dia sedang bersih bersih halaman depan, Bu,"

"......"

Hahahaha ... Masa iya mas Beri nyumput, Bu? Aneh-aneh aja deh Ibu ini," ucapnya masih dengan derai tawa.

"......"

"Lagian mas Beri enggak tau kan kalau Aya mau dateng, Bu?" Jadi mana mungkin mas Beri sempat sembunyi, Bu? Lha terus, kenapa mas Beri harus sembunyi, coba? Masa mas Beri enggak kangen sama Aya. Apa mas Beri mau ngeprank, Aya?" lanjutnya masih dengan derai tawa manja.

"....." Sayang sekali tak dapat kudengar jawaban dari lawan bicara Soraya diseberang sana.

What? Kangen? Memangnya dia itu siapa, sih? Kenapa juga mas Tama harus kangen sama dia? Lama lama panas juga hati ini mendengar obrolan obrolan Soraya dengan lawan bicaranya di hape. Astaghfirullahalaziim ... Sabarlah wahai hatiku! Jangan terburu buru, karena terburu buru itu kawannya setan, batinku selalu mensugesti diri sendiri agar bisa selalu bersikap sabar.

Orang diam bukan berarti lemah. Diamku saat ini sedang mengamati. Aku gak mungkin akan berlaku bar bar. Pertama dia datang sebagai tamuku. kemudian akupun belum benar benar tahu ada hubungan apa sosok yang sedang duduk disana itu dengan mas Tama.

Bener kata mbak Mini tadi, aku gak boleh grusa grusu, gak boleh sembarangan. Apa sebenarnya tujuan dia mencari mas? Apakah mas Tama dan wanita yang mengaku bernama Soraya itu memang mempunyai hubungan khusus? Atau hanya wanita aneh itu saja yang merasa punya rasa khusus dengan mas Tama?

Karena aku menyadari mas Tama adalah sosok pria idaman, bahkan dari sejak dia masih bujang. Aku mengetahuinya dari beberapa kawan sekolahnya dulu setelah beberapa kali ikut acara reuni sekolahnya, baik SMP maupun SMA. Wajahnya yang tampan disertai perangai dan tutur katanya yang lembut dan sopan membuat para gadis yang ada disekitarnya berebut ingin bisa memilikinya, belum lagi perlakuannya yang begitu hormat serta sayang pada ibu dan adik adiknya merupakan poin plus baginya sehingga tidak saja para gadis namun ibu ibu pun menginginkannya menjadikan mas Tama sebagai menantunya.

"Bukan, loo! Bukan Noni, Bu! Tapi Monika," ucap Soraya sepertinya terjadi sedikit salah paham antara Soraya dengan orang yang ditelponnya.

“Monika, Bu! M O N I K A, lagi ucap Soraya sengaja mengeja sebuah nama dengan penuh penekanan pada setiap hurufnya.

"Tapi nama itu seperti namaku. Apakah mereka sedang membahas tentang diriku? Yah, sepertinya mereka sedang membahas tentang diriku," aku bersenandika. Aku bisa menyimpulkan saat mendengar pembicaraan sepihak dari Soraya dengan lawan bicaranya.

"Kayaknya dia pembantunya mas Beri deh, Bu," ucapnya membuat emosiku memuncak.

"..."

"Mak War? Bukan, Bu! Dia tadi nyebut namanya Monika," ucap Soraya agak jengkel.

"... ...."

"Belum, Bu! Belum setua Ibu! Sepertinya masih seumuran Aya gitu lah," lanjut Soraya seperti sedang menafsirkan usiaku.

Makanya Aya pikir nanti bakalan minta mas Beri untuk memecat si Monika ini. Kalau mas Beri mau cari ART biar cari yang sudah tua aja. Kalau yang seperti Monika ini bisa bisa mas Beri naksir sama ARTnya kan bisa bahaya, Bu! Soraya tertawa terkekeh.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Prahara

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED