Rani menyesal tidak menuruti nasihat ibunya untuk tidak pergi ke rumah paman terlalu sore. Tapi Rani ngeyel. Demi mengambil oleh-oleh lumpia basah dari Semarang, Rani langsung bergegas menuju ke rumah pamannya, padahal ketika berangkat tadi sudah hampir jam lima sore.
Rumah pamannya tidak jauh, sih, hanya sekitar seperempat jam dengan mengendarai motor. Tapi lihat hasilnya sekarang.
Rani terjatuh dari motor, celananya kotor, motornya lecet, kakinya sedikit berdarah, sepertinya tidak terlalu parah.
Tapi menjelang maghrib begini tidak ada orang yang berada di luar dan membantunya. Rani hampir menangis.
Untunglah ada seorang pria yang nampaknya baru pulang dari sawah. Dia segera membantu Rani.
"Nggak papa, mbak?" tanya pria itu.
Rani menggelengkan kepalanya.
"Kayaknya nggak papa, mas," jawab Rani.
Pria itu memperhatikan Rani menggerak-gerakkan pergelangan tangannya.
"Bisa naik motor? Apa saya antar ke rumah bu bidan? Nggak jauh, kok, dari sini?"
Rani langsung menggelengkan kepalanya. Gawat! Jangan sampai diperiksakan, dia takut jarum suntik.
"Atau saya antar, mbak?" tanya pria itu.
Rani menggeleng lagi.
"Insya Allah nggak papa, mas. Insya Allah saya bisa bawa motor sendiri, rumah saya deket, kok," jawab Rani, dia harus buru-buru pulang, ibunya pasti kebingungan.
"Oke, deh, kalau begitu," jawab pria itu, "Eh, tunggu, mbak! Ini tasnya ada yang jatuh!" Kata pria itu mengambil sebuah tas plastik dari tanah.
Rani menerimanya dengan suka cita. Aduh! Hampir saja lumpia basah penuh perjuangannya ketinggalan. Rani meringis sendiri, dan segera berpamitan, karena kumandang adzan maghrib sudah terdengar di kejauhan.
****
Rani sampai di rumah setelah maghrib. Dia langsung mandi dan mengambil air wudhu dan sholat maghrib di kamar. Alhamdulillah bapak dan ibunya masih di masjid, jadi tidak dimarahi karena pulang sore.
"Ran! Kamu sudah pulang?"
"Sudah, bu!"
"Paman gimana, sehat, kan?"
"Iya, bu. Alhamdulillah."
"Besok lagi kalau mau ambil oleh-oleh jangan sore-sore, ya, Nak?"
Rani mengangguk sambil tersipu malu. Malu mengakui kalau nasihat ibunya itu benar semua.
Rani segera mengambil kantung plastik berisi lumpia basah tadi. Dia keheranan ketika ada dua buah kantung plastik di motornya.
"Loh, kok ada dua? Tadi kan dikasih paman cuma satu?" gumam Rani penasaran.
Rani langsung membuka kedua kantung plastik itu. Yang satu memang isinya benar lumpia basah, yang membuat Rani rela jatuh dari motor.
Kantung yang kedua dibuka.
"Astaghfirullah!" seru Rani, "kok daun kering, sih? Nggak bener, nih, paman!" gumam Rani lagi. Tanpa basa basi dia langsung membuang kantung plastik itu ke tempat sampah dan masuk ke dalam rumah.
Dia melupakan kantung plastik berisi daun kering itu.
****
Nun jauh di suatu tempat. Seorang pria terhenyak. Korbannya kali ini seorang yang taat beribadah. Gagal rencananya mendapat tumbal. Dia harus mencoba lagi. Malam itu dia sengaja keluar dan menggali jalan di depan rumahnya, untuk menjebak kendaraan kecil seperti motor, agar jatuh atau terpeleset di sana, dan dia bisa mendapatkan tumbalnya.
****
Hujan mengguyur desa Kayu Dawung sejak pagi. Pak Kades pusing. Begitu banyak jalan yang rusak dan berlubang di desanya. Beberapa warga telah melapor banyak terjadi kecelakaan kecil karena jalan yang berlubang itu. Dia harus segera bertindak. Besok dia akan merapatkan semua keluhan warga dengan stafnya.
"Pak! Pak Kades! Ada laporan warga yang hilang!" teriak pak Carik dari luar. Seluruh tubuh pak Carik basah kuyup. Dia tidak mau masuk, hanya menunggu di teras.
Pak Kades segera keluar menemuinya.
"Siapa, pak?"
"Saya kurang tahu namanya, tapi dia warga Kayu Gintung. Dekat rumah pak Kades," jawab pak Carik.
Pak Kades terperangah. Ini kali kedua warga di daerahnya menghilang. Mereka berdua berpandangan dalam diam.
"Saya pulang dulu saja, pak. Mau ganti baju, sekalian mau pamit pulang lebih awal," kata pak Carik memecah kesunyian.
Pak Kades mengiyakan. Memang kasihan melihat pak Carik yang basah kuyup seperti itu. Lebih kasihan lagi kalau pak Carik disuruh kembali ke kantor, bisa masuk angin nanti.
Setelah pak Carik pergi, Pak Kades pun segera masuk lagi ke dalam kantornya, cuaca semakin memburuk. Hujan angin bertambah deras. Pak Kades ingat rumahnya sendiri, dia berdoa semoga tidak bocor.
***
Kabar hilangnya pak Trubus menyebar dengan cepat. Warga berkumpul di rumah pak Trubus sore itu, setelah hujan reda. Halaman rumah pak Trubus yang becek dan licin tidak menyurutkan niat warga untuk membantu keluarga pak Trubus.
"Bisa cerita lagi, Mak, kejadiannya awalnya gimana?"
Mak Irah, istri pak Trubus pun mulai bercerita.
"Setelah mbantu aku menata dagangan di pasar, pak Trubus bilang mau ke bank. Alhamdulillah ada rejeki kemarin," kata mak Irah.
"Aku sempet tanya rejeki apa, dia bilang sudah dibayar oleh juragannya. Aku mikirnya tumben amat uang bayaran di tabung, biasanya dikasihkan aku semua. Waktu hujan mulai turun, kira-kira jam sepuluhan, dia bilang ada kerjaan sama Kardi, terus bilang nggak bisa bantuin saya pulang. Habis itu sampai sekarang belum pulang juga. Waktu aku nanya Kardi, katanya dia nggak pernah ngajak pak Trubus buat kerja bareng, karena pak Kardi juga lagi nggak ada kerjaan," cerita mak Irah panjang lebar.
Orang-orang berpandangan.
"Si Kardi di mana sekarang?" celetuk seseorang.
"Kardi lagi di tanyain pak polisi terkait kasus ini," jawab pak Kades yang langsung ke rumah pak Trubus setelah pulang dari kantor.
Orang-orang bergumam dan bercakap-cakap dengan suara rendah. Mereka saling bertanya kemana gerangan pak Trubus. Sebenarnya cukup mengkhawatirkan seandainya pak Trubus pergi jauh, karena dia sudah tua, tidak biasa pergi jauh, apalagi sampai ke luar desa atau ke kota sendirian tanpa teman. Mak Irah nampak sangat lelah dan sedih. Dia memang tidak menangis histeris, dia beberapa kali mengusap air matanya. Anak-anak pak Trubus yang tinggal di kota sudah berdatangan, berinisiatif melapor ke kantor polisi dan aparat desa setempat.
"Mak Irah, saya pamit ganti baju dulu, ya, Mak. Nanti saya ke sini lagi," kata pak Kades pamit pulang. Rasanya kurang pantas berlama-lama di sini.
"Iya, pak. Matur nuwun pak Kades," jawab Mak Irah.
Salah seorang anak pak Trubus mengantarkan pak Kades keluar.
"Pak, menurut pak Kades, bapak saya ke mana, ya? Bapak kayaknya nggak pernah ada masalah sama emak," kata Indro dengan sedih.
"Sabar, ya, Ndro. Memang biasanya bapakmu nggak pernah nganeh-nganehi. Biasanya ya biasa saja, sering bareng ke musholla, sering ngobrol masalah desa juga. Aku kaget denger yang hilang itu bapakmu," jawab pak Kades menghibur.
"Apa ke rumah gendaane (gundik), ya pak?"
Pak Kades kaget.
"Halah! Pikiran apa itu, Ndro? Jangan suudzon." tegas pak kades.
Indro hanya tersenyum tipis. Tapi dia lebih berharap bapaknya pergi ke rumah wanita lain, daripada tidak jelas seperti ini.
***
Malam hari Kayu Gintung hujan lagi, bahkan lebih deras daripada tadi siang. Semua orang lebih memilih berada di dalam rumah daripada membantu mencari pak Trubus yang hilang. Keluarga pak Trubus benar-benar sedih.
Tapi nun juah di sana, seorang pria tersenyum lebar dan sangat berbahagia melihat sebuah karung teronggok di tengah kamar kosong di rumahnya. Berarti tumbalnya sudah diterima oleh para penghuni curug.
Pria itu membuka karung itu dengan hati-hati. Ketika melihat isinya, senyumnya tambah lebar. Uangnya bertambah sekarung lagi.
****
Pak Kades baru saja menuruni satu anak tangga musholla, ketika mendengar seseorang berteriak.
"Pak Trubus ketemu! Pak Trubus ketemu!" teriak orang itu sambil berlari ke rumah pak Trubus. Segera saja terjadi keributan, karena orang-orang berlarian ke rumah pak Trubus, termasuk pak Kades.
Di sana sudah ramai warga yang berdatangan. Mereka kebanyakan penasaran dan ingin tahu kondisi pak Trubus. Banyak gumaman yang mengatakan pak Trubus tenggelam di sungai, ada yang bilang pak Trubus ditemukan tersangkut di pohon bambu. Belum ada yang tahu mana yang benar.
Pak Kades merangsek ke depan. Orang-orang segera memberi jalan.
"Polisi sudah dipanggil?" tanya pak Kades pada beberapa orang.
"Sudah, Pak. Mereka langsung ke sini," jawab Marwan.
"Siapa yang menemukan pak Trubus?" tanya seseorang.
"Saya, pak," jawab seseorang di tengah keramaian. Secara perlahan orang-orang diam, dan mencari sumber suara.
"Lho, kamu Nang?" teriak pak Kades.
"Njih, pak. Ketika saya hendak berangkat ke sawah saya menyebrangi sungai perbatasan, waktu saya sudah sampai di tepi sungai saya melihat jenazah pak Trubus disampirkan di batang pohon bambu," jelas Nanang, keributan tercetus lagi.
"Sungai perbatasan Kali Kuning, Nang?" tanya pak Kades.
"Iya, pak," jawab Nanang lagi.
"Wah, Kali Kuning, kan sungainya angker, pak Kades!"
"Wah, digondol wewe itu."
"Bener! Pohon bambu kan, rumahnya wewe."
"Astaghfirullah! Kok bisa, ya orang tua digondol wewe. Biasanya kan, anak-anak."
Gumaman itu meluas, seperti suara dengungan lebah. Pak Kades tak kuasa, dia segera masuk ke dalam rumah.
Jenazah pak Trubus yang ditutup kain seadanya terlihat sudah menggelembung, mungkin sudah sejak kemarin siang atau sore dia tenggelam. Baunya sudah busuk.
Mak Irah pingsan di kamar, ditemani beberapa tetangga dan anak perempuannya. Yang menunggui jenazah pak Trubus hanya Indro dan Suryo, anak pak Trubus.
Ketika melihat pak Kades, Indro langsung bangkit.
"Pak, kami ingin memandikan jenazah bapak," kata Indro.
Pak Kades mengangguk.
"Tunggu sebentar, ya, Ndro. Kita tunggu pak polisi dulu sebentar," jawab pak Kades. Indro mendesah dan terduduk lemas lagi.
Dia sedih karena kemarin berpikiran mungkin bapaknya pergi ke rumah wanita lain, tapi daripada seperti ini, mungkin lebih baik bapaknya masih hidup walaupun mungkin dia pergi ke rumah wanita lain.
Indro menghembuskan nafas panjang. Dia memikirkan ibunya. Dengan siapa ibunya akan tinggal di rumah ini nantinya? Dia dan adik-adiknya semua tinggal di kota, mereka tidak tahan dengan jalan di desa Kayu Dawung yang selalu rusak parah dan membuat perjalanan ke kota semakin lama.
****
Sebelum jam tujuh rombongan polisi dan tenaga medis sudah tiba. Mereka segera mendirikan tenda di depan rumah pak Trubus. Mereka memasang garis polisi dan melarang orang-orang untuk masuk.
Keluarga pak Trubus dan warga dusun Kayu Gintung menunggu di jalan dengan resah. Termasuk pak kades dan pak kadus. Mereka agak menjauh dari warga, mereka berbisik-bisik.
"No! Gimana ini? Ini sudah kasus kedua, lo di Kayu Gintung," kata pak Kadus yang kebetulan adalah kakak kelas pak Kades di SMA dulu.
Pak Kades menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku nggak, tahu, Mas. Pusing aku! Mikirin komplenan setiap hari. Ada saja yang jatuh di jalan masuk desa kita. Dari arah Kali Kuning, Kayu Giyang sama Kayu Gintung, semua jalannya jebol. Padahal sudah tiga kali perbaikan tahun ini. Permohonan bantuan perbaikan jalan yang keempat ditolak, Mas. Mumet aku!" kata pak Kades meremas-meremas rambutnya.
Pak Kadus tertawa.
"Kok bisa, ya? Kalau dari Kali Kuning mungkin bisa. Kan, ada peternakan sapi di sana. Setiap hari ada truk besar yang lewat, kan?" kata pak Kadus.
Pak Kades mengangguk.
"Entahlah, Mas. Nanti sekalian kita lapor lagi sama pak polisi saja, ya, Mas," kata pak Kades, pak Kadus mengangguk setuju.
****
Mereka berkumpul di rumah pak Kades beberapa hari kemudian. Ada pak Kapolsek, ada beberapa ajudan pak Kapolsek, ada seorang dokter, bidan dan tenaga paramedis, ada pak Kadus Kayu Gintung, beberapa sesepuh desa dan pak Kades. Mereka mengelilingi meja tamu pak Kades yang besar.
"Jadi kami sudah selesai melakukan pemeriksaan," kata pak kapolsek membuka pertemuan itu, "kami sudah memiliki hasilnya yang nanti akan diberitahukan pak dokter nanti. Kami mengucapkan terima kasih atas kerja samanya dan bantuan yang diberikan warga Kayu Dawung."
"Sama-sama, pak. Kami sangat berterima kasih bapak kapolsek sendiri sudah bersedia datang ke sini," jawab pak Kades.
"Iya, pak. Ini kedua kalinya warga Kayu Gintung hilang dan meninggal, ya pak?"
"Ini baru pertama yang meninggal, pak. Korban hilang yang pertama belum ketemu," jawab pak Kades. Hatinya mencelos, sedih, marah sekaligus bingung.
"Monggo, pak dokter. Silahkan dibacakan hasil pemeriksaan hari ini," kata pak Kapolres kemudian.
Pak dokter itu mengangguk, berterima kasih dan membacakan laporan kematian yang penuh dengan istilah-istilah kedokteran yang panjang dan membingungkan para penontonnya. Rupanya pak dokter paham. Dia berhenti membaca dan tersenyum.
"Intinya pak Trubus diperkirakan sudah meninggal sekitar pukul dua atau tiga sore kemarin. Sebab kematian adalah kurangnya sirkulasi atau penyebaran oksigen di otak. Bukan hal yang biasa terjadi pada orang yang meninggal tenggelam. Biasanya kalau orang tenggelam akan meninggal karena paru-parunya penuh dengan air, baru menyebabkan kekurangan oksigen pada otak. Tapi tidak pada pak Trubus. Dan juga nampak ada jaringan kulit yang terkelupas di daerah leher seperti tercakar, luka khas pada orang yang tercekik."
Orang yang berada di ruangan itu berseru terkejut.
"Astaghfirullah!"
"Innalillahi! Berarti ini pembunuhan, pak?"
"Ya Allah, berarti pak Trubus sudah meninggal sebelum diceburkan ke sungai, pak?"
Pak dokter mengangguk.
"Dugaan bapak-bapak benar. Pak Trubus sudah meninggal sebelum ditenggelamkan di sungai. Penyebab meninggalnya adalah karena dicekik," jawab pak dokter.
Pak Kades beristighfar beberapa kali. Ya Allah, ujian apa lagi ini? Tiba-tiba pak Kades ingat tentang Kardi.
"Bagaimana dengan Kardi, pak? Kemarin, kan, dia yang mengajak pak Trubus untuk bekerja bersama, kan?"
Salah seorang ajudan pak Kapolres mengangguk.
"Benar, pak Kades. Kemarin hasil interogasi dengan Kardi adalah bahwa Kardi mendapat SMS dari nomor yang tidak dikenal, diminta untuk mencarikan orang untuk menambal jalan di arah Kali Kuning. Kemudian Kardi menyuruh pak Trubus untuk membantu orang misterius itu. Pak Trubus nanti diminta menunggu di depan musholla Kali Kuning, nanti katanya akan ada yang menemui di sana. Nomor yang menghubungi Kardi sudah kamu coba hubungi, tapi tentu saja sudah tidak aktif. Kami mencoba mencari keterangan warga sekitar Kali Kuning, tapi nihil, karena pagi itu hujan deras, hampir tidak ada warga yang berada di luar rumah."
Penjelasan polisi itu membuat pak Kades tambah pusing dan memijit-mijit pelipisnya. Dia merasa sangat lelah.
****
Lintang menghela nafas panjang.
"Astaghfirullah! Ini jalan apa kali asat (sungai kering), sih! Kok dari tadi batuu terus!" Gerutu Lintang berusaha mengendalikan motor maticnya. Beberapa kali dia hampir terpeleset dan jatuh.
Dia memang salah memilih jalan. Dia sebenarnya sudah tahu dari sahabatnya, Rani, bahwa desa Kayu Dawung ini dikelilingi oleh jalan yang rusak. Di sebelah utara ada jalan berlubang-lubang menuju ke dusun Kayu Gintung, di sebelah timur ada jalan berbatu-batu menuju dusun Kayu Giyang, dan dari barat ada jalan berbatu, berlubang dan licin, menuju dusun Kali Kuning.
Tapi jalan masuk dari dusun Kali Kuning memang yang paling parah. Dan anehnya, Lintang memilih jalan itu. Dan, akhirnya Lintang terjatuh juga dari motornya.
Baju putihnya langsung penuh dengan lumpur. Untung dia sempat melompat sebelum motornya jatuh, jadi lukanya tidak terlalu parah. Tapi pergelangan tangannya sakit sekali, mungkin terkilir.
Aduh! Mana sepi lagi, Lintang berusaha mencari bantuan, tapi hampir tidak ada orang sama sekali. Aduh! Padahal dia harus ke Polindes jam sepuluh, sekarang sudah setengah sepuluh, dan dia tidak bisa mengangkat motornya sama sekali.
"Mbak jatuh, ya?"
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Lintang. Lintang menoleh. Dilihatnya seorang lelaki memakai celana pendek dan kaus pendek, tubuhnya kekar. Dia memakai caping.
Tanpa menunggu jawaban lelaki itu langsung membantu menaikkan motor Lintang. Beberapa orang dari rumah di pinggir jalan itu juga keluar setelah mendengar teriakan sang lelaki.
"Ya Allah, ada yang jatuh lagi, ya, San?"
"Iya, bu. Kasihan sekali mbaknya kayaknya tangannya sakit, ya mbak?"
Lintang mengangguk, dia memegangi pergelangan tangan kirinya yang nyeri.
"Sini mbak, masuk dulu. Ganti baju sama diobati tangannya," kata seorang ibu, yang sepertinya pemilik rumah itu. Lintang menurut, sepertinya tidak mungkin menghadap pak Kades dalam kondisi seperti ini.
Di dalam dia langsung disuruh mandi dan berganti baju, bahkan dia diminta makan.
"Makan dulu! Syaratnya orang bertamu, ya harus makan dulu!" Kata ibu yang baik hati itu, "San, ini lo, mbaknua ditemani makan, kasian sendirian," lanjut si ibu memanggil lelaki yang menolong Lintang tadi.
Ternyata lelaki itu diminta tetap menunggu Lintang, karena si ibu memintanya mengantarkan Lintang setelah ini.
"Mbaknya bidan yang baru, ya?"
"Wah! Kok ibu tahu, bu? Saya sebenarnya di sini hanya untuk membantu bu Indah Restu mendata dan membantu melayani pasien di polindes sampai dokter dan perawat tetapnya datang, bu," jelas Lintang.
"Oh, gitu. Iya, ya, di sini jarang yang bertahan lama dokternya, alasannya jalan masuk desa yang sulit. Jalan kaki saja sulit, apalagi naik motor. Aduh! Udah berapa kali motor jatuh di depan rumah saya ini!" Keluh sang ibu.
Lintang manggut-manggut, jalan yang dilaluinya tadi memang luar biasa mengerikannya, apalagi sepertinya kemarin baru hujan, licinnya minta ampun.
"Tangannya gimana, mbak?" Tanya sang lelaki muda.
Secara refleks Lintang menggerak-gerakkan pergelangan tangan kirinya.
"Alhamdulillah, sudah tidak sakit, mas. Mungkin tadi kaget waktu jatuh," jawab Lintang.
"Alhamdulillah. Oh, ya, mbaknya ini namanya siapa? Sampai lupa, nama saya Partini, suami saya namanya Suwagino, biasanya saya dipanggil Bu Gino. Nah, yang mbantu mbak tadi namanya Sandi, dia rumahnya di belakang rumah saya ini," jelas sang ibu. Lintang mengangguk.
"Saya Lintang, bu. Salam kenal," mereka berjabatan.
Lintang tersipu saat berjabatan dengan lelaki bernama Sandi tadi. Lelaki itu hanya tersenyum.
"Biar nanti diantar Sandi, mbak. Sandi, kan orang sini, sudah biasa lewat jalan ini. Biar cepat sampai juga," kata bu Gino. Lintang mengangguk.
"Matur muwun sekali, bu. Sudah diterima dengan baik," kata Lintang ketika berpamitan.
"Iya, mbak. Semoga betah di sini, ya, mbak. Kalau butuh bantuan nyuruh orang saja ke sini, insya Allah kami bantu," kata bu Gino tulus. Lintang mengangguk dan kemudian meneruskan perjalanan dengan Sandi.
"Mbak Lintang!" Seru Sandi ketika mereka naik motor.
"Ya, mas!" Jawab Lintang sambil berteriak juga, karena Sandi mengendarai motor dengan cepat.
"Tadi itu orang terkaya di Kayu Dawung, mbak! Punya peternakan sapi besar di belakang rumah saya!"
Lintang diam, dia sedang mencatat dalam hati.
"Orangnya baik! Suka menolong mbak!" Teriak Sandi lagi.
"Iya, mas!" Jawab Lintang, percakapan ini agak sulit karena angin bertiup cukup kencang. Sandi masih berbicara banyak hal, Lintang hanya mendengarkan saja, sulit sekali harus menjawab sambil berteriak-teriak seperti itu.
Rasanya perjalanan melewati jalan berbatu itu lama sekali, hingga akhirnya mereka sampai di jalan aspal mulus dan cukup luas.
Lintang bernafas lega. Rupanya Sandi tahu Lintang sudah lega, dia tertawa.
"Ya, inilah Kayu Dawung, mbak! Selamat datang di Kayu Dawung!" Kata Sandi.
Lintang tertawa.
"Tuh, di depan sudah kelihatan balai desa dan polindes," kata Sandi. Dari belakang Lintang melongokkan kepalanya. Tidak buruk juga, nampaknya Kayu Dawung desa di pegunungan yang cukup maju, tapi kekurangannya adalah jalan masuk yang cukup sulit itu.
"Sudah sampai, mbak," kata Sandi, kemudian memarkir motor Lintang di depan balai desa.
"Alhamdulillah," bisik Lintang segera turun dari motor. Dia menelan ludah, perjalanan yang luar biasa.
Dari dalam ada beberapa orang yang menyambut Lintang. Seorang lelaki tinggi kurus, berwajah ramah, memakai seragam warna khaki dengan senyum lebar di wajahnya itu sepertinya pak Kades. Dia menyambut Lintang dengan suka cita, seakan-akan ingin memeluk Lintang. Di belakangnya ada seorang wanita berjilbab dan berkacamata, yang langsung dikenali Lintang sebagai bu Indah Restu, bidan desa Kayu Dawung.
"Alhamdulillah!" Seru bu Indah Restu, "Katanya kamu jatuh, ndhuk?" Tanya bu Indah memeluk Lintang erat-erat.
Lintang terperangah.
"Nggak usah kaget. Di sini berita cepat tersebar. Tadi bu Gino sudah nelfon saya," kata bu Indah tersenyum lebar.
Pak Kades langsung menyalami Lintang.
"Selamat datang, mbak Lintang! Selamat datang di Kayu Dawung!" Kata pak Kades berapi-api. Lintang sampai kewalahan.
Beberapa orang lain juga menyambut Lintang, Lintang jadi merasa malu sendiri, serasa selebriti.
"Matur nuwun, ya San. Ayo, masuk dulu. Nge-teh dulu," kata seorang wanita yang ikut menyambut Lintang.
"Matur nuwun, bu. Tadi saya malah sudah makan di tempat bu Gino, sudah kenyang. Saya mau ngarit (cari rumput) lagi," jawab Sandi. Lintang baru ingat, bagaimana Sandi bisa pulang? Apa jalan kaki.
Seperti membaca pikiran Lintang, pak Kades menjawab sambil tertawa.
"Jangan khawatir mbak Lintang! Sandi rumahnya ada banyak! Dia bisa ambil ambil motor di rumah ibunya di belakang sini, tenang saja!" Kata pak Kades, disambut tawa orang yang lain. Lintang tersipu malu. Aduh! Ketahuan, deh.
****
Sore harinya Lintang sudah tiduran di rumah dinas Polindes. Letaknya di tengah desa, jadi lumayan ramai. Lagipula, pak Priyatno, pak Kades, dengan baik hati menyediakan seorang teman yang juga melayani semua kebutuhan Lintang, namanya Sarinem.
Sarinem adalah seorang gadis remaja, mungkin umurnya sekitar lima belas atau enam belas tahun. Dia pintar memasak dan lumayan lincah dalam bekerja. Lintang sudah suka pada Sarinem, sejak pertama mereka bertemu.
Tok tok tok
Lintang terbangun. Apa benar ada suara ketukan?
Tok tok tok
Oh, ya. Memang benar. Lintang segera memakai jilbabnya. Ternyata pintu sudah dibukakan Sarinem.
"Eh, mas Dimas. Monggo, mas," kata Sarinem, terdengar gumaman menjawab. Terdengar langkah kaki masuk ke dalam ruang tamu.
"Mbak bidannya ada?" Tanya sang tamu, bertepatan dengan Lintang keluar kamar.
"Oh! La itu mbak Lintang. Mbak ini, dicari mas Dimas!" Kata Sarinem dan kemudian langsung menuju ke dapur.
Lintang berjalan perlahan. Sepertinya dia pernah melihat pria ini, tapi tidak di sini. Apa di kota?
"Monggo, mas," kata Lintang dan segera duduk di hadapan tamu yang sepertinya namanya Dimas itu.
"Njih, mbak. Matur nuwun. Saya Dimas mbak, saya anaknya pak Kades. Saya diminta ke sini untuk memeriksa motornya mbak Lintang. Katanya tadi jatuh, ya mbak?" Kata Dimas. Mendengar itu tiba-tiba Lintang ingat sesuatu, dia pernah melihat Dimas di papan iklan bengkel di dekat rumahnya di kota sana. Oh, ya! Sepertinya mas Dimas ini punya bengkel di kota.
"Mbak! Mbak Lintang!" Panggil Dimas keras, membuat Lintang tersadar dari lamunannya.
"Eh, mas Dimas yang punya bengkel di jalan Senopati deket kampus, kan?" Lintang malah balik bertanya. Dimas terkejut, sekaligus terheran-heran, cewek aneh, pikir Dimas.
"Iya, mbak. Kok mbaknya tahu?"
"Rumah saya, kan di belakang bengkelnya mas Dimas. Maaf, ya mas, malah jadi ngelantur. Soalnya tadi kayak pernah lihat gitu, tapi lupa di mana," jawab Lintang sambil tersenyum.
"Eh, iya, mbak nggak papa," jawab Dimas, dia juga tersenyum, lumayan juga jadi orang terkenal, jadi disapa cewek cantik, seperti Lintang ini.
"Motornya di mana, mbak?" Tanya Dimas lagi.
"Sudah saya masukkan garasinya pak Rahmat, mas. Tadi katanya suruh nitip di situ," jawab Lintang merasa bersalah. Sebenarnya dia juga tidak ingin segera memasukkan motornya seawal ini, tapi tubuhnya lelah, dia ingin cepat tidur.
"Oh, di garasinya pak Rahmat! Siip! Yuk, mbak, kita ke sana! Biar saya nggak salah motor!" Jawab Dimas. Lintang melongo. Dimas tertawa.
"Garasinya pak Rahmat, kan memang disewakan untuk parkir kendaraan. Nggak papa, kok kita ambil kendaraannya siang atau malam," jelas Dimas.
Lintang tersipu malu.
Mereka berjalan menuju ke garasi pak Rahmat, ternyata memang banyak kendaraan yang dititip di sini. Lintang jadi ingat untuk segera menanyakan berapa biaya sewa garasi di sini.
"Motornya yang mana, mbak?"
"Yang putih hitam, mas."
"Yang ini?"
Lintang mengangguk. Dia membiarkan Dimas memeriksa motornya, Lintang melihat berkeliling. Motor yang titipkan lumayan banyak juga, Linta sudah merasa suka dengan desa Kayu Dawung, dia merasa nyaman berada di sini.
"Mbak Lintang, saya sudah periksa motornya. Sepertinya tidak ada kerusakan serius. Ini, ada kantung plastik yang ketinggalan di motornya mbak. Takutnya makanan," kata Dimas memberikan kantung plastik warna hitam pada Lintang.
Lintang mengkerutkan keningnya. Plastik isi makanan? Kayaknya dia tadi hanya bawa tas isi baju dan buku. Tapi dia menerima plastik itu juga.
"Saya permisi dulu, ya mbak. Besok kalau ada apa-apa WA saya saja," kata Dimas, "Ini nomor saya, mbak," kata Dimas lagi. Mereka saling bertukar nomor HP dan berpisah.
Setibanya di rumah dinas, Lintang langsung membaringkan dirinya di tempat tidur. Dia lelah sekali.
****
"Mbak, ini kok ada plastik isi daun kering?" Tanya Sarinem ketika Lintang sedang sarapan.
"Apa mbak?"
"Ini lho, mbak," kata Sarinem sambil membawa sekantung plastik isi daun kering ke depan Lintang. Lintang melongo.
"Ini ada di ruang tamu tadi. Mungkin mbak Lintang bawa waktu keluar liat motor kemarin."
Oh, iya, kantung plastik yang kata Dimas mungkin isinya makanan. Tapi kok isinya daun kering. Aneh.
"Dibuang aja, ya, mbak?" Tanya Sarinem lagi, Lintang mengangguk sekilas. Dia sedang berpikir.
****
Sosok itu berteriak marah.
"Kurang ajar! Kenapa sekarang orang banyak yang rajin ibadah!" Dia menggebrak meja di kamarnya dengan keras.
Sekali lagi tumbalnya gagal kali ini.
****
Tak terasa sudah satu minggu Lintang berada di desa Kayu Dawung, di pusat desa tepatnya. Dia belum sempat berkeliling desa, dia sibuk sekali melayani para pasien yang datang ke Polindes. Mereka antusias ingin bertemu Lintang sang bidan muda nan cantik, tapi Lintang tidak memperdulikan hal itu. Dia memang bercita-cita mengabdi pada masyarakat dan merasa menjadi orang yang berguna.
Sebenarnya Lintang tahu ada beberapa lelaki yang datang ke Polindes hanya untuk menggodanya, tapi dia melayani mereka semua dengan suka cita dan sempurna. Tidak terlalu dipikirnya godaan dari bu Indah, dia tetap fokus berkerja melayani pasien dengan penuh keramahan.
Siang itu bu Indah dan Lintang hendak bersiap-siap menutup Polindes ketika beberapa orang berlari ke arah Polindes dengan panik.
"Bu bidan! Bu bidan tolong, bu!" Teriak beberapa lelaki.
"Ada apa, pak?" Tanya bu Indah, dia berlari keluar Polindes sambil membawa tas perlengkapannya.
"Ada yang mau melahirkan, bu. Di jalan depan rumah pak Haji!"
"Astaghfirullah! Ayo Lintang, bawa perlengkapanmu!"
Lintang segera mengikuti bu Indah. Mereka tidak menggunakan sepeda motor, sepertinya rumah pak Haji tidak terlalu jauh.
Ternyata dugaan Lintang benar, dari kejauhan sudah terlihat orang yang berkerumun. Mereka segera memberi jalan bu Indah dan Lintang.
Seorang wanita muda dalam kondisi hamil besar, terduduk di depan rumah pak Haji yang besar. Di belakangnya ada seorang lelaki setengah baya berkulit legam yang nampak khawatir.
"Asri, sabar, ya. Sabar, ya, sayang," bisik lelaki tengah baya itu beberapa kali.
Bu Indah memeriksa wanita muda itu.
"Sudah lengkap bukaannya, kita gotong ke Polindes, ya, mbak."
"Sakiit, mas! Sakit," keluh sang wanita, mencengkeram baju sang lelaki. Nampaknya wanita itu benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Sang lelaki tengah baya menelan ludah, dia nampak tidak tega.
"Di sini saja, bu bidan! Di rumah saya saja," kata bu Haji, dia sepertinya tidak tega, karena ada banyak orang yang menonton di luar.
Akhirnya semua sepakat. Beberapa pria segera bersama-sama membawa wanita bernama Asri itu ke rumah pak Haji. Mereka masuk ke salah satu kamar di rumah bu Haji.
Beberapa wanita dengan suka rela membantu bu Indah dan Lintang mempersiapkan kelahiran sang wanita. Para lelaki menunggu di ruang tamu, menemani calon bapak yang nampak galau
"Tenang saja, pak. Insya Allah dengan bu Indah dan mbak Lintang mbaknya bisa melahirkan dengan sehat dan selamat," hibur pak Haji.
"Iya, pak," kata lelaki itu, menutupi kegugupannya.
"Bapak ini dari mana, pak? Kayaknya bukan orang Kayu Dawung, ya?"
"Iya, pak. Saya dari Tintrim. Istri saya yang dari Kayu Gintung."
Mereka berpandangan keheranan.
"Oh, mbaknya tadi istrinya bapak?"
Lelaki itu menganggukkan kepalanya.
"Namanya siapa, pak istrinya? Dari Kayu Gintung, ya?"
"Namanya Asri, pak. Anaknya pak Abdullah juragan kerupuk," jawab lelaki itu.
"Oalah, anaknya mbah Dullah, to. Maaf, ya, pak, tadi saya kira anaknya," kata pak Haji. Orang-orang tertawa.
"Kenalkan saya Pak Haji, nama asli saya Nuruddin, biasa dipanggil pak Nur atau pak Haji," kata pak haji.
Lelaki tadi menyambut uluran tangan pak Haji.
"Saya Supri, pak. Saya biasa dipanggil pak RT walaupun sudah lama tidak menjadi RT."
****
Kelahiran anak pak RT berjalan lancar. Bayi dan ibu semua sehat. Bu Haji mempersilahkan pak RT dan istrinya Asri tetap berada di rumahnya, sehingga bisa mudah diperiksa Lintang. Pak RT sangat bersyukur dan berterima kasih pada kebaikan pak Haji.
Keesokan harinya keluarga Asri, yang dikenal warga desa Kayu Dawung dengan nama Mbah Dullah datang beramai-ramai, membuat suasana semakin heboh. Lintang yang harus memeriksa si ibu pun cukup kewalahan, meminta para tamu untuk keluar dari kamar terlebih dahulu.
"Alhamdulillah, ibu sudah cukup sehat untuk pulang, bu. Adik bayi juga sepertinya sudah siap untuk pulang. ASI nya lancar, kan, bu?"
Asri mengangguk.
"Iya, mbak lancar. Tadi malam sudah keluar cukup banyak."
"Darahnya keluar banyak?"
"Cukup banyak, tapi tidak bikin pusing."
"Alhamdulillah, kita tunggu bidan Indah dulu, ya bu. Kalau bidan Indah sudah oke berarti bu Asri sudah boleh pulang."
"Makasih, mbak," jawab Asri, "Rumah saya di Kayu Gintung, deket rumah pak Kades. Silahkan mampir kalau sempat, ya, mbak," ajak Asri.
Lintang mengangguk. Dia mendapat undangan seperti itu dari hampir semua warga desa Kayu Dawung yang berobat ke Polindes, senangnya berada di desa adalah karena keramahan penduduknya, membuat Lintang jadi betah.
****
Hari itu jadwal dokter dari rumah sakit datang bertugas. Dokter Aditya keheranan melihat pasien yang datang banyak sekali.
"Ada apa ini, bu Indah? Kok, tumben pasiennya banyak sekali. Apa sedang ada wabah?"
Bidan Indah tertawa.
"Nggak, pak dokter. Mereka kebanyakan hanya ingin bertemu dengan bidan Lintang," jawab bidan Indah. Lintang pura-pura sibuk mencatat di bukunya.
Dokter Aditya paham. Dia juga ikut tertawa.
"Oalah! Begitu, to? Kita lihat saja, kalau saya yang periksa apa mereka masih mau," kata Dokter Aditya, membuat Lintang pun ikut tertawa.
****
Lintang memeriksa HP nya. Ternyata ada pesan dari Dimas. Dia buru-buru membukanya.
[Assalamualaikum, mbak Lintang, maaf mengganggu. Motornya bagaimana? Apakah sudah nyaman dipakai?]
Lintang tersenyum. Sementara ini dia belum pernah naik motornya lagi.
[Waalaikum salaam, maaf baru balas, mas. Kebetulan selama di Kayu Dawung saya belum pernah pakai motornya. Insya Allah Minggu ini akan saya pakai. Kalau misalnya ada yang tidak pas, saya langsung ke bengkel mas Dimas yang dijalan Senopati, aja, ya.]
[Lho, mau pulang, to?]
[Insya Allah, mau ambil beberapa perlengkapan, mas.]
[Oh, gitu. Ya, oke, mbak. Lebih baik lewat jalan arah Kayu Gintung saja, lebih aman, walaupun lebih jauh.]
[Oke, mas. Makasih, ya.]
[Sama-sama.]
Lintang tersipu sendiri. Waduh! Kok dia jadi malu sama anak pak Kades, sih?
****
Sore hari Sabtu hujan turun dengan deras. Lintang merasa agak gugup, karena Rani sudah mewanti-wanti agar jangan pulang saja kalau habis hujan atau ketika hujan. Aduh! Padahal ada beberapa perlengkapan yang memang sengaja ditinggal Lintang di rumah, yang akan di bawa pada kesempatan pulang berikutnya.
"Mbak Lintang, ada yang cari," kata Sarinem mengagetkan Lintang.
"Siapa, mbak?"
"Sandi."
Lintang buru-buru bangun dan memakai bergonya. Sekarang dia sudah terbiasa dibangunkan ditengah tidur nyenyaknya karena ada pasien atau ada tamu.
"Eh, mas Sandi. Monggo, mas," sapa Lintang tetap ramah dan hangat, walaupun sebenarnya dia capek sekali.
"Iya, mbak. Matur nuwun."
"Ada perlu apa, mas?"
"Saya cuma mau nanya, mbak. Apa betul besok mbak Lintang mau pulang?"
"Wah! Sudah pada tahu, ya?" Kata Lintang sambil tersenyum. Sandi juga tersenyum.
"Iya, mbak. Kemarin banyak yang bilang," jawab Sandi lagi. Lintang melihat ada sesuatu yang berbeda di mata Sandi, entah apa.
"Iya, mas. Insya Allah besok saya mau pulang. Banyak yang nyaranin saya lewat Kali Gintung saja. Tapi sekarang malah hujan kayak gini, saya jadi mikir-mikir lagi," jawab Lintang galau.
"Nah, karena itu saya ke sini, mbak. Kalau mbak nggak keberatan, bagaimana kalau besok saya antar, mbak?"
Lintang memandang Sandi keheranan, dahinya mengkerut.
"Maksudnya?"
"Maksud saya, nanti mbak Lintang saya antarkan sampai jalan besar, setelah itu mbak Lintang bisa pulang sendiri, mbak."
Lintang merasa kurang nyaman dengan ajakan Sandi. Bukannya Lintang tidak percaya, tapi dia kurang suka dengan cara Sandi mencampuri urusannya. Dia lebih baik memilih pulang dengan taksi atau ojek online daripada harus pulang dengan Sandi.
"Maaf, mas, besok saya sudah ada barengannya," jawab Lintang bohong.
"Dengan siapa, mbak?" Tanya Sandi penuh selidik, wajahnya nampak tidak menyenangkan.
"Dengan teman saya. Namanya Rani, dia keponakannya pak Kades," jawab Lintang. Lintang percaya kalau dengan pak Kades, Sandi pasti tidak akan berani melacak kebohongannya.
Sandi nampak kecewa.
"Oh, gitu, ya. Tapi nggak diboncengin, kan, mbak, sama temannya?"
"Nggak, mas. Nanti bareng bareng naik motornya."
"Wah, nggak aman, tuh. Sama saya aja, mbak. Biar nanti barengan sama temannya juga nggak papa," kata Sandi lagi.
Lintang mulai marah. Dia beristighfar berulang kali dalam hati.
"Maaf, mas. Makasih, tapi kayaknya nggak," jawab Lintang lagi.
Muka Sandi merah padam menahan marah. Lintang agak takut melihatnya, Lintang terus beristighfar dalam hati.
"Ya, udah, mbak. Semoga besok lancar perjalanannya!" Seru Sandi dan tanpa pamit dia pergi begitu saja.
Setelah Sandi pergi Sarinem langsung masuk ke ruang tamu.
"Ealah, bocah kurang ajar! Biar aja, mbak. Nanti tak bilang ke bapakku. Sandi itu emang anak nggak jelas. Biar nanti tak bilangin pak Kades juga!" Kata Sarinem.
Lintang tersenyum. Alhamdulillah masih ada yang mau menolongnya. Hatinya lega, tapi dia masih terus membaca istighfar.
"Tapi sebenarnya benar Sandi, mbak. Kalau habis hujan seperti ini biasanya jalannya agak bahaya," kata Sarinem dengan wajah was-was.
"Licin, ya?"
"Iya. Lagian kalau lewat Kayu Gintung, kan ada hutannya, suka ada ularnya mbak kalau habis hujan," lanjut Sarinem.
Astaghfirullah! Apa lagi ini?
"Kayaknya aku nggak jadi pulang aja, deh," kata Lintang akhirnya, menyerah.
"Eh, bener, mbak?" Tanya Sarinem. Wajahnya berbunga-bunga. Lintang memandang Sarinem dengan curiga.
"Kenapa emangnya, Nem?"
"Besok ikut pengajian aja, mbak di masjid Agung. Ada ustadz Irfanul Hakim, yang tukang ruqyah itu," kata Sarinem lagi. Lintang tertawa mendengarnya. Tukang ruqyah? Aduh, ada-ada saja. Tapi mendengar kata ustadz Irfan itu membuat Lintang terjaga sepenuhnya. Dia salah satu penggemar ustadz Irfan dan selalu mengikuti channel Youtube nya.
"Bener, Nem?" Tanya Lintang memastikan lagi.
"Iya, mbak! Sudah ada spanduknya, lo!"
Lintang tertawa sendiri, ya, iya, lah, dia nggak tahu spanduknya. Kan, dia nggak pernah ke mana-mana. Aduh! Lintang jadi merasa orang paling tidak gaul sedunia.
"Mau, ya, mbak? Sekalian jalan-jalan," kata Sarinem, Lintang mengangguk menyetujui.
Sarinem berseru senang.
"Asyik! Mbak Lintang mau pengajian! Besok tak kenalin sama yang cakep-cakep, deh, mbak!" Kata Sarinem lagi. Lintang hanya tertawa.
****
Telefonnya berdering setelah subuh. Lintang melihat siapa yang menelfon. Ternyata Rani!
"Halo! Assalamualaikum, ciin, udah bangun belum?" Suara Rani menggema di seluruh kamar Lintang.
"Waalaikum salaam, ya Allah! Kamu kayaknya yang baru bangun, ya Ran. Di desa, mah, apa-apa harus pagi. Makanya gabung di sini. Kosnya di sini! Biar bangun pagi terus."
Rani tertawa terbahak-bahak.
"Nehik, ya! Sorry dorry, ciin! Nggak level!"
"Hei! Jangan sombong! Di sini orangnya baik-baik, lo!"
"Emang, sih," jawab Rani, disambung tawa oleh Lintang.
"Eh, beb, aku besok ke situ, lo. Ke KAYU DAWUNG! Mau jadi bintang tamu pengajian ustadz Irfan!" Kata Rani sambil sengaja menekan kata Kayu Dawung dengan tandas.
Eh! Tunggu dulu, kesempatan, nih.
"Bener kamu udah tobat? Mau ngaji sama ustadz?" Tanya Lintang menggoda.
"Enak aja! Ngaca, Lin Ce!" Kata Rani mencak, Lintang tertawa melolong-lolong.
"Eh, tunggu-tunggu! Aku boleh minta tolong, nggak, ciin?" Tanya Lintang.
"Boleh, apa Lin?"
"Ambilkan kit ku di rumah, dong. Aku sebenarnya hari ini rencana mau pulang, tapi karena ada satu dan lain hal, aku nggak jadi pulang."
"Waduh! Mencurigakan banget, nih. Aku mengendus sesuatu yang membahayakan!"
"Serius, Ran!"
"Iya, iya. Insya Allah nanti kubawakan kitmu, cinta. Di kamar, kan?"
"Iya, udah kusiapin kemarin dulu. Tinggal angkat aja," jawab Lintang.
"Eh, jangan senang dulu, nona!"
"Heleh! Apa lagi, sih?"
"Ada satu syarat!"
"Apa?" Tanya Lintang malas.
"Ceritain ada apa kanjeng Ratu kok nggak jadi pulang," kata Rani sambil tergelak-gelak.
"Siap! Kuceritain semuanya!" Jawab Lintang.
Mereka bertukar beberapa gosip dan berpisah untuk berjanji bertemu lagi hari ini.
****
Masjidnya tidak jauh dari rumah dinas Polindes, Lintang sering sholat berjamaah di sana. Jalan menuju masjid sangat ramai. Banyak sekali orang yang menyapa Lintang, Lintang menanggapi dengan ramah sebisanya. Sampai dia melihat Sandi berdiri di tepi jalan dengan wajah ditekuk.
Lintang berdebar. Apa maunya orang itu?
Sarinem berjalan dengan gagah melindungi Lintang. Sandi menatap Sarinem dengan marah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, karena banyak orang mendekati Lintang.
Lintang hanya tersenyum ketika melintas di depan Sandi. Lintang berusaha biasa saja, walaupun debar jantungnya tak tertahan lagi. Alhamdulillah, Allah masih melindunginya, Sandi hanya diam tak bergerak, dia hanya menandang penuh kemarahan.
"Lin Ce! Lin Ce!"
Astaghfirullah, suara itu. Benar-benar menghancurkan reputasi! Pikir Lintang dalam hati.
"Astaghfirullah! Rani! Diam, napa?" Desis Lintang marah. Rani tertawa cekakakan.
"Iya, iya! Bu Bidan cantik seperti itik," bisik Rani masih sambil tertawa-tawa.
Lintang mencubit tangan Rani kuat-kuat, tapi Rani malah tambah tertawa-tawa.
"Mana yang ganteng dan bikin galau kamu nggak mau pulang?"
"Idih! Biang gosip banget!"
Mereka tertawa-tawa dan masuk ke dalam masjid bersama.
****
"Ustadz, apa gejala seseorang itu ada jin di dalam tubuhnya?"
"Gejalanya banyak sebenarnya. Dan setiap orang bisa berbeda-beda gejalanya. Tapi secara umum gejala yang bisa muncul adalah sering bersendawa. Bukan bersendawa ketika kita kenyang, ya bapak ibu. Tapi sering bersendawa tanpa sebab, bisa jadi ada gangguan mahluk lain di dalam tubuh kita. Yang kedua sering mimpi buruk. Mimpi buruknya juga bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Bisa jadi mimpi dikejar ular, digigit ular, mimpi di kuburan, mimpi melihat penampakan, bisa jadi mimpi berjalan-jalan dan selalu kesasar," jelas ustadz Irfan. Semua mendengar dengan intens.
"Ada juga yang mudah marah, emosi tak terkendali. Kadang ada juga yang jadi malas beribadah, pusing kalau tilawah, merasa terganggu dengan suara adzan. Bisa juga mimpi makan atau minum dari makanan atau minuman yang tidak lazim. Misalnya, maaf, ya, makan kotoran, makan tanah, misalnya, ada juga yang mimpi disuapi untuk makan atau minum."
"Ada juga yang tiba-tiba bisa meramal masa depan, bisa tahu masa lalu. Ada yang bisa mengobati penyakit. Ada yang mendengar bisikan-bisikan baik atau buruk. Banyak macamnya. Masalahnya apa yang harus kita lalukan kalau ada gelaja seperti itu? Itu yang paling penting. Karena ada yang merasa sudah puas dan sangat senang ketika bisa memprediksi masa depan, senang sekali bisa mengobati orang sakit, padahal kemampuan itu dari jin, dan menolak dihilangkan kemampuannya."
"Salah satu cara mencegah atau menghilangkan mahluk halus dalam diri kita adalah dengan meng-intens-kan ibadah kita. Menambah tilawah kita, semakin mendekatkan diri kita kepada Allah. Seandainya memang kita tidak bisa menanganinya sendiri, kita perlu bantuan orang lain untuk menghilangkan jin itu dari dalam tubuh kita. Tapi sekali lagi kuncinya cuma satu, kita harus benar-benar ikhlash menghilangkan jin itu dari tubuh kita, jangan pernah ada rasa menyesal atau kecewa ketika semua kemampuan dari jin itu hilang dari tubuh kita. Kalau ada setitik rasa kecewa, setitik rasa sedih atas kehilangan semua kemampuan itu, maka itu menjadi pintu gerbang kembalinya jin itu ke dalam tubuh kita."
Rani dan Lintang berpandangan. Mereka berdua merasa ngeri mendengar penjelasan ustadz barusan. Astaghfirullah, naudzubillah min dzalik, semoga terhindar dari hal-hal seperti itu, batin Lintang dalam hati.
"Ustadz surat apa saja yang bisa kita gunakan untuk meruqyah diri kita sendiri, ust?"
"Sebenarnya semua surat dalam al Quran bisa kita bacakan ketika meruqyah seseorang atau diri sendiri. Tapi memang ada beberapa panduan surat tertentu yang sifatnya wajib kita bacakan ketika meruqyah seseorang yang termaktub dalam buku kecil Al Ma'tsurat ini. Untuk lebih jelasnya busa ikut pelatihan ruqyah di pondok pesantren saya," kata ustadz Irfan sambil mengangkat sebuah buku kecil.
"Buku ini kecil, tapi firman Allah di dalamnya bisa mencegah gangguan mahluk halus, gangguan kejahatan dan gangguan keburukan kehidupan di dunia. Monggo, bapak ibu dibaca pagi dan sore, sholatnya, tilawahnya dikencengin, ibadah sunnahnya ditambah, dirutinkan, karena jin sangat tidak suka dengan ibadah sunnah. Insya Allah biidznillah itu adalah cara mencegah masuknya jin dan gangguan jin ke dalam tubuh kita. Silahkan dicoba, silahkan dibuktikan."
"Oke, lanjut ke pertanyaan yang paling banyak ditanyakan kepada saya. Apa saja syarat untuk menjadi seorang peruqyah? Nah, sebenarnya tidak ada syarat khusus, bapak ibu, yang penting semua kita niatkan karena Allah, kita niatkan dengan ikhlash, insya Allah dengan terus menuntut ilmu kita semua, siapa saja, pasti bisa jadi peruqyah. Syarat yang kedua adalah yakin atas kekuatan dan kekuasaan Allah pasti bisa mengatasi kekuatan jin, jangan pernah ada setitik pun keraguan akan hal itu ketika meruqyah. Kalau kita takut, setetes saja, maka bisa dipastikan kita akan kalah dan jin itu akan memiliki celah untuk menaklukkan kita."
Lintang terdiam. Entah kenapa dia jadi teringat plastik berisi daun kering kemarin. Tiba-tiba pikiran itu terlintas begitu saja. Hal itu membuatnya merinding. Apa hal itu ada hubungannya dengan mahluk gaib, ya?
****
Rani memandang Lintang tak percaya.
"Tunggu! Kantung plastik berisi daun kering? Kok sama, Lin? Dulu waktu aku pulang dari sini aku kan juga jatuh, terus waktu ditolongin orang, nah habis ditolongin aku diberi kantung plastik. Kupikir ya kantung plastik isi oleh-oleh dari pamanku. Eh, waktu kubuka di rumah isinya daun kering, ya, udah kubuang aja."
Lintang berfikir sejenak.
"Kira-kira maksudnya itu apa, ya, Ran?" Tanya Lintang. Rani mengangkat bahu. Mereka sama-sama tidak tahu.
****
Sosok itu mendesah puas. Sudah beberapa hari tumbalnya kosong, tapi acara pengajian hari membawa berkah rupanya. Dia berhasil membawakan sebuah kantung plastik berisi uang itu untuk seorang pengunjung yang sepertinya bukan dari Kayu Dawung. Tinggal kita lihat hasilnya malam ini atau mungkin besok. Dia tersenyum lebar.
****