Nerissa duduk terpaku di sudut kamar kosnya yang sempit. Pandangannya tertuju pada layar laptop yang memancarkan cahaya redup, tetapi pikirannya melayang jauh. Di layar itu tertera saldo rekeningnya-nol besar. Bahkan tagihan semester depan yang harus segera dibayar membuat perutnya terasa melilit.
"Maaf ya, Ris," suara dingin saudara tirinya, Leona, masih terngiang di telinganya. "Aku cuma pinjam uang itu sebentar. Lagipula kamu kan bisa cari lagi. Kamu selalu pintar soal begituan."
Pinjam? Apa gunanya meminta maaf kalau Leona bahkan tak tahu malu mengakuinya seperti itu? Tabungan yang telah ia kumpulkan selama dua tahun terakhir hilang begitu saja dalam satu malam, dipakai untuk membeli tas mewah dan liburan mewah Leona ke Bali.
Nerissa mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia melaporkan Leona, tetapi apa yang bisa ia lakukan? Leona adalah putri dari istri baru ayahnya, dan meskipun ayahnya menyayanginya, ia selalu memihak Leona. Itu sudah menjadi cerita lama yang tak pernah berubah.
Telepon di meja bergetar, mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan masuk dari sahabatnya, Keira.
"Ris, kamu nggak bisa diem aja. Kalau kamu nggak dapet uang itu minggu depan, kamu bakal drop out!"
Nerissa mendesah panjang. Tentu saja Keira benar. Tetapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Beberapa hari terakhir ia sudah mencoba melamar pekerjaan paruh waktu di mana-mana, tetapi tidak ada yang bisa memberikan uang dalam waktu sesingkat itu.
Setengah jam kemudian, Keira datang dengan membawa sekantong camilan dan secangkir kopi murah dari minimarket. Ia langsung duduk di lantai kamar Nerissa dan memandanginya dengan tatapan prihatin.
"Kita harus cari solusi, Ris," kata Keira.
"Kalau ada solusi, aku pasti udah ambil."
Keira menggigit bibirnya, ragu. "Aku tahu ini mungkin terdengar gila, tapi... kamu pernah denger tentang sugar daddy?"
Nerissa menatap sahabatnya dengan mata terbelalak. "Keira, kamu serius?"
"Aku cuma kasih ide," Keira menjawab cepat, suaranya menurun. "Aku nggak bilang kamu harus ngelakuin ini, tapi... ini cuma sekali, Ris. Kalau ada yang mau bayarin kamu lima puluh juta buat satu malam, masalahmu selesai, kan?"
"Aku bukan orang yang seperti itu."
"Aku tahu, tapi kamu juga bukan orang yang menyerah, kan?" Keira menatap Nerissa serius. "Kadang kita harus keluar dari zona nyaman buat selamat."
Kata-kata itu menggema di kepala Nerissa sepanjang malam. Ia tak bisa tidur. Bayangan rekening kosongnya terus menghantui. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia membuka aplikasi yang disebutkan Keira. Namanya terasa asing, seperti memasuki dunia yang tak seharusnya ia jamah.
Saat ia mengisi profilnya-dengan foto yang tidak terlalu mencolok dan keterangan yang sangat singkat-ia merasa seperti sedang menjual dirinya sendiri. Tetapi apa pilihan yang ia miliki?
Tak butuh waktu lama hingga sebuah pesan masuk ke kotak masuknya.
Leonard Alaric: "Kita bisa bicara. Beri aku nomor teleponmu."
Nerissa membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada basa-basi. Tidak ada rayuan murahan. Hanya pesan singkat yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.
Ia hampir menutup aplikasinya, tetapi tangannya terhenti. Satu kali, ia mengingatkan dirinya sendiri. Hanya sekali.
Dengan napas tertahan, ia mengetik balasan: "Kapan Anda punya waktu?"
Jawaban datang hampir seketika. "Besok malam. Aku akan mengirimkan alamat dan detailnya."
Nerissa meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Apa yang sedang ia lakukan? Tetapi ketika ia memikirkan Leona dan uang kuliah yang hampir tak terbayar, ia tahu bahwa ini adalah satu-satunya jalan.
Di balik layar ponselnya, Leonard tersenyum tipis. Ia sudah sering bermain permainan ini, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Entah kenapa, pesan singkat dari Nerissa terasa lebih menarik dibandingkan ratusan gadis lain yang biasa ia temui.
Nerissa tidak tahu bahwa satu keputusan kecil ini akan mengubah hidupnya selamanya.
Pagi itu, Nerissa merasa tubuhnya kaku. Ia berulang kali membolak-balikkan dirinya di atas tempat tidur, mencoba meyakinkan dirinya bahwa keputusan ini adalah yang terbaik, atau setidaknya satu-satunya pilihan yang tersisa. Tapi bagaimana bisa? Hanya memikirkan apa yang akan ia lakukan malam ini membuat perutnya mual.
Kata Keira masih terngiang di telinganya: "Ini cuma sekali, Ris. Hanya satu malam."
Namun, saat ia menatap bayangannya di cermin, wajah yang sama sekali tidak mengenali dirinya sendiri muncul. Seorang wanita yang dipaksa melangkah ke dalam dunia yang sama sekali berbeda.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, dan Nerissa bersiap-siap dengan cepat. Ia memilih gaun hitam sederhana-cukup elegan, namun tidak terlalu mencolok-mencoba menutupi kegugupan yang menggelora. Ia tahu, malam ini bukan hanya tentang uang. Ini adalah tentang dirinya yang terperangkap dalam keputusan yang telah ia buat, dan ia tidak bisa mundur lagi.
Saat ia melangkah keluar dari kamar kos, Keira sudah menunggu di luar dengan ekspresi yang campur aduk.
"Ris, kamu baik-baik saja?" tanya Keira, melihat wajah Nerissa yang pucat.
"Aku... aku nggak tahu," jawab Nerissa lirih. "Tapi aku harus melakukannya."
Keira menggenggam tangannya dengan erat. "Aku cuma harap kamu nggak menyesal. Jangan biarkan dia memanfaatkanmu."
Nerissa hanya mengangguk. Ia tahu, Keira hanya khawatir. Namun dalam hatinya, Nerissa juga tahu bahwa ia tidak bisa lagi memilih jalan mundur.
Setibanya di tempat yang dijanjikan, sebuah restoran mewah yang terletak di lantai atas gedung pencakar langit, Nerissa hampir tak percaya. Restoran itu tampak seperti sebuah dunia lain-di mana segala sesuatu berkilau dan berlebihan. Di dalamnya, semua orang tampak sempurna. Tertata rapi. Seakan tidak ada yang bisa merusak citra mereka.
Di meja sudut, seorang pria duduk menunggu. Saat pandangannya bertemu dengan Nerissa, ia tersenyum dengan senyuman yang membuat hati Nerissa berdebar kencang. Leonard Alaric-lelaki dengan pakaian yang sempurna, tubuh tegap, dan aura kekuasaan yang begitu kuat, membuat Nerissa merasa kecil dan rapuh.
Ia berdiri perlahan, mengulurkan tangan dengan elegan. "Nerissa, bukan?" suaranya dalam dan tegas. "Senang akhirnya kita bertemu."
Nerissa merasakan kekuatan dalam tatapan matanya, namun ia menahan diri, mengulurkan tangannya dengan kaku. "Leonard," ujarnya, mencoba mengatur napasnya.
Mereka duduk. Tidak ada basa-basi. Hanya percakapan yang penuh dengan ketegangan. Leonard mulai menjelaskan apa yang ia inginkan. Sebuah malam, satu malam saja, dan mereka bisa melupakan semuanya. Tanpa ikatan, tanpa harapan, hanya kepuasan.
Namun, seiring percakapan itu berlanjut, Nerissa merasa semakin tidak nyaman. Semua yang ia dengar tampak terlalu mudah, terlalu cepat. Leonard berbicara dengan tenang, seperti seorang pria yang sudah terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa banyak usaha. Dan itu yang membuat Nerissa terperangkap dalam permainan ini.
"Jangan khawatir," Leonard berkata dengan nada yang hampir seperti memerintah. "Aku takkan mengganggu hidupmu setelah ini. Satu malam ini saja. Tapi aku akan membuatnya tak terlupakan."
Tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut Nerissa. Hatinya berdegup kencang. Apa yang ia lakukan? Ia merasa seperti boneka yang telah dipasang di tengah dunia ini, di mana semua aturan tampaknya tidak berlaku untuk orang seperti Leonard.
Malam itu, saat mereka kembali ke hotel yang lebih mewah dari apapun yang pernah Nerissa impikan, ia merasakan ketegangan yang mencekam. Semua yang terjadi seperti berjalan begitu cepat, namun di sisi lain, terasa begitu lambat. Keputusan yang ia buat tak pernah terasa begitu salah dan benar pada saat yang bersamaan.
Leonard menyambutnya dengan senyum penuh misteri, seperti seseorang yang telah merencanakan segalanya dengan sangat teliti.
Namun, satu hal yang Nerissa tidak ketahui adalah bahwa Leonard tidak hanya tertarik pada uang atau kemewahan. Ada yang lebih gelap, lebih mendalam di balik tatapannya yang penuh kendali. Ia tidak hanya ingin memiliki Nerissa malam itu-ia ingin mengendalikannya. Ia ingin menjadikan Nerissa bagian dari dunia yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja.
Dan Nerissa? Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Semua yang ada di hadapannya-kemewahan, godaan, dan janji-janji-membuatnya terhanyut dalam permainan yang lebih berbahaya daripada yang bisa ia bayangkan.
Nerissa berdiri di tepi jendela besar kamar hotel yang menghadap ke kota, mencoba menenangkan pikirannya. Malam itu telah berlalu begitu cepat, namun rasa mual yang menggerogoti dadanya tidak kunjung hilang. Di luar, kota berkilauan dengan ribuan cahaya, kontras dengan kekosongan yang ia rasakan dalam dirinya.
Leonard memandanginya dengan tatapan yang tajam, penuh analisis, seakan ia sedang mengukur setiap gerakan Nerissa. Saat ia mendekat, suara langkah kakinya menggema di ruang sepi.
"Nerissa," kata Leonard dengan lembut, namun penuh kekuatan. "Apa kamu tahu mengapa aku memilihmu malam ini?"
Nerissa menoleh dengan wajah yang semakin bingung. "Karena aku membutuhkan uang," jawabnya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia tahu ini klise, tapi itu adalah kenyataan yang ia hadapi.
Leonard tersenyum tipis. "Itu bagian dari alasan. Tapi bukan alasan utamaku. Kamu berbeda, Nerissa. Ada sesuatu dalam dirimu yang menarik perhatian aku sejak pertama kali melihat profilmu."
Nerissa merasa gugup, tapi berusaha untuk tidak menunjukkannya. Apa yang ia rasakan lebih dari sekadar ketertarikan fisik. Ada sesuatu yang lebih dalam-sesuatu yang meresap ke dalam jiwanya, yang membuatnya merasa sangat kecil, terperangkap dalam dunia yang tidak ia mengerti.
Leonard mendekat, mengambil gelas wine yang terletak di atas meja, dan menyodorkannya ke Nerissa. "Kamu mungkin merasa bingung sekarang, tapi percayalah, aku bukan monster yang akan menyakitimu. Malam ini hanya tentang kamu dan aku, tidak lebih, tidak kurang."
Nerissa mengambil gelas itu, menyentuh bibirnya, namun tidak meminumnya. Sesuatu di dalam dirinya berontak-tapi ia tahu ia tidak bisa mundur. Ia harus menghadapi semuanya.
Tetapi semakin lama ia berada di dalam permainan ini, semakin sulit baginya untuk memisahkan antara kenyataan dan keinginan Leonard yang penuh dengan kekuatan dan godaan. Leonard tidak hanya menawarkan uang atau kekayaan. Ia menawarkan kontrol, kendali atas hidupnya, dan itu yang membuat Nerissa merasa seolah-olah ia telah kehilangan kebebasannya hanya dalam satu malam.
Namun, meskipun semua itu, ada sesuatu yang memikatnya-sesuatu yang sangat sulit untuk ia abaikan. Tatapan Leonard yang penuh dengan pengertian dan kekuatan. Tidak ada yang bisa menandingi cara ia melihat dunia, cara ia menguasai segalanya.
"Tidak ada yang perlu kamu takuti, Nerissa," kata Leonard, suaranya dalam dan penuh dominasi. "Aku hanya ingin menunjukkan padamu dunia yang berbeda. Dunia di mana kamu tidak perlu khawatir tentang uang, masa depan, atau masalah apapun."
Nerissa menelan ludah, hatinya berdebar keras. Apakah ini yang ia inginkan? Apakah ini apa yang sebenarnya ia butuhkan?
Namun, sebelum ia sempat menjawab, Leonard melangkah lebih dekat, membelai rambutnya dengan lembut, seolah ingin memastikan ia tidak bisa lepas dari cengkeramannya. "Kamu sudah berada di sini, Nerissa. Dan sekarang, kamu tidak akan bisa mundur."
Setiap kata yang keluar dari bibir Leonard semakin membuatnya terperangkap dalam dunia yang ia tidak sepenuhnya pahami. Nerissa merasa seolah-olah ia sedang berada di ujung jurang, dan hanya ada satu pilihan yang tersisa: jatuh atau berusaha bertahan.
Malam itu berlanjut dengan kediaman yang mencekam, penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan. Leonard tidak hanya mengejar tubuh Nerissa, tetapi juga jiwanya, menginginkan bagian dari dirinya yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Pagi datang begitu cepat, membawa dengan serta keputusan yang tidak bisa diubah. Nerissa terbangun dengan rasa cemas yang mencekam. Satu malam itu telah mengubah segalanya. Tetapi meskipun ada bagian dari dirinya yang merasa terperangkap, ada juga bagian dari dirinya yang mulai mempertanyakan: Apakah ini hanya awal dari permainan yang lebih besar?
Dan di balik pikirannya, satu pertanyaan mengganggu: Apakah Leonard benar-benar ingin melepaskannya, atau ia hanya baru saja memulai perburuan yang lebih dalam?