Bab 1

Lampu berkelap-kelip menghiasi ruangan, music Dj yang menggema, menambah suasana klubing semakin meriah. Liukkan tubuh molek yang menari di atas meja bundar, menjadi tontonan wajib saat datang. Dan minuman berbagai macam rasa juga tersedia bagi siapa pun yang tengah merasa Bahagia atau pun terluka.

Entah sudah berapa kali Mayumi bolak-balik mengambilkan minuman untuk para pengunjung. Andaikan kedua kakinya yang jenjang bisa bicara, mungkin sudah sedari tadi berteriak meminta menyudahi pekerjaan ini. Namun, itu tidak mungkin bisa Mayumi lakukan. Mayumi terlalu membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi dirinya dan ibunya yang sedang sakit-sakitan.

“Buruan!” teriak salah satu mengunjung yang berada di bangku paling ujung. Dia mengangkat tangan melambai ke arah Mayumi untuk segera membawakan minuman.

“Apa kamu lumpuh sampai tidak bisa berjalan dengan cepat!”

Berbagai macam cacian yang setiap malam Mayumi dengar dan sungguh tidak akan pernah Mayumi pedulikan. Meski kadang kalimatnya terdengar menyakitkan, tapi inilah tempat yang bisa menghidupi Mayumi dan ibunya. Memang bisa apa seorang Wanita yang hanya bersekolah sampai sekolah

menengah saja? Kehidupan di kota sungguh keras. Terkadang lebih baik dihina asal bisa makan biarpun itu terdengar keji dan menjijikkan.

“Kenapa lama sekali!” makinya saat Mayumi sudah datang membawa tiga botol wine.

“Maaf, aku baru saja melayani di sebelah sana lebih dulu,” jawab Mayumi seraya meletakkan tiga botol wine yang ia bawa.

Siapa peduli dengan alasan itu? Bagi mereka apa pun alasannya tetap mau dilayani yang paling utama.

“Tetaplah di sini.” Slah satu dari mereka menarik tangan Mayumi.

Mayumi langsung mengibaskan tangan. “Maaf, pekerjaanku di sana masih banyak.”

“Shit!” umpat pria gondrong itu. “Aku datang karena ingin berpesta, sebagai pelayan kamu harus menemaniku di sini.”

“Hei!” jerit Mayumi saat pria itu dengan tidak sopan meremas pantatnya. “Jaga tangan anda. Saya tidak suka disentuh-sentuh!” tegas Mayumi,

Pria itu tertawa diikuti beberapa teman yang lainnya. Mereka seperti menghina perkataan Mayumi yang sedang membela diri.

Sebelum Mayumi beranjak, salah satu dari mereka berdiri. “Hei, kamu! Kamu hanya pelayan, tugas kamu di sini tentu melayani kami para tamu.”

Mayumi mendecih, “Maaf, aku memang hanya pelayan, tapi bukan berarti melayani pikiran kalian yang kotor.”

“Berani sekali kamu!” satu lagi ikut berdiri dan langsung menyalak. Pria itu menjambak rambut Mayumi hingga mendongak.

“Wanita seperti kamu tidak usah sok suci! Semua pelayan di sini tidak ada yang bersih!”

Mayumi sudah meringis menahan rasa sakit di kepalanya saat rambutnya dijambak dan masih ditarik.

“Lepaskan!” bentak Mayumi seraya coba menyingkirkan tangan pria itu.

Ketika tenaga Mayumi tidak berhasil menyingkirkan pria itu, yang lain tertawa. Mayumi mulai takut dan kali ini lebih merasa direndahkan. Selama rambutnya di tarik dan juga kedua tangganya sudah ditarik dan dikunci ke belakang oleh pria itu, Mayumi semakin tidak bisa berbuat apa-apa. sekalipun Mayumi menggerakkan badan mencoba melepaskan diri, yang ada tarikan rambut itu semakin terasa kencang.

Mereka berlima sepertinya begitu menyukai pertunjukan ini. Ini tempat di mana orang akan acuh dengan urusan orang lain, sekali pun Mayumi berteriak minta tolong, tidak akan ada yang menolongnya. Kemungkinan yang terjadi malah mereka semua akan bertepuk tangan seperti sedang dalam pertunjukan opera.

“Lepaskan aku!” sentak Mayumi lagi dengan raut wajah menahan perih.

“Kalau saja kamu bersikap sopan, aku tidak akan sekasar ini padamu.” Pria yang ikut berdiri itu menyeringai, lalu satu tangannya meraih bagian pinggang Mayumi sementara temannya masih mengunci kedua tangan dan menjambak rambut Mayumi.

“Brengsek kalian!” maki Mayumi.

Sekali lagi kalimat itu bagaikan angin yang berembus begitu saja. Sementara tiga lainnya menonton, dua pria yang berdiri sudah mulai bersikap semakin tidak sopan. Tangan mereka meraih kembali satu bulatan sintal di bawah panggul. Tidak hanya sekedar menyentuh, melainkan meremasnya. Dan saat itu juga Mayumi tidak tahan lagi untuk tidak berontak.

Tanpa pikir Panjang, Mayumi menginjak kaki pria yang masih mengunci kedua tangannya lalu dengan cepat menyiku wajah pria itu hingga terlempar.

“Jangan kurang ajar kalian!”

Plak!

Dan satu pria lagi berhasil Mayumi tampar.

“Kamu!” mereka berdua sama-sama melotot tajam dan kini satu tamparan melayang tepat mendarat di pipi Mayumi.

Nyuuuuut, rasanya begitu pering sampai telinganya berdenging karena saking kencangnya tamparan itu. Mayumi terlempar sampai menabrak tamu lain. Mereka kini menjadi pusat perhatian dan tontonan untuk semuanya.

“Wanita murahan!” maki pria itu lagi dan kembali menjambak rambut Mayumi lagi. “Kamu itu Wanita malam, tidak usah sok suci di sini!”

Mayumi sudah banjir air mata dan wajahnya tampak memerah. Belum selesai Mayumi mengambil napas, pria itu kembali melukai dengan cara mendorongnya hingga jatuh tersungkur. Tidak ada yang membantunya selain tawa menggelegar yang terdengar.

Mayumi lantas mencoba bangun. Ia kemudian memandangi mereka yang sedang menertawakannya saat ini, lalu ia kemudian membuang muka dan berlari menjauh.

Sampai di ruangan belakang, Mayumi jatuh terduduk tidak jauh dari lemari lokernya. Mayumi menangis sejadi-jadinya sampai harus menekan sedikit dadanya yang terasa sakit.

Beberapa menit berlalu, terdengar suara tapak kaki melangkah mendekat. Mayumi mengelap wajahnya yang basah lalu menoleh. Di belakannya, kini berdiri satu temannya dengan senyum tipis. Namun, Ketika Mayumi hendak bangkit, Wanita bernama Beatrice itu menjulurkan tangan dengan telapak tangan terbuka lebar. Saat itu juga Mayumi tertegun lalu hanya sebatas berdiri dan urung maju mendekat.

“Tidak perlu memelukku kalau kamu hanya ingin menangis.” Ucap Beatrice.

Mayumi kembali tertegun dengan wajah bingung. Hanya Beatrice teman paling dekat selam Mayumi kerja di sini, dan juga Beatrice yang membawa Mayumi untuk kerja di sini.

“Mereka melecehkanku, Beatrice,” ucap Mayumi dengan wajah memelas.

Beatrice tersenyum tipis. “Aku tidak peduli. Sebelum kamu mulai bekerja, aku sudah memberimu beberapa penjelasan mengenai pekerjaanmu di sini.”

Mayumi kembali terdiam. Ini kelab malam, apa pun bisa terjadi di sini karena memang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang mencari hiburan gelap.

“Kamu sudah mempermalukan aku dengan menolak pelanggan. Nyonya Rika sudah memecatmu. Dan ini gaji kamu selam satu bulan di sini.”

Beatrice maju dan mengulurkan amplop coklat ke arah Mayumi. Mayumi sempat melongo sebelum akhirnya menerima pesangon itu.

Malam ini menjadi malam yang buruk untuk Mayumi. Selama ia hidup, bersentuhan dengan seorang pria pun belum pernah ia lakukan. Maksudnya bersentuhan sampai yang berlebihan. Mengenai bergandengan tangan, pernah. Itu terjadi saat menjalin kasih dengan seorang pria sekitar lima tahun yang lalu.

Mayumi lega bisa ke luar dari tempat itu dengan selamat, tapi setelah ini harus apa? di mana Mayumi kan mencari pekerjaan lagi?

Brak!

Mayumi jatuh menabrak tiang listrik saat berjalan di trotoar. Seseorang terlihat berlari dengan sangat cepat usai menyerempet Mayumi. Dan tidak lama setelah Mayumi memandangi orang itu hingga menghilang masuk ke semak-semak, tiga orang lagi berbadan kekar muncul berlarian ke arah di mana pria itu berada.

***

Bab 2

Ketiga pria itu tidak berhasil menemukan pria pertama yang Mayumi lihat. Mereka kini sudah pergi entah ke mana. Mayumi tidak mau peduli, mala mini hidupnya terlalu kacau untuk mengikuti masalah orang lain. Mayumi meraup wajahnya, menarik napas dalam-dalam lalu kembali berjalan menyusuri trotoar.

“Aku harus bagaimana sekarang?” gumam Mayumi.

Mayumi memasang wajah menyedihkan. Raut wajah cantik kini sudah kusam penuh keringat dan pasti sangat lengket.

“Kemari kamu!”

“Astaga!” Mayumi jatuh terjerembap masuk ke dalam semak saat seseorang menarik tangannya secara tiba-tiba.

Kedua mata Mayumi menatap seseorang pria yang posisinya kini sedang berada di bawahnya.

“Oh, astaga!” umpat Mayumi lagi. Mayumi buru-buru mundur menjauh, tapi satu kakinya bisa digapai oleh pria itu.

“Tunggu dulu!”

“Lepaskan aku!” Mayumi sudah terlanjur panik. “Aku akan berteriak kalau kamu tidak melepaskan kakiku!”

Mayumi sudah membuat corong dengan kedua tangannya, dan mulutnya sudah hampir terbuka.

“Aku sedang kesakitan.”

Bibir itu kembali mengatup dan Mayumi urung menyerukan suaranya. Mayumi kini menunduk menatap pria itu yang sedang meringis sambil memegangi bagian perutnya.

Oke, pria ini sepertinya memang sedang kesakitan. Oh, tunggu dulu! Bisa jadi dia sedang pura-pura?

Mayumi sudah ingin kabur dengan gerak perlahan, tapi lagi-lagi pria itu menarik kakinya.

“Aku mohon. Tolong aku. Aku akan bayar berapa pun yang kamu mau.”

Mayumi tertegun beberapa saat. Berapa pun itu berapa? Dengan bodohnya Mayumi mulai menebak-nebak.

“Berapa pun?” tanya Mayumi dengan polosnya.

Sambil menahan sakit, pria itu mengangguk. Aku punya banyak uang. Sekali pun membeli dirimu, aku pun mampu.”

Seketika Mayumi menaikkan satu ujung bibirnya dan mendelik tajam. Angkuh sekali pria ini. Dia sedang kesakitan dan penuh darah, tapi masih bisa menyombongkan diri.

“Plis! Aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah kehilangan banyak darah.”

Mayumi mulai toleh sana-sini dan mengangkat sedikit kepalanya untuk memantau keadaan. Kemudian, Mayumi kembali terduduk dan menatap pria yang belum diketahui Namanya itu.

“Oke, sekarang aku harus apa?” tanya Mayumi.

“Pesan saja taksi online.”

“Oke.”

Mayumi merogoh tasnya lalu mengambil ponselnya dan segera memesan taksi. Sambil menunggu taksi datang, diam-daim Mayumi mengamati wajah yang sedang meringis menahan rasa sakit itu. Wajahnya tampan, tidak ada jerawat sepertinya, tapi dari sorot lampu yang tidak terlalu terang Mayumi melihat ada luka di ujung bibirnya. Apakah ada hubungannya dengan ketiga pria tadi?

Tidak lama kemudian taksi yang dipesan pun datang. Dengan dibantu sopir taksi, Mayumi memapah pria itu masuk ke dalam mobil.

“Mau diantar ke mana, Nona?” tanya si sopir.

Mayumi menoleh ke arah pria itu. “Ke mana?”

Pria itu menyebutkan sebuah tempat di mana Mayumi belum pernah mendengar letaknya ada di mana, tapi sepertinya sang sopir sudah tahu.

Mobil pun melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Hal itu dilakukan karena pria itu sudah semakin kehabisan tenaga.

“Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit saja?” tanya Mayumi. “Kamu sudah kehilangan banyak darah.”

“Tidak usah,” tegas pria itu.

Dan sekitar setengah jam perjalanan, mobil taksi memasuki sebuah Kawasan jalan setapak yang di kelilingi pohon pinus sepanjang jalan. Suasana di depan sana tampak sepi dan menyeramkan karena tidak ada sama sekali mobil yang melintas atau lampu penerangan jalan. Ada lampu jalan, tapi jaraknya cukup jauh dari masing-masing lampu yang terpasang.

Semakin jauh ke dalam, hawa dingin mulai terasa menusuk. Mayumi merasakan dadanya berdegup kencang dan badannya gemetaran panas dingin. Namun, sekitar lima menit kemudian, di depan sana terlihat sebuah rumah besar bak istana dengan lampu yang bersinar terang di bagian gerbang.

Apa itu? Istana?

Mayumi sedikit mencondongkan badan mengamati ke luar sana. “Apa itu rumahmu?” tanyanya.

Tidak lama setelah itu, mobil pun berhenti di depan pintu gerbang. Pria itu menarik baju Mayumi, spontan Mayumi menoleh.

“Turun dan tekan tombol bellnya.”

Tanpa pertanyaan, Mayumi langsung turun. Mayumi terlalu penasaran dengan rumah besar bak istana yang sekarang berada di hadapannya itu. Sambil melongo dan terkagum-kagum, Mayumi berdiri sambil memegang ring gerbang itu. Saking takjubnya, Mayumi sampai lupa kalau di dalam mobil ada orang yang hampir sekarat.

“Hoi, ayolah! Aku kesakitan di sini!” hardik pria itu saat kaca jendela taksi terbuka.

Seketika Mayumi terlonjak kaget dan langsung buru-buru mencari letak bell lantas menekannya beberapa kali. Tidak perlu menunggu lama, tiba-tiba gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Mayumi yang masih berdiri di sana seketika terlonjak sampai berjinjit dan mengusap dadanya.

“Masuk saja, Pak.”

Taksi itu melaju secara perlahan hingga berhenti tidak jauh dari pintu masuk utama. Sementara Mayumi, dia masih sibuk menyapu pandangan seperti orang bodoh yang kebingungan.

“Astaga, Tuan Frans!” Dua orang berjas hitam sigap menghampiri dan langsung membatu Frans turun dari mobil. Salah satu dari mereka memanggil pelayan lain untuk ikut membantu. Dari depan pintu gerbang yang masih terbuka, Mayumi berdiri mengamati mereka-mereka yang sudah heboh membantu Frans. Ada sekitar sepuluh orang yang sibuk mondar-mandir membantu. Dan dengan santainya, Mayumi berjalan mendekat dan sebatas mengawasi saja.

“Maaf, Nona siapa.” Satu pelayan Wanita menghentikan langkah Mayumi yang hendak ikut masuk ke dalam rumah.

Mayumi tampak bingung. “Em, aku … aku datang bersama Tuan itu. “ Mayumi menunjuk ke arah Frans yang sudah di dorong menggunakan kursi roda entah ke ruangan mana.

Para pelayan itu saling pandang lalu menarik Mayumi masuk ke dalam sebelum akhirnya pintu lebar dan menjulang tinggi itu tertutup rapat.

Astaga! Ini memang sebuah istana. Mayumi tidak berhenti terkagum-kagum. Di dan rumah ini sangat mewah. Ada jam besar yang terbuat dari kayu, ada juga patung besar seorang yang sepertinya seorang pangeran dan ratunya. Dan masih banyak lagi yang tidak akan habis untuk dikagumi.

“Beri Wanita itu kamar,” ucap Frans seraya berbaring di atas ranjang.

“Wanita yang mana, tuan?”

“Dia pasti ada di bawah. Suruh saja pengawal menyiapkan kapar dan pakaian untuknya.”

“Baik, Tuan.” Mereka berempat mengangguk. “Saya juga sudah panggilkan dokter untuk segera datang.”

Frans mengangguk. Sementara dua penjaga sudah ke luar dua penjaga lain mulai mengelap luka Frans. Sudah banyak darah yang ke luar, dan kalau bukan Arkan kemungkinan besar sudah pingsan. Namun, sepertinya luka di bagian perut yang tidak jauh dari pinggangnya ini tidak terlalu serius. Untungnya peluru itu melesat dan hanya sekedar menyerempet saja.

Frans menyelesaikan maslah ini besok. Rasa sakitnya saat ini harus segera terbalaskan.

“Memang sialan!” hardik Frans.

“Apa pelakunya Tuan Jacob?” tanya Leo.

“Bisa jadi. Orang itu sungguh gila! Jelas-jelas aku tidak ada hubungan dengan Wanita itu, tapi pria tua bangka itu terus memaksa.”

***

Bab 3

Mayumi sudah dikawal tiga pelayan masuk ke dalam sebuah kamar. Begitu masuk ke dalam, Mayumi kembali tercengang. Kamar ini sangat luas, dan kemungkinan berukuran lebih dari lima kali lima meter. Tepatnya lebih luas dari tempat tinggal Mayumi saat ini.

“Oh, astaga!” pekik Mayumi tiba-tiba. Mayumi menoleh dan tiga pelayan itu sudah ke luar meninggalkan kamar tersebut usai meletakkan perlengkapan untuknya, seperti handuk, sabun dan juga pakaian bersih.

Mayumi menggigit bibir dan celingukan seperti orang kebingungan.

“Aku sampai melupakan ibuku. Bagaimana ini?” Mayumi berdecak dan mendesis bingung.

Mayumi bergidik lantas berjalan menuju pintu yang sudah tertutup itu. Mayumi berdiri di sana karena ragu untuk ke luar. Rumah ini sangat besar, untuk sampai di kamar ini saja membutuhkan waktu karena ada beberapa belokan dan Lorong. Belum lagi Mayumi ingat kalau pelayan begitu banyak dan juga para pengawal pria itu.

Setelah beberapa berpikir, Mayumi akhirnya memutuskan untuk ke luar. Perlahan ia membuka pintu supaya tidak menghasilkan suara. Begitu kepalanya menyembul, Mayumi toleh sana sini memastikan keadaan sekitar.

Sial! Bagaimana aku bisa terjebak di rumah sebesar ini?

Mayumi masih memantau keadaan berharap tidak ada siapa pun.

Ketika sudah merasa aman, Mayumi mulai melangkahkan kakai dengan sangat hati-hati. Ketika sudah melewati satu ruangan, Mayumi berdiri sambil garuk-garuk tengkuk. Tempat ini sungguh membingungkan seperti labirin yang kebanyakan orang tidak akan bisa ke luar darinya.

“Aku harus ke mana sekarang?” decak Mayumi sambil mengentakkan kaki.

Tersadar hentakan kakinya menimbulkan suara, spontan Mayumi menurunkan kepala dan mendaratkan satu telapak tangan pada mulurnya. Masih sambil sedikit membungkuk, Mayumi menoleh ke arah belakang. Tidak ada siapa pun di sini, Mayumi kembali berdiri tegak dan mengusap dada.

“Nona?”

“Astaga!”

Mayumi menjerit sampai melompat kecil saat tiba-tiba sudah ada seorang pelayan saat kembali berbalik badan.

“Nona sedang apa di sini?” tanya pelayan itu.

Mayumi tampak gugup dan bingung. Ia sendiri juga bingung harus apa saat ini. Ia harus kembali pulang, tapi bagaimana caranya? Dan di mana pria yang terluka itu?

“Nona”? tegur pelayan itu.

“Oh, iya, maaf.”

“Ada yang bisa saya bantu?”

Mayumi mengamati pelayan itu mulai dari atas hingga ke ujung kaki. Dari tampilan dan cara bicaranya sepertinya pelayan ini sangat baik.

“Em, bolehkan aku bertemu Tuanmu?” tanya Mayumi.

Pelayan itu tersenyum. “Tuan Frans sedang diperiksa oleh dokter. Nona bisa menunggu.”

Oh, jadi Namanya Frans? Ck, seperti anak seorang pangeran saja. Mayumi tidak sadar sudah meringis dan cekikikan sendiri.

“Nona, apa ada yang salah?”

“Oh, tidak.” Dengan cepat Mayumi berdehem dan mengangkat wajah tegak. “Kalau begitu, di mana aku harus menunggu? Ini sudah malam, aku tidak mau ibuku khawatir di rumah.”

“Maaf, Nona, tunggu saja sampai Tuan Frans, datang.”

Mayumi membuang muka sambil berdecak. Kalau sudah begini, tidak mungkin Mayumi bisa pulang, dan lagi rumah ini jauh dari pusat kota. Mayumi ingat betul jalanan yang ia lalui penuh dengan pepohonan besar dan berhawa dingin seperti di tengah hutan. Rumah ini bukan terletak di pemukiman atau perumahan pada umumnya.

Pelayan itu mengantar Mayumi ke ruang tengah di mana ada tv besar dan juga tempat duduk keluarga di belakangnya. Ada dinding kaca yang memperlihatkan bagian luar sana yang sepertinya sebuah taman dan tempat olah raga.

“Nona tunggu saja di sini. Saya ambilkan makanan dulu.”

Mayumi mengangguk.

“Tunggu!” cegah Mayumi sebelum pelayan itu pergi ke belakang.

“Iya, Nona. Ada apa?”

“Maaf bisa beri tahu nama kamu siapa? Supaya aku tidak bingung saat memanggilmu.”

Pelayan itu tersenyum ramah. “Panggil saya Liana.”

“Oh, Baiklah, Liana.”

Tidak lama setelah Liana pergi ke belakang, sekitar dua lima menit kemudian kembali dengan membawa nampan berisi segelas minuman dan beberapa potong roti.

“Silakan, Nona.” Liana meletakan nampan itu di atas meja.

Mayumi tersenyum seraya sedikit meringis. “Terima kasih.”

Roti potong itu sungguh menggiurkan sekali. Mayumi yang memang sedang lapar sudah menyapu lidah dan menelan ludah. Dan ketika Liana sudah berlalu pergi, sudah tidak tahan lagi, Mayumi mengambil dengan cepat satu potong roti itu dan langsung menggigitnya. Rasa lapar dan lezat yang menyatu, membuat mulut Mayumi terlihat penuh.

“Astaga, ini enak sekali!” mulut masih penuh tapi Mayumi tetap bicara.

“Ekhem!”

Mayumi spontan mendongak dan seketika ia telan paksa roti yang masih di dalam mulutnya itu. Seseorang berjas hitam dengan kulit coklat sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. Mayumi sungguh takut hingga tenggorokannya terasa sesak karena roti yang ia telan.

“Tuan Frans meminta anda datang,” kata pria itu,

Sekali lagi Mayumi menelan ludah dan tersenyum kaku.

“Mari saya antar.”

Pria itu menjulurkan tangan mengarah ke sebuah pintu dengan beberapa tombol di sampingnya. Apa itu pintu lift? Mayumi kembali dibuat terheran-heran. Gila! Rumah ini besar dan sangat modern.

Sampai di lantai atas, Mayumi ikut ke mana langkah pengawal itu berjalan. Dan Ketika sampai di sebuah pintu paling ujung, pengawal itu berdiri menyamping sementara satu tangannya memutar knop pintu.

“Silakan, Nona. Tuan Frans sudah menunggu.”

Mayumi mengangguk lantas masuk ke dalam. Fiuh! Tubuhnya mendadak gemetaran. Saat ini Mayumi berada entah di mana dan bersama siapa, yang jelas mereka semua adalah orang asing yang pastinya tidak tahu asal-usulnya. Mau bagaimana pun, niat Mayumi hanya ingin menagih bayaran yang sudah dijanjikan Frans sebelum sampai di sini.

Begitu sudah masuk, Mayumi melihat Frans sedang berbaring di atas ranjang dengan bantal yang sedikit tersusun lebih tinggi di bagian kepala dan punggung.

“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Mayumi.

“Seperti yang kamu lihat,” jawabnya.

Memang aku melihat apa? aku jelas tidak tahu bagaimana kondisinya saat ini.

Mayumi melangkah semakin maju hingga lebih dekat dengan ranjang.

“Ok, Mayumi, ini saatnya. Kamu harus segera pergi dari rumah ini, tapi kamu harus mendapatkan bayaranmu dulu,” batin Mayumi.

“Terima kasih,” ucap Frans.

“Hm.” Mayumi sedikit mengangkat dagu.

Mayumi bingung harus mulai dari mana untuk membicarakan perjanjian tidak resmi itu, tapi kalu diam saja juga akan percuma.

“Maaf, aku harus segera pulang. Ibuku pasti mencariku.”

“Kamu yakin ingin pulang? Ini sudah sangat larut.”

Mayumi mengangguk. “Aku tidak mau ibu mengkhawatirkanku.”

Frans mendecih dan membuang mata jengah. “Memang ada seorang ibu yang benar-benar mengkhawatirkan anaknya, ha?”

Kening Mayumi berkerut mendengar kalimat itu. “Apa maksud kamu?”

Frans kembali menatap Mayumi. “Yang kutahu, ibu hanyalah orang yang suka memaksa dan menuntut.”

Mayumi tidak menyukai kalimat itu, itu terdengar sangat kasar meskipun harusnya biasa saja. Mayumi dibesarkan oleh ibunya penuh kasih sayang dan tidak pernah ada paksaan sedikit pun. Bagaimana orang ini bisa dengan entengnya bicara seperti itu.

“Aku tidak peduli bagaimana ibumu bersikap, tapi ibuku tidak begitu. Aku hanya ingin pulang saat ini, dan kumohon beri aku apa yang sudah kamu janjikan.”

Frans tersenyum setengah menyeringai. Ia menatap Mayumi mulai dari ujung kepala dan kaki. Sungguh kumuh dan seperti tidak terawat. Pakaiannya tampak begitu murahan.

“Dasar Wanita! Semua memang sama, sama-sama penggila uang,” cibir Frans dengan suara lirih.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED