Santi merasa kerongkongannya kering. Hari ini dia pulang cukup malam dari closing kasir. Dia beranjak turun dari ranjangnya untuk melepaskan hausnya.
Saat dia menenguk minuman, telinga terganggu dengan suara yang meresahkan dan dia lirik kamar sebelahnya, kamar Rina teman satu rumah barengannya, pintu kamar sedikit terbuka...
"Ah... Yang disituuuu... Enak bangettt... Lagi yanggg... Ahh ... Ah...," Suara Rina mendesah nikmat. Santi hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu, dia melihat Rina sudah tak mengenakan baju sepotong pun. Tangannya terus meremas seprei dengan kedua pahanya yang sedang dibuka dengan lebar.
Ya, Santi melihat Rina sedang mengerang nikmat, saat seseorang sedang mengisap dan menjilati lembah miliknya. Santi menahan nafas. Jantungnya memburu tak karuan. Tiba-tiba ada yang berdenyut dibawah miliknya apalagi Santi melihat orang yang menjilati dan mengisap tadi mengangkat wajahnya. Dan itu, Riki pacar Rina, Riki memperlihatkan kejantanannya miliknya yang begitu besar. Santi sampai berdebar tak karuan setelah melihat kejantanan Riki.
Dan, bamm! Tak lama Riki menghujamkan benda tumpul tadi pada milik Rina, "Ahh... Yes... Baby... Fuck me more... Oh... Yeeesss, iya... Disitu... Enak bangettt!" Rancu Rina makin kencang, dia bahkan lupa kalo Santi jomblo yang belum punya pacar.
Santi tidak mau pacaran karena takut khilaf seperti Rina. Rina setiap hari selalu meracuni otaknya, untuk mencoba hal baru, katanya kalau udah ngerasain sekali pasti ketagihan. Apalagi Rina tau kalo Santi gak suka dekat cuwok kalo cuma mau enak-enaknya saja.
Dengan nafas Santi yang makin gak karuan. Dia buru-buru masuk ke kamarnya. Menutup pintunya rapat. Tapi, saat di tutup pun suara Rina di kamar sebelah membuatnya terganggu. Hingga tak sengaja Santi menyentuh celananya. Basah. Celananya Santi basah, dia bingung sendiri kenapa bisa basah, padahal tidak habis dari kamar mandi.
Lalu, dia menyentuhnya. Beda itu bukan basah karena dia habis buang air kecil. Celananya basah dan licin seperti ada lendir disana. Pelan Santi mencoba mengusapnya disana, entah kenapa saat dia mengusap-ngusap perlahan dan mendengarkan suara Rini di kamar sebelah membuat usapan jarinya dari pelan dan makin cepat serasa ada timbul sensasi ditubuhnya yang bergetar, geli dan enak.
Santi ketagihan menggeseknya. Ini pertama kalinya dia terbangun dan menyaksikan Rina live show saat melakukan itu. Biasanya Rina dan Riki selalu melakukannya saat Santi belum pulang bekerja dan dia cuma dapat ceritanya aja dari Rini kalo habis nganu-nganu enak sama Riki.
Santi mempercepat ucapannya, karena tambah enak menurutnya. Saking enaknya secara spontan tangannya menyentuh bukit kembarnya. Dia menurunkan daster tali satu yang dia pakai. Santi terbiasa tidur tanpa menggunakan bra. Jadi saat dia menurunkan satu tali dasarnya, gunung kembar miliknya yang cukup besar dan menatang sudah bisa keluar dengan mulus. Lalu, Santi melakukan gerakan meremas dan kembali dia merasakan enak saat meremas dan memainkan celana dalamnya yang basah.
Ceklek! Santi terkejut saat tiba-tiba Riki masuk ke kamarnya yang sedang menyaksikan dirinya memainkan jarinya disana dan meremas payudaranya. Ternyata tadi Riki sempat menyadari kehadiran Santi saat Riki membenamkan benda tumpulnya.
"Ehm, mau gue bantu?" Riki yang langsung menelan air liurnya saat melihat payudara Santi, yang montok, besar dan putingnya masih terlihat kecil, merah dan rapat, sepertinya belum ada seorang pun yang mengisapnya disana.
"Ah, ka-mu, ngapain disini? Rina mana?" Santi yang salah tingkah dengan kehadiran Riki buru-buru memasukkan payudara dan menutup pahanya yang dia buka tadi secara lebar. Riki datang bertelanjang dada dan pakai boker doang.
"Baru tidur, dia udah kecapean. Lo nggak mau coba? Gue bisa kok bantu, tanpa gue masukin barang gue kesana!" Tunjuk Riki frontal. Menunjuk paha mulus Santi yang ga sempat dia tutup selimut karena dasternya super mini.
"O-oo, ng-nggak perlu, Riki. Kamu keluar aja!" Santi buru-buru bangun dari ranjang. Riki makin menelan ludah, melihat daster mini tadi memperlihatkan dua gunung kembar dengan putingnya yang menonjol.
"Ayolah, gue nggak akan bilang-bilang kok. Lo coba dulu, kalau emang ga enak, lo boleh bilang berhenti kok!" Riki yang mencoba membodohi Santi karena dia tahu dari Rina, Santi belum pernah di sentuh. Artinya bodinya masih fresh dan orisinil.
"Memangnya bisa berhenti?" Santi berkata lugu. Riki tersenyum penuh kemenangan saat benar-benar ucapan menjebaknya bisa diterima oleh Santi.
"Bisa dong, kalau lo nggak mau langsung kesitu, kita bisa mulai dari pemanasan dulu aja, kalau lo nggak suka, kita nggak usah lanjut!" Kembali Riki melancarkan niatnya. Dia yang suka diam-diam memperhatikan Santi saat menggunakan seragam kerjanya. Benar-benar seragam kerjaan Santi yang presbodi bisa langsung menunjukkan dua gunung kembar dan bokong yang nggak terlalu besar tapi tetap seksi dan aduhan, membuat siapa pun yang memandang ingin menarik rok seragamnya keatas dan merobek celana dalamnya. Dan tentu saja langsung menghujamkan batang Riki yang kini langsung mengeras lagi saat membayangkan bisa bergumal dengan Santi.
Riki nggak mendengar jawaban dari Santi yang terlihat ragu, tapi mau. Akhirnya dia sportif mendekat, karena belut listriknya pun perlu penyaluran lagi. Tiba-tiba, Riki memeluk Santi. Santi kaget. Mencoba mendorong, "Jangan di dorong dong, kan kalo di dorong lo nggak akan tau rasanya!" Riki berbisik menggoda Santi.
Saat tubuh Riki memeluknya, yang dibagian celananya kembali berkedut. Berdesir tak karuan tubuhnya.
"Ta-tapi, nggak boleh lebih ya, janji!" Santi tetap meminta kesepakatan pada Riki.
"Tentu dong, gue janji, asalkan lo bilang berhenti, gue akan langsung berhenti kok!" Ucap Riki.
'Hehehehe, Santi oh Santi mana ada sih kalo lagi di obok-obok minta berhenti. Yang ada malam ini gue dapat tangkapan besar. Hahahaha, tubuh Santi yang aduhai dan malam yang penting malam ini, gue yang pertama kali membuka segelnya!'
Riki nggak akan mundur lagi dengan niatnya, perlahan dia mengarahkan kedua tangannya. Dia memulai dari sesuatu yang kecil. Menaruh kedua jarinya di antara dua puting payudara Santi. Riki mengorek ngoreknya pelan-pelan agar kedua puting payudara Santi makin meruncing dan menegang. Setelah Riki yakin kedua putingnya meruncing dan menegang. Lalu Riki melihat perubahan dari Santi yang menyandarkan kepalanya dibahu. Dia yakin Santi sedang menikmati permainannya.
"Ahh... Umm..." suara desahan Santi keluar dan Riki makin tersenyum penuh kemenangan, lalu dia naikan tangannya menyusup ke daster tipis dan menerawang milik Santi, perlahan pasti dia meremas satu payudara Santi dan tangan satunya mulai dia turunkan kearah paha Santi.
"San, buka dikit biar tangan gue masuknya enak, nggak lo jepit kayak gitu!" Bisik Riki lagi saat meminta izin tangannya memasuki area sensitif milik Santi. Santi yang masih menutup matanya, menikmati remasan di payudara tidak mungkin menolak, perlahan tapi pasti Santi membuka dan membiarkan tangan Riki memasukinya.
Riki terus mengesankan pelan tangannya disana, pelan tapi pasti Riki sudah merasakan tangannya licin oleh cairan yang keluar dari sana dan, "Ah... Ummm.... Eennakkk bangettt, Rik. Aku benar-benar nggak tau kalo seenak inii!" Rancu Santi sudah tak karuan dengan desahan dan kedua pahanya makin dia lebarkan, membiarkan tangan Riki mengorek-ngoreknya.
"Ini baru permulaan San, bakal tambah enak kalo payudara dan yang dibawah lo dihisap, ummm... Itu surga banget, San. Elo mau coba?" Riki menawarkan permainan yang lebih dalam untuk melancarkan aksinya.
"Ummmm,,, ahh.... I--iiyaaa... Gue mau, Rik. Gue mau bangettt!" Entah setan apa yang merasuki Santi, pertama kali dia coba, dia cuma mau lagi dan lagi.
"RIKIII! Kamu dimana?" Suara Rina yang tersadar mengetahui keberadaan Riki tak ada dalam pelukannya.
"Eh, Rina bangun, San, gue balik dulu ya. Kapan-kapan kita lanjut lagi, ok. Oya, kalo lo liat gue ada disini, ingat lo tidur nggak usah pake celana dalam, ya, biar gue gampang!" Santi dalam sekajap membuka matanya, Riki berpesan dan dia mengangguk saat Riki keluar kamarnya dan balik ke kamar Rina.
Ada rasa kecewa dan penasaran di hati Santi, dia yang merasa tinggi dan tanggung bangettt membuat kepalanya pusing. Lalu Santi membenamkan tubuhnya lagi. Menarik nafas mencoba melupakan kejadian tadi dan tidur.
Pagi hari Santi lebih dulu bangun ketimbang Rina yang masih molor. Dia keget pas keluar kamar mandi, hanya handuk kecil yang membalut sedikit tubuh hingga membuat payudara Santi tumpah kemana-mana. Rambutnya yang basar dan air yang mengalir di sela-sela payudara membuat belut listrik Riki bangun lagi.
"Baru selesai mandi, San?" Riki menghampiri dan celingak celinguk takut ketauan Rina.
"Iya, Rik. Kamu udah bangun!" Rina malu-malu menatap Riki dan masih membayangkan kejadian semalam.
"Ini masih pagi, kok udah bangun?" Riki berkata sambil tangannya meremas payudara Santi yang basah. Santi diam saja. Jujur dia masih penasaran dengan rasa payudara dan bagian intimnya yang dihisap saat Riki mengatakannya tadi malam.
"Ah... Ummm... Iiiya, Rik, soalnya aku lembur hari ini!" Santi berkata spontan tangannya memegang kursi disebelahnya, kursi makan.
"Mau coba yang semalam nggak? Enak nih, baru mandi dan masih basah!" Bisik Riki, Santi melirik kamar Rina.
"Kemari, disini aja, biar saat Rina bangun gue tau!" Riki menarik Santi ke dekat kamar Rina, membuka pintunya sedikit, melirik Rina masih tidur di balik selimut.
"Lo mau yang mana?"
"Apanya?" Rina yang bingung dengan pertanyaan Riki, tubuhnya sudah di dorong ke tembok.
"Kalo mau dihisap nikmat enaknya yang dibawah, pasti ketagihan!" Bisik Riki. Tangannya sudah leluasa bergerak dan bermain di area sensitif Santi.
"Ahhhh... Ahhh... Ahh...!" Santi mendesah saat tangan Riki mulai mengobok-ngobok lembahnya. Dia nggak sadar handuk yang membalut tubuhnya melorot. Air liur Riki makin mengila, dia hampir melihat tubuh toples Santi hanya sedikit handuknya jatuh di perut dan di pegang olehnya.
Saat tau Santi udah mulai mendesah tangan Riki malah memilin puting Santi yang sudah meruncing, tajam, dan mengeras.
'Wahh, begini enaknya kalo ngerjain dapat yang fresh dan belum disentuh, sekali sentuh bikin dia penasaran dan dia pasti minta nagih terus. Sepertinya gue harus sering ke sini, selain dapat jatah dari Rina, gue juga dapat jatah dari teman Rina yang nggak kalah seksi. Dua-duanya bisa gue miliki!' batin mesum Riki.
Baru saja Riki menjilati sesaat dan kedua paha Santi udah dibuka, spontan Santi menjambak rambut Riki, "Ri--Rik, eeenaakkk... Bangettt, Rikk... " Desah Santi.
"Rik, lo dimana?" suara Rina menggeliat dari ranjang. Mata Santi buru-buru terbuka. Kaget.
"Iya sayang, aku dari kamar mandi!" Riki menghampiri dan mengecup keningnya.
"Uhmm, apaan tuh?" Rina memicing dibalik boxer Riki. Yang sudah terlihat mau menyumbul keluar.
" Ahhh, ini, biasa, si lele minta sarapan? Kolamnya udah siap belum nih!" Riki melorotin celananya dan melihatkan belut listrik yang udah besar dan menegang. Santi yang masih dibalik tembok, ngintip, dia menelan ludahnya saat melihat belut besar milik Riki.
'Haduhhh, itu gede bangettt rasanya gimanaa kalo masuk kesini!' ucap Santi dihati dan tangannya tanpa sadar mengusap area miliknyaa.
"Ahhhh.... Rikiii, pelan sedikit dongg.... Ahh...!" Rina pagi-pagi buta udah bikin orang pengen.
Santi kabur ke kamar mandi dulu, dia segera membersihkan area miliknya yang sempat basah dijilati sebentar oleh Riki.
***
Jam 7 pagi Santi sampai di toko kue. Dia pikir masih sepi soalnya lampu belum menyala, dan toko kue buka jam 9 pagi. Waktu untuk itu biasanya dimanfaatkan untuk membersihkan ruangan dan membuat adoanan kue atau roti yang sudah habis. Tapi, biasanya anak-anak pada mulai berdatangan jam 8. Sengaja Santi duluan berangkat biar gak kena macet di jalan.
Ruangan absen ada di sebelah ruang manager Pak Harun, dan Santi udah ngeliat mobilnya datang. Berarti biasanya dia udah di ruangan. Santi berniat memberikan salam selamat pagi pada manager tokonya. Dilihat pintu pak Harun sedikit kebuka, tapi saat Santi mendekat, dia mendengar...
"Ahh... Pakkkk... Enaknyaaa, bapak jago bangettt sihhh. Aku benar-benar bisa puas dan semangat bekerja kalo tiap pagi bapak beginiin!" Santi tau itu suara, suaranya Laras.
"Hahaha, untung selalu ada kamu, Ras yang kasih jatah aku tiap pagi. Kalo begini terus, meski yang dirumah ngasih, nggak seenak kamu!"
Dan mata Santi melihat dari pintu yang terbuka. Laras sedang nungging seragamnya sudah tak berbentuk dengan payudaranya yang menempel di meja dan celana dalamnya udah di bawah kaki meja.
Laras sedang nungging dan melebarkan pada membiarkan akses untuk pak Harun memasuki lembahnya....
"Ahh... Ahh... Sshhh... Terus pakkk... Ehmm... Enakkk... Bangettt disitu... Ssshhhh...!" Desis dan desah Laras membuat tas yang yang Santi pegang di tangan jatuh, hingga membuat mereka yang sedang tinggi kaget.
"Sa-Santi? Kamu sudah datang!" Pak Harun kikuk dan segera membenarkan celananya. Menutup sarangnya rapat-rapat. Laras pun yang canggung, buru-buru membenarkan BH-nya, memasukkan dua payudaranya kesarang. Mengancingkan kemeja, menurunkan roknya dan mengambil celana dalamnya.
"Ma-maaf, Pak, saya nggak akan bilang, tadi saya cuma mau menyapa Bapak dan absen!" Kikuk Santi segera kabur dari ruangannya.
"Haduh, Pak gimana kalo mulutnya ember dan nggak bisa jaga. Bapak bisa kena masalah dan dipecat lagi!" Laras yang sebenarnya dia yang takut hubungan gelapnya di umbar sesama rekan kerja.
"Sudah, Ras, kamu tenang saja, saya yang akan atur segalanya. Lagian saya juga nggak mau kehilangan sarapan pagi saya sama kamu. Rugi banyak dong!" Pak Harun malah bersikap santai dan mendekap Laras lagi.
"Tanggung Ras, lagi yuk. Kamu kulum saja punya saya, biar cepet bangun lagi, nggak usah pake dulu celananya, nanti kalo udah bangun kamu naik aja keatas, bergoyang diatasnya saja oke!" Harun yang nggak mau kehilangan sarapan paginya meski sudah ketahuan tetap ga mau rugi.
"Ihh, masa dilanjut Pak, nanti si Santi masuk lagi!" Laras melirik pintu takut-takut Santi nongol.
Pak Harun mendekati pintu dan menguncinya, "Aman, lagian gak akan ada yang berani masuk sebelum saya izinin, yook lanjut!" Pak Harun mengajak Laras ke tempat duduknya. Membuka kembali batangnya dan menyuruh Laras mengulum dan mengisapnya.
"Haduhhh, sial bangettt sih aku. Dirumah udah ngeliat Rina nganu-nganu semalam sama Riki dan tadi pagi juga. Eh, sekarang malah liat pak Harun sama Laras. Haduh, emangnya seenak itu ya, nganu-nganu, aku jadi penasaran?" Santi bergerutu sendiri. Dia yang sudah dikamar mandi karyawan. Berniat membenahi seragamnya.
Tapi, pahanya tak segaja bergesek, Santi merasakan celana dalamnya basah lagi. Dia tetap saja penasaran meski sudah tahu saat disentuh rasa basah itu licin, geli dan enak.
Tanpa sadar, Santi malah menarik roknya sampai perut seperti yang dilakukan Laras tadi, lalu dia memasukkan tangannya lagi di area sensitifnya, tangannya kini jadi terbiasa meskipun dia baru tahu semalam rasanya enak saat di remas dan dijilat sesaat oleh Riki.
"Ahh... Rikii... Enakkkk bangettt..!" desah Santi pelan meremas dan memainkan jarinya disana. Santi yang jadi ketagihan saat melihat orang setelah nganu-nganu. Dan bayangan fantasi yang terlibat olehnya adalah Riki. Sebab dialah orang pertama yang Santi lihat telanjang bulat, meremas payudara dan menjilati area sensitifnya, meski hanya sebentar.
Tok... Tok... Tok...
"San, San... Lo di dalam?" Santi terkejut dan buru-buru menurunkan roknya dan merapikan bajunya seolah dia sedang merapikan dandanan.
Ceklek pintu dibuka, laras berdiri di hadapannya. Laras seakan nggak suka sama Santi. Dia melihat Santi sebagai saingannya, apalagi bentuk tubuh Santi nggak kalah bohay darinya.
"Itu, lo dipanggil ke ruangannya Pak Harun!" ucap Laras kecut.
"Ke ruangannya? Ada apa ya, Ras?" Santi merasa bingung karena dia anggap kejadian tadi, dia anggap nggak melihatnya.
"Gue nggak tau. Lo cuma di panggil!" Tambah kecut Laras sambil melipat kedua tangannya.
"Uhm, ok!" Santi akan melewati Laras, "Eh, lo nggak usah ngomong macem-macem sama yang lo liat tadi pagi. Awas aja!" Ancam Laras sambil mencengkram lengannya.
"Iya, Ras, gue nggak akan banyak omong kok. Lagian itu bukan urusan gue. Masing-masing aja!" Santi yang memang gak mau ambil pusing.
"Ya udah sana, nanti gue backup kasir lo sebentar!" Ucap Laras.
"Ok, thanks ya, Ras!" Santi berjalan melewati Laras.
Sedangkan Laras tersenyum kecut seakan tak suka kalau hubungannya dengan pak Harun di ketahui orang. Secara Laras sudah bersembunyi-sembunyi dari rekan kerjanya, kalau sedang ingin nganu-nganu selalu di pagi hari sebelum buka toko, sebab belum banyak yang datang. Hari ini tanpa sengaja Santi datang mengganggu kesenangan mereka.
Tok... Tok... Tok...
Santai mengetuk pelan pintu pak Harun. Tak lama saat dia mau buka pintu, eh pak Harun udah duluan buka pintu.
"Masuk, San!" Ucapnya sopan, lalu tangannya mengunci pintu ruangannya.
Pak Harun baru menyadari bodi Santi pun tak kalah aduhai dari Laras. Apalagi tubuhnya yang mungil dengan payudaranya yang diatas ukurannya, membuatnya menelan air liurnya.
"Duduk sini, San!" Pak Harun menyuruh Santi agar duduk di sofa dan berhadapan dengannya.
Mata Pak Harun tak lepas dari payudara Santi yang montook, menantang seakan meminta untuk diremas dan dihisap. Apalagi dua kancing bajunya memang terbuka hingga membuat dua gundukan payudaranya makin keliatan.
"San, tadi kamu liat apa?" Pak Harun berkata tapi tangan merapikan anak rambut Santi yang keluar.
"Umm, umm, saya nggak liat apa-apa, Pak?" Jawab Santi gugup.
"Benar kamu nggak liat apa apa, San?" Kini tangan pak Harun dari rambut Santi turun ke pundak dan meremas payudaranya perlahan.
"Be-be-narr, ahh... Pak, sayahh... Nggak liat apa-apa!" Santi yang menjadi sensitif saat tubuhnya di sentuh. Membuatnya seperti tersengat listrik.
Pak Harun menelan air liurnya nggak nyangka Santi akan mendesah manja saat di remas payudaranya. Akhirnya Pak Harun mendekati tubuhnya, agar lebih dekat dengan Santi.
"San, kamu mau coba nggak, seperti yang kamu liat tadi pagi?" Bisik Pak Harun. Dia tahu Santi sedang berbohong.
"Ah... Bapak bisa ajahh, ahh... Nggak usah Pak!" Si Santi malah menjawab begitu.
"Kamu tenang aja, saya nggak akan bilang-bilang kok. Asalkan kamu juga tutup mulut!" Pak Harun berkata, tapi dia yakin Santi nggak akan menolaknya saat membuka kancing bajunya, di remas aja diam, apalagi dibuka.
"Ahhh... Ngg.. Nggak... Usahhh... Pak, nanti Laras marah... " Santi nggak mau ikutan ngambil wilayah orang. Apalagi dia sekarang ini benar-benar lagi tinggi dan penasaran.
Pak Harun sudah berhasil membuka kancing baju Santi sampai ngeliat dua payudaranya yang besar dan kenceng.
"Gede banget, San. Udah pernah dihisap belum sama pacar kamu!" Pak Harun meremas pelan dan mengeluarkan satu payudara Santi yang merah, merona, meruncing dan sepertinya enak di hisap.
"Umm, darisana nya Pak saya juga nggak tau. Saya belum punya pacar pak, jadi saya belum tau rasanya!" Santi merapatkan pahanya, dia merasa ser ser dan nyut nyutan dibawah area miliknya. Santi seakan mendamba untuk dihisap putingnya. Dia ingin merasakan sensasi bagaimana rasanya dihisap, nggak cuma bayangannya saja saat Riki hanya sesaat menghisapnya.
Pak Harun tersenyum, melihat wajah merona Santi, dia tahu, Santi sedang ingin disentuh.
"Wahh, kalau saya yang hisap, saya yang pertama dong, termasuk ini kamu ya!" Pak Harun mengusap paha Putih milik Santi, saat duduk roknya bahkan hampir memperlihatkan celana dalamnya.
"Iya, Pak!" Santi mengangguk.
"Saya boleh hisap ya, San? Pokoknya kamu bakal ketagihan kalau habis dihisap apalagi yang dibawah sini!" Tangan Pak Harun yang dipaha, mengusapnya, spontan karena geli geli enak Santi membuka perlahan.
"Udah basah rupanya kamu, San!" Santi yang nggak menyadari tangan Pak Harun sudah menggesek jarinya, mengeluarkan lendir dari lembah milik Santi dan mengisap jarinya, "Wangi khas dan seger banget, San! Saya Boleh jilat disitu ga?" Tapi tangan Pak Harun sudah membuka lebar paha Santi dan posisi duduk Santi pun mau tak mau berubah.
"I, iya, Pak!" Dan blamm, kepala Pak Harun tau tau udah menjilati lembah kenikmatan milik Santi, "Ahh... Sshhh... Ahh... Sshhh... Enak banget pak...!" Santi mengejang menaikan pantatnya, seolah ingin dihisap lebih dalam lagi. Sambil dihisap tangan Santi sendiri meremas payudaranya dan terus mendesahh...
"Ahhhh,,, paakk... Eeennakkk... Bangettt,,, terus Pakk!" Pak Harun tau ini sepertinya yang pertama kali buat Santi, jadi dia menarik Kepala. Dengan dua jarinya pak Harun melihat wajah indah Santi saat merasakan nikmat.
"Yaahh... Gituu San, keluarin aja...!" Pak Harun pun tak tahan dia mengocok sendiri batangnya.
"San, saya masukin aja ya!" Santi meski tau itu sangat nikmat, tapi menolak dia tetap ingin melakukan itu yang pertama dengan orang yang dia cintai.
"Ja--jangan Pakk.... Ahh.... Shhh... Shhhh!" Karena semakin kuat jari-jari Pak Harun memasuki lembahnya.
"Ya udah, nanti kamu hisap sampai punya saya keluar ya!" Santi tau maksudnya menghisap, dia pernah melihat Rina mengisap batang Riki dan dia yakin bisa melakukannya.
"Ii--iiya pakk. Nanti saya hiisaapp... Ahh... Ahh... Ahhh... Sshhh... Ahh...!" Santi melengking, menaikan pantatnya, tangannya meremas sofa.
"Ahh, teruss San, keluarin aja biar enak!"
"Ahh... Ahh... Ahh...!" Santi mengejang tinggi dan beberapa saat sesuatu yang hangat mengalir. Cairan berwarna putih dan membuat nafas Santi sesaat berdebar dengan kencang.
Santi menarik nafasnya sesaat merasakan, baru saja Santi membereskan baju dan merapikan rok, Pak Harun udah bersiap meminta jatah batangnya di hisapbsuara ketukan pintu mengganggu mereka.
Pak Harun mau tak mau merelakan batangnya tak jadi di hisap karena salah satu staff memberitahu kalau ada yang mencari Pak Harun. Santi keluar ruangan Pak Harun tanpa menyadari Laras ada dibelakangnya.
Laras sejak tadi menguping dibalik pintu Pak Harun dan dia dengan jelas mendengar desahan kenikmatan dari ruangan yang di kunci pak Harun. Hatinya panas, merasa kalau di ada saingan untuk memperebutkan Pak Harun.
'Enak aja lo mau ambil ikan tangkapan besar gue. Dari awal gue udah ngerayu nya susah susah, sekarang lo tinggal enaknya. Gue nggak biarin. Liat aja, gue pasti nyingkirin lo dari sini supaya gue nggak ada saingan lagi.' gerutu Laras dihati sangat kesal.
Sedangkan Santi yang merasakan hasrat penasaran terpuaskan oleh pak Harun seolah gak perduli dengan sekitar. Sambil terus membayangkan kejadian barusan dan dia masih mending nikmat ketika membayangkan.
'Oh... Jadi ini rasanya, pantas saja Rani selalu ketagihan, emang enak sih!'
Begitulah kata Hati Santi yang baru merasakan nikmat satu kali.