Tik! Tok! Tik! Tok!
Suara dentingan jarum jam di dalam sebuah ruangan terdengar menggema mengisi kesunyian. Semakin membuat suasana mencekam antara dua pria yang tengah duduk di sofa dalam diam sejak beberapa menit yang lalu.
"Jadi?" Pertanyaan singkat itu terlontar keluar dari bibir Demian. Menatap dingin Sang Adik yang duduk di sofa seberang.
Glek!
Devian menelan kasar ludahnya. Mencuri pandang menatap ekspresi Kakaknya yang tidak berubah. Namun, hal itu mampu membuat bulu kuduknya meremang.
"Dia menarikku." Lirih Devian, tak berani menatap saudara kembarnya kala mengucapkan kata itu keluar dari bibirnya.
Tak ada sahutan. Demian hanya diam masih dengan ekspresi datar di wajahnya, tetapi aura sekitarnya jelas mengungkapkan isi hatinya sekarang ini. Buruk.
"Dia dalam pengaruh obat perangsang." Devian menambahkan, suaranya terdengar bergetar.
Masih tak ada jawaban dari lawan bicaranya, membuat nyawa Devian seakan hilang setengah dari tubuhnya.
"Yang jelas. Jangan bertele-tele," ucap Demian datar.
"Kamu tidak tidur?" Tanya Devian mengalihkan pembicaraan.
Demian memutar bola mata malas. Menghela napas kasar, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Jelaskan, Dev. Kau tahu aku seperti apa jika tidak diberi penjelasan dengan baik." Tegas Demian, menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Meski sebenarnya Demian lelah setelah melakukan perjalanan panjang. Delapan jam di dalam jet bukanlah waktu yang singkat, bahkan mungkin kedua orang tua mereka tengah berbicara empat mata di ruang tamu kediaman Louis Alexander tanpa ingin menunggu esok hari.
Jadi Demian memutuskan untuk mengintrogasi Adiknya di dalam kamar. Ia juga sedikit malu menunjukkan wajah pada Wanita yang telah direnggut keperawanannya oleh Devian, Adiknya.
Devian menghela napas pasrah. Ya, sepertinya tak ada pilihan. Toh, lebih baik diintrogasi seperti ini daripada harus menerima hukuman yang lebih berat
"Aku berniat memasuki kelab untuk mencari Kedrick. Ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku, sesaat setelah masuk. Aku menatap sekeliling untuk mencari keberadaannya, tetapi wanita itu menabrak tubuhku." Devian menunduk mengingat kejadian kemarin malam, sebelum dirinya berakhir di kamar hotel.
***
Suasana kelab malam begitu ramai malam ini. Ya, tidak ada catatan tempat itu sepi ketika malam. Bahkan pagi pun mungkin akan ada orang yang menikmati waktu di tempat itu.
Devian menatap sekeliling. Mencoba mencari sosok Kedrick -tangan kanannya- di antara puluhan orang yang tengah menari dalam keadaan setengah sadar. Tak jarang mata Devian menangkap pemandangan yang cukup membuat ia jijik sendiri.
Meski bukan kali pertama dia memasuki kelab, tetap saja ia geli melihat pemandangan tak senonoh yang tengah dipertontonkan oleh sepasang insan di setiap sudut ruangan temaram itu.
Devian bukan tak normal, hingga tak terangsang melihat hal tak senonoh tersebut. Tapi ia tahu diri, tahu tempat juga. Namun, jika mengingat hingga saat ini dirinya tak pernah sekalipun berkencan dengan wanita.
Alasannya sederhana, jika memiliki kekasih maka besar kemungkinan waktunya terbagi untuk hal yang tidak penting. Devian tidak suka hal itu.
Devian menghela napas kasar saat tak juga melihat siluet atau batang hidung Kedrick. Padahal ia sudah lelah mencari sejak tadi, sudah terasa pengap berada di tengah-tengah orang yang meliukkan tubuh tanpa tahu malu.
Apalagi aroma alkohol yang perlahan menganggu indra penciumannya. Sungguh menyebalkan.
Bugh!
Seseorang tanpa sengaja menabrak tubuh Devian, membuat pria itu mundur beberapa langkah dari tempatnya.
Devian mengerutkan kening menatap sosok yang kini memeluk erat pinggangnya.
"Hey, lepaskan." Sentak Devian berusaha melepaskan pelukan wanita itu.
Tapi tak membuahkan hasil, justru pelukan di pinggangnya semakin erat.
"Tolong... Tolong aku, Brengsek." ucapnya mengiba.
Seketika Devian membelalakkan mata melihat wajah cantik yang kini mendongak menatapnya.
Itu Louisa, wanita yang teramat sangat membencinya. Bahkan Devian yang hanya bernapas pun mampu membangkitkan amarah wanita itu.
"Hih! Wanita gila, jika meminta tolong harusnya tidak perlu mengeluarkan umpatanmu padaku." Kesal Devian dan tersentak saat bibir Louisa kini menempel dan melumat bibirnya.
Dengan segera Devian menjauhkan wajahnya. Melepaskan tautan bibir mereka dengan tatapan ngeri pada sepupunya itu.
"Wanita gila!" Teriak Devian kesal, berusaha menjauh dari Louisa yang berusaha mendekat.
"To-tolong. Ini sangat menyiksa," lirih Louisa diselingi dengan desahan kecil yang membuat bulu kuduk Devian meremang.
'Kenapa gadis ini?' batin Devian bertanya-tanya. Menatap prihatin ekspresi Louisa yang terlihat begitu tersiksa sambil meraba tubuhnya sendiri.
"Tuan!" Suara teriakan terdengar, membuat Devian menolehkan kepalanya ke sumber suara. Menatap sosok yang sejak tadi ia cari kini mendekatinya dengan terburu-buru.
"Maaf membuat Anda menunggu."
Devian mengabaikan hal itu. Ia hanya fokus menatap Sepupunya yang begitu tersiksa.
"Nanti kita bicarakan." Dengan segera Devian meraih tubuh Louisa, menggendongnya ala bridal style keluar dari kelab.
Langkah Devian semakin lebar kala keluar dari kelab tersebut. Ia mendekat pada mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam miliknya, segera membuka pintu kursi samping kemudi lalu mendudukkan wanita dalam gendongannya.
Devian memasuki kursi kemudi dengan terburu-buru. Menyalakan mesin mobilnya meninggalkan tempat hiburan itu.
"Shit! Hati nuraniku," gumam Devian mencengkeram kuat setir mobil.
Padahal dia sangat tidak suka pada gadis di sampingnya, tetapi hati nuraninya benar-benar tidak tega meninggalkan Louisa di dalam kelab dengan kondisi yang begitu aneh.
Menyesal pun rasanya sudah terlambat.
'Tak apa, hitung-hitung kebaikan.' batin Devian mengingatkan.
Ia akan menganggapnya seperti itu, agar tak terbebani dengan kehadiran sosok di sampingnya.
Tujuan Devian sekarang adalah mengantar Louisa kembali ke kediaman Uncle Louis, Ipar Ibunya. Hanya itu, setelahnya dia akan kembali ke kelab dan membahas hal penting yang sempat tertunda dengan Kedrick
Namun, seperti niat hanya tinggal niat saja.
Ckittt!
Devian segera menginjak pedal rem dengan cepat kala sosok yang membencinya itu kini duduk di pangkuannya. Menatapnya dengan kabut gairah, seolah Devian adalah santapan lezat yang akan dieksekusi detik ini juga.
Deg! deg! deg!
Jantung Devian berdetak tak karuan dengan bulir keringat dingin telah membasahi keningnya tanpa henti.
"Ma-mau apa kau?" Tanya Devian, suaranya seakan tercekat di tenggorokan melihat penampilan Louisa di pangkuannya. Terlihat begitu seksi dan... hot.
Damt it!
Benda kenyal dan basah kini telah bertengger sempurna di bibir Devian, membuat mata pria itu semakin terbelalak seolah akan keluar dari tempatnya.
Devian mencoba membebaskan diri. Tapi entah kekuatan dari mana, wanita di pangkuannya itu tak bergerak seinci pun dari tempatnya. Begitu kuat mengait leher Devian, mendorong kepala pria itu agar menikmati hal yang tengah mereka lakukan.
Deretan nama hewan di kebun binatang sudah Devian keluarkan dalam hati. Menyumpah tanpa henti, hingga akhirnya pasrah.
Adik kecilnya sudah memberontak di bawah sana, membuat Devian mendesis lalu membuka pintu mobil dengan menggendong tubuh Louisa ala koala.
Untungnya mobilnya berhenti tepat di depan hotel bintang lima, seolah tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
Devian memesan kamar dengan terburu-buru, membiarkan Louisa menikmati lehernya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana tanpa peduli dengan pandangan resepsionis atau beberapa orang di lobi hotel itu.
'Bodohlah. Konsekuensi urusan belakangan,' batin Devian berjalan ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai letak kamar yang ia pesan.
Helaan napas keluar dari bibir Demian mendengar cerita Adiknya. Tatapan dingin yang ia perlihatkan tadi, kini telah lenyap terganti dengan tatapan sulit diartikan.
"Lalu saat pagi hari pintu hotel terbuka, menampakkan Uncle Louis dengan wajah merah padam seakan ingin mengiris tubuhku tipis-tipis." Lanjut Devian masih menundukkan kepalanya menatap lantai.
Ia kembali bergidik kala mengingat tatapan Louis padanya pagi tadi di hotel. Tatapan mengerikan yang hanya pernah ia lihat di wajah Ayahnya saat marah.
"Dan akhirnya kau berujung di mansion-nya."
Devian mengangguk membenarkan tebakan Saudara kembarnya. Bahkan pria setengah baya itu tak mau menunggu lama, hingga membuat Devian memakai pakaiannya terburu-buru dengan jantung berdetak tak karuan.
Untungnya dia tak berakhir menjadi daging cincang.
Devian mengusap kasar wajahnya. Entah apa yang akan dia dengar besok pagi.
"Persiapkan dirimu." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Demian sebelum meninggalkan Adiknya di kamar sendirian.
Sesaat Devian menatap nanar daun pintu kamar tamu tempatnya berada. Kemudian menyandarkan punggung pada sofa dengan kepala mendongak menatap langit-langit kamar.
Bayangan kehidupan yang penuh dengan KDRT mulai terngiang dalam benak Devian, membuat helaan napas pasrah kembali keluar dari bibirnya.
Jika benar dirinya menikah dengan Louisa, maka kemungkinan KDRT pada dirinya akan terjadi.
'Apa suami bisa menggugat cerai jika mendapatkan KDRT dari istri?' Batin Devian bertanya hingga berakhir mengusap kasar wajahnya.
'Hidupku....' lirih Devian dalam hati meringkuk di sofa.
Sementara di kamar lain. Seorang wanita duduk merenung di kursi pada balkon kamarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, tetapi matanya enggan untuk terpejam.
Louisa menghela napas pelan, memandang langit di mana bulan bersinar begitu terang tanpa ada awan yang menutupi.
Ia yakin keputusan tercepat akan diambil oleh dua keluarga. Dan pastinya itu berujung dirinya terikat dengan sosok yang sangat ia benci.
Louisa tak pernah benar-benar membenci Devian seperti apa yang orang lain lihat. Dia hanya kesal saja, kesal dengan tingkah bar-bar pria itu yang begitu cerewet mengalahkan dirinya.
Setiap kali bertemu Devian, emosinya pasti tersulut tanpa bisa Louisa hentikan. Pria itu adalah pemicu amarahnya.
Namun, bayangan kemarin malam membuat sisi hatinya diam tak bisa berkata-kata.
Walau dalam pengaruh obat perangsang, Louisa masih memiliki sedikit kesadarannya. Bahkan rasa sakit saat ia kehilangan keperawanannya pun masih dapat ia rasakan.
"Aku akan pelan-pelan."
Ucapan lirih penuh kasih sayang itu kembali terngiang tanpa permisi di benak Louisa, membuat wajahnya merona merah karena malu.
Awalnya lembut, tapi lama kelamaan berubah kasar. Namun, hal itu tak membuat rasa nikmat yang ia rasakan hilang.
"Damt it!" Louisa menekuk kedua kakinya. Menutup wajahnya yang merona hingga ke telinga.
"Jika benar berakhir menikah dengannya, aku akan bersamanya seumur hidup." Lirih Louisa sedikit mendongak dan menatap lurus ke depan.
"Apa bisa?" Keraguan mulai mengisi hatinya.
***
Pagi menjelang, tepat pukul setengah delapan pagi beberapa orang kini telah terlihat duduk di kursi di ruang makan. Bersiap untuk sarapan pagi bersama.
Tapi, suasana yang mencekam tak bisa menutupi kegugupan seorang pria yang kini menunduk dengan tubuh gemetar.
Devian takut mendongak, menatap wajah Ayah dan Ibunya.
Para pelayan mulai meletakkan sarapan di meja makan dengan begitu hati-hati, agar tak membuat kesalahan.
"Baiklah, kita akan langsung membahas ke inti pembicaraan yang membuat Dua keluarga berkumpul di sini hari ini." Ucap Louis membuka suara setelah para pelayan menjauh dari meja makan.
Devian tetap diam. Ia pasrah pada keputusan yang telah dirundingkan oleh Orang tuanya dan orang tua Louisa.
"Devian dan Louisa akan menikah." Ucap Louis mutlak.
Sudah Devian duga. Perlahan pria itu mengulurkan tangannya meraih roti dan selai kacang di atas meja, memilih makan meski tahu akan sulit untuk ia cerna.
"Pernikahan akan dilangsungkan dua hari lagi."
Devian melahap gigitan pertamanya dalam diam. Sudah ia duga hal itu. Lebih cepat lebih baik, mungkin hal itulah yang Louis pikirkan.
Logan dan Zara hanya diam. Menikmati sarapan dengan sesekali melirik Putra kedua mereka.
Pasangan setengah baya itu yakin jika saat ini Putranya itu tertekan. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya.
"Daddy."
Suara itu terdengar, hingga membuat dua pasangan paruh baya itu menoleh dan menatap Louisa yang berniat membuka suara.
Devian ikut melirik ke arah Louisa, menanti wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin pernikahan digelar secara sederhana saja, tanpa mengundang banyak orang. Hanya orang penting dan juga keluarga di Indonesia," lirih Louisa menatap takut ke arah Ayahnya.
Seketika kunyahan Devian terhenti, mengalihkan pandangan ke arah Louis yang hanya diam dengan tatapan sulit diartikan.
"Aku hanya ingin pernikahan sederhana untuk saat ini." Sendu Louisa menundukkan kepala menatap lantai.
Zara memandang sedih keponakannya yang memang duduk di sampingnya. Ia mengulurkan tangan mengusap punggung wanita muda itu, lalu menatap putra keduanya yang diam dengan bibir sedikit terbuka.
Sepertinya, Putra keduanya juga terkejut mendengar pengakuan itu.
Louis menghela napas pelan, "baiklah. Hanya akan ada orang penting yang hadir dan juga keluarga di Indonesia. Hal ini tidak akan diketahui oleh publik," ucapnya pasrah.
Louisa tersenyum tipis memandang wajah lelah Ayahnya, "terima kasih, Daddy."
"Aku ingin menggunakan kebaya saat mengucapkan sumpah."
"Baiklah." Ucap Louis menyetujui. Tak ada alasan baginya melarang hal itu.
"Sekali lagi terima kasih, Daddy." Ucap Louisa tersenyum tulus.
Sarapan kembali berlanjut dalam keadaan hening. Sedang Devian berusaha untuk mencerna semua hal yang baru saja terjadi.
Ya, bisa dibilang ada sedikit rasa senang di hatinya karena pernikahan digelar sederhana tanpa harus menyalami ratusan orang.
Jika mengingat rekan bisnis orang tuanya dan Uncle-nya itu, sepertinya tamu yang datang akan ribuan jika pernikahan digelar mewah.
Membayangkannya, membuat Devian bergidik.
Devian mengedikkan bahu pasrah, menatap lurus ke depan hingga tanpa sengaja bertatapan dengan Ayahnya.
Glek!
Devian menelan kasar ludahnya mendapati tatapan itu. Tatapan yang sulit diartikan, antara kecewa, marah dan tak percaya.
'Aku hampir lupa, jika masih ada Ayah selain Demian.' batin Devian mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak ingin bertatapan lama dengan Ayahnya.
Tepat tengah hari, Devian melangkahkan kakinya memasuki kamar kedua orang tuanya. Setelah melihat keberadaan Sang Ibu di ruang tamu, Devian yakin jika hanya Ayahnya di dalam kamar.
Tok! Tok! Tok!
Devian mengetuk pintu tiga kali, "ini Devian." Ucapnya sedikit lesu.
"Masuklah."
Perlahan Devian mendorong daun pintu hingga terbuka lebar, menampakkan punggung Sang Ayah yang berdiri membelakanginya memandang keluar jendela.
"Dad." Panggil Devian lirih yang masih didengar oleh pria setengah baya itu.
Perlahan Logan membalikkan tubuhnya. Menatap Putranya dengan tatapan yang serupa seperti di meja makan tadi, membuat Devian menunduk takut.
"Kok bisa?"