Naima terbangun saat matahari sudah condong kearah barat, rasa lapar mendera perutnya. Naima segera bangun, membersihkan diri dan merapikan barang bawaan dari tas carier ke lemari kecil di pojok ruangan. Naima teringat dengan korban kecelakaan yang ia tinggalkan sendiri. Naima bergegas merapikan diri, mengambil sling bag kecil mengisinya dengan dompet dan ponsel. Naima segera memesan ojek online.
Begitu sampai di lobby rumah sakit, Naima segera berlari menuju kamar inap yang pagi tadi dia tinggalkan. Namun perawat yang berjaga sudah berganti, Naima gamang ingin langsung masuk atau menanyakan terlebih dahulu.
“Mbak permisi, bapak yang di dalam sudah sadar?” Naima mencoba bertanya pada perawat jaga.
“Maaf mbak bapak yanga mana ya? Siapa nama pasiennya?” Perawat sedikit kebingungan dengan pertanyaan Naima.
“Alberico kalau tidak salah”
“Oh bapak Alberico, sudah meninggalkan kamar sejak 1 jam yang lalu mbak.” kata perawat dengan senyum mengembang, Naima merasa lega, berarti korban kecelakaan tadi tidak koma.
“Oh makasih mbak, permisi.” Naima segera keluar dari rumah sakit. Akhirnya dia terbebas, bukan kenapa-kenapa, memang menolong orang Naima ikhlas, hanya takut sesuatu yang buruk terjadi sementara dia tidak mengetahui harus menghubungi siapa.
Karena tidak ada urusan lagi, Naima segera memesan taksi online, dia ingin selajur mencari lowongan pekerjaan dan membeli makan. Teringat perutnya yang lapar, Naima mencari lokasi yang banyak terdapat tempat nongkrong pemuda-pemudi jakarta. tak lama taksi pesanannya datang. Naima masuk ke kursi penumpang.
“Sesuai titik mbak?” Sang sopir bertanya dengan ramah.
“Kalau tempat yang banyak restoran dan café di daerah mana pak?“ Naima mencoba bertanya dengan ramah, seperti yang dia lihat di media sosial, daerah Kemang sepertinya tempat nongkrong yang asyik dan juga banyak tempat kuliner.
“Nanti juga melewati mbak, banyak kok daerah sana, nanti saya lewat jalan memutar. Mau cari makan?” tanya sang sopir.
“Iya,” Naima menjawab dengan singkat, perutnya sudah keroncongan. Nasi uduk ternyata tidak dapat bertahan lama.
“Naima menghafal nama café dan restoran yang ia lewati, yang mungkin akan dia kunjungi, mungkin tidak hari ini setidaknya dia harus mempunyai tujuan pasti. Mencari di online sangat sulit, kebanyakan sales ataupun marketing. Naima tidak berbakat dalam hal itu. Naima bersekolah di tata boga, jadi dia berencana melamar di restoran ataupun pekerjaan yang berhubungan dengan makanan.
“Mbak itu ada café mau buka sepertinya, coba kita pelan-pelan, biasanya di sini kalau café baru buka akan banyak diskon menu.” Bapak sopir sepertinya hafal kebiasaan di kota ini. Naima membidik nama café dan alamat yang terpahat di dinding dengan jelas dengan camera gawainya. Saat melihat selebaran putih tertempel di salah satu dinding dan bertuliskan “Di butuhkan karyawati” Naima segera minta sopir berhenti. Dan segera membayar, Naima mendekat kearah café. Memang belum buka, tapi sudah ada poster menu dan diskon saat grand launching.
Naima memberanikan diri, walaupun belum membawa berkas apapun. Naima tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terlewat begitu saja. Mengabaikan rasa lapar, Naima mencari informasi yang tertulis di papan pengumuman itu. Mengedarkan pandangan, siapa tau ada yang bisa dia mintakan informasi.
Jaka yang baru saja datang, mengamati perempuan dengan rambut hitam Panjang bergelombang alami, sedang berdiri menatap papan pengumuman yang tertempel di dinding café. Menarik, dari belakang kelihatan cantik dan semampai. Jaka memperkirakan tinggi perempuan itu 165 cm. Jaka hanya diam sambil mengamati, apa yang akan perempuan itu lakukan. Naima berbalik ingin mencari tahu apakah ada orang yang bisa di mintakan infomasi soal lowongan yang tertempel.
Jaka tertegun, saat perempuan itu berbalik. Wajah cantik alami dan memancarkan kelembutan terlihat dari sorot perempuan yang berjalan mendekatinya. Seperti adegan slow motion Jaka terpesona untuk sesaat.
“Maaf pak, saya mau tanya?” Suara ramah dan sopan Naima menyadarkan Jaka.
“Iya kak, ada yang bisa saya bantu?” Jaka segera mengubah raut wajahnya menjadi serius.
“Saya membaca di tempat ini ada lowongan, tapi harus datang langsung. Kira kira maksudnya bagaimana? Apakah melamar saat grand launching atau bagaimana?” tanya Naima, demi mengurai kebingungannya.
“Kakak mau melamar pekerjaan?” Naima mengangguk.
“Silahkan masuk, kebetulan saya pegawai yang bertugas merekrut karyawan.” ajak Jaka memasuki cafe yang masih dalam tahap finishing. Naima mengikuti dari belakang, terpesona dengan penampilan café yang nyaman dan sangat elegan.
Jaka mempersilahkan Naima untuk duduk di ruang meeting. Memberikan kertas formular untuk Naima isi.
“Kakak background pendidikannya apa?” Jaka masih terpesona dengan wajah tanpa riasan di depannya.
“Saya lulusan SMK tata Boga.” Naima menjawab dengan tegas sambil tangannya bergerak lincah mengisi formular yang disodorkan oleh Jaka. Jaka yakin perempuan ini cekatan dan ulet.
“Sudah pernah bekerja dimana saja?” tanya jaka lagi, dengan senyuman masih terpatri di bibir. Naima mengangkat wajahnya. “Maaf, saya baru lulus dan baru mencari pekerjaan. Belum ada pengalaman,” jawab Naima lugas.
“Oh fresh graduate ya berarti.” Jaka mengaguk-anggukan kepalanya.
“Kenapa kakak tidak melanjutkan kuliah di perhotelan atau pariwisata?” lanjut Jaka, Naima tersenyum masam,“Saya harus menghidupi diri saya pak, saya harus bekerja karena saya sudah tidak punya orang tua.” jawabnya. Jaka tertegun mendengarnya.
“Maaf, saya turut berduka cita.” Jaka mengucapkan dengan tulus.
“Tidak apa apa pak.” Naima menyerahkan formulit yang sudah dia isi.
“Kakak Naima Ayundia, Asal semarang?” Jaka membaca sambil menatap Naima yang mengangguk.
Setelah melakukan wawancara singkat tentang profile, motivasi dan tujuan bekerja Jaka mengakhiri. Sebenarnya masih ingin berlama-lama mengobrol dengan perempuan manis di depannya. Namun pekerjaannya menanti, tidak lama lagi gadis ini akan setiap hari dia temui.
“Baik, besok silahkan membawa berkas yang di butuhkan. Serahkan di resepsionis, dan tunggu kabar dari kami selanjutnya.” Jaka mengulurkan tangan, Naima menjabat tangan dan tersenyum mengucapkan terima kasih.
Naima pulang ke kost dengan hati gembira, tapi besok dia masih harus mencari yang lain sebagai cadangan. Kalu tidak di terima yang satu masih ada yang lainnya. Sesampai di kost Naima segera mempersiapkan dokumen yang di butuhkan, memasukkan ke dalam amplop coklat dan di beri label nama café tempat dia melamar. Naima akan berdoa sebanyak banyaknya supaya dia tidak menganggur terlalu lama.
Teringat perutnya yang mulai perih, Naima mengambil persediaan obat maagh di dalam tas. Sambil mengunyah dia menuruni tangga, mencari penjual makanan terdekat dengan kost.
Di Bagian lain kota Jakarta, Alberico sedang berada di ruang tamu apartemennya, ditemani oleh pengacara dan juga ada sesosok polisi. Hanya untuk diminta keterangan dan mengurus dokumen pengambilan kendaraan.
“Busyet, lo yang ketimpa musibah. Lo juga yang harus bayar. Bener bener dah oknum di negeri ini.” ucap Viran, pengacara muda teman Albe terkekeh geli. Setelah polisi itu pergi dari rumah Albe.
“Biarkan saja Vir, asal mobilku kembali. Aku sudah menduga, kalau aku ke kantor mungkin tidak seperti ini. Tetapi aku terlalu malas, jika bisa diselesaikan dengan uang mengapa tidak?” Albe merebahkan badannya yang masih terasa remuk.
“Sorry bro, gue Cuma bisa bantu segitu doang.” Viran menepuk bahu Albe.
“Sudahlah, aku tidak masalah. Yang penting semua sudah selesai. By the way, kamu sudah dapat siapa perempuan yang menolongku?” Albe melirik ke arah Viran. Viran hanya menggeleng.
“Mungkin perempuan itu pulang dari camping, yang aku lihat di video yang viral di media sosial. Perempuan itu membawa tas carier, wah susah kalau anak petualang. Mungkin dia hanya backpacker. Apalagi lokasi kecelakaan lo ga jauh dari terminal.” Albe mengetikkan nama Naima di mesin pencarian gawainya dan beberapa sosial media.
“Kamu bisa screenshoot mukanya yang mungkin bisa memberikan sedikit petunjuk.” Albe menggigit bibirnya berpikir keras.
“Nanti aku akan usahakan membantumu mencari tahu. Yang penting lo sembuh dulu bro, ga lucu kan sudah mau deadline pembukaan café baru lo ini, eh yang punya cafe masih tepar” Viran bangkit menuju pantry, mengambil minuman bersoda dan meneguknya hingga tandas.
Albe mencari-cari wanita yang kata perawat cantik, rambutnya hitam bergelombang, tinggi. Melihat di media sosial malah membuat kepala Albe semakin pusing, rata-rata perempuan sekarang rambutnya di buat bergelombang, cantik? Semua perempuan memposting wajah cantik mereka entah dengan filter atau memang sudah cantik alami. Tinggi? Bagaimana Albe tahu kalua hanya dari foto. Albe menghempas gawainya ke meja.
Pantang baginya berhutang budi, jika harus membayar Albe akan membayar berapapun, karena nyawanya sudah tertolong, walaupun memang tidak terlalu parah. Akan tetapi itu tetap sangat berarti. Jangan pernah menyepelekan kebaikan seseorang walaupun sekecil apapaun.
“Bro, gue pulang dulu, cewek gue sudah nungguin. Lo puasa dulu deh beberapa hari ini, biar stamina lo balik lagi ... hahaha ... met istirahat bro!” Viran berlalu sambal tertawa.
Albe tidak menanggapi, mengambil gawainya kembali. Albe membuka aplikasi, memesan makan online dia harus tetap mengisi tenaganya walaupun hanya untuk di gunakan beristirahat. Albe hanya pendatang, teman kuliahnya Jaka yang berasal dari negeri ini yang membawanya ke sini sejak beberapa tahun lalu. Hanya untuk berlibur dan untuk sesuatu hal yang pribadi, akhirnya Albe memutuskan untuk mendirikan usaha, bermain dan bekerja. Play Hard work hard menjadi prinsipnya. Albe memang orang berada di negaranya, orang tuanya juga mempunyai beberapa restoran. Tak heran jika dia juga terjun di dunia yang sudah menghidupi keluarganya dan dirinya dari kecil.
Bel berbunyi, Albe segera bangkit membuka pintu. Sesosok bapak dengan jaket hijau di depan unit, membawa paperbag bertuliskan restoran ternama. Albe memberikan sedikit tips tunai. Tak disangka sebelum Albe masuk kembali ke unitnya sang Bapak ojek menyapanya.
“Mister yang tadi malam kecelakaan?” Albe berbalik. Bapak ini tau.
“Bapak ada di lokasi kejadian?” tanya Albe, Bapak ojek itu hanya mengangguk
“Syukurlah tidak apa apa. Semoga cepat sembuh permisi.” sebelum bapak ojek menjauh Albe mengejarnya.
“Tunggu pak ... ” panggil Albe, Bapak tadi menghentikan langkahnya.
“Iya Mister?” Bapak ojek terlihat kebingungan.
“Maaf, bapak benar ada di lokasi kejadian? Tidak hanya melihat lewat video di sosial media kan?” Pak ojek mengeleng keheranan, Albe hanya takut orang memanfaatkannya.
“Iya mister, saya sebenarnya mau mengantar mbak yang nolongin mister tapi mbaknya ikut kerumah sakit.” Pak ojek penolongnya. Batin Albe.
“Bapak menyimpan alamat dan nama si pemesan?” Albe dengan semangat menanyakan hal lebih detail.
“Oh masih di histori saya, sebentar. “ Bapak ojek terlihat sibuk mengscroll gawainya.
“Orangnya seperti apa pak?” Albe terlihat tidak sabaran.
“Tinggi sih Mister, cantik baik. Soalnya mbaknya tetap bayar saya walau ga jadi saya antar. Oh ini Namanya Naima Ayundia, alamat tujuannya itu di Jl. Hj Syukur No. 80 di alamat aplikasi mister tapi kadang titiknya berbeda mapsnya suka loncat.” Albe mengingat ingat alamatnya tak memperdulikan informasi terakhir dari Bapak Ojek.
“Terima kasih pak, bapak membantu saya. “ Albe memberi tips lagi untuk pak ojek. Pak Ojek berterima kasih atas pemberian Albe yang tidak sedikit. Albe segera masuk dan menghubungi Viran.
“Yahhh brrooohhh ... ”Albe menjauhkan gawainya menjijikan sekali Viran ini.
“Sudahlah nanti saja selesaikan urusanmu.” Tanpa menunggu jawaban Albe mematikan sambungan telponnya.
Helaan nafas lega keluar dari mulut Albe, semoga cepat menemukan perempuan penolongnya. Albe segera memakan makanan yang sudah hampir dingin itu. Albe bersemangat untuk bisa lebih cepat sembuh. Sungguh seperti akan mendapatkan sesuatu yang entah membuatnya ingin cepat berganti hari.
**
Keesokan harinya, Naima sudah bersiap, menurut informasi kemarin biasanya café-cafe di daerah Kemang akan buka dari yang sarapan juga mulai siang hari, jadi pukul 9 sepertinya waktu yang tepat. Naima kali ini memakai pakaian lebih rapi. Rok span di bawah lutut juga kemeja kotak kotak. Rambutnya ia kuncir Kuda supaya terlihat elegan. Memandang tampilannya di cermin Naima sudah puas. Naima menimbang akan memakai sneaker kesukaannya atau flat shoes. Setelah berfikir lama, akhirnya Flat shoes menjadi pilihannya.
Naima segera menuju kejalan besar, dia akan menggunakan transportasi busway saja. Lebih murah dan nyaman. Lingkungan kostnya memang berada di pemukiman padat penduduk, tapi rapi dan bersih. Jalan memasuki kost juga lebar bisa untuk 2 mobil. Rumah-rumah besar di kanan kiri sepanjang jalan menuju jalan utama. Naima sengaja memilih kost di daerah Jakarta Selatan, karena dari yang dia lihat di berbagai media, banyak café dan restoran tersebar di sini. Itu akan memudahkannya mencari pekerjaan, dan juga jika harus ke terminal tidak terlalu jauh.
Café Kita yang kemarin Naima kunjungi sepertinya sudah lebih tertata daripada kemarin, progress pembangunannya cepat sekali. Padahal baru satu malam dia ketempat ini. Terlihat perempuan cantik sedang berjaga di meja resepsionis. Naima menghampiri dan tersenyum ramah.
“Selamat pagi mbak.” sapa Naima pada perempuan yang menunduk di depan meja resepsionis.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” perempuan dengan name tag Ajeng menyapa dengan ramah.
“Saya ingin menyerahkan dokumen, kemarin saya sudah mengisi formular pendaftaran untuk lowongan yang tetempel di papan pengumuman.” Naima menjelaskan dengan singkat.
“Baik, saya terima dokumennya. Nanti kakak akan di hubungi melalui kontak yang sudah kakak cantumkan. Ada lagi yang bisa saya bantu?” Naima hanya menggeleng, sepertinya kunjungannya cukup.
"Tidak terima kasih, saya permisi." pamit Naima.
“Silahkan, semoga beruntung kakak.” Ajeng tersenyum ramah. Naima segera keluar dari café, menuju ke arah lain yang kemarin sempat dia lihat memasang pengumuman lowongan pekerjaan.
Tak berselang menit, taksi berhenti di depan café sesosok Albe keluar dengan tampilan santai, plester masih menempel di beberapa bagian, tapi tidak mengurangi ketampanannya.
“Selamat pagi Pak Albe.” sapa Ajeng dengan senyum merekah.
“Pagi Ajeng, Viran sudah datang?” Albe ada janji dengan Viran di café ini.
“Belum Pak.” jawab Ajeng tanpa mengurai senyumannya.
“Ok. Saya di ruangan saya kalau dia datang."Albe segera menuju ruangannya di lantai atas belakang café.
Tentu saja Albe harus bersama seseorang untuk menemui perempuan penolongnya. Viran datang satu jam lebih lambat dari yang di janjikan.
“Sorry bro, gue harus kekantor dulu mengurus perizinan café lo ini, sepertinya ada preman yang minta jatah.” kata Viran, menyodorkan map ke depan Albe, danmendudukan pantatnya di kursi depan Albe. Albe berdecak.
“Siapa mereka?” Albe memutar kursinya dengan malas.
“Biasalah lah orang pengen kaya tapi ga mau usaha.” Viran menyerahkan dokumen lain untuk Albe pelajari.
“Siapkan saja seperti biasa, jika mereka berulah terpaksa aku harus turun tangan.” Albe sedikit banyak tau tentang dunia gelap berbisnis. Sebelum terjun dia akan mendalami dan melihat siapa yang paling kuat, karena itu akan sedikit banyak berpengaruh. Semakin kuat orang yang mendukungnya semakin jaya bisnis yang ia terjuni.
“Ok, kita cari darimana cewek misterius ini? Benar alamatnya di Hj. Syukur?” Viran melihat maps.
“Seperti yang bapak ojek bilang tadi malam. Kamu sudah menscreenshoot wajah perempuan itu dari media sosial?" Viran menepuk jidatnya.
"Sorry bro gue lupa, kalau ini tidak berhasil. Gue bakalan cari sendiri." Albe hanya geleng geleng, pengacara namun seperti preman saja.
“Ayo berangkat ....” Mereka tidak membuang buang waktu. Semakin cepat bertemu semakin cepat selesai.
Albe dan Viran segera menjalankan misi mencari penolongnya. Mobil Viran menjadi trasportasi kali ini karena mobil Albe masih dalam perbaikan.
“Lo naik busway aja bro, enak dari apartemen lo sekali doang.” Viran memberi saran Albe, Albe walau orang kaya namun paling benci jika harus menggunakan taksi, alasannya malas berduaaan dengan cowok. Nah ini dengan Viran bukannya cowok.
“ Aku pertimbangkan, aku malas mendengarkan curhatan pengemudi jika menggunakan taksi," seloroh Albe dengan muka malas, Viran tertawa terbahak.
“Ga usah lo dengerin, pura-pura aja ngorok, pasti diem.”
“Aku tidak pandai berpura pura, tidak seperti kamu.”Albe mencibir kelakuan Viran. Namun sang empunya hanya mendengus.
“Nanti pakai kartu gue, ada banyak tuh,”tunjuk Viran kearah laci dashboard, Albe hanya mengacungkan jempol. Hatinya berdegup tak menentu, tidak sabar bertemu dengan dewi penolongnya.
Tiba di jalan yang di sebutkan bapak ojek, Viran melajukan mobilnya pelan, mencari rumah dengan nomor 80. Hingga sampai ujung jalan dan sudah berganti nama jalan, mereka tidak menemukan angka 80 pada masing masing rumah. Viran memutar balikkan mobil, Kembali mengecek nomor rumah yang tertera. Namun hasilnya tyetap nihil, rumah setan apa Viran membatin
“Ga ada nomor 80, jangan-jangan setan, Al?”ucap Viran berlagak merinding.
“Kalau setan mana mungkin yang melihat banyak. Perawat di dalam ambulan juga bilang yang mengantarkan aku wanita. Wanita Vir, dan kakinya menginjak tanah memakai sepatu,”sungut Albe sebal. Viran tertawa tanpa henti, menikmati wajah kesal teman sekaligus koleganya ini.
“Coba kita turun, kita tanya ibu-ibu yang sedang gibahin tetangga mereka,”usul Viran menunjuk sekelompok ibu-ibu yang sedang mengerumuni tukang siomay. Albe berdecih malas, tapi tetap keluar menemui mereka.
“Selamat siang Ibu … ” Albe menyapa dengan takut-takut. Namun tekad kuatnya mengalahkan ketakutannya.
“Siang Mister bule … waduh ganteng banget ya ... ” seorang ibu dengan daster kebesaran mendekati Albe. Dengan senyum lima jari menghiasi wajah bulatnya.
“Bisa minta foto mister,” sela ibu yang lain Albe hanya meringis sungkan.
“Mister turis kesasar ape?” Seorang ibu bertanya dengan logat Betawinya
“Maaf ibu saya disini mau mencari seorang wanita, Namanya Naima apakah ibu-ibu ada yang mengenal?” tanya Albe ramah. Albe mencoba mempercepat misisnya, tak betah dia belama-lama di sini.
Albe mencoba bersabar, Viran yang berdiri di sisi mobil tertawa hingga menelungkupkan badannya di mobil. Benar-benar teman tidak pengertian, Albe mengumpat dalam hati.
“Sepertinya ga ada mister, mungkin yang rumahnya gedong itu," Si ibu menunjuk rumah bagian depan, Albe menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kok ga nyari saya saja mister,”Ibu dengan dandanan menor mencoba menggapai tangan Albe, Albe berjengit mundur.
“Heh elu ini misternya takut tu, jangan jangan acara prank nyoutuber-nyoutuber!!”seru seorang ibu . Suasana tambah tidak kondusif, Albe segera berlari menjauh, dan masuk mobil dengan cepat. Mengerikan sekali ibu-ibu itu. Albe mengelus dadanya, seumur dia di negeri ini, tak pernah sekalipun berinteraksi dengan masyarakat umum yang agresif seperti mereka.
“Ya ampun bro, lo tu lucu banget ngalahin srimulet ... hahahahaha”Viran terbahak dengan tidak sopannya.
“Kamu sebagai pengacara saya, malah tidak memberikan pertolongan.” hardik Albe terlihat kesal, misi kali ini GAGAL.
“Sabar bro, sorry, jarang-jarang gue lihat komedi langsung,” timpal Viran menghentikan tawa dan mulai melajukan mobilnya, masih dengan kikikan geli.
“Gue anter kemana?" tanya Viran, setelah lumayan jauh dari daerah Hj. Syukur.
“Ke café aja, besok aku meminta Jaka saja yang menemani. Ditemani pengacara malah tidak beres,”keluh Albe masih tidak bisa terima.
“Ok. Maaf bro sebagai gantinya tuh ambil tiket pass naik busway, semua bawa aja,” Albe mengambil kartu dengan logo beberapa bank pemerintah di laci dashboard mobil Viran.
“Kamu jangan lupa kasus yang tadi, cari tahu siapa backingan mereka.”titah Albe. Viran memberi tanda hormat.
Setelah masuk ke café, Albe Kembali merebahkan diri. Badannya belum terlalu fit, tapi rasa penasaran akan perempuan penolong itu membuat ia harus menahan kondisi tubuhnya.
**
Naima menyantap mie ayam di pinggir jalan, setelah dari Café Kita, Naima melanjutkaan mencari lowongan. Ternyata banyak sekali restoran di daerah ini. Dan lebih senangnya lagi dengan busway hanya 1 kali naik saja.
Naima melamar di beberapa tempat, entah yang menjadi rezekinya yang mana. Namun usaha harus tetap maksimal.
Hari sudah mulai sore, setelah menyelesaikan makanannya Naima segera mencari shuttle terdekat. Tak lama bus dengan tujuan kost datang. Naima segera masuk, menempelkan kartu yang sudah dia beli tadi di shuttle pertama tadi pagi dan sudah mengisi lumayan banyak untuk beberapa hari ke depan. Melewati Café Kita Naima memperhatikan. Ternyata tidak jauh juga ada pemberhentian busway, dalam hati Naima berdoa semoga secepatnya di beri kepastian.
Sesosok pria tinggi memakai topi masuk dan menempelkan kartunya, tapi sepertinya tidak berfungsi. Petugas membantu mengecek, ternyata saldo kartunya tidak mencukupi. Ganteng sih masa ga punya uang, Naima memperhatikan. Postur pria itu tinggi besar, wajahnya tampan dengan rambut tipis di sepanjang rahang. Naima seperti mengenali, tapi entahlah. Petugas memberi solusi untuk mengisi manual, sang pria sibuk mencari sesuatu ke semua saku celananya.
"Shit!!" gumaman pria itu terdengar ke telinga Naima. Apakah orang ini kecopetan? Untungnya bus dalam keadaan lengang. Aku menepuk Pundak pria didepanku yang masih kebingungan.
“Silahkan pakai punya saya," tawar Naima menyerahkan kepada petugas dan di terima dengan senang hati.
“Terima kasih, saya baru sekali naik busway. Dompet saya tertinggal di meja kantor,”ucap Pria asing ini terlihat frustasi, suara tegas dan dalam membuat sesuatu dalam perutnya berdesir asing. Saat menoleh kearahnya, wajah tampan dan semakin terpatri di benak Naima terlihat pucat. Naima mengenyahkan. pria itu tersenyum samar dan menatap Naima.
“Tidak apa apa, santai saja," kata Naima, kemabli menyimpan kartu pass pada tas mungilnya. Sang pria duduk di seberang Naima. Menatapnya dengan pandangan terima kasih, Naima hanya tersenyum canggung. Kasihan sekali kalau tidak punya uang.
“Apakah membutuhkan sesuatu lagi?”Naima mencoba bertanya.
“No thanks,” Jawabnya singkat, Naima mengangguk.
Naima turun di 2 shuttle berikutnya. Ia merasa ada yang menatapku saat berdiri, mencoba mengabaikan. Ia segera turun tanpa menyapa pria asing tadi. Jalan menuju kost ternyata rame pada sore hari, banyak pedagang menjajakan dagangannya. Naima segera membersihkan diri dan mengistirahatkan badan. Kakinya pegal setelah berkeliling hampir sepanjang jalan.
Tiga hari berlalu, tapi belum ada satupun panggilan, Naima memutuskan hari ini untuk mencari kelokasi lain.
Berjalan menelusuri trotoar lebar dengan pemandangan gedung tinggi yang menjulang, angin pengap dan panas karena polusi menerbangkan rambut Naima yang ia biarkan terurai. Seperti burung yang lepas dan bebas Naima berpetualang. Menjelajahi setiap sudut kota berharap lebih mengenal kota ini, walau sendiri tanpa ada yang Naima kenal disini.
Naima duduk sambil menikmati minuman yang dia beli, bersantai di bangku di sebuah taman kota. Menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Naima mengeluarkan dari dalam tas mungilnya.
"Assalamu'alaikum, selamat siang." Naima menyapa melihat nomor yang tidak dia kenal, tapi kode area jakarta tertera di depannya.
"Wa'alaikumsalam. Apakah benar ini dengan Kakak Naima Ayundia?" tanya suara merdu di seberang sana, Naima berdehem menetralkan kegugupannya.
"Iya benar kak," jawabnya cepat.
"Baik, Kakak bisa besok bersedia datang ke Cafe Kita pada pukul 8 pagi?" tanya wanita itu lagi.
"Bisa kak bisa," Naima menjawab dengan bersemangat.
"Baik, besok silakan datang dengan kemeja putih dan celana bahan hitam ya kak, sepatu hak maksimal lima centimeter dengan rambut di cepol rapi. Apakah ada yang ditanyakan?"
"Sepertinya sudah cukup jelas kak." kata naima, merekam apa yang wanita di seberang sana katakan.
"Baik, kalau begitu terima kasih atas waktunya. Kami tunggu kedatangannya. Selamat siang."
Rasanya Naima ingin sujud syukur sekarang juga, tapi Naima tersadar dia berada di taman kota. Naima berfikir apa yang tidak dia punya untuk besok? Sepatu dengan hak?
Naima berinisiatif memasuki Mall yang tidak jauh dari taman yang dia datangi, mencari referensi untuk kehadiran besok. Naima mengamati pelayan di bagian footcourt. Model sepatu yang mereka kenakan dan bentuk cepol rambut mereka. Naima terkikik geli. Hidup di desa dan jarang masuk Mall tidak membuat Naima seperti gadis udik. Rasa penasaran yang tinggi dan jiwa pekerja kerasnya melarangnya untuk abai terhadap perkembangan jaman. Walaupun bukan tipe terbaru gawainya cukup untuk menyimpan beberapa aplikasi yang dia anggap penting. Sosial media juga perlu untuk saat ini, berita dan informasi lebih up to date melalui sosial media.
Naima memang bukan dari keluarga berada, namun Almarhum kedua orang tuanya adalah orang yang modern. Menginginkan anak mereka menjadi pribadi yang mandiri dan mau bekerja keras dan tidak menutup mata pada perkembangan teknologi. Naima memang gadis kampung namun dia tidak lemah.
Mengunjungi stand sepatu, Naima memilih yang sesuai dengan seleranya dan juga harga yang masih ramah di kantongnya. Dia harus berhemat, tabungan peninggalan orang tuanya tidak banyak. Tidak bijak menghambur hamburkan untuk kondisinya saat ini.
"SEMANGAT MENYAMBUT HARI BARU!!" seru Naima dalam hati.