Agni menghirup udara segar yang timbul dari pepohonan rindang di sekitarnya. Rasanya ia seperti seorang narapidana yang baru keluar dari penjara dan merasakan lagi hidup bebas tanpa belenggu jeruji, belenggu luka yang mendera hatinya. Lama Agni berjalan-jalan di sekitar areal itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke bengkel. Motor ninja itu adalah satu-satunya teman seperjuangan yang ia miliki. Setelah ini, mungkin ia akan ikut balapan liar atau semacamnya.
Sesaat setelah ia menyebrang jalan ia melihat cowok berpenampilan nyentrik tadi masih celingukan. Harusnya ia tidak peduli seperti puluhan cowok yang berusaha mendekatinya, tapi ia abaikan. Dan sekarang Agni malah peduli pada cowok aneh di depannya. Cowok itu seperti kutub magnet berbeda yang ditemuinya tanpa sengaja.
"Mau nyebrang?" tanya Agni dan cowok itu kembali terlonjak sambil berjalan mundur satu langkah. "Ya Tuhan, apa semenyeramkan itu muka gue? Gue nggak gigit kok," seloroh Agni asal membuat cowok itu mengangguk samar.
"Ya udah yok gue sebrangin." Agni menarik tangan cowok itu dan tanpa sadar cowok itu telah memotret tangan Agni yang menarik pergelangan tangannya. "Dah sampe, gue balik ya bye!" pamit
Agni yang hendak berlalu, namun cowok itu berhasil menahan pergelangan tangan Agni membuat empunya menoleh ke arahnya. "Ada apaan lagi?"
"Cinta Agniya Rinjani, anak seni ya?" tanya cowok itu sambil menunjuk ID card yang jelas msnggantung acak-acakan di leher Agni.
"Banyu Fardan Agustian, jurusan fotografi." Agni membaca ID card cowok di depannya.
"Panggil aja Banyu."
"Agni."
"Ya udah masuk yuk." Banyu meraih tangan Agni, mengajaknya masuk ke dalam kampus yang letaknya tak begitu jauh dari tepi jalan. Seharusnya Agni berusaha berontak dan pergi ke bengkel mengamhil motornya. Tapi tangan hangat yang begitu lembut itu terasa mengalirkan kembali darah yang semula beku di tubuhnya. Aroma cologne bayi yang sangat kental pada tubuh Banyu justru membuat Agni beberapa kali tersenyum, aroma yang menenangkan.
Di depan gerbang kampus, Agni menghentikan langkah kaki Banyu. Agni tampak ragu untuk masuk. Bukan, bukan karena takut pada senior bermulut ember, tapi Agni sedang malas mencari gara-gara.
"Nyu!" panggil seseorang dari jauh yang membuat Banyu segera berlari menuju ke arah seorang bertubuh agak tinggi darinya dengan kacamata bertengger rapi di hidung mancungnya.
Agni masih terdiam di gerbang kampus. Matanya mengamati Banyu yang sedang berbincang dengan seseorang yang belum pernah ia lihat semasa ospek. Harusnya memang Agni pergi saja daripada ada senior yang melihatnya dan menyemprotnya dengan kalimat bualan tidak bermutu. Tapi tanpa sadar aroma Banyu yang tertinggal membuatnya ingin berdiri di sana, aroma tubuh yang menenangkan kala ia dalam keterpurukan yang sangat dalam.
"Ngelamun aja." tegur seseorang membuat Agni terlonjak.
Agni salah tingkah sendiri saat mendongak dan mendapati seseorang bertubuh tinggi tegap. Iris cokelat gelap yang dilingkupi kacamata memandangnya teduh. Hidung mancung menantang serta bibir tipis yang menyunggingkan senyum, begitu manis. Dia, dia orang yang tadi berbincang dengan Banyu yang sekarang entah ke mana perginya.
"Ada masalah?" tanya cowok di hadapannya membuat Agni tersadar dari lamunannya.
"Eh, ehm eng, enggak kok Kak. Eh, maaf saya, saya ...."
"Terlambat? Nggak papa kok nggak akan dihukum juga. Temennya Banyu ya?"
"I ... Iya, Kak." Agni menjawab dengan gugup. Sumpah demi apapun ia gemetaran. Ini pertama kali seumur hidup ia gemetaran dan gugup berada di hadapan sesosok makhluk bernama cowok. Apalagi tatapan mata teduhnya terasa sampai ke relung hati Agni. Cinta pandangan pertama kah?
"Kenalin saya Bayu, Bayu Arkan Agustian, mahasiswa kedokteran semester enam."
"A ... Agni, Cinta Agniya Rinjani, jurusan seni, iya jurusan seni." Agni menyalami tangan Bayu yang terasa dingin dan juga merasakan sensasi maskulin yang begitu cool dari tubuh cowok di depannya.
"Udah santai aja nggak usah gugup gitu, saya nggak makan orang kok." Bayu melepas salaman dengan Agni dan mengangkat sebelah tangannya untuk mengacak rambut Agni.
Ada debar-debar aneh di dalam sana. Getar-getar yang terasa menggedor-gedor pintu hati. Menyentil-nyentil jantung dan mendorong-dorong paru-paru membuatnya kesulitan untuk bernapas. Kenapa dengannya?
"Bang, Banyu balik deh ya," pamit Banyu yang baru saja kembali setelah dari toilet beberapa saat lalu.
"Ya udah, hati-hati, nanti malem deh ditemenin ke pasar malem." Bayu kemudian menoleh ke arah Agni. "Kamu mau ikut ke pasar malam?" Bayu menawari Agni untuk ikut, dan dengan kaku Agni menganggukkan kepalanya padahal ia sama sekali tidak mengerti apa yang Bayu ucapkan tadi, terlalu gugup.
"Bye Bang, Agni ikut balik?" tanya Banyu dan kali ini Agni masih bersikap seperti robot yang mengikuti ke mana langkah kaki Banyu sampai perlahan aroma menenangkan dari tubuh Banyu membuat kesadarannya kembali sepenuhnya.
"Lo mau ke mana?" tanya Agni.
"Mau ke taman, mau hunting foto. Ikut?" Agni menganggukkan kepalanya tanpa ragu
Mereka berdua berjalan dalam diam. Semua orang yang melihat mereka mungkin bertatapan aneh. Seorang cowok dengan penampilan persis anak playgroup dan seorang cewek berpenampilan persis preman pasar, perpaduan yang tidak masuk akal.
Tak lama mereka sampai di taman dan Banyu beberapa kali memotret sampai lensa kameranya berhenti dan memotret seorang gadis berandal yang tengah duduk cemberut di bangku taman yang panjang.
"Heh jangan fotoin gue!" teriak Agni saat sadar Banyu mulai memotret dirinya.
"Ah nggak papa, masih kelihatan kok di kamera berarti Agni bukan hantu."
"Hish, hapus nggak foto gue." Agni berlari ke arah Banyu dan Banyu terus menjauhkan kamera dari Agni agar gadis itu tak menghapusnya.
"Awsh," rintih Banyu saat tanpa sengaja siku Agni mengenai perutnya.
"Lo kenapa?" Untuk pertama kalinya seumur hidup, Agni merasa khawatir pada seseorang selain ibunya yang sering disiksa oleh ayahnya.
"Ah nggak papa, laper," kilahnya berusaha menutupi sesuatu. "Banyu makan dulu ya, Agni mau ikut?"
"Ke mana?"
"Di pinggir danau buatan sana."
"Ehm oke deh."
Banyu dan Agni pun berjalan menuju tepian danau buatan yang sangat asri. Airnya biru kehijauan dan tampak bayangan pohon tergambar jelas di sana. Agni bahkan bisa melihat pantulan dirinya sendiri saat ia melongok ke air danau yang jernih.
"Gila, baru pertama kali gue ke tempat kaya gini, airnya bening banget."
"Anak rumahan pasti," tebak Banyu asal.
"Enak aja lo, ya kali tampilan gue kaya gini anak rumahan." Agni kembali ke bawah pohon dan duduk di dekat Banyu.
"Berarti anak jalanan."
"Sialan lo, berasa sinetron." Agni menjitak kepala Banyu membuat cowok itu meringis kesakitan. "Eh apaan nih? Lo masih makan bubur? Ya ampun Nyu, lo itu udah gede bentar lagi tua ini makan bubur. Sakit gigi lo?" Agni terbahak.
"Banyu nggak bisa makan nasi."
"Hah becanda lo? Gila aja masak nggak bisa makan nasi aneh lo, kaya alien aja." Agni makin terkikik geli.
"Emang nggak bisa makan nasi, katanya suruh jaga gigi susu."
"Hah lo masih punya gigi susu? Umur lo udah 18 tahun kan Nyu?"
"Iya, Banyu masih punya sepuluh gigi susu."
"Gila! Lo serius."
"Masak Banyu bohong, bohong kan dosa."
"Masa sih nggak percaya gue," ucap Agni dengan wajah kagetnya yang menurut Banyu sangat lucu.
"Dih Agni lucu kalau gitu mukanya." Banyu tertawa dan menampakkan deretan giginya yang rapih, dan juga gigi-gigi susunya. Agni terpana.
Agni merasa aneh, melihat manusia berusia delapan belas tahun masih memiliki gigi susu sedangkan gigi susu sendiri biasanya tumbuh saat anak masih berusia enam sampai tujuh bulan dan akan tanggal lalu berganti dengan gigi tetap pada usia enam sampai dua belas tahun. Angannya mengawang pada sosok kecil dirinya yang dulu bercita-cita menjadi dokter gigi. Agni tersenyum miris melihat dirinya yang sekarang, jauh dari angan-angan bocah polos yang penuh impian.
"Agni, lihat ada kura-kura." Banyu menatap ke sebuah batu yang mencuat ke permukaan air danau.
Suara Banyu membawa Agni dari angan hampa masa lalunya, kemudian gadis urakan itu memandang ke arah yang Banyu pandang. Benar, di atas batu itu dua ekor kura-kura tampak tengah bercengkrama. Bibir kaku Agni melengkungkan senyum dengan begitu mudah. Senyum seindah bulan sabit di gelapnya langit malam.
"Baru pertama kali liat kura-kura ya? Seneng banget kayanya." Banyu mendekat ke arah batu itu dan berjongkok seperti anak kecil yang senang melihat hewan bertempurung itu.
"Lo tau, ini keren Nyu. Selama ini yang gue liat kan cuman jalanan ya pemandangan kaya gini jadi spektakuler." Agni mengikuti langkah Banyu kemudian berjongkok di sebelahnya.
"Pernah kepikiran nggak buat berteman kaya kura-kura?"
"Maksudnya?" Agni mengalihkan tatapan matanya yang berwarna hazel dari danau ke wajah polos Banyu yang tersenyum manis dan menggemaskan ke arah kura-kura itu.
"Meskipun lambat, kura-kura adalah hewan yang berumur panjang dan juga setia kawan. Mau berteman kaya kura-kura sama Banyu?" Banyu mengalihkan pandangan ke arah Agni hingga iris hitam yang tertutup kacamata itu menembus tepat ke hazel milik Agni, membuatnya hampir terlonjak saat Banyu mengacungkan jari kelingkingnya.
Agni masih diam mengamati wajah Banyu. Wajah itu begitu damai apalagi aroma bayi yang menyeruak dari tubuh lelaki polos itu mampu memberinya ketenangan tersendiri. Teman? Iya teman. Satu kata itu, Agni sudah lupa dengan apa yang namanya teman setelah dunia menjungkir balikkan hidupnya. Tanpa sadar jemari Agni terangkat dan jari kelingkingnya teracung menyambut jari kelingking Banyu
"Teman," sahut Agni kemudian jeduanya tersenyum.
Dua orang yang dilihat aneh oleh dunia, kini berteman, seperti kura-kura.
"Agni nggak pulang?" tanya Banyu seraya berdiri setelah duduk lama di tepi danau. Agni yang sedang berdiri di dekat danau pun menggeleng tanpa sedikitpun menoleh pada lelaki polos itu. "Nanti dicariin mama sama papanya loh."
Ucapan Banyu terasa menohok sampai ke ulu hati Agni. Apa pernah mereka khawatir andai Agni tak pernah lagi pulang ke rumah? Lima tahun pergulatan takdir tak berakhir. Setan apa yang merasuki ayahnya yang dulu sangat rajin dan pekerja keras juga penyayang kini menjadi pemabuk, penjudi, dan suka menyiksa.
"Kok Agni ngelamun? Nanti kalau kecebur ke danau, Banyu nggak bisa nolongin loh."
"Lo nggak bisa renang ha?" Agni membalikkan badannya dan menahan tawanya yang dijawab Banyu dengan gelengan membuat Agni tak kuasa menahan tawanya lagi. Agni berjalan ke arah Banyu dan duduk di dekatnya sambil tertawa terbahak-bahak sementara Banyu menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan apa yang tengah Agni tertawakan.
"Eh Nyu, Nyu liat deh tuh di tengah danau." Agni menghentikan tawanya dan melihat ke tengah danau. Banyu pun mengikuti arah pandang Agni. "Boleh ya naik sampan gitu ke sana? Mau dong, please!" Agni menangkupkan kedua tangannya seperti anak kecil yang meminta mainan. Untuk pertama kalinya seumur hidup, Agni memohon dengan puppy eyesnya yang menggemaskan. Entah kenapa pula ia bisa begitu mudah mengubah sikap batunya menjadi selembut kapas pada cowok aneh semacam Banyu.
"Bentar nunggu Om Tio ke sini aja."
"Om Tio?"
"Om Tio itu tuh yang lagi di tengah danau, dia yang jagain taman ini. Biasanya Om Tio lagi liat ekosistem danau buatan ini seimbang apa nggak."
"Lo sering ya ke sini?"
"Tiap hari ke sini kok, kenapa?"
"Nggak papa, kalau gue lagi suntuk, bosen bisa dong main ke sini sama lo."
"Boleh."
"Nyu, lo nggak gerah apa pake jaket gitu? Panas banget loh ini," ujar Agni yang sudah melepas jaketnya sejak tadi dan Banyu hanya menjawab dengan gelengan pelan. "Lo kenapa? Sakit?" tanya Agni lagi yang merasa sikap Banyu itu aneh juga penampilan dan semua tentang Banyu, itu aneh.
"Itu Om Tio." Banyu mengarahkan telunjuknya pada lelaki paruh baya yang baru saja memberhentikan sampan di tepi danau, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Agni. "Om!" panggil Banyu sembari melambaikan tangan yang dibalas Tio dengan senyum lembut dari jarak tak seberapa jauh.
"Ayok Agni," ajak Banyu yang sudah lebih dulu melangkah mendekat ke arah Tio diikuti Agni yang baru mengambil jaket yang ia taruh di rerumputan.
"Hai Om!" Banyu mencium punggung tangan Tio dan Agni mengikuti Banyu mencium punggung tangan Tio, padahal biasanya ia paling anti bersalaman dengan orang, sudah lima tahun Agni menjadi makhluk anti sosial, dan karena Banyu, ia bisa mulai bersosialisasi. "Kenalin Om ini temen Banyu namanya Agni, Agni ini Om Tio pengurus taman ini."
"Agni Om."
"Tio." Mereka saling bersalaman.
"Oh iya Om, Agni mau ikut ke tengah danau boleh kan Om?"
"Iya boleh. Om siapin sampannya dulu ya."
"Oke Om." Agni menoleh pada Banyu ssmentara Tio menyiapkan sampan. "Heh lo nggak ikut?" Agni memicingkan matanya pada Banyu.
"Kan Banyu nggak bisa renang kalau perahunya kebalik gimana? Yang ada dimakan buaya nanti."
"Hahaha mana ada buaya di danau kaya gini dasar marmut lo."
"Kok dikatain marmut." Banyu memanyunkan bibirnya membuat Agni gemas.
"Lo penakut kaya marmut."
"Agni galak kaya macan."
"Marmut."
"Macan."
"Dasar marmut wlee." Agni menjulurkan lidah ke arah Banyu.
"Dasar macan wlee," sahut Banyu yang menutup sebelah matanya dengan jari tengah dan telunjuk sembari memeletkan lidahnya ke arah Agni.
"Nak Agni, ayo udah siap semua ini." Tio berseru dari atas sampan yang sudah siap.
"Iya Om!" teriak Agni. "Gue pergi dulu Marmut." Agni mengacak rambut Banyu dan Banyu melambaikan tangan ke arah Agni dan Tio yang kini mulai berlayar ke tengah danau.
Banyu kembali duduk di tepian danau, meraih kerikil-kerikil kecil dan melemparnya ke tengah danau. Sesekali juga ia memotret pemandangan di sekeliling danau, juga Agni yang tampak bahagia berada di tengah danau bersama Tio. Andai bisa, ingin rasanya Banyu seperti orang lain. Mereka yang dengan bebas bisa bermain di tengah danau tanpa takut jatuh dan tenggelam, tapi Banyu? Berenang pun tidak bisa. Ingin juga rasanya melepas jaket pada suhu sepanas ini, tapi Banyu? Ia tidak bisa melakukannya, kulitnya terlalu sensitif terhadap paparan sinar ultraviolet dari matahari. Hidupnya serba terkekang, tapi Banyu? Banyu memilh tersenyum, ia memilih tertawa, ia masih punya Tuhan dan Tuhan yang Mahabaik itu mengirim Bayu sebagai sosok malaikat tak bersayap di hiduo Banyu. Bayu adalah hidup bagi Banyu.
Sementara itu Agni tampak kegirangan berada di atas sampan bersama Tio. Sesekali Tio terkikik melihat tingkah kekanakan gadis urakan di hadapannya. Dari tampilan, Tio dapat menyimpulkan bahwa Agni ini anak bermasalah, entah dengan apa. Sesekali Agni mencuri pandang pada sosok Banyu yang tengah melempari kerikil di tepi danau.
"Om," panggil Agni pada Tio yang dijawab dengan deheman. "Saya boleh tanya?" Agni agak takut memulai pembicaraan dengan lelaki paruh baya yang tengah mendayung sampan mereka.
"Tentang Banyu?"
"Iya Om, boleh saya tau?"
"Boleh, tapi saya nggak bisa jelasin secara detail. Nanti biar Bayu saja yang jelasin sama kamu."
"Bayu?"
"Iya Bayu, saudara kembar Banyu."
"Kembar?" Agni semakin bingung. Ia bertemu dengan Bayu tadi di kampus, tapi mana mungkin cowok maskulin itu yang dimaksud Tio. Kalaupun Bayu dan Banyu kembar, kenapa Bayu sekarang sudah semester enam, sedangkan Banyu kan sama dengannya, baru delapan belas tahun.
"Pasti kamu bingung kan, Nak? Sudah bertemu dengan Bayu?" tanya Tio pada Agni yang masih bingung dengan semuanya dan hanya diam menatap Tio. "Bayu memang sekarang sudah semester enam mengambil kedokteran," ujar Tio memutus kebingungan Agni.
"Jadi bener Bayu yang itu, tapi mereka sama sekali nggak mirip Om dan kenapa Bayu udah semester enam, unurnya delapan belas tahun kan?"
"Bayu masuk akselerasi dulu, dia anak yang pintar. Mereka mungkin tidak mirip karena penampilannya saja, coba penampilanya sama mereka mirip."
"Kalau Bayu bisa keren kaya gitu kenapa Banyu harus kaya anak playgroup yang sepolos itu Om?" tanya Agni dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.
"Kelainan genetik."
"Kelainan genetik?"
"Iya, kamu mungkin tidak akan percaya, tapi kenyataannya memang begitu. Sampai sekarang Banyu hanya bisa makan bubur dan makanan yang lembut. Ia hanya bisa minum susu dan air putih. Banyu masih punya sepuluh gigi susu. Tidak bisa mengancingkan baju, tidak bisa memakai dasi, tidak bisa menalikan sepatu sendiri, tidak bisa menyisur rambutnya sendiri dan tidak bisa menyebrang jalan," jelas Tio membuat Agni tercengang.
"Sampai segitunya?" tanya Agni yang dijawab Tio dengan anggukan. "Terus siapa yang ngikatin tali sepatu dia? Ngancingin baju? Nyisirin rambut? Bikinin bubur? Susu?"
"Bayu."