Bab 1

"Ayah, ayah! Atu mau es kim yang laca clobeli saja, ayah!"

Anggraini terpaku melihat pemandangan di hadapannya itu. Hatinya bagai teriris sembilu melihat bocah berusia kisaran dua tahun itu sedang memeluk leher seorang pria yang dia kenal adalah suaminya sendiri. Balita itu menatap pria itu dengan mesra, seakan takut orang yang dipanggilnya ayah itu berpaling darinya.

"Eh, sepeltinya lebih enak coklat deh. Coklat aja deh," celoteh cadel gadis kecil dengan kuncir dua di kepalanya itu.

"Shakila, cepat pilih! Masih banyak yang mau beli loh," tegur perempuan di sebelahnya sembari menunjuk ke arah antrian di belakang mereka. Sudah jelas dia adalah ibu anak itu.

Fokus Anggraini kini berpaling ke wanita itu. Seorang wanita yang usianya terlihat sedikit lebih tua darinya. Wanita itu berhijab dengan baju sedikit longgar, namun bagian perutnya turut menarik perhatian Anggraini. Perempuan itu terlihat sedang hamil. Trisemester awal sepertinya. Atau mungkin usia kandungan empat atau 5 bulan.

Gigi Anggraini gemeretak, tangannya otomatis terkepal. Saat ini ingin rasanya dia melabrak ketiganya dan mengatakan pada seluruh dunia bahwa pria itu adalah suaminya, seorang pengkhianat jahat, dan wanita itu adalah pelakor yang dengan tidak tahu malu telah merebut suaminya.

"Jangan gitu dong, Bun. Biarkan Shakila kita yang memilih sendiri. Anak ayah boleh memilih es krim rasa apa pun yang dia suka," bela pria itu.

"Benelan?" Mulut lucu dan imut itu kembali bersuara. Wajahnya terlihat menggemaskan

"Benar dong. Apa sih yang nggak buat anak ayah?"

"Yeiiyyy! Makacih, Ayah! Shakilla sayang ayah!!!"

Bocah bernama Shakilla yang sedang digendong oleh Mas Teguh itu memeluk dan mencium lelaki yang dipanggilnya ayah itu dengan ciuman bertubi-tubi di pipinya.

Nyesss!! Rasanya jantung hati Anggraini semakin ditusuk lebih dalam lagi. Kakinya terasa lemas. Hasrat ingin melabrak keluarga simpanan suaminya itu tiba-tiba pudar.

"Benar kan yang kubilang? Kamu nggak percaya. Aku sudah lama menyelidiki mereka, Anggre. Cuma aku baru berani ngomong aja sama kamu. Aku takut kamu nggak percaya."

Anggraini tak dapat berkata-kata. Ia sendiri bahkan nyaris lupa bahwa sedari tadi selain dirinya masih ada orang lain di sampingnya. Shopia sahabatnya yang menemaninya melakukan misi ini, misi membuntuti suaminya sendiri. Dan ternyata benar.

"Jadi gimana? Kamu mau kita labrak aja sekarang?" bisik Sophia.

Jarak mereka tidak begitu jauh dari pasangan yang terlihat harmonis itu.

Anggraini bergetar. Ia bukannya sedang menahan diri. Niat melabrak sudah ada sedari tadi, tapi kakinya seakan terpaku tak dapat bergerak. Mulutnya pun seakan terkunci.

Ia mungkin akan melakukannya andai tidak melihat seorang anak kecil yang begitu lucu digendong oleh Mas Teguh. Dan jangan lupakan makhluk kecil yang masih berwujud janin yang bersemayam di dalam perut wanita itu.

Batinnya berontak tak terima. Kenapa harus berselingkuh di belakangnya bahkan hingga menikah dan memiliki anak?!

Pemandangan menyakitkan di depannya itu secara tidak langsung telah menunjukkan juga alasan dari pengkhianatan cinta itu. Oh, bukan! Tak hanya pengkhianatan cinta, tapi Mas Teguh juga telah melakukan pengkhianatan pada prinsip dan komitmen yang selama ini mereka jadikan pilihan hidup.

Childfree.

Bukankah sebelum mereka menikah mereka sudah sepakat untuk tidak akan memiliki anak, baik itu anak kandung maupun adopsi? Demi kebaikan umat manusia yang katanya sudah over populasi di muka bumi? Hidup berdua pun katanya sudah cukup bahagia. Dan lagi memiliki anak berarti kontrak mati tanggung jawab seumur hidup. Dan kita belum tentu bisa mendidik mereka, menjadi manusia yang memiliki hidup berkualitas.

Dan Anggaini yang open minded karena selama ini menempuh pendidikan di luar negeri sependapat dan sepakat dengan prinsip itu. Hingga akhirnya ia memutuskan menikah 5 tahun silam dengan seorang Teguh Prabowo.

Tapi sekarang apa ini?

"Anggre, ayo kita datangi! Labrak! Lihat, mereka sudah mau pergi!"

Sophia sudah tak sabar melihat Anggraini yang hanya bengong. Ia kemudian menarik tangan sahabatnya itu untuk mengejar Teguh beserta istri dan anak simpanannya itu. Namun, betapa terkejutnya Sophia saat Anggraeni melakukan penolakan atas ajakannya.

Anggraini menarik tangannya dan tak bergeming dari tempatnya berdiri.

"Anggre!!"

Sophia mengernyitkan keningnya tak mengerti. Ia juga sedikit kesal pada sikap Anggraini. Dia pikir setelah membuntuti suami sahabatnya berselingkuh, ia akan kebagian memberi pelajaran pada pelakor itu.

Anggraini menggelengkan kepalanya.

"Tapi kenapa? Kamu nggak marah? Nggak merasa dicurangi? Kita harus memberi pelajaran pada suami sialanmu itu dan pelakor itu!" umpat Sophia kesal.

Anggraini mengangguk dan di waktu bersamaan menelan salivanya. Ia mengerti kekesalan Sophia. lMereka bersahabat sudah sedari lama dan selama ini kita bahkan Sophia sangat menghormati Mas Teguh meski selama ini dia tidak begitu setuju atas pilihan Anggraini yang mengikuti kemauan Mas Teguh untuk childfree.

"Benar, tapi tidak sekarang. Kecurangan yang dilakukan dengan cara yang licik harus dibalas dengan licik juga," kata Anggraini penuh maksud yang tersirat.

Matanya menatap tajam sosok ketiga orang itu yang semakin lama semakin menghilang di tengah kerumunan peserta jalan santai.

"Maksudnya?"

Anggraini mengulum senyum di atas rasa sakit hatinya.

Anggraini bukan penyuka anak kecil. Dibanding childfree sebenarnya ia juga agak sedikit childfobia teriakan anak-anak begitu terdengar mengganggu ketenteramannya. Tapi sebelum brtemu Teguh, tak pernah terlintas di benaknya akan membatasi diri untuk tidak memiliki anak sama sekali. Ya, minimal punya satulah.

Namun bertemu dengan Teguh dan banyak bertukar pikiran serta hidup selama beberapa tahun di Tokyo, Anggraini merasa ia satu frekuensi dengan Teguh yang dengan pemikiran yang terbuka tentang paham childfree dan tidak mengharuskan ia harus dekat-dekat dengan makhluk bernama anak, Anggraini pun menjatuhkan hati pada pria itu. Meyakinkan pada diri sendiri bahwa tidak memiliki anak pun bukanlah hal yang buruk.

Lalu sekarang? Inikah yang pantas ia terima? Ia dengan kesendiriannya ditemani oleh kemunafikan suaminya sendiri. Lalu suaminya mencari kebahagiaan lain dan membiarkan ia hanya bahagia dengan prinsip-prinsip omong kosong itu.

Sial! Anggraini tidak terima ini. Ia harus melakukan sesuatu. Melakukan suatu pembalasan yang akan membuat Mas Teguh merasakan sakit yang lebih dari yang dia rasakan.

Sakit, malu, kecewa, dan ... penyesalan yang tak akan ada obatnya.

"Anggre, maksudmu apa? Kamu mau balas dendam pada Mas Teguh?" tanya Sophia gugup.

Sophia sangat tahu sifat Anggraini. Dia bukan orang yang jahat sebenarnya, tapi bukan juga termasuk dalam golongan orang yang sangat baik hati dan pemaaf. Jika Anggraini sudah bersikap seperti ini, maka tak diragukan lagi, akan ada pembalasan yang setimpal nantinya.

"Kamu mau ngapain, Anggre?" tanya Sophia penasaran.

"Ayo kita pulang," ajak Anggraini sembari berbalik badan.

Tunggu saja, Mas Teguh. Kau akan tahu balas dendam seperti apa yang setimpal dengan kecurangan yang kau lakukan, batin Anggraini.

***

Bersambung ...

Bab 2

"Mas sudah pulang?" tanya Anggraini dengan senyum yang entah mengapa kali ini Teguh merasa seperti berbeda.

Teguh tak langsung menjawab.

"Apa ada yang salah? Apa mas melakukan suatu kesalahan?" tanya Teguh sembari menatap Anggraini dengan mata penuh selidik.

Anggraini tersenyum mencibir sambil geleng-geleng kepala.

"Apa sih, Mas? Kesalahan apa maksudnya?" tanya Anggraini sembari melingkarkan tangannya di leher Teguh.

"Senyummu sedikit berbeda," jawab Teguh apa adanya.

Anggraini semakin mengembangkan senyumnya. Lelaki yang hebat, sadar juga ternyata dia pada perubahan sikap Anggraini. Kebalikan dari Anggraini yang bahkan tak menyadari pengkhianatan Teguh selama ini.

"Berubah apanya?" tanya Anggraini semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Teguh dengan cara menggoda.

"Ehmm, ehmm. Apa istriku ini sedang ada maunya?" tebak Teguh sembari berdehem.

Anggraini tersenyum.

"Kok tahu sih kamu, Mas?" tanyanya dengan nada merajuk.

"Ya, taulah. Masa nggak? Kenal kamu sudah berapa lama?"

Anggraini melepaskan pelukannya.

"Benar juga sih. Kita sudah kenal hampir sepuluh tahun harusnya sudah saling mengenal luar dalam masing-masing." Anggraini manggut-manggut.

"Itu kamu tau."

"Jadi gimana nih? Bisa minta nggak?"

"Minta apa dulu?"

Anggraini menyunggingkan senyum.

"Minta anak boleh?" ucapnya spontan seperti menggoda.

Teguh mengernyitkan keningnya. Reaksinya di luar dugaan.

"Apaan?" protesnya terlihat tak suka.

Hal itu membuat Anggraini bertanya-tanya dalam hati. Tadinya dia berpikir jika dia menanyakan hal ini mungkin saja Teguh akan menunjukkan sikap seperti menyambut dengan bahagia godaannya.

"Astaga, reaksimu ?kok gitu amat, Mas. Biasa aja dong mukanya. Jangan ditekuk gitu. Aku cuma becanda," kata Anggraini seolah apa yang dia lakukan hanya untuk menggoda Teguh semata.

Teguh geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Anggraini itu. Sambil berjalan ke kamar mandi dia mengomel pada Anggraini.

"Becanda itu yang benar-benar lucu, bikin orang lain ketawa. Bukannya sebaliknya bikin orang lain kesal," tukasnya ketus seolah apa yang dilakukan oleh Anggraini itu adalah sebuah kesalahan besar.

"Iya, iya. Mas ada masalah apa sih dikerjaan? Kok kayaknya sensi banget. Padahal seriusan loh aku cuma becanda aja. Suer!" Anggraini mengangkat jarinya membentuk huruf V.

Teguh berhenti sejenak di depan kamar mandi. Ia membalikkan tubuhnya untuk berbicara dengan Anggraini yang berdiri di dekat tempat tidur.

"Kayaknya kamu deh yang punya masalah. Biasanya kamu nggak pernah bercanda seperti itu. Kamu kan tahu betapa seriusnya masalah kelahiran seorang anak dan dampak lahirnya manusia baru yang menambah padatnya populasi manusia di dunia. Kita kan sudah sepakat untuk tidak menjadi salah satu penyumbang penyebab over populasi tersebut. Ya kan?" omel Teguh menceramahi Anggraini.

Anggraini terdiam terpaku. Dalam hatinya ia menyahut omelan Teguh itu.

Aku sampai kemarin masih berpegang teguh dengan prinsip itu, Mas. Tapi kamu sudah berapa tahun ini melupakan prinsip itu dan memiliki anak dengan wanita lain di belakangku? Lalu maksudmu apa tidak ingin memliki anak denganku sementara dengan perempuan lain boleh? batinnya.

"Apalagi dengan sikapmu yang childish selama ini. Aku bahkan yakin kalau kamu punya innerchild yang bahkan mungkin tidak kamu sadari selama ini. Kamu yakin bisa membesarkan dan mendidik anak-anak itu dengan layak? Coba pikir ke arah sana!"

Anggraini tersinggung akan kata-kata Teguh kali ini. Dia kekanakan? Dan apa-apaan dia itu menyinggung masalah tentang innerchild segala? Harusnya Teguh tahu itu adalah isu sensitif yang tak seharusnya ia katakan kepada Anggraini.

"Apa maksud Mas mengatakan hal seperti itu? Aku meminta maaf, tapi Mas sudah melebar kemana-mana. Baiklah, biar aku perjelas. Aku tidak ingin memiliki anak. Jadi tidak perlu mengatakan hal apa pun yang membuatku tersinggung, apalagi itu sampai menyinggung masa laluku!" kecam Anggraini menunjukkan ketidaksukaannya.

Usai mengatakan itu Anggraini langsung berbalik badan meninggalkan Teguh.

Anggraini tahu dia memang punya innerchild yang sulit sembuh dalam dirinya. Omongan Teguh tak salah tentang itu. Ada jiwa seorang anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasanya. Sesuatu yang menjadi penyebab kenapa ia menjadi antipati terhadap makhluk mungil bernama anak-anak.

Saat Teguh selesai mandi, Anggraini benar-benar tak ada lagi di kamarnya. Wanita itu benar-benar merajuk sekarang. Ck, sangat merepotkan.

Ia menemukan Anggraini sedang berada di lantai bawah.

"Sayang, kamu masih marah karena aku membahas innerchild?" sapa Teguh dari atas tangga.

Anggraini berdecak.

"Maafkan aku karena sudah dengan lancang mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaanmu. Tapi harusnya kamu juga jangan terlalu sensitif seperti itu dong. Yang punya innerchild bukan hanya kamu, aku juga punya. Itu sebabnya kita tidak bisa punya anak. Kita tidak boleh melukai manusia baru yang tidak berdosa itu karena keegoisan kita. Kamu pun pasti mengerti tentang hal itu. Benar?"

Dalam hatinya Anggraini mengumpat meski ia mengulas senyum di bibirnya.

Ya, bagimu hanya aku yang tidak boleh punya anak. Sementara kau bisa, batin Anggraini dalam hati.

"Ya, aku tentu saja mengerti," jawab Anggraini dengan full senyum.

"Jadi kita baikan?" tanya Teguh to the point.

"Yap!"

"Kalau gitu sini donk, peluk dulu!"

Dari tangga, Teguh yang masing mengenakan handuk mandi itu melambaikan tangannya memanggil Anggraini.

Anggraini berjalan mendekat dengan gaya menggoda. Dia tahu pasti tak lama akan ada pertarungan yang panas di antara mereka. Seperti biasa yang selalu mereka lakukan selama ini sesaat setelah mereka baru saja berbaikan.

"Maafin aku, Mas. Sepertinya aku memang terlalu sensitif akhir-akhir ini," aku Anggraini sembari meletakkan tangannya melingkar dari perut hingga punggung pria itu.

Teguh membalas pelukan itu dan mengelus leher hingga punggung istrinya itu.

"Mau di atas atau di bawah?" tanyanya nakal.

"Atas saja. Di kamar lebih aman," bisik Anggraini.

"Ahsyiaaap!"

Teguh bak seorang pengantin baru segera membopong tubuh istrinya itu menaiki tangga menuju ke kamar mereka. Dia siap melakukan misi mulia menghapus kesalahan Anggraini.

Sesampainya mereka di kamar, Teguh pun segera meletakkan tubuh Anggraini di ranjang.

Percintaan mereka berlangsung sangat panas hingga saat semua akan tuntas, Teguh teringat sesuatu. Ia meninggalkan Anggraini yang polos menuju lemari hias dan mencari sesuatu di sana.

"Perasaan masih ada," gerutunya.

Anggraini di belakangnya menyunggingkan senyumnya. Sepertinya semua berjalan persis seperti apa yang diinginkannya.

"Nyari apaan sih?" tanya Anggraini pura-pura tidak tahu.

"Alat kontrasepsilah. Apa lagi?!" jawab Teguh masih sambil mencari.

"Nggak usah kali Mas. Aku juga udah pasang IUD kok," kata Anggraini lagi.

"Hah, masa? Kapan?" tanya Teguh kaget. "Perasaan kamu nggak pernah pakai IUD deh? Sejak kapan?" tanya Teguh dengan tatapan curiga.

Yang Teguh tahu selama ini untuk mencegah kehamilan pada Anggraini, istrinya itu selalu menggunakan kontrasepsi suntik progestin setiap tiga bulan sekali. Anggraini tidak punya keberanian melakukan pemasangan kontrasepsi IUD.

Anggraini duduk dan menatap Teguh dengan senyum.

"Sejak dua hari lalu. Aku temani Tiara ke klinik buat cek kandungan, terus kepikiran aja tanya-tanya tentang pasang IUD ke dokternya. Dokternya berhasil ngeyakinin aku, terus langsung pasang deh," jawab Anggraini.

Teguh mengernyitkan kening masih tak percaya.

"Sudah nggak usah ragu. Amaaan sekarang. Lanjut yuk!" ajak Anggraini sembari mengedipkan matanya nakal pada Teguh.

Teguh membatalkan niatnya mencari alat pengaman pria dari laci. Kemudian ia berbalik badan siap mendekati lagi Anggraini yang masih menunggu dengan manis di ranjang.

Anggraini sudah siap dengan semua rencananya dan hampir ia menang, namun ia terkejut saat Teguh menarik diri darinya.

"Kenapa?" tanya Anggraini tak suka.

Teguh menggelengkan kepala. Dia ragu pada istrinya ini.

"Maaf, Anggre. Tiba-tiba aku pusing dan merasa mual. Ah, jetlag ini benar-benar mengganggu moment manisku ...huegghh!!"

Teguh berjalan cepat menuju ke kamar mandi seolah ia sedang menahan sesuatu keluar dari perutnya. Sementar itu Anggraini menatap tajam punggung Teguh yang hilang di balik pintu kamar mandi.

"Jetlag? Atau kau tidak percaya padaku?" gumam Anggraini kesal.

Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Bahkan selama ini perjalanan 12 jam dalam pesawat pun mereka pernah tapi tak pernah sekalipun Anggraini melihat Teguh jetlag sampai ingin muntah seperti itu.

Mas, kau menguji kesabaranku dan membuat aku muak! umpat Anggraini dalam hati.

***

Bersambung...

Bab 3

"Eh, Mama? Kenapa nggak bilang-bilang kalau Mama dan Riani mau datang?" 

Anggraini terkejut dengan kedatangan mertua dan iparnya.

"Justru sebaliknya Mama yang nanya dong? Kok Teguh pulang Mama nggak dikasih tahu?" 

Anggraini memutar bola matanya. Bagaimana ia akan memberi tahu sedangkan Teguh sendiri kembali ke Indonesia tidak menemui dirinya terlebih dahulu melainkan menemui keluarga yang ia simpan selama ini.

Teguh memang bekerja di sebuah perusahaan elektronik di Singapura. Mereka berdua sama-sama menempuh pendidikan tinggi di Universitas Tokyo dengan program studi yang berbeda. Saat Teguh selesai dengan pendidikannya, Anggraini masih sibuk dengan kuliahnya, hingga Teguh di terima bekerja di Singapura, selama beberapa tahun mereka menempuh hubungan jarak jauh. 

Berasal dari keluarga ekonomi yang berkecukupan dan berpenghasilan besar dari pekerjaannya, bertemu dua kali dalam sebulan dengan biaya yang tidak kecil, bagi Teguh bukanlah masalah besar. Lalu Anggraini lulus dan mereka menikah dan hidup bersama selama tiga tahun pernikahan. 

Dua tahun belakangan ini, Teguh memutuskan membangun rumah di Jakarta dan meminta Anggraini untuk menempatinya terlebih dahulu sembari menunggu kontrak Teguh selesai di Singapura dan mereka merintis usaha sendiri yang telah lama diancang-ancang oleh pria itu.

Anggraini tidak keberatan, karena jujur saja hidup di Indonesia baginya tetap lebih nyaman dibanding harus tinggal di negara lain. Masalah ia harus LDR dengan suaminya, ia pikir itu bukanlah masalah. Ia sudah terbiasa sejak lama. Dan lagi pula mereka bertemu setiap weekend dan menghabiskan dua hari dalam seminggu sudah lebih dari cukup.

Anggraini tidak pernah terpikir jika suaminya akan berselingkuh di belakangnya karena mereka mengadop prinsip childfree. Anggraini pikir Teguh sudah cukup hanya dengan mereka berdua saja. Siapa yang sangka jika lelaki itu akan melakukan hal sekejam ini di belakangnya.

Anggraini menghembuskan napas pelan. Andai mertuanya memperhatikan lebih, ia akan tahu kalau menantunya itu sedang menghela napas berat pertanda ada masalah yang sedang membebani rumah tangganya.

"Ya, gimana dong, Ma? Aku juga nggak tahu Mas Teguh akan pulang sekarang. Nggak ngomong-ngomong. Biasa kan Mas Teguh pulangnya Jum'at Malam. Balik ke Singapura lagi Senin pagi. Nah karena dia nggak pulang jum'at malam kemarin, ya aku pikir dia sibuk sama kerjaannya sehingga nggak sempat pulang. Eh, taunya kemarin sore dia sampai sini tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lupa kabarin Mama deh akhirnya," jelas Anggraini sambil mengangkat pundaknya.

Puspa, demikian nama mertua Anggraini tidak terlalu menanggapi penjelasan menantunya itu. Ia lebih tertarik melihat ke arah lantai atas, tempat dimana kamar Teguh dan Anggraini berada.

"Terus dimana dia sekarang?" tanya Puspa sambil ia menyerukan nama anak sulungnya itu. "Teguuuuh! Teguuuh!!"

Tak sabar hanya memanggil, wanita berusia lima puluh tahunan itu langsung berinisiatif untuk naik ke lantai atas. Namun baru di pertengahan tangga, terdengar suara pintu kamar di buka.

"Apa sih Mama teriak-teriak? Yang sabar donk ah!" sahut Teguh. 

Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga. Puspa pun segera naik menyusul putranya itu padahal Teguh pun ingin turun sebenarnya. Mata wanita itu berbinar-binar begitu Teguh ada di hadapannya.

"Mama apaan lihat aku segitunya?" Teguh memutar matanya saat sang ibu menangkap lengannya.

Bukannya menjawab, Puspa malah tersenyum senang seolah ada kabar yang membahagiakan baginya.

"Itu beneran?" tanya sang mama.

Teguh mengernyitkan dahi.

Di lantai bawah Anggraini ikut-ikut mengerutkan kening. Apa kira-kira hal yang membuat mertuanya begitu sangat girang dan terburu-buru ingin bertemu Teguh? 

Anggraini paham wajar jika seorang ibu merindukan anaknya meski sang anak sudah dewasa dan memiliki rumah tangga sendiri, tapi untuk sikap mertuanya kali ini agak berlebihan menurut Anggraini karena tiap minggu pun ibu dan anak itu selalu bertemu dan kali ini Puspa terlihat lebih senang daripada biasanya. Ya, walaupun terhadapnya sikap mertuanya tetap saja dingin tak ada yang berubah.

"Beneran apa? Ih ... Mama aneh deh." Teguh menggaruk-garuk kepalanya sembari menuruni anak tangga.

Puspa melihat ke arah Anggraini di bawah. Kebetulan tatap mata mereka bertemu. Entah mengapa Anggraini merasa sorot mata itu terlihat sinis kepadanya. 

Puspa menyusul langkah kaki Teguh dan menahan lengan anaknya itu. Anggraini melihat mertuanya itu berbisik padanya. Lalu terlihat ekspresi terkejut dari raut wajah Teguh.

"Benar?" tanya Puspa lagi.

Anggraini tidak mendengar apa yang dibisikkan oleh mertuanya tapi sangat jelas terlihat wajah Teguh menegang setelah itu.

"Darimana Mama tahu?" bisiknya.

"Nggak penting Mama dapat kabar itu dari mana tapi kau harus menjelaskan segalanya pada Mama, Guh."

Teguh terdiam. Terlihat ia sempat melirik Anggraini namun mengalihkan pandangannya lagi ke ibunya setelah itu.

"Jangan bahas ini sekarang dan di sini, Ma," pintanya dan kembali melirik pada Anggraini yang menatap mereka dari bawah.

Puspa sangat mengerti kekhawatiran Teguh dan tak ingin memaksa membahas itu saat ini juga.

"Baik, tapi kau berhutang penjelasan pada Mama," katanya dengan senyum tersungging.

Sadar mereka diamati oleh Anggraini sedari tadi Teguh segera mengubah sikap ke mode biasa mengingat percintaan mereka semalam saja sudah membuat suasana di antara keduanya tidak semesra biasanya.

"Sarapan apa kita pagi ini?" tanya Teguh sambil ia menuruni tangga dengan cepat.

Dalam hitungan detik saja ia telah berada di dekat meja makan di mana Riani, adik kandungnya sedang membantu Anggraini menyiapkan sarapan roti panggang.

"Mas nggak lihat apa?" sahut Riani sembari memonyongkan bibir menunjukkan roti yang sedang berada di pemanggang roti.

"Yah, roti lagi. Di Singapura roti, eh sampai di Indonesia roti lagi. Nggak ada yang lain apa? Nasi kuning kek, lontong sayur kek? Yang tradisional-tradisional aja gitu," keluh Teguh.

Mendengar keluhan Teguh mendadak raut muka Anggraini berubah. Ia yang sedang menyiapkan susu high calcium untuk Teguh, menghentikan tangannya mengaduk sendok.

"Yang tradisional? Tumben ..." gumam Anggraini.

"Ah, iya. Sayang, aku bisa minta kopi saja nggak sih? Kopi hitam tapi gulanya agak banyakin dikit saja biar nggak pahit," pinta Teguh.

"Kopi hitam? Kayaknya kita nggak punya deh. Kalau kopi instan aku ada. Lagian sejak kapan Mas suka minum kopi di pagi hari. Kopi hitam pula," jawab Anggraini.

"Kamu itu ya, jadi istri itu coba jangan terlalu banyak protes. Ketimbang kamu mengatakan hal-hal seperti itu, tinggal beli di warung saja kenapa sih?" celutuk Puspa menginterupsi menantunya.

Anggraini kaget. Ingin ia menjawab kata-kata mertuanya tapi Teguh membuatnya urung berkata-kata.

"Anggre, tolong ya, Sayang. Belikan di warung saja. Aku masih harus berangkat pagi ini tapi aku ngantuk banget. Tadi malam tidurku kurang nyenyak. Jadi butuh banget kopi yang agak sedikit keras. Boleh ya?" bujuk Teguh.

Anggraini tak punya pilihan lain. Ia pun mengangguk berat dan memutuskan untuk pergi membelinya.

"Aku ambil dompetku dulu, Mas," katanya.

Teguh mengangguk, Puspa hanya diam dengan wajah datar. Seperti mereka sedang menunggunya pergi untuk membicarakan sesuatu.

Setelah mengambil uang dari kamar, Anggraini pun pergi untuk membeli kopi hitam yang dimaksud. Terdengar suara pagar depan yang dibuka. Setelah yakin Anggraini sudah pergi Puspa mengambil ponsel dari dompetnya dan membuka galeri foto. 

Setelah menemukan foto yang dicari ia menunjukkannya pada Teguh. 

"Mama butuh penjelasan tentang ini. Apa benar kamu menikah lagi di Bandung tanpa sepengetahuan Mama?" tanya Puspa.

Teguh mengambil ponsel ibunya dan melihat ada foto dirinya sedang menggendong seorang anak perempuan kecil di depan sebuah rumah. 

"Sampai punya anak?" tanya Puspa lagi.

Ia tidak percaya ini. Diamnya Teguh secara tidak langsung telah menjadi jawaban baginya. 

"Anggre tahu soal ini?" desak Puspa lagi.

Teguh menghela napas berat.

"Jangan bahas ini sekarang, Ma. Anggre tidak tahu dan jangan sampai tahu. Dia hanya pergi sebentar membeli kopi ke warung sebelah," kata Teguh.

Puspa terhenyak. Tenyata benar.

"Pas mama datang tadi warung sebelah masih tutup, ini masih terlalu pagi. Anggre pasti membeli kopi di blok sebelah. Butuh sepuluh menitan untuk dia kembali ke sini. Kita masih sempat membahas ini. Mama masih penasaran, Guh. Banyak yang ingin mama ketahui dan kau berhutang banyak sekali penjelasan" kata Puspa tidak sabar.

Teguh menatap mamanya galau. Sepandai-pandainya ia menyembunyikan bangkai akhirnya perlahan baunya mulai tercium juga. Tapi apa pun yang terjadi Anggraini tidak boleh sampai tahu hal ini.

***

Bersambung ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED