Namanya Mirza Amalia, seorang dokter, pengusaha, dan aktivis sosial. Ia berasal dari keluarga pejabat di kota ini. Priviledge itu juga yang membuatnya kini memimpin sebuah rumah sakit. Padahal, usianya baru 37 tahun ini. Ia juga seorang ibu dari anak laki-laki berusia 7 tahun dan istri dari seorang dokter spesialis penyakit dalam yang cukup populer. Mungkin, sebagian besar orang di kota ini mengenalnya. Entah sebagai keluarga pejabat yang memang turun temurun di sini itu, atau sebagai Mirza Amalia. Dengan segala keberuntungan itu, rasa-rasanya, tak ada yang kurang dalam hidup yang Ia jalani.
Selain memimpin sebuah rumah sakit swasta, Mirza juga mendirikan sebuah sekolah islam untuk anak usia dini hingga menengah. Sekolah ini Ia dirikan bersama dengan saudara-saudaranya. Kini, sekolah tersebut menjadi salah satu favorit karena memang berkualitas dan cukup mahal tentunya. Kemampuan manajerial didukung sumber daya yang mumpuni membuat Mirza tak kesulitan membesarkan bisnisnya.
Kesibukan bisnis itu tampak tak cukup baginya. Ia butuh ruang ekspresi lain. Ia ingin mengabdikan dirinya untuk orang lain. Maka, beberapa tahun ini Mirza sangat aktif dalam kegiatan sosial. Baik di bidang kesehatan maupun pendidikan. Dua bidang yang memang Ia tekuni. Hasilnya, Ia menjadi orang yang amat dipercaya. Memimpin sebuah organisasi non profit di bidang kesehatan juga rutin melalukan penggalangan dana untuk pendidikan anak kurang mampu. Wanita yang sempurna. Bahkan Ia tak sempat mengaplikasikan ilmu kedokterannya. Dunia bisnis dan aksi sosial lebih menarik baginya.
Mirza merupakan perwujudan wanita idaman bagi banyak laki-laki. Tentu bukan laki-laki patriarkis yang hanya ingin mendominasi wanitanya. Kepribadian yang mulia serta kecerdasan mumpuni tentu tak lengkap jika tak didukung kondisi fisik. Bagaimana pun juga, yang pertama di lihat seseorang adalah bentuk fisiknya. Namun Mirza tak memiliki tubuh seperti model atau cerita-cerita serupa yang mengimajinasikan tubuh sempurna. Ia nampak seperti wanita yang umumnya berusia 37 tahun. Tubuh sedikit lipatan di beberapa bagian, juga tak terlampau langsing. Dengan tinggi 165 cm, tubuhnya nampak segar dan sedikit berisi. Namun karena kulit putih dan bentuk wajah yang tidak membosankan, kondisi fisik lain boleh dipinggirkan. Ia pun memakai hijab dan pakaian longgar saban hari. Jika mengedepankan ketertarikan fisik, Ia tentu tak masuk pada imajinasi sebagian besar orang. Tapi, Mirza tetap memiliki pesona yang menarik bagi banyak laki-laki. Sebagai seorang aktivis sosial, Ia sangat supel. Cara bicaranya juga amat menyenangkan. Siapa pun yang menjadi lawannya bicara pasti merasa nyaman.
Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Selain Tuhan, rasanya siapa pun memiliki kekurangan, apalagi Mirza yang hanya manusia biasa. Priviledge dan segala kemudahan hidup yang Ia dapatkan dilengkapi dengan sedikit kekurangan. Kita akan membahasnya sedikit pada bagian ini.
Bagi semua orang yang melihat kehidupan rumah tangga Mirza dan Hanif, suaminya, sepakat bahwa mereka memiliki keluarga yang harmonis. Pernikahan mereka telah berumur 14 tahun. Bukan waktu yang singkat tentunya. Meski hanya memiliki satu anak, tak ada yang menyangsikan keharmonisan keluarga tersebut. Tapi itu lah yang bisa dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam, selain mereka yang menjalani. Hanif berusia 10 tahun lebih tua. Sebagai keluarga terpandang, mereka bertemu berkat perkenalan keluarga. Masa perkenalan yang singat tak jadi soal saat itu. Mereka saling mencintai seiring berjalannya waktu. Permasalahan ternyata baru muncul 10 tahun kemudian. Mirza merasa tak bahagia secara batin. Mereka memang baru memiliki anak di usia pernikahan ke-7. Itu pun dengan program in vitro fertilisation atau dikenal orang dengan bayi tabung. Tak ada yang tahu ini selain keluarga besar mereka. Sebenarnya, setelah berhasil menjalani program IVF tersebut, hubungan Mirza dengan suami makin mesra. Namun itu tak bertahan lama. Tak ada yang membaik di dalam kamar. Sama seperti sebelum mereka memiliki anak. Aktivistas seksual mereka makin menurun dan kian tak berkualitas. Sebagai seorang istri yang dituntut mengabdi pada suami, Mirza tak serta merta protes. Ia sempat mengajak sang suami berdiskusi masalah ini. Di usianya saat itu, Ia merasa makin bernafsu besar. Tapi hasilnya tak sesuai ekspektasi. Suaminya kian merasa superior dan justru menuntut Mirza menerimanya apa adanya. Ia diam. Ia ingin menjadi istri yang baik, sesuai pesan orang tuanya. Selepas diskusi malam itu, hubungan mereka agak canggung. Kejadian itu pula yang membuat Mirza memutuskan untuk lebih giat melakoni kegiatan bisnis dan sosial. Ia butuh pengalihan. Dan tentu memperbaiki hubungannya dengan suami.
Ia ingin memperbaiki diri. Mungkin Ia kurang bersyukur, pikirnya. Dengan kemudahan yang segala rupa, kekurangan sedikit itu harus Ia terima. Begitu Ia memutuskan. Hubungannya kembali baik. Kondisi di dalam kamar berlangsung seperti sedia kala. Ia melayani suaminya dengan baik. Meski barang tentu semua belum memenuhi ekspektasinya. Mirza kian menyibukkan diri. Bertemu dengan banyak orang. Membantu orang-orang kurang mampu. Juga membesarkan bisnis pendidikannya. Ia hanya mengingat kekurangan suaminya saat mereka selesai melakukan hubungan suami istri. Terkadang, Ia menetesan air mata. Esok, setelah bangun dari tidur, Ia kembali memendam perasaan itu kuat-kuat.
"Jadi perlengkapan buat besok sudah clear semua ya, Dok?" seseorang mengirimkan sebuah pesan ke ponsel Mirza
"Sudah, Mas. Tadi Pak Anto sudah konfirm ke saya. Besok kita langsung ketemu di lokasi?" balasnya
"Alhamdulillah. Siap, Dok. Jam 8 ya?" Ia menerima pesan lagi
"Nggak boleh telat ya. Lokasinya lumayan soalnya," balasnya lagi
"Siap, Bu Dokter. Sampai ketemu besok," Ia tersenyum menerima pesan itu
"Sampai ketemu, Mas," balasnya memungkasi percakapan malam itu
Ia terpejam dengan sedikit senyuman. Suaminya sudah tidur karena kelelahan setelah melakukan operasi sore tadi. Ia masih ingin menjadi istri yang baik. Ia cium kening suaminya, lalu memejamkan mata.
>><<
"Bagaimana rasanya menikah selama 14 tahun, Dok?" Tanyaku padanya saat kami rehat setelah kegiatan bakti sosial hari itu
"Kalau kata anak-anak sih kayak makan permen nano-nano," jawabnya yang kemudian disusul oleh tawa kami berdua
Hari itu, Kami melakukan kegiatan pemeriksaan mata di sebuah desa di lereng gunung. Dokter Mirza sebagai ketua tim relawan memang mengawal program ini langsung. Aku seringkali salut dengan dedikasinya pada kegiatan sosial seperti ini. Meski harus melalui medan yang tidak mudah, bahkan pernah beberapa kali sampai malam hari, Ia dengan penuh semangat tak pernah alpa. Aku yang jarang ikut serta turun lapangan dibuat heran namun bangga. Sebagai wanita dari kalangan berada, kenyamanan adalah kesehariannya. Tapi Ia memilih jalan lain. Mengabdikan diri untuk masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu.
"Lihat ini belum selesai, kayaknya kita sampai malam ini, Dok, baru pulang," kataku sesaat setelah kami menyelesaikan ibadah sore itu
"Screening terakhir malam baru jam 10 malam aku sampai rumah, Mas," jawabnya
"Terima kasih ya, Dok, sudah sebegini dedikasinya," kataku memuji
"Teman-teman, Mas, yang luar biasa. Saya kan hanya mengawal," balasnya merendah
Senyumnya manis sekali. Kadang, aku sampai lupa kalau Ia istri orang. Dan berusia 10 tahun lebih tua dariku. Ia punya gingsul yang sepertinya dibiarkan. Kami memang makin akrab beberapa minggu ini. Apalagi kalau bukan karena aku ditugaskan kantor untuk menjadi bagian dari tim relawan kegiatan pemeriksaan mata dan operasi katarak untuk waga kurang mampu. Karena butuh koordinasi, mau tidak mau kami sering berkontak. Baik itu secara langsung mau pun melalui ponsel. Aku suka mendengarkan suaranya ketika kami bertelepon.
Bersambung
Entahlah. Sebagai pria beristri, harusnya aku tak melakukan ini. Aku juga telah memiliki anak berusia hampir 2 tahun. Sebagaimana rumah tangga pada umumnya, aku sedang dalam masa jenuh. Kami menikah hampir 3 tahun. Aku menikah muda, saat itu usiaku baru 24 tahun, istriku setahun lebih tua. Maka, melihat wanita seperti Dokter Mirza, dan kami mempunyai komunikasi yang bagus, hati siapa yang tidak tergoda. Bukan. Bukan untuk mencinta tentu saja. Smpai saat ini, aku masih sangat mencintai istriku. Tapi, ya, sedang bosan saja. Seperti manusia yang setiap hari makan nasi, terkadang ingin juga makan kentang, atau burger misalkan. Namanya uga manusia, tak ada puasnya.
Tapi melihat bagaimana kondisi Dokter Mirza, seringkali kubuang jauh-jauh pikiran kotor itu. Ia religius sekali. Setiap ada kegiatan bersama, Ia orang yang paling awal mengajak kami sholat tepat waktu. Pakaiannya juga tertutup, jilbab lebar dan baju longgar. Hanya pada kegiatan tertentu saja Ia menyesuaikan. Itu pun tetap masih sangat sopan. Aku terkadang kagu dengan bagaimana Ia bertingkah laku. Meski tentu, pikiran kotor itu seringkali mampir. Dasar otak mesum.
"Dok, kayaknya saya butuh beberapa dokumen untuk kelengkapan pencairan dana. Draftnya nanti tak kirim ya," kataku saat kami sedang beres-beres
"Siap. Harus diselesaikan kapan?" tanya Dia
"Lebih cepat selesai, lebih cepat cair," jawabku sambil bercanda
Kami tertawa. Aku suka sekali melihatnya tertawa. Ku perhatikan bagaimana suara dan gerak bibirnya saling mendukung.
"Mas. Mas Bayu," Dokter Mirza menyadarkanku dari lamunan
"Eh, sorry, Dok. Oleng," jawabku malu-malu
"Dih. Lagi mikirin istri di rumah? Habis ini pulang kok," katanya menggoda
"Lagi mikir cicilan, Dok. Hehehe. Tadi Dokter ngomong apa?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan
"Besok tak usahakan selesai dokumennya. Sore aja tapi. Mau diantar atau diambil?" tanyanya
"Tak ambil saja. Biar Dokter nggak repot. Kan sudah capek ini sampai malam," kataku berusaha merayu
"Ya sudah besok saya kabari ya kalau sudah selesai," katanya
Kami menyelesaikan kegiatan malam itu. Aku makin akrab dengan Dokter Mirza. Kami makin sering bercanda. Tak ada kecanggungan seperti beberapa bulan lalu saat kami baru saja berkenalan. Ini yang bikin pikiran nakalku tak kunjung pergi.
Esoknya, aku dikabari oleh Dokter Mirza untuk mengambil dokumen di tempatnya pukul 15.30. Ia sedang ada di kantornya, di rumah sakit yang dipimpinnya, RS Amanah. Aku sudah dua kali mampir ke ruangannya. Tentu untuk kebutuha koordinasi program yang kami jalankan.
"Assalamualaikum. Permisi Bu Dokter," sapaku sambil mengetuk pintu
"Waalaikumsalam. Masuk, Mas," jawabnya sambil menunjukkan senyum yang sealu membuatku meleleh
"Lagi sibuk ini, Dok?" tanyaku basa-basi
"Nggak kok. Lagi ngoreksi dokumen yang mau diserahkan ke Mas Bayu. Monggoh diperiksa lagi, Mas" jawabnya dengan menyerahkan dokumen yang memang kuminta tadi malam
"Saya koreksi dulu ya, Dok," kataku
"Eh, mau minum apa?" tanyanya
"Seadanya saja, Dok. Air putih juga nggak apa," jawabku
Ia menyodorkan teh dalam kemasan di depanku. Aku masih mengoreksi dokumen yang Ia berikan. Lengkap dan tak ada yang salah.
"Alhamdulillah kalau lengkap semua," jawabnya lega
"Berarti agenda selanjutnya yang di Desa Sumberbaru ya, Dok?" tanyaku
"Iya, Mas. Sekalian pelatihan kadernya soalnya cuma desa itu yang belum dapat pelatihan," jawabnya
"Tetap hari Rabu, ya?" tanyaku lagi
"Iya. Mas Bayu bisa ikut lagi?" Ia mengkonfirmasi kehadiranku
"Insyaallah, Dok," jawabku singkat
Dokter Mirza memakai pakaian causal hari itu. Terlihat santai meski tetap tertutup seperti biasanya. Kami melanjutkan pembicaraan dengan topik ringan. Sesekali aku memandangi wajahnya yang masih saja membuatku senyum-senyum sendiri.
"Tapi hubungan sama istri di rumah masih baik-baik saja kan, Mas?" Tanya Dokter Mirza saat aku curhat perihal hubungan selepas punya anak
"Masih kok, Dok. Meski harus diakui tingkat kemesraannya berkurang karena sering lebih fokus ke anak," kuakhiri jawaban tersebut dengan tertawa, Ia mengikuti
Kami lalu melanjutkan perbincangan tentang kondisi rumah tangga masin-masing. Dokter Mirza menceritakan usahanya untuk memiliki anak yang butuh waktu 6 tahun. Kami memang cukup sering saling berbagi kisah-kisah pribadi akhir-akhir ini. Aku makin kagum dengan kepribadiannya. Bukan hal mudah untuk berjuang mendapatkan anak selama ini. Selain tekanan dari keluarga, tetangga dan kolega rasanya makin memperburuk suasana. Masyarakat kita memang begitu. Dan aku yakin, wanita selalu berada pada posisi yang disalahkan. Padahal kan ya seringkali laki-laki yang terlampau egois.
"Untungnya keluarga saya support aja, sih. Cuma teman dan tetangga ini yang kadang omongannya bikin sakit hati," jelasnya saat kutanyakan bagaimana Ia menghadapi waktu 6 tahun itu
Aku ta bertanya bagaimana caranya Ia berhasil. Terlalu pribadi kurasa. Aku sih menduga Ia menempuh cara-cara medis. Kalau memang tak menunda dan keduanya baik-baik saja, rasanya tak akan butuh waktu selama itu. Tapi kan itu hanya logika awamku saja.
"Jadi, baru 2 minggu langsung hamil?" tanya Dia dengan wajah terkejut
"Waktu nikahnya kayaknya pas Dok, jadi nggak butuh waktu lama," jawabku sambil tertawa
"Waktu nikahnya atau cara bikinnya?" Ia menggodaku, lalu kami tertawa bersama
"Caranya sih sama, pemerannya yang beda," kami tertawa lagi
"Kamu yakin cara setiap orang sama?" Dokter Mirza kembali menggoda
Kali ini otakku berhenti sepersekian detik memikirkan jawaban apa yang tepat. Bercandaan kami tak pernah sejauh ini. Kami sedang berada di ruang tertutup, tak ada orang selain kami berdua. Ingin kuanggap ini serius tapi takut Ia hanya bercanda seperti biasa. Tapi, kesempatan seperti ini tak yakin akan datang lagi. Otak mesumku terus memintaku untuk melakukan sesuatu yang lebih.
"Seinget saya caranya sama kayak film-film yang pernah saya tonton. Nggak tahu sih kalau Dokter punya cara lain," aku mengakhiri jawaban itu dengan tetawa
Ia tertawa. Mungkin ada yang mendengar tawa kami dari luar. Menyenangkan sekali obrolan kami hari ini. Ini obrolan paling intim yang pernah kami lakukan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Semoga lebih baik. Entah bagi siapa.
"Jadi sering nonton film begituan?" tanya Ia menyelidik
"Kan buat referensi, Dok. Biar makin pinter katanya," kami tertawa lagi
Kami saling memandang. Manis sekali. Aku suka sekali senyumnya. Seperti yang kukatakan dari awal. Mata kami bertemu lama sekali. Waktu rasanya berhenti begitu saja. Kami bersebelahan. Dihalangi oleh meja ruang tamu yang rendah.
"Jujur saya belum pernah nonton, lho," katanya setelah tawa kami mereda
Aku sedang minum teh dingin yang Ia suguhkan. Rasanya minuman itu terhenti di tenggorokan. Obrolan ini kian dalam. Otakku mengirim sinyal bahwa ini adalah sebuah kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Jika mengingat pesan orang alim bahwa jangan pernah berduaan dengan lawan jenis karena yang ketiga adalah setan, itu benar sekali dala situasi ini. Bisikan jahat sudah dari tadi berlomba mempengaruhiku.
"Berarti otodidak ya, Dok? Menerapkan ilmu otonomi tubuh manusia?" pancingku yang diikuti tawa renyah kami sekali lagi
Ia terpingkal. Telapak tangannya mencoba menutupi mulut yang tak mampu Ia tahan untuk terbuka.
"Obrolan kita makin aneh-aneh ya," katanya berusaha mengakhiri topik mesum kali ini
"Selingan, Dok. Bosen juga tiap ketemu kalau yang diobrolin soal program terus," jawabku
Lalu kami diam. Tiba-tiba otakku buntu. Tak ada ide untuk melanjutkan obrolan ini. Dokter Mirza juga sama. Ia nampak menerawang. Mungkin memilih kalimat yang tepat untuk meneruskan obrolan kami. Pada satu kesempatan, mata kami bertemu lagi. Kami sama-sama tersenyum. Pandangan kami tidak lepas selama beberapa detik.
"Saya punya pikiran jelek, Mas. Saya takut kita melebihi batas," katanya tiba-tiba
"Sama, Dok. Kalau begitu saya pamit sekarang," aku tersenyum, Ia menunduk
Aku berdiri. Sambil membawa ponsel dan dokumen yang diberikan oleh Dokter Mirza. Aku pamit. Kulirik, Dokter Mirza tersenyum melihat aku beranjak. Kubalas senyumnya. Aku meninggalkan ruangan itu.
Bersambung
Hari ini, Ia masih berhasil menjadi istri yang baik. Tak terlalu baik sebenarnya. Tapi cukup berhasil menahan diri. Kelepasan sedikit saja, Ia pulang sebagai istri yang telah main serong. Kian hari, godaan makin besar untuk meneguhkan hatinya menjadi istri yang baik. Sumpah yang Ia ucapkan 14 tahun lalu. Hari yang tak akan pernah dilupakan oleh Mirza. Ia menjatuhkan pilihan pada seorang laki-laki, yang meski Ia tahu nama dan profilnya, tapi tak lama dikenal. Pilihan keluarga adalah yang terbaik baginya. Sebagai anak penurut dan begitu berbakti kepada kedua orang tua, Ia menerima tawaran yang sebenarnya lebih terkesan sebagai paksaan. Tapi Ia menerimanya. Dengan ikhlas, dengan lapang dada. Ia putuskan mengabdikan hidupnya pada lelaki itu.
Dua malam setelah hari itu, Ia baru merasakan menjadi seorang istri sesungguhnya. Pesta keluarga besar membuat Ia dan suami tak sempat melakukan ritual sepasang pengantin baru. Sebagi seorang dokter, sang suami juga tentunya, mereka hafal sekali persoalan tubuh manusia. Rasanya tak perlu diajarkan lagi. Dibesarkan dalam keluarga religius membuatnya segan untuk berbicara soal urusan ranjang. Yang Ia ingat hanya pesan Sang Ibu beberapa hari sebelum pernikaha. "Tugas istri adalah mengabdi pada suami. Tubuhmu menjadi milik suamimu sepenuhnya. Buat suamimu merasa senang ketika berada di dalam kamar," begitu bunyi pesan itu. Ia memegangnya teguh. Sampai hari ini.
Mirza bukan wanita bodoh dan miskin pengetahuan. Selama sekolah, Ia belajar banyak hal. Juga bertemu dengan berbagai jenis manusia. Ia tahu bahwa dalam hubungan suami istri di atas ranjang, kedua belah pihak berhak mendapatkan kepuasan. Namun pesan ibunya malam itu melekat lebih kuat dari ilmu. Ia memendamnya. Suaminya tak mampu memenuhi ekspektasi. Tentu dalam urusan ranjang yang dimaksud di sini. Selama berhubungan, Ia merasa hanya beberapa kali merasakan apa yang Ia tahu sebagai orgasme. Hal yang kemudian membuatnya berani membahas masalah itu setelah 10 tahun menikah. Iya, Mirza baru erai setelah se lama itu. Sekal lagi, Ia tak mendapatkan hasil sesuai ekspektasi. Suaminya berang. Merasa disentil ego tertingginya sebagai lelaki, Ia memakai dalih beraneka rupa. Mirza kembali mengingat pesan ibunya. Ia minta maaf. Beberapa hari setelah itu, hubbungan mereka baik kembali. Tapi tubuhnya mengatakan tidak. Usianya 37 tahun. Ia merasa melewatkan banyak hal. Mungkin usia aktivitas seksualnya tak lama lagi. Tinggal 10 tahun mungkin, atau bahkan kurang dari itu. Dengan kondisi seperti ini, tak ada yang bisa diharapkan. Ia kembali mengingat pesan ibunya. Kehidupan kembali berjalan seperti biasanya.
Ujian memang datang pada manusia setiap waktu. Apa pun bentuknya. Dalam kehidupan yang sudah dijalani, rasanya sulit bagi Mirza mendapatkan ujian ekonomi atau kesusahan sejenis. Ia mendapatan ujian dalam bentuk lain. Penceramah seringkali berkata bahwa kenikmatan juga ujian. Begitu yang sedang dihadai Mirza saat ini. Laki-laki muda bernama Bayu Widiansyah yang baru Ia kenal selama 6 bulan ini begitu memenuhi pikirannya. Bukan. Ia tak sedang jatuh cinta. Meski menikah dengan perjodohan, waktu berhasil membuatnya jatuh cinta pada suaminya itu. Meski dengan kekurangan yang selalu Ia keluhkan. Bayu adalah soal yang selama ini tak begitu Ia dapatkan dari lelaki yang dicintainya. Pertemuan hari ini membuat sisi lain dari Mirza perlahan keluar. Bayu berhasil memancing itu. Untungnya, Ia cepat sadar. Tapi Bayu telah membuatnya keluar. Ia hampir melakukannya. Tubuhnya, dan tentu saja bagian otak yang memintanya berpikir jorok, menyetujui itu. Tapi Ia berhasil menahannya hari ini. Entah besok atau lusa.
Bayu tidak terlampau tampan. Ia laki-laki biasa dengan tinggi setara dengannya. Bukan laki-laki idaman ibu-ibu paruh baya di luar sana. Tubuhnya biasa, tak kurus juga tak gemuk. Katanya, Bayu masih suka olahraga meski tak rutin. Tapi cara bicara, gestur, hingga bagaimana Ia memperlakukan orang lain, terutama wanita, membuatnya terkesan. Dalam pikirannya, Ia merasa Bayu sangat menarik secara seksual. Bayu bukan laki-laki yang rapi seperti suaminya. Gaya pakaian dan tingkah lakunya terkesan sekenanya. Rambutnya juga agak panjang. Tak layak sebagai orang kantoran. Tapi itulah pesonanya. Mirza merasa laki-laki seperti ini yang membuat tubuhnya panas. Entahlah.
Mirza sedang susah memejamkan mata. Suaminya sudah lelap. Ia masih kepikiran kejadian sore tadi. Bagi wanita sepertinya, itu adalah hal yang luar biasa. Sesuatu yang paling berani yang pernah Ia lakukan. Ia tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tubuhnya birahi. Tak mungkin Ia mengajak suaminya bersetubuh malam ini. Selain tak akan mampu memenuhi hasratnya, Sang Suami tak suka jika sedang tidur dibangungkan. Kecuali untuk hal yang amat penting. Kepuasan batinnya tak termasuk hal yang amat penting itu.
Ia memejamkan mata. Hanya satu doanya sebelum tidur malam ini. Ia tak mengigau dan menyebut nama Bayu dalam mimpinya. Ini akan menjadi petaka luar biasa. Hidupnya mungkin akan hancur tak bersisa.
>><<
Kami sudah seminggu tak saling kontak setelah pertemuan hari itu. Besok, kami akan bertemu lagi. Aku hanya takut suasananya menjadi canggung. Alangkah tidak baiknya kami yang harusnya berkolabarasi untuk kesuksesan program ini malah membikin kacau. Aku punya dua pilihan: melanjutkan usaha untuk menggodanya dengan risiko hubungan ini kian buruk atau mundur teratus dan menyelamatkan semua. Setan masih mengajakku untuk tidak menyerah. Apalagi, sudah hampir tiga minggu aku tak dapat jatah dri istriku. Dia makin tak tertarik dengan seks semenjak melahirkan. Seingatku, kemampuanku di atas ranjang tak bisa dikatakan buruk. Paling tidak, Ia masih sering mendesah orgasme ketika kami berhubungan badan. Entahlah kalau itu hanya pura-pura.
"Besok saya langsung ke lokasi ya, Mas, soalnya ada perlu dulu. Langsung koordinasi sama Mas Yogi ya,"
Pesan dari Dokter Mirza malam itu terasa berbeda. Agak kaku dan terasa menjauh. Aku menghargai keputusannya. Kuikut saja kemana air mengalir sambil menyiapkan diri siapa tahu ada kejutan selanjutnya.
"Siap, Dok. Saya coba kontak Mas Yogi,"
Mas Yogi adalah leader di lapangan. Ia yang mengkomandani urusan logistik, perlengkapan, juga anggota lain.
"Terima kasih ya, Mas Bayu"
Balasnya masih kaku.
"Sama-sama, Dok"
Aku tiba di lokasi bersama rombongan dan tak melihat Doker Mirza di sana. Kata Mas Yogi, mungkin dia akan terlambat. Ada urusan dulu, katanya.
Ramai sekali hari itu. Peserta jauh lebih banyak dari biasanya. Aku sampai ikut turun untuk melakukan penertiban agar tak kacau. Sudah tak kuperhatikan lalu-lalang orang di balai desa. Hingga menjelang istirahat siang baru aku sadar bahwa Dokter Mirza sudah tiba. Ia terlihat sedang berbincang dengan kepala desa. Aku menyapanya dengan senyuman berusaha untuk mencairkan hubungan kami. Ia membalas dengan sedikit berbeda dari biasanya. Tapi sungguh, tetap manis sekali.
"Aku nanti pulang dulu ya, Mas, sekitar jam 2. Tapi ada yang perlu aku bicarakan sama Mas Bayu. Kalau bisa pulang duluan, nanti aku tunggu di sekolah ya,"
Tiba-tiba masuk pesan dari Dokter Mirza. Bikin penasaran juga. Kalau soal program, tentu bisa dibicarakan di sini. Kalau ini soal kejadian minggu lalu, aku harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Tapi, aku tak bisa membayangkan apa itu.
"Baik, Dok. Nanti kalau bisa saya mampir"
Balasku singkat. Sengaja. Namanya juga sedang memancing.
Ia tak membalas lagi, hanya mengirimiku lokasi sekolah yang dimaksud. Itu nampaknya lokasi sekolah play group yang Ia punya. Pikiran mesumku mulai muncul. Dengan asumsi 1 jam perjalanan dari sini ke sekolah tersebut, paling tidak baru akan sampai jam 2. Jam segitu, sekolah jelas sudah bubar. Tapi tak tahu juga ada ruangan apa saja di sana. Siapa tahu itu juga kantor yang diisi oleh para guru.
Aku sudah tak fokus. Pikiranku hanya tertuju pada Dokter Mirza. Ia sudah pergi dari setengah jam yang lalu. Aku akhirnya memutuskan untuk pamit kepada Mas Yogi dengan dalih ada urusan lain. Load pasien mulai menurun memang dan sudah bisa ditangani oleh teman-teman relawan lain. Aku cabut dengan pikiran tak karuan.
Karena diantar oleh supir kantor, aku meminta diturunkan di dekat lokasi yang dimaksud oleh Dokter Mirza. Sebelumnya sudah kuhubungi yang bersangkutan. Ia mengatakan baru sampai di lokasi. Ini sudah jam 4 sore. Aku masuk dan disambut oleh beberapa orang yang sepertinya staf administrasi sekolah itu. Mereka bersiap pulang. Aku dipersilakan untuk menunggu di ruang tamu. Dokter Mirza masih sholat, katanya. Satu per satu mereka pulang.
"Sorry, Mas, tadi sholat dulu," katanya
"Nggak apa, Dok. Santai saja," aku deg-degan sekali sampai tak tahu mau berkata apa
"Di ruangan saya saja, Mas," ajaknya
Aku mengikuti langkahnya. Ruangannya ada di pojok. Cukup besar dengan meja kerja, sofa untuk tamu, juga ornamen khas anak-anak yang lucu. Aku masih deg-degan. Sungguh.
"Silakan di minum, Mas," katanya menawarkan minuman yang sudah tersedia di meja, nampaknya memang disiapkan
"Terima kasih, Dok," balasku agak canggung
Dokter Mirza duduk di sampingku. Ia sudah tak memakai baju yang sama dengan tadi. Kini lebih santai, aku susah mendeskripsikannya. Seperti terusan longgar untuk muslimah begitu. Jilbab yang dipakai pun sederhana, tak seribet tadi.
"Aku mau membahas apa yang kita lakukan minggu lalu, Mas," katanya tanpa basa-basi
"Kita sudah melakukan apa minggu lalu, Dok? Bukannya cuma ngobrol?" jawabku
Ia menghela nafas. Dalam sekali.
"Obrolan itu yang akan kita bahas," jawabnyanya singkat
"Silakan, Dok," aku deg-degan
Ia kembali menghela nafas panjang.
"Saya dari keluarga terpandang, suami saya seorang dokter yang terkenal. Kegiatan saya juga banyak sekali mau itu bisnis mau pun sosial. Saya dikenal banyak orang. Tapi mungkin kamu tahu setelah banyak ngobrol kalau ada yang kurang di hidup saya. Nggak usah disebutkan itu apa. Jadi saya mau tanya, kalau saya selingkuh apa risikonya?" katanya panjang lebar dengan nafas tak teratur
Bersambung