Sipakah dia pria memakai seragam osis
putih dan celana abu-abu sedang menuju ke kelas sambil membawa tas berwarna
hitam bersepatu hitam.
Ya benar itu adalah aku, namaku
Nafchi saat ini aku ingin mendaftar di SMA umurku kurang lebih 16 tahun sekolah
itu begitu besar mempunyai gerbang masuk dengan besi di sebelahnya ada pos
satpam jika kau maju ke depan menengok ke kiri akan menemui GOR itu adalah
ruangan tertutup untuk berolahraga Menengok ke arah sebaliknya di situ ada
lapangan besar untuk melakukan berbagai kegiatan seperti upacara lomba-lomba
dan lainnya.
“Sebelum cerita ini dimulai aku
bukanlah karakter utama yang ingin menguasai dunia”
“Bukan juga karakter utama yang
menjelajahi lautan dan jadi raja bajak laut”
“Ceritaku ini hanyalah kehidupan SMA
biasa yang dicampur bumbu-bumbu manis yang kata mereka masa-masa SMA adalah
masa yang paling menyenangkan”
Aku berjalan di lingkungan sekolah
lalu tidak sengaja menabrak salah satu guru dan menumpahkan kopinya ke kemeja
yang ia pakai.
“Maaf aku tidak sengaja”
“Tidak-tidak aku tidak keberatan”
Guru itu meninggalkanku.
Dia bicara pada dirinya sendiri.
“Akan kubalas dasar anak baru
untungnya aku punya kekuasaan di sini jadi
kubuat dirimu tidak sempat mendaftar di sini”
berhenti sejenak di lobi mengecek
peta di handphone di mana kelasku karena aku murid baru di sini menengok ke
kanan dan kiri.
“Harusnya ke kanan? Eh bukan kiri
mungkin”
Seorang gadis berambut abu-abu dia
memakai kacamata menghampiriku.
“Kemarilah kutunjukkan tempat
pendaftaran padamu”
“Oke aku ikut”
Aku mengikuti gadis itu sampai kita
tiba di sebuah pohon lalu.
“Jrettt”
Aku menginjak jebakan yang entah
siapa yang memasang tapi perasaanku mengatakan gadis itulah yang memasang dia
membuatku terbalik tasku jatuh ke tanah lalu lembaran-lembaran untuk mendaftar
dia mengambilnya.
“Hey apa maksudmu”
“Maaf aku terpaksa agar aku bisa
menjadi siswa di SMA ini”
“Lepaskan woy”
Gadis abu-abu itu menghiraukan lalu
menjauh dan membawa lembaran milikku untuk mendaftar.
Aku melirik ke kanan dan kiri.
“Sip tidak ada yang melihat”
Aku mengangkat badanku dan meraih
tali yang mengikat kaki kananku setelah berhasil lepas merangkul kembali tasku
mencari gadis abu-abu itu.
“Di mana dia?”
“Aku melihatnya”
Aku melihat gadis rambut abu-abu itu
masuk ke kelas menghampiri dan mendobrak pintunya dan ternyata tidak kunci
spontan aku terpeleset di depannya.
“Sakit”
Dia hanya menatapku.
“Kembalikan”
“Tidak”
“Kenapa kau lakukan ini?”
“Maaf aku terpaksa ini karena aku
harus bisa menjadi murid di sini”
“Aku juga”
Aku berjalan perlahan mendekat ke
gadis itu dia terlihat berpura-pura tegar saat lengah kurebut kembali selebaran
milikku kumasukkan kembali ke tas.
“Sip”
Aku meninggalkan gadis itu tanpa
sepatah kata aku menuju tempat pendaftaran peserta didik baru setelah selesai
dengan hal yang kurang berguna itu aku melihat guru yang kutabrak masuk ke
kelas yang sama tadi kutinggalkan.
“Apa karena dia alasan gadis itu
menghalangiku? bisa saja”
Aku mengintip dari celah di tengah pintu
mendengar percakapan keduanya.
“Maaf aku gagal”
“Kau tidak pantas jadi murid di sini
akan kuhilangkan namamu dari daftar murid”
“Tolong aku mau sekolah di sini”
“Dasar tidak berguna! percuma memberi
kesempatan untuk menjadi murid di sini tapi kau sia-sia”
Saat guru itu mulai berteriak kepada
gadis rambut abu-abu itu aku membuka pintu dan bertepuk tangan perlahan.
“Hanya karena aku tidak sengaja
menumpahkan kopi di bajumu kau mau menggagalkanku mendaftar di sini bahkan
sampai menyuruh gadis tak bersalah untuk melakukannya”
“Aku guru di sini! Bebas berbuat
sesuka”
“Ya ampun”
“Kalau begitu maafkan aku”
“Aku sudah minta maaf jadi bisa
tinggalkan dia”
“Mana mau aku bisa akan mencoret nama
kalian dari daftar murid baru mwahaha”
“Dapat”
Aku menghentikan rekaman suara dari
handphoneku.
“Mustahil sejak kapan kau”
“Sejak aku masuk ke sini sudah curiga
dengan dirimu jadi untuk jaga-jaga aku merekam percakapan kita berdua”
“Aku bisa saja melapor ke kepala
sekokah jika aku mau membuatmu bisa dipecat”
“Kau tidak usah bercanda!”
“Kuberi satu pertanyaan mudah di atas
ilmu ada apa?”
“Uang tentu saja”
“Salah”
“Jawabannya adab”
“Sekolah di sini sangat ketat
terhadap adab tentu saja jika ada yang tahu kelakuan guru sepertimu mestinya
akan langsung memecatmu”
“Minta maaf padanya dan kuhapus
rekamannya”
Guru itu menghadap ke gadis rambut
abu-abu.
“Maafkan aku”
Gadis itu hanya mengangguk lalu
meninggalkan kita berdua aku jalan perlahan dan saat kulewati gerbang sekolah
gadis itu sudah tidak ada
Keesokan harinya.
Kelasku sendiri terletak di lantai
dua sehingga bisa melihat sekeliling sekolah menaiki tangga yang penuh dengan
kata-kata motivasi di setiap anak tangganya seperti.
“Jadilah versi terbaik dirimu
sendiri”
“Buku adalah teman saat sendiri”
“Jangan bandingkan dirimu dengan
orang lain”
“Buku adalah temanmu”
“Usaha tidak menghianati hasil”
Yah itu tidak membuatku termotivasi
sama sekali itu hanya kata-kata yang menurutku hanya omong kosong karena diri
kita sendiri tergantung usaha kita sendiri.
saat sudah masuk ke kelas saat ini
aku duduk di belakang tepatnya larik nomor 2 di dekat tembok itu adalah tempat
favoritku.
Datanglah 2 pengurus OSIS yah bisa
dibilang itu tugas mereka untuk memperkenalkan sekolah kepada murid baru ,Aku
menatap keduanya dengan biasa saja
karena aku tahu mereka pasti akan menggoda peserta baru untuk ikut osis mereka
mengenalkan diri mereka saat masuk kelas sembari memberikan ucapan selamat dan
salam.
“Halo teman-teman semua perkenalkan
kami dari pengurus osis akan membimbing kegiatan hari ini tolong diperhatikan
yah ,Namaku Adit salam kenal”
Dia laki-laki berbadan besar tapi
tidak gemuk tingginya sekitar 170 Cm dia benar-benar orang yang tinggi memakai
jam tangan di tangan kiri lalu memakai jas berwarna hitam ada logo OSIS lengan
kirinya dan kartu nama di dadanya.
“Halo adik-adik semua perkenalkan
nama mba Lia Salam kenal”
Dia perempuan memakai setelan yang
sama dengan laki-laki yang bernama adit itu saat mereka di depan kelas
menjelaskan tingginya sepundak Adit mereka.
“Salam kenal Mas dan Mba”
Semua siswa mengatakan hal yang sama.
Setelah beberapa kali aku
memperhatikan mereka tampak kebingungan bisa dilihat mereka menyembunyikan
tangan yang gemetar aku bisa melihatnya karena aku di pojok beberapa saat
mereka memberikan arahan untuk perkenalkan diri.
“Baik teman-teman semua bagaimana
jika kita berkenalan satu sama lain ada pepatah tak kenal maka tak sayang”
Aku berusaha menahan tawa saat
mendengar hal itu di dalam hatiku aku berbicara pada diriku sendiri.
“Mereka pasti bercanda Apa-apaan kata-kata
tak kenal maka tak sayang mereka pasti tukang perayu adik kelas ada-ada saja“
Adit melihat ekspresiku menahan tawa
dia menuju ke arahku.
“Adik apakah ada hal lucu?”
“Tidak ada aku cuma menahan
mengantuk”
Aku berbohong.
“Bagaimana jika kamu memperkenalkan
dirimu ke depan mungkin bisa membuatmu tidak mengantuk lagi”
Aku terpaksa maju ke depan papan
tulis di tengah siswa dan siswi lainnya.
“Halo teman-teman semua namaku Nafchi
umurku 16 tahun umm semoga kita bisa berteman baik “
Itu adalah kesan pertama yang buruk
untuk perkenalan tapi aku tidak terlalu memikirkannya ,Aku kembali lagi ke
bangku ku dan duduk diam sembari melihat siswa lain memperkenalkan diri.
Kedua OSIS itu mengoceh terus-terus
an tentang sejarah sekolah ini itu jujur saja itu membuatku mengantuk aku hanya
ingin bersekolah di sini tanpa kusadari waktunya pulang ke rumah ternyata hari
masih siang jadwal pulang yang ditetapkan selama 2 hari ke depan ini adalah
siang hari.
Aku bergegas mengambil tas yang kuletakkan
samping kursiku karena aku bersemangat untuk tidur aku tergesa-gesa keluar
pintu kelas tanpa sengaja menabrak seorang gadis di depan pintu kelas namanya
Elaina dia perempuan memakai seragam sekolah yang sama denganku di tasnya ada
tulisan namanya sendiri.
Di kepalanya memakai kacamata dia
tidak begitu tinggi kira-kira 160cm rambutnya panjang abu-abu ada yang dikepang
di sebelah kanan sebagian lalu membiarkannya terurai di sisi kirinya diikat di
ujung.
Aku membuatnya terjatuh ke lantai aku
melambaikan tangan padanya membantunya untuk berdiri.
“Hei apakah kamu tidak apa-apa? Maaf
ya aku sedang buru-buru”
“Iya aku tidak apa-apa ,Apakah Kamu
Nafchi?“
Dia tersenyum padaku.
“Iya aku Nafchi siapa namamu?”
Aku bukanlah tipe laki-laki yang
menghafal nama perempuan lain karena itu terkesan aneh bagiku itu menurutku
kita semua punya pendapat jadi terserah.
“Elaina”
“Yah sampai jumpa lagi Elaina”
Saat kudengar nama dan melihat
penampilannya aku terpikirkan seseorang yang sama dan dulu kukenal.
“Apa kita pernah saling bertemu
sebelumnya?”
“Hmmmm”
Elaina melipat kedua tangannya.
“Tidak”
“Oh begitu ya”
“Tunggu”
“Kau orang yang menjebakku di hari
pertama pendaftaran”
“Ya benar itu aku jadi? Aku sudah
melupakan kejadian”
“Tidak kusangka kita sekelas”
“kalau begitu dah”
“Ya dah”
Setelah membantu Elaina berdiri
kembali aku melanjutkan langkah kakiku menuruni tangga menuju gerbang keluar
sekolah pulang ke rumahku bisa dibilang Elaina adalah orang pertama yang
kukenal.
Keesokan Harinya.
Aku terbangun di pagi hari dalam
keadaan malas aku dan mengantuk sehingga mataku terlihat merah namun itu normal
menurutku Memulai sarapan mandi menyiapkan buku berganti pakaian berjalan
menuju sekolah.
Saat berjalan ke sekolah aku melihat
seorang gadis sedang membungkuk di jalan mencari sesuatu kebetulan dia memakai
seragam yang sama denganku jadi aku menghampirinya.
“Permisi adakah yang bisa aku bantu?”
Dia terdiam terus melanjutkan mencari
barang di pinggir jalan.
Aku bicara pada diriku sendiri.
“Ya sudahlah jika dia mengabaikanku
aku tidak bermaksud mendekatinya apalagi jatuh cinta”
Memasang ekspresi datar meninggalkan
gadis itu di pinggir jalan beberapa saat setelah melangkah tidak jauh dari
gadis tersebut aku melihat jam di handphoneku sudah mendekati waktu masuk
sekolah.
Menoleh ke gadis itu dan berbicara
lagi pada diriku sendiri.
“Mungkin aku harus membantunya”
Menghela nafas.
Aku kembali ke tempat pinggir jalan
tadi aku melihat dia mengusap ngusap dan meraba raba jalan mencari sesuatu aku
pun ikut berjongkok di sebelahnya ikut mencari barang itu tanpa tanya apa yang
dicari setelah kusadari ada kacamata di sebelah kanan gadis itu aku
mengambilnya.
“Apakah ini kacamata milikmu?”
Gadis itu menoleh padaku tanpa bicara
apa pun dia mengambil kacamatanya.
“Wah benar ini kacamataku Terima
kasih Nafchi”
Dia tersenyum padaku.
Aku merasa pernah bertemu dia
sebelumnya tapi di mana mengingat beberapa saat gadis itu pun memakai
kacamatanya aku teringat dia adalah Elaina.
“Um sama-sama Elaina”
“Nafchi apakah kamu mau berjalan
bersama ke sekolah bersamaku?”
Aku kaget mendengar hal itu karena
selama ini belum ada perempuan yang berangkat berjalan bersamaku meskipun kita
sama-sama murid baru tapi ini adalah hal baru dalam hidupku.
“Tentu saja Elaina”
Kita bersebelahan berjalan ke sekolah
aku canggung ketika dia berjalan di sebelahku karena aku jarang sekali
berkomunikasi dengan perempuan kecuali ibuku aku menutup mulutku dan diam saat
berjalan bersamanya.
Elaina juga ikut diam ketika berjalan
bersamaku ,Kurasa itu normal bagi siswa baru apalagi laki-laki dan perempuan
teman sekelas baru kita sampai ke sekolahan dan duduk di bangku masing-masing.
Pengurus OSIS yang kemarin masuk lagi
ke kelasku.
“Halo teman-teman semua sudah siap
untuk hari ini”
Bersemangat dan tersenyum.
Aku sendiri tahu itu hanya untuk
formalitas saja dan pasti di hatinya gugup dan ingin segera pulang ke rumah.
“Kami semua siap”
“Baiklah di hari kedua hari ini teman-teman
mas dan mba akan mengajak kalian berkeliling sekolah dari gerbang pintu masuk
sampai pojok sekolah”
Aku pun mengikuti arahan kedua OSIS
itu dan berbaur dengan siswa laki-laki lainnya dan aku mendapatkan teman berkenalan
dengan mereka di sepanjang jalan kita mengelilingi sekolah OSIS menunjukkan
berbagai bangunan kepada ku seperti kelas tahun ke tiga dan kelas tahun ke dua,
perpustakaan ruang guru ruang tari ruang tata usaha ,UKS Ruang BK lalu kembali
ke kelas lagi saat tiba dikelas itu adalah waktu istirahat aku mengambil buku
dan menjadikannya kipas aku mengambil bekalku dari tas yang kusiapkan seniatku
saja hanya telur mata sapi nasi dan mi memakan di bangkuku sendiri hingga habis
lalu meminum air botol yang kubawa dari rumah.
Aku mencoba interaksi dengan teman
baruku duduk bersebelahan membentuk lingkaran namanya adalah Awlan dan
Izzan kita semua berjabat tangan satu
sama lain dan saling menyebutkan nama satu per satu bertukar nomer kontak .
Awlan memulai percakapan.
“Semoga kita menjadi teman yang baik
sampai kapanpun”
Semua laki-laki pun ikut
menanggapinya.
“Yah itu benar!”
Semua laki-laki tertawa bersama.
Salah satu Gadis menemui kita namanya
Nai.
“Hei bisakah kalian tidak seperti
anak kecil!?”
Sambil membentak.
Izzan pun menjawab.
“Apakah di sekolah ini ada peraturan
dilarang tertawa? benar kan teman teman”
Serentak kami para laki-laki
menertawakan gadis itu yang menegur kami tertawa.
“HEMPH”
Dia kembali ke gerombolan gadis lain.
Waktu istirahat habis OSIS kembali
masuk ke kelasku.
“Sekarang adalah sesi tanya jawab
apakah ada yang ingin bertanya?”
Aku terdiam mendengar hal itu dan
tidak memedulikannya memalingkan pandanganku ke luar jendela.
Lia melihatku tidak memperhatikan apa
yang dijelaskan di depan menegurku.
“Apakah ada yang lebih penting dari
sekolah Nafchi? perhatikan ke depan ya”
“Yah baiklah”
Aku berusaha fokus ke depan tidak ada
satu pun yang bertanya dalam sesi bertanya itu osis pun memberikan kita arahan.
“Sekarang teman-teman mas dan mba
akan membagikan soal tentang sekolahan yang tadi jelaskan mulai dari sejarah
sekolahan dan lokasi ruangan sekolahan buatlah kelompok 1 orang laki-laki dan
perempuan”
Aku kaget ketika kedua osis itu
bilang buatlah kelompok satu laki dan satu perempuan sejauh ini aku hanya kenal.
Elaina dan dia terkenal di kelas
mungkin dia dapat dengan cepat mendapat teman satu kelompok Aku hanya duduk
menatap meja dan melihat orang lain sudah mendapat kelompok.
Seseorang memanggil namaku.
“Nafchi sini membentuk kelompok
bersamaku”
Aku menoleh padanya ternyata Elaina.
“Baiklah aku ke sana”
Aku menuju bangku Elaina yang di
paling ujung sebelah kiri duduk bersebelahan dengan Elaina osis memberikan
selebaran soal ke seluruh siswa termasuk aku saat mengambil selembar kertas
dari osis tanganku dan Elaina bersentuhan saat mengambilnya dengan cepat aku
melepaskan tangannya.
“Maaf Elaina aku bermaksud untuk
melakukannya”
“Apa-apaan kau ini menjijikkan”
Seketika membuatku canggung dan tidak
nyaman aku hanya melihat dia mengejarkan soal tersebut sendiri setelah selesai OSIS
menarik lembar soal tersebut dan mengumumkan nilai ke depan.
“Selamat kepada Nafchi dan Elaina
silakan maju ke depan”
Aku pun berjalan dan maju ke depan
bersama Elaina kami diberi sertifikat murid teraktif dalam kelas setelah itu
aku melangkahkan kakiku ke bangku kembali tapi Adit memegang tanganku.
“Sebentar Nafchi kami akan
mendokumentasi kan ini untuk kepentingan organisasi”
Menghela nafas.
Aku diatur oleh kedua OSIS itu aku
dan Elaina berfoto bersamaan sembari memegang sertifikat yang mungkin bisa
kupamerkan ke tetanggaku satelah beberapa foto kami diizinkan kembali ke bangku
masing-masing .
“Selamat buat teman-teman semua
kalian telah melaksanakan kegiatan pengenalan sekolah dengan baik mulai besok
kalian akan mulai bertemu guru dan belajar menuntut ilmu disini Kami berdua
pamit Sampai jumpa lagi yaa”
Kedua OSIS itu pun pergi meninggalkan
kelas bel pulang berbunyi aku melihat luar dari jendela hujan besar melanda
untungnya aku membawa payung siswa lain pun meninggalkan ruangan termasuk aku
saat di depan kelas aku berhenti berjalan melihat Elaina terdiam di bangkunya
sendiri melihat langit yang sedang hujan deras berjalan menuju Elaina karena
aku merasa tidak enak padanya karena tidak sengaja menyentuh tangannya
kuputuskan untuk memberikan payung kepadanya.
“Elaina kenapa kamu hanya diam tidak
pulang?”
“Hemph bukan urusanmu”
Dia terlihat marah.
Menghela nafas.
“Kalo begitu ini pulanglah”
Aku memberi payung.
“Eh kenapa?”
“Jujur saja aku tidak merasa enak
padamu saat tidak sengaja menyentuh tanganmu jadi kuputuskan untuk memberi
payung ini padamu”
“Apa kau sedang merayuku Hah!”
“Yasudah kalo tidak mau lebih baik
kupakai sendiri Wleee mana sudi aku suka pada gadis kaya kamu”
“Mana sudi aku mau Cinta sama laki-laki
kaya kamu hemph payah”
Aku melangkahkan kakiku menjauh dari
bangku Elaina menetap dia dari pintu kelas dia tampak kebingungan dan
kedinginan kemudian aku memutuskan kembali menawarkannya bantuan kembali.
“Nih Ambillah”
Elaina diam diam mengambil payungku.
“Kok main diam-diam ambil gitu”
“Kamu jadi gak si pinjamankan payungnya
ke aku”
“Huh!”
Elaina memalingkan wajahnya dan
pipinya membesar.
“Katanya tadi gak butuh kok sekarang
maksa”
Aku melepaskan genggaman tanganku
dari payung memberikan ke Elaina.
“Nah gitu dong jangan pelit”
Kami turun ke tangga dan menuju gerbang keluar
sekolah Elaina pun memakai payungku dan berjalan sendiri setelah beberapa
langkah dia berbalik.
“Terima kasih Nafchi”
Dengan suara halus dan pipi memerah.
Aku kaget melihat pergantian sifat
itu dengan cepat setelah dia tadi membentakku sekarang menjadi seperti bidadari
pipiku ikut memerah saat itu.
“Sama-sama Elaina”
Eaina pergi duluan ke rumahnya dengan
membawa payungku aku menunggu hujan sedikit reda beberapa jam setelah sedikit
reda aku berlari menuju rumahku mandi dan berganti pakaian aku melihat hari
mulai malam saat aku baringkan tubuhku di kasur aku membayangkan ekspresi
Elaina yang kulihat tadi sore itu membuatku tersipu dan sulit untuk tidur aku
hanya tidur 4 jam hari itu.
“Arghh kenapa aku terus terusan
mengingat kejadian itu”
Saat Elaina sampai di rumahnya dia
tidak meletakan payungku ke tempat penyimpanan payung dia membawanya ke tempat
tidurnya dan menggenggamnya.
“Apa-apaan laki-laki itu bisa bisanya
dia berperilaku kasar padaku”
Elaina Tersipu
Elaina
menutupi kedua mukanya dengan selimut dan beberapa kali memukul bantal sambil
telungkup kemudian dia tertidur
Aku berjalan ke sekolah dengan rasa
lelah dan mata yang mengantuk beberapa kali aku menguap di jalan sembari
menutupi mulutku beberapa kali hari ini ada mapel olahraga jadi aku berangkat
dari rumah menggunakan baju olahraga.
“Huaahh ini sungguh malas dan aku
ingin tidur”
Saat aku sampai di kelasku aku
langsung memposisikan tubuhku untuk segera tidur salah satu temanku
menghampiriku namanya Lana.
“Oy Nafchi bangun guru penjas
datang ”
Dia menepuk pundakku beberapa kali.
“Iya iya ini aku bangun kok”
Menguap.
Kemudian kita bersama guru penjas pun
menuju lapangan basket hari ini adalah jadwalnya olahraga basket kami melakukan
pemanasan terrlebih dahulu yang dipimpin oleh guru penjasku saat selesai kita
dibiarkan bermain grup laki laki dibagi beberapa menjadi grup aku sekelompok
bersama Awlan dan Izzan kita bertanding melawan kelas sebelah.
Bola dilambungkan ke atas dan
berebut tapi musuh yang berhasil mendapatkannya memegang bola dia berhasil
melewati awlan lalu mengoper ke teman yang berlari di sisi kiri melihat
posisi kosong di sisi kanan mengopernya aku gagal menghadangnya dia berhasil
menuju ke depan ring dia mengshoot bolanya dari depan ring namun sayang
bola itu terpental dan mengarah ke wajahku yang saat itu tidak reflek dan boom
aku tergeletak teman-temanku pun menghampiriku.
“Hei apa kau baik-baik saja?”
“Hei bangunlah”
Aku pingsan itu adalah kata kata yang
kudengar sebelum pingsan saat aku sadar aku sedang di UKS dan berbaring pipiku
merah karena terkena bola basket saat aku melihat diriku dari kaca di UKS
terkejut namun penasaran dan mencoba memegang.
“Aduh ish ternyata sakit”
“Kau ini jangan dipegang dulu pipimu
masih sakit”
Aku kaget tiba tiba ada seorang
perempuan rambut pendek di sampingku sedang duduk dan menatapku selama aku
pingsan.
“Em siapa kamu”
“Kenalin namaku Yuki aku adalah
petugas UKS hari ini salam kenal dan kamu?”
“Namaku Nafchi salam kenal”
“Eehhh kau anak baru ya hmmm”
“Iya hehe”
“Pantesan aku baru melihat pertama
kali dirimu”
“Apakah kamu tahun pertama juga
disini?”
“Tidak aku sudah naik kelas dan
sekarang tahun kedua di sekolah ini”
Kaget karena dia adalah senior disini
aku mencoba lebih sopan padanya saat berbicara dan bertingkah laku aku hanya
diam.
“Ehhhhh kenapa diem-diem terus si?”
“Aku gapapa kok”
Aku menggelengkan kepala.
“Apakah kamu mau makan sesuatu aku
dapat beberapa buah apel dari guru yang berjaga disini tapi dia pergi katanya
ada urusan”
“Umm aku mau jika tidak merepotkan
mu”
Dia memberikanku satu apel.
Saat aku mencoba mengunyahnya aku
merasa kesakitan.
“Aduh”
“Coba sini kulihat”
Dia memegang beberapa kali pipiku dan
mendekat ke mukanya.
“Tunggu- jangan mendekat lagi aku
malu”
Aku tersipu.
“Tenang saja hanya kita yang disini
sekarang coba ini buka mulutmu aaaa”
Aku membuka mulut.
“Apakah ini sakit?”
Aku merasa malu ketika ada seorang gadis
yang memegang pipiku dan menyuapi itu normal kan? Atau hanya terjadi padaku
saja.
“Sedikit tapi sakit saat aku mencoba
makan”
Dia mengupas dan memotong apel menjadi
beberapa bagian.
“Coba lah makan ini”
Dia memberikan padaku aku menerimanya
dengan tangan kananku lalu memasukan ke mulutku.
“Ini terasa lembut pipiku tidak saat
saat mencoba memakan Terimakasih Yuki”
Tersenyum ke Yuki.
“Sama-sama Nafchi”
Aku pun memakan apel itu bersama Yuki
hingga habis.
Melihat waktu yang kuhabiskan bersama
sudah lama kuputuskan untuk kembali ke kelas.
“Yuki mungkin sekarang waktuku untuk
kembali ke kelas aku sudah lebih baik”
“Syukurlah”
“Terimakasih Yuki”
“Sama-sama”
Sebelum aku melangkah kaki keluar aku
berhenti di depan pintu melambaikan tanganku dan tersenyum ke Yuki berjalan
menuju kelas saat aku tiba teman-temanku senyum padaku.
“Oi Keren kau sudah dapat gadis spek anime traktir makan dong”
“Anu dia itu kakak kelas”
Gawat aku keceplosan.
“Ngeri anak baru dapetnya kakak kelas
wah aku jadi iri”
“kita cuma baru tau nama satu sama
lain kok gak lebih”
“Kau pasti bohong kami melihatmu dia
memegang pipimu saat di uks”
“Itu anuuu enmmm... yah itu benar
tapi dia melakukannya karena”
Aku terpojok tidak bisa menemukan
alasan yang tepat.
“Bohong dia pasti berpikir wah
sungguh ganteng adik kelasku ini sungguh ingin kunikahi”
Menghela nafas.
Tertawa bersama gerombolan laki laki.
Pelajaran dimulai aku mulai duduk
kembali di bangkuku saat aku mengambil buku pelajaran ada serobek kertas kecil
di dalamnya tertulis “TETAPLAH DIKELAS SAMPAI SEMUA MURID PERGI PULANG” Dipikir
pikir mungkin itu surat dari seseorang aku juga senggang jadi kuturuti saja.
“Apakah ini?”
Melihat sekeliling kelas.
“Yah ini tidak mungkin si dari
Elaina”
Bel pulang bunyi teman-teman kelasku
mulai meninggalkan kelas satu per satu aku tetap dibangkuku sampai semua murid
pergi setelah semua teman di kelasku pergi pulang semua di situ hanya ada aku
sendiri.
“Hah!! Sial aku kena tipu!”
Seseorang kemudian mengetuk pintu
kelas beberapa kali.
“Eh em masuklah”
Aku kaget ternyata itu Elaina dia
sendirian memasuki kelas dan hanya kami berdua yang di dalam kelas ku dia jalan
perlahan menghampiriku yang duduk di bangku.
“Jadi ini kamu yang nulis Elaina?”
Menunjukan kertas robekan yang
kutemukan di dalam tas.
Elaina mengangguk.
“Jadi ada perlu emm anu ehh”
Ini adalah pertama kali dalam hidupku
16 tahun aku didatangi seorang perempuan cantik dan hanya berdua di kelas
tanganku mengeluarkan keringat juga karena jantungku berdebar.
“Nafchi?”
Elaina melihat ke bawah dan
menggulung rambut dengan jarinya.
“Emm iya?”
“Apakah benar pipimu itu dipegang
pegang oleh kakak kelas saat di uks ?aku tidak sengaja mendengarnya saat di
kelas”
“Iya itu benar tapi tolong percaya
aku dia hanya memegangnya oke tidak lebih”
Tanganku mulai bergetar saat
mengatakan hal itu.
Elaina secara cepat memegang kedua
pipiku dengan tangannya itu membuat wajahku memerah seperti tomat karena baru
pertama kalinya dalam hidupku perempuan melakukan hal itu tapi ibuku tetaplah
yang pertama.
“E--la –i-na apa ya-n-g lak-u-ka-n?”
Aku mengatakan itu dengan grogi
jantungku berdetak kencang sehingga berpatah patah saat aku mengucapkannya saat
aku mencoba menatap wajah Elaina yang sebelumnya dia menatap ke bawah.
“Nafchi sekarang sudah tidak ada
bekas sentuhan lagi oleh kakak kelas itu diganti dengan sentuhan tanganku yang
lembut ini”
“Terima kasih Elaina emm anu tanganmu
lembut dan juga hangat kau boleh memegang pipiku selama yang kau mau”
Saat diriku mengatakan hal itu
tanganku gemetar dan jantungku berdetak lebih kencang.
Elaina tersipu hingga telinganya ikut
memerah beberapa saat mata kita membuat kontak mata saling menatap satu sama
lain perlahan mulai melepas pikpiku dia berlari saat di depan pintu kelas
berhenti dan menghadap kepadaku.
“Sama-sama Nafchi”
Elaina menutup mulutnya dengan satu
jari.
Kukira itu adalah tanda untuk tidak
mengatakan pada siapa pun kurasa kemungkinan besar seperti itu setelah
pertemuan dengan Elaina aku pulang ke rumahku itu sudah larut sehingga aku
hanya menggosok gigiku lalu ke kamarku dan mencoba tidur tapi setiap kali aku
mencoba tidur aku terus terbayang sentuhan Elaina di pipiku ini.
“Apakah kejadian tadi itu mimpi ? Yah
kuharap bukan”
Tidurku tidak nyenyak sampai-sampai
aku hanya tidur 3 jam hari ini.
Saat Elaina sampai dirumah dia
langsung menuju ke kamarnya tanpa melakukan basa basi ke orang tuanya dia
beberapa kali menatap tangannya dan berguling guling di kasurnya.
“Apakah aku benar benar
melakukannya?”
“Aaaaaaaaaaaa”
Siapakah dia murid tahun pertama yang
berdiri di depan guru sembari masih membawa tasnya dan mendengarkan ocehan guru
ya itu benar sayangnya itu aku.
Aku terbangun dari kamarku saat
membuka mata aku kaget sudah jam 6:45 Sedangkan sekolahku masuk pukul 07:00 aku
bergegas mandi berganti pakaian dan lain-lain saat aku keluar rumah aku berlari
kesekolah tanpa sarapan atau membawa bekal sama sekali saat aku sampai aku dicegat
oleh guru pengawas disana untuk berhenti.
“Nak apakah kau berniat sekolah atau
tidak masa jam 7 lebih kamu baru sampai!”
“Niat pak saya kesiangan tadi hehe”
“Oh kesiangan bagus alasan terus
lanjut murid baru banyak alasan”
“Jujur pak yasudah misal pak guru gak
percaya saya”
“Sekarang berdiri di lapangan 1 jam!”
“Tolong la pak masa gara gara telat
harus dihukum”
“Cepat lakukan bapak pantau kamu”
Aku segera berlari ke tengah lapangan
dan berdiri menjalani hukuman ku karena telat masuk ke kelas.
Setelah satu jam.
“Sekarang ke kelas cepat Awas kamu
telat lagi”
Aku mengangguk dan tidak berkata
apapun kakiku terasa sangat sakit ketika menahan beridiri satu jam itu benar-benar
lama aku berjalan menuju kelasku dan sudah ada guru lain disana teman- temanku
yang lain menatapku karena baru
berangkat telat.
“Permisi bu guru bisakah aku duduk di
bangku”
“Kamu kenapa nak baru masuk kelas?”
“Biasa bu telat dihukum tadi sama
guru yang ngawasin di depan gerbang”
“Lain kali jangan di ulangi lagi ya
silahkan duduk ”
Aku merasa nikmat ketika duduk di
bangku ku setelah 1 jam tersiksa berdiri di lapangan sembari di tatap oleh guru
pengawas itu.
Jam pelajaran selesai bel istirahat
berbunyi.
“Akhirnya saat yang kutunggu tunggu”
Aku memasukan tanganku ke dalam saku celana.
“Eh ehhh ehhh ehhhhh”
Aku lupa tidak membawa uang saku
sepertinya hari ini akan menjadi berat bagiku pagi ini tidak sarapan tidak
membawa bekal dan tidak membawa uang saku.
“Huft ya sudahlah bersyukur saja absenku
masih sempurna”
Aku memposisikan diriku menghadap ke
bawah dan menutupi dengan kedua tanganku mencoba tidur walau hanya sebentar itu
membuatku lebih baik mungkin.
Elaina melihatku dari bangkunya yang
tadi sedang dihukum oleh guru pengawas.
“Mmm kok Nafchi gak kaya biasanya
makan di mejanya malah tidur mungkin gak bawa bekal hmmm”
Elaina keluar ruangan kelas dan
membeli air putih dari mesin otomatis dia menuju ke mejaku menggoyangkannya
beberapa kali aku terbangun dan memgusap ngusap mataku.
“Dengerin ya Nafchi tidur itu jangan
kemalaman tahu jadi telat kan dasar payah Hemph”
“Iya iya ini salahku kok”
“Emmm ini untukmu”
Elaina memberikan botol air padaku.
“Wah seriusan nih? Kebetulan hari ini
aku cuma bawa buku bahkan uang sakuku tertinggal di rumah”
“Kalo jadi cowo tuh yang teliti tau
cara menjaga diri dasar gak becus”
Muka Elaina memerah.
“Terimakasih Elaina”
Elaina langsung menuju ke bangkunya
kembali tanpa membalas terimaksih ku itu tidak masalah kurasa aku meminum botol
air.
“Huft segarnyaa”
Elaina keluar lagi ke kelas membeli
sesuatu untuknya aku mengikutinya dari belakang
ke kantin dia tidak sengaja menabrak kakak kelas laki-laki yang sedang
membawa minuman di tangannya Elaina tidak sadar dan melanjutkan berjalan
kembali ke kelas setelah membeli sesuatu kakak kelas tersebut tidak terima dan
marah kepada Elaina karena menabraknya lalu mengabaikannya setelah membuat baju
kakak kelas itu terkena coklat berjalan
mendekat aku dengan segera berlari dan menghalangi kakak kelas itu.
“Tunggu kak dia perempuan oke tolong
maafkan dia”
“Apa kau tidak punya mata lihat
bajuku terkena coklat dan basah!”
“Tapi dia itu perempuan tolong
maafkan”
Aku mengulur waktu agar Elaina
cepat-cepat pergi ke kelasnya lagi.
“Heh diamana bocah itu? Kau pasti
sengaja mengulur waktu”
Dia menoleh beberapa kali ke semua
arah.
“Awas kau bocah! teman-teman ayo
pergi mencari bocah itu”
Aku memegang erat tangan kakak kelas.
“Tolong jangan lakukan itu dia hanya
tidak sengaja lakukan lah saja padaku sebagai gantinya tapi jangan sakiti
perempuan tadi akan ku kubiarkan setelah pulang sekolah di parkiran”
“Itu cukup bagus hahaha jaga kata-kata
mu itu”
Gerombolan kakak kelas itu pun
kembali duduk duduk di bangku kantin dan aku kembali ke kelasku
“Aduh bagaimana ini arrghhh”
Bel pulang sekolah berdering.
Tanganku gemetar saat mendengar bunyi
bel sekolah aku segera menuju parkiran lebih awal kakak kelas itu pun sampai di
parkiran sepeda dan hanya ada aku dan gerombolan kakak kelas itu
“Wah nyalimu besar juga ya ku hargai
itu apa kau siap bocah baru”
Aku hanya terdiam dan mengangguk.
Kakak kelas yang berbaju terkena
coklat itu memukul perutku aku terpental darah keluar dari hidungku.
“Itu cukup untuk anak baru sepertimu
haha”
Aku pulang dengan keadaan Memar di
salah satu perutku sembari memegangi berjalan menjuju rumahku.
Siapa kah dia anak laki laki yang
murung di kelas dan menatap terus ke bawah yah itu benar aku setelah mendapat
pukulan dari kakak kelas itu perutku sering sakit mendadak saat melakukan
kegiatan.
“Tidakku bayangkan sesakit ini
pukulan kakak kelas itu”
Rumor dan gosip bertebaran di kelasku
bahwa aku dipukuli kakak kelas sehabis pulang sekolah di parkiran sepeda
membuat Elaina menghampiriku.
“Nafchi apa itu benar?”
“Enggak enggak itu pasti bohong”
“Jujur padaku!”
“Em ini hanya kena meja kok kemarin
hehe”
Perutku mendadak mulas aku segera
menundukkan kepalaku.
“Bohong ! Aku gak percaya”
Menghela nafas.
“Sebenarnya itu benar”
“Kau ini sungguh bodoh beraninya
bikin masalah ke kakak kelas”
Aku terenyum.
“Benar aku memang bodoh hidupku lucu bukan?”
Aku menyembunyikan kebenarannya
karena takut membuat Elaina khawatir dan menambah masalah ini.
“Dasar aneh! Kau harusnya lebih
berhati-hati saat melakukan sesuatu”
Hatiku tertusuk itu sakit tapi aku
tahu ini demi Elaina akan kulakukan apapun untuk melindunginya.
Aku hanya terdiam.
Elaina meniggalkanku dan berjalan
menuju kerumuman teman perempuannya menanyakan siapa orang yang telah memukulku.
“Oh aku kenal dia itu kelas tahun ke
tiga sering ke kantin disaat pagi-pagi begini”
“Tolong pertemukan aku dengannya”
“Wah apa kau mau meminta nomornya
haha”
“Tidak ini privasi”
Salah satu teman Elaina pun
mempertemukan dengan kakak kelas itu Elaina menemui kakak kelas itu sendiri
teman kelasnya menunggu dibelakangnya.
Dia adalah Lana teman sekelas Elaina
penampilannya yang berambut pendek berbeda dari kebanyakan perempuan lain rambutnya
berwarna hitam.
“Oh kau bocah yang menabraku kemarin”
“Hah!Menabrakmu kemarin”
“Tapi tidak apa-apa karena aku sudah
puas melampiasakan kemarahanmu ke laki-laki di kelasmu aku memukul tepat di
perutnya”
“Hah laki-laki!”
Elaina langsung teringat padaku yang
berbohong tentang kejadian terkena meja di kelas dia segera berlari ke mejaku.
“Nafchi! Kenapa kau berbohong padaku?
Kenapa kenapa kenapa kau rela dipukul oleh kakak kelas itu demi aku ini?”
Air mata Elaina menetes di mejaku.
“Jangan menangis Elaina aku sengaja
berbohong karena takut membuatmu khawatir dan karena kamu adalah teman
pertamaku disini sebelum yang lain”
“Maaf maafkan aku telah mengejekmu
dengan sebutan bodoh dan aneh”
“Tidak-tidak aku sudah terbiasa
mendengar hal itu”
Elaina memelukku.
“Terimaksih banyak Nafchi”
Setelah melepas pelukannya muka
Elaina memerah dan tersenyum padaku.
Aww dia sungguh imut sekali ingin
kunikahi haha tapi aku sadar diri aku hanya manusia biasa punya kekurangan
kuharap dia jodohku suatu saat nanti
“Sama-sama Elaina”
“Tolong jangan khawatir padaku dan
berhenti menangis Elaina aku mohon”
“Baik-baik”
Melepaskan kacamata dan Elaina
mengusap air matanya.
“Jaga dirimu baik baik Elaina dan
lebih memperhatikan sekelilingmu”
“Akan kuingat itu sampai jumpa lagi”
“Dadah”
Elaina dalam dirinya sendiri berkata.
“Kenapa dia begitu peduli padaku
belum pernah ada laki-laki yang berani melakukan hal itu sebelumnya itu dan dia
mungkin orang yang baik”
Aku pun kembali melanjutkan tidurku
sampai waktu pulang setelah tidur dari siang hingga sore bel sekolah pun
berbunyi.