Bab 1

Aku dan Mas Rian baru saja menikah tiga bulan lalu. Seperti pengantin baru pada umumnya, kami pasangan yang sangat bahagia. Apalagi kami juga baru saja berbulan madu. Setelah beberapa bulan lalu terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Mas Rian bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar. Sedangkan aku mempunyai sebuah usaha konveksi yang masih berkembang.

Kami berbulan madu di pulau Bali dengan menyewa hotel yang lumayan mewah. Meski Mas Rian harus merogoh kocek agak dalam, tetapi itu tak masalah demi bisa memiliki waktu berdua yang berkualitas.

Senja ini kami menghabiskan waktu di pantai Sanur. Kami duduk berdua beralaskan pasir putih. Kami saling bercerita, sesekali mengungkapkan rasa cinta yang menggema di dada.

"Kamu bahagia, Dek?" tanya Mas Rian sambil memandangku penuh cinta.

"Sangat. Mas sendiri?"

"Enggak bisa diungkapkan dengan kata-kata," sahutnya. "Terima kasih, ya, Dek. Terima kasih sudah melengkapi hidupku."

Mas Rian meraih jemariku dan menciumnya mesra. Angin sepoi seolah ikut merayakan kebahagiaan yang tercipta di antara kami. Diantara manusia-manusia yang sedang menghabiskan waktu di bibir pantai ini seolah kami berdualah yang paling bahagia.

Melihat matahari yang hendak kembali keperaduan, aku meminta Mas Rian mengambil potretku. Berbagai pose dengan berlatar belakang sunset pun diabadikan melalui ponsel pintar yang kami bawa. 

Tak terasa matahari telah usai melaksanakan tugasnya hari ini. Mas Rian mendekatiku kemudian mengajakku meninggalkan pantai.

"Udah mulai gelap, nih, Dek. Kita mau makan di kafe atau di hotel aja?" tawar Mas Rian saat aku melihat-lihat hasil jepretannya di ponselnya.

"Emmm. Kita makan di kafe aja deh, Mas. Mumpung kita liburan di Bali, jarang-jarang loh kita bisa liburan di sini," jawabku dengan sumringah.

"Iya juga, ya. Ya udah, ayo kita makan di kafe itu!" ajak Mas Rian sambil menunjuk kafe yang menjual makanan laut.

Setiba di kafe sana, aku memutuskan untuk makan makanan kesukaanku yaitu kepiting jumbo asam manis. Sedangkan Mas Rian memilih menu cumi udang tepung porsi besar. Kami makan dengan lahap di temani es kelapa muda yang segar.

Setelah kenyang kami memutuskan untuk kembali ke kamar hotel.

"Mas mau mandi nih, udah gerah," kata Mas Rian sambil mengambil handuk yang di gantung di balik pintu. 

"Iya, Mas. Kalau begitu kamu mandi duluan saja, ya!" jawabku sambil melepas hijabku.

"Kenapa kita nggak mandi berdua aja, Hil? Mas kangen nih mandi berdua dengan kamu," goda Mas Rian.

"Ah, Mas! Kan, kita sudah sering melakukannya di rumah. Hehe," balasku malu-malu.

"Ya udah. Kalau begitu, aku mandi duluan, ya?" Mas Rian mengeringkan matanya dengan manja kepadaku.

Aku kembali mengambil ponsel Mas Rian karena aku ingin mengirim foto-foto tadi ke ponselku. Muncul keinginanku untuk mengupload salah satu foto tadi. Selama ini Mas Rian jarang memasang foto kami berdua. Baik sewaktu masih pacaran dulu maupun sekarang kami telah menikah. Alasannya karena katanya kurang nyaman memamerkan hal-hal bersifat pribadi kepada publik.

Aku pun memasang fotoku sebagai status di WA Mas Rian. Kuberi judul, "kecantikanmu seperti indahnya senja di hari ini." Terkesan berlebihan memang, tetapi sekali-kali, kan, tidak apa-apa. 

Beberapa menit kemudian sebuah pesan muncul. Tertera nama Anita sebagai pengirimnya. Sepertinya Anita ini temannya Mas Rian. Karena sebelumnya Mas Rian pernah bercerita tentang Anita. 

Dengan penasaran kubuka pesan itu. Biasanya aku tak pernah mau membuka pesan dari teman Mas Rian karna menurutku itu privasi masing-masing tetapi entah mengapa hatiku tergerak untuk membuka pesan dari Anita. 

Kuusapkan jariku pada layar ponsel Mas Rian. Kubuka pesan dari Anita.

[Loh, ini yang namanya Hilda ya, Yan?]

[Iya, emang kenapa, Nit?] Aku membalas pesan dari Anita berpura-pura seolah Mas Rian yang membalas. 

Karena penasaran aku tak langsung menutup chat Anita. Aku malah menggeser chat Anita dan Mas Rian ke atas karena ingin tahu apa saja yang mereka bicarakan lewat WA.

Aku pun membaca satu persatu chat mereka dari awal. Dadaku dibuat panas oleh pesan-pesan yang Mas Rian kirim pada Anita. Mas Rian membahas usiaku yang terpaut beberapa tahun darinya. Malukan dia?

Ia juga membahas tentang uang yang ia berikan padaku. Bukankah memang seorang suami wajib menafkahi istrinya?

Lalu uang untuk kedua orang tuaku pun diungkit juga. Dadaku benar-benar terbakar membacanya. Apa maksudnya Mas Rian membahas semua ini pada Anita?

Sampai akhirnya mataku terpaku pada sebuah nama disebut Mas Rian dalam percakapan itu. Sekar. Hatiku benar-benar terbakar.

Benarkah? Benarkah Mas Rian telah menipuku?

Ponsel di tangan akhirnya terjatuh memecah keheningan kamar ini.

***

Bab 2

Ya Allah sesak dadaku, membaca pesan dari Mas Rian. Tega sekali dia seperti itu padaku. Aku bahkan sudah terlanjur mempercayainya selama ini. 

Sebenarnya aku dan Mas Rian memang sudah lama kenal karena kami dulu teman satu kampus di salah satu kampus swasta dan satu jurusan juga tetapi kami berbeda kelas. Harusnya aku sudah lulus kuliah tapi karena aku sempat tidak lanjut kuliah dulu karena dulu aku bekerja di warung makan. Jadilah aku mahasiswa paling tua di angkatan dari segi umur. Aku pun waktu itu juga tahu Mas Rian pacaran dengan Sekar karena mereka sering saling berkomentar di facebook. Kalau di kampus, aku dan teman-teman yang lain juga sering meledek Mas Rian di kampus membahas tentang Mas Rian dan Sekar yang sering saling melempar komentar di facebook. Bahkan aku juga berteman dengan Sekar di facebook, kami juga pernah saling sapa walau di dunia nyata kami belum sempat bertemu bertatap muka.

Akhirnya kami pun lulus. Ada yang melamar di perusahaan maupun menjadi pengusaha seperti aku. Walau masih kecil-kecilan usaha menjahitku tetapi alhamdulillah lancar dan aku juga mempunyai satu karyawan yang membantu usahaku.

Dua tahun setelah lulus kuliah, Mas Rian mendekatiku. Aku dan Mas Rian berpacaran hanya tiga bulan saja. Kemudian kami langsung melaksanakan pernikahan. Karena kata Mas Rian kalau pacaran lama-ama takut terjadi hal yang tidak di inginkan. Siapa sih perempuan yang tidak bahagia kalau kekasih hatinya melamarnya? Hati berbunga-bunga dan bahagia. Mas Rian bilang lebih baik kami menikah secara sirri dulu, nanti baru menikah secara resmi di KUA. Katanya pernikahan yang baik itu harus segera di laksanakan dan jangan  di tunda. Waktu itu pun aku tidak menaruh curiga sama sekali kepada Mas Rian karena kan kami sudah lama saling mengenal.

Aku bahkan hampir tidak pernah mengecek ponsel Mas Rian begitupun sebaliknya. Kami menganut asas saling percaya untuk tidak membuka ponsel pasangan masing-masing.

Sungguh tak kusangka saat ini. Mas Rian tidak pernah berkata jujur kalau dia sudah pernah menikah dengan Sekar bahkan dia mau rujuk dengannya. Alasannya karena menikah denganku tidak enak dan dia tidak menemukan kenyamanan.

Aku memeriksa seluruh chat WA. Tidak ada yang mencurigakan. Paling chat dari sesama teman kantornya ataupun grup kantor dan grup alumni sekolah serta kuliah. 

Aku curiga apakah memang benar sampai saat ini Mas Rian dan Sekar masih berhubungan. Mengingat mereka berdua sudah pernah menikah. Kalau mereka pernah menikah lalu bercerai apa alasannya?

Atau mungkin mereka chatting di aplikasi lain? Siapa tahu kan. 

Ada tiga aplikasi chat di ponsel Mas Rian. Ada Whatsapp, Telegram, dan Messenger Facebook. Aku mencoba membuka Telegram karena ini aplikasi yang banyak orang gunakan.

Betapa terkejutnya aku ternyata Mas Rian dan Sekar masih sering berkomunikasi dengan Sekar lewat telegram. Meski Mas Rian tidak menyimpan nomor ponsel Sekar di kontaknya. 

Untung Mas Rian kalau mandi lama. Entah apa yang dia lakukan di dalam. 

Aku yang penasaran langsung membuka chat dia dengan Sekar.

[Sekar, Mas masih sayang sama kamu. Mas terpaksa menikahi Hilda karena dia duluan yang memaksa Mas menikahinya. Katanya menikah aja secara sirri dulu, urusan di KUA kan gampang. Jadi Mas iyakan aja ajakannya.] 

Aku menghela nafas membaca chat dari Mas Rian. Oh pintar sekali kamu Mas membalikkan fakta! Seolah-olah akulah yang mengemis cinta padamu. 

[Oh begitu. Jadi dia dulu yang mengajak Mas menikahinya? Padahal kan kita baru empat bulan bercerai kok bisa-bisanya Mas sudah menikah lagi! Semudah itu Mas melupakan aku.] Sekar merajuk.

[Maafkan Mas, Kar. Mas masih sayang kamu. Ternyata menikah dengan Hilda nggak nyaman!😣]

[Nggak nyaman gimana maksudnya Mas?] 

[Tenyata Hilda dan orangtuanya hanya memanfaatkan Mas saja. Mas di suruh Hilda untuk memberikan uang bulanan rutin kepada orangtuanya. Belum lagi uang untuk nafkah Hilda dan juga kebutuhan rumah tangga.]

[Wah, kasian banget kamu Mas! Nggak nyangka ya kalau Hilda yang polos itu ternyata matre!]

[Iya Kar. Dia bilang uang nafkah untuk istri itu berbeda dengan kebutuhan rumah tangga. Beda sewaktu menikah dengan kamu kemarin, Mas cukup memberikanmu uang dan kami sendiri yang mengaturnya agar cukup untuk keperluan sebulan. Kamu emang wanita mandiri, Kar. Kamu hemat dan nggak boros juga. Sedangkan Hilda hobinya jajan dan makan. Pantesan aja sekarang dia tambah gendut. Pokoknya jauh lebih enak sama kamu, Kar!]

Ya Allah. Masalah uang nafkah dan uang kebutuhan rumah tangga itu berbeda karena atas inisiatif Mas Rian sendiri. Mengapa ia pandai sekali melakukan playing victim? Baru kali ini kutemui lelaki mulutnya lemes banget! 

Pintu kamar mandi sudah di buka. Rupanya dia sudah selesai mandi. Aku langsung menekan tombol keluar dari semua aplikasi di ponsel Mas Rian dan langsung meletakkan ponselnya. Aku belum sempat membaca semua chat mereka. Aku akan berusaha mengikuti dulu permainan mereka yang sedang mereka sembunyikan dariku.

Aku membersihkan wajahku dengan kapas yang sudah kubasahi dengan susu pembersih wajah. Jadi tidak kelihatan kalau wajahku habis menangis.

"Sana gih kamu yang mandi sayang. Ih bau asem nih," ledek Mas Rian kepadaku sambil mengacak-acak rambutku. Dulu aku suka di ledek olehnya. Tapi sekarang  ledekannya terasa seperti hinaan bagiku.

"I, iya, Mas," jawabku singkat. Aku langsung menyambar handukku.

"Oh iya, Mas tidur duluan ya. Mas sudah ngantuk dan capek banget nih. Kan kita udah puas jalan-jalan seharian." 

Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya. Perih kurasakan, aku menangis di bawah guyuran shower. 

* * * 

Mengapa aku tidak langsung meninggalkan Rian? Karena aku ingin  bermain-main dulu dengannya. Aku akan membuat dia jatuh!

(Bersambung )

Bab 3

Kami akhirnya pulang ke kota kami setelah menikmati liburan dari Bali. Bukannya merasa segar setelah liburan tapi malah menambah penat pikiranku karena aku mesti mencari bukti kalau Mas Rian masih berhubungan dengan Sekar. Untungnya aku sudah menyimpan tangkapan layar percakapan mereka di ponselku, siapa tahu suatu saat ini bisa berguna dan bahkan menjadi barang bukti.

* * 

Aku membantu Bibi Tia, asisten rumah tangga di rumah orangtua Mas Rian untuk menyiapkan sarapan pagi. Menu pagi ini sederhana saja, nasi goreng ayam dan juga teh hangat. Kami masih tinggal bersama orangtua Mas Rian. Dia masih enggan kuajak untuk membeli rumah sendiri. Katanya masih betah tinggal dengan orangtuanya, padahal jika uang kami berdua di gabung untuk membeli rumah sebenarnya cukup. Sementara di sini ada Kak Rona, kakak pertama perempuan Mas Rian bersama suaminya, Mas Beni dan anaknya, Denis. Mereka sebenarnya tiga bersaudara, Mas Rian merupakan anak bungsu. Kak Resa, kakak kedua Mas Rian tinggal di komplek yang berbeda bersama suaminya, Mas Joni dan anaknya, Dion.

Aku menyiapkan sarapan pagi dengan menuangkan nasi goreng ke piring mereka masing-masing. Kadang aku merasa seperti pembantu. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka bilang masakanku enak. Sayangnya aku hanya bisa memasakkan mereka di waktu pagi saja karena aku kan juga harus bekerja ke tempatku menjahit. Aku biasanya sudah pulang pada sore hari namun ketika kebanjiran orderan kadang aku pulang sampai malam.

Kami pun sarapan pagi bersama. Ada Papa mertua, Mama mertua, Mas Rian, Kak Rona, Mas Beni, dan si kecil Denis yang masih berusia tiga tahun.

"Kamu sudah hamil belum Hil?" tanya Mama mertua memecahkan keheningan karena sedari tadi tidak ada yang berbicara. 

"Belum, Ma," jawabku tersenyum kecil.

"Memang belum ada tanda-tanda?" tanya beliau lagi.

"Mama nih gimana sih? Kalau belum hamil ya belum ada tanda-tanda. Beda dong kayak aku yang baru menikah besoknya langsung hamil," celetuk Kak Rona menyindirku.

"Iya ya Ron. Kamu begitu menikah langsung hamil. Sedangkan Rian dan Hilda sudah tiga bulan menikah belum juga isi ya. Padahal Mama pengen banget nih punya cucu dari Rian. Apalagi cucu perempuan," sahut Mama juga ikut-ikutan menyindirku.

"Sabar ya Ma. Kami juga sedang berusaha nih. Iya kan Hil?" Mas Rian menatapku dengan lembut.

"Lagipula kami sudah ke dokter kandungan dan hasilnya kami berdua sehat kok." Mas Rian menambahkan.

"Kalau kalian sehat kenapa belum punya anak? Masa Rian yang mandul? Hilda kali yang mandul. Turunan keluarga kami kan begitu menikah langsung hamil," balas Kak Rona lagi. 

Sedari awal Kak Rona ini memang tidak menyukaiku. Kalau Mama mertua sikapnya padaku sering plin-plan dan susah di tebak. Kadang baik, kadang juga ketus apalagi bila dengan putrinya ini.

"Namanya hamil itu rezeki dari Sang Kuasa Kak," jawabku dengan sopan. "Kami kan belum di kasih jadinya kami harus banyak bersabar. Lagipula kami sudah ke dokter kandungan dan juga minum vitamin penyubur kandungan dari dokter."

"Halah, kalau mandul ya mandul aja Hil. Nggak usah sok menceramahiku. Aku kan lebih dulu hamil dan melahirkan. Jelas saja aku lebih pengalaman. 

Aku tersenyum miris. Malas menanggapi omongannya yang sombong. 

"Makanya kamu lebih baik berhenti saja Hil menjadi penjahit. Kamu fokus saja untuk menjalani program hamil." Mama mertua memberi saran.

"Maaf, Ma. Hilda nggak bisa. Kalau nggak punya kerjaan Hilda akan bosan dan jenuh," jawabku sesopan mungkin. 

"Kamu tu ya Hil. Di bilangi mertua kok malah ngeyel," tukas Kak Rona.

"Sudahlah Kak, Ma. Hilda kan hanya mengisi hari-harinya dengan hobinya. Lagipula aku sudah memberikan Hilda izin untuk meneruskan usahanya," balas Mas Rian sambil mengusap kepalaku yang tertutup hijab.

Mas Rian memang baik. Sering membelaku di hadapan keluarganya. Tapi anehnya kenapa dia masih mengejar Sekar.

Kak Rona dan Mas Beni ini masih menumpang pada orangtua, kerjaan saja Mas Beni masih ikut bekerja menjadi karyawannya Papa di kantor beliau. Sedangkan Kak Rona hanya di rumah saja yang kerjaannya hanya arisan serta berkumpul dengan teman-teman sosialitanya. Si Denis saja yang mengurus adalah baby sitter.

Papa mertua memang mempunyai perusahaan sepatu, sedangkan Ibu Mertua yang mengurus pemasaran dan penjualannya. 

Mas Rian bekerja di perusahaan yang menjual minuman bersoda. Dia tidak ikut bekerja dengan Papanya. Mas Rian sengaja bekerja di lain perusahaan karena katanya ingin hidup mandiri. 

Selesai makan aku ke kamar, berdandan dengan bedak tipis dan memakai lipstik warna pink. Hari ini aku harus membantu Yuni, karyawanku untuk menjahit pakaian karena kami ada orderan lima buah gaun pendamping pengantin atau yang sekarang di kenal dengan nama bridesmaid yang harus selesai dalam waktu tiga hari. 

"Mas berangkat dulu ya, Hil," kata Mas Rian sambil mengecup keningku. 

"Oh iya ini ada uang untuk kamu jajan." Mas Rian menyelipkan beberapa uang ratusan ribu di kantong gamisku.

"Kok di kasih uang lagi? Kemarin uang yang di kasih Mas masih ada," jawabku karena aku tak mau di cap matre lagi olehnya. 

"Sudahlah Hil nggak usah kamu pikirkan. Itu jatah untuk kamu. Mas berangkat ke kantor dulu ya." Aku mencium tangan Mas Rian. Mas Rian pun mengambil tasnya dan berlalu.

Heran aku apa sih maksud Mas Rian memberikanku uang terus. Sedangkan aslinya malah playing victim. 

Aku menuruni tangga. Baru saja sampai di lantai bawah. Ada yang mengomentari.

"Wah tukang jahit udah siap aja nih berangkat?" Aku tahu sebenarnya Kak Rona hanya ingin mengolok-olokku saja. 

"Iya nih kak, alhamdulillah hari ini aku banyak orderan. Jadi secepatnya harus selesai," jawabku sambil memasang masker agar terhindar dari debu karena aku hanya naik sepeda motor saja.

"Hah masa tukang jahit biasa aja kok bisa orderannya banyak?" tanya Kak Rona seolah tidak percaya dengan perkataanku. 

"Alhamdulillah Kak. Rezeki kan nggak ada yang menyangka. Ya udah Kak, aku berangkat dulu ya nanti telat. Assalammu alaikum," pamitku pada Kak Rona.

"Halah baru jadi tukang jahit biasa aja sudah berlaga banget." Samar-samar aku masih mendengar jawaban dari Kak Rona yang ketus. 

Biar saja masih jadi tukang jahit biasa. Siapa tahu nanti bisa jadi penjahit terkenal!

Sesampainya di rumah jahitku. Rencananya aku akan menambah karyawan baru sebanyak dua orang karena orderan yang semakin menumpuk membuat kami keteteran dan kelelahan.

"Yun, kamu udah siap lemburkan untuk hari ini?" tanyaku pada Yuni. 

"Siap, Kak Hilda. Yuk kita semangat," jawab Yuni dengan semangat empat lima sambil menyingsingkan lengan bajunya.

Kami berdua asyik membuat pola gaun dan menjahit. Tak terasa hari sudah beranjak siang.

"Permisi, apakah di sini masih menerima orderan menjahit?" tanya seseorang di depan. Suaranya sangat aku kenal. Sepertinya itu Kak Rona. Waduh jangan sampai Kak Rona tahu kalau aku menjahit di sini. Aku mengintip dari balik gorden. Benar saja itu Kak Rona.

"Yun, kamu saja deh yang melayani pelanggan itu!" suruhku pada Yuni.

"Loh emang kenapa, Kak?" tanya Yuni heran. "Biasanya kan Kakak yang melayani pelanggan." 

"Anu, Yun. Aku agak pusing nih dan juga lagi nanggung," jwabku yang masih berkutat menjahit salah satu gaun.

"Oh gitu. Baiklah, Kak." 

Yuni pun akhirnya melayani Kak Rona. Duh jangan sampai Kak Rona tahu kalau aku pemilik tempat menjahit di sini. Karena keluarga Mas Rian hanya tahu kalau aku karyawan menjahit saja. Belum saatnya mereka tahu. Nanti akan ada saatnya kok mereka semua tahu. Hehehe. 

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED