Bab 1

Alayna Liora Setiawan duduk membatu di ruang kerja pengacara keluarganya, jari-jarinya mencengkeram lengan kursi kulit yang dingin. Hatinya berdebar tak menentu, sementara matanya menatap tajam ke arah amplop cokelat di atas meja. Isinya sudah tak asing lagi-wasiat terakhir ayahnya, pria yang selama ini memegang kendali atas hidupnya.

"Jadi, maksud Anda... saya harus menikah dengannya?" Suaranya terdengar serak, nyaris bergetar saat ia berusaha memahami kata-kata sang pengacara.

Leonard Pratama, pria berusia lima puluhan dengan rambut yang mulai memutih, menyesap kopi di depannya sebelum mengangguk. "Benar, Nona Alayna. Wasiat ini dengan jelas menyebutkan bahwa jika Anda menolak pernikahan ini, seluruh aset almarhum Ayah Anda akan jatuh ke tangan keluarga lain."

Alayna menggigit bibirnya. Ini gila. Tidak masuk akal. Pernikahan? Dengan Zariel Vian Karyan?

Sosok pria itu langsung muncul dalam benaknya-tatapan dinginnya, sikapnya yang selalu kaku, dan kehadirannya yang bagai bayangan gelap dalam hidupnya. Zariel bukan sekadar kakak angkatnya. Dia pria yang selama ini nyaris tidak berbicara dengannya kecuali perlu. Pria yang tak pernah menunjukkan ekspresi selain ketenangan yang mengintimidasi.

"Ayah pasti bercanda," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Namun, Leonard hanya menggeleng. "Ayah Anda sangat serius. Beliau sudah menandatangani surat ini sebelum meninggal. Jika Anda menolak, warisan akan jatuh ke tangan keluarga jauh dari pihak ibu Anda. Anda akan kehilangan semua harta, rumah ini, saham-saham, semuanya."

Alayna merasakan darahnya berdesir. Kehilangan semua itu? Tidak mungkin. Seumur hidupnya, ia terbiasa hidup dalam kemewahan. Ia tidak pernah harus memikirkan keuangan atau hidup tanpa fasilitas kelas atas. Semua kebutuhannya terpenuhi tanpa ia harus berusaha. Dan sekarang, hanya karena keputusan bodoh ini, ia bisa kehilangan semuanya?

Ia menggeleng kuat. "Tidak. Pasti ada cara lain."

"Tentu saja ada," Leonard menyandarkan punggungnya. "Anda bisa menyerah dan pergi tanpa sepeser pun."

Alayna menahan napas. Itu bukan opsi. Ia tahu seperti apa dunia di luar sana bagi seseorang yang tidak memiliki nama besar dan kekayaan untuk mendukungnya.

Tepat saat itu, suara langkah kaki terdengar di luar ruangan. Alayna menoleh, dan di sanalah dia-Zariel Vian Karyan, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi dingin dan tatapan gelap yang tak bisa ditebak.

"Jadi, kau sudah membuat keputusan?" suara bassnya terdengar tajam, menusuk ke dalam pikirannya.

Alayna mengepalkan tangannya. Ia tahu ia terjebak. Dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk lebih dalam ke dalam perangkap ini.

"Aku tidak punya pilihan," katanya pelan, menatap balik pria yang kini akan menjadi suaminya.

Zariel hanya menatapnya, tanpa emosi, tanpa belas kasihan.

Dan di sinilah semuanya dimulai.

Bab 2

Dua hari setelah keputusan gila itu dibuat, Alayna berdiri di depan cermin, mengenakan gaun putih berdesain sederhana namun tetap memancarkan kemewahan. Gaun itu bukan pilihannya. Semua ini bukan pilihannya. Tapi tetap saja, ia ada di sini, di hari pernikahannya dengan Zariel Vian Karyan-pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar tanggung jawab yang harus ia pikul.

"Napasku terasa sesak," gumamnya sambil meremas jemarinya.

"Tidak ada yang peduli dengan perasaanmu, Alayna," suara dingin itu terdengar dari ambang pintu.

Ia menoleh cepat, menemukan Zariel berdiri dengan jas hitamnya yang begitu rapi, menampilkan kesan sempurna dan tak tergoyahkan. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, seperti biasa. Seakan pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan bisnis yang tidak meninggalkan jejak sedikit pun dalam hidupnya.

Alayna menghela napas panjang. "Kau bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang akan menikah."

Zariel berjalan mendekat, tatapannya tajam menusuk ke matanya. "Itu karena aku tidak benar-benar menikah. Ini hanya kontrak."

Kata-kata itu menusuk seperti belati. Kontrak. Sejak awal, Alayna tahu ini bukan tentang cinta, bukan tentang keluarga, dan tentu saja bukan tentang kebahagiaan. Ini tentang kontrol. Tentang bagaimana ayahnya memastikan aset keluarga tetap berada dalam lingkaran orang yang bisa dipercayainya.

Dan orang itu adalah Zariel.

"Kita akan menikah di hadapan semua orang. Kita akan hidup bersama di bawah atap yang sama. Tapi jangan salah paham, Alayna," lanjutnya, suaranya tajam. "Aku tidak akan pernah menjadi suami yang kau impikan."

Alayna menahan tawanya yang pahit. Impian? Sejak kapan ia mengimpikan pernikahan seperti ini? Jika bukan karena wasiat ayahnya, ia tidak akan pernah mengizinkan dirinya terperangkap dalam ikatan seperti ini.

"Aku tidak pernah menginginkanmu sebagai suami," balasnya tajam.

Zariel menatapnya lama, seolah menelanjangi pikirannya. "Bagus. Setidaknya kita sepemikiran."

Lalu, tanpa kata-kata lagi, pria itu berbalik dan pergi, meninggalkan Alayna sendiri di dalam ruang rias, dengan kebencian yang mendidih dalam dadanya.

-

Upacara pernikahan berlangsung dengan megah. Wartawan, keluarga terpandang, serta para investor menghadiri acara ini, seolah ini adalah penyatuan dua kerajaan bisnis, bukan pernikahan dua insan yang saling membenci.

Alayna berdiri di samping Zariel di depan altar, mengabaikan pandangan tamu yang penuh rasa ingin tahu. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan yang sempurna-pria dengan kharisma yang mengintimidasi dan wanita dengan kecantikan elegan yang tampak lembut.

Tetapi di balik semua itu, tidak ada kehangatan.

Saat pendeta mengajukan pertanyaan sakral itu, suara berat Zariel terdengar tanpa ragu. "Saya bersedia."

Alayna menggigit bibirnya, hatinya menjerit ingin menolak, ingin lari. Namun, suara Leonard masih terngiang di kepalanya-"Jika kau menolak, kau kehilangan segalanya."

Dengan tangan gemetar, ia mengucapkan dua kata yang mengunci nasibnya.

"Saya bersedia."

Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Kilatan kamera menyilaukan. Senyum palsu terpajang di wajahnya saat Zariel menyentuh punggungnya dengan lembut-sebuah gestur yang terlihat intim di mata publik, tapi terasa dingin baginya.

Mereka kini suami istri.

Namun, di balik semua itu, mereka hanyalah dua orang asing yang terikat dalam pernikahan tanpa cinta.

Bab 3

Pernikahan itu baru saja dimulai, tetapi rasanya seperti sebuah hukuman. Alayna duduk di ruang makan besar rumah barunya, mata menatap kosong ke pemandangan kota yang terbentang di luar jendela. Di luar sana, kehidupan berlanjut dengan kebebasan, sementara ia terperangkap dalam permainan yang tidak ia pilih.

Tangan kanannya terlipat di meja, dan meskipun ada sejumput makanan yang tersaji di depannya, ia tidak merasa lapar. Semua itu terasa tidak lebih dari sekadar formalitas. Semua yang terjadi, sejak dari saat ia menandatangani surat itu di hadapan pengacara, hingga hari ini, terasa seperti sebuah film yang tidak bisa ia hentikan.

"Alayna," suara Zariel memecah kesunyian, menariknya kembali ke kenyataan.

Ia menoleh, menemukan pria itu berdiri di ambang pintu, mengenakan jas gelap yang semakin mempertegas aura serius yang selalu ia miliki. Zariel bukan pria yang mudah dibaca, dan itu yang membuatnya semakin membingungkan bagi Alayna. Meskipun mereka sudah menikah, ada jarak yang sangat besar antara mereka-sebuah jurang yang sulit untuk disebrangi.

"Kau tidak makan?" Zariel bertanya tanpa emosi, meskipun ada kesan bahwa ia mengamati setiap gerak-geriknya.

Alayna menyandarkan punggungnya pada kursi, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa disembunyikan. "Aku tidak lapar."

Zariel mendekat, matanya yang tajam menatap piring di meja yang tidak tersentuh. "Jangan biarkan dirimu terperosok dalam kebiasaan buruk, Alayna. Kau tidak akan bisa bertahan lama jika seperti ini."

"Tidak ada yang peduli dengan apa yang aku inginkan, kan?" balasnya, suaranya lebih tajam daripada yang ia maksudkan.

Zariel diam sejenak, kemudian mengangkat alisnya, menyelidiki ekspresinya. "Itu memang benar. Tapi, hidupmu sekarang tidak hanya tentang keinginanmu. Ini tentang bertahan."

Alayna meringis mendengar kata-kata itu. Bertahan. Itulah yang ia rasakan selama ini-seperti harus terus bertahan dalam dunia yang keras, penuh aturan yang tidak ia pilih. Tidak ada ruang untuk impian atau kebahagiaan pribadi. Semua itu kini tergantikan oleh kenyataan pahit yang harus ia terima.

Zariel menarik kursi dan duduk di seberangnya. "Jangan beranggapan bahwa aku akan membiarkanmu terpuruk. Ini pernikahan yang terpaksa, tapi kita masih harus menjalani ini dengan kepala tegak."

Perkataan Zariel menambah kesedihan di hati Alayna. Apa yang ia harapkan dari pria ini? Sebuah hubungan yang hangat? Cinta yang akan tumbuh seiring waktu? Semua itu tampaknya jauh dari kenyataan. Zariel bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri yang seharusnya dihormati dan dicintai. Bagi Zariel, mereka hanya dua orang yang terikat dalam sebuah perjanjian.

Alayna menunduk, berusaha menenangkan emosinya. "Kau benar. Aku harus bertahan." Suaranya terdengar lebih lirih, hampir seperti sebuah pengakuan.

Zariel tetap diam, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang Alayna tidak bisa mengartikannya. Mungkin dia tidak peduli, atau mungkin dia hanya terlalu terluka untuk memberikan sedikit perhatian. Namun yang pasti, saat ini, mereka berdua berada di dalam perangkap yang sama.

-

Malam pertama mereka sebagai suami istri datang lebih cepat dari yang ia kira. Alayna berdiri di depan pintu kamar tidur mereka yang besar, nafasnya terasa sesak. Segala hal terasa begitu tidak nyata, seperti dunia yang berputar di sekelilingnya sementara ia tetap terhenti di tempat yang sama. Apakah ini benar-benar hidupnya sekarang?

Ia membuka pintu perlahan, dan Zariel sudah ada di dalam, berdiri dekat dengan meja samping tempat tidur. Ia mengenakan pakaian santai, namun aura ketegasan yang biasa dia tunjukkan tetap terpancar kuat. Alayna tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa terjebak dalam ruang hampa-sebuah ruang yang menekan jiwa.

"Kau sudah siap?" tanya Zariel, suaranya tanpa ekspresi.

Alayna mengangguk, meskipun dalam hatinya, ada banyak pertanyaan yang mengganjal. Apa yang diinginkan Zariel darinya? Apakah ini akan menjadi pernikahan tanpa sentuhan? Tanpa gairah? Tanpa apa-apa yang lebih dari sekadar formalitas?

Zariel berbalik, menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia melangkah ke arahnya, mengambil tangan Alayna dengan gerakan yang begitu terkendali, namun tidak terasa hangat. "Kita harus menjalani ini," katanya datar, "terlepas dari apa yang kita rasakan."

Alayna merasa hatinya tercabik-cabik mendengar kata-kata itu. Ada yang sangat salah di sini, dan ia merasa dirinya begitu kecil di hadapan pria ini. Dia bahkan tidak tahu apakah ia bisa melanjutkan kehidupan ini tanpa rasa sakit yang terus menggerogoti.

Zariel melepaskan tangan Alayna dan duduk di ujung tempat tidur, memberi ruang antara mereka. "Aku tidak akan memaksamu untuk apa pun, Alayna. Tetapi, ingat satu hal-ini adalah hidup kita sekarang. Kita harus menghormati perjanjian ini."

Alayna merasakan dinding emosinya runtuh. Meskipun ia tahu pernikahan ini adalah hasil dari sebuah manipulasi keluarga yang kejam, ia tak bisa menghindar dari kenyataan bahwa ia sekarang terjebak dalam kehidupan yang telah dipilihkan untuknya.

Namun, yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa yang harus dilakukan dalam pernikahan yang tidak memiliki landasan kepercayaan atau kasih sayang? Bagaimana ia bisa melanjutkan jika hatinya sudah terlanjur kosong?

"Bagaimana kita melanjutkan ini, Zariel?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar rapuh. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Zariel menatapnya sejenak, dan dalam tatapan itu, ada kesunyian yang lebih dalam daripada kata-kata apapun yang bisa ia ucapkan. Ia menarik napas panjang, seperti mencoba mengumpulkan kata-kata yang tepat, namun akhirnya dia berkata dengan lembut, "Kita akan bertahan, Alayna. Itu yang kita bisa lakukan."

Alayna tidak tahu apakah itu sebuah harapan atau sebuah peringatan. Namun satu hal yang pasti-pernikahan ini, meskipun sudah dimulai, baru saja mengungkapkan betapa dalamnya lubang yang harus mereka hadapi. Dan di dalam lubang itu, mereka harus memilih untuk bertahan, meskipun tak ada jalan keluar yang jelas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED