Bab 2

Pagi hari Santi lebih dulu bangun ketimbang Rina yang masih molor. Dia keget pas keluar kamar mandi, hanya handuk kecil yang membalut sedikit tubuh hingga membuat payudara Santi tumpah kemana-mana. Rambutnya yang basar dan air yang mengalir di sela-sela payudara membuat belut listrik Riki bangun lagi.

"Baru selesai mandi, San?" Riki menghampiri dan celingak celinguk takut ketauan Rina.

"Iya, Rik. Kamu udah bangun!" Rina malu-malu menatap Riki dan masih membayangkan kejadian semalam.

"Ini masih pagi, kok udah bangun?" Riki berkata sambil tangannya meremas payudara Santi yang basah. Santi diam saja. Jujur dia masih penasaran dengan rasa payudara dan bagian intimnya yang dihisap saat Riki mengatakannya tadi malam.

"Ah... Ummm... Iiiya, Rik, soalnya aku lembur hari ini!" Santi berkata spontan tangannya memegang kursi disebelahnya, kursi makan.

"Mau coba yang semalam nggak? Enak nih, baru mandi dan masih basah!" Bisik Riki, Santi melirik kamar Rina.

"Kemari, disini aja, biar saat Rina bangun gue tau!" Riki menarik Santi ke dekat kamar Rina, membuka pintunya sedikit, melirik Rina masih tidur di balik selimut.

"Lo mau yang mana?"

"Apanya?" Rina yang bingung dengan pertanyaan Riki, tubuhnya sudah di dorong ke tembok.

"Kalo mau dihisap nikmat enaknya yang dibawah, pasti ketagihan!" Bisik Riki. Tangannya sudah leluasa bergerak dan bermain di area sensitif Santi.

"Ahhhh... Ahhh... Ahh...!" Santi mendesah saat tangan Riki mulai mengobok-ngobok lembahnya. Dia nggak sadar handuk yang membalut tubuhnya melorot. Air liur Riki makin mengila, dia hampir melihat tubuh toples Santi hanya sedikit handuknya jatuh di perut dan di pegang olehnya.

Saat tau Santi udah mulai mendesah tangan Riki malah memilin puting Santi yang sudah meruncing, tajam, dan mengeras.

'Wahh, begini enaknya kalo ngerjain dapat yang fresh dan belum disentuh, sekali sentuh bikin dia penasaran dan dia pasti minta nagih terus. Sepertinya gue harus sering ke sini, selain dapat jatah dari Rina, gue juga dapat jatah dari teman Rina yang nggak kalah seksi. Dua-duanya bisa gue miliki!' batin mesum Riki.

Baru saja Riki menjilati sesaat dan kedua paha Santi udah dibuka, spontan Santi menjambak rambut Riki, "Ri--Rik, eeenaakkk... Bangettt, Rikk... " Desah Santi.

"Rik, lo dimana?" suara Rina menggeliat dari ranjang. Mata Santi buru-buru terbuka. Kaget.

"Iya sayang, aku dari kamar mandi!" Riki menghampiri dan mengecup keningnya.

"Uhmm, apaan tuh?" Rina memicing dibalik boxer Riki. Yang sudah terlihat mau menyumbul keluar.

" Ahhh, ini, biasa, si lele minta sarapan? Kolamnya udah siap belum nih!" Riki melorotin celananya dan melihatkan belut listrik yang udah besar dan menegang. Santi yang masih dibalik tembok, ngintip, dia menelan ludahnya saat melihat belut besar milik Riki.

'Haduhhh, itu gede bangettt rasanya gimanaa kalo masuk kesini!' ucap Santi dihati dan tangannya tanpa sadar mengusap area miliknyaa.

"Ahhhh.... Rikiii, pelan sedikit dongg.... Ahh...!" Rina pagi-pagi buta udah bikin orang pengen.

Santi kabur ke kamar mandi dulu, dia segera membersihkan area miliknya yang sempat basah dijilati sebentar oleh Riki.

***

Jam 7 pagi Santi sampai di toko kue. Dia pikir masih sepi soalnya lampu belum menyala, dan toko kue buka jam 9 pagi. Waktu untuk itu biasanya dimanfaatkan untuk membersihkan ruangan dan membuat adoanan kue atau roti yang sudah habis. Tapi, biasanya anak-anak pada mulai berdatangan jam 8. Sengaja Santi duluan berangkat biar gak kena macet di jalan.

Ruangan absen ada di sebelah ruang manager Pak Harun, dan Santi udah ngeliat mobilnya datang. Berarti biasanya dia udah di ruangan. Santi berniat memberikan salam selamat pagi pada manager tokonya. Dilihat pintu pak Harun sedikit kebuka, tapi saat Santi mendekat, dia mendengar...

"Ahh... Pakkkk... Enaknyaaa, bapak jago bangettt sihhh. Aku benar-benar bisa puas dan semangat bekerja kalo tiap pagi bapak beginiin!" Santi tau itu suara, suaranya Laras.

"Hahaha, untung selalu ada kamu, Ras yang kasih jatah aku tiap pagi. Kalo begini terus, meski yang dirumah ngasih, nggak seenak kamu!"

Dan mata Santi melihat dari pintu yang terbuka. Laras sedang nungging seragamnya sudah tak berbentuk dengan payudaranya yang menempel di meja dan celana dalamnya udah di bawah kaki meja.

Laras sedang nungging dan melebarkan pada membiarkan akses untuk pak Harun memasuki lembahnya....

"Ahh... Ahh... Sshhh... Terus pakkk... Ehmm... Enakkk... Bangettt disitu... Ssshhhh...!" Desis dan desah Laras membuat tas yang yang Santi pegang di tangan jatuh, hingga membuat mereka yang sedang tinggi kaget.

"Sa-Santi? Kamu sudah datang!" Pak Harun kikuk dan segera membenarkan celananya. Menutup sarangnya rapat-rapat. Laras pun yang canggung, buru-buru membenarkan BH-nya, memasukkan dua payudaranya kesarang. Mengancingkan kemeja, menurunkan roknya dan mengambil celana dalamnya.

"Ma-maaf, Pak, saya nggak akan bilang, tadi saya cuma mau menyapa Bapak dan absen!" Kikuk Santi segera kabur dari ruangannya.

"Haduh, Pak gimana kalo mulutnya ember dan nggak bisa jaga. Bapak bisa kena masalah dan dipecat lagi!" Laras yang sebenarnya dia yang takut hubungan gelapnya di umbar sesama rekan kerja.

"Sudah, Ras, kamu tenang saja, saya yang akan atur segalanya. Lagian saya juga nggak mau kehilangan sarapan pagi saya sama kamu. Rugi banyak dong!" Pak Harun malah bersikap santai dan mendekap Laras lagi.

"Tanggung Ras, lagi yuk. Kamu kulum saja punya saya, biar cepet bangun lagi, nggak usah pake dulu celananya, nanti kalo udah bangun kamu naik aja keatas, bergoyang diatasnya saja oke!" Harun yang nggak mau kehilangan sarapan paginya meski sudah ketahuan tetap ga mau rugi.

"Ihh, masa dilanjut Pak, nanti si Santi masuk lagi!" Laras melirik pintu takut-takut Santi nongol.

Pak Harun mendekati pintu dan menguncinya, "Aman, lagian gak akan ada yang berani masuk sebelum saya izinin, yook lanjut!" Pak Harun mengajak Laras ke tempat duduknya. Membuka kembali batangnya dan menyuruh Laras mengulum dan mengisapnya.

"Haduhhh, sial bangettt sih aku. Dirumah udah ngeliat Rina nganu-nganu semalam sama Riki dan tadi pagi juga. Eh, sekarang malah liat pak Harun sama Laras. Haduh, emangnya seenak itu ya, nganu-nganu, aku jadi penasaran?" Santi bergerutu sendiri. Dia yang sudah dikamar mandi karyawan. Berniat membenahi seragamnya.

Tapi, pahanya tak segaja bergesek, Santi merasakan celana dalamnya basah lagi. Dia tetap saja penasaran meski sudah tahu saat disentuh rasa basah itu licin, geli dan enak.

Tanpa sadar, Santi malah menarik roknya sampai perut seperti yang dilakukan Laras tadi, lalu dia memasukkan tangannya lagi di area sensitifnya, tangannya kini jadi terbiasa meskipun dia baru tahu semalam rasanya enak saat di remas dan dijilat sesaat oleh Riki.

"Ahh... Rikii... Enakkkk bangettt..!" desah Santi pelan meremas dan memainkan jarinya disana. Santi yang jadi ketagihan saat melihat orang setelah nganu-nganu. Dan bayangan fantasi yang terlibat olehnya adalah Riki. Sebab dialah orang pertama yang Santi lihat telanjang bulat, meremas payudara dan menjilati area sensitifnya, meski hanya sebentar.

Tok... Tok... Tok...

"San, San... Lo di dalam?" Santi terkejut dan buru-buru menurunkan roknya dan merapikan bajunya seolah dia sedang merapikan dandanan.

Bab 3

Ceklek pintu dibuka, laras berdiri di hadapannya. Laras seakan nggak suka sama Santi. Dia melihat Santi sebagai saingannya, apalagi bentuk tubuh Santi nggak kalah bohay darinya.

"Itu, lo dipanggil ke ruangannya Pak Harun!" ucap Laras kecut.

"Ke ruangannya? Ada apa ya, Ras?" Santi merasa bingung karena dia anggap kejadian tadi, dia anggap nggak melihatnya.

"Gue nggak tau. Lo cuma di panggil!" Tambah kecut Laras sambil melipat kedua tangannya.

"Uhm, ok!" Santi akan melewati Laras, "Eh, lo nggak usah ngomong macem-macem sama yang lo liat tadi pagi. Awas aja!" Ancam Laras sambil mencengkram lengannya.

"Iya, Ras, gue nggak akan banyak omong kok. Lagian itu bukan urusan gue. Masing-masing aja!" Santi yang memang gak mau ambil pusing.

"Ya udah sana, nanti gue backup kasir lo sebentar!" Ucap Laras.

"Ok, thanks ya, Ras!" Santi berjalan melewati Laras.

Sedangkan Laras tersenyum kecut seakan tak suka kalau hubungannya dengan pak Harun di ketahui orang. Secara Laras sudah bersembunyi-sembunyi dari rekan kerjanya, kalau sedang ingin nganu-nganu selalu di pagi hari sebelum buka toko, sebab belum banyak yang datang. Hari ini tanpa sengaja Santi datang mengganggu kesenangan mereka.

Tok... Tok... Tok...

Santai mengetuk pelan pintu pak Harun. Tak lama saat dia mau buka pintu, eh pak Harun udah duluan buka pintu.

"Masuk, San!" Ucapnya sopan, lalu tangannya mengunci pintu ruangannya.

Pak Harun baru menyadari bodi Santi pun tak kalah aduhai dari Laras. Apalagi tubuhnya yang mungil dengan payudaranya yang diatas ukurannya, membuatnya menelan air liurnya.

"Duduk sini, San!" Pak Harun menyuruh Santi agar duduk di sofa dan berhadapan dengannya.

Mata Pak Harun tak lepas dari payudara Santi yang montook, menantang seakan meminta untuk diremas dan dihisap. Apalagi dua kancing bajunya memang terbuka hingga membuat dua gundukan payudaranya makin keliatan.

"San, tadi kamu liat apa?" Pak Harun berkata tapi tangan merapikan anak rambut Santi yang keluar.

"Umm, umm, saya nggak liat apa-apa, Pak?" Jawab Santi gugup.

"Benar kamu nggak liat apa apa, San?" Kini tangan pak Harun dari rambut Santi turun ke pundak dan meremas payudaranya perlahan.

"Be-be-narr, ahh... Pak, sayahh... Nggak liat apa-apa!" Santi yang menjadi sensitif saat tubuhnya di sentuh. Membuatnya seperti tersengat listrik.

Pak Harun menelan air liurnya nggak nyangka Santi akan mendesah manja saat di remas payudaranya. Akhirnya Pak Harun mendekati tubuhnya, agar lebih dekat dengan Santi.

"San, kamu mau coba nggak, seperti yang kamu liat tadi pagi?" Bisik Pak Harun. Dia tahu Santi sedang berbohong.

"Ah... Bapak bisa ajahh, ahh... Nggak usah Pak!" Si Santi malah menjawab begitu.

"Kamu tenang aja, saya nggak akan bilang-bilang kok. Asalkan kamu juga tutup mulut!" Pak Harun berkata, tapi dia yakin Santi nggak akan menolaknya saat membuka kancing bajunya, di remas aja diam, apalagi dibuka.

"Ahhh... Ngg.. Nggak... Usahhh... Pak, nanti Laras marah... " Santi nggak mau ikutan ngambil wilayah orang. Apalagi dia sekarang ini benar-benar lagi tinggi dan penasaran.

Pak Harun sudah berhasil membuka kancing baju Santi sampai ngeliat dua payudaranya yang besar dan kenceng.

"Gede banget, San. Udah pernah dihisap belum sama pacar kamu!" Pak Harun meremas pelan dan mengeluarkan satu payudara Santi yang merah, merona, meruncing dan sepertinya enak di hisap.

"Umm, darisana nya Pak saya juga nggak tau. Saya belum punya pacar pak, jadi saya belum tau rasanya!" Santi merapatkan pahanya, dia merasa ser ser dan nyut nyutan dibawah area miliknya. Santi seakan mendamba untuk dihisap putingnya. Dia ingin merasakan sensasi bagaimana rasanya dihisap, nggak cuma bayangannya saja saat Riki hanya sesaat menghisapnya.

Pak Harun tersenyum, melihat wajah merona Santi, dia tahu, Santi sedang ingin disentuh.

"Wahh, kalau saya yang hisap, saya yang pertama dong, termasuk ini kamu ya!" Pak Harun mengusap paha Putih milik Santi, saat duduk roknya bahkan hampir memperlihatkan celana dalamnya.

"Iya, Pak!" Santi mengangguk.

"Saya boleh hisap ya, San? Pokoknya kamu bakal ketagihan kalau habis dihisap apalagi yang dibawah sini!" Tangan Pak Harun yang dipaha, mengusapnya, spontan karena geli geli enak Santi membuka perlahan.

"Udah basah rupanya kamu, San!" Santi yang nggak menyadari tangan Pak Harun sudah menggesek jarinya, mengeluarkan lendir dari lembah milik Santi dan mengisap jarinya, "Wangi khas dan seger banget, San! Saya Boleh jilat disitu ga?" Tapi tangan Pak Harun sudah membuka lebar paha Santi dan posisi duduk Santi pun mau tak mau berubah.

"I, iya, Pak!" Dan blamm, kepala Pak Harun tau tau udah menjilati lembah kenikmatan milik Santi, "Ahh... Sshhh... Ahh... Sshhh... Enak banget pak...!" Santi mengejang menaikan pantatnya, seolah ingin dihisap lebih dalam lagi. Sambil dihisap tangan Santi sendiri meremas payudaranya dan terus mendesahh...

"Ahhhh,,, paakk... Eeennakkk... Bangettt,,, terus Pakk!" Pak Harun tau ini sepertinya yang pertama kali buat Santi, jadi dia menarik Kepala. Dengan dua jarinya pak Harun melihat wajah indah Santi saat merasakan nikmat.

"Yaahh... Gituu San, keluarin aja...!" Pak Harun pun tak tahan dia mengocok sendiri batangnya.

"San, saya masukin aja ya!" Santi meski tau itu sangat nikmat, tapi menolak dia tetap ingin melakukan itu yang pertama dengan orang yang dia cintai.

"Ja--jangan Pakk.... Ahh.... Shhh... Shhhh!" Karena semakin kuat jari-jari Pak Harun memasuki lembahnya.

"Ya udah, nanti kamu hisap sampai punya saya keluar ya!" Santi tau maksudnya menghisap, dia pernah melihat Rina mengisap batang Riki dan dia yakin bisa melakukannya.

"Ii--iiya pakk. Nanti saya hiisaapp... Ahh... Ahh... Ahhh... Sshhh... Ahh...!" Santi melengking, menaikan pantatnya, tangannya meremas sofa.

"Ahh, teruss San, keluarin aja biar enak!"

"Ahh... Ahh... Ahh...!" Santi mengejang tinggi dan beberapa saat sesuatu yang hangat mengalir. Cairan berwarna putih dan membuat nafas Santi sesaat berdebar dengan kencang.

Santi menarik nafasnya sesaat merasakan, baru saja Santi membereskan baju dan merapikan rok, Pak Harun udah bersiap meminta jatah batangnya di hisapbsuara ketukan pintu mengganggu mereka.

Pak Harun mau tak mau merelakan batangnya tak jadi di hisap karena salah satu staff memberitahu kalau ada yang mencari Pak Harun. Santi keluar ruangan Pak Harun tanpa menyadari Laras ada dibelakangnya.

Laras sejak tadi menguping dibalik pintu Pak Harun dan dia dengan jelas mendengar desahan kenikmatan dari ruangan yang di kunci pak Harun. Hatinya panas, merasa kalau di ada saingan untuk memperebutkan Pak Harun.

'Enak aja lo mau ambil ikan tangkapan besar gue. Dari awal gue udah ngerayu nya susah susah, sekarang lo tinggal enaknya. Gue nggak biarin. Liat aja, gue pasti nyingkirin lo dari sini supaya gue nggak ada saingan lagi.' gerutu Laras dihati sangat kesal.

Sedangkan Santi yang merasakan hasrat penasaran terpuaskan oleh pak Harun seolah gak perduli dengan sekitar. Sambil terus membayangkan kejadian barusan dan dia masih mending nikmat ketika membayangkan.

'Oh... Jadi ini rasanya, pantas saja Rani selalu ketagihan, emang enak sih!'

Begitulah kata Hati Santi yang baru merasakan nikmat satu kali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED