Gedung kaca yang menjulang tinggi itu berdiri dengan angkuh di pusat kota. Elara berdiri di depan pintunya, memandangi bayangan dirinya yang memantul di dinding transparan. Tangannya menggenggam tas kecil dengan erat, keringat dingin mulai membasahi telapak. Ini hari yang akan menentukan arah hidupnya.
"Aku bisa... aku harus bisa," gumamnya, seakan mencoba meyakinkan diri sendiri.
Beberapa detik kemudian, ia melangkah masuk. Aroma khas ruang berpendingin udara segera menyambutnya. Lantai marmer putih berkilau, meja resepsionis mewah, dan lampu gantung kristal yang berkilauan membuatnya merasa kecil. Namun ia tetap menegakkan punggung, berusaha terlihat tenang.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis dengan senyum profesional.
"Saya... Elara. Ada janji dengan Tuan Adrian," jawabnya pelan.
Wanita itu segera mengetik sesuatu di komputernya, lalu mengangguk. "Silakan naik ke lantai 28. Sudah ditunggu."
Elara mengangguk singkat dan melangkah ke lift. Jantungnya berdebar semakin cepat saat pintu lift terbuka di lantai yang dituju. Di sana, seorang pria paruh baya dengan jas hitam sudah menunggunya. "Nona Elara? Saya Herman, pengacara Tuan Adrian. Silakan ikut saya."
Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang luas dengan jendela besar menghadap kota. Di tengah ruangan, Adrian duduk di kursi kulit hitam, postur tubuhnya tegap, wajahnya serius namun tetap karismatik.
"Elara," sapanya dengan suara dalam. "Kau datang."
Elara menelan ludah, lalu mengangguk. "Ya. Saya sudah memikirkan tawaran Anda."
Adrian menatapnya beberapa detik, seakan mencoba membaca isi hatinya. "Dan?"
"Aku... aku akan melakukannya," jawab Elara akhirnya. Suaranya bergetar, tapi ada keteguhan di matanya.
Adrian mencondongkan tubuh ke depan, jemarinya bertaut di atas meja. "Kau yakin? Ini bukan keputusan kecil, Elara. Sekali kau menandatangani kontrak, hidupmu akan berubah selamanya."
Elara menarik napas panjang. Bayangan wajah ibunya yang lemah di ranjang dan Dita yang terus berusaha tersenyum demi menenangkannya melintas di kepalanya. "Aku yakin. Demi keluargaku, aku akan melakukannya."
Adrian memberi isyarat pada Herman. Pria itu membuka map besar berisi puluhan lembar kertas. "Ini adalah kontrak resmi. Sudah mencakup hak dan kewajiban kedua belah pihak, termasuk biaya, asuransi medis, dan perlindungan hukum," jelasnya.
Elara menerima kontrak itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia membaca setiap pasal, meski beberapa istilah hukum sulit dipahami. Ada bagian yang menegaskan bahwa ia akan mendapat kompensasi besar, ada juga pasal tentang kerahasiaan dan larangan membicarakan perjanjian ini pada orang luar.
"Jika ada yang tidak jelas, tanyakan," kata Adrian tenang.
Elara menatapnya. "Kenapa saya? Dari sekian banyak wanita, kenapa Anda memilih saya?"
Adrian terdiam beberapa saat. Tatapannya tajam, namun bukan mengintimidasi. "Karena aku percaya kau tidak hanya mengejar uang. Aku bisa melihat tekadmu. Kau tidak akan kabur setelah mengambil uang itu. Dan..." ia berhenti sejenak, "...entah kenapa aku merasa kau berbeda."
Pipi Elara memanas. Ia buru-buru menunduk kembali pada kontrak, tidak ingin Adrian membaca gejolak di hatinya. Setelah beberapa menit, ia akhirnya menandatangani. Pena hitam itu terasa berat di tangannya, seakan setiap coretan menorehkan takdir baru.
"Mulai hari ini, kau resmi terikat kontrak denganku," ucap Adrian pelan, namun mantap.
Elara hanya bisa mengangguk. Perasaan lega bercampur takut menyelimutinya.
Keesokan harinya, tahap berikutnya dimulai: pemeriksaan medis. Adrian sudah menyiapkan segalanya di salah satu rumah sakit swasta terbaik. Elara mengenakan gaun pasien, duduk gelisah di ruang tunggu VIP.
"Tenang saja, semua prosedur akan aman. Kami hanya perlu memastikan kondisi tubuhmu," kata seorang dokter wanita ramah.
Namun ketenangan itu sulit didapat. Elara merasa dirinya seperti bahan percobaan. Ia tahu apa yang ia lakukan legal, tapi hatinya tetap memberontak.
Pintu terbuka, dan Adrian masuk. Kehadirannya membuat ruangan yang dingin terasa berbeda. Ia tidak mengenakan jas formal, hanya kemeja putih sederhana dengan lengan digulung. Namun aura wibawanya tetap kuat.
"Bagaimana?" tanyanya, duduk di samping Elara.
Elara menatap tangannya sendiri. "Aku... takut."
Adrian terdiam sejenak, lalu berkata lembut, "Kau tidak sendirian. Aku akan mendampingimu."
Elara menoleh, sedikit terkejut mendengar ketulusan di balik suaranya. Matanya bertemu dengan mata Adrian, dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Ada sesuatu di sana-hangat, tulus, namun juga berbahaya bagi hatinya.
Dokter datang kembali, memutus momen itu. "Baiklah, Nona Elara. Kita akan mulai pemeriksaannya."
Beberapa jam berikutnya, Elara menjalani berbagai tes: darah, jantung, hormon, bahkan psikologis. Setiap kali ia merasa lelah atau takut, tatapan Adrian yang tenang membuatnya bertahan. Meski ia tahu hubungan mereka hanyalah kontrak, hatinya diam-diam merasakan ketertarikan yang tidak seharusnya ada.
Setelah semua selesai, Elara kembali ke ruang tunggu. Adrian duduk di sampingnya lagi. "Kau sudah melakukan hal yang sulit hari ini. Aku menghargainya."
"Ini... masih awal, bukan?" tanya Elara pelan.
Adrian mengangguk. "Ya. Masih banyak proses yang harus kau lalui. Tapi aku ingin kau ingat satu hal: kau tidak sendirian. Apa pun yang terjadi, aku ada."
Elara menatapnya, merasa jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia buru-buru memalingkan wajah, takut Adrian menyadari sesuatu.
Malam itu, di rumah kontrakan, Elara duduk termenung. Dita sudah tidur, ibunya juga terlelap setelah minum obat. Elara menatap langit-langit, hatinya penuh gejolak.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan? Apa aku hanya menjual tubuhku? Atau... ini jalan yang memang harus kuambil?" bisiknya.
Namun bayangan wajah Adrian selalu muncul. Cara pria itu menatapnya, suaranya yang tenang, perlindungannya yang diam-diam menenangkan. Hatinya menolak, tapi ada sesuatu yang perlahan tumbuh.
Sementara itu, di apartemennya yang mewah, Adrian berdiri di balkon menatap kota malam. Angin malam menyapu rambutnya, pikirannya melayang pada sosok Elara. Ia tahu kontrak ini seharusnya hanya soal keturunan. Namun setiap kali menatap Elara, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
"Aku tidak boleh goyah," gumamnya. "Ini hanya bisnis... hanya bisnis."
Namun hatinya sendiri tahu, kalimat itu mulai kehilangan makna.
Hari-hari berikutnya, Elara menjalani pemeriksaan lanjutan dan konseling. Setiap kali ia datang ke rumah sakit atau kantor Adrian, mereka semakin sering berinteraksi. Mulai dari percakapan singkat hingga diskusi panjang.
"Kenapa kau selalu terlihat dingin?" tanya Elara suatu kali.
Adrian tersenyum tipis. "Karena aku terbiasa begitu. Dunia bisnis mengajarkan kalau kelembutan bisa jadi kelemahan."
"Tapi kau tidak selalu dingin," balas Elara spontan, lalu menunduk malu.
Adrian terdiam. Matanya menatap Elara dengan intens, membuat gadis itu gelisah. "Mungkin kau benar," katanya akhirnya.
Percakapan sederhana itu membuat hati Elara berdebar kencang. Ia mulai menyadari bahwa di balik sikap tegas dan dingin, Adrian adalah pria dengan luka dan kerentanan yang tersembunyi. Dan entah bagaimana, ia ingin menjadi orang yang bisa menyembuhkan luka itu.
Namun di balik semua kebersamaan itu, bayangan kontrak selalu menghantui. Hubungan mereka bukan cinta-setidaknya belum. Dan Elara tahu, semakin dekat ia dengan Adrian, semakin besar risikonya terluka.
Malam demi malam, Elara terus berdoa, berharap jalan yang ia pilih benar. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu sesuatu yang berbahaya mulai tumbuh: perasaan yang tidak bisa diikat kontrak mana pun.
Bab 2 berakhir dengan sebuah adegan sederhana namun penuh makna. Elara pulang dari rumah sakit setelah pemeriksaan terakhir. Adrian mengantarnya dengan mobil. Saat mobil berhenti di depan rumah kontrakan, hujan deras turun.
"Elara," panggil Adrian sebelum gadis itu keluar.
Elara menoleh. "Ya?"
Adrian menatapnya dalam-dalam. "Apa pun yang terjadi nanti... aku ingin kau ingat satu hal. Kau lebih dari sekadar bagian dari kontrak ini."
Elara terdiam, hatinya bergetar. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Hanya anggukan kecil yang akhirnya ia berikan sebelum menutup pintu dan berlari menembus hujan.
Namun di dalam hatinya, kata-kata Adrian terus terngiang.
Lebih dari sekadar kontrak.
Dan sejak saat itu, ia tahu: perjalanannya baru saja dimulai.
Langit pagi itu tampak kelabu, seolah ikut menyerap kecemasan yang menggelayuti dada Elara. Ia duduk di kursi ruang tunggu klinik fertilitas, menggenggam jemarinya yang dingin. Aroma antiseptik memenuhi udara, membuat perutnya terasa mual tanpa sebab.
Sudah seminggu sejak ia menandatangani kontrak itu, dan setiap hari sejak saat itu hidupnya berjalan dalam jadwal ketat: pemeriksaan hormon, tes darah, pengukuran rahim, suntikan hormon, vitamin, dan pantangan makanan. Semua terasa begitu klinis, dingin, dan asing.
Namun yang paling membuat dadanya sesak bukan jarum suntik atau ruang laboratorium, melainkan tatapan Adrian-yang kini berubah.
Ia hadir di setiap pemeriksaan, tapi selalu berdiri di sudut ruangan, mengenakan jas rapi, tangan bersilang, mata tajam tapi tanpa ekspresi. Seolah-olah semua ini hanya sekadar urusan bisnis baginya. Dan mungkin memang begitu...
"Elara?" panggil perawat, memecah lamunannya.
Ia berdiri, menatap sekilas ke arah Adrian yang sedang duduk di sofa kulit hitam di sisi ruangan. Pria itu mengangguk tipis, dingin, namun cukup untuk menyiratkan bahwa ia memperhatikan.
Elara mengikuti perawat ke ruang pemeriksaan. Tubuhnya diselimuti kecemasan. Proses hari ini adalah langkah awal stimulasi hormon-persiapan sebelum embrio hasil pembuahan in vitro ditanamkan nanti.
Jarum kecil menembus kulit lengannya. Ia meringis sedikit, menatap langit-langit. "Semuanya baik-baik saja," ujar perawat lembut, "Tubuh Anda merespons dengan baik."
Elara mengangguk lemah. Namun pikirannya bergejolak. Bagaimana bisa ia menjalani ini tanpa melibatkan hatinya, sementara setiap kali ia menoleh, ada sosok Adrian di sana?
Siang harinya, mereka kembali ke ruang konsultasi dokter. Adrian duduk di sampingnya kali ini, namun masih menjaga jarak, kursinya sedikit ditarik ke belakang.
"Stimulasi berjalan baik," ujar dokter, "Dalam beberapa hari ke depan, kita akan mulai prosedur fertilisasi in vitro. Setelah itu, kita tunggu masa penanaman embrio."
Elara mendengarkan, tapi matanya sesekali melirik ke Adrian. Pria itu tampak serius, rahangnya mengeras, matanya menatap layar monitor yang menampilkan grafik hormon Elara. Ia tidak bicara sepatah kata pun.
Saat dokter keluar, hening menyelimuti ruangan. Elara meremas jemari di pangkuannya. "Kau... tidak perlu selalu datang," katanya lirih, mencoba memecah keheningan.
Adrian menoleh perlahan. "Ini proyek yang sangat penting. Aku tidak bisa membiarkannya gagal."
"Proyek..." Elara mengulang kata itu, merasakan dadanya menegang. "Aku bukan mesin, Adrian. Ini tubuhku. Aku juga manusia."
Ucapan itu membuat Adrian terdiam sejenak. Ia menatapnya, kali ini tanpa topeng dingin di wajahnya. "Aku tahu," ucapnya pelan. "Itulah kenapa aku memilihmu. Karena kau cukup kuat untuk melaluinya."
Kata-kata itu menancap dalam, membuat mata Elara terasa panas. Ia membuang tatapan, takut pria itu melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Beberapa hari kemudian, efek hormon mulai membuat tubuh Elara terasa aneh: mual di pagi hari, kembung, emosinya naik turun. Ia menangis karena iklan televisi, lalu tertawa pada hal sepele, lalu tiba-tiba membeku dalam keheningan.
Dan di sela itu semua, pikirannya terus kembali pada Adrian. Cara pria itu menatapnya saat ia merasa lemah, cara ia memanggil namanya dengan nada pelan, cara ia diam-diam menaruh jaketnya di bahunya saat ia menggigil usai pengambilan darah.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya rasa terima kasih, atau sekadar efek hormon. Tapi hatinya tahu: ia mulai jatuh.
Malam itu, saat keluar dari klinik, mereka berjalan berdampingan di lorong parkir. Suasana hening, hanya suara langkah sepatu mereka yang terdengar.
"Elara," suara Adrian memecah keheningan, "kau harus ingat, ini hanya kesepakatan. Tidak boleh ada perasaan pribadi yang mengganggu."
Elara menghentikan langkahnya. Kata-kata itu terasa seperti tamparan dingin. Ia menatap Adrian, mencoba tersenyum, meski bibirnya bergetar. "Tentu. Aku tahu batasnya."
Adrian mengangguk, lalu melangkah lebih dulu menuju mobilnya.
Elara berdiri mematung, dadanya terasa sesak. Ia sadar, cinta sedang tumbuh dalam dirinya-tapi cinta itu hanya satu arah, dan mungkin akan menghancurkannya perlahan.
Namun saat ia menoleh, ia mendapati Adrian diam-diam menoleh ke arahnya juga sebelum masuk ke mobil. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Elara bingung: Apakah benar-benar tidak ada apa-apa di mata pria itu? Atau... ia hanya terlalu takut untuk membiarkan perasaannya muncul?
Udara pagi terasa begitu dingin saat Elara turun dari mobil hitam yang mengantarnya ke klinik fertilitas. Langit masih berwarna kelabu, seolah menyimpan rahasia. Jantungnya berdegup kencang, ritmenya tak beraturan. Hari ini... adalah hari penanaman embrio.
Tangannya berkeringat ketika pintu kaca otomatis terbuka. Adrian berjalan di sampingnya, mengenakan setelan abu-abu tua yang membuat sorot matanya tampak semakin tajam. Ia tidak banyak bicara sejak menjemput Elara dari apartemennya pagi tadi. Hanya diam, namun tatapannya selalu memerhatikan setiap langkah Elara.
Begitu sampai di ruang tunggu khusus, perawat menyambut mereka dengan senyum lembut. "Nona Elara, semuanya sudah disiapkan. Kami akan mulai dalam satu jam, setelah prosedur persiapan selesai."
Elara mengangguk pelan. Ia merasa kepalanya ringan, seolah berjalan di atas awan tipis yang rapuh.
Adrian duduk di kursi di sebelahnya, sedikit menyandarkan tubuh ke depan. "Kau yakin sanggup menjalani ini?" tanyanya, suara dalamnya menembus riuhnya pikiran Elara.
Elara menoleh perlahan, menatap wajahnya. "Aku sudah sejauh ini, Adrian. Tidak ada jalan kembali."
Mata mereka bertaut. Ada sesuatu di sana-getaran halus yang tak mau mereka akui. Adrian memalingkan tatapan lebih dulu, menghela napas dalam.
Ruang prosedur berwarna putih bersih, aroma antiseptik menusuk hidung. Elara berbaring di atas ranjang khusus dengan pakaian rumah sakit, selimut tipis menutupi tubuhnya. Monitor detak jantung berbunyi pelan di sisi tempat tidur.
Dokter menjelaskan langkah-langkah dengan suara tenang. "Ini prosedur sederhana, tidak menyakitkan, dan hanya berlangsung sekitar lima belas menit. Kami akan memasukkan embrio hasil pembuahan ke dalam rahim Anda. Setelah itu, Anda harus banyak istirahat agar peluang keberhasilan lebih tinggi."
Elara mengangguk, meski jantungnya berdebar seperti genderang perang.
Dari balik kaca bening ruangan observasi, Adrian berdiri diam, menatapnya. Mata gelapnya tajam, namun ada ketegangan samar di rahangnya. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri.
Saat kateter kecil dimasukkan, Elara menggigit bibir, menahan sensasi dingin dan tekanan halus di tubuhnya. Nafasnya memburu. Ia tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba merasa ingin menangis.
Mungkin karena ia sadar... saat ini ia benar-benar menyerahkan tubuhnya untuk membawa kehidupan yang bukan miliknya.
Dan seseorang di luar sana-Adrian-adalah ayah biologis dari kehidupan itu.
Air mata menetes tanpa ia sadari.
Prosedur selesai. Dokter menepuk lembut lengannya. "Selesai. Sekarang tinggal menunggu dan berharap yang terbaik."
Beberapa jam kemudian, Elara terbaring di kamar pemulihan yang disediakan klinik. Ruangan tenang, tirainya setengah terbuka memperlihatkan cahaya matahari yang perlahan menembus awan.
Adrian duduk di kursi di samping tempat tidurnya, diam, tapi kehadirannya terasa begitu nyata.
"Kau menangis tadi," ucapnya pelan.
Elara menoleh. "Aku bahkan tidak sadar."
"Mengapa?"
Elara menatap langit-langit, menahan napas. "Mungkin... karena ini terasa terlalu besar. Terlalu berat untukku tanggung sendirian."
"Dan aku di sini," suara Adrian terdengar lebih lembut dari sebelumnya, "Kau tidak sendirian."
Tatapannya membuat dada Elara menghangat sekaligus berdebar. Ia ingin menolak kenyamanan itu, tapi tubuhnya lelah, hatinya rapuh.
Keheningan menggantung di antara mereka. Adrian meraih selimut yang tergeser dan menutupkannya perlahan ke tubuh Elara. Jemarinya tanpa sengaja menyentuh tangan Elara-hangat, kuat, namun juga bergetar halus.
Elara menahan napas. Sentuhan singkat itu memicu kilatan listrik di kulitnya.
"Terima kasih..." bisiknya.
Adrian menatapnya lama, lalu berdiri dengan gerakan pelan, seolah takut menimbulkan kebisingan. "Istirahatlah," katanya, tapi suaranya terdengar nyaris pecah.
Saat pintu menutup di belakangnya, Elara menatap langit-langit sambil menggenggam selimut di dadanya. Air mata kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena ketakutan... melainkan karena hatinya mulai remuk oleh sesuatu yang tak boleh ia rasakan-cinta.
Sore harinya, Adrian kembali ke kamar pemulihan, membawa sekotak kecil makanan ringan dan sebotol air mineral. "Dokter bilang kau harus makan yang cukup agar hormonmu stabil," katanya datar, menaruhnya di meja.
"Terima kasih," Elara menjawab lirih.
Adrian duduk, kali ini lebih dekat. "Berapa lama... sebelum kita tahu ini berhasil?"
"Sekitar dua minggu," jawab Elara, menatap tangannya sendiri.
Dua minggu... Dua minggu yang akan menentukan apakah tubuhnya berhasil menjadi rumah bagi benih kehidupan mereka. Dua minggu yang mungkin akan mengikat mereka lebih jauh-atau memutus segalanya.
Adrian tampak ingin berkata sesuatu, tapi hanya terdiam. Elara merasakan ketegangan itu-jarak yang mereka bangun mulai retak, tapi tidak ada yang berani melangkah lebih dekat.
Mereka hanya duduk dalam diam, terlalu sadar akan detak jantung masing-masing.
Dan di malam yang hening itu, ketika lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram, Elara memejamkan mata dengan air mata membasahi pipi. Ia tahu ia tidak boleh mencintainya. Tapi bagaimana caranya menolak rasa... pada pria yang sedang ia bawa keturunannya di dalam tubuhnya sendiri?