Bab 1

“Sial!” Arimbi menggerutu kesal setelah melihat kemunculan dua garis merah pada alat deteksi kehamilan. Dia melemparkan hasil tes itu ke pintu kamar mandi kampus. Dia menangis, menyadari kesalahannya.

“Tante Mona, kamu brengsek!” maki Arimbi kesal.

Arimbi mampu mengingat dengan jelas kejadian satu bulan sebelumnya, saat tante Mona memintanya untuk menemani pelanggannya seperti biasa. Namun kali ini Arimbi ditawari dengan bayaran yang lebih besar. Arimbi segera menerima tawaran itu karena sudah waktunya dia harus segera melunasi tagihan pembayaran uang semesteran.

Tanpa Arimbi sadari bahwa malam itu merupakan jebakan baginya. Tante Mona memanfaatkannya, dan menyerahkan Arimbi pada lelaki hidung belang yang telah menodainya. Yang Arimbi ingat adalah pagi harinya dia sudah berada di kamar hotel dengan seorang pria yang tak dikenalnya. Dan yang membuatnya shock adalah, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya.

Tok tok tok. Tiba-tiba Arimbi dikagetkan suara ketukan dari luar kamar mandi di tempat dia berada. “Siapa ya di dalam. Bisa gantian tidak?” suara seorang pria terdengar di luar. Arimbi segera menyimpan test pact yang digunakannya tadi di dalam tasnya kemudian memperbaiki jilbab yang dipakainya. Setelah itu segera keluar dari kamar mandi. Di depan kamar mandi, berdirilah sosok Dimas tepat didepan pintu kamar mandi. Arimbi hampir saja menabraknya.

“Kamu bertelor didalam? Lama amat sih?” sindir Dimas. Arimbi hanya diam mendengarkan sindiran Dimas.

Dimas adalah seniornya di kampus. Punya wajah ganteng, gaya yang cool, keren, tajir pula. Siapa sih yang tidak kenal Dimas. Tahun ini dia didapuk menjadi Senat Mahasiswa pula selain kegiatannya sebagai ketua BEMFA. Tidak ada yang cela sebenarnya.

Tapi tidak keren bagi Arimbi. Dimas hanya sosok menyebalkan yang suka iseng menjahilinya. Dimas memang tidak pernah menyatakan isi hatinya secara langsung, namun Arimbi sempat mendengar rencana Dimas untuk proklamirkan cintanya pada Arimbi lewat Helmi sahabat Dimas. Mendengar cerita itu, membuat Arimbi selalu menghindar bila Dimas mendekatinya.

“Kamu sakit? Kok pucat?” Tanya Dimas menunjukkan perhatiannya.

“Tidak, aku ga papa kok. Aku masuk dulu ya, Mas.” Jawab Arimbi segera meninggalkan Dimas.

Arimbi segera melihat jadwal mata kuliah hari ini. Mata kuliah Psikologi Kepribadian. Sebenarnya Arimbi suka sekali dengan mata kuliah ini, namun karena pikirannya sedang tidak karuan membuatnya tidak bersemangat untuk mengikuti kelas.

Tiba di kelas, Arimbi mengambil posisi duduk di baris paling belakang. Rasa pusing menyerang kepalanya mengingat garis dua yang muncul di test pack yang di belinya tadi siang. Arimbi tidak menyadari saat Dimas duduk tepat disebelahnya.

“Selamat pagi, semuanya!”

“Selamat pagi, Pak!”

“Perkenalkan, saya Mahesa. Mulai semester ini saya akan memberikan kuliah mengenai Psikologi kepribadian. Mohon dicermati peraturan selama perkuliahan berlangsung. Pertama, saya tidak bisa mentolerir kehadiran dibawah 85 persen. Itu artinya kalian hanya saya beri toleransi tidak mengikuti perkuliahan saya maksimal tiga kali. Saya sangat menghargai setiap kehadiran dan keaktifan kalian selama perkuliahan berlangsung.” Dosen baru itu mulai berbicara mengenai peraturan yang wajib diikuti mahasiswanya.

Arimbi yang sedang tidak konsentrasi mengetuk-ngetuk mejanya yang menimbulkan suara berisik membuat Mahesa menegurnya.

“Kamu yang dibelakang, yang pakai kacamata. Ada yang mau ditanyakan?” Mahesa mengajukan pertanyaan dadakan pada Arimbi dengan alis ditekuk. Dimas menyenggol tangan Arimbi yang mengetuk meja, membuat Arimbi tersadar. Dimas memberikan isyarat mata pada Arimbi agar mengalihkan perhatiannya pada Dosen baru itu. Arimbi kemudian mengikuti arah mata Dimas kearah Mahesa. Tiba-tiba saja mulut Arimbi terbuka melihat pria yang mendekatinya itu.

“Siapa nama kamu?” Tanya Mahesa.

“Saya Arimbi Prameswari, Pak!” jawab Arimbi masih tak mampu menyembunyikan keterkejutannya pada sosok Mahesa yang merupakan Dosennya. Mahesa memicingkan matanya menatap Arimbi.

“Kamu keberatan mengikuti perkuliahan saya?” Tanya Mahesa lagi.

“Tidak, Pak. Mohon maafkan saya.” Jawab Arimbi dengan dada bergemuruh.

“Setelah jam perkuliahan habis, segera temui saya di ruangan saya!”

“Baik, Pak.” Jawab Arimbi.

Mahesa kemudian berbalik menuju ke depan kelas melanjutkan perkuliahan. Sementara Arimbi masih shock dengan penampakan Mahesa di depan mata kepalanya sendiri. Dia adalah si pria hidung belang yang menodainya. Arimbi

“Tante Mona kamu brengsek!” Arimbi bergumam lirih.

*****

Selesai memberikan kuliah di kelasnya Arimbi, Mahesa segera keluar menuju ruangannya yang berada satu lantai diatas ruang kuliah, Mahesa mencoba mengingat sesuatu tentang gadis yang bernama Arimbi Prameswari yang ditegurnya tadi.

“Mengapa wajahnya mirip sekali dengan gadis itu? Mungkinkah itu dia? Aku harus segera mencari tahu.”

Mahesa menekan tombol panggil pada ponselnya. Terdengar nada panggil di seberang sana. Tidak ada jawaban. Kemudian Mahesa menghubungi nomor lain yang segera terdengar suara jawaban diseberang sana.

“Adam, tolong pertemukan saya dengan Mona. Ada yang harus saya tanyakan padanya.” Mahesa segera mengakhiri teleponnya dengan pria yang bernama Adam.

“Apakah sebaiknya kutanyakan saja langsung padanya?”

Tok tok tok. Lamunan mahesa buyar saat terdengar ketukan dipintu ruangannya.

“Masuk!”

“Permisi, Pak. Bapak tadi memanggil saya.”

“Silakan duduk.”

“Terima kasih.”

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Arimbi menggelengkan kepalanya. Bukan karena ingin berbohong namun Arimbi perlu memastikan sesuatu. Namun dari jarak yang begitu dekat, Arimbi dapat melihat tahi lalat kecil di ujung hidung Mahesa. Hanya itu tanda yang dikenalinya.

“Tapi, saya merasa familiar dengan wajah kamu. Yakin kita tidak pernah bertemu?”

“Mungkin bapak pernah melihat yang mirip seperti saya.”

“Ataukah kamu berbohong?” Tanya Mahesa sambil memajukan kepalanya mendekati Arimbi membuatnya merasakan sesak nafas. Jarak wajah mereka hanya berada sejengkal saja.

“Untuk apa saya berbohong, Pak. Ada baiknya bapak memastikannya terlebih dahulu. Memangnya bapak pernah ketemu saya dimana?” Tanya Arimbi sambil memundurkan kepalanya,

Mendengar pertanyaan Arimbi, Mahesa langsung terdiam. Kemudian menarik kembali kepalanya ke posisi semula.

“Berikan pada saya nomor ponselmu. Catat disini.” Lanjut Mahesa sembari memberikan selembar kertas dan pena. Arimbi semula ragu untuk menuliskan nomor ponselnya. Namun akhirnya ditulisnya juga beberapa digit angka di selembar kertas itu.

“Besok pagi ada kuliah?” Tanya Mahesa lagi. Tangannya mengambil kertas bertuliskan nomor ponsel Arimbi.

“Kalau pagi, ada pak. Full. Sampai jam 12 siang.” Jawab Arimbi lagi.

“Baiklah kalau begitu. Pulang kuliah segera datang ke kantor saya di Biro Layanan Psikologi “Brain Your Mind”. Jangan lewat dari jam 1 siang.” Ucap Mahesa lagi. Arimbi hanya melongo mendengar perintah Mahesa.

“Silakan kembali ke kelasmu. Praktikum bulan depan saya minta kamu menjadi asisten saya. Oke?!” lanjut Mahesa membuat Arimbi semakin bingung.

“Baik, Pak. Permisi.” Arimbi segera meninggalkan ruang Pak Mahesa masih dengan rasa bingung.

“Apaan sih dia? Lagian kalau benar dia pria itu? Aku harus bagaimana?” gumam Arimbi sambil meninju kepalanya sendiri.

***

Bab 2

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Kali ini pilihan Arimbi jatuh kepada tanktop berwarna hitam dan celana jeans belel dibagian lutut. Rambut panjang dibiarkan tergerai. Riasan tipis sengaja dipoles agar tidak terlihat pucat pada wajah cantiknya. Kacamata minus yang biasa dipakai diganti dengan soft lens agar bisa lebih leluasa. Sepatu kets berwarna putih menjadi pilihannya agar lebih terlihat sporty.

Terpaksa kali ini harus izin di café tempatnya bekerja. Malam ini ada misi yang harus dilaksanakan, menemukan keberadaan tante Mona. Mempertanyakan siapa pria yang telah menodainya hingga berbadan dua.

Dia, Arimbi Prameswari. Memiliki sisi gelap bila malam telah datang. Sangat menyukai bahkan menggilai dunia malam. Dunia malam yang secara tidak sadar dinikmati. Di saat sedang bekerja mengumpulkan pundi-pundi uang, dunia gemerlap membuatnya buta. Semacam candu.

Hidup sebatang kara di kota besar membuat Arimbi harus memutar otak. Bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan dari kiriman Sang Ayah di kampung. Untung saja Arimbi mengenal Tante Mona yang kerap kali memperkenalkan pada esmud (Eksekutif Muda) yang tajir melintir. Mereka tidak akan perhitungan untuk sekadar membelikannya minuman. Sudah menjadi kebiasaan menikmati segelas minuman keras setiap malam.

Pekerjaan Arimbi cukup mudah. Hanya menemani pria-pria tajir itu minum saja, maka kantongnya akan terisi beberapa lembar uang kertas berwarna merah. Bahkan pernah segepok uang kertas merah itu dimilikinya. Satu kali, saat malam terkutuk itu. Malam di saat kehormatannya terenggut oleh sosok laki-laki yang tidak dikenali.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah malam yang masih hiruk pikuk. Tujuannya satu tempat, yakni ‘Black House Bar’. Di sanalah Arimbi bisa menemukan Tante Mona.

Mobil diparkir di sudut pelataran parkir. Suasana malam masih belum begitu ramai. Mobil-mobil mewah berjajar rapi. Mereka adalah pengunjung setia ‘Black House Bar’.

Tiba di pintu masuk, dua orang penjaga yang mengenalinya meminta kartu member.

“Lama ga ketemu, Mbak Arim?” tanya Si Botak bernama Rambo.

“Iya. Lagi banyak tugas kuliah. Tante Mona adakah di dalam?”

“Kalo aku belum lihat sih. Coba tanya Robi.” jawab Rambo, sambil mengarahkan dagu pada partnernya.

“Belom lihat juga. Coba aja masuk kesana,” jawab Robi.

“Oke deh. Masuk dulu ya.” Arimbi meninggalkan mereka di pintu masuk.

Suara musik riuh rendah terdengar begitu memasuki bangunan diskotek ini. Para pengunjung setiap malam selalu memenuhi gedung ini. Karena disini lebih nyaman dibandingkan tempat lainnya.

Melewati keriuhan di dalam diskotek dengan tenang. Suara hentakan music remix dengan beat kencang memekakkan telinga. Tapi tidak bagi Arimbi, tubuhnya seolah mengikuti irama dengan santai. Sesekali kepalanya mengangguk mengikuti irama.

Di meja Bartender, Mario sedang melakukan atraksi shaking pada tumbler bertutup dari bahan alumunium. Gayanya yang keren memikat siapa saja yang melihat atraksinya itu.

“Hai, Arim! Apa kabarmu? Lama ga muncul, kemana saja?” sapanya ketika melihat kemunculan Arimbi. Tubuhnya ikut bergerak mengikuti irama music.

“Baik, Rio. Biasalah, kesibukan yang tidak bisa ditunda. Hehehehe.” Arimbi menjawab sapaan Mario.

“Sibuk sekali kayaknya. Mau nyobain Blue Curacao (minuman beralkohol dengan rasa jeruk hasil fermentasi) buatanku lagi? Kali ini taste nya sedikit berbeda dari yang pernah kubuatkan untukmu, kutambahkan koktail.” tawar Mario sambil mengerling ke arah Arimbi.

“Gratisss????” tanya Arimbi sambil melemparkan senyum manis untuknya.

“Apa sih yang ngga buat kamu, Rim. Apalagi kalo kamu tersenyum gitu. Rontok hatiku, Arim,” ujarnya dengan senyum tak kalah manis.

“Hahahaha. Bisa aja kamu. Gimana dengan Liana? Apa kabarnya?” Liana adalah gadis cantik yang ditaksir oleh Mario. Tempo hari Mario sempat bercerita kalau mau menjadikan Liana pacarnya.

“Belum berani. Takut patah hati,” jawabnya sambil tertawa lebar.

“Belum jatuh cinta udah takut patah hati. Ga lucu!” Arimbi bergurau, mengimbangi.

“Jatuh cinta udah, jadiannya yang belom. Masih belum nemu waktu yang pas,” ujarnya sedikit teriak karena suara musik yang kencang.

“Kelamaan keburu diambil orang tuh. Baru tahu!” jawab Arimbi, singkat.

“Hemmm … tau dah.” Bibir Mario mengerucut. ”Nih, diminum.” Mario menyodorkan minuman yang secara khusus dibuatkan untuk Arimbi. Sejenak ragu ingin meminumnya. Mengingat janin yang ada di dalam perut. Namun, sedetik kemudian minuman itu disesap perlahan. Rasa sedikit asam menyentuh lidah.

“Wow! Mantap! Melayang dibuatnya. Nemu kombinasi dari mana, nih? Lebih nikmat!” puji Arimbi kemudian kembali menyesap minumannya.

“Beneran? Ga bohong?” tanya Mario meyakinkan.

“Benerrrr … suer! Oh ya, liat Tante Mona, ga?” tanya Arimbi pada Mario.

“Belum kelihatan, tuh. Kenapa? Butuh duit lagi?” tebak Mario.

“Belom butuh banget, sih. Mau beli minuman udah dapat gratisan gini. Berhemat jadinya. Hehehehe.” Kelakar Arimbi menjawab pertanyaan Mario.

Mata gadis cantik itu mengitari suasana diskotek yang mulai ramai. Sesekali disesapnya minuman yang diberikan oleh Mario. Kedua kakinya mengetuk di lantai menikmati alunan musik.

Tak sengaja netranya menangkap sesosok pria bertubuh tinggi semampai sedang berjalan mendekati meja Bartender yang ditempatinya saat ini.

“Mario, terima kasih untuk minumannya!” Tanpa mendengar jawaban Mario, Arimbi bergegas menjauhi meja Bartender. Ia merasakan dadanya berdetak lebih kencang. Bisa kacau kalau saja dia melihat Arimbi berada di sini.

Berhasil menjauh, Arimbi mengambil posisi duduk di sebuah meja membentuk lingkaran. Kebetulan masih kosong. Nafasnya masih terengah.

“Arim Sayang … apa kabarmu?” Kali ini esmud muda pelanggan Arimbi bernama Andre menyapa. Dia berjalan mendekati.

“Hai, Andre. Kabar baik.”

“Kamu ke mana saja. Sampe kangen aku sama kamu,” ujarnya dengan wajah sedih.

“Sedang sibuk aja, jadi ga sempet kesini lagi.” Arimbi menjawab dengan ramah.

“Temenin aku minum, ya. Ga perlu tahu Mona. Lagian kayaknya dia sedang tidak ada di sini,” terangnya membuat Arimbi sedikit kecewa.

“Lain kali aja ya, Ndre.” Arimbi menolak dengan halus. Perasaannya sedang tidak nyaman melihat sosok pria yang muncul barusan dan coba dihindari.

“Yah, sekarang aja dong, Sayang. Kangen banget bisa ngobrol sama kamu. Kita duduk di sini aja kok. Mau minum apa? Blue Curacao kesukaanmu, atau mau Tequilla saja?” tawarnya setengah memelas.

“Ga bisa, Ndre ….” Arimbi menolak, meskipun tak tega melihat raut kekecewaan di wajah Andre.

“Terus, kapan kamu punya waktu untuk menemaniku lagi? Aku kangen banget lho, sama kamu. Kamunya aja yang ga pengertian.” Andre cemberut, mengerucutkan bibirnya.

“Hmmm … kapan, ya. Aku ga bisa janji, Ndre. Lagi sibuk banget deh, pokoknya. Ntar kalo ga sibuk, kukabari deh.” Arimbi melemparkan senyum, berusaha membuat lelaki itu tidak kecewa. Seketika wajahnya pun berubah menjadi semringah mendengar perkataan Arimbi.

“Janji lho, ya. Beneran kutunggu kabarnya,” ujarnya kemudian.

“Ndre, aku mau Tequilla saja.” Arimbi tiba-tiba berkata dengan cepat kepada Andre saat sosok itu mulai mendekat lagi.

Andre sedikit terkejut mendengar ucapan Arimbi yang tiba-tiba. Namun kemudian senyum lebar tergambar di bibirnya.

“Beneran? Oke deh, Sayang. Segera dipesankan,” ucapnya. “Mbak, Tequilla dan Brandy tolong anterin kesini, ya.” Andre memanggil seorang pelayan yang menggunakan pakaian hitam putih dengan nampan di tangan kanannya.

Melihat Arimbi yang sedang duduk bersama Andre, pria itu tampaknya urung mendekat.

***

Bab 3

Dengan langkah gontai, Arimbi berjalan menuju ke mobil yang berada di pelataran parkir diskotek. Lumayan terseok-seok dengan kondisi setengah mabuk. Andre menawarkan diri mengantar hingga ke kosan.

Karena merasa tidak nyaman bila berdua saja di dalam mobil bersama, Arimbi menolaknya. Baginya, Andre sama mata keranjangnya dengan pria-pria di diskotek yang biasa ditemani menghabiskan bergelas-gelas minum beralkohol.

Dalam posisi mabok, Arimbi berjalan sesekali terhenti karena harus menjaga agar posisi tubuhnya yang terhuyung tidak jatuh terjerembab. Berkali-kali pula ia berpegang pada dinding atau pun tiang lampu di pelataran parkir.

Bila sudah merasa tidak lagi pusing, ia akan melanjutkan langkah kakinya. Ketika berada di tengah-tengah pelataran parkir, Arimbi tidak melihat sebuah mobil yang akan melewatinya. Hampir saja ia tertabrak, bila tidak ada tangan kokoh yang meraih tubuhnya.

“Kamu mau mati?” Suara Bariton terdengar di telinga Arimbi. Bukannya ketakutan, gadis itu malah tertawa terpingkal-pingkal dalam dekapan lelaki itu.

“Hei … Maha! Ngapain sih, pake pegang-pegang segala? Kenapa? Naksir aku?” Arimbi menepuk dada Maha—lelaki yang menyelamatkannya—sambil tertawa-tawa. Maklum saja, efek alkohol sudah memengaruhinya.

“Ngomong apa sih, kamu. Kalau mau mati jangan di sini!” bentak Maha pada Arimbi, lalu merangkul tubuh gadis itu dalam dekapannya. “Ayo kuantar pulang!”

“Maha … Maha …! Kamu ini selalu jadi pahlawan untukku. Kamu memang teman yang setia …!” Arimbi menepuk bahu Maha. “Gak rugi punya teman seperti kamu. Hahaha …!”

“Tidak bisa apa kamu itu berhenti minum sambil menemani laki-laki hidung belang itu? Jangan sok kuat dengan alkohol. Meskpun mulutmu kuat, tapi yang lain gak bisa sejalan, Arim.”

“Sssttt … berhenti mengomel, Maha. Kamu niat membantuku atau mau mengomel? Ha?!” Arimbi lagi-lagi menepuk dada Maha yang terbalut kaus berwarna hitam.

“Kamu selalu keras kepala!” Maha mendorong kepala Arimbi hingga gadis itu hampir jatuh terjengkang kalau saja tangannya tak segera menarik tubuh Arimbi.

Wajah mereka berdekatan, dengan senyum dan wajah kemerahan Arimbi yang begitu dekat dirasakan oleh Maha. Jantungnya berdebar tidak karuan, dengan sensasi itu. Tidak pernah menyangka bahwa efek kedekatan mereka begitu berpengaruh besar untuknya.

Arimbi yang mabok, menampar pipi Maha sambil terkikik geli. Bahkan tubuhnya terguncang karena tak menahan tawanya.

“Kamu memang teman yang baik, Maha. Aku cinta padamu, Maha!” ucap Arimbi masih menepuk-nepuk pipi sahabatnya itu.

Mahameru—nama lengkapnya—tak kuasa menahan rasa di hati. Bisa bahaya bila ia akhirnya tergoda dengan sahabatnya sendiri. Ia pun segera membopong tubuh mungil Arimbi, lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya sendiri. Di dalam mobil, Arimbi terus menerus mengomel tak jelas yang berusaha diabaikan oleh Maha.

“Tante Mona, di mana kamu …! Kamu harus tanggung jawab!” Arimbi mengomel setelah tubuhnya terbaring pada kursi penumpang di dalam kendaraan yang dikemudikan oleh Maha.

“Kamu masih berhubungan dengan Mona brengsek itu?” gerutu Maha, pelan.

“Mona brengsek! Kamu harus tanggung jawab sama yang ada dalam perutku … kamu harus tanggung jawab ….”

Omelan Arimbi membuat Maha tersentak, menyadari bahwa sesuatu telah terjadi pada Arimbi. Matanya yang tertuju pada jalanan, dilirik ke arah spion melihat Arimbi yang tertidur dalam posisi telentang.

“Jangan jangan …,” gumam Maha. “Brengsek!” umpatnya pelan ketika ia menyadari sesuatu, pengakuan Arimbi yang tidak disadarinya.

Maha membawa Arimbi pulang ke rumah tinggalnya. Karena ia tidak mungkin mengantarkan Arimbi dalam posisi mabok ke rumahnya sendiri. Ia lebih memilih mencari aman dalam situasi ini. Satu lagi, misinya adalah ingin mengetahui kebenaran tentang Arimbi.

Tiba di depan rumah, Maha mematikan mesin kendaraan, lalu membuka pintu kemudi. Sebelumnya sempat dilirik gadis yang tertidur dalam posisi mabok itu, menatapnya dengan prihatin.

Maha membopong tubuh mabok Arimbi memasuki rumahnya. Bersyukur ia memiliki satu kamar kosong yang menjadi kamar tamu. Itu lebih baik dari pada ia harus membiarkan gadis itu pergi bersama lelaki hidung belang yang selalu ditemani minum ketika berada di diskotek.

Perlahan, dibaringkannya tubuh lemah Arimbi di atas kasur. Gadis itu tidak lagi mengomel karena pengaruh alkohol di tubuhnya. Maha menyelimuti tubuh mungil gadis itu, lalu menatap wajahnya lekat.

Dengan lembut, disingkirkannya anak-anak rambut yang menutupi wajah ayu Arimbi. Senyum kecut tiba-tiba menghiasi wajah Maha, mengingat kenyataan yang terucap oleh Arimbi beberapa saat yang lalu. Ada kekecewaan di wajah Maha, yang tak dapat diungkapkan.

***

Matahari sudah tinggi ketika Arimbi berhasil membuka kedua matanya perlahan sambil mengerjap karena silau terkena sinar matahari yang menimpa wajahnya. Merasa pusing, dipegangnya kepala menggunakan salah satu tangannya.

“Aku di mana ini?” gumamnya, sambil menatap plafon kamar itu. Ia merasakan embusan napas pada bahunya yang terbuka. Sesosok laki-laki sedang terbaring di sebelahya sambil memeluk pinggangnya.

“Whoaaa …!!!” teriak Arimbi begitu menyadari ia tidak sedang sendirian di atas tempat tidur. Sementara Mahameru yang masih terlelap tersentak kaget, lalu terbangun mendengar teriakan Arimbi. Ia pun segera menjauhkan diri dari tubuh Arimbi.

“Apaan kamu ini, Maha!” seru Arimbi pada Maha yang memijit kepalanya yang sakit, efek terbangun karena mendengar teriakan Arimbi.

“Apaan, sih!” ucapnya lalu bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju ke arah pintu.

“Hei! Maha! Mau ke mana kamu!” seru Arimbi kesal, karena pertanyaannya tidak digubris oleh Maha.

“Mau mandi!” seru Maha cuek.

Arimbi segera melemparkan bantal yang ada di sampingnya ke arah Maha.

Buk!!! Tepat mengenai punggung Maha. Lelaki itu mendelik, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kamar.

Arimbi semakin kesal dengan sikap cuek Maha yang ditujukan padanya. Padahal lelaki itu berhutang penjelasan padanya, mengapa ia harus berakhir di sini.

Dengan kepala pusing, Arimbi memaksakan diri bangkit dari pembaringan. Matanya mengedari ruangan yang asing baginya. Ia coba mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya. Sayangnya, ia tidak bisa mengingat dengan baik.

Arimbi hanya mengingat ketika ia berada di diskotek mencari keberadaan tante Mona, lalu berakhir dengan menikmati minuman keras bersama Andre. Ia juga mengingat ketika Mahameru coba mendekatinya beberapa kali tapi ia selalu berhasil menghindari lelaki itu.

“Maha! Kamu berutang penjelasan padaku!” serunya lalu berjalan mantap keluar dari dalam kamar.

Di luar kamar, ia melihat kondisi rumah yang sepi. Kesan maskulin kentara di dalam rumah itu, dengan warna cat berwarna putih dengan perabot yang identik dengan warna hitam. Lantai marmer papan catur serta ruangan yang cukup luas karena minimnya perabot membuat rumah itu tampak lebih luas.

Arimbi melangkah menuju ke dapur, mencari air mineral karena rasa kering di tenggorokannya. Matanya mengedari ruangan, mencari keberadaan Maha yang tak lagi tampak. Sepertinya lelaki itu sedang berada di kamar mandi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED