Bab 1

SMA Tunas Bangsa adalah salah satu SMA swasta terbaik di Jakarta. Sistem pembelajaran yang sangat baik, murid-murid yang terkenal cerdas dan selalu memenangkan berbagai lomba akademi maupun non akademi di setiap tahunnya, para guru yang tangguh dan profesional, serta gedungnya yang megah dan fasilitas yang lengkap. Setiap tahun ada ribuan siswa SMP yang mendaftar di sana. Namun, tak sedikit siswa yang ditolak karena keterbatasan lokal dan tak memenuhi standar yang telah ditetapkan SMA Tunas Bangsa.

Hari ini adalah hari terakhir Masa Orientasi Siswa bagi peserta didik baru di SMA Tunas Bangsa. Hari pengenalan ekstrakurikuler SMA Tunas Bangsa. Para senior yang memiliki tanggung jawab atas ekstrakurikuler-nya sibuk memperkenalkan ekstrakurikuler pada para peserta didik baru.

Di SMA Tunas Bangsa ada ekstrakurikuler Pramuka, Drumband, Paskibra, Sispala, Voli, Basket, Futsal, Sepak Bola dan Rohani Islami. 

Sudah ada beberapa ekskul yang dipromosikan. Dan sekarang giliran promosi ekskul Pramuka.

Ribut suara bercakap-cakap terdengar menggema di ruangan itu tatkala para senior ekstrakurikuler Pramuka memasuki ruangan tersebut. Para peserta didik baru duduk di kursi besi yang berbaris rapi.

"Perkenalkan nama abang Tristan Bimantara, ketua pramuka SMA Tunas Bangsa," ucap lelaki bertubuh tinggi dan kurus itu, selaku ketua ekskul, memperkenalkan dirinya di depan para peserta didik baru yang sontak mengalihkan perhatian padanya.

"Tentu kalian udah nggak asing lagi, ya, dengan nama pramuka?" Restu, selaku wakil Tristan ikut bertanya. Beberapa dari mereka terlihat mengangguk, tanda mereka sudah tidak asing lagi dengan ekstrakurikuler populer yang satu ini. Beberapa ada yang hanya diam. Beberapa pula ada yang terlihat mengobrol dengan temannya.

"Siapa yang suka ekskul pramuka? Siapa yang masa SMP nya suka ikut pramuka?" lanjut Tristan dengan pertanyaan. Sebagian besar peserta didik baru mengangkat tangannya. Tristan dan Restu bergantian menjelaskan sedikit perihal ekstrakurikuler pramuka yang sebenarnya sudah diketahui oleh mereka. Tristan juga mengenalkan para anggotanya yang lain yang berdiri di sampingnya.

"Ini Bang Restu, wakil abang," ucap Tristan memperkenalkan wakilnya. "Yang di sana ada Kak Syifa, halo, Kak Syifa," tegur Tristan sambil melambaikan tangannya ke arah siswi itu. Siswi yang dipanggil 'Kak Syifa' itu tersenyum sambil melambaikan tangannya ke adik kelasnya. "Ada juga Kak Nana, halo Kak," sapa Tristan lagi pada siswi yang berdiri di dekat pintu. Siswi itu tersenyum ramah. 

"Kalau kalian gabung pramuka kalian bisa mengenal kakak-kakak dan abang-abang lebih dekat," jelas Tristan. "Yang mau daftar pramuka siapa? Waahh rame banget, ya," ucap Tristan tatkala melihat banyak siswa yang mengangkat tangan. Tristan membagikan beberapa selebaran pada dua temannya untuk dibagikan ke adik kelas yang berminat. Lalu lelaki bertubuh tinggi itu berbalik badan menghadap papan tulis yang mana di sana telah terpampang beberapa nomor telepon yang baru saja ditulis oleh wakilnya.

"Kalian boleh isi formulirnya atau hubungi nomor abang atau teman-teman abang untuk informasi lebih lanjut," sambungnya. Ketua ekskul itu terus mengoceh menjelaskan perihal ekskul tersebut.

Sementara di luar ruangan, di tengah koridor yang ramai, seorang gadis tampak resah, celingukkan memperhatikan area sekitarnya, sesekali dia melongokkan kepala ke ruang MOS. Di tangannya terdapat setumpuk selebaran formulir pendaftaran ektrakurikuler Olahraga Basket.

"Riri kemana, sih? Katanya pergi bentar tapi nggak balik-balik. Pake nitipin ini ke gue lagi," gumamnya. "Kayaknya ekskul Pramuka udah mau selesai, tuh." Gadis pemilik nametag Safira Riana itu berbalik badan dan kembali berjalan di koridor yang ramai, hendak mencari keberadaan temannya di kantin. Namun, dari arah yang berlawanan, seseorang menabrak bahunya membuatnya sontak memegangi bahunya yang terasa nyilu.

"M-maaf, Kak, nggak sengaja," ucap siswi yang menabraknya itu. Safira memandang ke arah siswi itu yang kini tertunduk.

Safira tersenyum, "nggak apa-apa, santai aja." Matanya tertuju pada nametag siswi itu yang bertuliskan Ristyana Putri.

Siswi berseragam putih biru itu mengangkat kepalanya, menatap Safira. "Kalau gitu aku duluan, ya, Kak," pamitnya sambil tersenyum kaku. Safira mengangguk sambil tersenyum juga. Siswi itu pun berlalu dari hadapannya. Safira menatap punggung siswi itu hingga dia menghilang di balik keramaian.

Satu kata yang terlintas di benak Safira saat melihat wajah siswi bernama Ristyana Putri itu. Cantik. Siswi itu bahkan sangat cantik. Safira yakin siapa pun yang melihatnya akan berpikiran sama dengannya.

Safira termangu merenungkan gadis itu hingga akhirnya dia tersadar karena bahunya terasa di tepuk dari belakang. Safira terkejut dan menoleh. Riri menatapnya heran.

Safira menimpuk Riri dengan selebaran di tangannya. "Dari mana, aja, sih, lo?"

Gadis bernama Riri itu terkekeh. "Kenapa? Lama, ya, nunggunya?"

"Bukan apa-apa. Di dalam ekskul pramuka kayaknya udah mau selesai. Gue panik lah nyariin lo. Masak gue gitu yang gantiin lo promosi?"

Riri langsung mengambil alih kertas-kertas itu dari tangan Safira. "Makasih, ya?"

Safira mengangguk.

Lalu gadis yang merupakan senior basket itu mendatangi teman-temannya selaku anggota ekstrakurikuler basket untuk berunding.

Sementara Safira duduk di kursi panjang depan koridor. Sesekali dia melempar pandang ke siswa yang berlalu-lalang di koridor itu. Safira menghela napas saat dilihatnya Evan yang berjalan ke mari dan di kerubungi cewek-cewek yang merupakan adik kelasnya.

"Bang foto dulu, dong," salah satu siswi itu mengeluarkan ponsel. "Boleh, ya?"

Evan hanya mengangguk pasrah. Siswi itu meminta temannya untuk memotokannya dengan Evan. Beberapa teman siswi itu juga ada yang minta foto bersama Evan.

Safira tersenyum geli saat melihat Evan terlihat risi di dekati para cewek, tapi diturutinya juga kemauan cewek-cewek itu untuk selfie bersama.

"Makasih, ya, Bang," ucap cewek-cewek itu tampak kesenangan.

"Oke," jawab Evan.

Satu-satunya lelaki yang dekat dengan Safira itu berjalan mendatangi Safira di bangku panjang.

Ketika Evan mendekat, Safira tertawa. "Enak, ya, di kejar cewek-cewek setiap hari? Menang banyak," celetuk Safira sambil terkikik.

Sementara Evan malah bergidik geli. Lelaki itu duduk di samping Safira. "Seandainya di kasi kesempatan buat tukaran sama cowok yang biasa aja, yang nggak di kejar-kejar cewek, mau gue, beneran. Pusing tauk." Evan memijit pelipisnya.

Safira hanya tertawa.

"Nungguin apaan?" Evan mengalihkan topik pembicaraan.

"Tuh, Riri." Safira menatap Riri dari kejauhan yang terlihat sibuk dengan teman satu ekskulnya.

Evan kemudian mengangguk-angguk. Evan kembali mengajak Safira bicara, Safira menanggapi semuanya. Sampai akhirnya, giliran ekskul basket untuk promosi ke ruang MOS.

***

Beberapa hari setelah Masa Orientasi Siswa terlewati. Kegiatan belajar mengajar di SMA Tunas Bangsa kembali di mulai.

Bel tanda masuk baru saja berbunyi beberapa menit lalu. Ribut tawa dan suara bercakap-cakap terdengar dari setiap kelas yang belum dihadiri guru. Tak terkecuali kelas XII IPS 2.

Seorang guru masuk ke kelas XII IPS 2, membuat seisi kelas itu yang tadinya ribut seketika senyap. Hanya sesekali terdengar bisikan. Beliau ternyata tidak sendiri. Dia bersama seorang siswa asing yang berjalan di belakangnya. Menciptakan tanya di benak para siswa XII IPS 2. 

Siapakah dia? Demikian tatapan para siswa yang memandangnya seolah bertanya. Beberapa dari mereka saling pandang sebelum akhirnya Bu Nurma menjawab pertanyaan itu.

"Selamat pagi anak-anak. Sekolah kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari SMA Negeri 2 Bandung," jelas Bu Nurma, guru Sosiologi yang akan mengajar hari ini sekaligus wali kelas mereka. Para siswa di kelas itu ber 'oh' ria sambil matanya tak lepas dari menatap siswa baru itu. Bu Nurma menoleh. "Gilang, perkenalkan lagi dirimu pada teman-temanmu dan hal-hal lain yang perlu temanmu ketahui." Bu Nurma mempersilakan.

Gilang mengangguk, lalu menatap ke depan, memandangi para siswa di kelas itu secara keseluruhan. "Perkenalkan nama saya Gilang Angkasa. Kalian bisa panggil saya Gilang. Saya pindahan dari Bandung. Usia saya 17 tahun. Hobi saya traveling. Oh, iya, saya masih single," jelas Gilang dengan intonasi yang cepat dan fasih.

Kalimat terakhir yang Gilang ucapkan membuat beberapa siswi di kelasnya tertawa, entah karena apa. Tapi Gilang tampak tak peduli. Dia justru membalasnya dengan tersenyum tipis.

Gilang rasa hanya itu yang perlu dia sampaikan. Dia menoleh ke Bu Nurma. "Sudah, Bu," katanya.

"Silakan duduk di bangku kamu, cari tempat yang kosong. Di sini masih ada bangku kosong ... " Bu Nurma mengedarkan pandangan, mencari kursi kosong yang ternyata ada di pojok belakang. "Di sana." Bu Nurma menunjuk pojok tersebut.

Gilang pun mengangguk. Kaki panjangnya melangkah cepat menuju bangkunya bersamaan dengan para siswa yang terus memandangi. Dia duduk, melepaskan tas ranselnya, lalu mengeluarkan buku tulis kosong. Dia mulai mengikuti pelajaran Sosiologi yang akan di mulai.

Beberapa siswa yang duduk tak jauh darinya memandang ke arahnya. Gilang membalas pandangan itu dengan tersenyum ramah. Gilang tidak masalah jika dia harus duduk sendiri. Toh, ini memang kesenangannya. Menyendiri.

"Baik anak-anak, mohon perhatiannya, buka halaman 5 di buku paket kalian," perintah Bu Nurma. "Gilang, kamu yang belum punya buku paket boleh numpang sama temanmu. Gio, Farhan, bagi buku kalian dengan Gilang, ya," tegur Bu Nurma pada dua siswa yang duduk di depan Gilang. 

"Iya, Bu," sahut lelaki bernama Gio. Dia pun menoleh ke belakang. Gilang justru menggeleng, mengisyaratkan bahwa dia tak perlu dibagi buku. Gio dan Farhan saling pandang. Lalu menoleh lagi ke arah Gilang.

"Kenalkan nama gue Gio, dia Farhan," ucap Gio pada Gilang sambil mengulurkan tangannya.

Gilang menjabat tangan Gio, "gue Gilang. Bukunya kalian pakai aja, gue nggak pake buku nggak masalah, jangan bilang ke Bu Nurma," jelasnya pada dua teman barunya itu.

Farhan hanya mengangguk, "okey kalau gitu."

Keduanya lalu berbalik badan, mendengarkan penjelasan Bu Nurma dengan saksama.

Ya, Gilang tidak butuh buku. Dia cukup mendengarkan apa yang Bu Nurma jelaskan. Kecuali Bu Nurma memberi tugas. Tapi sampai sejauh ini sepertinya Bu Nurma tidak memberi tugas.

Tanpa Gilang sadari, ada seorang siswi yang sejak tadi memperhatikannya. Siswi itu tersenyum dalam diam.

***

Bab 2

Dua bulan kemudian.

"Jadi dia siswa baru itu?"

Safira bertanya sambil matanya tak lepas dari menatap objek yang tengah makan, duduk di kursi seberang.

"Iya, namanya Gilang. Gilang Angkasa," jawab Riri sambil mengaduk teh es nya yang kemanisan.

Riri, yang belakangan ini sering mendengar gosip-gosip dari para siswi sedikit-banyak mengetahui perihal siswa baru itu. Beberapa hari belakangan Safira juga sering mendengar gosip yang menceritakan perihal siswa baru. Safira yang semakin penasaran tak pernah tahu yang mana siswa baru itu. Hingga akhirnya Riri memberitahunya ketika mereka tak sengaja bertemu di kantin.

"Oh." Safira mengangguk-angguk, sebelum kembali menyuap baksonya.

"Sejak pertama kali kedatangannya di sekolah kita cewek-cewek udah pada banyak yang naksir, apalagi adik kelas," ucap Riri lagi. "Katanya sih ganteng, tapi menurut gue biasa aja tuh, mereka terlalu norak, kayak nggak pernah liat cowok ganteng aja," jelas Riri yang tampaknya agak tak suka dengan siswa baru itu. "Terus katanya orang tuanya kaya banget, tapi nggak tau, deh, pekerjaannya apa?"

"Ganteng atau cantik itu relatif," gumam Safira. Dan soal pekerjaan orang tuanya, Safira tak menggubris.

Sebenarnya ini bukan pertama kali Safira melihat Gilang.

Kali pertama mereka bertemu sewaktu melaksanakan upacara bendera minggu lalu.. Waktu itu  siswi kelas XII IPS 1 berbaris di sebelah siswa kelas XII IPS 2. Dan tanpa sengaja Safira melirik ke barisan cowok di sebelahnya.

Cowok itu adalah Gilang. Memang waktu pertama melihatnya wajahnya, Safira merasa asing. Dia tidak pernah melihat wajah cowok itu sebelumnya. Dan setelah pertemuan itu pun mereka  sering bertemu dan saling pandang tanpa sengaja. Dan semakin dilihat, cowok itu semakin menarik. Safira akui dia memiliki wajah yang sedap dipandang, juga tubuhnya yang tinggi dan proporsional. Tak heran jika kaum hawa tertarik padanya. Dan hari ini Safira baru mengetahui ternyata siswa baru yang diperbincangkan selama ini adalah dia.

Safira tersenyum tipis, "dia emang ganteng, kok," sambungnya.

Riri menoleh curiga, "jangan bilang lo juga naksir dia?"

Safira menoleh heran. "Gue cuman bilang ganteng doang, kan? Bukan berarti suka. Kalau gue bilang dia jelek berarti gue bohong."

"Tapi, kalau lo suka sama dia terus kalian pacaran pasti cocok. Lo, kan, cantik." Riri terkekeh.

"Ngaco."

Persis saat Safira mengucapkan kalimat itu, Evan menghampiri mereka. Lelaki itu duduk di hadapan mereka. Sontak Safira membuang muka, merasa jengkel tatkala melihat wajah lelaki itu tersuguhkan di hadapannya. Sementara Riri melanjutkan makannya.

"Lagi ngomongin apa lo berdua? Ngomongin gue, ya?" Evan menaikkan kedua alisnya, memandangi Safira dan Riri bergantian.

"PD banget lo," sahut Riri sebelum menyuap sesendok baksonya.

Evan tak menghiraukan ucapan Riri. Dia berpaling ke Safira, lalu mengambil teh es Safira yang tinggal seperempat dan meneguknya hingga habis.

"Ih kok dihabisin, sih?" Safira memberengut, "gue kan mau minum juga. Ganti nggak?"

"Iya, gue ganti kok tenang aja," jawab Evan yang hendak beranjak dari duduknya bermaksud memesan teh es lagi, mengganti teh es yang sudah dia minum.

"Ganti yang utuh,"

"Iya,"

"Ganti yang utuh terus lo yang bayarin semua pesanan gue, ya?"

"Iya bawel!" teriak Evan yang sudah melangkah menuju ibu kantin. "Bu, teh es nya satu, ya?"

Safira tersenyum senang, "Evan baik, deh,"

Tak lama kemudian Evan kembali mendatangi Safira dan Riri, "pesanan lo udah gue bayar,  bereskan? Habisin makannya," katanya sambil mengacak rambut Safira.

"Makasih," ucap Safira sambil tersenyum lalu meneguk teh es nya.

"Gue dibayarin juga nggak?" tanya Riri berharap.

"Lo bayar sendiri," jawab Evan.

"Pilih kasih banget, sih, Safira dibayarin, gue nggak,"

"Bangkrut gue bayarin lo pada,"

Riri mendelik ke arah Safira yang sibuk makan. Lalu memandang Evan lagi.

Evan menatap heran, "kenapa lo?"

"Bener, ya, kata anak-anak, kalian kalau pacaran cocok banget tau nggak? Kenapa sih nggak pacaran aja?"

Mendengar kalimat itu, sontak Evan dan Safira melotot ke arahnya.

"Gue? Pacaran sama dia? Halu lo! Haha!" Evan tertawa sumbang, mengibaskan tangannya ke depan wajah Riri. "Kayak nggak ada yang lain aja." Evan menggeleng-geleng sambil sesekali melirik Safira yang telah tertunduk menatap mangkoknya. Meski Riri bingung dengan bantahan Evan, tapi dia enggan bertanya lebih lanjut dan memilih melanjutkan makannya.

Suasana berganti menjadi hening dan canggung. Menyisakan suara tawa siswa lain yang ada di kantin itu. Masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri.

"Gue cabut duluan, ya?" kata Evan tiba-tiba, beranjak dari duduknya, berjalan keluar kantin.

Safira menatap kepergian Evan, dia tahu Evan tersinggung dan tak nyaman dengan ucapan Riri.

"Lo tadi kenapa ngomong gitu, sih?" Safira menatap Riri tak suka.

"Emang kenapa?" Riri bertanya balik."Gue heran sama lo, nggak PD apa gimana? Gue juga nggak pernah liat lo deket-deket cowok selain dengan Evan. Eh sebenarnya lo sama Evan itu ada hubungan apa, sih? Kalian pacaran?"

Riri satu-satunya perempuan yang dekat dengan Safira, namun, tak semua hal dia bisa ketahui tentang sahabatnya itu.

"Gue sama Evan pacaran? Mustahil!"

Riri mengernyit, "kenapa mustahil? Lo cewek sedangkan Evan cowok. Ya, mungkin, aja, kan?" 

"Gue sama Evan emang deket banget sampai kalian ngira kita pacaran, kan? Tapi asal lo tahu kalau itu nggak akan pernah terjadi---"

"---karena lo udah telanjur nganggap dia sahabat?" potong Riri cepat, "tapi asal lo tahu, Fir, sejatinya cowok dan cewek itu nggak bisa sahabatan karena mereka pasti akan melibatkan perasaan, percaya sama gue. Banyak tuh kejadian sahabat jadi pacar yang awalnya sih temenan tapi ujug-ujungnya? Udah basi banget. Sekarang gue tanya, apa lo nggak ada perasaan sedikit pun buat Evan?"

"Perkiraan lo salah, Ri. Alasan gue nggak pacaran sama Evan bukan karena udah telanjur nganggap dia sahabat. Dan gue juga nggak akan ada perasaan sama dia karena ...." Safira menggantung kalimatnya. Dia tidak mungkin membocorkan alasan yang sebenarnya, sekali pun itu pada Riri.

"Karena apa?"

Safira tersenyum kecut, "nanti lo juga tahu dengan sendirinya."

Dan kalimat itu semakin membuat gadis bernama Riri itu bingung dan penasaran.

Sebenarnya ada apa antara Evan dan Safira?

Safira memang tidak pernah berhubungan dengan lelaki selain sebatas teman atau sahabat. Apa lagi berniat untuk melakukan lebih seperti yang orang-orang lakukan yang biasa disebut dengan istilah pacaran. Bukan takut dosa. Bukan pula karena tidak menemukan yang pas. Hanya saja, Safira takut disakiti seperti kebanyakan mereka yang melakukannya, juga takut sesuatu ....

Cowok yang mereka bicarakan tadi mulai beranjak dari duduknya. Dan pada saat yang bersamaan cowok itu memandang ke arah Safira yang juga memandanginya. Refleks Safira mengalihkan pandangan ke arah mangkok baksonya yang sudah kosong. Tidak heran. Ini sudah kesekian kalinya. Dan sepertinya tidak ada yang mengetahui mereka yang sering beradu pandang tanpa sengaja, selain mereka berdua dan ... Tuhan. Cowok itu berjalan menuju rak snack, mengambil dua batang cokelat beng-beng, membayarnya pada ibu kantin lalu berjalan gontai keluar kantin.

"Dia lari, tuh," tegur Safira sambil menyikut lengan Riri.

"Udah mau bel kali makanya dia cabut,"

"Makanya cepetan makannya,"

"Iya, iya." Gadis bernama Riri itu pun melahap baksonya yang tidak banyak lagi.

***

Gilang berjalan cepat menuju kelas X IPA 2. Sampai di depan pintu kelas tersebut, dia memanggil seseorang yang duduk tak jauh dari pintu.

"Ada apa, Bang?" sahut siswa yang dia panggil dengan isyarat lambaian tangan itu. Siswa itu pun berjalan mendatanginya.

"Buat Risty," katanya sambil menyodorkan dua buah cokelat beng-beng yang tadi dia beli di kantin. Pandangannya mengedar ke kelas itu sekilas, tapi dia tak menemukan sosok Risty.

"Oh, oke, Bang," sahut siswa itu sambil mengambil dua buah cokelat dari tangan Gilang.

"Makasih," ucap Gilang sebelum akhirnya melangkah menuju kelasnya.

Adalah Ristyana Putri siswi tercantik di kelas X IPA 2, bahkan dia yang paling cantik di antara siswi seangkatannya yang merupakan pacar Gilang Angkasa. Mereka sudah memasuki masa dua bulan pacaran. Dan selama itu mereka tak pernah menunjukkan kedekatannya di khalayak ramai. Risty yang tidak mau ada orang yang tahu kalau dia menjalin hubungan dengan senior IPS.

Teman sekelas Risty tak heran lagi jika ada cowok yang menanyainya atau memberinya sesuatu karena mereka tahu siswi cantik itu memang digemari banyak lelaki. Entah itu kakak kelas atau teman sebayanya. Meski pun begitu, teman-temannya tahu Risty senang menjomlo. Mereka tak menaruh curiga sedikit pun kalau Gilang justru adalah pacarnya.

Kedekatan mereka bermula di sebuah ekstrakurikuler yang sama, yakni Pik Remaja. Awalnya, Risty yang melihat abang kelas setampan Gilang mencoba mendekati lebih dulu. Lelaki mana yang tak terpesona dengan kecantikan siswi yang satu ini? Hingga seorang Gilang Angkasa pun takluk padanya.

***

Risty: Kak, Makasih, ya, cokelatnya.

Gilang: Iya. Kakak malam ini ke rumah kamu, ya?

Risty: Boleh, Kak. Kebetulan di rumah lagi sepi. Mama Papa lagi di luar kota.

Gilang: Bagus.

Gilang menyandarkan tubuhnya di sofa panjang. Dia menghela napas. Lalu mengambil jaketnya yang tersampir di lengan sofa dan berdiri dari duduknya. Bergegas ke rumah Risty.

Hal yang biasa dia lakukan tatkala merasa bosan.

***

Bab 3

Gilang memarkirkan motornya ke parkiran yang masih lengang. Melepas helmnya dan meletakkannya di atas spion. Mencabut kunci motornya kemudian turun dari ninja hitamnya.

Lelaki bertubuh tinggi dan proporsional itu berlenggang memasuki sekolah yang sepi. Berjalan gontai menuju kelas, sesekali tersenyum ramah pada satu-dua siswa yang menegurnya.

Gilang termasuk siswa yang teladan. Selalu datang lebih awal, bukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti siswa lain. Dia memang senang datang sebelum sekolah terlalu ramai. Selain itu katanya agar bisa menghirup udara segar sebelum terkena polusi.

Hari ini hampir tiga bulan Gilang bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Dan sejauh ini semuanya masih baik-baik saja.

Gilang masuk ke kelasnya yang baru ada beberapa orang yang sedang piket. Dia baru meletakkan tas di bangkunya ketika seorang gadis, teman sekelasnya, mendekatinya.

"Hei, Gilang," sapa gadis itu, mengulum senyum.

Gilang memandangnya, "eh, Sa, ada apa?"

"Hmm gue boleh pinjam handphone lo nggak? Buat searching internet, handphone gue kehabisan kuota. Ini penting banget buat tugas. Bentar aja, nanti gue balikin," terang gadis bernama Risa itu mengiba, berharap Gilang mau meminjamkannya handphone seperti biasa.

"Oh, boleh." Gilang mengambil handphone dari dalam tasnya dan memberikannya pada Risa, "Nih."

Risa menerimanya dengan tersenyum, "makasih, ya?"

Gilang mengangguk, kemudian dia berjalan ke luar kelas.

Risa yang melihat itu terheran. "Eh, lo mau ke mana?"

Gilang berbalik badan, "gue mau ke luar bentar, cari angin, kenapa?"

"Handphone lo gimana?"

"Pakai aja, gue ke luar bentar, ya?"

"Oh, gitu, ya, udah." Risa mengangguk kaku.

Gilang melanjutkan langkahnya ke luar kelas, mencari angin.

Risa tersenyum senang. Sebenarnya handphone-nya masih ada kuota. Ini hanya alasannya saja agar bisa berinteraksi dengan Gilang dan agar Gilang tidak curiga padanya kalau dia diam-diam menaruh hati pada lelaki itu bahkan sejak awal kedatangannya. Sejak awal Gilang selalu bersikap baik padanya membuat dia semakin jatuh hati pada siswa baru itu.

Meski termasuk tipe orang yang introvert, Gilang tidak menolak jika ada yang mau berteman dengannya atau meminta pertolongan padanya. Di SMA Tunas Bangsa, dia dikenal baik dan ramah pada semua orang, senang membantu, supel, tidak pilih-pilih dalam berteman. Dia aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya, yaitu Pik Remaja. Dia juga profesional dalam menjalankan tugasnya di ekstraurikuler tersebut.

Meski tak begitu pintar, Gilang tak pernah bermalas-malasan dalam mengerjakan tugasnya sebagai siswa. Kepribadiannya yang demikian membuat orang senang terhadapnya. Termasuk para guru. Teman-temannya pun senang terhadapnya, terutama kalangan perempuan. Apa lagi jika dia memiliki fisik yang menarik serta wajah yang menawan. Diam-diam tanpa Gilang sadari banyak siswi di kelasnya itu yang menaruh hati padanya. Termasuk Risa.

***

Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi, Safira dan Evan baru saja datang tatkala para siswa di kelasnya pada sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Safira menuju bangkunya dan meletakkan tasnya di sana. Evan juga duduk di bangkunya sendiri yang terletak di belakang bangku Safira.

"Eh, pasangan serasi baru datang, tuh," celetuk salah satu siswi di kelas itu yang memang senang mengejek kedekatan Safira dan Evan yang terlihat seperti orang pacaran. Safira yang mendengar itu hanya memutar bola mata malas. Responsnya setiap mendengar ucapan-ucapan semacam itu selalu sama, diam tak menggubris perkataan mereka.

Andra yang tengah menyalin pekerjaan rumah dari siswi lain menoleh ke arah Safira yang baru duduk di kursinya. Kebetulan tempat duduk mereka berdampingan.

"Eh, Fir, liat PR lo, dong," pintanya.

"Nggak ada," jawab Safira cuek.

"Nggak ada? Lo belum ngerjain maksudnya?"

"Hmmm,"

"Masak, sih, lo belum ngerjain, udah kali. Liat dong, jangan pelit-pelit sama gue." Andra tak percaya. Safira menghela napas. Akhirnya dia membuka reseleting tasnya dan mengeluarkan salah satu buku tulis, memberikannya pada Andra.

"Nah, gitu, dong." Andra menerimanya dengan semringah. Dengan cepat lelaki itu menyalin tulisan yang ada di buku Safira. Safira tak heran lagi, Andra memang senang mencontek pekerjaan rumahnya. Tak hanya pekerjaan rumah, tugas sekolah yang lain pun kadang Andra selalu minta kerjakan. Anehnya, Safira mau-mau saja mengerjakan semua perintahnya.

SMA Tunas Bangsa dikenal dengan murid-muridnya yang sangat cerdas, namun, nyatanya tak semua murid demikian. Contohnya Andra.

Meski tak seakrab Evan. Hubungan Andra dan Safira bisa dikatakan dekat. Menurut rumor yang beredar katanya Andra menyukai Safira, tapi Safira tak mempercayai itu. Lelaki itu pun tak pernah menunjukkan ketertarikannya secara terang-terangan.

Bell tanda masuk berdentang, menggema di seantero sekolah. Para siswa yang tadinya ribut, sontak mengemasi buku-bukunya.

Andra pun mengembalikan buku Safira.

Guru yang mengajar Matematika---mata pelajaran hari ini---masuk ke kelas dan meminta ketua kelas untuk memberi hormat. Setelah itu pelajaran pertama pun dimulai.

Pelajaran demi pelajaran terlewati hingga waktu pulang tiba. Para siswa berkeluaran dari setiap kelas, berbondong-bondong menuju parkiran.

Jika pergi dengan Evan, maka pulang pun Safira diantar Evan sampai ke kosannya.

"Makasih, Van," ucap Safira tatkala turun dari motor Evan yang berhenti di depan gedung kosannya. Di balik helm fullface-nya yang kacanya tak dibuka, Evan mengangguk, sebelum akhirnya melajukan motornya meninggalkan Safira yang memasuki halaman kosannya.

Safira berjalan di sepanjang lorong, melewati beberapa kamar yang pintunya tertutup rapat, sesekali dia tersenyum tipis pada seorang gadis yang lebih tua darinya melewatinya. Sampai di depan kamarnya, Safira membuka pintu dan masuk ke dalam.

Aroma pewangi ruangan di kamarnya seketika tercium. Kamar Safira rapi dan wangi. Dia selalu membereskan tempat tidurnya dulu sebelum bepergian. Lantai ubin yang tampak mengkilat karena sering di pel dengan pewangi lantai. Isi-isi lemarinya juga selalu dia rapikan setelah dia membongkarnya. Mengembalikan sesuatu selalu pada tempatnya semula. 

Safira memiliki kepribadian yang rajin dan rapi. Dia risi dan merasa tak nyaman jika mendapati kamarnya berantakan. Kamar adalah satu-satunya tempat dia mengistirahatkan tubuh setelah lelah dari beraktivitas. Untuk itu kamarnya harus bersih dan rapi.

Safira baru akan mengganti seragamnya ketika ponselnya berbunyi. Telepon dari ibunya yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur.

"Halo, Bu," sapa Safira seraya duduk di tepi ranjangnya.

"Safira, kamu apa kabar, Nak? Baik-baik, aja, kan?" Suara ibu di seberang terdengar kalut, membuat Safira sedikit kebingungan. 

"Iya, Bu, Safira baik-baik aja. Semuanya aman, kok, Bu," jawab Safira dalam kebingungan. "Ibu kenapa kayak panik gitu?" 

"Alhamdulillah, kalau kamu baik-baik saja. Barusan ibu nonton berita di tv, katanya salah satu SMA di Jakarta, muridnya ada yang terlibat kasus narkoba bahkan ada yang sampai meninggal. Ibu takut itu sekolah kamu."

"Nggak kok, Bu. Itu bukan sekolah Safira. Sekolah Safira aman-aman, aja, kok,"

"Baguslah, kamu jaga diri, ya, Nak. Jangan sampai kamu terlibat atau bergaul sama anak-anak pecandu narkoba. Ibu takut."

"Iya, Bu. Ibu tenang, aja. Safira bakal jaga diri, kok dan nggak akan terlibat kasus apa pun. Ibu jangan khawatir, ya?" Safira menenangkan ibunya.

"Selalu kabari ibu, ya, Nak? Jaga diri baik-baik. Ibu selalu do'akan kamu. Semoga sekolahmu lancar dan baik-baik saja,"

"Aamiin. Makasih, Bu,"

"Kalau gitu ibu tutup dulu teleponnya. Wassalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumussalam," ucap Safira sebelum akhirnya ibu memutuskan sambungan.

Safira merenung. "Kok ibu bisa kepikiran ke situ, ya?" gumam Safira lalu menggeleng pelan. Dia meletakkan ponselnya di tempat tidur lalu mengganti seragamnya secepat mungkin karena setelah ini dia harus makan dan mengerjakan tugas sekolahnya. Begitu kegiatan Safira sehari-hari.

Safira Riana adalah gadis asal Samarinda, Kalimantan Timur. Dia merantau ke Jakarta demi pendidikan yang lebih baik. Dan di sini dia hanya mengekos karena tak ada sanak keluarga yang bisa dimintai untuk numpang tinggal. Ibunya dari Samarinda tiap bulan mengiriminya uang.

Awalnya, ibunya keberatan dengan keputusannya untuk sekolah jauh dari orang tua. Tapi alasan Safira kuat. Dia ingin bersekolah di SMA yang bagus yang tak mungkin dia dapatkan di Kalimantan. Dia ingin kuliah ke pulau Jawa. Dia akan sulit lolos jika tamatan dari SMA di Kalimantan, begitu pikirnya waktu itu.

Selain itu, Evan, teman SMP Safira yang berasal dari daerah yang sama, menyakinkannya untuk bersekolah bersama-sama di Jakarta. Pasalnya lelaki itu juga memiliki tujuan yang sama. Ibu Safira yang sudah percaya dengan Evan pun akhirnya mengizinkan. Ibu Safira berpesan pada Evan untuk menjaga anak bungsunya dengan baik.

Safira anak baik. Tak sedikit pun dia berpikir punya niat lain selain untuk bersekolah di SMA dan Universitas berkualitas baik yang mampu menunjang masa depannya kelak. Meski pun dia tahu, Jakarta kota yang kejam dan keras. Tapi dia optimis dan selalu percaya bahwa dia bisa menjaga diri dan semuanya akan baik-baik saja.

***

Setelah mengantar  Safira pulang, Evan tak langsung pulang ke kosannya. Dia mampir ke kafe tempat tongkrongannya yang biasa dia dan teman-temannya singgahi. Ada janji berkumpul dengan temannya dari luar sekolah yang telah menunggunya sejak tadi.

"Eh, Bro, kemana aja baru nampak?" tanya Fajar sambil bertos ria pada Evan yang baru datang.

"Maklum, tugas sekolah numpuk. Ini gue baru pulang dari sekolah sempatin ke sini," jelas Evan setelah meletakkan bokongnya di kursi. "Tino mana?" tanyanya tatkala tak mendapatkan keberadaan Tino.

"Ngambil pesanan minuman buat lo nggak liat, noh." Fajar menunjuk Tino yang sedang menghadap belakang, mendatangi barista. Saat mengetahui Evan akan datang, Tino bergegas memesankan Evan minuman.

"Oh." Evan baru melihat ke sana. Tak lama kemudian, Tino berbalik badan, berjalan ke arahnya dengan segelas Cappucino di tangannya, memberikannya pada Evan.

"Thanks," ucap Evan pada Tino yang kini duduk di sebelahnya.

Evan, Fajar dan Tino adalah teman karib, meski tak satu sekolah. Usia mereka terpaut cukup jauh. Fajar adalah mahasiswa teknik yang sedang menjalani masa kuliahnya semester empat. Sedangkan Tino yang setahun lebih tua dari Evan hanya bekerja di bengkel. Evan mengenal mereka di sebuah acara ulang tahun teman sekelasnya waktu lalu. Dan entah bagaimana caranya mereka bertiga akhirnya jadi teman akrab. Mungkin karena kesamaan mindset yang mereka miliki. Sejak itu mereka sering mengadakan perjanjian via WA untuk bertemu. Sama dengan Safira, di Jakarta, Evan pun mengekos di kosan khusus putra. Kadang, Fajar dan Tino menemuinya di kosannya.

Setelah meneguk sedikit Cappucinonya, Evan mengeluarkan ponselnya, menyalakan kamera, mulai merekam aktivitasnya. Seperti yang sering dia lakukan selama ini.

Evan merekam Fajar yang tengah makan sosis goreng, lalu beralih ke Tino yang mengisap rokoknya, lalu dia merekam wajahnya sendiri. Mereka tertawa-tawa. Evan mengajak Tino berselfie, lalu mengunggahnya di sosial media.

***

Safira baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya. Untuk menghilangkan penat, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil memainkan sosial media. Gadis itu terpaku kala melihat foto yang pertama kali muncul di berandanya adalah foto dari akun Evan. Di foto itu Evan sedang berselfie dengan seorang lelaki yang tak Safira kenali, berlatar belakang seperti kafe.

Mata Safira lalu tertuju pada tulisan yang ada di bawah foto tersebut. Dia membaca caption itu pelan, "selalu sayang kamu ... Tina." Safira mengernyit samar, lalu menggeleng. Dia sudah paham gelagat sahabatnya itu.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Persona

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED