"Seka, Ibu tahu kamu akan datang kemari!"
Senia Ayu, ibu dari Seka hanya bisa membatin seperti itu. Dia memang sudah sangat yakin anaknya akan kemari. Tanpa berkata apapun lagi, Seka lepaskan ikatan ibunya dengan mudah. Lalu berusaha membawa kabur ibunya. Tapi tidak ada jalan keluarnya disini. Anak buah Juragan Gurame menutupnya langsung dengan galian tanah. Hanya ada satu lubang ventilasi yang dilewati Seka tadi.
"Tapi lewat jalan mana nak?"
Seka diam sambil mengamati dinding tempat ibunya berada. Dia baru sadar kalau bangunan ini sepenuhnya terbuat dari tanah. Dia memusatkan pikirannya untuk bisa menggali tanah dengan cepat.
"Ah, kamu buat terowongan dari sini ya!"
Terus saja dia menggali tiada henti. Jari-jarinya bagikan Tikus Mondok yang bisa membuat terowongan dalam tanah. Semakin lama sudah jauh saja terowongan buatan Seka. Senia Ayu cukup mengikuti anaknya itu dari belakang. Hingga mereka berdua berhasil keluar.
"Dapat!"
"Arrgh! Lepaskan aku! Ramen?"
"Maaf Seka aku belum sempat memberitahumu. A-aku juga tertangkap oleh mereka!"
Anak buah Juragan Gurame itu tertawa kencang. Mereka mengikuti instruksi sang juragan. Ternyata benar jika Seka akan kemari bersama Ramen. Kini ketiganya tertangkap oleh para anak buah Juragan Gurame. Terdengar suara tepuk tangan dari balik orang-orang itu.
"Wah, aku pikir sehebat apa Seka itu ya! Ternyata masih mudah ditangkap oleh anak buahku juga."
Kemenangan ada di pihak Juragan Gurame. Dia bisa bawa ketiganya ke dalam rumah. Juragan Gurame sudah lama merencanakan untuk menangkap Seka dengan pancingan ibunya. Sebab santer terdengar jika anak ini selalu mampu untuk meloloskan diri.
"Kamu berharga bagiku, Seka. Mungkin temanmu itu ku buang saja. Siapa yang mau pelihara anak jalanan dekil seperti dia?"
"Hei, biarpun kulitku hitam tapi aku selalu mandi tiap hari!"
"Hahaha…iya mandi air got!"
Ramen memang berkulit gelap dengan rambutnya yang ikal. Hanya giginya saja yang putih. Tetapi dia sama istimewanya dengan Seka. Hanya tak banyak yang tahu tentang dirinya.
"Errgh! Jadi, ini bukan karena Ibu berhutang padanya?"
"Oh, tentu saja soal itu juga! Tapi kita semua di daerah Cadas tahu kalau Senia Ayu tak akan pernah mampu untuk bayar hutangnya."
"Seka, maafkan Ibu nak…."
"Jadi, aku minta penawaran lain dan dia setuju aku mengambilmu. Hehehe…."
"Ibu mau menjual ku pada juragan ini? KETERLALUAN!"
Senia Ayu hanya menunduk saja. Sebab dia juga tak mampu berbuat apapun untuk melunasi hutang-hutangnya pada Juragan Gurame. Kebetulan juragan satu ini pernah mendengar kelebihan Seka yang mampu lolos dari apapun. Dia ingin mempertontonkan anak ini semacam sirkus untuk mendapatkan uang. Dalam situasi ini, Ramen gunakan kemampuannya.
"Hei, kemana anak hitam dekil tadi?"
"Disini tuan-tuan berbadan kekar!"
Anak buah Juragan Gurame itu sontak berteriak-teriak. Mereka geli melihat tubuh Ramen yang sudah berbentuk seperti mi. Mengikat kedua kaki salah satu anak buah Juragan Gurame itu. Kepanikan pun terjadi dan mereka berlarian tak karuan. Melepaskan Seka dan Ibunya begitu saja.
"Astaga, kalian takut dengan anak kecil! Eh, makhluk apa itu?"
Sebelum ketahuan oleh Seka dan ibunya. Ramen sudah memadatkan kembali badannya. Kini ketiganya sudah bebas karena para anak buah Juragan Gurame kocar-kacir lari entah kemana.
"Ayo, kita lari dulu!"
"Eh, tapi kenapa itu juragan sampe ngompol begitu?"
"Ah, sudah tidak usah kamu pikirkan! Penting kita kabur dari sini."
Ketiganya dengan mudah keluar dari area Juragan Gurame. Meninggalkan si juragan yang ngompol sambil kakinya gemetaran. Karena melihat bentuk fisik Ramen yang aneh tadi. Malam ini pun Seka dan ibunya bisa kembali pulang. Berpisah dengan Ramen di pertigaan jalan.
"Ibu sungguh tega mau menjual ku ke juragan itu!"
"Ibu tidak ada niat begitu nak!"
"Tadi kata juragan itu…."
"Kamu percaya dengan perkataannya?"
Senia Ayu dulunya adalah bangsa peri. Tak mungkin dia bisa berbohong. Sekedar menghindar pun masih bisa. Seperti meminjam uang lalu tak pernah mau mengatakan kapan bisa mengembalikannya. Tetapi mulutnya akan sulit sekali untuk diajak berbohong. Sekalipun kini dia sudah bukan peri seutuhnya. Karena telah menikah dengan Ayah Seka yang manusia. Dirinya jadi setengah peri. Menyisakan sedikit kekuatan saja.
"Juragan itu memaksa Ibu untuk menyerahkan mu."
"Karena tahu aku punya kemampuan aneh itu. Tapi ini semua berawal dari Ibu yang berhutang padanya kan?"
Hanya diam, itu yang Senia Ayu lakukan saat ini. Seka menatapnya tajam dan berharap Ibunya akan berkata "Ya".
"Ibu pikir dia hanya meminta pelunasan yang biasa saja, Seka."
"Apa cerita tentang Juragan Gurame yang hobi menyimpan banyak perempuan itu tidak sampai ke telinga Ibu?"
Perempuan macam Senia Ayu itu terlalu polos. Dia tak bisa membedakan mana yang ada niat jahat dan bukan. Padahal sudah banyak yang tahu jika juragan itu sengaja menyediakan dirinya sebagai tempat berhutang. Bila yang tidak mampu melunasinya adalah laki-laki, maka akan dijadikan budak. Tetapi bila yang tidak mampu adalah perempuan apalagi kalau bukan dijadikan istrinya.
"Ini yang terakhir kalinya ibu berhutang padanya. Jangan sampai dia tahu rumah kita."
"Kamu tidak kerja di rumah makan untuk cuci piring nak?"
"Tidak! Karena aku memilih untuk menyelamatkan Ibu daripada kerja disana."
Mau kesalnya seperti apa Seka pada Ibunya. Dia masih memiliki rasa sayang pada Senia Ayu. Sekalipun tak pernah ditunjukkan dan hanya wajah murungnya saja. Ibu Seka membelai kepalanya lembut. Bahagia bisa memiliki anak sepertinya. Meski jauh dalam hatinya dia sedih jika suatu saat Seka harus pergi meninggalkannya.
"Oh, Seka jangan tinggalkan Ibu ya!"
Padahal sudah lama Seka hendak meninggalkan ibunya. Dia kesal dengan kehidupannya saat ini. Senia Ayu tak ada usaha sama sekali untuk mendapatkan uang. Dia bahkan tinggal jauh dari pemukiman padat penduduk. Di sebuah goa kecil yang diberi teras ala kadarnya dengan selembar terpal plastik. Disekitarnya terdapat beberapa tanaman yang kadang bisa dimanfaatkan oleh keduanya untuk makan. Termasuk jamur serta tanaman sayuran lainnya yang tumbuh liar.
"Kalau ayah ada, kita tidak akan hidup seperti ini."
"Ayahmu sudah lama pergi untuk semua orang yang tinggal di Nussa Antara. Tapi Ibu yakin ayahmu masih hidup!"
Senia mulai menyalakan api untuk memasak. Ada tetangganya yang meletakkan bahan mentah untuk mereka masak. Sering keduanya dapat bantuan dari siapapun.
"Ayahmu adalah seorang pahlawan, Seka!"
"Ya, tapi Ramen tadi bilang toh tidak ada yang anggap kita ini ada. Untuk apa Ayah jadi pahlawan kalau kita hidup susah seperti ini?
"Kalau menurutmu kita ini hidup susah. Lalu apa yang mau Ibu masak ini?"
Seka melirik sedikit ke bahan mentah yang hendak dimasak ibunya. Anak itu akhirnya sadar kalau dia dan ibunya masih bisa hidup karena ada yang memberinya. Bukan semata karena dia bekerja. Meski tentu saja pemberian itu tidak setiap hari.
"Tapi aku tetap mau mencari Ayah!"
Senia Ayu melihat sorot tajam pada mata anaknya. Itu sama seperti yang dimiliki oleh Ayah Seka. Perempuan ini hanya tersenyum saja.
"Apa Ayah tidak meninggalkan petunjuk apapun?"
"Kenapa kamu begitu ingin mencari ayahmu?"
"Karena aku yakin kalau ayah ada, hidup kita jadi lebih baik."
Ayah Seka menghilang begitu saja. Ibunya juga tidak tahu kemana perginya. Hanya meninggalkan satu stel bajunya yang masih ada disini. Satu-satunya kenangan yang tersisa. Bahkan baju itu dipakai oleh Seka sebagai alas kepalanya saat tidur.
Daerah Cadas adalah tempat dimana orang terlalu sibuk. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya mencari uang. Tak pernah percaya dengan adanya keajaiban. Apalagi hal yang berhubungan dengan dunia fantasi. Semuanya selalu bisa dipikirkan secara logis.
Tempat itu juga dipenuhi oleh manusia yang serakah. Mengambil banyak hasil alam. Hingga membuat area ini menjadi gersang. Nyaris tak ada tanaman yang membuat sejuk. Namun manusianya tetap cuek. Mereka berpendapat bahwa semuanya bisa diatasi dengan pendingin ruangan. Serta teknologi lainnya hasil temuan para ilmuwan.
"Koran, Pak?"
"Berapa, Dik?"
"Satu perak saja, Pak!"
Salah satu pengemudi mobil memberikan uang koin perak pada Seka setelah diberikan korannya. Kemudian dengan cepat jendelanya dia tutup lagi. Tak ingin hidungnya tersiksa akibat udara kotor dari asap kendaraan. Berlindung dibalik sejuknya AC dalam mobilnya. Sesuatu hal yang tak pernah dinikmati oleh Seka.
"Seka, lihat aku diberi koin emas sama pengendara mobil yang itu!"
Ramen menunjukkan satu koin emas yang dia peroleh. Serta mobil mana yang tadi memberinya. Dia begitu bangga padahal belum sempat membersihkan kaca mobilnya.
"Biasanya hanya beri satu perak saja."
"Simpan saja dulu, Ramen! Nanti preman berambut sapu lidi itu datang dan ambil uang ini."
"Eh, iya juga ya!"
Buru-buru Ramen memasukkan uang tadi ke dalam kantongnya. Dia berniat mentraktir Seka ikan bakar. Daerah Cadas memang terkenal juga dengan olahan ikan bakarnya yang khas. Bisa dibeli satuan dan cukup satu uang koin emas tadi untuk membeli dua ikan bakar.
"Kapan lagi kita makan ikan bakar, Seka!"
Koran yang dijual Seka hari ini juga habis. Artinya nanti malam dia tak perlu kerja cuci piring di rumah makan seperti biasanya. Dia bisa bersantai menyantap ikan bakar yang dibeli oleh Ramen untuknya.
"Enak kan, Seka?"
"Ya, meski ini ikan yang banyak durinya. Tapi bumbunya enak!"
Ikan bakar sudah jadi makanan mewah bagi keduanya. Ramen memang begitu orangnya. Dia tak mau senang sendirian. Selalu dibagikan pada Seka. Namun saat perjalanan pulang, mereka melihat jejak kaki yang tak biasa. Ukurannya begitu besar.
"Eh, jejak kaki siapa ini?"
"Besar sekali ya, Seka! Tapi sepertinya ini mengarah ke rumahmu."
Seka jadi teringat dengan ibunya. Spontan dia gandeng tangan Ramen. Padahal anak jalanan ini tak pernah mau sebelumnya diajak ke rumahnya. Tapi karena dipaksa dia jadi mau juga. Benar saja jejaknya makin lama mengarah ke rumah goa yang ditinggali Seka dan ibunya.
"Ibuuu…!"
"Apa ibumu meninggalkan rumah dengan api menyala seperti ini?"
Nampak api dari kayu bakar yang biasa dipakai ibunya memasak itu masih menyala. Ramen mencoba mencari air dan dia temukan dari ember yang sudah rusak bagian pinggirnya. Disiramkannya tepat pada api yang menyala.
"Bahaya kalau dibiarkan bisa kebakaran juga."
"Ibuku pasti berurusan dengan para pemberi hutang itu lagi!"
Seka kesal sambil berkacak pinggang. Sementara Ramen berusaha menjauhi bekas bakaran tungku kayu tadi. Sesekali dia terbatuk karena asap dari bakaran apinya masih tersisa. Langkahnya mendekat pada Seka lalu memegang lengan anak itu kuat. Membisiki sesuatu pada temannya yang selalu murung.
"Seka, aku tahu rahasia tentang daerah Cadas yang tidak semua orang tahu."
"Iya, katakan saja itu!"
"Ibumu pasti dibawa oleh para raksasa itu."
Seka tak paham dengan perkataan Ramen. Berpikir apakah temannya itu sedang menceritakan kisah dongeng? Nyatanya raksasa itu ada!
"Hei, kamu saja selalu bercerita soal kekuatan aneh dalam dirimu. Apalagi para raksasa. Jelas mereka nyata, Seka!"
"Ibuku punya hutang dengan para raksasa?"
"Bukan! Mereka pasti punya tujuan lain membawa ibumu. Ayo, kita harus segera menyelamatkannya!"
Ramen tahu dimana para raksasa tinggal. Dia yang menjadi petunjuk bagi Seka untuk pergi kesana. Anak berambut ikal itu sudah bisa menduga berdasarkan jejak kaki yang tak biasa ukurannya. Teramat besar bagi manusia.
"Aku curiga kalau dia tahu juga kekuatan aslimu, Seka."
"Seberapa menyeramkannya sih?"
"Sangat menyeramkan tapi nanti kuberitahu siapa nama aslinya. Biarkan aku cerita dulu ya!"
Ramen bercerita banyak tentang Daerah Cadas ini. Semuanya terjadi karena kendali dari satu raksasa berjulukan Raksasa Kerdil. Dia mampu mengendalikan serta membaca pikiran orang. Karena dia juga yang membuat orang-orang disini hanya sibuk mencari uang. Tanpa pernah tahu jika diluar sana banyak keajaiban.
"Termasuk makhluk lain dan juga yaah aku tidak bisa cerita semuanya."
"Apa dia bisa tahu obrolan kita ini?"
"Bisa saja, Seka! Tapi aku juga tidak terlalu yakin dia bisa lakukan itu."
"Artinya kita selama ini hidup dalam kurungan tak terlihat buatannya?"
"Benar, kamu memang anak yang cerdas Seka! Lihat saja setiap hari orang dewasa pergi bekerja lalu baru pulang saat sore atau malam tiba. Begitu saja setiap hari kecuali hari libur sih!"
"Iya, orang-orang dewasa seperti boneka saja!"
"Kalau menurutku sih seperti robot, Seka."
"Apa itu robot?"
"Ee, semacam mesin untuk digunakan memudahkan aduh apa ya intinya pekerjaan manusia jadi lebih mudah dengan adanya itu. Mereka hanya bekerja pada satu perintah saja tanpa ada rasa lelah apalagi bosan. Paling hanya berhenti di waktu tertentu supaya mesinnya tidak kepanasan."
Seka mengangguk saja meski dia masih tak begitu paham. Ramen kembali bercerita tentang si Raksasa Kerdil. Untuk apa dia berada disini serta mengendalikan manusia yang ada.
"Dulu dia sangat sakti, Seka. Tapi katanya ada yang berhasil mengalahkan dan kesaktiannya diambil. Itulah kenapa dia jadi lemah dan bersembunyi didaerah ini."
"Tapi dia kan raksasa, Ramen. Mau lemah pun tetap saja lebih besar dari kita. Belum lagi dia mampu mengendalikan dan…."
"Tidak tidak tidak! Tadinya dia sungguhan tak punya kesaktian lagi. Tapi ada yang cerita padaku kalau dia bisa seperti sekarang karena memakan seorang anak yang punya kemampuan membaca serta mengendalikan pikiran."
"Apa ini pancingan lagi buatku ya?"
"Bisa jadi begitu, Seka! Mungkin dia mau memakanmu supaya bertambah lagi kesaktiannya."
Seka tidak menunjukkan ekspresi wajah takut sama sekali. Padahal Ramen sudah bercerita dengan penuh totalitas biar seram.
"Kamu tidak takut menghadapinya, Seka?"
"Takut? Setiap hari aku selalu menghadapi ketakutan itu. Kamu kan tahu sendiri sebagai anak jalanan banyak bahaya yang mengintai."
"Iya juga ya! Eh, itu dia markas si Raksasa Kerdil ada disana. Sebenarnya aneh ya namanya begitu. Padahal badannya sama seperti raksasa pada umumnya!"
Kedua anak ini berjalan biasa saja mendekati gerbang bercat merah bata. Mencoba untuk mencari tahu bagaimana cara masuk ke dalamnya.
"Eh, iya tadi belum kuberitahu ya kalau nama asli Raksasa Kerdil itu adalah Kera."
"Sst…simpan ceritamu nanti, Ramen! Kita harus memanjat ini diam-diam lalu masuk ke dalam."
Seka menemukan beberapa celah di bebatuan penyusun dinding bangunan besar ini. Dia gunakan sebagai pijakan kakinya untuk bisa terus naik dan masuk ke dalam. Ramen mengikutinya dari belakang. Namun saat keduanya sudah berhasil sampai didalam ternyata sudah disambut oleh para raksasa.
"Anak kecil sok berani! Kita injak saja sudah habis disini."
"Jangan! Biarkan saja dia berhadapan dengan pimpinan kita."
"Hei, kenapa kalian diam! Tidak berani ya menghadapi anak kecil?"
"Sombong sekali dia ingin kuinjak saja!"
"Sst…tenanglah! Biarkan aku yang bicara padanya."
Kedatangan Seka rupanya sudah ditunggu oleh pimpinan mereka. Salah satu raksasa mau mengantarnya. Tapi anak laki-laki ini berpikir kalau dia akan dijebak. Sebelum Seka mengeluarkan kekuatannya, Ramen sudah memegang lengannya.
"Jangan disini, Seka! Aku rasa pertarungannya nanti. Kita turuti saja perkataan mereka."
"Baik, aku akan turuti. Tapi jangan coba menipuku ya!"
"Kami ini lebih takut oleh pimpinan. Semua ini atas perintah darinya! Apa pentingnya kami menipumu?"
Raksasa yang lain sudah tertawa mendengar ancaman dari Seka. Mereka meremehkan kekuatan anak kecil satu ini. Sekalipun badannya kecil, bisa saja satu markas ini habis oleh kekuatan Seka.