Alice selalu percaya bahwa kejahatan terbesar yang pernah ada di dunia ini bukanlah pembunuhan, tetapi pengkhianatan. Karena dari pengkhianatan, seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri, bahkan kehancuran yang lebih buruk dari sekadar kematian.
Dan itulah yang ia lakukan.
Tangannya tidak berlumuran darah, tetapi hatinya penuh dengan racun. Sejak awal, pernikahan ini adalah bagian dari misinya, bukan kisah cinta seperti yang dipercayai Aaron. Ia adalah alat untuk mendapatkan jawaban, dan Aaron adalah kuncinya.
Namun, semakin lama ia berada di dalamnya, semakin sulit baginya untuk tetap berpegang pada misinya. Tatapan Aaron yang selalu lembut meski wajahnya dingin, cara pria itu menyentuhnya seolah ia adalah sesuatu yang berharga, dan bagaimana Aaron selalu pulang dengan membawa bunga kesukaannya. Hal-hal kecil seperti itu perlahan-lahan mengikis tembok yang selama ini Alice bangun.
Tapi tidak. Ia tidak boleh lengah.
Dari kaca jendela apartemen mereka yang terletak di lantai dua puluh, Alice menatap hamparan kota yang bercahaya. Cahaya lampu jalanan dan lalu lintas yang sibuk menciptakan pemandangan yang indah, namun itu tak mampu menenangkan pikirannya. Di tangannya, ada segelas anggur merah yang belum ia sentuh. Dini hari selalu menjadi waktu di mana pikirannya berputar terlalu cepat, mengingatkan dirinya pada alasan mengapa ia ada di sini.
Ponselnya bergetar di atas meja. Alice meraihnya dengan cepat, matanya menyipit membaca pesan yang muncul di layar:
Angel! Setahun terakhir dia tak meninggalkan jejak.
Mungkin pria itu benar-benar berhenti dari Black Organization.
Tapi tetap fokus pada misimu, Phonix punya banyak hal tak terduga.
Begitu ia selesai membaca, pesan itu langsung terhapus otomatis, meninggalkan layar kosong seolah tak pernah ada apa pun di sana. Alice terdiam, jemarinya mengetik balasan singkat sebelum pesan itu juga lenyap dari layar:
Pesan telah diterima. Kode 4.
Ia menutup ponselnya dan meletakkannya di atas meja dengan perlahan. Namun, pikirannya tetap melayang, jauh dari ruangan ini. Ada sesuatu yang mengganggu perasaannya-bukan hanya tentang misinya, tetapi juga tentang Aaron. Sesuatu yang belum bisa ia tentukan, tetapi semakin lama semakin mengikatnya.
Langkah kaki terdengar di belakangnya. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
"Sayang, kau belum tidur?" Suara Aaron terdengar serak karena kantuk, tetapi penuh perhatian.
Alice berbalik, mendapati pria itu berdiri di ambang pintu kamar mereka, hanya mengenakan celana tidur dan kaus putih yang sedikit kusut. Rambutnya berantakan, menambah kesan kasual yang jarang terlihat darinya. Aaron selalu tampak sempurna, rapi, dan terkendali-kecuali saat seperti ini, ketika ia baru bangun tidur dan masih setengah sadar.
"Aku tidak mengantuk," jawab Alice dengan senyum tipis.
Aaron mendekat, kedua tangannya bertumpu di pinggang Alice, menariknya ke dalam dekapan hangatnya. "Kau terlalu sering begadang. Apa yang kau pikirkan?"
Alice bisa saja mengatakan yang sebenarnya-tentang misinya, tentang kebohongan yang selama ini ia sembunyikan, tentang alasan ia berada di sini. Tapi ia tidak bisa. Tidak sekarang. Atau aaron akan membunuhnya detik ini juga.
"Hanya memikirkan pekerjaanku," dustanya dengan mudah. "Beberapa laporan belum selesai."
Aaron menatapnya sejenak sebelum menghela napas. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku tidak ingin kau sakit."
Alice hanya mengangguk. Ia hampir merasa bersalah dengan betapa tulusnya perhatian Aaron. Jika saja ia bukan bagian dari Greenice Group. Jika saja ia bukan pria yang pernah menarik pelatuk yang membunuh kedua orang tuanya.
"Lagipula, kau tak perlu bekerja jika itu membuatmu stres,"
Alice tersenyum mendengar perkataan Aaron, "Aku menikmati pekerjaanku, aku yang akan stres jika aku terus di rumah, kau tahu itu," gumamnya.
Aaron mencium bahu wanita itu dengan lembut, "Oke, lakukan apapun, asalkan kau menikmatinya, dan jangan terlalu keras pada dirimu,"
"Baiklah," ucap Alice kemudian berbalik untuk menatap wajah suaminya.
Pria itu tersenyum, dengan gerakan lembut ia mengusap rambut Alice, kemudian membelai wajahnya.
Ia mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir gadis itu.
"Ayo tidur," ajak Aaron akhirnya, menarik dirinya setelah ciuman singkat itu.
Ia menarik tangan Alice dengan lembut. Membuat Alice mengikutinya. Ia sudah terbiasa memainkan peran sebagai istri yang baik, mencintai suaminya.
Aaron memeluknya begitu mereka naik ketempat tidur, tangannya melingkari tubuhnya, seolah tak membiarkan gadis itu jauh darinya. Alice menatap pria itu, tubuhnya masih berada dalam pelukan Aaron. Pria itu memejamkan mata, tampak tidur nyenyak, dengan lengan kokohnya yang melingkari pinggangnya. Ia terlihat begitu damai, seolah dunia ini tidak berisi kegelapan yang membayanginya. Sejenak, Alice membiarkan dirinya mengamati wajah suaminya. Rahangnya yang tegas, garis-garis lembut di bawah matanya, dan ekspresi santai yang jarang sekali ia tunjukkan saat terjaga.
'Aku tak boleh tertipu dengan wajah ini'
Alice mulai memejamkan matanya,
berusaha untuk tertidur disamping pria yang selalu ia waspadai.
...
"Aku harus pergi lebih awal hari ini. Ada urusan bisnis yang harus kuurus." Aaron berdiri, meregangkan tubuh sebelum berjalan mendekatinya dan mengecup keningnya sekilas. "Jangan lupa sarapan, ya."
Alice hanya mengangguk, menatap Aaron yang mulai berpakaian. Setelan hitam, jam tangan mahal di pergelangan tangannya, dan gaya elegan yang sudah menjadi ciri khasnya. Jika orang-orang melihat Aaron, mereka hanya akan melihat seorang pria sukses dengan pesona yang tak terbantahkan. Tak ada yang akan menyangka bahwa di balik itu, ia adalah seseorang yang penuh dengan rahasia kelam.
"Jam berapa kau akan pulang?" tanya Alice hanya ingin memastikan.
Aaron melihat jam ditangannya, "Kurasa tak sampai malam, aku juga akan pulang lebih awal mungkin jam lima sore, dengan begitu aku kita punya banyak waktu bersama," jawabnya.
"Baiklah, berhati-hatilah, jaga diri," pesan Alice terdengar tulus, meskipun ia sendiri hanya menganggap itu sekedar basa-basi saja.
Aaron mengangguk, menatap gadis itu sekali lagi, "Kau juga, langsung pulang setelah kerja ok?"
Alice tersenyum kecil, "Tentu saja"
Beberapa menit kemudian, Aaron sudah pergi, meninggalkan Alice sendirian di apartemen yang terasa terlalu sunyi.
Alice menghela napas. Waktunya bekerja. Ia berjalan menuju meja kerjanya, menyalakan laptop, dan membuka file yang selama ini ia simpan dengan baik-dokumen tentang Greenice Group, organisasi hitam yang selama ini ia selidiki.
Ia mulai mengetik, menghubungkan titik-titik informasi yang selama ini ia kumpulkan. Nama-nama, transaksi, pembunuhan, semuanya ada di sini. Tetapi ada satu nama yang selalu membuatnya ragu.
Aaron.
Ia menelusuri kembali catatan tentang pria itu. Pembunuh bayaran Greenice Group, tangan kanan pemimpin organisasi, pria yang menghilang dari dunia kriminal sejak menikahinya. Namun, benarkah Aaron telah meninggalkan semuanya? Benarkah ia sekarang hanya pria biasa yang ingin menjalani hidup normal?
Alice tidak tahu.
Dan itulah yang membuatnya semakin takut.
Karena jika Aaron benar-benar bukan orang yang ia pikirkan, maka semua yang ia lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan besar.
Dan jika Aaron mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya...
Alice tidak yakin ia bisa keluar dari ini hidup-hidup.
Salju tipis menyelimuti jalanan berbatu di kota kecil Montreux, Swiss, memberikan sentuhan magis pada pagi musim dingin itu. Udara dingin menusuk, namun langit cerah tanpa awan, memancarkan sinar matahari yang memantul indah di permukaan Danau Jenewa yang membeku. Di tepi danau, berdiri sebuah kafe klasik dengan papan nama kayu yang bertuliskan "Café du Lac" dalam huruf bergaya vintage. Kafe ini telah menjadi saksi bisu kehidupan kota selama lebih dari satu abad, menawarkan kehangatan dan keramahan bagi setiap pengunjungnya.Aaron Blakewood, nama yang kini ia gunakan setelah meninggalkan masa lalunya sebagai Aaron Andromeda, melangkah memasuki kafe tersebut. Lonceng di atas pintu berdenting pelan saat ia membuka pintu, disambut oleh aroma kopi segar dan keju leleh yang menggoda. Interior kafe didominasi oleh kayu ek tua, dengan meja-meja bundar yang dihiasi taplak bermotif kotak-kotak merah putih. Lukisan-lukisan pemandangan Alpen menghiasi dinding, menambah nuansa hangat dan tradisional."Selamat datang di Café du Lac, Tuan Blakewood," sapa seorang pria tua dengan senyum hangat. Rambutnya yang memutih dan kerutan di wajahnya menunjukkan pengalaman hidup yang panjang. Ia adalah Armen, pemilik kafe yang telah diwariskan turun-temurun dalam keluarganya.
"Terima kasih, Tuan Armen. Senang bisa kembali ke sini," balas Aaron dengan anggukan sopan."Silakan duduk. Apa yang bisa saya tawarkan pagi ini?" tanya Armen sambil menyerahkan menu yang sudah usang namun terawat dengan baik.Aaron menerima menu itu, meskipun ia sudah hafal isinya. Matanya tertuju pada satu hidangan yang selalu menjadi favoritnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Montreux."Saya akan memesan Raclette, seperti biasa. Dan untuk minumnya, saya ingin mencoba Iva," jawab Aaron sambil menutup menu dan mengembalikannya kepada Armen.Armen tersenyum lebar. "Pilihan yang sempurna. Raclette kami dibuat dengan keju terbaik dari Valais, dan Iva adalah minuman khas yang terbuat dari bunga musk yarrow. Saya yakin Anda akan menyukainya."Aaron mengangguk, merasa nyaman dengan suasana kafe yang hangat. Ia memilih meja dekat jendela besar yang menghadap langsung ke Danau Jenewa. Dari sana, ia bisa melihat permukaan danau yang berkilauan diterpa sinar matahari, dengan latar belakang pegunungan Alpen yang megah.Sambil menunggu pesanannya, Aaron merenung tentang kehidupannya yang baru. Setahun telah berlalu sejak ia meninggalkan identitas lamanya sebagai Phonix, pembunuh bayaran yang bekerja untuk organisasi kriminal. Kini, ia adalah seorang pebisnis sukses yang memiliki restoran di pusat kota Montreux, menawarkan berbagai menu lokal dan internasional.Pikirannya teralihkan saat seorang pelayan muda datang membawa nampan berisi hidangan yang dipesannya. "Ini Raclette dan Iva Anda, Tuan Blakewood. Selamat menikmati," kata pelayan itu dengan sopan sebelum beranjak pergi.Aaron menatap hidangan di depannya. Sepiring kentang rebus yang masih beruap, acar bawang, dan potongan keju Raclette yang meleleh dengan sempurna. Di sampingnya, segelas Iva berwarna keemasan dengan aroma bunga yang khas.Ia mengambil garpu dan mulai menyantap Raclette tersebut. Rasa gurih dari keju yang meleleh berpadu harmonis dengan tekstur lembut kentang dan sentuhan asam dari acar bawang. Setiap suapan memberikan kehangatan yang menyebar di seluruh tubuhnya, mengusir dinginnya pagi musim dingin.Setelah beberapa suap, Aaron meletakkan garpunya dan meraih gelas Iva. Ia menyesapnya perlahan, membiarkan rasa manis dan sedikit pahit dari minuman itu memenuhi inderanya. Aroma bunga musk yarrow memberikan sentuhan akhir yang menyegarkan."Bagaimana rasanya?" tanya Armen yang tiba-tiba muncul di samping meja, matanya berbinar penuh harap."Luar biasa, seperti biasa. Raclette Anda tidak pernah mengecewakan, dan Iva ini memiliki rasa yang unik. Saya sangat menyukainya," jawab Aaron dengan tulus.Armen tertawa kecil. "Senang mendengarnya. Saya selalu berusaha mempertahankan kualitas terbaik untuk pelanggan setia seperti Anda."Aaron tersenyum, merasa terhubung dengan komunitas kecil ini. Di sini, ia menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Namun, bayangan masa lalunya terkadang masih menghantui, mengingatkannya bahwa kedamaian ini mungkin rapuh."Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan restoran Anda?" tanya Armen, mencoba mengalihkan pembicaraan."Semua berjalan dengan baik. Kami baru saja menambahkan beberapa menu baru, termasuk Raclette Anda. Pelanggan tampaknya sangat menyukainya," jawab Aaron dengan bangga."Itu kabar baik. Saya senang bisa berkontribusi pada kesuksesan Anda," kata Armen dengan senyum tulus.Mereka berbincang sejenak tentang bisnis dan kehidupan di Montreux sebelum Armen kembali ke tugasnya. Aaron melanjutkan sarapan, ia mulai memeriksa ponselnya, sejak setahun terakhir hidupnya damai, sampai sebuah pesan mengganggunya sejak semalam.'Aku melihatmu, Phoenix,' Pengirim yang tak diketahui mengirimkan sebuah gambar. Sebuah foto bagian luar restorannya, diambil dari kejauhan, seakan menjadi peringatan.Aaron menatap layar ponselnya dengan rahang mengatup. Mungkin ini hanya kebetulan, atau mungkin Greenice Group sudah mengetahui keberadaannya di Montreux.'Siapa kau?' balasnya dingin. 'Aku Jessica. Ayo bertemu besok pagi.' 'Tentukan lokasinya, aku akan datang.'Setelah mengirim pesan itu, ia mematikan layar ponselnya, menarik napas panjang. Keputusannya untuk meninggalkan kehidupan lamanya ternyata tak sesederhana yang ia kira.'Aku sudah sampai, Phoenix.'Sebuah pesan muncul di layar ponselnya. Tepat setelah itu, suara lonceng pintu berbunyi.Aaron mendongak. Seorang wanita melangkah masuk. Jessica.Ia masih sama seperti yang ia ingat. Rambut panjangnya tergerai dengan indah, mantel panjang warna krem membungkus tubuhnya, dan senyumnya seolah menutupi segala hal gelap yang ia simpan di dalam dirinya.Jessica melambaikan tangan dan berjalan mendekatinya. Tanpa ragu, ia duduk di seberangnya."Lama tak bertemu, Phoenix," sapanya dengan nada ringan, namun sorot matanya penuh kehati-hatian.Aaron mengamati wajah juniornya di Greenice Group. Gadis yang dulu ia anggap seperti adiknya sendiri. Sekarang, ia bukan lagi Phoenix. Ia Aaron Blakewood."Duduklah," ujarnya singkat, menyembunyikan emosinya.Jessica tersenyum tipis saat Aaron memanggil pelayan untuknya untuk memesan makanan dan minuman. "Samakan saja dengannya," katanya singkat.Pelayan mengangguk dan pergi.Begitu mereka hanya berdua, atmosfer di antara mereka berubah. Tegang, seakan ada banyak hal yang ingin dikatakan, tapi tak mudah diungkapkan.Aaron membuka percakapan lebih dulu. "Bagaimana kau bisa menemukanku?"Jessica menghela napas, "Oh, Phoenix, kau bahkan tak bertanya kabarku lebih dulu? Padahal kita lama tak bertemu," ujarnya sambil merengek kecil, meskipun begitu diluar sana ia adalah pembunuh bayaran yang sama sepertinya.Aaron hanya menatapnya datar, "Kau tampak baik-baik saja, aku tau kau akan selalu begitu," gumamnya.Gadis itu tersenyum, "Itu benar, aku baik-baik saja setelah bertemu denganmu, lalu kau? Bagaimana kabarmu? Kau terlihat lebih tampan,"Aaron hanya tersenyum miring, "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, dan aku senang tinggal disini," jawabnya seadanya.Jessica menatapnya lekat-lekat. "Aku bersyukur bisa menemukanmu lebih dulu," ucapnya"Aku mendengarnya dari ketua bahwa kau ada disini. Beberapa orang mungkin sudah mengawasi sekarang. Dan aku menemukanmu lebih dulu. Aku hanya ingin memberitahumu lebih awal."Aaron mengangkat alis, rahangnya mengeras. "Apa yang mereka inginkan?"Jessica menautkan jemarinya di atas meja, lalu berbicara dengan suara lebih pelan. "Mereka tak akan melepaskan aset berharga seperti kau begitu saja. Adikmu kini menggantikan posisi ketua, dan dia ingin kau kembali. Tanpa membunuh, tanpa menjadi bayangan. Kau hanya perlu kembali ke keluargamu."Aaron mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menatap Jessica lekat-lekat, mencari kebenaran dalam kata-katanya. Kembali ke perusahaan teknologi milik keluarganya? Tidak. Ia sudah menutup bab itu. Hidup yang ia jalani sekarang adalah hidup yang ingin ia pilih."Jessica," suaranya berat dan dalam. "Aku bukan lagi Phoenix. Jika kau bertemu mereka sebelum aku, katakan pada mereka bahwa aku tak akan kembali."Jessica menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu. "Aku mengerti mengapa kau tak ingin kembali. Setelah apa yang mereka lakukan padamu... memasukkanmu ke dalam organisasi hitam di bawah Greenice Group, sementara dunia hanya mengenal mereka sebagai perusahaan mobil. Itu pasti tak adil." Ia menatapnya dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut. "Tapi..."Ia ragu sejenak, lalu menghela napas."Apa yang kudengar benar? Apa kau sudah menikah?"Pertanyaan itu menggantung di udara. Jessica merasakan dadanya berdebar.Aaron menatap Jessica tanpa ekspresi. Tak ada yang perlu dijelaskan."Itu benar."
Alice berjalan keluar dari gedung Star Agency, sebuah redaksi surat kabar tempat ia bekerja. Dari luar, kehidupannya tampak biasa saja. Setelah hampir satu tahun pindah ke Swiss, ia mendapatkan pekerjaan baru yang terlihat normal di mata orang lain. Namun, itu bukan pekerjaan utamanya. Dunia yang sebenarnya ia jalani tersembunyi di balik bayang-bayang, di tempat di mana kegelapan dan rahasia bertemu. Ia harus tetap terlihat seperti orang biasa, seperti Alice yang dulu.
Saat berjalan menyusuri trotoar berbatu di bawah langit yang mulai gelap, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan terenkripsi muncul di layar.
"Angel, Phantom ingin bertemu di Markas One."
Alice mengetik balasan dengan cepat. "Pesan diterima. Kode 4."
Begitu pesan terkirim, teks itu langsung terhapus, meninggalkan layar ponselnya kosong seolah tak pernah ada komunikasi sebelumnya. Alice menarik napas dalam, mengencangkan mantel hitamnya, lalu melangkah lebih cepat. Kali ini, ia harus waspada.
Ia tiba di sebuah bar kecil di pinggiran kota. Dari luar, tempat itu tampak seperti bar biasa, dengan pencahayaan redup dan musik jazz lembut mengalun di dalamnya. Beberapa pelanggan duduk di sudut, menikmati minuman mereka, tak menyadari bahwa tempat ini sebenarnya adalah lebih dari sekadar tempat hiburan malam.
Alice melangkah masuk dan langsung menuju ke meja bartender. Tanpa ragu, ia mencondongkan tubuh sedikit, lalu berbicara dalam bahasa Swiss dengan nada santai namun sarat makna.
"Was kann ich bestellen?" (Apa yang bisa kupesan?)
Bartender, seorang pria berambut abu-abu dengan wajah penuh kerut, berhenti mengelap gelas dan menatapnya sebentar.
"Undangan kode 1," jawab Alice dengan suara lebih pelan.
Tak ada respons lisan, tapi dalam hitungan detik, seorang pria bertubuh kekar dengan jas hitam menghampirinya.
"Ikut aku."
Tanpa banyak tanya, Alice mengikuti pria itu. Mereka melewati lorong sempit di belakang bar, kemudian melangkah melalui beberapa pintu rahasia yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Suasana semakin sunyi seiring dengan langkah mereka yang semakin jauh dari keramaian bar di luar.
Di ujung lorong, sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram terbuka. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam. Rambutnya sudah beruban, namun auranya tetap penuh kewibawaan. Pria itu adalah Elliot Graves, pemimpin Divisi Keamanan Global, atau yang lebih dikenal dengan nama sandinya, Phantom.
"Kerja bagus, Angel." Suaranya dalam dan penuh ketenangan, seperti seseorang yang telah melihat terlalu banyak kegelapan dalam hidupnya.
Alice duduk di kursi yang tersedia di seberangnya. Seorang agen lainnya meletakkan secangkir kopi hitam di hadapannya, tetapi ia bahkan tidak meliriknya.
"Informasi yang kau kumpulkan cukup menarik," lanjut Phantom. "Ini akan segera berakhir begitu bukti kejahatan Phoenix terungkap. Kita akan melihat bagaimana kehancuran perusahaan teknologi itu. William Delson dan organisasi hitam di balik Greenice Group akan segera terungkap."
Alice tetap diam. Ia tahu ini bukan hanya tentang organisasi kriminal, bukan hanya tentang perusahaan besar yang menyembunyikan dosa mereka. Ini tentang dirinya. Tentang masa lalunya yang telah direnggut.
"Bertahanlah sebentar lagi, Angel." Suara Phantom lebih lembut sekarang. "Kau pasti akan menemukan siapa pembunuh orang tuamu."
Alice menelan ludah. Tangannya mengepal di atas pahanya, kuku-kukunya menekan kulitnya sendiri.
"Aku telah memeriksa semuanya," katanya akhirnya, suaranya nyaris tanpa emosi. "Setelah kutelusuri, Phoenix ada di lokasi kejadian saat kecelakaan itu terjadi. Dia berusia dua puluh tahun saat itu. Tidak mengherankan-dia sudah dilatih sejak remaja. Dia bahkan telah membunuh belasan orang pada usia itu."
Menyebut nama itu membuat perutnya terasa mual. Phoenix. Atau, nama aslinya, Aaron Andromeda. Suaminya sebelum mengubah identitas.
Phantom mengamati wajah Alice dengan saksama, seperti sedang mengukur seberapa besar emosi yang disembunyikannya.
"Tetaplah waspada," katanya akhirnya. "Meskipun hubungannya dengan Greenice Group berakhir setahun lalu, mereka masih terus mengincarnya untuk membawanya kembali."
Alice mengangguk pelan. Ia tahu itu. Bahkan setelah meninggalkan dunia bayangan, Aaron tetap menjadi sosok yang diinginkan oleh Greenice. Bukan hanya karena keahliannya, tetapi karena darah yang mengalir di tubuhnya-darah keluarga Delson.
Dan karena alasan itu, Alice harus tetap berada di dekatnya.
Tangannya tanpa sadar mengepal lebih erat. Semua luka lama, semua kehilangan, semua ketidakadilan yang ia alami selama ini berkumpul di satu titik dalam pikirannya. Ia mengangkat wajahnya, tatapan matanya membara.
"Jika aku benar-benar menemukan buktinya, bolehkah aku membunuhnya?"
Ruangan itu terasa hening sejenak. Mata Phantom menajam, mengamati Alice dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Angel," katanya perlahan. "Aku mengerti kau ingin membalaskan dendammu dalam operasi ini. Tapi kita punya kode etik."
Alice tersenyum tipis, sinis. "Kode etik?"
Phantom menghela napas. "Kita tidak membunuh kecuali benar-benar terancam."
Alice menatapnya tajam. "Apa yang lebih mengancam dari seorang pembunuh berdarah dingin yang mungkin telah membunuh orang tuaku? Apa yang lebih berbahaya daripada monster yang telah membunuh banyak orang dan mengancam nyawa orang lain?"
Phantom tetap diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Jawab aku, Angel. Jika kau membunuhnya, lalu bagaimana setelah itu? Apakah itu akan membuatmu merasa lebih baik? Apakah itu akan mengembalikan orang tuamu?"
Alice menggigit bibirnya, mencoba menekan emosi yang meluap dalam dirinya.
"Tidak. Itu tidak akan membuat orangtuaku kembali. Tapi ya, itu akan membuatku merasa lebih hidup."
Phantom menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata dengan nada tegas, "Kau tidak boleh membiarkan dendam menguasaimu. Kita bukan pembunuh, kita adalah agen keamanan global. Jangan lupa itu."
Alice menelan ludah. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang bercampur dengan kemarahan.
Phantom menghela napas sekali lagi, lalu berkata dengan lebih lembut, "Temukan kebenaran. Tapi jangan biarkan kebenaran itu menghancurkanmu."
Alice mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mencari kebenaran mungkin lebih menyakitkan daripada hidup dalam kebohongan.
....
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aaron menghela napas, perasaan bersalah menyelimutinya saat ia menyadari bahwa tadi pagi ia mengatakan pada Alice bahwa seharusnya ia pulang pukul lima sore. Namun, pekerjaan menahannya lebih lama dari yang ia duga.
Ia menaiki lift menuju lantai 20, tempat apartemennya berada. Begitu sampai, ia membuka pintu dan menemukan ruangan dalam keadaan sepi. Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak perlahan di tengah kesunyian.
"Sayang, aku pulang," panggil Aaron sambil meletakkan tas di sofa.
Tak ada sahutan.
Dahi Aaron berkerut. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponselnya, dan segera mengetik pesan.
'Aku sudah pulang, tapi kau tidak ada. Di mana kamu?'
Beberapa saat kemudian, layar ponselnya bergetar.
'Ya Tuhan, aku lupa memberitahumu. Aku ada rapat tim. Maaf telat memberi tahu, tapi sekarang aku sudah dalam perjalanan pulang. Jangan khawatir.'
Aaron menghela napas lega, meskipun masih ada sedikit rasa kesal. Seharusnya ia memberi tahu lebih awal... pikirnya. Namun, ia memilih untuk tidak memperpanjang masalah.
'Baiklah, hati-hati di jalan.' balasnya.
Sambil menunggu, ia melangkah ke dapur, membuka kulkas dan memeriksa bahan makanan yang tersedia. Setelah beberapa saat berpikir, ia memutuskan untuk memasak sesuatu yang sederhana namun mengenyangkan. Suara pisau yang memotong bahan makanan, air mendidih, dan aroma masakan mulai mengisi apartemen, membuat suasana lebih hangat.
Tak lama kemudian, suara pintu apartemen terbuka. Aaron menoleh.
"Aaron, aku pulang," suara Alice terdengar penuh rasa bersalah.
Aaron menutup kompor dan berjalan mendekatinya. "Syukurlah kau sudah pulang. Duduklah, istirahat sebentar."
Alice tersenyum kecil, lalu meletakkan tasnya di meja makan. Kemejanya tampak sedikit kusut setelah seharian bekerja.
"Sayang, aku sungguh minta maaf hari ini," katanya sambil menatap Aaron dengan mata penuh penyesalan.
Aaron menatapnya sejenak sebelum akhirnya menghela napas. "Tidak apa-apa, tapi lain kali beritahu aku lebih awal,"
Alice mengangguk, "baiklah,"
Alice menatap ke arah dapur, aroma masakan yang harum menyentuh indra penciumannya. "Apa yang kau buat?" tanyanya, mencoba mengalihkan suasana.
Aaron tersenyum kecil. "Kau akan lihat nanti. Sekarang bergantilah pakaian, lalu bergabung denganku untuk makan. Oke?"
Ia mengusap rambut Alice lembut sebelum mencium pipinya sekilas.
Alice tersipu. "Baiklah, aku akan segera kembali."
ia melangkah pergi setelah pembicaraan itu, 'Kenapa kau harus seperduli ini padaku?' batinnya.