Aku berjalan ke sekolah dengan rasa
lelah dan mata yang mengantuk beberapa kali aku menguap di jalan sembari
menutupi mulutku beberapa kali hari ini ada mapel olahraga jadi aku berangkat
dari rumah menggunakan baju olahraga.
“Huaahh ini sungguh malas dan aku
ingin tidur”
Saat aku sampai di kelasku aku
langsung memposisikan tubuhku untuk segera tidur salah satu temanku
menghampiriku namanya Lana.
“Oy Nafchi bangun guru penjas
datang ”
Dia menepuk pundakku beberapa kali.
“Iya iya ini aku bangun kok”
Menguap.
Kemudian kita bersama guru penjas pun
menuju lapangan basket hari ini adalah jadwalnya olahraga basket kami melakukan
pemanasan terrlebih dahulu yang dipimpin oleh guru penjasku saat selesai kita
dibiarkan bermain grup laki laki dibagi beberapa menjadi grup aku sekelompok
bersama Awlan dan Izzan kita bertanding melawan kelas sebelah.
Bola dilambungkan ke atas dan
berebut tapi musuh yang berhasil mendapatkannya memegang bola dia berhasil
melewati awlan lalu mengoper ke teman yang berlari di sisi kiri melihat
posisi kosong di sisi kanan mengopernya aku gagal menghadangnya dia berhasil
menuju ke depan ring dia mengshoot bolanya dari depan ring namun sayang
bola itu terpental dan mengarah ke wajahku yang saat itu tidak reflek dan boom
aku tergeletak teman-temanku pun menghampiriku.
“Hei apa kau baik-baik saja?”
“Hei bangunlah”
Aku pingsan itu adalah kata kata yang
kudengar sebelum pingsan saat aku sadar aku sedang di UKS dan berbaring pipiku
merah karena terkena bola basket saat aku melihat diriku dari kaca di UKS
terkejut namun penasaran dan mencoba memegang.
“Aduh ish ternyata sakit”
“Kau ini jangan dipegang dulu pipimu
masih sakit”
Aku kaget tiba tiba ada seorang
perempuan rambut pendek di sampingku sedang duduk dan menatapku selama aku
pingsan.
“Em siapa kamu”
“Kenalin namaku Yuki aku adalah
petugas UKS hari ini salam kenal dan kamu?”
“Namaku Nafchi salam kenal”
“Eehhh kau anak baru ya hmmm”
“Iya hehe”
“Pantesan aku baru melihat pertama
kali dirimu”
“Apakah kamu tahun pertama juga
disini?”
“Tidak aku sudah naik kelas dan
sekarang tahun kedua di sekolah ini”
Kaget karena dia adalah senior disini
aku mencoba lebih sopan padanya saat berbicara dan bertingkah laku aku hanya
diam.
“Ehhhhh kenapa diem-diem terus si?”
“Aku gapapa kok”
Aku menggelengkan kepala.
“Apakah kamu mau makan sesuatu aku
dapat beberapa buah apel dari guru yang berjaga disini tapi dia pergi katanya
ada urusan”
“Umm aku mau jika tidak merepotkan
mu”
Dia memberikanku satu apel.
Saat aku mencoba mengunyahnya aku
merasa kesakitan.
“Aduh”
“Coba sini kulihat”
Dia memegang beberapa kali pipiku dan
mendekat ke mukanya.
“Tunggu- jangan mendekat lagi aku
malu”
Aku tersipu.
“Tenang saja hanya kita yang disini
sekarang coba ini buka mulutmu aaaa”
Aku membuka mulut.
“Apakah ini sakit?”
Aku merasa malu ketika ada seorang gadis
yang memegang pipiku dan menyuapi itu normal kan? Atau hanya terjadi padaku
saja.
“Sedikit tapi sakit saat aku mencoba
makan”
Dia mengupas dan memotong apel menjadi
beberapa bagian.
“Coba lah makan ini”
Dia memberikan padaku aku menerimanya
dengan tangan kananku lalu memasukan ke mulutku.
“Ini terasa lembut pipiku tidak saat
saat mencoba memakan Terimakasih Yuki”
Tersenyum ke Yuki.
“Sama-sama Nafchi”
Aku pun memakan apel itu bersama Yuki
hingga habis.
Melihat waktu yang kuhabiskan bersama
sudah lama kuputuskan untuk kembali ke kelas.
“Yuki mungkin sekarang waktuku untuk
kembali ke kelas aku sudah lebih baik”
“Syukurlah”
“Terimakasih Yuki”
“Sama-sama”
Sebelum aku melangkah kaki keluar aku
berhenti di depan pintu melambaikan tanganku dan tersenyum ke Yuki berjalan
menuju kelas saat aku tiba teman-temanku senyum padaku.
“Oi Keren kau sudah dapat gadis spek anime traktir makan dong”
“Anu dia itu kakak kelas”
Gawat aku keceplosan.
“Ngeri anak baru dapetnya kakak kelas
wah aku jadi iri”
“kita cuma baru tau nama satu sama
lain kok gak lebih”
“Kau pasti bohong kami melihatmu dia
memegang pipimu saat di uks”
“Itu anuuu enmmm... yah itu benar
tapi dia melakukannya karena”
Aku terpojok tidak bisa menemukan
alasan yang tepat.
“Bohong dia pasti berpikir wah
sungguh ganteng adik kelasku ini sungguh ingin kunikahi”
Menghela nafas.
Tertawa bersama gerombolan laki laki.
Pelajaran dimulai aku mulai duduk
kembali di bangkuku saat aku mengambil buku pelajaran ada serobek kertas kecil
di dalamnya tertulis “TETAPLAH DIKELAS SAMPAI SEMUA MURID PERGI PULANG” Dipikir
pikir mungkin itu surat dari seseorang aku juga senggang jadi kuturuti saja.
“Apakah ini?”
Melihat sekeliling kelas.
“Yah ini tidak mungkin si dari
Elaina”
Bel pulang bunyi teman-teman kelasku
mulai meninggalkan kelas satu per satu aku tetap dibangkuku sampai semua murid
pergi setelah semua teman di kelasku pergi pulang semua di situ hanya ada aku
sendiri.
“Hah!! Sial aku kena tipu!”
Seseorang kemudian mengetuk pintu
kelas beberapa kali.
“Eh em masuklah”
Aku kaget ternyata itu Elaina dia
sendirian memasuki kelas dan hanya kami berdua yang di dalam kelas ku dia jalan
perlahan menghampiriku yang duduk di bangku.
“Jadi ini kamu yang nulis Elaina?”
Menunjukan kertas robekan yang
kutemukan di dalam tas.
Elaina mengangguk.
“Jadi ada perlu emm anu ehh”
Ini adalah pertama kali dalam hidupku
16 tahun aku didatangi seorang perempuan cantik dan hanya berdua di kelas
tanganku mengeluarkan keringat juga karena jantungku berdebar.
“Nafchi?”
Elaina melihat ke bawah dan
menggulung rambut dengan jarinya.
“Emm iya?”
“Apakah benar pipimu itu dipegang
pegang oleh kakak kelas saat di uks ?aku tidak sengaja mendengarnya saat di
kelas”
“Iya itu benar tapi tolong percaya
aku dia hanya memegangnya oke tidak lebih”
Tanganku mulai bergetar saat
mengatakan hal itu.
Elaina secara cepat memegang kedua
pipiku dengan tangannya itu membuat wajahku memerah seperti tomat karena baru
pertama kalinya dalam hidupku perempuan melakukan hal itu tapi ibuku tetaplah
yang pertama.
“E--la –i-na apa ya-n-g lak-u-ka-n?”
Aku mengatakan itu dengan grogi
jantungku berdetak kencang sehingga berpatah patah saat aku mengucapkannya saat
aku mencoba menatap wajah Elaina yang sebelumnya dia menatap ke bawah.
“Nafchi sekarang sudah tidak ada
bekas sentuhan lagi oleh kakak kelas itu diganti dengan sentuhan tanganku yang
lembut ini”
“Terima kasih Elaina emm anu tanganmu
lembut dan juga hangat kau boleh memegang pipiku selama yang kau mau”
Saat diriku mengatakan hal itu
tanganku gemetar dan jantungku berdetak lebih kencang.
Elaina tersipu hingga telinganya ikut
memerah beberapa saat mata kita membuat kontak mata saling menatap satu sama
lain perlahan mulai melepas pikpiku dia berlari saat di depan pintu kelas
berhenti dan menghadap kepadaku.
“Sama-sama Nafchi”
Elaina menutup mulutnya dengan satu
jari.
Kukira itu adalah tanda untuk tidak
mengatakan pada siapa pun kurasa kemungkinan besar seperti itu setelah
pertemuan dengan Elaina aku pulang ke rumahku itu sudah larut sehingga aku
hanya menggosok gigiku lalu ke kamarku dan mencoba tidur tapi setiap kali aku
mencoba tidur aku terus terbayang sentuhan Elaina di pipiku ini.
“Apakah kejadian tadi itu mimpi ? Yah
kuharap bukan”
Tidurku tidak nyenyak sampai-sampai
aku hanya tidur 3 jam hari ini.
Saat Elaina sampai dirumah dia
langsung menuju ke kamarnya tanpa melakukan basa basi ke orang tuanya dia
beberapa kali menatap tangannya dan berguling guling di kasurnya.
“Apakah aku benar benar
melakukannya?”
“Aaaaaaaaaaaa”
Siapakah dia murid tahun pertama yang
berdiri di depan guru sembari masih membawa tasnya dan mendengarkan ocehan guru
ya itu benar sayangnya itu aku.
Aku terbangun dari kamarku saat
membuka mata aku kaget sudah jam 6:45 Sedangkan sekolahku masuk pukul 07:00 aku
bergegas mandi berganti pakaian dan lain-lain saat aku keluar rumah aku berlari
kesekolah tanpa sarapan atau membawa bekal sama sekali saat aku sampai aku dicegat
oleh guru pengawas disana untuk berhenti.
“Nak apakah kau berniat sekolah atau
tidak masa jam 7 lebih kamu baru sampai!”
“Niat pak saya kesiangan tadi hehe”
“Oh kesiangan bagus alasan terus
lanjut murid baru banyak alasan”
“Jujur pak yasudah misal pak guru gak
percaya saya”
“Sekarang berdiri di lapangan 1 jam!”
“Tolong la pak masa gara gara telat
harus dihukum”
“Cepat lakukan bapak pantau kamu”
Aku segera berlari ke tengah lapangan
dan berdiri menjalani hukuman ku karena telat masuk ke kelas.
Setelah satu jam.
“Sekarang ke kelas cepat Awas kamu
telat lagi”
Aku mengangguk dan tidak berkata
apapun kakiku terasa sangat sakit ketika menahan beridiri satu jam itu benar-benar
lama aku berjalan menuju kelasku dan sudah ada guru lain disana teman- temanku
yang lain menatapku karena baru
berangkat telat.
“Permisi bu guru bisakah aku duduk di
bangku”
“Kamu kenapa nak baru masuk kelas?”
“Biasa bu telat dihukum tadi sama
guru yang ngawasin di depan gerbang”
“Lain kali jangan di ulangi lagi ya
silahkan duduk ”
Aku merasa nikmat ketika duduk di
bangku ku setelah 1 jam tersiksa berdiri di lapangan sembari di tatap oleh guru
pengawas itu.
Jam pelajaran selesai bel istirahat
berbunyi.
“Akhirnya saat yang kutunggu tunggu”
Aku memasukan tanganku ke dalam saku celana.
“Eh ehhh ehhh ehhhhh”
Aku lupa tidak membawa uang saku
sepertinya hari ini akan menjadi berat bagiku pagi ini tidak sarapan tidak
membawa bekal dan tidak membawa uang saku.
“Huft ya sudahlah bersyukur saja absenku
masih sempurna”
Aku memposisikan diriku menghadap ke
bawah dan menutupi dengan kedua tanganku mencoba tidur walau hanya sebentar itu
membuatku lebih baik mungkin.
Elaina melihatku dari bangkunya yang
tadi sedang dihukum oleh guru pengawas.
“Mmm kok Nafchi gak kaya biasanya
makan di mejanya malah tidur mungkin gak bawa bekal hmmm”
Elaina keluar ruangan kelas dan
membeli air putih dari mesin otomatis dia menuju ke mejaku menggoyangkannya
beberapa kali aku terbangun dan memgusap ngusap mataku.
“Dengerin ya Nafchi tidur itu jangan
kemalaman tahu jadi telat kan dasar payah Hemph”
“Iya iya ini salahku kok”
“Emmm ini untukmu”
Elaina memberikan botol air padaku.
“Wah seriusan nih? Kebetulan hari ini
aku cuma bawa buku bahkan uang sakuku tertinggal di rumah”
“Kalo jadi cowo tuh yang teliti tau
cara menjaga diri dasar gak becus”
Muka Elaina memerah.
“Terimakasih Elaina”
Elaina langsung menuju ke bangkunya
kembali tanpa membalas terimaksih ku itu tidak masalah kurasa aku meminum botol
air.
“Huft segarnyaa”
Elaina keluar lagi ke kelas membeli
sesuatu untuknya aku mengikutinya dari belakang
ke kantin dia tidak sengaja menabrak kakak kelas laki-laki yang sedang
membawa minuman di tangannya Elaina tidak sadar dan melanjutkan berjalan
kembali ke kelas setelah membeli sesuatu kakak kelas tersebut tidak terima dan
marah kepada Elaina karena menabraknya lalu mengabaikannya setelah membuat baju
kakak kelas itu terkena coklat berjalan
mendekat aku dengan segera berlari dan menghalangi kakak kelas itu.
“Tunggu kak dia perempuan oke tolong
maafkan dia”
“Apa kau tidak punya mata lihat
bajuku terkena coklat dan basah!”
“Tapi dia itu perempuan tolong
maafkan”
Aku mengulur waktu agar Elaina
cepat-cepat pergi ke kelasnya lagi.
“Heh diamana bocah itu? Kau pasti
sengaja mengulur waktu”
Dia menoleh beberapa kali ke semua
arah.
“Awas kau bocah! teman-teman ayo
pergi mencari bocah itu”
Aku memegang erat tangan kakak kelas.
“Tolong jangan lakukan itu dia hanya
tidak sengaja lakukan lah saja padaku sebagai gantinya tapi jangan sakiti
perempuan tadi akan ku kubiarkan setelah pulang sekolah di parkiran”
“Itu cukup bagus hahaha jaga kata-kata
mu itu”
Gerombolan kakak kelas itu pun
kembali duduk duduk di bangku kantin dan aku kembali ke kelasku
“Aduh bagaimana ini arrghhh”
Bel pulang sekolah berdering.
Tanganku gemetar saat mendengar bunyi
bel sekolah aku segera menuju parkiran lebih awal kakak kelas itu pun sampai di
parkiran sepeda dan hanya ada aku dan gerombolan kakak kelas itu
“Wah nyalimu besar juga ya ku hargai
itu apa kau siap bocah baru”
Aku hanya terdiam dan mengangguk.
Kakak kelas yang berbaju terkena
coklat itu memukul perutku aku terpental darah keluar dari hidungku.
“Itu cukup untuk anak baru sepertimu
haha”
Aku pulang dengan keadaan Memar di
salah satu perutku sembari memegangi berjalan menjuju rumahku.
Siapa kah dia anak laki laki yang
murung di kelas dan menatap terus ke bawah yah itu benar aku setelah mendapat
pukulan dari kakak kelas itu perutku sering sakit mendadak saat melakukan
kegiatan.
“Tidakku bayangkan sesakit ini
pukulan kakak kelas itu”
Rumor dan gosip bertebaran di kelasku
bahwa aku dipukuli kakak kelas sehabis pulang sekolah di parkiran sepeda
membuat Elaina menghampiriku.
“Nafchi apa itu benar?”
“Enggak enggak itu pasti bohong”
“Jujur padaku!”
“Em ini hanya kena meja kok kemarin
hehe”
Perutku mendadak mulas aku segera
menundukkan kepalaku.
“Bohong ! Aku gak percaya”
Menghela nafas.
“Sebenarnya itu benar”
“Kau ini sungguh bodoh beraninya
bikin masalah ke kakak kelas”
Aku terenyum.
“Benar aku memang bodoh hidupku lucu bukan?”
Aku menyembunyikan kebenarannya
karena takut membuat Elaina khawatir dan menambah masalah ini.
“Dasar aneh! Kau harusnya lebih
berhati-hati saat melakukan sesuatu”
Hatiku tertusuk itu sakit tapi aku
tahu ini demi Elaina akan kulakukan apapun untuk melindunginya.
Aku hanya terdiam.
Elaina meniggalkanku dan berjalan
menuju kerumuman teman perempuannya menanyakan siapa orang yang telah memukulku.
“Oh aku kenal dia itu kelas tahun ke
tiga sering ke kantin disaat pagi-pagi begini”
“Tolong pertemukan aku dengannya”
“Wah apa kau mau meminta nomornya
haha”
“Tidak ini privasi”
Salah satu teman Elaina pun
mempertemukan dengan kakak kelas itu Elaina menemui kakak kelas itu sendiri
teman kelasnya menunggu dibelakangnya.
Dia adalah Lana teman sekelas Elaina
penampilannya yang berambut pendek berbeda dari kebanyakan perempuan lain rambutnya
berwarna hitam.
“Oh kau bocah yang menabraku kemarin”
“Hah!Menabrakmu kemarin”
“Tapi tidak apa-apa karena aku sudah
puas melampiasakan kemarahanmu ke laki-laki di kelasmu aku memukul tepat di
perutnya”
“Hah laki-laki!”
Elaina langsung teringat padaku yang
berbohong tentang kejadian terkena meja di kelas dia segera berlari ke mejaku.
“Nafchi! Kenapa kau berbohong padaku?
Kenapa kenapa kenapa kau rela dipukul oleh kakak kelas itu demi aku ini?”
Air mata Elaina menetes di mejaku.
“Jangan menangis Elaina aku sengaja
berbohong karena takut membuatmu khawatir dan karena kamu adalah teman
pertamaku disini sebelum yang lain”
“Maaf maafkan aku telah mengejekmu
dengan sebutan bodoh dan aneh”
“Tidak-tidak aku sudah terbiasa
mendengar hal itu”
Elaina memelukku.
“Terimaksih banyak Nafchi”
Setelah melepas pelukannya muka
Elaina memerah dan tersenyum padaku.
Aww dia sungguh imut sekali ingin
kunikahi haha tapi aku sadar diri aku hanya manusia biasa punya kekurangan
kuharap dia jodohku suatu saat nanti
“Sama-sama Elaina”
“Tolong jangan khawatir padaku dan
berhenti menangis Elaina aku mohon”
“Baik-baik”
Melepaskan kacamata dan Elaina
mengusap air matanya.
“Jaga dirimu baik baik Elaina dan
lebih memperhatikan sekelilingmu”
“Akan kuingat itu sampai jumpa lagi”
“Dadah”
Elaina dalam dirinya sendiri berkata.
“Kenapa dia begitu peduli padaku
belum pernah ada laki-laki yang berani melakukan hal itu sebelumnya itu dan dia
mungkin orang yang baik”
Aku pun kembali melanjutkan tidurku
sampai waktu pulang setelah tidur dari siang hingga sore bel sekolah pun
berbunyi.