"Heh! Ngapain Lu masuk mobil gua?!"
Devan Mahesa Maynard, laki-laki tinggi, bermata sipit, berahang tegas itu terperanjat kaget tatkala mendapati seorang gadis tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya. Ia tampak berjongkok di antara celah jok mobil sambil kepalanya merunduk. Devan menebak, kalau Gadis itu pasti sedang bersembunyi dari seseorang.
Mendengar suara orang menegurnya, gadis itu seketika mengangkat wajah. Menatap Devan dengan bola matanya yang bulat dan bening. Serta di hiasi dengan bulu mata yang lentik. 'Sungguh mata yang indah' kalimat itu yang terlintas di benak Devan saat pertama melihat cahaya matanya.
"Sst..." Alih-alih menjawab Gadis itu hanya mendesis, sambil jari telunjuk menempel di depan bibirnya yang mungil.
Devan mengernyitkan alisnya. Pandangannya ia layangkan ke sekitar mobil. Mengintip dari kaca jendela, mencari seseorang yang berkemungkinan menyebabkan gadis itu harus bersembunyi di sana.
"Lo lagi ngumpet, ya?" Tanya Devan dengan tatapan penuh selidik.
"Ssst... Ish! Berisik banget sih! Lo lihat sendiri kan kalau gue sampai susah payah jongkok-jongkok kayak gini? Nggak usah nanya juga harusnya lo tahu kalau gue lagi ngumpet!" Dengus gadis itu.
Devan diam. Matanya meneliti. Seolah ribuan pertanyaan sekarang riuh di benaknya. Tentang gadis bertubuh tinggi semampai, dengan matanya yang besar dan bibirnya yang mungil itu. Maski begitu, Gadis itu tidak terlihat seperti seorang gadis yang ramah.
Gadis itu mengenakan Hoodie berwarna hitam, tapi dari rok yang dikenakannya Devan bisa menebak bahwa gadis itu masih berstatus sebagai seorang pelajar. 'Ah, gua tahu sekarang!' batinnya.
Devan mengganggu anggukan kepalanya. Seolah Dia baru saja mendapatkan clue dari pertanyaan yang sejak tadi bercokol di benaknya. "Heh! Lu pasti lagi bolos, ya?! Sergah Devan sambil menunjuk ke arah gadis itu.
Bola matanya yang bulat mengerjap. Lalu sesaat kemudian tampak mengalihkan pandangan ke arah lain. "Bukan urusan Lo!" Gumamnya.
Salah satu sudut bibir Devan terangkat. "Dasar bocah bandel!" Umpatnya.
Gadis itu seketika membelalakkan matanya, "Apa Lo bilang? Siapa yang lo katain bocah bandel, hah?!" Sergahnya.
"Ya Lo, lah! Siapa lagi!"
"Enak aja lo ngatain gua bocah bandel!"
"Eh, harusnya jam segini itu bocah seumuran Lo lagi ada di sekolah! Lha, ini malah main petak umpet di jalanan, Apa namanya kalau bukan bocah bandel?"
"Iiishhh! Nyebelin banget sih!" Gadis itu mendengus.
"Gua di sini ada alasannya! Jangan sok tahu deh!" Serdahnya.
"Apapun alasannya, tetep aja Lo itu bolos! Pasti lu di sini juga lagi ngumpet dari orang tua lo, kan?! Ngaku Lo!"
"Sok tahu!" Dengus gadis itu.
"Udah deh mendingan sekarang Lo diam dan gak usah ikut campur urusan gue! Mau gue bolos kek, mau nggak, Itu bukan urusan lo!" Ujarnya.
Devan menggelengkan kepalanya. "Wah! Nggak bisa di biarin!" Gumam Devan lantas menyalakan mesin mobilnya yang sejak tadi terparkir di halaman sebuah toko buku, sebelum akhirnya Gadis itu menyelinap masuk ke sana. Tangannya dengan lincah memutar kemudi mobilnya agar memutar balik. Tentu saja hal itu membuat gadis itu terperanjat. "Heh! Lo mau bawa gue kemana?!" Sergahnya, tangannya dengan cepat meraih ujung kemeja yang di kenakan oleh Devan lalu menarik-nariknya. "Lo mau bawa gue kemana?! Berhenti nggak?!" Sergahnya.
"Dimana rumah Lo?" Tanya Devan.
"Mau ngapain nanya rumah gue?!"
Devan mengintip dari kaca spion, mendapati wajah jengkel gadis itu menatapnya dengan tatapan tajam. "Mau antar Lo pulang! Biar orang tua Lo tahu kalau anaknya bolos!"
"Lo nggak usah ikut campur urusan gue bisa nggak sih?!" Bentak gadis itu.
"Turunin gue sekarang, atau gue teriak!!" Gertaknya.
Devan menarik salah satu sudut bibirnya. "Teriak aja! Paling nanti orang yang ngejar Lo tahu kalau Lo ngumpet di sini," Ujarnya dengan santai.
"Lagian lu ngumpet di mobil gua, secara nggak langsung lo udah ngelibatin gua dalam masalah lo." Kejar Devan. "Pasti yang ngejar Lo itu orang tua Lo, kan? Atau mungkin suruhan orang tua Lo? Mereka mau bawa Lo pulang pasti. Atau kalau nggak mau nyuruh Lo sekolah, ya kan?" Tanya Devan.
"Bawel! Sok tahu!" Dengus gadis itu.
Devan hanya tertawa. "Gua udah biasa ngadepin anak-anak bandel modelan kayak Lo, jadi gua udah paham banget sama kelakuan bocah kayak Lo!" Ujarnya
Gadis itu terdiam, ia hanya memalingkan wajahnya. Namun diam bukan berarti dia menurut, dia justru sedang memikirkan cara untuk bisa kabur dari mobil itu.
Sesekali Devan melirik ke kaca spion, untuk mengecek Apa yang sedang dilakukan gadis itu.
Gadis itu sekarang tampak duduk dengan lebih tenang di jok belakang mobil Devan sambil melipat kedua lengan di depan dada. Mulutnya sudah tidak mengoceh lagi. Namun wajah kesalnya masih bertahan bahkan sampai mobil Devan melaju jauh dari tempatnya semula.
"Lo mau culik gue, ya?" Tanya gadis itu dengan nada datar. Tanpa mengubah posisi duduknya yang menatap keluar jendela mobil Devan.
"Gua belum memutuskan!" Sahut Devan.
Gadis itu menoleh, menatap dengan alis yang berkerut, "maksud lo? Ada kemungkinan lo mau nyulik gue gitu?" Tanyanya kembali.
Devan hanya tersenyum. Terlihat dari kaca spion yang tergantung di atas. "Nggak usah senyum-senyum, gue nggak terkesan!" Cicit gadis itu lalu kembali membuang pandangannya keluar jendela. Kata-kata spontan nya itu membuat Devan kembali terkekeh.
"Ketawa lagi!" Gumam gadis itu pelan, namun cukup terdengar oleh Devan.
"Nama lu siapa?" Devan bertanya.
"Ngapain nanya-nanya nama gue? Petugas sensus Lu?"
"Ya ampun, Lo sensi banget dari tadi. Gua nanya baik-baik loh,"
"Lo nanya baik-baik tapi gua nggak yakin kalau Lo orang baik, ngapain gue harus baik sama lo?" ujar Gadis itu.
"Ok, kalau Lo nggak mau nyebutin nama Lo biar gua aja yang kasih lo nama panggilan, soalnya gua bingung mau manggil lo apa Kalau lo nggak mau ngasih tahu nama lo sama gua,"
"Ck, terserah!" Sahutnya malas.
"Hmmm... Ok, wait... Kira-kira nama yang cocok buat lo apa, ya?" Gumam Devan seraya mengetuk-ngetuk kan jadi telunjuk di dagunya, sambil sesekali melirik ke arah kaca spion, memperhatikan pantulan wajah gadis itu dari sana. Gadis itu hanya memutar bola mata malas seolah tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki di hadapannya itu.
"Karena lo galak, jutek, terus bandel. Jadi Kayaknya gua harus manggil lo dengan panggilan Aisyah," cicit Devan.
"Aisyah?!" Gadis itu menoleh dengan cepat dengan alis mata yang berkerut heran.
"Itu lebih cocok buat cewek kalem, lembut sama solehah kali! Lo kan bilang gue galak sama bandel, gimana sih!" Ujar gadis itu.
Devan terkekeh, "Gua sengaja mau manggil lo dengan nama Aisyah, biar kelakuan lo sama kayak Siti Aisyah Humairah istrinya nabi Muhammad," cicit Devan.
"Ck, sayangnya gue bukan cewek spek Siti Aisyah," tukasnya.
"It's Okay! Anggap itu doa dari gua buat lo!" Kata Devan.
"Ok, Aisyah?" Ujarnya sambil melayangkan senyum melalui pantulan bayangan dari kaca spionnya.
"Hhhh... Terserah Lo, gue nggak peduli," Sahutnya.
Devan hanya mengangguk-anggukan kepalanya, 'cewek ini benar-benar nggak mau nyebutin nama, dia pasrah Gua panggil Aisyah karena nggak mau nyebutin nama dia' gumamnya dalam hati.
"Di mana sekolah lo? Biar gua antar sekalian! Lo itu nggak boleh kebanyakan bolos, biar masa depan lo nggak suram kayak wajah lo sekarang,"
Gadis itu melirik tajam, "gue belum punya sekolah," sahutnya.
"Hm?! Belum punya sekolah? Maksudnya, lu nggak sekolah? Terus seragam yang lo pake?" Devan bertanya-tanya.
Gadis itu menghela nafasnya, "Gue baru di pindahin dari sekolah lama gue, tadi bokap ngajak gue ke sekolahan yang baru buat daftar sekolah di sana, tapi gue nggak suka sama lingkungan sekolahnya, makanya gue kabur! Soalnya bokap gue maksa terus, gue nggak suka dipaksa!" Ungkap gadis itu.
"Terus Lo maunya sekolah di mana?" Tanya Devan.
Gadis itu mengedikkan bahunya. Lalu terdiam.
"Lha, lu nggak tahu pengen sekolah di mana? Lo nggak kepikiran gitu masa depan lo mau kayak apa? Harusnya kalau Lo punya cita-cita di masa depan, Lo nggak harus bingung mau sekolah di mana,"
"Hhh... Percuma juga gue milih, bokap gue juga pasti udah daftarin gue di sekolah itu. Hidup gue kan emang nggak pernah punya pilihan, semuanya diatur sama mereka!"
"Diatur sama orang tua Lo?"
"Hm!" Sahutnya. Wajah gadis Itu tampak pasrah bercampur frustasi. Seperti ada beban yang menggelayuti pikirannya saat ini.
"Gua yakin maksud orang tua lo baik, mereka pasti mau yang terbaik buat lo. Nggak ada orang tua yang nggak ngedepanin kebaikan buat anaknya, pasti semua yang dilakukan itu buat kebaikan anaknya,"
"Ck, kebaikan apaan? Nggak ada kebaikan apapun kalau gue nggak happy!" Tukas gadis itu.
Devan menghela nafasnya. Terbaca dari bagaimana cara dia bersikap, dia adalah gadis yang teguh pendirian, sehingga terkadang terkesan bebal dan keras kepala.
Sesaat suasana hening. Hanya sesekali terdengar suara gadis itu mendengus kesal. Sambil menggerutu, entah apa yang ia katakan. Devan tidak terlalu menghiraukan.
"Hey, nama Lo siapa?!" Tiba-tiba gadis itu menepuk pundak Devan.
"Ngapain nanya nama gua?" jawab Devan, nada suaranya datar, sambil matanya fokus ke jalanan.
"Gue bingung manggil Lo apa!" Ujarnya.
"Nggak penting!" Gumam Devan.
"Udah sebutin aja!" Dengusnya.
"Lo juga tadi gua tanya nama nggak mau jawab," ujar Devan.
Gadis itu menghela nafas kasar. "Ok, kalau gitu gue juga mau bikin nama panggilan buat Lo!"
"Silahkan!" Sahut Devan.
Gadis itu terdiam sejenak. Tampak berpikir beberapa saat hingga tiba-tiba matanya berbinar. "Aah! Gue tahu nama yang cocok buat Lo!" Serunya sambil menjentikkan jari.
Devan melirik dari kaca spion, "Apa?" Tanyanya.
"Karena Lo nyebelin, jadi gue mau panggil Lo Paijo aja!" Cicitnya.
"Heh! Enak aja!" Tukas Devan.
"Tadi gua ngasih Lo nama panggilan bagus lho! Kenapa Lo manggil gua Paijo?! Nggak adil dong!" Sergahnya tak terima.
"Bodo amat! Siapa suruh nggak mau ngasih tahu nama," ujarnya. "Dasar Paijo!" Ejek gadis itu sambil tertawa. Laki-laki itu hanya berdecak.
"Ketawa lagi! Gua culik beneran nangis Lo!"
Gadis itu seketika merengut, tangan terlipat di depan dadanya, alisnya berkerut tajam. "Lo tuh sebenarnya mau bawa gue kemana sih? Nggak jelas banget!" Dengusnya.
"Heh! Kalau Lo pikir gue bakalan takut sama orang jahat kayak Lo, Lo salah besar! Gue nggak takut sama siapapun, termasuk cowok me-sum kayak Lo!" Sergahnya.
"Hey!! Lo ngomong apa barusan?!"
"Co-wok... Me-sum!!" Ulangnya.
Seketika Devan menghentikan laju mobilnya.
CIIITTTT!!
BRUKK!!
"Aww!!" Pekik gadis itu. Kepalanya terbentur jok yang di duduki oleh Devan tatkala Devan menginjak pedal rem nya secara tiba-tiba.
"SIALAN LU, YA! SAKIT KEPALA GUA INI!" Sergah gadis itu seraya menggeplak pundak Devan, sambil tangan kanannya mengusap-ngusap keningnya yang terbentur.
Devan memutar badannya ke belakang, melayangkan tatapan tajam kepada gadis yang baru saja mengatainya itu.
"Lo ngatain gua apa tadi, hm?!" Tanya Devan.
"Ngatain apa? Gue nggak ngatain apa-apa," sahutnya sambil membuang muka.
"Yang tadi!"
"Apa?! Cowok me-sum?!"
"Sembarangan banget mulut Lo! Emangnya gua ada macam-macam sama Lo? Nggak kan?! Jangankan macam-macamin Lo, ngelakuin kontak fisik sama Lo juga nggak, kan?!" Devan berkacak pinggang.
"Tapi kan Lo mau culik gue! Orang dewasa, cowok, nyulik cewek buat apa kalau bukan buat di macam-macamin?! Dasar otak Lu busuk!" Semburnya.
Wajah Devan merah padam, ia tak terima di tuduh laki-laki me-sum olehnya. "Eh, Lo sendiri yang masuk ke mobil gua, tapi bisa-bisanya Lo ngatain gua kayak gitu!"
"Ya karena Lo malah bawa gue pergi! Lo mau bawa gue kemana gue tanya?!" Balasnya.
Devan mengerjapkan matanya, termenung sejenak sambil berpikir. 'Lha, iya! Gua mau bawa cewek ini kemana coba?'
'Tadi gua mikir mau nganterin dia ke rumahnya, tapi kan dianya nggak mau! Terus sekarang gua harus antar dia kemana dong? Haissshh!!' batin Devan.
"Nah, bingung kan Lo?!"
Devan kembali menoleh.
"Ya udah! Sebutin alamat Lo, gua antar Lo pulang!" Ujarnya.
"Ingat, ya! Gua bukan cowok me-sum!" Tegasnya.
"Nyenyenyenye!" Ledek Gadis itu. Dengan mulut yang ia cebikkan. Gestur tubuhnya terlihat sangat menyebalkan.
Devan menghela nafasnya dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan, mencoba mengatur emosinya yang sudah siap meledak kapan saja.
"Lo mau gua antar pulang nggak?! Kalau nggak, Lo turun sekarang!" Sergah Devan dengan nada suara yang meninggi. Kesabarannya sudah mulai habis menghadapi gadis itu.
Gadis itu membalas Devan dengan memicingkan matanya, menatap Devan dengan sengit. "Ok! Gue turun sekarang!" Ujarnya. "Lagian siapa juga yang minta di antar pulang sama cowok nggak jelas kayak Lo!" Dengusnya.
"Ya udah turun sana!" Tukas Devan.
"Ok!" Gadis itu membuka pintu mobil lalu membantingnya dengan kasar. "Cowok aneh!!" Umpatnya lantas melangkah pergi, kakinya dia hentak-hentakan dengan kasar pada permukaan aspal yang keras.
"Lo yang aneh!!" Balas Devan dari dalam mobilnya. Matanya terus menatapi punggung Gadis itu yang beranjak menjauh, sambil susah payah mengatur emosinya yang sempat meledak.
Semakin lama langkah Gadis itu semakin gontai, melambat, dan tak kasar seperti sebelumnya. Dan itu tak luput dari perhatian Devan. Ada perasaan iba muncul dalam hatinya secara tiba-tiba. Entah, Devan sendiri tak paham. Sambil menatap Gadis itu Devan menghela nafas dalam-dalam.
"Kasihan juga cewek itu, dari matanya kelihatan banget kalau dia lagi ada masalah," gumam Devan, sambil matanya tak lepas menatapnya.
"Gua jahat banget nggak sih, orang lagi ada masalah malah gua turunin di tengah jalan kayak gitu, kalau ternyata dia cewek yang lagi frustasi gimana? Terus entar gua dapat kabar Kalau dia bun-uh diri, bisa dihantui rasa bersalah gua!" Devan termenung. Hatinya bimbang.
"Ck, aaargh! Gua jadi ikut-ikutan pusing, kan!" Gerutunya sambil menyugar rambutnya dengan sedikit kasar.
"Apa Gua susulin lagi aja, ya! Nggak tega juga gua biarin dia luntang-lantung kayak orang linglung gitu," putusnya.
---
Mobil Devan kembali melaju pelan, lalu berhenti tepat di samping gadis itu. Dia menghentikan langkahnya sambil menoleh, lalu alisnya berkerut tak suka tatkala melihat mobil orang yang tadi menurunkannya tiba-tiba berhenti di sampingnya.
SRETT!
Kaca jendela mobil Devan turunkan. Semakin jelas wajah jengkel Gadis itu menatap ke arahnya. "Ngapain lu nyamperin gua lagi?!" Sergahnya sengit.
"Masuk!" Ujar Devan.
Gadis itu membalikan badannya, melipat kedua lengan di depan dadanya. "Apaan banget lo nyuruh-nyuruh gua masuk lagi ke mobil Lo?! Mau ngapain? Mau ngelanjutin niat lo buat ngulik gua, hm?!" Tanya gadis itu.
"Nggak! Lo nggak usah suudzon! Gua cuma kasihan lihat lo luntang-lantung di jalanan kayak gitu. Biar gua antar lo pulang!" Kata Devan.
Gadis itu berjalan mendekat, lalu mencondongkan badannya, alis matanya terangkat "nggak usah! Gua nggak butuh belas kasihan Lo! Gua punya duit, gua bisa pulang sendiri naik taksi! Jadi lo nggak usah sok-sokan jadi pahlawan kesiangan, BYE!!" Ujar gadis itu lantas kembali melenggangkan kakinya meninggalkan Devan.
"Ck, cewek nggak tahu berterima kasih! Ada orang punya niat baik mau nolong malah balasannya kayak gitu! Udah paling bener tadi gua tinggalin aja. Pakai acara kasihan segala, orang yang dikasihaninnya juga nggak tahu diri!" Gerutu Devan sambil menatap malas punggung gadis yang sudah berjalan menjauh. Lalu kemudian lebih memilih untuk melanjutkan urusannya yang tertunda. Daripada mengurusi gadis tak atau berterima kasih itu, pikirnya.
_Anahita Shaqueena_
Gadis cantik bermata bulat kecoklatan, bertubuh tinggi semampai, berkulit putih, dan berambut ikal dan hitam. Ia berjalan menyusuri jalan aspal yang tenang. Tanpa banyak kendaraan berlalu lalang karena jalan itu bukan termasuk jalan Raya atau jalan utama.
Kakinya sedikit terasa lelah. Namun dia harus tetap terus berjalan, entah ke mana tujuannya. Rumah? Rasanya ia sudah sangat muak dengan tempat itu. Tempat di mana kebebasan dan haknya sebagai seorang manusia sangat dibatasi. Bahkan dia tidak pernah punya kesempatan untuk memilih segala hal untuk hidupnya. Semuanya harus atas kehendak orang tuanya. Dan dia harus patuh dengan semua itu.
Mungkin itulah salah satu alasan kenapa Shaqueena atau sering dipanggil Queen itu tumbuh menjadi seorang gadis yang cenderung seperti pemberontak. Meski apapun bentuk pemberontakannya selalu saja dipatahkan oleh orang tuanya. Dan berakhir pada keterpaksaannya untuk menerima apapun keputusan mereka.
Termasuk sekarang. Queen dikeluarkan oleh sekolahnya yang lama atas suatu kasus. Mengharuskannya pindah ke sekolah yang baru. Sekolahnya yang lama adalah sekolah pilihan orang tuanya yang sama sekali tidak sesuai dengan minatnya. Queen berbuat ulah, hingga akhirnya bisa keluar dari sekolah itu.
Tapi lagi-lagi, dia harus masuk ke sekolah yang sama sekali tidak diinginkannya.
Queen memiliki minat dan bakat dalam olah suara, serta musik. Tapi, orang tuanya menginginkan Queen menjadi seorang pengusaha, wanita karir, pebisnis yang hebat seperti kedua orang tuanya. Jelas itu bukan minat nya. Tapi Queen bisa apa?
Langkahnya gontai, tatapannya menatap lurus ke depan namun kosong. Tak ada yang dilihatnya di depan sana. Bahkan kakinya melangkah tanpa tahu arah.
Sesekali Queen tampak menghela nafasnya, sekilas ingatannya kembali pada waktu beberapa saat lalu. Saat dia berdebat dengan sang ayah di halaman sekolah barunya. Penolakan keras Queen pada sekolah SMK jurusan manajemen bisnis yang dipilihkan oleh ayahnya itu berujung pada perdebatan hebat antara keduanya.
Queen yang tidak bisa menerima keputusan ayahnya lantas berlari meninggalkan ayahnya tanpa mau menghiraukan, meskipun berulang kali ayahnya berusaha untuk menyuruhnya kembali. Sampai-sampai security ikut turun tangan untuk mengejar Queen atas permintaan ayahnya itu. Hingga akhirnya Queen bersembunyi di dalam mobil laki-laki menyebalkan tadi.
Kembali ia menghela nafasnya, mengakhiri semua ingatannya tentang kejadian itu. Lalu tampak berdecak, "Ck, Cowok gila! Otak gue lagi kacau kayak gini, rasanya jadi makin kacau aja ketemu sama dia!" Umpatnya sambil mendengus kesal.
Langkah kakinya berhenti di sebuah halte bus yang tampak sepi. Tidak ada siapapun di sana, halte bus itu pun tampak sedikit kotor dan berdebu. Seolah jarang ada manusia yang singgah di sana.
Setelah menepuk-nepuk permukaan kursi halte bus itu sebisanya demi mengusir debu-debu yang menempel, Queen lantas mendudukkan dirinya. "Ah... Pegel banget kaki gue..." Lenguhnya sambil matanya memejam beberapa saat. Merasakan angin tipis yang berhembus mengusap rambutnya yang terurai. Sejenak terasa tenang, suara dedaunan yang bergemerisik tertiup angin seolah menjadi lagu yang menghibur hatinya yang sedang kacau.
"Kayaknya gue di sini dulu aja deh, tempatnya tenang dibanding rumah gue yang kayak penjara itu," gumamnya.
Punggungnya ia sandarkan pada sandaran kursi berbahan stainless tebal yang berkilat. Nafasnya Ia hela berkali-kali, mengisi penuh paru-parunya dengan udara yang terasa sejuk. Mencari ketenangan sejenak di sana.
Angin yang semilir pelan menyejukkan, meredakan rasa lelah Queen setelah berjalan beberapa kilometer setelah ia diturunkan oleh laki-laki itu. Semakin lama, suara angin yang lembut seolah seperti nyanyian pengantar tidur, membuat rasa kantuk yang hebat datang menyerangnya.
Beberapa kali Queen tampak menguap, matanya yang merah dan berair menandakan betapa rasa kantuk itu sudah benar-benar menguasainya.
Diliriknya permukaan kursi halte di sampingnya. Tas ransel di punggungnya ia lepaskan, lalu ia letakkan di ujung kursi itu. "Gue tidur dulu sebentar kali ya, ngantuk banget gue!" Gumamnya lantas menguap sekali lagi.
Kepalanya ia rebahkan di sana, "Oh, di sini nyaman banget," ucapnya sedikit berbohong. Nyatanya, tidur di atas kasur empuk di kamarnya jauh lebih nyaman daripada kursi besi berdebu yang menjadi alas tidurnya saat ini.
Dalam waktu beberapa detik saja, Queen sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Suara kendaraan yang sesekali melintas sudah tak terdengar lagi. Gadis itu benar-benar Sudah terlelap Karena rasa lelahnya. Dunianya terasa tenang sejenak, bersamaan dengan mimpinya yang datang. Mimpi tentang kehidupan yang diinginkannya. Berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari kehidupannya yang sekarang sedang dia jalani.
Queen bermimpi sedang berada di sebuah ruangan, gitar di tangannya ia petik, sambil menyanyikan sebuah lagu, ia menggaungkan kehidupan impiannya dalam mimpinya itu. Satu lagu yang diisi dengan rangkaian harapan yang ingin diwujudkan dalam kehidupan nyata. Yang menyatu dengan harmoni indah bersama suaranya yang lembut.
Suara tepukan tangan menggema di ujung lagunya. Queen mengangkat wajahnya, menatap sesosok laki-laki yang duduk di sudut ruangan yang gelap, yang langkah kakinya terdengar berderap, perlahan mendekatinya. Hingga saat cahaya lampu menyibak gelap, menampakkan wajah laki-laki itu, wajah laki-laki yang rasanya tidak asing baginya. Queen terperanjat.
Dia tersentak dari tidurnya, lalu terduduk sambil tercenung. "Hah? Kok cowok itu bisa masuk ke mimpi gue?!" Gumamnya.
Dia benar-benar termenung sekarang, merasa heran dengan mimpinya sendiri. Tiba-tiba saja Devan menyelinap masuk ke dalam mimpinya itu. Memberi tepuk tangan dengan wajah yang tersenyum bangga kepadanya. Terasa begitu nyata meskipun rasanya sangat aneh. Tapi entah kenapa, Queen merasakan senyum laki-laki itu terlihat begitu tulus kepadanya.
"Oh, bisa-bisanya gue mimpiin cowok menyebalkan itu. Aduh... Jangan-jangan otak gue udah korslet ini!" Gumamnya sambil menepuk-nepuk pelan kepalanya.
"Mbak!" Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Sontak Queen terlonjak, matanya yang besar semakin membulat sambil menatap ke arah orang yang baru saja menepuk bahunya itu.
"Oh, maaf... Kaget, ya?" Ujarnya meminta maaf.
Ketegangan di wajah Queen seketika mengendur setelah melihat seorang gadis berdiri di sampingnya sambil tersenyum dan meminta maaf. "Aduh, mbak... Kaget banget tahu!" Ujar Queen seraya mengusap-usap dadanya.
"Maaf, Nggak maksud ngagetin," sahutnya.
"Boleh ikutan duduk?" Tanya gadis itu.
"Boleh! Duduk aja! Lagian ini tempat umum, nggak perlu minta izin sama gue juga," sahut Queen datar.
Gadis itu tersenyum, "Ok, makasih!" Sahutnya lantas mendudukan dirinya disamping Queen.
Beberapa saat hening. Queen yang sesekali melirik ke arah gadis itu dengan ujung matanya. Mendapati Gadis itu duduk dengan buku yang asyik dibacanya, membuatnya sedikit tertarik. Apalagi ketika melihat sampul buku yang dibaca olehnya.
"Mental health?!" Tanya Queen. Gadis itu menoleh, ia memeriksa sampul bukunya yang baru saja dibaca oleh Queen, lalu tersenyum kepadanya. "Iya!" Sahutnya.
"Itu buku apaan?" Tanya Queen penasaran.
"Oh, ini buku antologi. Isinya cerita tentang orang-orang yang ngalamin berbagai masa sulit," ujar Gadis itu sambil terkekeh.
Queen mengernyitkan alisnya, "hidup Lo sulit?" Tanya Queen tanpa beban.
"Setiap orang punya masalah hidup masing-masing, semua orang pernah mengalami masa sulit, kan? Termasuk gue," Ujarnya.
"Tapi ada orang yang mentalnya benar-benar dibuat berantakan sama kehidupan, kan? Nggak semuanya sama," tukas Queen.
"Iya, Lo benar," sahutnya.
"Gue salah satunya!" Keluh Queen lantas menyandarkan punggungnya.
"Gue juga!"
Seketika Queen menoleh, "mental Lo juga sakit?" Tanya Queen.
Gadis itu hanya tersenyum, sambil mengedikkan bahunya. "Maybe!" Sahutnya.
Queen yang mulai tertarik lantas menggeser duduknya, menghadap ke arah gadis itu, seolah menunjukkan minat. "Karena apa?" Tanyanya.
"Oh, iya! Nama gue Queen, Lo siapa?!" Tanya Queen sambil mengulurkan tangannya. "Gue Nara," Sahutnya sambil menjabat tangan Queen.
"Ok, Nara! Lo boleh cerita masalah hidup yang bikin mental Lo nggak baik-baik aja sama gue, anggap aja biar temen lo!" kata Queen.
Gadis itu tersenyum lantas menghela nafasnya. Pandangannya merunduk ke bawah, menatap rumput-rumput kecil yang tumbuh di sela-sela trotoar jalan di ujung kakinya. "Lo lihat kan penampilan gue kayak apa?" Ujarnya.
Queen mengernyitkan alisnya, sambil memindai penampilan Nara dari ujung kaki ke ujung kepala. Gadis berkacamata tebal, dengan tahi lalat kecil di pipi kanannya, serta rambutnya yang diikat ekor kuda itu melirik ke arahnya.
"Gue sering di bvlly sama Bora dan gengnya di sekolah, karena katanya gue cupu," tutur Nara sambil tersenyum getir.
"Kadang gue ngerasa nggak tahan, tapi gue nggak bisa berbuat apa-apa, dia temennya banyak. Sedangkan gue?" Nara terdiam beberapa saat.
"Nggak ada yang mau temenan sama gue Karena gue cupu!" Ujarnya.
Queen termenung, ia tampak menggigit bibir bawahnya. 'Kasihan banget' gumamnya dalam hati.
"Lo benci sama orang yang bvlly Lo itu?" Tanya Queen.
"Iya, pasti! Tapi gue bisa apa? Apapun yang dia lakuin nggak bisa gue bales. Gue cuma bisa diam," Ungkapnya dengan nada suara yang lemah.
Queen menghela nafasnya. 'Seburuk itu orang yang suka nge-bvlly? Sejahat itu? Sampai merusak mental orang?' gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba Queen teringat, Kenapa dia bisa dikeluarkan dari sekolahnya yang lama. Dia pembuat onar. Orang yang sok berkuasa. Siapapun yang membantahnya pasti akan mendapat perlakuan yang tidak baik darinya. Dan Queen dikeluarkan karena membuat salah satu teman sekelasnya tidak mau masuk sekolah lagi karena ulahnya.
'Gue jahat banget' batinnya.
"Kalau lo sendiri kenapa?" Tiba-tiba Gadis itu bertanya. Memecah ingatan Queen tentang kelakuan buruknya selama ini. "Hah? Em...--" Queen mengerjapkan matanya. Seolah tak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nara kepadanya.
"Lo tadi bilang katanya Lo salah satu orang yang mentalnya nggak baik-baik aja, pasti ada alasannya dong? Lo mau cerita nggak sama gue?" Tanya Nara antusias.
Queen tersenyum kaku. Ia mengusap tengkuknya sambil berujar, "Em, kayaknya lain kali aja deh ceritanya. Soalnya ceritanya panjang, nggak bisa sekarang," ujarnya.
Nara mengangguk-anggukan kepalanya, dia tidak bisa memaksa seseorang untuk menceritakan masalah pribadinya, bukan? Nara menghargai itu.
"Ok, kapan-kapan lo boleh cerita sama gue kalau lo mau," ujar Nara lembut. Queen tersenyum.
"Oh, iya! Lo habis pulang sekolah? Kayaknya gue nggak kenal seragam sekolah yang lo pake deh," tanya Nara sambil memperhatikan seragam yang dikenakan oleh Queen, yang hanya terlihat roknya saja.
"Oh, i-iya! Sekolah gue di luar kota. Gue baru pindah ke sini beberapa hari. Dan baru daftar sekolah pagi ini," jawabnya.
"Oh, pantesan aja gue nggak pernah lihat seragam sekolah kayak yang lo pake," ujar Nara.
"Terus Lo sekolah dimana sekarang?"
Queen termenung, sialnya dia lupa nama sekolah yang tadi dipilihkan oleh ayahnya karena Queen langsung pergi begitu saja.
"Em, gue lupa! Soalnya tadi yang daftarin bokap gue!" Sahut Queen.
"Oooh, ya udah nggak apa-apa,"
'Kayaknya Nara baik deh, vibes-nya lembut banget nih anak! Kayaknya, gue butuh nggak sih temen kayak dia? Biar gue bisa ketularan lembut juga kayak dia' gumam Queen dalam hati sambil menatap lekat gadis berkacamata di hadapannya.
"By the way, Rumah Lo di mana, Queen?" Nara kembali bertanya.
"Em, Nggak jauh kok dari sini. Gue juga lupa Nama kompleknya. Tapi gue tahu jalan ke sana kok," kata Queen.
"Oh gitu. Lo Lucu banget sih," ujar Nara.
"Lucu?? Kok lucu?!" Tanya Queen heran.
Nara terkekeh. "Iya, Lo itu lucu. Nama sekolahan sendiri nggak tahu, nama komplek perumahan sendiri juga nggak tahu. Kayaknya lo orangnya cuek, ya?" Cicit Nara.
Queen tersenyum miring, "gue lebih ke nggak peduli sih! Lagian semuanya udah diatur sama bokap. Jadi gue nggak usah repot-repot mikirin apapun, buat apa juga? Nggak ada gunanya!" Ada kegetiran di balik kalimat yang diucapkan oleh Queen. Dan entah kenapa, Nara bisa membaca itu dari sorot matanya.
Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu sambil tersenyum ia menepuk-nepuk pundak Queen, menggambarkan sebuah dukungan, "Iya, nggak apa-apa, Queen..." Ujarnya.
---
Cahaya matahari mengintip dari celah jendela kamarnya. Queen, duduk di depan meja riasnya sambil menopang dagu. Menatap pantulan wajahnya di dalam cermin itu. Seragam sekolahnya sudah ia kenakan. Seragam baru, untuk sekolahnya yang baru pula.
Di liriknya jam dinding yang tergantung di sudut ruangan yang sudah menunjukkan pukul enam. Ia menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Males banget gue..." Keluhnya.
"Susah-susah gue keluar dari sekolah yang lama, malah sekarang gue dimasukin di sekolah yang jurusannya sama. Bener-bener nyebelin!" Gerutunya.
"Queen! Ayok sarapan!" Terdengar suara seorang wanita dari luar kamarnya. Sudah pasti itu suara ibunya yang memintanya segera keluar untuk sarapan. Queen berdecak pelan. "Ck, argh!" Dengusnya.
"Iya, Mah!" Sahut Queen. Langkahnya gontai dan tampak malas, menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana ayah dan ibunya sudah menunggu, serta kakak laki-lakinya.
"Pagi Queen..." Sapa laki-laki muda yang kisaran usianya hanya selisih beberapa tahun saja dengan Queen.
"Hm, pagi!" Sahut Queen lantas menjatuhkan bokongnya di atas kursi di belakang meja makan.
Laki-laki itu mencondongkan badannya, mengamati wajah adiknya dari jarak yang dekat, membuat Queen refleks memundurkan wajahnya sambil alisnya berkerut, "Apaan sih, Mas Prabu?!" Sergahnya.
Laki-laki itu terkekeh, "pagi-pagi udah kusut aja mukanya! Kayak baju belum di setrika," Ledeknya.
"Ck, gaje!" Umpat Queen. Prabu hanya terkekeh.
"Eeeh... Kok malah pada berantem sih? Makan!" Sergah Riana, mamah Queen.
"Iya, mah... Maaf," sahut Prabu masih dengan sisa-sisa kekehannya.
Queen menyambar setangkup roti yang sudah tersedia di atas piringnya, lalu tampak berdiri. Sontak semua menoleh ke arahnya.
"Mau ke mana kamu, Queen?!" Tanya Baskara, ayahnya Queen yang sedari tadi tengah menyantap sarapannya.
"Mau berangkat!" Sahut Queen.
"Duduk dulu! Sarapan itu harus sambil duduk!" Sergahnya.
"Takut telat!" Sahut Queen sekenanya.
"Nggak! Harus tunggu Papah! Papah antar kamu ke sekolah!"
"Nggak usah, aku bisa naik ojek atau naik taksi kok!"
"No! Nanti kamu malah kabur kayak kemarin!" Tukas Baskara.
"Ck, Ya nggaklah! Kabur mulu emang Papah pikir aku gak capek apa kabur-kaburan terus!"
"Pokoknya papah yang harus antar kamu ke sekolah! Papah harus mastiin kalau kamu benar-benar berangkat ke sekolah! Papa nggak percaya sama kamu!"
"Apaan sih, nggak percayaan banget sama anak sendiri, Aku beneran bakal berangkat ke sekolah kok!" Gerutu Queen.
"Kamu ini! Kalau papa ngomong selalu saja menjawab! Kenapa sih kamu susah banget diatur Queen?!" Bentak Baskara dengan bola matanya yang melebar.
Queen memutar bola matanya, wajahnya seolah muak.
"Queen... Kalau papa ngomong kamu dengerin dong, sayang..." Kata Riana.
"Dari tadi juga aku dengerin kok! Kalau aku nggak dengerin Papah ngomong aku nggak mungkin bisa jawab," sahut Queen.
"Kamu bisa bicara sopan nggak sama orang tua?!" Sergah Baskara.
"Ya ampun, Pah. Dari tadi juga aku sopan kok, Emangnya aku ngomong kasar? Enggak kan?!" Tukas Queen.
Baskara menghela nafasnya, mencoba menetralkan emosinya yang siap meledak kapan saja.
"Ya udah pah, biar Prabu aja yang antar Queen, ya?!" Sela Prabu tatkala melihat emosi sudah muncul di wajah ayahnya.
"Iya pah, biar Prabu yang antar Queen," Riana menimpali. "Prabu, kamu antar adik kamu gih!" Ujarnya. Sambil tangannya mengusap-usap bahu suaminya agar emosinya mereda.
"Iya, Mah..." Sahut Prabu.
"Ayok, gua antar lu ke sekolah!" Kata Prabu sambil menatap ke arah adiknya yang tampak berdiri di samping meja makan sambil mengunyah roti dengan wajah yang masam.
"Ck, orang-orang di rumah ini emang pada ribet!" Gerutu Queen sambil berjingkat. Dia membalikan badannya lalu beranjak.
"QUEEN!!" Bentak Bhaskara.
"Udah, Pah... Udah..." Riana berusaha menenangkan suaminya dengan berbicara lembut kepadanya.
"Astaghfirullahaladzim... Anak kamu itu selalu saja bikin emosi!" Wajah Baskara menjadi merah padam, dadanya naik turun menahan amarah yang membludak. Ia sudah sangat kesal dengan kelakuan Queen yang selalu saja menentang dan selalu membantahnya.
"Pah, Mah! Aku berangkat dulu, ya! Sekalian nganter Queen ke sekolah!" Pamit Prabu sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Iya, nak... Hati-hati di jalan! Terus kamu pastikan adik kamu sampai di sekolah, ya!" Ujar Riana sambil tersenyum.
"Iya, mah!" Sahut Prabu. "Assalamualaikum!" Ucapnya.
"Waalaikumsalam!" Sahut Riana dan Bhaskara.
Prabu bergegas, ia harus menyusul adiknya yang sudah lebih dulu beranjak. Sementara Bhaskara dan Riana masih duduk dan termenung beberapa saat, memikirkan putrinya yang sikapnya tak kunjung berubah. Bahkan semakin hari sikapnya semakin menjadi-jadi saja.
Bhaskara menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, sambil tangannya mengusap dadanya dengan lembut, "Mah, Kita harus melakukan sesuatu. Queen tidak bisa kita biarkan terus-terusan seperti itu. Dia itu anak perempuan! Tapi kelakuannya..."
"Astaghfirullahaladzim..." Bhaskara mengusap dadanya.
Riana menghela nafasnya. Melepas beban yang ada dalam dadanya.
"Apa yang harus kita lakukan, Pah? Segala macam cara udah kita lakukan, kan? Tapi justru semakin ke sini Queen semakin susah diatur, Mamah juga udah pusing ngadepinnya," keluh Riana.
Baskara termenung sambil memijat pelipisnya. Sesekali tampak ia menarik nafas berat, sambil matanya menatap kosong permukaan meja makan berbahan batu marmer yang mengkilat.
"Prabu sama Queen sangat bertolak belakang. Mengurus Prabu tidak sesulit mengurus Queen. Prabu itu anaknya penurut, berbeda dengan Queen. Dia selalu saja membantah dan berbuat ulah, Padahal dia anak perempuan!" Keluh Baskara.
"Lain kepala lain sifatnya, Pah... Penurut dan tidaknya itu tidak bergantung dia laki-laki atau perempuan. Anak kita punya sifat yang berbeda, Prabu anaknya pendiam dan penurut. Sedangkan Queen, sejak kecil dia memang sangat ekspresif, dia suka membantah karena dia tidak suka kemauannya dibantah. Dia cenderung tidak mau diatur, makanya dia selalu melawan sama kita," tutur Riana.
"Iya, tapi yang namanya anak itu harus nurut sama orang tua, kan? Mau jadi apa dia nanti kalau membantah terus seperti itu?! Lagi pula, kita ngatur dia juga supaya kelak masa depannya cerah, supaya dia nggak salah jalan," Ujar Baskara.
Riana terdiam. Dia juga sudah kehabisan cara untuk mendidik anak gadisnya itu. Tak banyak yang bisa dilakukan sekarang. Queen semakin dewasa, dan semakin sulit dikendalikan.
"Papah harus melakukan sesuatu!" Gumam Baskara. Riana langsung menoleh, pancaran matanya, serta kerut di alisnya menggambarkan tanya.
"Sesuatu apa, Pah?" Tanya Riana.
Baskara menoleh ke arah Riana, lalu tampak menghela nafasnya. "Nanti mamah bakalan tahu!" Sahutnya.
Sementara Prabu, tergesa-gesa keluar rumah untuk mengejar Queen. Dan ternyata Gadis itu sudah sampai di gerbang rumah, melenggang dengan tas ransel yang ia kaitkan di salah satu pundaknya.
"Queen!" Panggil Prabu. Gadis itu menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Mau ke mana lu? Ayo gua antar!" Teriak Prabu.
Tanpa menjawab, Queen kembali masuk lalu berjalan menghampiri Prabu. "Main nyelonong aja Lu! Kan tadi gua udah bilang kalau gua mau anterin lo ke sekolah, gimana sih?!" Sergah Prabu.
"Habisnya Mas Prabu kelamaan!" Jawab Queen.
Prabu berdecak, "Jadi orang itu belajar sabar dikit bisa nggak sih? Gua habis pamit dulu sama bokap nyokap! Emang Lu, tiap mau berangkat sekolah bukannya pamit malah ngajak ribut sama orang tua!" Kata Prabu. Tangannya terulur, meraih handle pintu mobilnya lalu menariknya hingga terbuka.
"Masuk!" Ujarnya. Gadis itu merengut, tapi dia tetap menuruti ucapan kakaknya untuk masuk ke dalam mobil.
Prabu berjalan memutar, setengah berlari, lalu masuk melalui pintu yang satunya lagi. Duduk di belakang kemudinya.
Mesin mobilnya ia nyalakan, kemudi mobilnya yang berbentuk bulat dia putar sambil menginjak pedal gas dengan salah satu kakinya. Mobil pun melaju perlahan, turun dari halaman rumah yang permukaan tanahnya lebih tinggi dari jalanan komplek di depan rumah.
BIPP!!
Prabu menekan klakson mobilnya satu kali kepada satpam rumahnya yang bertugas membukakan serta menutup gerbang rumahnya itu.
Sesekali Prabu melirik ke arah Queen, wajah gadis itu masih saja terlihat masam. Dan itu pemandangan yang sudah tidak asing buatnya. "Heh! Lo tuh jangan kebanyakan cemberut, ntar cepet tua!" Kata Prabu.
"Biarin! Siapa tahu kalau gue udah tua udah nggak akan dipaksa-paksa mulu ngelakuin sesuatu yang harus sesuai sama keinginan papah," jawabnya.
Prabu menarik salah satu sudut bibirnya, sambil kepalanya menggeleng pelan. "Lo tuh kenapa sih, Queen? Perasaan nggak pernah banget gua lihat lho akur sama Papah?"
"Habis papanya nyebelin! Apa-apa harus diturutin! Gue nggak mau sekolah di manajemen bisnis malah dia paksa! Gue kan maunya sekolah seni, gaje banget jadi orang tua!"
"Heeeyyy... Lo nggak boleh bilang kayak gitu! Papah pasti punya alasan. Dia mau Masa depan lo cerah," tukas Prabu.
"Cerah apaan?" Gumam Queen.
"Kita itu sebagai anak harus nurut sama orang tua, Queen. Gua yakin apa yang dilakuin papah sama Mamah itu demi kebaikan kita,"
"Ya udah, Mas Prabu aja yang nurut sama mereka sana! Gue sih males! Hidup-hidup gue, Kenapa harus Papah yang nentuin?!"
"Karena dia orang tua kita!" Tukas Prabu.
"Kalau gue nggak happy gimana?!"
Prabu terdiam sejenak. Queen memang selalu teguh pada pendiriannya, kadang memang terkesan bebal dan keras kepala. Tapi itu wujud dari usahanya untuk memperjuangkan kebahagiaannya. Setidaknya itulah yang selalu Queen katakan.
"Hhhh... Ya udahlah, terserah lo aja. Gue sebagai abang Lo cuma bisa ngingetin, jangan sampai Lo jadi anak durhaka kayak Malin Kundang gara-gara ngelawan terus sama Papah," cicit Prabu.
"Ck, amit-amit!" Gumam Queen.
"Makanya jangan ngelawan terus!"
"Gue nggak ngelawan kok! Buktinya, sekarang gue mau pergi ke sekolah pilihan papah. Selama ini juga, waktu masih di sekolah yang lama juga gue tetap pergi ke sekolah walaupun Gue nggak suka, iya, kan? Di mana letak ngelawannya coba?!"
"Iya, Lo emang tetap berangkat ke sekolah, tapi di sekolah Lo bikin masalah mulu!" Tukas Prabu.
"Orang-orangnya aja yang bermasalah sama gue! Masa ada orang nyebelin gue biarin! Ya gue lawan lah!"
Prabu tersenyum miring, "Lo tuh cewek, tapi kelakuan Lo kayak preman! Perasaan gua yang cowok nggak pernah tuh berantem di sekolah, apalagi sampai masuk ruang BK. Lha, Lu langganan banget ruang BK," kata Prabu. Queen hanya mengedikkan bahunya.
"Awas lo! Jangan sampai di sekolah Lo yang baru Lo juga jadi langganan ruang BK!" Ujar Prabu sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah adik perempuannya itu, seperti sebuah peringatan.
"Gue nggak janji!" Sahut Queen.
"Hati-hati... Jangan sampai Lo lama-lama cinlok sama guru BK gara-gara keseringan ketemu," cicit Prabu.
"Issh! Amit-amit! Pacaran sama bapak-bapak dong gue!"
"Eh, siapa tahu guru BK nya masih muda, bisa jadi kan?"
"Ngaco Lu!" Tukas Queen.
Prabu menggelengkan kepalanya, "Ya ampun... Gini amat adik cewek gua," gumamnya pelan namun masih cukup bisa didengar oleh Queen. Hanya saja Queen tidak menanggapi. Hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya.
Dalam waktu beberapa menit, mobil yang dikendarai oleh Prabu sudah tiba di halaman sebuah sekolah SMK swasta. Di atas gerbangnya terdapat sebuah tulisan besar yang bertuliskan SMK PERTIWI.
Prabu menghentikan mobilnya tak jauh dari pintu gerbang, lalu mematikan mesin mobilnya. "Udah nyampe, sana turun!" Ujar Prabu.
Queen tidak menjawab, ia tampak membuka pintu mobil lalu menurunkan salah satu kakinya.
"Eehh, bentar!" Panggil Prabu. Seketika Queen menoleh. "Ada apa?!" Tanyanya.
"Salim dulu dong!" Ujarnya sambil menyodorkan punggung tangannya ke arah Queen.
Gadis itu menatap malas, lalu meraih tangan Prabu lantas menempelkannya ke kening.
"Uuuh, anak pintar! Sekolah yang rajin, ya..." Seloroh Prabu sambil menepuk-nepuk puncak kepala adiknya itu.
"Iishh, jijik!" Tukas Queen sambil memutar bola mata malas. Prabu lantas terkekeh. "Udah buruan sana masuk! Jangan lupa salam dulu!" Ujarnya sambil mengibas-ngibaskan tangan.
"Iya! Assalamualaikum!" Ucap Queen.
"Waalaikumsalam!" Sahut Prabu. Ia lantas menggelengkan kepalanya, sambil menatap punggung Queen yang berjalan menuju ke gedung sekolah SMK Pertiwi yang berdiri kokoh di hadapannya.
"Mudah-mudahan Queen betah sekolah di sini, dan nggak bikin ulah terus kayak di sekolahnya yang lama," gumam Prabu.
Dia menghela nafasnya, lalu menghempaskannya. Kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman SMK Pertiwi, sekolah baru adiknya.
Sepanjang koridor, Queen berjalan. Sesekali kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari kelasnya berada, yang tidak ia tahu letaknya di mana. "Aduh, kelas gue dimana?" Gumamnya.
Kemarin waktu daftar masuk di sekolah itu Queen malah kabur. Akibatnya, sekarang dia tidak tahu kelasnya yang mana. Itu memang kesalahannya sendiri.
"Ck, aduh gimana nih?" Gumamnya sambil termenung. Ia berdiri di persimpangan lorong sekolah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Kepalanya menoleh ke sekitar, mencari Di mana kelas dua belas berada diantara banyaknya ruangan kelas yang berderet di sana.
Di ujung koridor, Queen melihat ada sebuah ruangan dengan papan tulisan 'Ruang Guru' di bagian atas bingkai pintunya. "Ah, gua tanya sama guru aja deh!" Putus Queen sambil tersenyum tipis, ia lantas melenggangkan kakinya menuju ke arah ruangan itu.
Namun, tiba-tiba saja matanya melihat seseorang yang rasanya tak asing bagi Queen. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, mengenakan celana bahan dan kemeja berwarna hitam, berjalan di lorong sekolah yang ada di seberang taman.
"Bentar, Kayaknya gue pernah lihat cowok itu deh, tapi di mana ya?" Gumamnya.
Alis Queen mengernyit, matanya memicing memperhatikan wajah laki-laki di seberang sana. Sambil otaknya berpikir, mengingat-ingat di mana Dia pernah melihat laki-laki itu.
"Ah! Gue inget!" Serunya.
"Itu kan cowok yang kemarin mobilnya gue pake buat ngumpet dari papah!"
"Kok dia bisa ada di sini?!" Gumamnya.
Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah di mana Queen berada. Sontak saja Queen terperanjat. "Waduh! Dia ke sini lagi! Gawat!! Jangan sampai cowok itu lihat gue ada di sini!" Dengan wajah yang mulai panik, Queen menggulirkan bola matanya ke arah sekitar, mencari tempat untuknya bersembunyi. Hingga akhirnya dia melihat ada sebuah pot besar berbahan semen terletak di bawah tiang sekolah, tak jauh dari tempatnya berdiri.
Gegas Queen berlari ke arah pot besar itu, kemudian berjongkok di sana. Meluputkan dirinya dari pandangan laki-laki tinggi besar yang tak sengaja bertemu dengannya kemarin.
Queen berjongkok di balik pot besar sambil menggigit-gigit ujung kukunya, dalam hatinya terus meracau. Merapalkan doa agar laki-laki itu tidak melihatnya di sana.
"Bismillahirrahmanirrahim. Mudah-mudahan cowok itu nggak lihat gue ada di sini. Males banget gue ketemu lagi sama dia." Gumamnya.
Queen memejamkan matanya dengan erat tatkala mendengar derap langkah seseorang yang semakin mendekat. Suasana sekolah yang masih sepi, membuat suara langkah kaki itu terdengar begitu jelas di telinganya.
'Aduuuh... Jangan-jangan yang lagi jalan ke sini si cowok itu!' gumam Queen dalam hati, Seraya menggeser kakinya sedikit demi sedikit, merapatkan tubuhnya pada pot besar yang menjadi tempat persembunyiannya sekarang.
Tiba-tiba,
"Hey!" Seseorang menepuk pundaknya.
Queen yang sedang bersembunyi dengan hatinya yang berdebar lantas terlonjak kaget setengah mati.
---