Bab 1

Suradi, kontraktor kelas teri yang sehari-hari tinggal di Kota Cimahi, berhasil mendapatkan tender kelas kakap di Kabupaten Bandung. Setelah proyek berjalan seminggu, dia merasa sangat kecapean. Setiap hari dia harus menempuh 2 X 2,5 jam perjalanan dengan mobil pick up bututnya yang sudah loyo. Dia mengeluh badannya pegel dan kepalanya sakit. Setelah berhitung dengan cermat dan berdiskusi dengan istrinya, maka dia memutuskan mengontrak sebuah kamar sederhana yang lokasinya tidak jauh dari proyek yang sedang dikerjakannya.

Kamar yang dikontraknya terletak di tengah-tengah perkampungan yang sangat padat penduduk. Setiap hari ke proyek, dia pergi dan pulang berjalan kaki. Selama hampir dua minggu, setelah tersesat dan nyasar beberapa kali, akhirnya dia menemukan jalan terpendek dari kamar kontrakannya menuju lokasi proyek.

Dia tidak lagi melewati gang-gang lebar yang bisa di lalui motor, tapi dia melalui gang-gang kecil yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Jika dia berjalan melalui gang-gang yang lebar, waktu tempuhnya sekitar 20 menit berjalan kaki cepat. Tapi jika dia menempuh gang-gang kecil itu, dengan berjalan santai dapat ditempuh dengan waktu 10 menit.

Setiap pagi dan sore, dia dengan puluhan pejalan kaki lainnya melewati gang kecil itu hingga tiba di ujung gang yang besar. Dari gang besar itu lokasi proyeknya sudah terlihat, dia tinggal menyebrangi jalan kabupaten, sampailah dia di lokasi proyek.

Baru saja seminggu menjadi pelanggan gang-gang kecil itu, banyak kenalan yang dia dapat. Dari buruh pabrik sampai tukang es cendol. Suradi merasa gembira .

Hari itu Suradi bangun kesiangan. Semalam dia pulang larut karena kiriman barang telat dan dia juga harus menyelesaikan administrasinya. Dia berangkat dari rumah kontrakannya jam 10.

Saat melangkah di sepanjang gang kecil itu, dia merasa agak aneh karena suasananya yang lengang. Tak ada buruh pabrik yang berjalan tergesa, tukang es cendol yang santai mau pergi ke pasar, emak-emak yang berjalan sambil bergunjing… tidak ada. Sepanjang gang itu sepi.

Ketika Suradi melewati gang yang paling kecil, di teras sebuah rumah dia melihat ada seorang cewek sedang duduk sambil bermain HP. Dia duduk dengan ke dua kakinya naik ke atas kursi dan agak mengangkang. Kedua tangan cewek itu ada di atas pahanya. Kesepuluh jari jemarinya sedang asyik menari-nari di atas screen HP sambil senyam-senyum. Sebetulnya, dia mengenakan rok yang panjang, tapi entah bagaimana lapisan rok bagian atasnya hanya menutup 3 cm di bawah lututnya. Itu berarti 95% betisnya tak tertutup.

Suradi adalah lelaki normal. Usianya baru 38 tahun. Sejenak dia menghentikan langkah, melirik dengan ujung matanya, menikmati betis dan paha putih bersih yang mulus serta celana dalam berwarna kuning pias tanpa motif.

Di tengah-tengah pucuk celana dalam itu ada sebuah belahan sepanjang 3 atau 4 cm yang terlipat dan terselip. Dia melihat dengan jelas lipatan belahan itu basah, soalnya jarak dia dengan cewek itu paling jauh juga 2 meter.

Tiba-tiba Suradi melihat satu tangan cewek itu bergerak ke arah belahan celana dalamnya dan jarinya menggosok-gosoknya. Cewek itu mendadak sadar ternyata ada orang yang berjalan di gang depan rumahnya.

“Maaf. Permisi.” Kata Suradi.

Mata cewek itu melotot. Tapi Suradi merasa aneh, walau pun cewek itu melotot tapi kelihatannya tidak benar-benar marah.

“Om, ngintip ya.” Tuduhnya.

“Enggak.” Kata Suradi gugup. “Saya cuma tak sengaja ngelihat…”

“Wew!” Kata cewek itu sambil menjebikan bibirnya dan masuk ke dalam rumahnya.

Dua hari setelah kejadian itu, Suradi pulang agak malam, sekitar jam 9. Dia melewati rute yang sama dan ketika menemukan gang yang paling kecil itu, dari arah sebaliknya, dia melihat cewek itu sedang berciuman dengan seorang cowok yang kemungkinan besar adalah pacarnya.

Suradi merandek. Dia melihat cowok itu selain menciumi mulut cewek itu dia juga mengoles-oleh belahan celana dalam si cewek dengan asyiknya.

“Udah ah.” Kata si cewek.

“Ah terus ah.” Kata si cowok.

“kalau terus digituin, neneng ga kuat aa.”

“Ga kuat pengen ya.”

Si cewek yang bernama Neneng itu menjebikan mulutnya.

“Sok tahu ah.” Katanya.

“Ke belakang yuk?” Ajak si Cowok.

“Mau ngapain?”

“Nih pegang kontol aa udah ngaceng, memek neneng juga udah basah… yuk ke belakang.”

Si Neneng tidak menjawab. Tapi Suradi melihat mereka berjalan dengan hati-hati ke gang di sebelah rumahnya yang sempit dan gelap.

Keesokan harinya, Suradi berangkat agak siang. Ketika melewati gang kecil itu, dia melihat Neneng sedang duduk sambil bermain HP.

“Permisi.” Katanya. Tapi Neneng tidak menjawab. Setelah melangkah beberapa meter, tiba-tiba cewek itu memanggilnya.

“Eh, Om, sebentar.” Katanya. Suradi menghentikan langkahnya.

“Ada apa, ya?”

“Om, punya internet ga? tetringin sebentar aja. Kuota Neneng habis.” Katanya.

“Kebetulan, kuota Om juga habis. Ini mau cari pulsa ke depan.”

“Jangan ke depan Om jauh, di belakang juga ada yang jualan pulsa.” Kata Neneng, “Lewat sini Om, tapi Neneng juga dibeliin ya Om, yang 10 ribu aja.”

“Boleh. Kemana jalannya?”

Neneng kemudian menuntun Suradi menyusuri gang yang sangat sempit itu, ke luar dari gang sempit itu mereka memasuki halaman belakang sebuah rumah yang tak terawat. Dari situ ada gang sempit lain yang menuju gang besar yang bisa di lalui motor. Di gang besar itulah ada penjual pulsa.

Dia membeli pulsa untuk dirinya sendiri dan untuk Neneng, dia membelikan pulsa 20 ribu. Neneng melonjak gembira.

Mereka kembali melalui rute semula setelah pulsa berhasil masuk, ketika berada di halaman belakang rumah yang tak terawat itu, Suradi tak sengaja menginjak kerikil sehingga dia hampir terjatuh, tangannya gelagapan mencari pegangan. Tak sengaja dia meraih tangan Neneng dan berhasil menyeimbangkan diri.

“Maaf.”

“Ga pa pa, Om.”

“Terimakasih neneng yang cantik.”

Dipuji begitu, wajah Neneng yang putih menjadi kemerahan.

“Neneng yang harusnya makasih udah dibeliin pulsa.”

“Sama-sama deh kalo begitu.” Kata Suradi.

“Om mau pergi kerja ya?”

“I ya. Ini udah kesiangan.”

“Kerja di mana Om?”

“Di proyek di depan.”

“Om, udah punya istri belum?”

“Udah. Memang kenapa?”

“Mmm… enggak… Om kemarin ngintip neneng waktu main HP ya?”

“Enggak, kebetulan lewat aja.”

“Tapi ngeliatin celana dalam neneng kan?”

“I ya. Emang kenapa? Kan Om punya mata.”

“I ya tapi waktu itu mata Om kayak orang melotot?”

“Ah, masa?”

“Kirain Om marah.”

“Masa Om marah sih? Gemes malahan … eh.” Suradi kaget dengan apa yang dikatakannya secara spontan.

“Gemes? Maksudnya apa itu Om?”

“Enggak… maksudnya… maksudnya… ”

Melihat Suradi gugup, Neneng malah tertawa cekikikan.

“Udah deh Om ga pa pa. Neneng cuma becanda.”

Selama satu minggu, Suradi pergi ke beberapa kota untuk menemukan bahan baku terbaik dan termurah untuk pelaksanaan proyek tersebut. Meskipun deal sudah dilakukan sebelumnya melalui HP, namun Suradi punya kebiasaan untuk melakukan pengecekan secara langsung.

Setelah kembali ke kamar kontrakannya, Suradi melakukan aktivitasnya seperti biasa. Pergi pulang jalan kaki.

Sore itu, ketika dia pulang melewati gang kecil itu, Neneng ada di teras dengan mengenakan pakaian seragam putih abu.

“Kamu tuh kerjaannya minta pulsa melulu.” Suara seorang perempuan terdengar nyaring.

“Mamah… 10 ribu aja.”

“Ga ada!” Terdengar pintu dibanting. Neneng terduduk diam di teras ketika Suradi lewat persis di depannya. Suradi tersenyum.

“Eh, Om ke mana aja?”

“Ada. Cuma engga lewat sini.” Suradi berbohong.

“Om, minta pulsa dong.”

“Boleh. Berapa?”

“10 ribu aja.”

“Itu tadi ibumu ya?”

“I ya itu mamah.”

“Pulsanya transferin aja Om.”

“Om ga bisa nransfernya. Sama neneng aja nih.” Kata Suradi sambil memberikan HPnya.

“Eh, Om masuk dulu. Mau neneng bikinin kopi?”

“Jangan, ga usah.” Suradi masuk ke teras dan duduk di samping Neneng.

“Om pulsanya banyak banget. Boleh ya minta 20 ribu?”

“Jangankan 20 ribu, semuanya juga boleh.”

“Beneran?”

“Bener.”

“Serius?”

“Serius.”

“Ya, udah, kalau gitu 50 ribu aja ya? Ga pa pa kan Om?”

“Ga pa pa.” Kata Suradi, agak meringis.

“Om, kenapa meringis?”

“Ini, neng, Om dari tadi nahan pipis.”

“Ke kamar mandi aja, apa susahnya.”

“Wah, jangan, nanti ibumu gimana?”

“Mamah udah pergi kerja, barusan lewat jalan belakang.”

“Bapak?”

“Belum pulang, nanti jam 10 malem.”

Suradi memasuki rumah yang sederhana itu dan menemukan kamar mandinya yang terletak di belakang. Selesai kencing, dia keluar kamar mandi dan melihat Neneng masuk ke dalam rumah.

“Udah belum?”

“Udah, Om.” Kata Neneng. “Om waktu Om dulu bilang gemes itu maksudnya pengen nyolek ya? Jawab yang jujur ya Om.”

“Itu… maksudnya… bukan… tapi Om pengen…”

“Pengen apa?”

“Mmmm….”

“Om mau lihat lagi ga?”

Suradi terdiam.

Neneng tiba-tiba duduk di kursi sofa dan menyingkapkan roknya, dia lalu membuka lebar ke dua pahanya. Terlihat celana dalamnya yang putih.

“Lihat Om sini, yang deket.”

Suradi mendekat dan membungkuk.

“Gemes ga Om?”

Suradi mengangguk.

“Sekarang kalo udah gemes, pengen apa?”

“Pengen… pengen… ngejilatin. Boleh ga?”

“Engga boleh. Harus di kamar.” Kata Neneng terkikik.

Neneng pergi ke kamar diikuti Suradi. Dia melepaskan rok dan celana dalamnya sekaligus. Dia lalu berbaring di ranjang dan membentangkan ke dua pahanya.

Suradi tahu Neneng sudah tidak perawan. Tapi benda mungil di hadapannya memang lucu dan menggemaskan. Kedua jari jemari Suradi membekap buah pantat Neneng yang kenyal. Sambil berlutut, dia mendekatkan wajahnya ke arah benda mungil yang indah itu. Dengan kedua jempolnya, Suradi mencoba membeliakkan bibir-bibir itu agar terbuka lebih lebar.

Lubang yang sempit, klitoris yang genit mengintip, bibir-bibir labia minora yang kemerahan… Selalu membuat Suradi terpesona. Dia menatap semuanya itu dengan penuh kekaguman.

“Ini adalah memek remaja yang indah.” Katanya dalam hati.

Pelahan dia menjilatinya secara sistematis. Dari bawah dekat lubang pantat, menyisir ke pinggiran paha, terus naik ke pubis yang dijembuti bulu-bulu halus. Setelah itu dia menyisir bibir-bibir bagian luar sekelilingnya, lalu bagian dalam… clitoris yang sedang mengintip malu-malu itu dilahapnya dengan lembut, digoyang-goyangkan dengan lidahnya… lalu dia menjulurkan lidahnya, menyusupkannya ke dalam liang memek yang masih sempit itu.

Suradi tentu saja mendengar Neneng mengerang-erang seperti orang kesurupan. Tapi Suradi tidak peduli. Dia terus melakukan itu sampai Neneng merintih-rintih meminta kontolnya dimasukan.

“Om… kontol..Om.”

Kontol Suradi tentu saja sudah menegang dari tadi. Dia melepaskan pantalon hitam beserta celana dalamnya sekaligus. Dia memasukan kontolnya pelahan agar dapat menikmati denyar-denyar liang memek Neneng yang hangat.

Pelahan Suradi membenamkan seluruh batang kontolnya sampai habis. Menahannya sebentar. Kemudian menggenjot naik turun pelahan, lalu cepat, pelahan lagi… tahan dulu. Dia ingin merasakan denyutan-denyutan itu.

Dia menggenjotnya pelahan, lalu agak cepat, lalu cepat… Suradi bisa merasakan letupan itu. Ketika Neneng mengerang setengah menjerit dan tubuhnya gemeteran seperti orang terkena penyakit ayan.

Sebelum Suradi akhirnya meledakan spermanya di dalam memek Neneng, dia melakukan genjotan terakhir dengan kecepatan tinggi.

Ugh!!!!

Crot… crot… serrrr… serrr… serrrr

Selama 9 bulan mengerjakan proyek itu, entah berapa kali Suradi mengentot Neneng. Dia lupa. Tapi minimal 1 minggu 1 kali, kadang 2 atau 3 kali. Suradi merasa bersyukur Neneng tidak hamil karena dia selalu ngecrot di dalam.

Suradi tak pernah pelit jika Neneng meminta uang. Apalagi yang dimintanya tidak banyak, paling 500 ribu. Tapi dia pernah minta 1 juta, Suradi memberinya sambil tersenyum.

Beberapa bulan setelah proyek itu selesai dan kembali ke Cimahi, Suradi pernah merasa sangat kangen kepada Neneng. Dia pernah 1 kali datang ke rumah itu tapi ternyata Neneng sudah menikah dan pindah ke tempat lain.

Tapi Suradi tidak kecewa. Biasa saja. Petualangan lain akan selalu ada menunggunya.***

Bersambung

Bab 2

Suradi adalah seorang kontraktor kecil yang tinggal di Cimahi, sekarang usianya sudah menginjak 40. Istrinya lebih tua 5 tahun darinya dan mengajar di sebuah SMP Negeri yang terletak tidak jauh dari rumah. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Reyhan 17 tahun, yang bercita-cita ingin menjadi musisi. Reyhan sekarang duduk di kelas 11 sebuah SMA Swasta yang cukup ternama di Bandung.

Suradi dikenal oleh anak buahnya sebagai bos yang kalem dan tenang. Dia sangat loyal terhadap anak buahnya dan tidak pernah mengingkari janji, baik soal upah atau janji-janji kecil yang diucapkannya. Suradi tahu persis bagaimana mengatur dan mengelola anak buahnya, dengan pendekatan seperti bapak kepada anak-anaknya. Hal itu mungkin dikarenakan Suradi tahu benar bagaimana rasanya menjadi seorang kuli.

Suradi sendiri pernah mengakui bahwa dia meniti karirnya benar-benar dari bawah. Begitu lulus STM (Sekarang SMK) Tehnik Bangunan, dia langsung ikut bekerja bersama ayahnya menjadi kuli bangunan, untuk membantu meringankan biaya sekolah adik-adiknya. Bertahun-tahun jadi kuli, dia kemudian menjadi mandor dan berihtiar menjadi pemborong kecil-kecilan. Setelah menikah dengan Iis Sukaesih, Suradi mendirikan perusahaan sendiri. Dan rajin mengikuti berbagai tender, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah, swasta maupun BUMN. Bahkan dia juga menerima pekerjaan borongan dari perseorangan yang umumnya bernilai tidak pernah lebih dari 500 juta. Prinsip Suradi sederhana, apa pun pekerjaannya, kalau bisa dia kerjakan dan ada lebihnya, pasti digarap.

Suradi tidak pernah pilih-pilih pekerjaan.

Siang itu Suradi baru saja tiba dari Bandung bersama anak buah kesayangannya Ugi, ketika seorang laki-laki berkacamata tebal berusia sekitar 58 tahun, namanya Pak Joni, mendatangi kantornya dan memintanya melakukan renovasi rumah dengan nilai kontrak sebesar 100 juta. Tanpa ba bi bu lagi, Suradi menyanggupi dan langsung pergi ke lokasi untuk melakukan survey.

Pak Joni menginginkan rumahnya yang besar itu direnov menjadi rumah kost-kostan yang nyaman, baik untuk yang indekost maupun untuk dirinya sendiri.

Sambil berjalan pelahan mengelilingi dan meneliti rumah itu, Suradi mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan keinginan kliennya dengan serius dan penuh perhatian.

“Untuk saya dan istri, tidak perlu tempat yang luas. Cukup satu kamar tidur, ruang tamu yang kecil, ruang tengah sederhana untuk nonton TV, dapur yang luas yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan dan kamar mandi. Sisanya untuk kost-kostan semua.” Kata Pak Joni.

“Bagaimana kalau nanti anak-anak Pak Joni datang dan akan menginap, apakah…” Kalimat Suradi dipotong oleh Pak Joni.

“Tidak. Itu jangan dipikirkan. Mereka sudah bertebaran jauh, ada yang ke Papua, Kalimantan bahkan di Singapura. Mereka beberapa kali ke sini tapi selalu menginap di hotel.”

“Oh, begitu, Pak. Baiklah. Saya akan melakukan pembuatan partisi gypsum untuk pembentukan kamar-kamar dan pembuatan 2 kamar mandi tambahan. Bapak juga harus mengosongkan berbagai perabotan yang ada di sini… bisa kami lakukan dengan tambahan biaya sedikit. Sedangkan untuk perbaikan pagar dan perbaikan halaman samping menjadi tempat parkir motor, saya khawatir tidak masuk dalam kalkulasi 100 juta, mungkin ada tambahan sekitar 10 atau 15 juta. Besok saya akan datang lagi membawa peralatan gambar dan rincian biaya, kalau bapak setuju, lusa kita bisa tanda tangan kontrak biar masing-masing merasa nyaman. Bagaimana?” Kata Suradi.

“Setuju, itu bagus sekali. Kira-kira pengerjaannya berapa lama ya?”

“Paling lama 20 hari kerja, empat minggu. Saya punya 10 orang pegawai yang cakap dan berpengalaman, saya juga punya peralatan yang memadai. Dijamin hasilnya baik dan tepat waktu.” Kata Suradi dengan tegas dan meyakinkan.

“Uang mukanya?”

“25%, sisanya dibayar paling lambat 5 hari kerja setelah serah terima barang.”

“Oke.”

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Suradi bersama anakbuahnya, Ugi dan Tono, mendatangi rumah itu dengan membawa peralatan gambar dan meteran. Karena pintu rumah masih dikunci, mereka melakukan pengukuran pertama di halaman depan dan samping sambil menunggu penghuninya ke luar. Tiba-tiba, datang dari arah pintu gerbang seorang perempuan STW semok membawa kantung kresek yang menggembung. Dia memakai baju piyama ketat dan tipis, sehingga belahan pada pantatnya demikian jelas tercetak.

“Wah, bapak-bapak sudah pada datang. Maaf saya baru dari warung membeli kopi.” Katanya. “Saya bu Joni. Bapak belum bangun ya?”

“Mungkin belum, Bu. Tadi saya ketuk-ketuk, tapi pintu enggak ada yang buka. Jadi kami melakukan pengukuran di luar dahulu.” Kata Suradi. Dia menatap Bu Joni langsung ke matanya dan merasakan ada sesuatu yang nakal di sana.

“Saya ke dalam dulu, ya.”

“I ya,bu. Silakan.”

“Wuih!” Kata Tono, mandor senior yang sudah punya 2 cucu ini meleletkan lidahnya. “Busyet bener itu bodi.”

“Dia gak pake CD.” Kata Ugi. Sepasang matanya tampak masih nanar menyaksikan pemandangan yang baru saja lewat. Remaja 18 tahun yang sudah ikut dengan Suradi selama 2 tahun, semenjak lulus SMP itu, sepertinya terkesima.

“Sudah. Ayo kerja lagi.” Kata Suradi datar.

Sepanjang pagi hingga siang, Suradi sibuk membuat gambar denah di ruang tengah dengan wajah serius. Sementara Bu Joni bolak-balik melewati ruang tengah itu dan mencuri-curi pandang kepadanya. Suradi pura-pura tidak tahu.

Beberapa kali Bu Joni mendekati Suradi, dengan sangat dekat, untuk melihat gambar-gambar yang masih setengah jadi dan berkomentar memuji. Suradi sengaja menggoda STW itu dengan pura-pura tak sengaja menyentuh beberapa bagian sensitifnya. Bu Joni tampaknya menyukainya. Bahkan Bu Joni seperti sengaja menyentuhkan kedua nenen pepayanya untuk menyentuh-nyentuh pundak Suradi.

“Kalau bukan istri klien, pasti sudah kusikat saat ini juga.” Kata Suradi dalam hati.

Siangnya, gambar-gambar itu sudah selesai beserta perhitungan biayanya. Suradi mengajukan perubahan menjadi 115 juta. Pak Joni setuju.

“Baru melihat gambarnya saja istri saya sudah sedemikian senang, biasanya dia bersikap agak cemberut… tapi sekarang, lihatlah… dia mau sedikit berdandan dan sikapnya sangat riang.” Kata Pak Joni.

Suradi hanya tersenyum biasa saja.

Setelah kontrak ditandatangan, Suradi beserta anak buahnya langsung bekerja. Pada minggu pertama, mereka memprioritaskan pemenggalan ruangan untuk membentuk kamar tidur, ruang tengah dan ruang tamu mungil yang menghadap ke halaman belakang untuk tempat tinggal pasutri tersebut. Pada minggu ke dua dan ketiga, mereka membongkar garasi dan membuat partisi kamar-kamar sesuai dengan denah rencana.

Pada minggu ke 3 ketika semua rencana gambar telah berhasil diwujudkan, Pak Joni mengundangnya makan siang dan mengucapkan terimakasih atas pekerjaan Suradi yang efektif dan efisien. Dia sangat puas dengan hasil kerjanya.

“Kepppuasssan… itulah moto kami.” Kata Suradi. Dia mengerling sejenak ke arah Bu Joni yang sedang berdiri di belakang suaminya. Orang yang diberi kerlingan memberikan senyum seribu arti.

“Untuk pembayaran, kami sudah mempersiapkan sisanya sesuai dengan perjanjian. Begitu selesai, kami bayar. Hanya saja…” Pak Joni menghentikan kalimatnya.

“Hanya saja, apa pak?”

“Istri saya agak mengeluh mengenai penataan perabotan di sini… lihat, masih berantakan kan? Belum perabotan-perabotan di luar yang kelihatannya tidak bisa masuk lagi ke dalam tempat kami yang mengecil ini…”

“Tenang, Pak. Saya bisa atur. Saya akan suruh Ugi untuk membantu.” Kata Suradi.

“Kapan mulainya ya Pa?” Tanya Bu Joni, suaranya terdengar manja.

“Oh, secepatnya,Bu.” Jawab Suradi sambil tersenyum.

Sore itu, ketika anak buahnya membereskan peralatan kerja mereka, Suradi memanggil Ugi dan membawanya ke halaman belakang.

“Kita akan bantu bu Joni beres-beres.” Katanya.

“Siap, Bos.” Jawab Ugi, nadanya riang. “Bos kalau boleh tahu, kira-kira berapa ya umurnya Bu Joni?”

Suradi menatap Ugi dengan kening berkerut.

“Maaf, bos, jika pertanyaan saya lancang.” Ugi tampak rikuh.

“Umurnya mungkin sekitar 50-an…” Kata Suradi kalem, “tapi bodi dan semangat di dalamnya mungkin masih 30-an.”

“Ma maaf, bos, maksudnya apa?” Tanya Ugi bingung.

Suradi tersenyum.

“Ah, sudahlah. Saya akan ke dalam dan menemui bu Joni. Kamu di sini, ambil sampah-sampah yang berserakan ini dan kumpulkan bersama sampah lainnya, nanti suruh siapa saja yang mau untuk membuangnya.”

“Siap bos.”

Suradi mengetuk pintu paviliun belakang rumah itu yang sudah disulap penataan ruangannya menjadi seperti rumah type 21. Pak Joni membukakan pintu, dia memakai sarung dan kaos singlet. Badannya berkeringat.

“Sesuai janji, saya akan bantu melakukan pemberesan.” Kata Suradi, dia melihat wajah Pak Joni yang murung.

“Oh, iya iya.” Katanya. “Masuk, Pak. Tapi maaf ya jika istri saya bersikap kurang baik karena dia sedang uring-uringan.”

Bersambung

Bab 3

“Tidak apa.” Kata Suradi tersenyum. Suradi tidak tahu, beberapa menit sebelumnya, Pak Joni baru saja mengentot istrinya. Tapi Bu Joni tampaknya tidak puas sehingga dia uring-uringan.

Suradi memasuki ruangan dan melihat Bu Joni sedang merapikan susunan kaset VCD di ruang tengah.

“Bu, ini ada Pak Suradi.” Kata Pak Joni.

“Ya, tolong Pak perbaiki lemari di dapur masih belum pas letaknya.”

Suradi masuk ke dalam dapur dan merasa heran, lemari itu letaknya sudah pas. Tak ada yang perlu di lakukan lagi di sini. Sementara itu Pak Joni masuk ke dalam kamar tidur dan membiarkan pintunya terbuka, dia tiduran.

“Sebentar lagi bapak akan tertidur nyenyak.” bisik bu Joni yang ternyata mengikuti Suradi ke dapur. Dia meraih tangan Suradi dan membawanya ke selangkangannya, menggesekkannya. Bu Joni mengenakan baju gamis panjang rumahan yang biasa dipakai sehari-hari. “Tapi tidak lama. Paling 30 menit.” katanya masih dengan berbisik.

Wajah Suradi tampak tegang. Tangannya yang telah berpengalaman itu menolak diajari lagi oleh tangan Bu Joni yang menggesek-gesekannya ke belahan memek dari luar kain.

“Apakah dia sudah tidur?” Bisik Suradi. Dia melepaskan tangannya dan memeluk Bu Joni dari belakang. Kedua tangannya merambahi perut dan kemudian meremas ke dua susu Bu Joni yang besar dan lembek.

“Mungkinhkh…” Jawab Bu Joni sambil mengeluh ketika mulut Suradi menciumi daun telinga dan tengkuknya.

Tiba-tiba terdengar suara dengkuran Pak Joni yang sangat keras dari dalam kamar.

Suradi segera berjongkok dan menyingkap gamis Bu Joni. Suradi masuk ke dalamnya dari belakang dan menemukan pantat semok itu tanpa celana dalam. Ke dua tangannya merayap di pinggiran pinggang yang sudah menggelambir itu, merabainya dan mencari-cari pangkal pahanya. Sementara mulutnya menciumi buah pantat Bu Joni.

“Masih lumayan.” Batin Suradi.

Suradi merasa berada di dalam kurungan kain gamis Bu Joni pemandangannya samar bahkan agak gelap. Kedua tangannya sudah menemukan memek Bu Joni tapi kurang leluasa untuk melakukan gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan kenikmatan.

Suradi ke luar dari dalam gamis dan berdiri. Dia melihat wajah Bu Joni tampak merah. Mungkin karena nafsu berahinya sudah memuncak. Dia membalikkan badan Bu Joni dan menciumi bibirnya dan mengulum lidahnya sebentar. Dia berjongkok lagi dan masuk ke dalam gamis Bu Joni untuk menemukan susu sebesar buah pepaya. Menggampar-gamparkan pipinya pada nenen yang lembut itu dan melumat-lumat putingnya dengan mulutnya.

Suradi kemudian menurunkan kepalanya dan mengemuti perut dan kedua pangkal paha Bu Joni. Setelah itu barulah dia menjilati bibir-bibir Memek bu Joni dengan lidahnya. Suradi mengajari itil Bu Joni bagaimana lidah bisa membuat sang itil berdenyar dan merasakan sensasi nikmat yang sulit diucapkan, tetapi bisa didesahkan.

“Aghkhkh… aghkh… ”

Ke luar dari kurungan gamis, Suradi mendorong tubuh Bu Joni yang tampak seperti tak berdaya itu ke kursi meja makan, mendudukkannya. Secara otomatis Bu Joni duduk menyandar, dia menyingkapkan gamisnya dan membuka ke dua pahanya dengan sangat lebar. Sekarang barulah terlihat memek bu Joni berdenyut-denyut, tak sabar untuk dicoblos.

Suradi melepaskan pantalon sekaligus celana dalamnya, dia menyorongkan kontol ke mulut Bu Joni untuk diemut. Tapi kelihatannya Bu Joni kurang pengalaman sehingga kulumannya kurang enak menurut Suradi. Dia segera melepaskam kontolnya dari kuluman mulut Bu Joni.

“Boleh saya masukan sekarang, bu?”

Mulut Bu Joni tersenyum seperti nyengir, matanya menatap Suradi dengan nanar. Lalu kepalanya mengangguk.

Clep.

Suradi memasukan kontolnya ke dalam memek Bu Joni, dengan lutut agak ditekuk, dia mengentot memek itu dengan penuh semangat. Menggenjot sekuatnya dan membiarkan Bu Joni menikmati hujaman demi hujaman batang kontolnya.

Bu Joni merintih-rintih.

“Adddduuuhhhh…. saya… mau ke luarhkh…” Rintihnya.

“Sekarang?” Tanya Suradi, wajahnya agak kecewa. Bu Joni mengangguk.

“Kalau begitu, yuk kita ke luar sama-sama. Boleh ngecrot di dalem?” Tanya Suradi. Bu Joni sekali lagi mengangguk.

Suradi melakukan genjotannya yang terakhir dengan kekuatan penuh, sebelum akhinya mereka ke luar bersama-sama. Setelah ngecrot, Suradi membiarkan kontolnya terbenam di dalam memek Bu Joni selama beberapa saat, kemudian dia mencabutnya dan mengenakan kembali pantalonnya.

Bu Joni menurunkan gamis dalam keadaan masih duduk bersandar. Kedua tangannya tampak jatuh di pinggiran kursi. Dia tersenyum kepada Suradi.

“Makasih ya, Pak. Saya enak banget.” Katanya.

“Sama-sama, Bu.”

“Kapan-kapan boleh minta lagi gak Pa?”

“Selagi saya di sini, tentu boleh.” Kata Suradi sambil tersenyum, walau pun dalam hati dia membatin masih kurang puas.

Ketika mereka berbincang, terdengar Pak Joni terbatuk-batuk.

“Bapak sudah bangun.” Bisik Bu Joni.

“Baik.” Kata Suradi, pelan. “Saya akan ke ruang tengah memperbaiki dudukan panel LCD.”

Dudukan panel LCD TV itu sebenarnya sudah baik, Suradi hanya memperkuat baut-bautnya saja. Dia mendorong bufet rak CD agar lebih merapat ke dinding. Pada saat itu, tiba-tiba saja Pak Joni sudah berada di depan punggungnya.

“Maafkan tadi saya tertidur.” Katanya. Suradi membalikkan badan, wajahnya yang ramah itu tersenyum.

“Tidak apa-apa, Pak.” kata Suradi dengan nada yang tenang. Pada saat itu Ugi berteriak dari luar.

“Bos, sudah selesai.”

“Ya.” Jawab Suradi. Dia berdiri dan berkata kepada Pak Joni. “Beberapa perabotan di luar itu harus dibereskan, tapi tempatnya sudah tidak ada lagi di ruangan ini. Pak Joni punya rencana?”

“Saya ingin menjualnya, tapi mungkin tidak akan laku dengan cepat. Sedangkan istri saya ingin semuanya rapih kembali secepatnya. Bagaimana ya?” Kata Pak Joni.

“Dijual juga harganya mungkin tak seberapa.” Kata Suradi.

“Bu, bu, sini sebentar.” Pak Joni memanggil istrinya. Bu Joni datang dari arah dapur dengan wajah berseri-seri. Pak Joni heran. “Gimana ini perabotan-perabotan yang gak kepakai di luar?”

“Udah kasiin aja ke Pak Suradi, terserah dia mau dibuang atau mau diapain juga.” Kata Bu Joni.

“Nah, bagaimana menurut Pak Suradi?” Tanya Pak Joni.

“Saya mungkin akan membongkarnya dan membuangnya, Pak. Semua perabotan itu sudah tua.” Kata Suradi sambil memperhatikan koleksi kaset VCD yang menumpuk dan belum sempat disusun oleh Bu Joni.

“Ngomong-ngomong, ini koleksi film bluenya banyak juga ya.” Kata Suradi.

“Yaaa… begitulah, Pak. Saya menontonnya agar bisa bergairah.” Jawab Pak Joni. Suradi mengangguk-angguk.

“Bos, di luar sudah bersih.” Kata Ugi yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.

“Semua sampah di depan sudah dibuang?”

“Sudah, bos.”

“Panggil si Maman dan Ujang. Angkut semua perabotan yang tak terpakai itu ke mobil pick up yang biru, terus bawa ke belakang kantor.”

“Siap, bos.”

Memasuki minggu ke 4, fase finishing dimulai.

Pada fase finishing inilah mereka sering bekerja lembur sampai larut malam. Namun bagi Suradi fase ini dia lebih banyak santainya, karena semua pekerjaan dia tidak perlu lagi turut campur. Dia hanya menunggu hasil. Oleh sebab itu dia sering datang sore hari karena sesiangnya sibuk mencari orderan. Itu pun kerjanya cuma duduk-duduk saja.

“Pak Suradi ke mana saja?” Tanya Bu Joni tiba-tiba. “Koq siang enggak pernah muncul?”

“Saya ikut tender di Bandung, Bu.” Kata Suradi datar.

“Sudah 2 hari lo Pak. Boleh minta sekaliiii lagi aja.” kata Bu Joni dengan suara pelahan, namun dengan harapan keras di wajahnya.

“Tentu, Bu. Sekarang?”

Bu Joni mengangguk.

“Di mana?”

“Di kamar kost belakang yang sudah selesai, saya sudah siapkan kasur busa.”

“Bapak gimana?” Tanya Suradi.

“Saya udah kasih obat tidur, mungkin sekarang obat tidurnya sudah bekerja.”

“Baiklah.” Kata Suradi.

Bu Joni berbalik, dia melangkah dengan cepat menuju paviliun belakang dan melihat Pak Joni sudah tertidur pulas. Dia ke luar dan menutupkan pintu, dia memperhatikan semua anak buah Suradi tidak ada yang sedang bekerja di halaman belakang, lalu memasuki kamar kost itu dan menutupkan pintunya.

Suradi tengah berbaring dengan kedua tangannya sebagai bantal ketika Bu Joni masuk memakai daster terusan. Tanpa banyak basa-basi Bu Joni langsung melepaskan ikat pinggang dan kancing celana pantalon Suradi, menariknya sekaligus dengan celana dalamnya dan melemparkannya ke pojokan.

Dia langsung menerkam kontol Suradi dan mengemut serta mengulumnya.

“Ahhkh… ” Suradi mendesah pelan. “Kali ini, tehniknya lebih baik.” Kata Suradi dalam hati. Setelah beberapa saat, batang kontol Suradi pun menegang.

“Maaf ya Pak, kontolnya langsung saya tunggangi.” Kata Bu Joni. “Soalnya, memeknya udah gak kuat pengen langsung ngewe.”

“Tidak apa-apa, Bu. Masukin aja ke dalam memek ibu.”

Bu Joni menarik dasternya melalui kepalanya lalu melemparkannya. Dia mengangkangi kontol Suradi yang sudah ngaceng. Memasukkannya ke dalam liang memeknya, menekan pinggulnya ke bawah sampai seluruh batang kontol Suradi masuk ke dalam mulut memeknya.

“Addduuuhhh…. enak sekali kontolnya, Pak.” Kata Bu Joni sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Suradi tersenyum.

“Ayo, Bu. Goyangnya yang semangat.” Kata Suradi sambil mempermainkan ke dua nenen Bu Joni dengan tangannya.

Bu Joni terus menggoyang-goyangkan pantatnya selama beberapa menit. Kadang Bu Joni mengangkat pinggulnya naik turun, kadang menekannya maju mundur, kadang dia juga meliuk-liukkannya dengan arah berputar. Sehingga keringat pun bercucuran di dahi dan punggungnya. Nafasnya tersengal-sengal. Akhirnya dia menghentikan gerakannya dan duduk diam di atasnya. Dia menarik nafas panjang.

“Capek ya?”

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED