Bab 1

"Segera hubungi Logan dan Zara, Devian. Minta mereka untuk datang ke Negara ini!" Teriak Louis menggema di ruang tamu dalam kediamannya.

Pria setengah baya itu menatap nyalang pria yang kini duduk di samping Putrinya. Sosok yang tak lain adalah Putra Iparnya.

Glek!

Devian menelan kasar ludahnya mendengar hal tersebut. Masih menundukkan kepalanya tanpa berani mendongak untuk sekedar menatap lawan bicaranya itu.

Bahkan Devian tak lagi mempedulikan penampilannya yang berantakan.

Bagaimana tidak, dia harus mengenakan pakaiannya dengan buru-buru di kamar hotel tadi. Karena kedapatan tidur tanpa busana setelah melakukan kegiatan panas.

Entah ini sial, atau memang karma. Tetapi kenapa?! Kenapa harus dengan sosok yang membenci dirinya?!

Perlahan Devian melirik sosok yang duduk di sampingnya. Wanita yang kini hanya terlihat diam dengan ekspresi sulit diartikan. Antara sedih dan marah. Ya, kira-kira seperti itu.

Tatapan Devian terhenti pada bercak merah keunguan di leher jenjang wanita itu, membuat ia tanpa sadar menelan kasar ludahnya.

Sekarang kenangan itu kembali terngiang di benak Devian. Betapa panasnya malam yang mereka lalui semalam, mendadak wajah Devian merona malu.

Keperjakaannya yang ia jaga... Ah, ralat. Keperjakaannya telah hilang oleh tangannya sendiri, tapi yang semalam itu pertama kali dia mencoba dengan milik wanita. Sialnya Devian ketagihan, hingga melakukannya beberapa kali tanpa henti.

Lebih sialnya lagi, dia ketahuan hingga berakhir di kediaman orang tua wanita itu yang tidak lain ialah Ipar Ibunya.

"Accidenti!" Devian mengumpat lirih. Ia menghela napas gusar, berniat mengedarkan pandangan agar tak pusing.

Namun, tatapannya justru tanpa sengaja terhenti pada wanita setengah baya yang duduk di sofa seberang meja.

'Aunty...' batin Devian menatap memohon.

"Devian!! Segera hubungi kedua orang tuamu!" Sentak Louis menyadarkan pemuda itu dari lamunan.

"I-iya, Uncle." Lirih Devian pasrah, merogoh saku celana kainnya untuk segera menghubungi Ayah dan Ibunya.

Mendadak tangan Devian gemetar. Ia bukan takut pada Ayah dan Ibunya, tetapi pada saudara kembarnya. Sosok yang lebih tua beberapa menit darinya, mungkin ia akan habis di tangan saudaranya itu.

"Daddy, tidak bisakah hal ini dibiarkan saja?"

Seketika pandangan tiga orang itu tertuju ke sumber suara.

Kedua mata Devian mengerjap memandang wajah wanita yang telah ia renggut keperawanannya. Wanita cantik yang sejak tadi diam saat tiba di kediaman itu, kini terlihat menatap datar Ayahnya.

Louis menatap penuh arti pada Putrinya, "dibiarkan? Apa kamu tengah bercanda, Louisa?"

"Jangan bercanda dengan Daddy, Louisa?!" Sentak Louis yang tak suka dengan ungkapan Putrinya. Mengapa Putri semata wayangnya begitu mudah mengatakan hal seperti itu?!

"Devian mungkin tak rugi apapun, tapi kamu..." Louis menggantung ucapannya, berdecak sambil menggeleng. Benar-benar tak habis pikir.

Louisa tak membantah. Memang Devian sama sekali tak rugi, tapi dirinya yang seorang wanita jelas mengalami kerugian. Hal yang selama ini ia jaga, hilang dalam semalam.

Semua ini karena jebakan rekan bisnisnya. Louisa tak memikirkan kemungkinan terburuk saat melangkahkan kaki memasuki kelab guna melakukan pertemuan dan penandatanganan kontrak. Dia yang biasanya waspada pada orang lain, benar-benar jatuh dalam jebakan semalam.

Minuman yang mengandung obat perangsang meluncur dengan sempurna di tenggorokannya, hingga membuat ia hampir berakhir di ranjang hotel dengan pria tua.

Entah nasib baik atau buruk, dia bertemu dengan Devian. Sepupunya yang paling ia benci, tetapi mampu mengakhiri penyiksaan obat perangsang yang menggerogoti tubuhnya.

Mengingat hal semalam membuat Louisa sedikit malu.

"Aku tak apa, Dad. Lagi pula hal ini sudah biasa terjadi di Negara kita 'kan? Bahkan banyak gadis yang lebih muda dariku sudah melakukannya dengan kekasih mereka," ucap Louisa mengingat jika Negara mereka adalah Negara bebas. Tak ada larangan untuk hal seperti itu dilakukan walau tak memiliki hubungan.

Louis semakin menggeleng tak percaya mendengar hal itu meluncur begitu bebas dari bibir Putrinya. Ia yakin, pasti ada kekecewaan di hati Putrinya itu.

"Aku akan segera menghubungi Mommy dan Daddy, Uncle. Aku permisi keluar sebentar," ucap Devian beranjak dari duduknya meninggalkan ruang tamu.

Ayah, Ibu dan Anak itu menatap punggung Devian dalam diam yang perlahan menghilang dari pandangan.

Louis kembali menatap lekat putrinya yang kembali menunduk.

"Louisa..." Rara menatap lama putri tunggalnya. Wanita yang sudah berumur 44 tahun itu beranjak dari duduknya, berpindah di samping Louisa.

"Aku tidak ingin masalah ini panjang, Daddy. Aku dan Devian tak sengaja melakukannya, coba saja aku lebih berhati-hati. Hal seperti semalam pasti tidak akan terjadi, jadi aku mohon untuk tidak memintanya bertanggung jawab. Lagi pula..." Seketika ucapan Louisa terhenti kala melihat tatapan Ayahnya.

"Soal orang-orang yang terlibat semalam, Daddy yang akan mengurusnya. Tetapi untuk kalian berdua, tetap harus menikah. Bahkan jika bukan Devian, Daddy akan tetap memintanya untuk bertanggung jawab. Dia mengambil hal yang telah kamu jaga, Sayang. Dia harus bertanggung jawab akan hal itu." Ucap Louis mutlak, berlalu meninggalkan Putri dan Istrinya di ruang tamu.

Louisa menghela napas dalam mendengar hal itu. Sekali Ayahnya mengatakan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan meski dia membujuk sekalipun, Ayahnya tak akan mengubah keputusan yang telah dibuat.

Sedang Devian berdiri tegang di samping mobilnya dengan tangan memegang ponsel di telinga. Beberapa kali Devian menelan kasar ludahnya, tak sanggup rasanya mendengar suara orang tuanya untuk saat ini. Tetapi ia tak mungkin juga lari dari tanggung jawab.

Ayah dan Ibunya tak pernah mengajarkan hal itu.

Cukup lama berdering, suara berat nan tegas terdengar di seberang telepon membuat nyali Devian menciut.

"Ciao, Dev."

(Halo, Dev.)

"Che cos'è?"

(Ada apa?)

Devian kembali menelan kasar ludahnya mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayahnya di seberang telepon. Ia ragu, tapi akan lebih parah lagi jika tidak memberitahukan hal itu pada Ayahnya.

"Daddy..." Devian menelan kasar ludahnya dengan leher yang tiba-tiba tegang.

"Aku memerawani anak gadis orang."

Seketika hening menguasai di seberang telepon. Suara gesekan garpu dan sendok yang tadinya terdengar berubah senyap dalam sekejap.

Devian tahu, tak baik mengatakan hal yang mengejutkan saat Ayahnya tengah makan.

"Ha-ha-ha." Tiba-tiba suara tawa garing terdengar di seberang telepon.

"Kamu memang suka bercanda dengan Daddy di pagi hari begini, ya."

Devian mulai bingung ingin mengatakan apa.

"Tapi aku tidak tengah bercanda, Dad."

Seketika hening kembali menguasai di seberang telepon, Devian menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.

"Aku... Memerawani Louisa. Anak Uncle Louis." Lirih Devian.

Tuttt!

Devian memandang lama layar ponselnya yang kini hanya menampilkan wallpaper. Ayahnya memutuskan panggilan sepihak.

"Mati aku." Lirih Devian pasrah. Ia yakin, Ayahnya saat ini tengah berteriak histeris di meja makan.

Mansion keluarga Salvatore di Milan, Italia.

"DEMIAN KITA HARUS KE AMERIKA SEKARANG!! ADIKMU MEMERAWANI LOUISA!"

Bab 2

Tik! Tok! Tik! Tok!

Suara dentingan jarum jam di dalam sebuah ruangan terdengar menggema mengisi kesunyian. Semakin membuat suasana mencekam antara dua pria yang tengah duduk di sofa dalam diam sejak beberapa menit yang lalu.

"Jadi?" Pertanyaan singkat itu terlontar keluar dari bibir Demian. Menatap dingin Sang Adik yang duduk di sofa seberang.

Glek!

Devian menelan kasar ludahnya. Mencuri pandang menatap ekspresi Kakaknya yang tidak berubah. Namun, hal itu mampu membuat bulu kuduknya meremang.

"Dia menarikku." Lirih Devian, tak berani menatap saudara kembarnya kala mengucapkan kata itu keluar dari bibirnya.

Tak ada sahutan. Demian hanya diam masih dengan ekspresi datar di wajahnya, tetapi aura sekitarnya jelas mengungkapkan isi hatinya sekarang ini. Buruk.

"Dia dalam pengaruh obat perangsang." Devian menambahkan, suaranya terdengar bergetar.

Masih tak ada jawaban dari lawan bicaranya, membuat nyawa Devian seakan hilang setengah dari tubuhnya.

"Yang jelas. Jangan bertele-tele," ucap Demian datar.

"Kamu tidak tidur?" Tanya Devian mengalihkan pembicaraan.

Demian memutar bola mata malas. Menghela napas kasar, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Jelaskan, Dev. Kau tahu aku seperti apa jika tidak diberi penjelasan dengan baik." Tegas Demian, menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Meski sebenarnya Demian lelah setelah melakukan perjalanan panjang. Delapan jam di dalam jet bukanlah waktu yang singkat, bahkan mungkin kedua orang tua mereka tengah berbicara empat mata di ruang tamu kediaman Louis Alexander tanpa ingin menunggu esok hari.

Jadi Demian memutuskan untuk mengintrogasi Adiknya di dalam kamar. Ia juga sedikit malu menunjukkan wajah pada Wanita yang telah direnggut keperawanannya oleh Devian, Adiknya.

Devian menghela napas pasrah. Ya, sepertinya tak ada pilihan. Toh, lebih baik diintrogasi seperti ini daripada harus menerima hukuman yang lebih berat

"Aku berniat memasuki kelab untuk mencari Kedrick. Ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku, sesaat setelah masuk. Aku menatap sekeliling untuk mencari keberadaannya, tetapi wanita itu menabrak tubuhku." Devian menunduk mengingat kejadian kemarin malam, sebelum dirinya berakhir di kamar hotel.

***

Suasana kelab malam begitu ramai malam ini. Ya, tidak ada catatan tempat itu sepi ketika malam. Bahkan pagi pun mungkin akan ada orang yang menikmati waktu di tempat itu.

Devian menatap sekeliling. Mencoba mencari sosok Kedrick -tangan kanannya- di antara puluhan orang yang tengah menari dalam keadaan setengah sadar. Tak jarang mata Devian menangkap pemandangan yang cukup membuat ia jijik sendiri.

Meski bukan kali pertama dia memasuki kelab, tetap saja ia geli melihat pemandangan tak senonoh yang tengah dipertontonkan oleh sepasang insan di setiap sudut ruangan temaram itu.

Devian bukan tak normal, hingga tak terangsang melihat hal tak senonoh tersebut. Tapi ia tahu diri, tahu tempat juga. Namun, jika mengingat hingga saat ini dirinya tak pernah sekalipun berkencan dengan wanita.

Alasannya sederhana, jika memiliki kekasih maka besar kemungkinan waktunya terbagi untuk hal yang tidak penting. Devian tidak suka hal itu.

Devian menghela napas kasar saat tak juga melihat siluet atau batang hidung Kedrick. Padahal ia sudah lelah mencari sejak tadi, sudah terasa pengap berada di tengah-tengah orang yang meliukkan tubuh tanpa tahu malu.

Apalagi aroma alkohol yang perlahan menganggu indra penciumannya. Sungguh menyebalkan.

Bugh!

Seseorang tanpa sengaja menabrak tubuh Devian, membuat pria itu mundur beberapa langkah dari tempatnya.

Devian mengerutkan kening menatap sosok yang kini memeluk erat pinggangnya.

"Hey, lepaskan." Sentak Devian berusaha melepaskan pelukan wanita itu.

Tapi tak membuahkan hasil, justru pelukan di pinggangnya semakin erat.

"Tolong... Tolong aku, Brengsek." ucapnya mengiba.

Seketika Devian membelalakkan mata melihat wajah cantik yang kini mendongak menatapnya.

Itu Louisa, wanita yang teramat sangat membencinya. Bahkan Devian yang hanya bernapas pun mampu membangkitkan amarah wanita itu.

"Hih! Wanita gila, jika meminta tolong harusnya tidak perlu mengeluarkan umpatanmu padaku." Kesal Devian dan tersentak saat bibir Louisa kini menempel dan melumat bibirnya.

Dengan segera Devian menjauhkan wajahnya. Melepaskan tautan bibir mereka dengan tatapan ngeri pada sepupunya itu.

"Wanita gila!" Teriak Devian kesal, berusaha menjauh dari Louisa yang berusaha mendekat.

"To-tolong. Ini sangat menyiksa," lirih Louisa diselingi dengan desahan kecil yang membuat bulu kuduk Devian meremang.

'Kenapa gadis ini?' batin Devian bertanya-tanya. Menatap prihatin ekspresi Louisa yang terlihat begitu tersiksa sambil meraba tubuhnya sendiri.

"Tuan!" Suara teriakan terdengar, membuat Devian menolehkan kepalanya ke sumber suara. Menatap sosok yang sejak tadi ia cari kini mendekatinya dengan terburu-buru.

"Maaf membuat Anda menunggu."

Devian mengabaikan hal itu. Ia hanya fokus menatap Sepupunya yang begitu tersiksa.

"Nanti kita bicarakan." Dengan segera Devian meraih tubuh Louisa, menggendongnya ala bridal style keluar dari kelab.

Langkah Devian semakin lebar kala keluar dari kelab tersebut. Ia mendekat pada mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam miliknya, segera membuka pintu kursi samping kemudi lalu mendudukkan wanita dalam gendongannya.

Devian memasuki kursi kemudi dengan terburu-buru. Menyalakan mesin mobilnya meninggalkan tempat hiburan itu.

"Shit! Hati nuraniku," gumam Devian mencengkeram kuat setir mobil.

Padahal dia sangat tidak suka pada gadis di sampingnya, tetapi hati nuraninya benar-benar tidak tega meninggalkan Louisa di dalam kelab dengan kondisi yang begitu aneh.

Menyesal pun rasanya sudah terlambat.

'Tak apa, hitung-hitung kebaikan.' batin Devian mengingatkan.

Ia akan menganggapnya seperti itu, agar tak terbebani dengan kehadiran sosok di sampingnya.

Tujuan Devian sekarang adalah mengantar Louisa kembali ke kediaman Uncle Louis, Ipar Ibunya. Hanya itu, setelahnya dia akan kembali ke kelab dan membahas hal penting yang sempat tertunda dengan Kedrick

Namun, seperti niat hanya tinggal niat saja.

Ckittt!

Devian segera menginjak pedal rem dengan cepat kala sosok yang membencinya itu kini duduk di pangkuannya. Menatapnya dengan kabut gairah, seolah Devian adalah santapan lezat yang akan dieksekusi detik ini juga.

Deg! deg! deg!

Jantung Devian berdetak tak karuan dengan bulir keringat dingin telah membasahi keningnya tanpa henti.

"Ma-mau apa kau?" Tanya Devian, suaranya seakan tercekat di tenggorokan melihat penampilan Louisa di pangkuannya. Terlihat begitu seksi dan... hot.

Damt it!

Benda kenyal dan basah kini telah bertengger sempurna di bibir Devian, membuat mata pria itu semakin terbelalak seolah akan keluar dari tempatnya.

Devian mencoba membebaskan diri. Tapi entah kekuatan dari mana, wanita di pangkuannya itu tak bergerak seinci pun dari tempatnya. Begitu kuat mengait leher Devian, mendorong kepala pria itu agar menikmati hal yang tengah mereka lakukan.

Deretan nama hewan di kebun binatang sudah Devian keluarkan dalam hati. Menyumpah tanpa henti, hingga akhirnya pasrah.

Adik kecilnya sudah memberontak di bawah sana, membuat Devian mendesis lalu membuka pintu mobil dengan menggendong tubuh Louisa ala koala.

Untungnya mobilnya berhenti tepat di depan hotel bintang lima, seolah tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya.

Devian memesan kamar dengan terburu-buru, membiarkan Louisa menikmati lehernya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana tanpa peduli dengan pandangan resepsionis atau beberapa orang di lobi hotel itu.

'Bodohlah. Konsekuensi urusan belakangan,' batin Devian berjalan ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai letak kamar yang ia pesan.

Bab 3

Helaan napas keluar dari bibir Demian mendengar cerita Adiknya. Tatapan dingin yang ia perlihatkan tadi, kini telah lenyap terganti dengan tatapan sulit diartikan.

"Lalu saat pagi hari pintu hotel terbuka, menampakkan Uncle Louis dengan wajah merah padam seakan ingin mengiris tubuhku tipis-tipis." Lanjut Devian masih menundukkan kepalanya menatap lantai.

Ia kembali bergidik kala mengingat tatapan Louis padanya pagi tadi di hotel. Tatapan mengerikan yang hanya pernah ia lihat di wajah Ayahnya saat marah.

"Dan akhirnya kau berujung di mansion-nya."

Devian mengangguk membenarkan tebakan Saudara kembarnya. Bahkan pria setengah baya itu tak mau menunggu lama, hingga membuat Devian memakai pakaiannya terburu-buru dengan jantung berdetak tak karuan.

Untungnya dia tak berakhir menjadi daging cincang.

Devian mengusap kasar wajahnya. Entah apa yang akan dia dengar besok pagi.

"Persiapkan dirimu." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Demian sebelum meninggalkan Adiknya di kamar sendirian.

Sesaat Devian menatap nanar daun pintu kamar tamu tempatnya berada. Kemudian menyandarkan punggung pada sofa dengan kepala mendongak menatap langit-langit kamar.

Bayangan kehidupan yang penuh dengan KDRT mulai terngiang dalam benak Devian, membuat helaan napas pasrah kembali keluar dari bibirnya.

Jika benar dirinya menikah dengan Louisa, maka kemungkinan KDRT pada dirinya akan terjadi.

'Apa suami bisa menggugat cerai jika mendapatkan KDRT dari istri?' Batin Devian bertanya hingga berakhir mengusap kasar wajahnya.

'Hidupku....' lirih Devian dalam hati meringkuk di sofa.

Sementara di kamar lain. Seorang wanita duduk merenung di kursi pada balkon kamarnya.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, tetapi matanya enggan untuk terpejam.

Louisa menghela napas pelan, memandang langit di mana bulan bersinar begitu terang tanpa ada awan yang menutupi.

Ia yakin keputusan tercepat akan diambil oleh dua keluarga. Dan pastinya itu berujung dirinya terikat dengan sosok yang sangat ia benci.

Louisa tak pernah benar-benar membenci Devian seperti apa yang orang lain lihat. Dia hanya kesal saja, kesal dengan tingkah bar-bar pria itu yang begitu cerewet mengalahkan dirinya.

Setiap kali bertemu Devian, emosinya pasti tersulut tanpa bisa Louisa hentikan. Pria itu adalah pemicu amarahnya.

Namun, bayangan kemarin malam membuat sisi hatinya diam tak bisa berkata-kata.

Walau dalam pengaruh obat perangsang, Louisa masih memiliki sedikit kesadarannya. Bahkan rasa sakit saat ia kehilangan keperawanannya pun masih dapat ia rasakan.

"Aku akan pelan-pelan."

Ucapan lirih penuh kasih sayang itu kembali terngiang tanpa permisi di benak Louisa, membuat wajahnya merona merah karena malu.

Awalnya lembut, tapi lama kelamaan berubah kasar. Namun, hal itu tak membuat rasa nikmat yang ia rasakan hilang.

"Damt it!" Louisa menekuk kedua kakinya. Menutup wajahnya yang merona hingga ke telinga.

"Jika benar berakhir menikah dengannya, aku akan bersamanya seumur hidup." Lirih Louisa sedikit mendongak dan menatap lurus ke depan.

"Apa bisa?" Keraguan mulai mengisi hatinya.

***

Pagi menjelang, tepat pukul setengah delapan pagi beberapa orang kini telah terlihat duduk di kursi di ruang makan. Bersiap untuk sarapan pagi bersama.

Tapi, suasana yang mencekam tak bisa menutupi kegugupan seorang pria yang kini menunduk dengan tubuh gemetar.

Devian takut mendongak, menatap wajah Ayah dan Ibunya.

Para pelayan mulai meletakkan sarapan di meja makan dengan begitu hati-hati, agar tak membuat kesalahan.

"Baiklah, kita akan langsung membahas ke inti pembicaraan yang membuat Dua keluarga berkumpul di sini hari ini." Ucap Louis membuka suara setelah para pelayan menjauh dari meja makan.

Devian tetap diam. Ia pasrah pada keputusan yang telah dirundingkan oleh Orang tuanya dan orang tua Louisa.

"Devian dan Louisa akan menikah." Ucap Louis mutlak.

Sudah Devian duga. Perlahan pria itu mengulurkan tangannya meraih roti dan selai kacang di atas meja, memilih makan meski tahu akan sulit untuk ia cerna.

"Pernikahan akan dilangsungkan dua hari lagi."

Devian melahap gigitan pertamanya dalam diam. Sudah ia duga hal itu. Lebih cepat lebih baik, mungkin hal itulah yang Louis pikirkan.

Logan dan Zara hanya diam. Menikmati sarapan dengan sesekali melirik Putra kedua mereka.

Pasangan setengah baya itu yakin jika saat ini Putranya itu tertekan. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya.

"Daddy."

Suara itu terdengar, hingga membuat dua pasangan paruh baya itu menoleh dan menatap Louisa yang berniat membuka suara.

Devian ikut melirik ke arah Louisa, menanti wanita itu melanjutkan ucapannya.

"Aku ingin pernikahan digelar secara sederhana saja, tanpa mengundang banyak orang. Hanya orang penting dan juga keluarga di Indonesia," lirih Louisa menatap takut ke arah Ayahnya.

Seketika kunyahan Devian terhenti, mengalihkan pandangan ke arah Louis yang hanya diam dengan tatapan sulit diartikan.

"Aku hanya ingin pernikahan sederhana untuk saat ini." Sendu Louisa menundukkan kepala menatap lantai.

Zara memandang sedih keponakannya yang memang duduk di sampingnya. Ia mengulurkan tangan mengusap punggung wanita muda itu, lalu menatap putra keduanya yang diam dengan bibir sedikit terbuka.

Sepertinya, Putra keduanya juga terkejut mendengar pengakuan itu.

Louis menghela napas pelan, "baiklah. Hanya akan ada orang penting yang hadir dan juga keluarga di Indonesia. Hal ini tidak akan diketahui oleh publik," ucapnya pasrah.

Louisa tersenyum tipis memandang wajah lelah Ayahnya, "terima kasih, Daddy."

"Aku ingin menggunakan kebaya saat mengucapkan sumpah."

"Baiklah." Ucap Louis menyetujui. Tak ada alasan baginya melarang hal itu.

"Sekali lagi terima kasih, Daddy." Ucap Louisa tersenyum tulus.

Sarapan kembali berlanjut dalam keadaan hening. Sedang Devian berusaha untuk mencerna semua hal yang baru saja terjadi.

Ya, bisa dibilang ada sedikit rasa senang di hatinya karena pernikahan digelar sederhana tanpa harus menyalami ratusan orang.

Jika mengingat rekan bisnis orang tuanya dan Uncle-nya itu, sepertinya tamu yang datang akan ribuan jika pernikahan digelar mewah.

Membayangkannya, membuat Devian bergidik.

Devian mengedikkan bahu pasrah, menatap lurus ke depan hingga tanpa sengaja bertatapan dengan Ayahnya.

Glek!

Devian menelan kasar ludahnya mendapati tatapan itu. Tatapan yang sulit diartikan, antara kecewa, marah dan tak percaya.

'Aku hampir lupa, jika masih ada Ayah selain Demian.' batin Devian mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak ingin bertatapan lama dengan Ayahnya.

Tepat tengah hari, Devian melangkahkan kakinya memasuki kamar kedua orang tuanya. Setelah melihat keberadaan Sang Ibu di ruang tamu, Devian yakin jika hanya Ayahnya di dalam kamar.

Tok! Tok! Tok!

Devian mengetuk pintu tiga kali, "ini Devian." Ucapnya sedikit lesu.

"Masuklah."

Perlahan Devian mendorong daun pintu hingga terbuka lebar, menampakkan punggung Sang Ayah yang berdiri membelakanginya memandang keluar jendela.

"Dad."  Panggil Devian lirih yang masih didengar oleh pria setengah baya itu.

Perlahan Logan membalikkan tubuhnya. Menatap Putranya dengan tatapan yang serupa seperti di meja makan tadi, membuat Devian menunduk takut.

"Kok bisa?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED