Bab 2

Lintang menghela nafas panjang.

"Astaghfirullah! Ini jalan apa kali asat (sungai kering), sih! Kok dari tadi batuu terus!" Gerutu Lintang berusaha mengendalikan motor maticnya. Beberapa kali dia hampir terpeleset dan jatuh.

Dia memang salah memilih jalan. Dia sebenarnya sudah tahu dari sahabatnya, Rani, bahwa desa Kayu Dawung ini dikelilingi oleh jalan yang rusak. Di sebelah utara ada jalan berlubang-lubang menuju ke dusun Kayu Gintung, di sebelah timur ada jalan berbatu-batu menuju dusun Kayu Giyang, dan dari barat ada jalan berbatu, berlubang dan licin, menuju dusun Kali Kuning.

Tapi jalan masuk dari dusun Kali Kuning memang yang paling parah. Dan anehnya, Lintang memilih jalan itu. Dan, akhirnya Lintang terjatuh juga dari motornya.

Baju putihnya langsung penuh dengan lumpur. Untung dia sempat melompat sebelum motornya jatuh, jadi lukanya tidak terlalu parah. Tapi pergelangan tangannya sakit sekali, mungkin terkilir.

Aduh! Mana sepi lagi, Lintang berusaha mencari bantuan, tapi hampir tidak ada orang sama sekali. Aduh! Padahal dia harus ke Polindes jam sepuluh, sekarang sudah setengah sepuluh, dan dia tidak bisa mengangkat motornya sama sekali.

"Mbak jatuh, ya?"

Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Lintang. Lintang menoleh. Dilihatnya seorang lelaki memakai celana pendek dan kaus pendek, tubuhnya kekar. Dia memakai caping.

Tanpa menunggu jawaban lelaki itu langsung membantu menaikkan motor Lintang. Beberapa orang dari rumah di pinggir jalan itu juga keluar setelah mendengar teriakan sang lelaki.

"Ya Allah, ada yang jatuh lagi, ya, San?"

"Iya, bu. Kasihan sekali mbaknya kayaknya tangannya sakit, ya mbak?"

Lintang mengangguk, dia memegangi pergelangan tangan kirinya yang nyeri.

"Sini mbak, masuk dulu. Ganti baju sama diobati tangannya," kata seorang ibu, yang sepertinya pemilik rumah itu. Lintang menurut, sepertinya tidak mungkin menghadap pak Kades dalam kondisi seperti ini.

Di dalam dia langsung disuruh mandi dan berganti baju, bahkan dia diminta makan.

"Makan dulu! Syaratnya orang bertamu, ya harus makan dulu!" Kata ibu yang baik hati itu, "San, ini lo, mbaknua ditemani makan, kasian sendirian," lanjut si ibu memanggil lelaki yang menolong Lintang tadi.

Ternyata lelaki itu diminta tetap menunggu Lintang, karena si ibu memintanya mengantarkan Lintang setelah ini.

"Mbaknya bidan yang baru, ya?"

"Wah! Kok ibu tahu, bu? Saya sebenarnya di sini hanya untuk membantu bu Indah Restu mendata dan membantu melayani pasien di polindes sampai dokter dan perawat tetapnya datang, bu," jelas Lintang.

"Oh, gitu. Iya, ya, di sini jarang yang bertahan lama dokternya, alasannya jalan masuk desa yang sulit. Jalan kaki saja sulit, apalagi naik motor. Aduh! Udah berapa kali motor jatuh di depan rumah saya ini!" Keluh sang ibu.

Lintang manggut-manggut, jalan yang dilaluinya tadi memang luar biasa mengerikannya, apalagi sepertinya kemarin baru hujan, licinnya minta ampun.

"Tangannya gimana, mbak?" Tanya sang lelaki muda.

Secara refleks Lintang menggerak-gerakkan pergelangan tangan kirinya.

"Alhamdulillah, sudah tidak sakit, mas. Mungkin tadi kaget waktu jatuh," jawab Lintang.

"Alhamdulillah. Oh, ya, mbaknya ini namanya siapa? Sampai lupa, nama saya Partini, suami saya namanya Suwagino, biasanya saya dipanggil Bu Gino. Nah, yang mbantu mbak tadi namanya Sandi, dia rumahnya di belakang rumah saya ini," jelas sang ibu. Lintang mengangguk.

"Saya Lintang, bu. Salam kenal," mereka berjabatan.

Lintang tersipu saat berjabatan dengan lelaki bernama Sandi tadi. Lelaki itu hanya tersenyum.

"Biar nanti diantar Sandi, mbak. Sandi, kan orang sini, sudah biasa lewat jalan ini. Biar cepat sampai juga," kata bu Gino. Lintang mengangguk.

"Matur muwun sekali, bu. Sudah diterima dengan baik," kata Lintang ketika berpamitan.

"Iya, mbak. Semoga betah di sini, ya, mbak. Kalau butuh bantuan nyuruh orang saja ke sini, insya Allah kami bantu," kata bu Gino tulus. Lintang mengangguk dan kemudian meneruskan perjalanan dengan Sandi.

"Mbak Lintang!" Seru Sandi ketika mereka naik motor.

"Ya, mas!" Jawab Lintang sambil berteriak juga, karena Sandi mengendarai motor dengan cepat.

"Tadi itu orang terkaya di Kayu Dawung, mbak! Punya peternakan sapi besar di belakang rumah saya!"

Lintang diam, dia sedang mencatat dalam hati.

"Orangnya baik! Suka menolong mbak!" Teriak Sandi lagi.

"Iya, mas!" Jawab Lintang, percakapan ini agak sulit karena angin bertiup cukup kencang. Sandi masih berbicara banyak hal, Lintang hanya mendengarkan saja, sulit sekali harus menjawab sambil berteriak-teriak seperti itu.

Rasanya perjalanan melewati jalan berbatu itu lama sekali, hingga akhirnya mereka sampai di jalan aspal mulus dan cukup luas.

Lintang bernafas lega. Rupanya Sandi tahu Lintang sudah lega, dia tertawa.

"Ya, inilah Kayu Dawung, mbak! Selamat datang di Kayu Dawung!" Kata Sandi.

Lintang tertawa.

"Tuh, di depan sudah kelihatan balai desa dan polindes," kata Sandi. Dari belakang Lintang melongokkan kepalanya. Tidak buruk juga, nampaknya Kayu Dawung desa di pegunungan yang cukup maju, tapi kekurangannya adalah jalan masuk yang cukup sulit itu.

"Sudah sampai, mbak," kata Sandi, kemudian memarkir motor Lintang di depan balai desa.

"Alhamdulillah," bisik Lintang segera turun dari motor. Dia menelan ludah, perjalanan yang luar biasa.

Dari dalam ada beberapa orang yang menyambut Lintang. Seorang lelaki tinggi kurus, berwajah ramah, memakai seragam warna khaki dengan senyum lebar di wajahnya itu sepertinya pak Kades. Dia menyambut Lintang dengan suka cita, seakan-akan ingin memeluk Lintang. Di belakangnya ada seorang wanita berjilbab dan berkacamata, yang langsung dikenali Lintang sebagai bu Indah Restu, bidan desa Kayu Dawung.

"Alhamdulillah!" Seru bu Indah Restu, "Katanya kamu jatuh, ndhuk?" Tanya bu Indah memeluk Lintang erat-erat.

Lintang terperangah.

"Nggak usah kaget. Di sini berita cepat tersebar. Tadi bu Gino sudah nelfon saya," kata bu Indah tersenyum lebar.

Pak Kades langsung menyalami Lintang.

"Selamat datang, mbak Lintang! Selamat datang di Kayu Dawung!" Kata pak Kades berapi-api. Lintang sampai kewalahan.

Beberapa orang lain juga menyambut Lintang, Lintang jadi merasa malu sendiri, serasa selebriti.

"Matur nuwun, ya San. Ayo, masuk dulu. Nge-teh dulu," kata seorang wanita yang ikut menyambut Lintang.

"Matur nuwun, bu. Tadi saya malah sudah makan di tempat bu Gino, sudah kenyang. Saya mau ngarit (cari rumput) lagi," jawab Sandi. Lintang baru ingat, bagaimana Sandi bisa pulang? Apa jalan kaki.

Seperti membaca pikiran Lintang, pak Kades menjawab sambil tertawa.

"Jangan khawatir mbak Lintang! Sandi rumahnya ada banyak! Dia bisa ambil ambil motor di rumah ibunya di belakang sini, tenang saja!" Kata pak Kades, disambut tawa orang yang lain. Lintang tersipu malu. Aduh! Ketahuan, deh.

****

Sore harinya Lintang sudah tiduran di rumah dinas Polindes. Letaknya di tengah desa, jadi lumayan ramai. Lagipula, pak Priyatno, pak Kades, dengan baik hati menyediakan seorang teman yang juga melayani semua kebutuhan Lintang, namanya Sarinem.

Sarinem adalah seorang gadis remaja, mungkin umurnya sekitar lima belas atau enam belas tahun. Dia pintar memasak dan lumayan lincah dalam bekerja. Lintang sudah suka pada Sarinem, sejak pertama mereka bertemu.

Tok tok tok

Lintang terbangun. Apa benar ada suara ketukan?

Tok tok tok

Oh, ya. Memang benar. Lintang segera memakai jilbabnya. Ternyata pintu sudah dibukakan Sarinem.

"Eh, mas Dimas. Monggo, mas," kata Sarinem, terdengar gumaman menjawab. Terdengar langkah kaki masuk ke dalam ruang tamu.

"Mbak bidannya ada?" Tanya sang tamu, bertepatan dengan Lintang keluar kamar.

"Oh! La itu mbak Lintang. Mbak ini, dicari mas Dimas!" Kata Sarinem dan kemudian langsung menuju ke dapur.

Lintang berjalan perlahan. Sepertinya dia pernah melihat pria ini, tapi tidak di sini. Apa di kota?

"Monggo, mas," kata Lintang dan segera duduk di hadapan tamu yang sepertinya namanya Dimas itu.

"Njih, mbak. Matur nuwun. Saya Dimas mbak, saya anaknya pak Kades. Saya diminta ke sini untuk memeriksa motornya mbak Lintang. Katanya tadi jatuh, ya mbak?" Kata Dimas. Mendengar itu tiba-tiba Lintang ingat sesuatu, dia pernah melihat Dimas di papan iklan bengkel di dekat rumahnya di kota sana. Oh, ya! Sepertinya mas Dimas ini punya bengkel di kota.

"Mbak! Mbak Lintang!" Panggil Dimas keras, membuat Lintang tersadar dari lamunannya.

"Eh, mas Dimas yang punya bengkel di jalan Senopati deket kampus, kan?" Lintang malah balik bertanya. Dimas terkejut, sekaligus terheran-heran, cewek aneh, pikir Dimas.

"Iya, mbak. Kok mbaknya tahu?"

"Rumah saya, kan di belakang bengkelnya mas Dimas. Maaf, ya mas, malah jadi ngelantur. Soalnya tadi kayak pernah lihat gitu, tapi lupa di mana," jawab Lintang sambil tersenyum.

"Eh, iya, mbak nggak papa," jawab Dimas, dia juga tersenyum, lumayan juga jadi orang terkenal, jadi disapa cewek cantik, seperti Lintang ini.

"Motornya di mana, mbak?" Tanya Dimas lagi.

"Sudah saya masukkan garasinya pak Rahmat, mas. Tadi katanya suruh nitip di situ," jawab Lintang merasa bersalah. Sebenarnya dia juga tidak ingin segera memasukkan motornya seawal ini, tapi tubuhnya lelah, dia ingin cepat tidur.

"Oh, di garasinya pak Rahmat! Siip! Yuk, mbak, kita ke sana! Biar saya nggak salah motor!" Jawab Dimas. Lintang melongo. Dimas tertawa.

"Garasinya pak Rahmat, kan memang disewakan untuk parkir kendaraan. Nggak papa, kok kita ambil kendaraannya siang atau malam," jelas Dimas.

Lintang tersipu malu.

Mereka berjalan menuju ke garasi pak Rahmat, ternyata memang banyak kendaraan yang dititip di sini. Lintang jadi ingat untuk segera menanyakan berapa biaya sewa garasi di sini.

"Motornya yang mana, mbak?"

"Yang putih hitam, mas."

"Yang ini?"

Lintang mengangguk. Dia membiarkan Dimas memeriksa motornya, Lintang melihat berkeliling. Motor yang titipkan lumayan banyak juga, Linta sudah merasa suka dengan desa Kayu Dawung, dia merasa nyaman berada di sini.

"Mbak Lintang, saya sudah periksa motornya. Sepertinya tidak ada kerusakan serius. Ini, ada kantung plastik yang ketinggalan di motornya mbak. Takutnya makanan," kata Dimas memberikan kantung plastik warna hitam pada Lintang.

Lintang mengkerutkan keningnya. Plastik isi makanan? Kayaknya dia tadi hanya bawa tas isi baju dan buku. Tapi dia menerima plastik itu juga.

"Saya permisi dulu, ya mbak. Besok kalau ada apa-apa WA saya saja," kata Dimas, "Ini nomor saya, mbak," kata Dimas lagi. Mereka saling bertukar nomor HP dan berpisah.

Setibanya di rumah dinas, Lintang langsung membaringkan dirinya di tempat tidur. Dia lelah sekali.

****

"Mbak, ini kok ada plastik isi daun kering?" Tanya Sarinem ketika Lintang sedang sarapan.

"Apa mbak?"

"Ini lho, mbak," kata Sarinem sambil membawa sekantung plastik isi daun kering ke depan Lintang. Lintang melongo.

"Ini ada di ruang tamu tadi. Mungkin mbak Lintang bawa waktu keluar liat motor kemarin."

Oh, iya, kantung plastik yang kata Dimas mungkin isinya makanan. Tapi kok isinya daun kering. Aneh.

"Dibuang aja, ya, mbak?" Tanya Sarinem lagi, Lintang mengangguk sekilas. Dia sedang berpikir.

****

Sosok itu berteriak marah.

"Kurang ajar! Kenapa sekarang orang banyak yang rajin ibadah!" Dia menggebrak meja di kamarnya dengan keras.

Sekali lagi tumbalnya gagal kali ini.

****

Tak terasa sudah satu minggu Lintang berada di desa Kayu Dawung, di pusat desa tepatnya. Dia belum sempat berkeliling desa, dia sibuk sekali melayani para pasien yang datang ke Polindes. Mereka antusias ingin bertemu Lintang sang bidan muda nan cantik, tapi Lintang tidak memperdulikan hal itu. Dia memang bercita-cita mengabdi pada masyarakat dan merasa menjadi orang yang berguna.

Sebenarnya Lintang tahu ada beberapa lelaki yang datang ke Polindes hanya untuk menggodanya, tapi dia melayani mereka semua dengan suka cita dan sempurna. Tidak terlalu dipikirnya godaan dari bu Indah, dia tetap fokus berkerja melayani pasien dengan penuh keramahan.

Siang itu bu Indah dan Lintang hendak bersiap-siap menutup Polindes ketika beberapa orang berlari ke arah Polindes dengan panik.

"Bu bidan! Bu bidan tolong, bu!" Teriak beberapa lelaki.

"Ada apa, pak?" Tanya bu Indah, dia berlari keluar Polindes sambil membawa tas perlengkapannya.

"Ada yang mau melahirkan, bu. Di jalan depan rumah pak Haji!"

"Astaghfirullah! Ayo Lintang, bawa perlengkapanmu!"

Lintang segera mengikuti bu Indah. Mereka tidak menggunakan sepeda motor, sepertinya rumah pak Haji tidak terlalu jauh.

Ternyata dugaan Lintang benar, dari kejauhan sudah terlihat orang yang berkerumun. Mereka segera memberi jalan bu Indah dan Lintang.

Seorang wanita muda dalam kondisi hamil besar, terduduk di depan rumah pak Haji yang besar. Di belakangnya ada seorang lelaki setengah baya berkulit legam yang nampak khawatir.

"Asri, sabar, ya. Sabar, ya, sayang," bisik lelaki tengah baya itu beberapa kali.

Bu Indah memeriksa wanita muda itu.

"Sudah lengkap bukaannya, kita gotong ke Polindes, ya, mbak."

"Sakiit, mas! Sakit," keluh sang wanita, mencengkeram baju sang lelaki. Nampaknya wanita itu benar-benar sudah tidak tahan lagi.

Sang lelaki tengah baya menelan ludah, dia nampak tidak tega.

"Di sini saja, bu bidan! Di rumah saya saja," kata bu Haji, dia sepertinya tidak tega, karena ada banyak orang yang menonton di luar.

Akhirnya semua sepakat. Beberapa pria segera bersama-sama membawa wanita bernama Asri itu ke rumah pak Haji. Mereka masuk ke salah satu kamar di rumah bu Haji.

Beberapa wanita dengan suka rela membantu bu Indah dan Lintang mempersiapkan kelahiran sang wanita. Para lelaki menunggu di ruang tamu, menemani calon bapak yang nampak galau

"Tenang saja, pak. Insya Allah dengan bu Indah dan mbak Lintang mbaknya bisa melahirkan dengan sehat dan selamat," hibur pak Haji.

"Iya, pak," kata lelaki itu, menutupi kegugupannya.

"Bapak ini dari mana, pak? Kayaknya bukan orang Kayu Dawung, ya?"

"Iya, pak. Saya dari Tintrim. Istri saya yang dari Kayu Gintung."

Mereka berpandangan keheranan.

"Oh, mbaknya tadi istrinya bapak?"

Lelaki itu menganggukkan kepalanya.

"Namanya siapa, pak istrinya? Dari Kayu Gintung, ya?"

"Namanya Asri, pak. Anaknya pak Abdullah juragan kerupuk," jawab lelaki itu.

"Oalah, anaknya mbah Dullah, to. Maaf, ya, pak, tadi saya kira anaknya," kata pak Haji. Orang-orang tertawa.

"Kenalkan saya Pak Haji, nama asli saya Nuruddin, biasa dipanggil pak Nur atau pak Haji," kata pak haji.

Lelaki tadi menyambut uluran tangan pak Haji.

"Saya Supri, pak. Saya biasa dipanggil pak RT walaupun sudah lama tidak menjadi RT."

****

Bab 3

Kelahiran anak pak RT berjalan lancar. Bayi dan ibu semua sehat. Bu Haji mempersilahkan pak RT dan istrinya Asri tetap berada di rumahnya, sehingga bisa mudah diperiksa Lintang. Pak RT sangat bersyukur dan berterima kasih pada kebaikan pak Haji.

Keesokan harinya keluarga Asri, yang dikenal warga desa Kayu Dawung dengan nama Mbah Dullah datang beramai-ramai, membuat suasana semakin heboh. Lintang yang harus memeriksa si ibu pun cukup kewalahan, meminta para tamu untuk keluar dari kamar terlebih dahulu.

"Alhamdulillah, ibu sudah cukup sehat untuk pulang, bu. Adik bayi juga sepertinya sudah siap untuk pulang. ASI nya lancar, kan, bu?"

Asri mengangguk.

"Iya, mbak lancar. Tadi malam sudah keluar cukup banyak."

"Darahnya keluar banyak?"

"Cukup banyak, tapi tidak bikin pusing."

"Alhamdulillah, kita tunggu bidan Indah dulu, ya bu. Kalau bidan Indah sudah oke berarti bu Asri sudah boleh pulang."

"Makasih, mbak," jawab Asri, "Rumah saya di Kayu Gintung, deket rumah pak Kades. Silahkan mampir kalau sempat, ya, mbak," ajak Asri.

Lintang mengangguk. Dia mendapat undangan seperti itu dari hampir semua warga desa Kayu Dawung yang berobat ke Polindes, senangnya berada di desa adalah karena keramahan penduduknya, membuat Lintang jadi betah.

****

Hari itu jadwal dokter dari rumah sakit datang bertugas. Dokter Aditya keheranan melihat pasien yang datang banyak sekali.

"Ada apa ini, bu Indah? Kok, tumben pasiennya banyak sekali. Apa sedang ada wabah?"

Bidan Indah tertawa.

"Nggak, pak dokter. Mereka kebanyakan hanya ingin bertemu dengan bidan Lintang," jawab bidan Indah. Lintang pura-pura sibuk mencatat di bukunya.

Dokter Aditya paham. Dia juga ikut tertawa.

"Oalah! Begitu, to? Kita lihat saja, kalau saya yang periksa apa mereka masih mau," kata Dokter Aditya, membuat Lintang pun ikut tertawa.

****

Lintang memeriksa HP nya. Ternyata ada pesan dari Dimas. Dia buru-buru membukanya.

[Assalamualaikum, mbak Lintang, maaf mengganggu. Motornya bagaimana? Apakah sudah nyaman dipakai?]

Lintang tersenyum. Sementara ini dia belum pernah naik motornya lagi.

[Waalaikum salaam, maaf baru balas, mas. Kebetulan selama di Kayu Dawung saya belum pernah pakai motornya. Insya Allah Minggu ini akan saya pakai. Kalau misalnya ada yang tidak pas, saya langsung ke bengkel mas Dimas yang dijalan Senopati, aja, ya.]

[Lho, mau pulang, to?]

[Insya Allah, mau ambil beberapa perlengkapan, mas.]

[Oh, gitu. Ya, oke, mbak. Lebih baik lewat jalan arah Kayu Gintung saja, lebih aman, walaupun lebih jauh.]

[Oke, mas. Makasih, ya.]

[Sama-sama.]

Lintang tersipu sendiri. Waduh! Kok dia jadi malu sama anak pak Kades, sih?

****

Sore hari Sabtu hujan turun dengan deras. Lintang merasa agak gugup, karena Rani sudah mewanti-wanti agar jangan pulang saja kalau habis hujan atau ketika hujan. Aduh! Padahal ada beberapa perlengkapan yang memang sengaja ditinggal Lintang di rumah, yang akan di bawa pada kesempatan pulang berikutnya.

"Mbak Lintang, ada yang cari," kata Sarinem mengagetkan Lintang.

"Siapa, mbak?"

"Sandi."

Lintang buru-buru bangun dan memakai bergonya. Sekarang dia sudah terbiasa dibangunkan ditengah tidur nyenyaknya karena ada pasien atau ada tamu.

"Eh, mas Sandi. Monggo, mas," sapa Lintang tetap ramah dan hangat, walaupun sebenarnya dia capek sekali.

"Iya, mbak. Matur nuwun."

"Ada perlu apa, mas?"

"Saya cuma mau nanya, mbak. Apa betul besok mbak Lintang mau pulang?"

"Wah! Sudah pada tahu, ya?" Kata Lintang sambil tersenyum. Sandi juga tersenyum.

"Iya, mbak. Kemarin banyak yang bilang," jawab Sandi lagi. Lintang melihat ada sesuatu yang berbeda di mata Sandi, entah apa.

"Iya, mas. Insya Allah besok saya mau pulang. Banyak yang nyaranin saya lewat Kali Gintung saja. Tapi sekarang malah hujan kayak gini, saya jadi mikir-mikir lagi," jawab Lintang galau.

"Nah, karena itu saya ke sini, mbak. Kalau mbak nggak keberatan, bagaimana kalau besok saya antar, mbak?"

Lintang memandang Sandi keheranan, dahinya mengkerut.

"Maksudnya?"

"Maksud saya, nanti mbak Lintang saya antarkan sampai jalan besar, setelah itu mbak Lintang bisa pulang sendiri, mbak."

Lintang merasa kurang nyaman dengan ajakan Sandi. Bukannya Lintang tidak percaya, tapi dia kurang suka dengan cara Sandi mencampuri urusannya. Dia lebih baik memilih pulang dengan taksi atau ojek online daripada harus pulang dengan Sandi.

"Maaf, mas, besok saya sudah ada barengannya," jawab Lintang bohong.

"Dengan siapa, mbak?" Tanya Sandi penuh selidik, wajahnya nampak tidak menyenangkan.

"Dengan teman saya. Namanya Rani, dia keponakannya pak Kades," jawab Lintang. Lintang percaya kalau dengan pak Kades, Sandi pasti tidak akan berani melacak kebohongannya.

Sandi nampak kecewa.

"Oh, gitu, ya. Tapi nggak diboncengin, kan, mbak, sama temannya?"

"Nggak, mas. Nanti bareng bareng naik motornya."

"Wah, nggak aman, tuh. Sama saya aja, mbak. Biar nanti barengan sama temannya juga nggak papa," kata Sandi lagi.

Lintang mulai marah. Dia beristighfar berulang kali dalam hati.

"Maaf, mas. Makasih, tapi kayaknya nggak," jawab Lintang lagi.

Muka Sandi merah padam menahan marah. Lintang agak takut melihatnya, Lintang terus beristighfar dalam hati.

"Ya, udah, mbak. Semoga besok lancar perjalanannya!" Seru Sandi dan tanpa pamit dia pergi begitu saja.

Setelah Sandi pergi Sarinem langsung masuk ke ruang tamu.

"Ealah, bocah kurang ajar! Biar aja, mbak. Nanti tak bilang ke bapakku. Sandi itu emang anak nggak jelas. Biar nanti tak bilangin pak Kades juga!" Kata Sarinem.

Lintang tersenyum. Alhamdulillah masih ada yang mau menolongnya. Hatinya lega, tapi dia masih terus membaca istighfar.

"Tapi sebenarnya benar Sandi, mbak. Kalau habis hujan seperti ini biasanya jalannya agak bahaya," kata Sarinem dengan wajah was-was.

"Licin, ya?"

"Iya. Lagian kalau lewat Kayu Gintung, kan ada hutannya, suka ada ularnya mbak kalau habis hujan," lanjut Sarinem.

Astaghfirullah! Apa lagi ini?

"Kayaknya aku nggak jadi pulang aja, deh," kata Lintang akhirnya, menyerah.

"Eh, bener, mbak?" Tanya Sarinem. Wajahnya berbunga-bunga. Lintang memandang Sarinem dengan curiga.

"Kenapa emangnya, Nem?"

"Besok ikut pengajian aja, mbak di masjid Agung. Ada ustadz Irfanul Hakim, yang tukang ruqyah itu," kata Sarinem lagi. Lintang tertawa mendengarnya. Tukang ruqyah? Aduh, ada-ada saja. Tapi mendengar kata ustadz Irfan itu membuat Lintang terjaga sepenuhnya. Dia salah satu penggemar ustadz Irfan dan selalu mengikuti channel Youtube nya.

"Bener, Nem?" Tanya Lintang memastikan lagi.

"Iya, mbak! Sudah ada spanduknya, lo!"

Lintang tertawa sendiri, ya, iya, lah, dia nggak tahu spanduknya. Kan, dia nggak pernah ke mana-mana. Aduh! Lintang jadi merasa orang paling tidak gaul sedunia.

"Mau, ya, mbak? Sekalian jalan-jalan," kata Sarinem, Lintang mengangguk menyetujui.

Sarinem berseru senang.

"Asyik! Mbak Lintang mau pengajian! Besok tak kenalin sama yang cakep-cakep, deh, mbak!" Kata Sarinem lagi. Lintang hanya tertawa.

****

Telefonnya berdering setelah subuh. Lintang melihat siapa yang menelfon. Ternyata Rani!

"Halo! Assalamualaikum, ciin, udah bangun belum?" Suara Rani menggema di seluruh kamar Lintang.

"Waalaikum salaam, ya Allah! Kamu kayaknya yang baru bangun, ya Ran. Di desa, mah, apa-apa harus pagi. Makanya gabung di sini. Kosnya di sini! Biar bangun pagi terus."

Rani tertawa terbahak-bahak.

"Nehik, ya! Sorry dorry, ciin! Nggak level!"

"Hei! Jangan sombong! Di sini orangnya baik-baik, lo!"

"Emang, sih," jawab Rani, disambung tawa oleh Lintang.

"Eh, beb, aku besok ke situ, lo. Ke KAYU DAWUNG! Mau jadi bintang tamu pengajian ustadz Irfan!" Kata Rani sambil sengaja menekan kata Kayu Dawung dengan tandas.

Eh! Tunggu dulu, kesempatan, nih.

"Bener kamu udah tobat? Mau ngaji sama ustadz?" Tanya Lintang menggoda.

"Enak aja! Ngaca, Lin Ce!" Kata Rani mencak, Lintang tertawa melolong-lolong.

"Eh, tunggu-tunggu! Aku boleh minta tolong, nggak, ciin?" Tanya Lintang.

"Boleh, apa Lin?"

"Ambilkan kit ku di rumah, dong. Aku sebenarnya hari ini rencana mau pulang, tapi karena ada satu dan lain hal, aku nggak jadi pulang."

"Waduh! Mencurigakan banget, nih. Aku mengendus sesuatu yang membahayakan!"

"Serius, Ran!"

"Iya, iya. Insya Allah nanti kubawakan kitmu, cinta. Di kamar, kan?"

"Iya, udah kusiapin kemarin dulu. Tinggal angkat aja," jawab Lintang.

"Eh, jangan senang dulu, nona!"

"Heleh! Apa lagi, sih?"

"Ada satu syarat!"

"Apa?" Tanya Lintang malas.

"Ceritain ada apa kanjeng Ratu kok nggak jadi pulang," kata Rani sambil tergelak-gelak.

"Siap! Kuceritain semuanya!" Jawab Lintang.

Mereka bertukar beberapa gosip dan berpisah untuk berjanji bertemu lagi hari ini.

****

Masjidnya tidak jauh dari rumah dinas Polindes, Lintang sering sholat berjamaah di sana. Jalan menuju masjid sangat ramai. Banyak sekali orang yang menyapa Lintang, Lintang menanggapi dengan ramah sebisanya. Sampai dia melihat Sandi berdiri di tepi jalan dengan wajah ditekuk.

Lintang berdebar. Apa maunya orang itu?

Sarinem berjalan dengan gagah melindungi Lintang. Sandi menatap Sarinem dengan marah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, karena banyak orang mendekati Lintang.

Lintang hanya tersenyum ketika melintas di depan Sandi. Lintang berusaha biasa saja, walaupun debar jantungnya tak tertahan lagi. Alhamdulillah, Allah masih melindunginya, Sandi hanya diam tak bergerak, dia hanya menandang penuh kemarahan.

"Lin Ce! Lin Ce!"

Astaghfirullah, suara itu. Benar-benar menghancurkan reputasi! Pikir Lintang dalam hati.

"Astaghfirullah! Rani! Diam, napa?" Desis Lintang marah. Rani tertawa cekakakan.

"Iya, iya! Bu Bidan cantik seperti itik," bisik Rani masih sambil tertawa-tawa.

Lintang mencubit tangan Rani kuat-kuat, tapi Rani malah tambah tertawa-tawa.

"Mana yang ganteng dan bikin galau kamu nggak mau pulang?"

"Idih! Biang gosip banget!"

Mereka tertawa-tawa dan masuk ke dalam masjid bersama.

****

"Ustadz, apa gejala seseorang itu ada jin di dalam tubuhnya?"

"Gejalanya banyak sebenarnya. Dan setiap orang bisa berbeda-beda gejalanya. Tapi secara umum gejala yang bisa muncul adalah sering bersendawa. Bukan bersendawa ketika kita kenyang, ya bapak ibu. Tapi sering bersendawa tanpa sebab, bisa jadi ada gangguan mahluk lain di dalam tubuh kita. Yang kedua sering mimpi buruk. Mimpi buruknya juga bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Bisa jadi mimpi dikejar ular, digigit ular, mimpi di kuburan, mimpi melihat penampakan, bisa jadi mimpi berjalan-jalan dan selalu kesasar," jelas ustadz Irfan. Semua mendengar dengan intens.

"Ada juga yang mudah marah, emosi tak terkendali. Kadang ada juga yang jadi malas beribadah, pusing kalau tilawah, merasa terganggu dengan suara adzan. Bisa juga mimpi makan atau minum dari makanan atau minuman yang tidak lazim. Misalnya, maaf, ya, makan kotoran, makan tanah, misalnya, ada juga yang mimpi disuapi untuk makan atau minum."

"Ada juga yang tiba-tiba bisa meramal masa depan, bisa tahu masa lalu. Ada yang bisa mengobati penyakit. Ada yang mendengar bisikan-bisikan baik atau buruk. Banyak macamnya. Masalahnya apa yang harus kita lalukan kalau ada gelaja seperti itu? Itu yang paling penting. Karena ada yang merasa sudah puas dan sangat senang ketika bisa memprediksi masa depan, senang sekali bisa mengobati orang sakit, padahal kemampuan itu dari jin, dan menolak dihilangkan kemampuannya."

"Salah satu cara mencegah atau menghilangkan mahluk halus dalam diri kita adalah dengan meng-intens-kan ibadah kita. Menambah tilawah kita, semakin mendekatkan diri kita kepada Allah. Seandainya memang kita tidak bisa menanganinya sendiri, kita perlu bantuan orang lain untuk menghilangkan jin itu dari dalam tubuh kita. Tapi sekali lagi kuncinya cuma satu, kita harus benar-benar ikhlash menghilangkan jin itu dari tubuh kita, jangan pernah ada rasa menyesal atau kecewa ketika semua kemampuan dari jin itu hilang dari tubuh kita. Kalau ada setitik rasa kecewa, setitik rasa sedih atas kehilangan semua kemampuan itu, maka itu menjadi pintu gerbang kembalinya jin itu ke dalam tubuh kita."

Rani dan Lintang berpandangan. Mereka berdua merasa ngeri mendengar penjelasan ustadz barusan. Astaghfirullah, naudzubillah min dzalik, semoga terhindar dari hal-hal seperti itu, batin Lintang dalam hati.

"Ustadz surat apa saja yang bisa kita gunakan untuk meruqyah diri kita sendiri, ust?"

"Sebenarnya semua surat dalam al Quran bisa kita bacakan ketika meruqyah seseorang atau diri sendiri. Tapi memang ada beberapa panduan surat tertentu yang sifatnya wajib kita bacakan ketika meruqyah seseorang yang termaktub dalam buku kecil Al Ma'tsurat ini. Untuk lebih jelasnya busa ikut pelatihan ruqyah di pondok pesantren saya," kata ustadz Irfan sambil mengangkat sebuah buku kecil.

"Buku ini kecil, tapi firman Allah di dalamnya bisa mencegah gangguan mahluk halus, gangguan kejahatan dan gangguan keburukan kehidupan di dunia. Monggo, bapak ibu dibaca pagi dan sore, sholatnya, tilawahnya dikencengin, ibadah sunnahnya ditambah, dirutinkan, karena jin sangat tidak suka dengan ibadah sunnah. Insya Allah biidznillah itu adalah cara mencegah masuknya jin dan gangguan jin ke dalam tubuh kita. Silahkan dicoba, silahkan dibuktikan."

"Oke, lanjut ke pertanyaan yang paling banyak ditanyakan kepada saya. Apa saja syarat untuk menjadi seorang peruqyah? Nah, sebenarnya tidak ada syarat khusus, bapak ibu, yang penting semua kita niatkan karena Allah, kita niatkan dengan ikhlash, insya Allah dengan terus menuntut ilmu kita semua, siapa saja, pasti bisa jadi peruqyah. Syarat yang kedua adalah yakin atas kekuatan dan kekuasaan Allah pasti bisa mengatasi kekuatan jin, jangan pernah ada setitik pun keraguan akan hal itu ketika meruqyah. Kalau kita takut, setetes saja, maka bisa dipastikan kita akan kalah dan jin itu akan memiliki celah untuk menaklukkan kita."

Lintang terdiam. Entah kenapa dia jadi teringat plastik berisi daun kering kemarin. Tiba-tiba pikiran itu terlintas begitu saja. Hal itu membuatnya merinding. Apa hal itu ada hubungannya dengan mahluk gaib, ya?

****

Rani memandang Lintang tak percaya.

"Tunggu! Kantung plastik berisi daun kering? Kok sama, Lin? Dulu waktu aku pulang dari sini aku kan juga jatuh, terus waktu ditolongin orang, nah habis ditolongin aku diberi kantung plastik. Kupikir ya kantung plastik isi oleh-oleh dari pamanku. Eh, waktu kubuka di rumah isinya daun kering, ya, udah kubuang aja."

Lintang berfikir sejenak.

"Kira-kira maksudnya itu apa, ya, Ran?" Tanya Lintang. Rani mengangkat bahu. Mereka sama-sama tidak tahu.

****

Sosok itu mendesah puas. Sudah beberapa hari tumbalnya kosong, tapi acara pengajian hari membawa berkah rupanya. Dia berhasil membawakan sebuah kantung plastik berisi uang itu untuk seorang pengunjung yang sepertinya bukan dari Kayu Dawung. Tinggal kita lihat hasilnya malam ini atau mungkin besok. Dia tersenyum lebar.

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED