“Mah, masa ya Mas Dandi sekarang ngasih uang harian ke aku cuma seratus ribu, mana cukup kan?” Aku tau Mbak Rusmi pasti sedang menyindirku.
Aku terdiam. Mbak Rusmi lanjut berkata “Haduh stress aku mah, mana sekarang nda bisa ke salon” tangannya memegang kepalanya. Terlihat seperti orang sangat tertekan. Aku menggelengkan kepalaku.
“Mbak tu harusnya bersyukur lima puluh ribu tiap hari buat kebutuhan pokok ya cukup to mba, bukan bermaksud membandingkan nih mba, aku di kasih Mas Rian lima puluh ribu sehari. Itupun masih sisa Mbak” jawabku sambil tersenyum. Berharap Mbak Rusmi sedikit lebih bersyukur.
Ya aku dan Mas Rian memang tinggal di rumah mbak Rusmi. Namun kami tetap membeli kebutuhan pokok sehari-hari. Bahkan kadang aku melebihkan uang belanja dari yang seharusnya. Terkadang juga aku membeli lauk tanpa patungan dengan Mbak Rusmi untuk di makan bersama.
“Bilang aja ngga cukup Mah, orang kamunya aja yang mau di kasih segitu”
“Kalau buat keperluan pokok aja ya cukup mbak, paling kan sehari beras, sayur sama bumbu masak to..” jelasku.
“Alah kamu aja yang mau di kasih uang cuma segitu. Jadi istri jangan nurut terus dong Mah, kali kali minta apa ke suami gitu. Coba tampil cantik, pikirin penampilan kamu. Jangan polos polos gini aja, coba di poles dikit. Siapa tau nanti jatah harian kamu akan nambah” celotehnya.
“Ya jadi istri kan emang nda boleh nuntut suami to mba, harus bersyukur pemberian suami”
Aku memang berpenampilan apa adanya. Hanya mengenakan kerudung untuk menutupi auratku. Goresan goresan make up apalah itu, aku tidak ingin memakainya. Menurutku sudah nyaman seperti ini.
Berbeda dengan Mbak Rusmi. Tiap harian riasan riasan make up selalu menghiasi wajahnya. Rambutnya terkadang di urai dan kadang di kuncir seperti ekor kuda.
“Udahlah cape ngomong sama kamu, di kasih tau malah bawel,” suaranya terdengar kesal. Wajahnya juga terlihat sewot.
Suasana dapur berubah menjadi hening. Mbak Rusmi memotong sayur. Sedangkan aku masih sibuk mencuci wajan.
Rumah Mbak Rasmi inilah tinggal dua keluarga. Mbak Rusmi, Vio anaknya yang kini baru menginjak pendidikan sekolah dasar dan Mas Dandi suaminya di tambah Aku dan Mas Rian suamiku. Sudah beberapa hari aku tinggal disini. Tepatnya setelah aku melangsungkan akad nikah. Ia sendiri yang menawarkan diri. Padahal aku sempat menolak. Tapi ia sedikit memaksa. Rumahnya yang luas dan memiliki dua lantai menjadi pertimbanganku. Katanya banyak kamar yang tidak di pakai. Mereka biasa menepati kamar lantai atas, sedangkan aku dan Mas Rian ditawari untuk tinggal di kamar lantai bawah. Tidak enak menolak terus, akhirnya kami terima tawaran mereka. Lagi pula kami belum mencari tempat untuk mengontrak.
“Eh Mah, kayaknya satu bulan lagi aku lahiran” ia tampak mengelus elus perutnya yang sudah terlihat besar.
“Terus kenapa Mbak ? Alhmadulillah dong mbak kalau sudah mau lahir” Mbak Rusmi sudah sering membicarakan itu. Dan aku sudah tau prediksi bayinya akan lahir.
“Itu.. nanti bakalan rumah ini jadi seperti panti asuhan. Rumah kecil banyak banget penghuninya, belum lagi nanti kalau kamu hamil dan anakmu lahir” pasti Mbak Rusmi punya maksud lain membicarakan ini. Rumahnya aku akui memang besar dan sangat longgar. Di tambah memiliki dua lantai yang disertai dengan balkon.
“Maksud mbak, mbak keberatan aku tinggal di sini ya?” aku mencoba mengklarifikasi apa yang ada di pikiranku. Semoga saja ini salah, batinku.
“Ya kamu harusnya tahulah, eh masa sudah menikah suamimu belum bisa beli rumah..” mbak Rusmi berusaha mengalihkan obrolan. Namun ucapannya juga masih saja pedas menusuk hati. Mana ada istri yang tega suaminya direndahkan.
“Mbak, aku tinggal di sini juga baru dua hari to, dan itu juga mbak yang minta. Mbak tau sendiri gaji Mas Rian yang hanya karyawan kantor tak seberapa. Ini juga masih terus nabung kok mbak, In Syaa Allah Secepatnya mbak”
“Ya kan bisa ngontrak dulu Mah, sampe kapan coba mau numpang terus.. bikin repot.” ucapannya semakin pedas. Aku tahu secara tidak langsung ia mengusirku dari rumahnya. Kalau tau ujungnya begini, aku tidak akan pernah menerima tawarannya untuk tinggal di rumahnya. Namun aku lemah dengan ucapannya, aku percaya kala itu selepas pernikahanku ia terlihat serius menawariku, bahkan memaksa.
“Mbak kenapa ngomong ngga keberatan waktu awal aku minta izin tinggal di rumah mba sementara sebelum aku punya rumah. Kalau mbak ngomong kan aku juga ngga bisa cari tempat tinggal di tempat lain mbak. Kemarin juga ini Mbak yang maksa kan supaya aku dan Mas Rian tinggal di sini. Padahal kami sudah mau mencari kontakan.”
“Ya kali Mah, kalau aku ngga nawarin dan maksa kamu pas itu mbak akan malu. Lagian kamu ngomongnya pas kumpul keluarga. Mau di taruh di mana muka Mba. Ditambah ada keluarga Mas Dandi dan keluarga suami kamu. Nanti malah mba dikiranya ngga mampu nampung kalian.Ngga ada perhatiannya sama adik” ucapan mba Rasmi semakin pedas.
Aku kadang bingung dengan jalan pikirnya. Bodohnya aku percaya begitu saja. Aku benar benar ia ikhlas menawari kami. Wajahnya sangat terlihat tulus. Aku tidak pernah berpikiran buruk pada kakakku sendiri.
“Mbak, sebelumnya kan mbak sendiri yang nawarin aku tinggal di tempat mba sementara dulu sebelum aku beli rumah. Mba yang ngomong sendiri to, rumah mbak lantai dua dan banyar kamar kosong. Makanya aku berani ngomong ke mba waktu kumpul keluarga waktu itu, untuk memastikan lagi mbak”
“Eh Mah, Kamu gimana si pilih suami. Udah jelas jelas si Ferdi anak konglomerat suka sama kamu. Kamu tolak lagi pinangannya. Dia kan juragan beras.Terkenal di mana mana, siapa coba yang tidak ingin memiliki suami sepertinya. Kalau kamu nikah sama dia kamu juga bakal dihormati kaya ratu sama warga sekitar. Andai kamu waktu itu nikah sama dia pasti nasib kamu ngga kaya gini Mah, sekarang pasti kamu jadi Bu bos. Eh malah kamu milih nikah sama Mas Rian yang kerjanya karyawan nda jelas. Suami masa gini.. ngga ada maju-majunya” bukannya menanggapi ucapanku malah Mbak Rusmi berbicara yang lain. Ucapannya tanpa rasa bersalah.
“Mbak ngga boleh ngomong gitu. Kalau mbak emang keberatan aku tingal di sini tinggal ngomong mbak, aku keluar dari sini secepatnya. Ngga usah bawa bawa si Ferdi dan menghina Mas Rian,” aku sungguh tidak terima dengan ucapan Mbak Rusmi barusan. Ini sudah melewati batas. Aku masih berusaha agar suaraku tidak meninggi. Sebisa mungkin aku mengatur emosi.
Mas Rian memang orang yang sabar. Tetapi jika Mas Rian mendengar ucapan Mbak Rusmi kali ini aku yakin ia bakal tersinggung. Aku yang adiknya saja sudah sangat sakit hati. Apalagi Mas Rian yang terang-terangan di rendahkan Mbak Rusmi di depanku sendiri sebagai istrinya, pasti jauh lebih sakit.
Aku mematikan kompor. Aku berniat masuk kamar untuk menenangkan diri. Mataku sudah banjir dengan air mata yang akhirnya berhasil keluar, nyatanya aku tidak kuat menahan pedasnya hinaan mbak Rusmi. Aku berbalik badan. Aku terkejut. Mas Rian sudah berdiri mematung di dekat pintu dapur.
Tatapannya terlihat layu. Terlihat tidak ada semangat sama sekali.Sungguh tak tega aku melihat ekspresinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit hatinya. Aku buru buru menghapus air mata yang sudah membanjiri pipiku. Semoga saja Mas Rian tidak melihatnya. Namun sepertinya aku terlambat, tampaknya air mata ini tidak berhasil aku sembunyikan.
“Mbak, kalau memang mbak ngga rela kami tinggal di sini jangan pura pura menerima kami mbak. ”suaranya terdengar sangat kecewa. Aku hanya bisa mematung di tempat. Tanpa bergerak. Membayangkan rasa sakit hati suamiku seperti mengunci pergerakannku. Berat.
Netranya tampak seribu kekecewaan. Mbak Rusmi pun hanya diam seribu bahasa tanpa merespon. Raut wajahnya tampak tidak enak pada Mas Rian. Namun ia berusaha untuk cuek, untuk mengurangi rasa bersalahnya.
“Maaf mbak ngga maksud begitu.. mbak hanya malu di katain temen mbak ketika berkunjung ke rumah, mereka bukan hanya bilang sekarang mbak susah ekonomi keluarga tapi juga rumah mbak sudah berubah menjadi penampungan orang” Aku tidak tahu. Ia berbohong dan berpura pura atau mengatakan yang sebenarnya. Memang kemari teman teman mbak Rusmi berkunjung. Namun aku tidak mendengar obrolannya karena aku tidak ikut nimbrung. Hanya menemuinya sebentar.
“Tega kamu Mbak..Mbak sendiri yang memaksa kami untuk di sini. Fatimah adik mbak sendiri dianggap orang lain. Aku dan Fatimah akan pergi sekarang juga dari sini!” suara Mas Rian terdengar sangat kesal dan nada bicaranya sedikit meninggi.
“Aku cape kurang ekomomi Rian” suara Mbak Rusmi terdengar meninggi di tengah menahan air mata yang terus bercucuran.
“Mereka bukan orang lain Rusmi. Mereka keluarga kamu. Fatimah adik kandung kamu sendiri,” suara Mas Dandi tiba-tiba muncul. Kami semua terkejut dan meloleh ke arahnya.
“Bukannya seratus ribu tiap hari itu cukup Rus? Masih kurang itu??” kini suara Mas Dandi terlihat lebih kecewa.
“Mas tapikan aku ngga bisa hang out bareng temen-temen lagi mas, aku malu”
“Aku malu di bilang kere dan ngga bisa belanja seperti mereka lagi mas,” lanjut Mbak Rusmi seperti berharap uang hariannya anak bertambah.
“Apa ! kamu malu?? jadi selama ini kamu hanya memprioritaskan rasa malu kamu ke teman kamu dari pada menghargai jerih payah mas mencari Rezeki??”
‘PYARR’ suara Mas Dandi membanting Vas bunga di samping sisi dapur.
Mas Rian menarik tanganku dan membawa masuk ke kamar yang telatnya tidak jauh dari dapur tanpa memperdulikan Mbak Rusmi yang terus di cecar Mas Dandi. Sementara Mbak Rusmi tetap diam mematung. Raut wajahnya menggambarkan berbagai rasa yang sedang ia rasakan. Bingung sekaligus takut kepada Mas Dandi.
Mas Rian mengambil koper di bawah ranjang dan memasukan semua pakaiannya serta pakaianku. Sementara aku ikut membantunya sambil terus meneteskan air mata. Tak di sangka kakakku setega itu pada adiknya. Jika memang ia tak ingin aku tinggal di rumahnya ia seharusnya terus terang saja. Bukan malah berpura-pura tidak keberatan namun tiap harinya selalu menyiksa batinku dengan kata kata pedasnya.
Mas Dandi masuk ke kamarku. Ia menghampiri Mas Rian.
“Rian, tolong maafkan Mbak Rusmi atas semua sakit hati yang ia perbuat Rian.” Mas Dandi terlihat sangat tidak enak pada Mas Rian.
“Ngga Mas, aku yang salah. Mungkin aku sudah terlalu lama disini. Sudah saatnya aku pergi dari sini. Tidak seharusnya aku mengiyakan tawarannya kala itu”
“Rian rumah ini sangat luas, tak masalah kalau kamu tinggal di sini. Jangan dengarkan apa kata Mbak Rusmi”
“Terima kasih Mas untuk bantuan selama ini. Aku ngga mau jadi duri masalah rumah tangga kalian. Kami pergi saja Mas. Mbak Rusmi kurang nyaman aku dan istriku berada di sini”
“Mas aku juga minta maaf mas kalau selama di sini banyak salah sama mas dan Mbak Rusmi. Kami pamit mas” aku mengutarakan permintaan maafku pada Mas Dandi. Mas dandi yang kehabisan akal akal untuk berpikir hanya bisa mengangguk dengan berbagai rasa.
“Kami pamit ya mas, mas jaga Mbak Rusmi baik-baik” ucap Mas Rian kemudian sambil berpelukan dadan dengan Mas Dandi.
****
( POV Mbak Rusmi )
Aku menangis terisak isak di dalam kamar. Aku sangat kesal pada perlakuan Mas Dandi. Kini ia sepertinya tak cinta lagi kepadaku. Untuk memberikan uang harian pun kini sedikit. Tak seperti dulu yang sangat cukup untukku hang out dengan teman-teman, jalan-jalan dan belanja sesuka hati. Aku tersiksa.
Aku juga sangat kesal dengan perlakuannya. Bukannya ia membelaku malah memarahiku di depan mereka. Bukan aku yang salah. Tapi mereka, Fatimah dan Mas Rian suaminya. Bukannya meminta maaf padaku Mas Dandi malah meninggalkanku seorang diri dan masuk ke kamar mereka.
Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepalaku. Aku terngiang-ngiang dengan ucapannya kemarin malam kala aku merengek meminta dibelikan tas branded terbaru.
Bukannya memberiku uang, justru Mas Dandi membandingkanku dengan Fatimah adikku yang penurut dan tampak tak pernah meminta apapun pada suaminya. Aku sangat kesal di buatnya. Atas kejadian itu aku yakin pasti Das Dandi menyimpan rasa pada Fatimah adikku.‘Awas saja kamu Fatimah’ hatiku menggerutu sambil melemparkan kebencian kepadanya.
Mas Dandi masuk kamar. Aku curi curi pandang kepadanya di bawah selimut. Ia tak melirik ke arahku sama sekali. Sepertinya ia masih kesal kepadaku. Hatiku semakin geram pada Fatimah. Pasti ini gara-gara dia. Semenjak ia tinggal di rumahku kelakuan Mas Dandi berbeda dari sebelumnya.
“Mas..” aku beranjak duduk sambil mengajak bicara suamiku.
Ia hanya menoleh ke arahku tanpa mengeluarkan suara apapun dari mulutnya. Aku beranikan untuk berbicara mengenai kecurigaanku.
“Mas suka sama Fatimah ya mas?” dengan ragu-ragu aku mengucapkan kata itu disertai rasa takut.
“Jangan sembarangan kamu kalau ngomong!”emosinya langsung meledak!. mas Dandi melotot sambil menunjuk ke arahku. Sebelumnya Mas Dandi tak pernah merespon dengan nada tinggi kepadaku. Bahkan sampai melotot tak pernah terbayang ia dapat melakukan ini. Bukannya hilang kecurigaanku justru makin bertambah.
“Sekarang mas berbeda, mas sudah mulai pelit dan kasar kepadaku. Mas sering bandingin aku dengan Fatimah. Aku yakin mas pasti ada rasa sama Fatimah. Apalagi ia juga lebih cantik dariku”
“Tutup mulutmu Rus! jangan asal bicara. Atas dasar apa kamu berpikiran seperti itu, mas ngga suka ngga cinta sama siapapun selain kamu Rus” mas Dandi berbicara dengan sedikit geram.
“Tapi sekarang mas beda kepadaku semenjak Fatimah tinggal disini..” mukaku layu. Aku masih menunutut pembenaran. Aku yakin, suamiku berbohong.
Mas Dandi melepas kasut dan dasinya. Kini ia berebahkan badannya di kasur.Mencoba menstabilkan emosinya dan membuang rasa lelahnya. Ada yang aneh dengan mau tubuh Mas Dandi. Aromanya seperti parfum perempuan. Sejak kapan pula ia berganti parfum.
“Mas.. ada yang aneh sama mas..”
“Ya Allah apalagi Rusmi,” suaranya tidak lagi meninggi. Sepertinya ia sangat kekelahan. Namun suaranya masih terdengar kesal.
“Kok bau tubuh Mas seperti parfum wanita. Mas habis jalan sama cewe lain?”
“Subhanallah Rusmi Rusmi, pikiran kamu itu terlalu kemana-mana. Inilah akibatnya kalau kamu terlalu sering nonton sinetron. Mana mungkin Rus aku menghianati kamu”
“Aku yakin ini mau parfum wanita mas, dan baunya seperti parfum Fatimah.. Mas ? mas tolong jelaskan yang terjadi mas” kecurigaanku mulai bertambah.
“Rusmi.. berhenti berpikiran macam-macam. Mas udah katakan, Mas tidak ada rasa ke siapapun selain kamu. Tolong Rusmi percayalah sama mas. Mas seharian kerja demi kamu. Demi keluarga kita. Sudah lah mas Cape mas mau mandi.”
Segera ia beranjak. Aku tidak yakin dengan apa yang Mas Dandi katakan. Ia juga menghindar Pasti ia baru ketemu perempuan. Tapi anehnya kenapa bau ini seperti parfum Fatimah??
Sungguh aku ngga tega dengan Mas Rian. Baru saja pulang kerja langsung pergi lagi dengan tujuan yang tidak tentu. Langit sudah mulai gelap, sebentar lagi malam akan menyambut. Kami masih luntang lantung berjalan menuju jalan raya. Mencoba untuk mencari kendaraan yang masih melintas. Kurang lebih sudah setengah jam kami berdiri. Nihil. Kendaraan yang kami harap harapkan tidak kunjung lewat juga.
Kami masih beruntung, akhirnya sebuah taxi tampak melintas. Penatianku dan Mas Rian akhirnya berbuah hasil. Taxi itu belum berpenumpang.
“Mas, mau kemana?” tanya pak supir. Tampaknya ia belum terlalu tua. Kalau di kira kira sekitar lima tahun di atas Mas Rian.
“Jalan dulu saja pak, nanti saya sambil berdiskusi dengan istri saya”
“Baik mas” jawab beliau sambil sedikit melirik ke arah kami lewat spion depan.
“Mas, atau sekarang kita ke rumah orang tua mas saja?” aku mencoba mencari jalan keluar. Semoga saja ia menyetujuinya. Aku sudah sangat tidak tega dengannya.
“Jangan Mah, nanti orang tuaku akan tau kesulitan yang kita alami. Apalagi satu bulan lagi Dion akan menikah, tak enak menambah beban pikirannya. Lagi pula aku juga sudah berjanji kepada mereka tidak akan menyusahkan mereka lagi setelah aku menikah”
“Terus kita mau kemana mas?” aku tampak cemas. Apa lagi langit sudah semakin gelap.
“Nanti mas coba hubungi rekan kerja mas. Siapa tau salah satu dari rekan mas ada yang tau kontrakan yang masih kosong”
Aku mengangguk. Kini Mas Rian sibuk dengan ponselnya. Pak supir sepertinya menyimak obrolan kami. Aku mencoba melihat keluar kaca mobil. Tidak lagi melihat ke depan. Mencoba mengamati jalanan. Siapa tau aku melihat kontrakan yang kosong.
“Maaf mas, saya ikut campur masalah kalian, kalian sedang mencari kontrakan ya? Kebetulan kontrakan saya masih kosong satu mas. Siapa tau mas berkenan. Atau mau di lihat-lihat dulu juga boleh. Hari juga sudah malam mas. Susah buat cari kontrakan malam-malam”
“Boleh pak. Sekarang kita ke kontrakan bapak saja” seketika wajah Mas Rian sumringah. Serasa bebannya telah kabur terhempas angin malam. Aku sangat lega melihat ekspresi mas Rian. Kini sudah tidak terpancar lagi aura lelah dan bingung dalam wajahnya. Semoga saja nanti Mas Rian cocok dengan bangunan yang di tawarkan pak supir.
Akhirnya kami sampai juga. Tampak bangunan yang tidak terlalu kecil namun terlihat nyaman. Halamannya rindang dan segar. Beberapa tanaman hias tampak terawat tumbuh di sana. Kami mulai melihat-lihat ke dalam bangunan itu. Sederhana namun sangat nyaman suasananya. Kami menyusuri semua bangunan itu dengan di pandu oleh Pak Ridwan. Nama supir Taxi sekaligus pemilik bangunan ini.
Semua ruang bangunan ini sangat terawat. aku dan Mas Rian terlibat obrolan. Syukurlah Mas Rian juga sreg dengan bangunan ini. Sama seperti apa yang aku rasakan. Kami memutuskan bernegosiasi dengan pak Ridwan. Setelah beberapa waktu bernegosiasi akhirnya Mas Rian dan Pak Ridwan menemukan titik kesepakatan.
Sejumlah uang Mas Rian serahkan kepada Pak Ridwan. Untunglah pak Ridwan mengetahui kesulitan kami. Dengan kemurahan hatinya ia memberi jangka kepada kami untuk melunasinya. Kami di izinkan untuk membayarkan DP terlebih dahulu. Tidak lupa Mas Rian juga membayar tagihan Taxi.
Koper segera kami turunkan dari Taxi dengan di bantu pak Ridwan. Kami mulai bersiap membersihkan kamar tidur terlebih dahulu. Mencoba menghilangkan debu debu yang berhasil menempel di sana. Aku menyusun pakaian dalam di lemari. Sementara Mas Dandi membersihkan diri di kamar mandi.
*****
( POV Mbak Rusmi )
Mas Dandi sedang mandi. Ku pungut baju kerjanya di keranjang pakaian kotor. Aku mencoba mencium kembali baju kerja suamiku dengan seksama. Aku sangat yakin ini adalah bau parfum Fatimah, aku sangat kenal betul dengan aroma parfum adik kandungku. kecurigaanku Mas Dandi menaruh hati pada Fatimah semakin kuat. Sepertinya mereka juga memiliki hubungan.
Ponsel yang sedari tadi tergeletak di meja ku raih. Langsung membuka aplikasi WhatsApp dan segera ku cari kontak Rian, suami dari adikku sekaligus adik iparku. Sebuah pesan sudah aku kirimkan ke ponselnya.
Untuk menguatkan kecurigaanku, aku mencoba mencium pakaian suamiku kembali di beberapa sisi yang lain. Aku sangat terkejut. Aroma parfum juga aku dapati pada lengan baju Mas Dandi. Mukaku memerah tanda amarah. Sudah pasti Mas Dandi main perempuan lain. Namun anehnya, aroma parfum yang bersarang di lengan mas Dandi ini tidak sama dengan aroma parfum yang biasa Fatimah gunakan. Aroma siapakah ini? ku cek d isisi lain. Lagi lagi aroma wangi parfum juga bersarang di baju Mas Dandi. Kini aroma itu ada di bagian dada pakaian suamiku. Aku semakin kesal dan marah. Sepertinya Selain Fatimah Mas Dandi juga menyimpan wanita lain juga.
Aku semakin tidak tahan. Langsung ku gedor pintu kamar mandi. Rasa-rasanya hatiku makin memberontak mencium berbagai aroma parfum wanita bersemayam di baju Mas Dandi. Aku akui memang Mas Dandi memiliki wajah yang rupawan. Tubuhnya juga gagah layaknya para abdi negara. Tidak heran jika banyak yang meliriknya.
“Mas, buka pintunya, Mas selingkuh ya mas ? Mas, jangan bikin aku tambah marah mas!!!”
“Mas lagi mandi Rus.. Sabar sebentar, ada apa lagi teriak teriak?” jawabnya merasa heran.
“Mas! Pokoknya buka.. aku ngga akan mengampuni perempuan itu mas. Aku pasti akan mencari wanita wanita itu, Akan aku habisi! Berani beraninya mereka memalingkan Mas dariku”
“Sebentar Rus! Mas masih mandi” suaranya sedikit terdengar kesal.
“Perempuan siapa yang kamu maksud Rusmi, Mas ngga selingkuh.. Sebentar, mas sebentar lagi selesai mandi” guyuran air terdengar jatuh ke lantai dengan buru-buru. Mas Dandi segera memakai handuk dan keluar menemui Rusmi.
“Apalagi Rusmi? Kenapa kamu menuduhku selingkuh?” kini sosoknya sudah di depanku.
“Pasti mas selingkuh, mas jangan mengelak lagi mas ini buktinya” aku melempar dengan kasar pakaian kerja Mas Dandi ke tubuhnya. Ia menangkapnya dengan sigap.
“Apa yang kamu masalahkan di bajuku Rusmi?” Mas Dandi menimang nimang bajunya. Ia melihat ke sisi demi sisi pakaiannya itu. Sepertinya tidak ada yang aneh.
“Jangan pura pura bodoh mas, cium baju mas! Kenapa bau parfum wanita? Kurang cantik kah aku mas? hingga mas tega menghianatiku?” aku sangat kesal dibuatnya. Sudah jelas ia tertangkap basah namun masih saja mengelak. Memang kurang ajar.
“Rusmi rusmi, kamu itu ya pikirannya, sudah tenangkan pikiran kamu. Mas Mau ganti pakaian dulu” jawabnya dengan begitu santai. Ia tidak panik ama sekali. Ia sepertinya tidak paham dengan kemarahanku. Dasar buaya!
“Kan mas mengalihkan pembicaraan pasti mas selingkuh dariku” suaraku makin meninggi.
“Redakan amarahmu dulu Rusmi, mas ganti baju dulu”