Restoran itu berada di lantai tertinggi sebuah hotel mewah, dengan jendela besar yang memperlihatkan panorama kota yang gemerlap di bawah cahaya malam. Meja panjang berlapis kain putih dihiasi lilin kecil dan bunga mawar merah yang tertata rapi di tengahnya. Aruna duduk dengan senyum tegang di kursinya, mengenakan gaun sederhana namun elegan yang dipilih dengan hati-hati.
Di hadapannya, keluarga Adrian, termasuk orang tuanya yang selalu terlihat angkuh, sedang menikmati makanan pembuka. Adrian duduk di sampingnya, sesekali tersenyum canggung setiap kali mata mereka bertemu. Aruna merasa ada sesuatu yang aneh malam itu, tapi ia menepis perasaan itu.
"Jadi, Aruna," suara Ibu Adrian memecah keheningan, dengan nada yang terdengar terlalu sopan hingga terasa menusuk. "Bagaimana persiapan pernikahan? Apakah kamu sudah memutuskan tema dekorasinya?"
Aruna tersenyum kecil. "Saya sudah berdiskusi dengan Adrian, Tante. Kami ingin tema yang sederhana tapi elegan, mungkin dengan dominasi warna putih dan emas."
"Oh, begitu," gumam Ibu Adrian sambil melirik ke arah suaminya. "Adrian, kamu setuju dengan tema itu?"
Adrian hanya mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa. Aruna merasa sedikit janggal, tetapi ia mencoba berpikir positif.
Setelah hidangan utama tiba, keheningan mulai terasa semakin berat. Suara dentingan sendok dan garpu seolah menjadi latar belakang dari kegelisahan yang tak terucapkan.
"Aruna," suara Ibu Adrian terdengar lagi, kali ini lebih tegas. "Kami perlu membicarakan sesuatu yang penting denganmu."
Aruna menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong daging di piringnya. "Apa itu, Tante?" tanyanya dengan sopan, meskipun hatinya mulai berdegup lebih kencang.
Wanita itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kami telah mempertimbangkan ini dengan sangat hati-hati. Setelah diskusi panjang, kami merasa pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan."
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Aruna terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menatap Adrian, berharap pria itu akan menyangkal atau setidaknya memberikan penjelasan. Namun, Adrian hanya menunduk, tidak berani menatap matanya.
"Apa maksud Tante?" Aruna akhirnya bersuara, suaranya bergetar. "Pernikahan ini sudah direncanakan. Undangan hampir dicetak. Mengapa Tante baru mengatakan ini sekarang?"
Ayah Adrian, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kami hanya ingin yang terbaik untuk keluarga ini, Aruna. Dan setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami merasa kamu bukan pasangan yang tepat untuk Adrian."
Aruna tertegun. "Tepat? Apa maksud Om? Apa saya tidak cukup baik?"
Ibu Adrian melipat tangannya di atas meja, suaranya tetap dingin. "Ini bukan tentang kamu secara pribadi, Aruna. Ini tentang masa depan keluarga kami. Kami membutuhkan seseorang yang bisa memberikan kontribusi lebih besar. Kami telah memilih putri salah satu rekan bisnis kami sebagai pasangan yang lebih sesuai untuk Adrian."
"Rekan bisnis?" Aruna mengulang kata-kata itu dengan nada tidak percaya. "Jadi, ini hanya tentang keuntungan?"
"Kami tidak bermaksud menyakitimu," Ibu Adrian berkata, meskipun nadanya sama sekali tidak terdengar tulus. "Tapi kami harus memikirkan kepentingan keluarga kami."
Aruna merasa dunia di sekitarnya runtuh. Seluruh tubuhnya gemetar, bukan hanya karena amarah, tetapi juga karena penghinaan yang baru saja ia terima. Ia menatap Adrian dengan air mata yang menggenang di matanya. "Adrian, katakan sesuatu! Apakah kamu setuju dengan semua ini?"
Adrian akhirnya mengangkat wajahnya, tetapi ekspresinya penuh rasa bersalah. "Maafkan aku, Aruna. Aku tidak punya pilihan. Ibuku sudah memutuskan, dan aku tidak bisa menentangnya."
Aruna tertawa kecil, tawa yang penuh kepahitan. "Jadi, kamu hanya boneka yang tidak bisa melawan ibumu? Apakah kamu pernah benar-benar mencintaiku, Adrian, atau aku hanya bagian dari rencana mereka sejak awal?"
Adrian mencoba meraih tangannya, tetapi Aruna segera menariknya. "Maaf, Aruna," katanya pelan, hampir berbisik.
"Maaf?" Aruna berdiri, suaranya mulai meninggi. "Kalian menghancurkan harga diriku, mempermalukanku di depan umum, dan sekarang kalian hanya mengatakan maaf? Ini yang kalian sebut keluarga terhormat?"
Orang-orang di meja lain mulai melirik ke arah mereka, tetapi Aruna tidak peduli. Ia menatap keluarga itu satu per satu dengan penuh kebencian.
"Aku tidak butuh belas kasihan kalian," katanya sambil mengambil tasnya. "Dan kalian tidak akan pernah mendapatkan pengampunan dariku."
Dengan langkah cepat, Aruna meninggalkan meja itu, meninggalkan Adrian dan keluarganya dalam keheningan yang tegang. Di luar restoran, udara malam yang dingin menyapu wajahnya, tetapi hatinya masih terasa terbakar.
Ia berhenti di tepi jalan, mencoba menahan air matanya. Tapi tangisnya akhirnya pecah, memenuhi malam yang sepi.
Langit malam di kota itu tampak mendung, seolah mencerminkan perasaan Aruna yang masih kusut. Setelah kejadian di restoran malam itu, ia mengurung diri di apartemennya selama beberapa hari. Pesan-pesan dari Adrian yang penuh permintaan maaf ia abaikan. Kata-katanya terasa kosong dan tidak lagi berarti.
Aruna hanya menatap keluar jendela apartemennya yang kecil, melihat kendaraan berlalu lalang di jalanan. Pikirannya berputar-putar, mencoba mencari cara untuk membebaskan dirinya dari rasa malu dan penghinaan yang ia terima.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul di layar membuatnya tertegun. Reza, cinta pertamanya, yang terakhir kali ia temui lima tahun lalu. Aruna ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab telepon itu.
"Aruna," suara Reza terdengar berat namun hangat di ujung telepon. "Aku dengar apa yang terjadi. Kamu baik-baik saja?"
"Bagaimana kamu tahu?" Aruna bertanya, meskipun nada suaranya lelah dan datar.
"Berita seperti itu cepat menyebar, apalagi di lingkaran bisnis. Aku menyesal mengetahuinya dari orang lain, bukan darimu."
Aruna menghela napas panjang. "Kalau kamu menelepon hanya untuk merasa kasihan padaku, Reza, aku tidak membutuhkannya."
"Bukan itu," jawab Reza tegas. "Aku ingin bertemu denganmu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Apa itu tidak bisa dibicarakan di telepon?" Aruna bertanya, sedikit skeptis.
"Tidak. Ini terlalu penting."
Dua jam kemudian, Aruna mendapati dirinya duduk di dalam sebuah restoran bintang lima yang terasa jauh lebih megah dibandingkan restoran tempat ia dihina beberapa malam sebelumnya. Reza duduk di hadapannya, mengenakan setelan jas hitam yang sempurna melekat di tubuhnya. Ia tampak lebih dewasa, lebih berwibawa, namun tatapan matanya masih sama-hangat dan penuh perhatian.
"Terima kasih sudah datang," kata Reza, tersenyum kecil.
Aruna mengangkat bahu. "Aku tidak tahu kenapa aku setuju, tapi aku di sini. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"
Reza memperhatikan wajah Aruna dengan saksama. "Aruna, aku tahu kamu sedang terluka. Tapi aku ingin memberikanmu kesempatan untuk bangkit. Aku ingin kita menikah."
Mata Aruna membelalak. Kata-kata itu tidak ia duga sama sekali. "Apa? Ini semacam lelucon?"
"Tidak," Reza menjawab dengan serius. "Aku tahu ini terdengar tiba-tiba, tapi dengarkan aku. Kita pernah mencintai satu sama lain dulu. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu sejak saat itu. Dan sekarang, aku ingin memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi."
Aruna memandangnya dengan penuh kecurigaan. "Ini tentang balas dendam, kan? Kamu tahu apa yang Adrian dan keluarganya lakukan padaku, dan kamu ingin memanfaatkan situasi ini untuk mempermalukan mereka."
Reza menggeleng. "Tidak, ini bukan tentang mereka. Ini tentang kita. Aku tidak peduli dengan Adrian atau keluarganya. Aku hanya peduli padamu."
Aruna tertawa kecil, penuh kepahitan. "Reza, kamu tidak mengerti. Hidupku hancur sekarang. Tidak ada yang akan melihatku sebagai apa pun selain wanita yang ditolak di depan umum."
"Itulah mengapa aku ada di sini," kata Reza sambil bersandar sedikit ke depan. "Aku ingin membantumu membuktikan pada dunia bahwa kamu lebih dari itu. Bersamaku, kamu bisa bangkit dan menunjukkan pada mereka bahwa kamu tidak bisa diremehkan."
Aruna terdiam. Kata-kata Reza menyentuh hatinya, tetapi ia tidak yakin apakah itu cukup untuk mengobati luka yang ia rasakan.
"Kenapa sekarang?" tanyanya akhirnya. "Kenapa tidak lima tahun lalu, ketika aku membutuhkanmu?"
Reza terdiam sejenak, menatap meja sebelum akhirnya kembali menatap Aruna. "Karena aku pengecut. Aku tidak cukup berani untuk memperjuangkanmu waktu itu. Tapi aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi."
Air mata mulai menggenang di mata Aruna, tetapi ia menahannya. "Reza, aku butuh waktu untuk memikirkan ini."
"Aku akan menunggu," kata Reza dengan senyum kecil. "Berapa lama pun yang kamu butuhkan."
Malam itu, Aruna pulang dengan perasaan campur aduk. Tawaran Reza terus terngiang di kepalanya. Ia tahu ini adalah kesempatan untuk membuktikan pada Adrian dan keluarganya bahwa ia tidak selemah yang mereka pikirkan. Tapi di sisi lain, ia takut mengambil keputusan yang didasari oleh kemarahan dan rasa sakit.
Namun, saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, Aruna berbisik pada dirinya sendiri, "Kamu tidak boleh membiarkan mereka menang. Kamu harus bangkit."
Di dalam hatinya, perlahan mulai tumbuh tekad baru. Jika ia harus menikahi Reza untuk membuktikan sesuatu pada dunia, maka ia akan melakukannya-bukan karena dendam, tetapi karena ia pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik.
Kabar tentang pernikahan mendadak antara Aruna dan Reza menyebar cepat di kalangan orang-orang terdekat mereka, menciptakan gelombang kejutan dan spekulasi. Tidak sedikit yang menganggap bahwa pernikahan ini hanyalah upaya Aruna untuk membalas dendam atas penghinaan yang diterimanya dari keluarga Adrian. Namun, Aruna tidak peduli. Keputusan ini adalah jalannya untuk kembali berdiri tegak, bukan hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Di sebuah ruang tamu rumah Reza yang mewah, Aruna duduk bersama Reza, menghadapi wedding planner yang tampak sibuk mencatat segala permintaan mereka.
"Tema apa yang ingin kalian pilih, Pak Reza, Bu Aruna?" tanya wanita itu sambil menatap mereka bergantian.
Aruna melirik Reza, berharap pria itu yang akan menjawab. Namun, Reza hanya tersenyum dan memberikan keputusan sepenuhnya padanya.
"Putih dan emas," kata Aruna akhirnya. Suaranya tegas, meskipun hatinya masih sedikit ragu.
Wedding planner itu mengangguk. "Baik. Kami akan menyiapkan semuanya. Mengingat waktu yang sangat singkat, kami akan bekerja ekstra keras agar semuanya sempurna."
Aruna menghela napas dalam. Semuanya terasa seperti mimpi, terlalu cepat dan mendadak. Namun, setiap kali ia menatap Reza, ada rasa tenang yang perlahan menguatkan dirinya.
Hari pernikahan tiba lebih cepat dari yang Aruna bayangkan. Aula mewah yang dipenuhi dekorasi putih dan emas tampak memukau. Lilin-lilin kecil yang menghiasi meja memberikan suasana hangat, sementara bunga-bunga segar menambahkan sentuhan romantis pada ruangan itu.
Aruna berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disanggul dengan rapi, dihiasi mahkota kecil yang membuatnya tampak seperti ratu.
Namun, di balik penampilannya yang sempurna, Aruna merasa gelisah. Ia menatap bayangannya di cermin, bertanya-tanya apakah keputusan ini benar.
"Kamu cantik sekali," suara Reza tiba-tiba terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Aruna menoleh, menatap Reza yang sudah mengenakan setelan jas hitam yang elegan. Pria itu berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan mata yang penuh kekaguman.
"Terima kasih," jawab Aruna pelan.
Reza melangkah masuk, mendekatinya dengan hati-hati. "Kamu masih ragu?"
Aruna terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Ini semua terjadi begitu cepat. Aku takut aku membuat keputusan yang salah."
Reza meraih tangan Aruna, menggenggamnya erat. "Aku tahu ini tidak mudah untukmu, Aruna. Tapi aku berjanji, aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu bahagia."
Aruna menatap mata Reza, mencari kejujuran dalam kata-katanya. Dan ia menemukannya. Reza benar-benar tulus.
"Aku percaya padamu, Reza," kata Aruna akhirnya.
Upacara pernikahan berlangsung dengan lancar. Janji suci diucapkan di depan para tamu undangan, diiringi tepuk tangan meriah. Namun, di antara keramaian itu, Aruna menyadari kehadiran seseorang yang tidak ia duga-Adrian dan keluarganya.
Adrian berdiri di sudut ruangan, matanya tidak pernah lepas dari Aruna. Ia tampak terpukul, seolah menyesali keputusan yang telah dibuat keluarganya. Namun, Aruna tidak peduli. Ia tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalunya menghancurkan kebahagiaannya yang baru.
Setelah upacara selesai, Aruna dan Reza menyapa para tamu. Ketika mereka sampai pada giliran Adrian, suasana mendadak tegang.
"Selamat, Aruna," kata Adrian pelan, suaranya terdengar berat.
"Terima kasih," jawab Aruna singkat, berusaha menjaga sikapnya.
Adrian menatap Reza, yang berdiri dengan penuh percaya diri di samping Aruna. "Kamu pria yang beruntung, Reza."
Reza tersenyum tipis. "Aku tahu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Aruna merasakan genggaman tangan Reza semakin erat, seolah ingin menunjukkan bahwa ia akan selalu melindunginya.
Setelah Adrian dan keluarganya pergi, Aruna merasa lega. Ia menatap Reza dengan senyuman kecil.
"Terima kasih," bisiknya.
"Untuk apa?" tanya Reza.
"Untuk selalu ada di sisiku," jawab Aruna.
Reza mengangguk, lalu mengecup kening Aruna dengan lembut. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Malam itu, setelah pesta usai, Aruna dan Reza berada di kamar pengantin mereka. Aruna duduk di tepi tempat tidur, sementara Reza berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aruna akhirnya.
Reza menoleh, menatap Aruna dengan senyum kecil. "Aku hanya memikirkan betapa beruntungnya aku hari ini."
Aruna tertawa kecil. "Beruntung? Aku pikir aku adalah beban untukmu."
Reza berjalan mendekatinya, lalu duduk di sampingnya. "Kamu bukan beban, Aruna. Kamu adalah hadiah terbaik yang pernah aku terima."
Air mata mulai mengalir di pipi Aruna. Ia merasa tersentuh oleh kata-kata Reza. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dicintai dan dihargai.
"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, Reza," bisik Aruna.
Reza mengangguk, lalu memeluknya erat. "Dan aku akan selalu menjadi suami yang melindungimu."
Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi bintang, Aruna merasa bahwa hidupnya akhirnya mendapatkan awal yang baru. Namun, ia tahu perjalanan mereka masih panjang, dan masa lalu mereka akan kembali menghantui. Tapi bersama Reza, ia merasa yakin bahwa mereka bisa menghadapinya bersama.