Bab 2

Aku berjalan ke sekolah dengan rasa

lelah dan mata yang mengantuk beberapa kali aku menguap di jalan sembari

menutupi mulutku beberapa kali hari ini ada mapel olahraga jadi aku berangkat

dari rumah menggunakan baju olahraga.

“Huaahh ini sungguh malas dan aku

ingin tidur”

Saat aku sampai di kelasku aku

langsung memposisikan tubuhku untuk segera tidur salah satu temanku

menghampiriku namanya Lana.

“Oy  Nafchi bangun guru penjas

datang ”

Dia menepuk pundakku beberapa kali.

“Iya iya ini aku bangun kok”

Menguap.

Kemudian kita bersama guru penjas pun

menuju lapangan basket hari ini adalah jadwalnya olahraga basket kami melakukan

pemanasan terrlebih dahulu yang dipimpin oleh guru penjasku saat selesai kita

dibiarkan bermain grup laki laki dibagi beberapa menjadi grup aku sekelompok

bersama Awlan dan Izzan kita bertanding melawan kelas sebelah.

Bola dilambungkan ke atas  dan

berebut tapi musuh yang berhasil mendapatkannya memegang bola dia berhasil

melewati awlan lalu mengoper ke teman yang  berlari di sisi kiri melihat

posisi kosong di sisi kanan mengopernya aku gagal menghadangnya dia berhasil

menuju ke depan ring  dia mengshoot bolanya dari depan ring namun sayang

bola itu terpental dan mengarah ke wajahku yang saat itu tidak reflek dan boom

aku tergeletak teman-temanku pun menghampiriku.

“Hei apa kau baik-baik saja?”

“Hei bangunlah”

Aku pingsan itu adalah kata kata yang

kudengar sebelum pingsan saat aku sadar aku sedang di UKS dan berbaring pipiku

merah karena terkena bola basket saat aku melihat diriku dari kaca di UKS

terkejut namun penasaran dan mencoba memegang.

“Aduh ish ternyata sakit”

“Kau ini jangan dipegang dulu pipimu

masih sakit”

Aku kaget tiba tiba ada seorang

perempuan rambut pendek di sampingku sedang duduk dan menatapku selama aku

pingsan.

“Em siapa kamu”

“Kenalin namaku Yuki  aku adalah

petugas UKS hari ini salam kenal dan kamu?”

“Namaku Nafchi salam kenal”

“Eehhh kau anak baru ya hmmm”

“Iya hehe”

“Pantesan aku baru melihat pertama

kali dirimu”

“Apakah kamu tahun pertama juga

disini?”

“Tidak aku sudah naik kelas dan

sekarang tahun kedua di sekolah ini”

Kaget karena dia adalah senior disini

aku mencoba lebih sopan padanya saat berbicara dan bertingkah laku aku hanya

diam.

“Ehhhhh kenapa diem-diem terus si?”

“Aku gapapa kok”

Aku menggelengkan kepala.

“Apakah kamu mau makan sesuatu aku

dapat beberapa buah apel dari guru yang berjaga disini tapi dia pergi katanya

ada urusan”

“Umm aku mau jika tidak merepotkan

mu”

Dia memberikanku satu apel.

Saat aku mencoba mengunyahnya aku

merasa kesakitan.

“Aduh”

“Coba sini kulihat”

Dia memegang beberapa kali pipiku dan

mendekat ke mukanya.

“Tunggu- jangan mendekat lagi aku

malu”

Aku tersipu.

“Tenang saja hanya kita yang disini

sekarang coba ini buka mulutmu aaaa”

Aku membuka mulut.

“Apakah ini sakit?”

Aku merasa malu ketika ada seorang gadis

yang memegang pipiku dan menyuapi itu normal kan? Atau hanya terjadi padaku

saja.

“Sedikit tapi sakit saat aku mencoba

makan”

Dia mengupas dan memotong apel menjadi

beberapa bagian.

“Coba lah makan ini”

Dia memberikan padaku aku menerimanya

dengan tangan kananku lalu memasukan ke mulutku.

“Ini terasa lembut pipiku tidak saat

saat mencoba memakan Terimakasih Yuki”

Tersenyum ke Yuki.

“Sama-sama Nafchi”

Aku pun memakan apel itu bersama Yuki

hingga habis.

Melihat waktu yang kuhabiskan bersama

sudah lama kuputuskan untuk kembali ke kelas.

“Yuki mungkin sekarang waktuku untuk

kembali ke kelas aku sudah lebih baik”

“Syukurlah”

“Terimakasih Yuki”

“Sama-sama”

Sebelum aku melangkah kaki keluar aku

berhenti di depan pintu melambaikan tanganku dan tersenyum ke Yuki berjalan

menuju kelas saat aku tiba teman-temanku senyum padaku.

“Oi Keren kau sudah dapat  gadis spek anime traktir makan dong”

“Anu dia itu kakak kelas”

Gawat aku keceplosan.

“Ngeri anak baru dapetnya kakak kelas

wah aku jadi iri”

“kita cuma baru tau nama satu sama

lain kok gak lebih”

“Kau pasti bohong kami melihatmu dia

memegang pipimu saat di uks”

“Itu anuuu enmmm... yah itu benar

tapi dia melakukannya karena”

Aku terpojok tidak bisa menemukan

alasan yang tepat.

“Bohong dia pasti berpikir wah

sungguh ganteng adik kelasku ini sungguh ingin kunikahi”

Menghela nafas.

Tertawa bersama gerombolan laki laki.

Pelajaran dimulai aku mulai duduk

kembali di bangkuku saat aku mengambil buku pelajaran ada serobek kertas kecil

di dalamnya tertulis “TETAPLAH DIKELAS SAMPAI SEMUA MURID PERGI PULANG” Dipikir

pikir mungkin itu surat dari seseorang aku juga senggang jadi kuturuti saja.

“Apakah ini?”

Melihat sekeliling kelas.

“Yah ini tidak mungkin si dari

Elaina”

Bel pulang bunyi teman-teman kelasku

mulai meninggalkan kelas satu per satu aku tetap dibangkuku sampai semua murid

pergi setelah semua teman di kelasku pergi pulang semua di situ hanya ada aku

sendiri.

“Hah!! Sial aku kena tipu!”

Seseorang kemudian mengetuk pintu

kelas beberapa kali.

“Eh em masuklah”

Aku kaget ternyata itu Elaina dia

sendirian memasuki kelas dan hanya kami berdua yang di dalam kelas ku dia jalan

perlahan menghampiriku yang duduk di bangku.

“Jadi ini kamu yang nulis Elaina?”

Menunjukan kertas robekan yang

kutemukan di dalam tas.

Elaina mengangguk.

“Jadi ada perlu emm anu ehh”

Ini adalah pertama kali dalam hidupku

16 tahun aku didatangi seorang perempuan cantik dan hanya  berdua di kelas

tanganku mengeluarkan keringat juga karena jantungku berdebar.

“Nafchi?”

Elaina melihat ke bawah dan

menggulung rambut dengan jarinya.

“Emm iya?”

“Apakah benar pipimu itu dipegang

pegang oleh kakak kelas saat di uks ?aku tidak sengaja mendengarnya saat di

kelas”

“Iya itu benar tapi tolong percaya

aku dia hanya memegangnya oke tidak lebih”

Tanganku mulai bergetar saat

mengatakan hal itu.

Elaina secara cepat memegang kedua

pipiku dengan tangannya itu membuat wajahku memerah seperti tomat karena baru

pertama kalinya dalam hidupku perempuan melakukan hal itu tapi ibuku tetaplah

yang pertama.

“E--la –i-na apa ya-n-g lak-u-ka-n?”

Aku mengatakan itu dengan grogi

jantungku berdetak kencang sehingga berpatah patah saat aku mengucapkannya saat

aku mencoba menatap wajah Elaina yang sebelumnya dia menatap ke bawah.

“Nafchi sekarang sudah tidak ada

bekas sentuhan lagi oleh kakak kelas itu diganti dengan sentuhan tanganku yang

lembut ini”

“Terima kasih Elaina emm anu tanganmu

lembut dan juga hangat kau boleh memegang pipiku selama yang kau mau”

Saat diriku mengatakan hal itu

tanganku gemetar dan jantungku berdetak lebih kencang.

Elaina tersipu hingga telinganya ikut

memerah beberapa saat mata kita membuat kontak mata saling menatap satu sama

lain perlahan  mulai melepas pikpiku dia berlari saat di depan pintu kelas

berhenti dan menghadap kepadaku.

“Sama-sama Nafchi”

Elaina menutup mulutnya dengan satu

jari.

Kukira itu adalah tanda untuk tidak

mengatakan pada siapa pun kurasa kemungkinan besar seperti itu setelah

pertemuan dengan Elaina aku pulang ke rumahku itu sudah larut sehingga aku

hanya menggosok gigiku lalu ke kamarku dan mencoba tidur tapi setiap kali aku

mencoba tidur aku terus terbayang sentuhan Elaina di pipiku ini.

“Apakah kejadian tadi itu mimpi ? Yah

kuharap bukan”

Tidurku tidak nyenyak sampai-sampai

aku hanya tidur 3 jam hari ini.

Saat Elaina sampai dirumah dia

langsung menuju ke kamarnya tanpa melakukan basa basi ke orang tuanya dia

beberapa kali menatap tangannya dan berguling guling di kasurnya.

“Apakah aku benar benar

melakukannya?”

“Aaaaaaaaaaaa”

Bab 3

Siapakah dia murid tahun pertama yang

berdiri di depan guru sembari masih membawa tasnya dan mendengarkan ocehan guru

ya itu benar sayangnya itu aku.

Aku terbangun dari kamarku saat

membuka mata aku kaget sudah jam 6:45 Sedangkan sekolahku masuk pukul 07:00 aku

bergegas mandi berganti pakaian dan lain-lain saat aku keluar rumah aku berlari

kesekolah tanpa sarapan atau membawa bekal sama sekali saat aku sampai aku dicegat

oleh guru pengawas disana untuk berhenti.

“Nak apakah kau berniat sekolah atau

tidak masa jam 7 lebih kamu baru sampai!”

“Niat pak saya kesiangan tadi hehe”

“Oh kesiangan bagus alasan terus

lanjut murid baru banyak alasan”

“Jujur pak yasudah misal pak guru gak

percaya saya”

“Sekarang berdiri di lapangan 1 jam!”

“Tolong la pak masa gara gara telat

harus dihukum”

“Cepat lakukan bapak pantau kamu”

Aku segera berlari ke tengah lapangan

dan berdiri menjalani hukuman ku karena telat masuk ke kelas.

Setelah satu jam.

“Sekarang ke kelas cepat Awas kamu

telat lagi”

Aku mengangguk dan tidak berkata

apapun kakiku terasa sangat sakit ketika menahan beridiri satu jam itu benar-benar

lama aku berjalan menuju kelasku dan sudah ada guru lain disana teman- temanku

yang lain menatapku karena baru 

berangkat telat.

“Permisi bu guru bisakah aku duduk di

bangku”

“Kamu kenapa nak baru masuk kelas?”

“Biasa bu telat dihukum tadi sama

guru yang ngawasin di depan gerbang”

“Lain kali jangan di ulangi lagi ya

silahkan duduk ”

Aku merasa nikmat ketika duduk di

bangku ku setelah 1 jam tersiksa berdiri di lapangan sembari di tatap oleh guru

pengawas itu.

Jam pelajaran selesai bel istirahat

berbunyi.

“Akhirnya saat yang kutunggu tunggu”

Aku memasukan tanganku ke dalam saku celana.

“Eh ehhh ehhh ehhhhh”

Aku lupa tidak membawa uang saku

sepertinya hari ini akan menjadi berat bagiku pagi ini tidak sarapan tidak

membawa bekal dan tidak membawa uang saku.

“Huft ya sudahlah bersyukur saja absenku

masih sempurna”

Aku memposisikan diriku menghadap ke

bawah dan menutupi dengan kedua tanganku mencoba tidur walau hanya sebentar itu

membuatku lebih baik mungkin.

Elaina melihatku dari bangkunya yang

tadi sedang dihukum oleh guru pengawas.

“Mmm kok Nafchi gak kaya biasanya

makan di mejanya malah tidur mungkin gak bawa bekal hmmm”

Elaina keluar ruangan kelas dan

membeli air putih dari mesin otomatis dia menuju ke mejaku menggoyangkannya

beberapa kali aku terbangun dan memgusap ngusap mataku.

“Dengerin ya Nafchi tidur itu jangan

kemalaman tahu jadi telat kan dasar payah Hemph”

“Iya iya ini salahku kok”

“Emmm ini untukmu”

Elaina memberikan botol air padaku.

“Wah seriusan nih? Kebetulan hari ini

aku cuma bawa buku bahkan uang sakuku tertinggal di rumah”

“Kalo jadi cowo tuh yang teliti tau

cara menjaga diri dasar gak becus”

Muka Elaina memerah.

“Terimakasih Elaina”

Elaina langsung menuju ke bangkunya

kembali tanpa membalas terimaksih ku itu tidak masalah kurasa aku meminum botol

air.

“Huft segarnyaa”

Elaina keluar lagi ke kelas membeli

sesuatu untuknya aku mengikutinya dari belakang 

ke kantin dia tidak sengaja menabrak kakak kelas laki-laki yang sedang

membawa minuman di tangannya Elaina tidak sadar dan melanjutkan berjalan

kembali ke kelas setelah membeli sesuatu kakak kelas tersebut tidak terima dan

marah kepada Elaina karena menabraknya lalu mengabaikannya setelah membuat baju

kakak kelas itu terkena coklat  berjalan

mendekat aku dengan segera berlari dan menghalangi kakak kelas itu.

“Tunggu kak dia perempuan oke tolong

maafkan dia”

“Apa kau tidak punya mata lihat

bajuku terkena coklat dan basah!”

“Tapi dia itu perempuan tolong

maafkan”

Aku mengulur waktu agar Elaina

cepat-cepat pergi ke kelasnya lagi.

“Heh diamana bocah itu? Kau pasti

sengaja mengulur waktu”

Dia menoleh beberapa kali ke semua

arah.

“Awas kau bocah! teman-teman ayo

pergi mencari bocah itu”

Aku memegang erat tangan kakak kelas.

“Tolong jangan lakukan itu dia hanya

tidak sengaja lakukan lah saja padaku sebagai gantinya tapi jangan sakiti

perempuan tadi akan ku kubiarkan setelah pulang sekolah di parkiran”

“Itu cukup bagus hahaha jaga kata-kata

mu itu”

Gerombolan kakak kelas itu pun

kembali duduk duduk di bangku kantin dan aku kembali ke kelasku

“Aduh bagaimana ini arrghhh”

Bel pulang sekolah berdering.

Tanganku gemetar saat mendengar bunyi

bel sekolah aku segera menuju parkiran lebih awal kakak kelas itu pun sampai di

parkiran sepeda dan hanya ada aku dan gerombolan kakak kelas itu

“Wah nyalimu besar juga ya ku hargai

itu apa  kau siap bocah baru”

Aku hanya terdiam dan mengangguk.

Kakak kelas yang berbaju terkena

coklat itu memukul perutku aku terpental darah keluar dari hidungku.

“Itu cukup untuk anak baru sepertimu

haha”

Aku pulang dengan keadaan Memar di

salah satu perutku sembari memegangi berjalan menjuju rumahku.

Siapa kah dia anak laki laki yang

murung di kelas dan menatap terus ke bawah yah itu benar aku setelah mendapat

pukulan dari kakak kelas itu perutku sering sakit mendadak saat melakukan

kegiatan.

“Tidakku bayangkan sesakit ini

pukulan kakak kelas itu”

Rumor dan gosip bertebaran di kelasku

bahwa aku dipukuli kakak kelas sehabis pulang sekolah di parkiran sepeda

membuat Elaina menghampiriku.

“Nafchi apa itu benar?”

“Enggak enggak itu pasti bohong”

“Jujur padaku!”

“Em ini hanya kena meja kok kemarin

hehe”

Perutku mendadak mulas aku segera

menundukkan kepalaku.

“Bohong ! Aku gak percaya”

Menghela nafas.

“Sebenarnya itu benar”

“Kau ini sungguh bodoh beraninya

bikin masalah ke kakak kelas”

Aku terenyum.

“Benar aku memang bodoh hidupku lucu bukan?”

Aku menyembunyikan kebenarannya

karena takut membuat Elaina khawatir dan menambah masalah ini.

“Dasar aneh! Kau harusnya lebih

berhati-hati saat melakukan sesuatu”

Hatiku tertusuk itu sakit tapi aku

tahu ini demi Elaina akan kulakukan apapun untuk melindunginya.

Aku hanya terdiam.

Elaina meniggalkanku dan berjalan

menuju kerumuman teman perempuannya menanyakan siapa orang yang telah memukulku.

“Oh aku kenal dia itu kelas tahun ke

tiga sering ke kantin disaat pagi-pagi begini”

“Tolong pertemukan aku dengannya”

“Wah apa kau mau meminta nomornya

haha”

“Tidak ini privasi”

Salah satu teman Elaina pun

mempertemukan dengan kakak kelas itu Elaina menemui kakak kelas itu sendiri

teman kelasnya menunggu dibelakangnya.

Dia adalah Lana teman sekelas Elaina

penampilannya yang berambut pendek berbeda dari kebanyakan perempuan lain rambutnya

berwarna hitam.

“Oh kau bocah yang menabraku kemarin”

“Hah!Menabrakmu kemarin”

“Tapi tidak apa-apa karena aku sudah

puas melampiasakan kemarahanmu ke laki-laki di kelasmu aku memukul tepat di

perutnya”

“Hah laki-laki!”

Elaina langsung teringat padaku yang

berbohong tentang kejadian terkena meja di kelas dia segera berlari ke mejaku.

“Nafchi! Kenapa kau berbohong padaku?

Kenapa kenapa kenapa kau rela dipukul oleh kakak kelas itu demi aku ini?”

Air mata Elaina menetes di mejaku.

“Jangan menangis Elaina aku sengaja

berbohong karena takut membuatmu khawatir dan karena kamu adalah teman

pertamaku disini sebelum yang lain”

“Maaf maafkan aku telah mengejekmu

dengan sebutan bodoh dan aneh”

“Tidak-tidak aku sudah terbiasa

mendengar hal itu”

Elaina memelukku.

“Terimaksih banyak Nafchi”

Setelah melepas pelukannya muka

Elaina memerah dan tersenyum padaku.

Aww dia sungguh imut sekali ingin

kunikahi haha tapi aku sadar diri aku hanya manusia biasa punya kekurangan

kuharap dia jodohku suatu saat nanti

“Sama-sama Elaina”

“Tolong jangan khawatir padaku dan

berhenti menangis Elaina aku mohon”

“Baik-baik”

Melepaskan kacamata dan Elaina

mengusap air matanya.

“Jaga dirimu baik baik Elaina dan

lebih memperhatikan sekelilingmu”

“Akan kuingat itu sampai jumpa lagi”

“Dadah”

Elaina dalam dirinya sendiri berkata.

“Kenapa dia begitu peduli padaku

belum pernah ada laki-laki yang berani melakukan hal itu sebelumnya itu dan dia

mungkin orang yang baik”

Aku pun kembali melanjutkan tidurku

sampai waktu pulang setelah tidur dari siang hingga sore bel sekolah pun

berbunyi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED