Bab 01. Salah Sasaran
"Kamu nggak bisa menceraikanku?!" bentak pria bernama Glen Albert Ston kepada istrinya.
"Kontrak pernikahan kita sudah berakhir. Jadi untuk apa kita harus mempertahankan hubungan kita." Sally menatap jengah suaminya, sudah lebih dari setahun mereka berdua menjadi pasangan di atas kertas.
"Persetan dengan kontrak sialan itu." Cetus Glenn meraih pinggang istrinya, Sally memberontak berusaha melepaskan diri dari lengan suaminya.
Sally Esteban adalah putri tertua dari Caesar. Dia sendiri memiliki saudara tiri bernama Helena Bonham yang kini berganti nama Esteban. Semua yang dimiliki Sally kini diambil paksa oleh saudara tirinya. Hingga memutuskan mengambil tunangan saudaranya sebagai bentuk balas dendam.
Saat itu terlihat awan mendung menyelimuti kota Batavia, sebuah kota yang terkenal indah namun menyakitkan untuk wanita cantik seperti Sally. Dengan dress merah seperti darah dengan rambut terurai, membuatnya tampak cantik nan anggun.
Setelah menaiki taksi beberapa menit, dia pun sampai di sebuah bar. Lalu mencari pria yang akan menjadi mangsanya. Tidak berselang lama, indra penglihatannya menangkap seorang laki-laki dengan kaos oblong hitam sedang duduk di sebelah mejanya.
Pria tersebut hanya duduk sendiri tanpa seseorang di sisinya, Sally melancarkan aksinya untuk menggoda pria tersebut. Dengan berjalan berlenggak lenggok bak seperti model di atas karpet merah, dia pun mendekati pria itu dengan rayuan.
"Minum?" tanya Sally menyodorkan gelas berisi wine pada pria itu.
Pria tersebut sempat menolak, karena dia baru saja tiba dari Inggris ke kota Batavia.
"Baiklah, sekali tegukan," ucapnya. Membuat Sally mengulas senyum hingga lesung pipinya tampak terlihat.
Setelah berbicara banyak hal, Kenyaman di antara mereka mulai tercipta. Pria yang memiliki julukan pintu kulkas kini mencair seperti api di rawa, oleh kelembutan dan keanggunan wanita bernama Sally yang telah mencuri hatinya.
Beberapa kali dia terbuai ingin menyentuhnya, tetapi tidak segampang yang dipikirkan.
"Lebih bagus jika kamu menggodaku di ranjang," bisik pria itu kepada Sally. Sejenak indra penglihatannya terfokus pada kartu identitas pria yang digoda. Namun siapa sangka dia justru salah sasaran.
Pria itu tak lain adalah Glenn Albert Ston anak termuda dari keluarga Ston. Sally terkejut pria itu bukan David, tentu membuat dirinya kecewa.
Mempersiapkan diri untuk hal-hal memalukan, justru berakhir gagal dengan orang yang salah.
"Permisi, aku ke toilet dulu," ucap Sally mencoba mencari alasan untuk segera meninggalkan pria tersebut.
Glenn mengangguk cepat, tanpa menyadari wanita yang memberi kenyaman padanya akan pergi begitu saja.
Setelah Sally berhasil kabur dari tempat itu, dia kembali menjinjing sepatu hak tingginya. Perlahan nafasnya berhembus pelan, menandakan kelegaan dari balik wajah cantiknya.
Perasaan kacau tentu membuatnya ingin berteriak melepas emosi yang tertahan. Sejak ayahnya membawa seorang wanita simpanan dari rumah yang dimiliki almarhum ibunya. Membuatnya menderita seperti neraka.
"Aaaaah … dunia memang tidak adil," gumannya menatap jalan sepi yang dia lewati. Teriakan tersebut disambut baik oleh langit, perlahan-lahan rintik hujan mulai terdengar. Membuatnya lekas mencari tempat berteduh. Dress yang dia kenakan terlihat lusuh akibat percikan hujan yang mengenainya.
Dalam kesendiriannya sembari menatap visual hujan. Hingga desiran angin malam bercampur hujan, membuatnya menangis. Entah kerinduan apa yang membuatnya meneteskan air mata.
"Hari ini benar-benar sial! Jika aku tahu akan hujan, seharusnya aku membawa payung atau jaket," celetuknya mengelus kulitnya. Dress yang dia kenakan cukup terbuka, sehingga dingin pun terasa menyakitkan.
Bruk
Lemparan jaket dari belakang membuatnya tersentak kaget. "Mau meninggalkan ku begitu saja, setelah berhasil menarik perhatianku." Glen memberikan jaket miliknya pada wanita yang membuat dia terpesona.
"Ka-kamu? Ngapain disini?" tanya Sally heran dengan wajah pucat pasi.
"Tentu saja mencari seseorang yang menawarkan wine, lalu pergi meninggalkan ku," goda Glenn dengan senyum jahil.
Wanita itu tak menanggapinya, dia terlalu lama terkena angin disertai hujan, membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Samar-samar suara familiar menyapa indra pendengarannya yang hampir menutup mata.
Keesokan harinya, dia terbangun menatap langit-langit kamar dengan dekorasi jaman dulu.
"Di mana aku?" batinnya, sehingga fragmen-fragmen ingatan kemarin malam mulai terlintas.
Setelah mengingat kejadian malam sampai dia pingsan, dia pun turun dari ranjang. Lalu mengambil tas miliknya di atas nakas. Tak lama kemudian dia tersadar saat dirinya menunduk melihat plester kecil menghiasi kakinya.
Akibat berjalan tanpa sepatu hak, membuat kakinya tergores karena batu kerikil tanpa dia sadari.
Kini penciumannya mulai menangkap bau harum dari balik pintu kamar, hingga membuat cacing-cacing kecil di perutnya memberontak ingin di isi.
Aroma yang menggugah selera menuntunnya pada pria yang dia temui kemarin malam.
"Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak?" tanya pria itu dengan sapaan hangat.
"Umm …." gumam Sally menatap heran pria yang mengenakan kain apron. Pasalnya dia tidak pernah melihat laki-laki di kehidupan nyata menggunakan kain apron kalau bukan di serial drama.
"Duduklah, aku sudah mempersiapkan ini untukmu," ucap Glenn mempersilahkannya duduk. Tanpa ragu dia pun duduk, karena cacing-cacing di perutnya mulai tak sabar.
Sally memakan semua yang telah di persiapkan untuknya tanpa keraguan apa pun. Glenn hanya menatap tanpa menyentuh makanannya, sehingga membuat Sally tersedak.
"Uhuk … uhuk."
Dengan cepat Glenn menuangkan air putih pada gelas bening di depannya.
"Makanlah pelan-pelan," ucap Glenn terkekeh-kekeh.
Setelah selesai makan, Sally kembali melihat jam yang tergantung di atas dinding.
Jam menunjukkan pukul 11:45 dan itu artinya, dia sudah melewatkan hari di mana peresmian pertunangan antara adiknya dan mantan tunangannya.
"Oh sial?!" umpat Sally bergegas meninggalkan rumah tersebut, karena ingin menghentikan pertunangan antara adiknya dengan David.
Glenn sedari tadi berada di ruang kerja, kembali menyadari bahwa wanita tersebut meninggalkannya tanpa mengatakan apapun padanya.
"Jadi begini caramu. Pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun," gumam Glenn menahan kesal. Pada wanita yang berani meninggalkannya dua kali.
Setelah keluar dari rumah pria yang merawatnya dengan baik, dia kembali menyadari bahwa dirinya pergi tanpa sepatah kata.
"Agh … seharusnya aku mengucapkan terima kasih padanya," gumamnya di dalam taksi yang dia tumpangi.
Taksi tersebut kembali berhenti di sebuah rumah mewah. Sally mengeluarkan selembar kertas berwarna biru lalu memberikannya pada sopir tersebut.
Dia menghela nafas panjang, seolah menyiapkan keberaniannya untuk memasuki rumah mewah itu. Perlahan-lahan dia pun membuka pintu, mendapati dua kepala keluarga sedang berkumpul.
Terlihat senyum bahagia tanpa dirinya. Tak lama kemudian dua tangan kembali berjabat, seolah-olah kesempatan sudah terjalin.
Sally melihat Helena menggandeng mesra mantan tunangannya. Membuat dadanya terasa sesak. Hingga seorang wanita tua dengan tatapan tak suka menariknya menjauh.
"Untuk apa kamu pulang. Apalagi dengan pakaian seperti pelacur?!" hardiknya sambil menghina Sally.
"Kenapa?! Apa salah aku menginjakkan kaki di sini." Wanita tua itu pun diam membisu.
Bab 02. Penghinaan
Wanita tua yang menghardiknya adalah bu Santi istri kedua dari ayahnya. Sedangkan wanita yang berdiri bersama mantan tunangannya tidak lain adalah Helena anak dari bu Santi. Sally dan Helena memiliki tanggal kelahiran yang sama, namun yang membedakan mereka adalah lahir dari rahim yang berbeda, tapi memiliki ayah yang sama.
Sally kehilangan ibunya pada saat dia berusia enam tahun, pada saat itu ibunya sedang mengandung anak kedua. Anak dara yang polos mengetahui ibunya bunuh diri tanpa alasan yang jelas membuat dia trauma. Apalagi dia kehilangan adiknya sebelum melihat dunia.
Dari sinilah kehidupannya mulai hancur, saat ayahnya membawa seorang wanita serta anak yang seusianya memasuki kediaman Esteban. Terlebih lagi Caesar selaku ayahnya, menempatkan Helena sebagai pewaris lalu mengganti identitas Sally sebagai anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga Esteban.
Sehingga menggiring publik untuk memberikan dukungan penuh pada perusahaan milik almarhum kakeknya, yang kini berpindah tangan ke ayahnya. Sally mengetahui kebenaran tersebut pada saat dia berusia tujuh belas tahun.
Meskipun dia tahu, itu tidak akan pernah mengubah apapun, dia akan tetap menjadi anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarganya. Pertunangan yang terjalin antara David Albert Ston putra kedua pemilik perusahaan GT Elektronik adalah perjanjian turun temurun dari mendiang Aryan Esteban, kakeknya sendiri.
"Berani sekali kamu membangkang ucapanku! Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena telah membesarkanmu," ucapnya dengan kesal menatap anak tirinya.
"Hehe … membesarkanku? Apa mau ku ingatkan apa yang telah kamu lakukan padaku saat kecil?!" bisiknya mendekati bu Santi dengan dingin. Membuat nyalinya menciut melihat wanita yang pernah ia racuni kini menggigit.
"Bu, biarkan saja wanita kotor ini. Dia tidak pantas berbicara dengan kita," sergah Helena tiba-tiba saja mendekat.
Bu Santi kembali tersenyum licik menatap anak tiri yang sangat dibencinya.
"Sebentar lagi, kamu akan aku keluarkan dari rumah ini. Jadi bersiaplah?!" ancamnya menatap Sally.
Mereka berdua pergi meninggalkan Sally, kemudian berkumpul kembali dengan keluarga Ston.
Sally menghela napas panjang, seolah-olah dia sedang berada di medan perang. Dia melangkah menuju kamar kemudian merebahkan tubuhnya, lalu menatap visual ibunya di atas nakas.
Dia meraih bingkai tersebut dan memeluk erat visual itu, "Bu, aku ingin bersamamu. Jika Tuhan masih mengasihiku, aku ingin dia membawaku berkumpul bersamamu," ucapnya dengan sendu diiringi butiran kristal yang membasahi pelupuk matanya.
Sally kembali larut dalam kesendirian, memunculkan fragmen masa lalu, dikala bermanja tawa tanpa beban bersama mendiang ibunya. Tangisnya membuktikan kerinduan yang tiada tara.
Perasaan sakit ditinggalkan dua kali seolah menutup pintu hatinya mempercayai cinta. Dia beranggapan Tuhan tak adil karena telah merenggut orang-orang yang dia sayangi.
Tak terasa hari mulai sore, Sally yang sejak tadi pulang dari rumah pria asing tersebut, lalu menghadapi ibu tirinya serta adiknya, membuat dirinya enggan untuk makan siang. Sampai menjelang sore dia tak sedikit pun beranjak dari kamarnya.
Tidak lama kemudian dia pun bangun dari ranjang menuju kamar mandi, dengan niat ingin membersihkan tubuhnya. Sejak tadi dia enggan membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, dia kembali meraih ponsel yang tengah dicas, lalu membuka kamera dan memfoto dirinya kemudian mempostingnya di dunia maya.
Tak butuh waktu lama, postingan tersebut kini dibanjiri komentar serta pujian akan kecantikannya, terlihat seulas senyum kepuasan pada dirinya.
Sally melempar ponsel itu dengan pelan. Terlihat membosankan karena agenda miliknya selalu kosong tanpa jadwal apa pun. Notifikasi ponsel tersebut terus berbunyi mengganggu indra pendengarannya.
Dia pun meraih kembali ponsel tersebut, dengan niat mensenyapkan pesan yang masuk. Namun siapa sangka yang memenuhi pesan dari ponselnya tidak lain adalah temannya.
Pesan : "Hay, Sally sayang ku yang imut. Apa nanti malam kamu punya waktu? Aku ingin bertemu denganmu, untuk menyelesaikan liburan musim panas di Jepang."
"Baiklah, kita akan bertemu di kafe seperti biasa. Jadi tunggu aku. See you." Balesnya dengan antusias.
Agenda yang biasa kosong kini terisi kembali oleh temanya. Dia pun bergegas mencari pakain kasual. Lalu memoles bedak di pipinya. Tidak lupa memakai lip ban agar bibir terlihat manis.
Dia pun bergegas menuruni anak tangga dengan hati yang cukup gembira, dan mendapati ibu tirinya sedang duduk menikmati secangkir kopi. Sally berusaha menghindar, bu Santi dengan cepat menyadarinya.
"Mau kemana kamu?" tanyanya sedikit ketus.
"Ketemu teman," jawabnya.
"Alah alasan, pasti kamu mau jual dirikan?!" tuduh bu Santi tanpa bukti.
Sally menghela napas, melewati ibunya tanpa menyanggah tuduhan kotor tersebut, membuat bu Santi merasa geram. Dia pun menarik kasar lengan Sally.
"Hey! Kalau orang tua ngomong, dijawab bukan malah pergi. Kamu punya etika nggak sih? Ops! Kamu 'kan anak liar, nggak jauh beda sama ibumu?!" herdiknya menyulut emosinya.
Dia pun menepis kasar tangan ibunya, lalu menatapnya dengan tajam. Sally tidak terima jika ibunya disamakan dengan pelacur.
"Apa anda tidak mengaca? Apa selama ini anda berpikir saya tidak tahu yang pelacur itu putri anda, dan anda sendiri sama seperti dia. Jadi jangan pernah menyamakan ibu saya dengan pelacur?!" tegasnya. Membuat nyali bu Santi menciut.
Meskipun Sally tau sejak kecil identitasnya dicuri, dia tetap tak ingin memberitahukan atau komplen tentang kenapa semua miliknya harus diberikan pada Helena.
Mendengar ucapan Sally bu Santi kembali mewaspadainya. Dia kembali menargetkan Sally sebagai ancaman.
"Tidak mungkin dia tahu sesuatu!" batinya, menatap jauh wanita yang berani melawannya.
Setelah keluar dari kediaman Esteban, dia pun menaiki taksi yang telah di pesannya lewat aplikasi.
"Jalan Sudirman Ahmad Yamin," ucap Sally memberitahukan lokasi yang akan dituju.
Dia pun sampai di sebuah kafe dengan visual sawah di sekelilingnya, sejenak penglihatannya menangkap seorang gadis dengan pakaian tanktop duduk disamping jendela.
"Hay Sally," sapanya dengan Hangat.
"Hai, juga."
Perlahan kursi kayu tersebut ia tarik, kemudian melepas tas selempangnya lalu menaruhnya di sisi kursi yang kosong.
"Sally, kamu tau nggak. Aku itu udah rindu banget sama kamu, sejak masuk kuliah di Jepang," ujar gadis yang kerap disapa Ning-Ning.
Ning-Ning sendiri berdomesial Jepang dan Indonesia. Dia lebih muda dari Sally.
"Aku juga rindu sama kamu … ya mau gimana lagi, kamu masih butuh satu tahun lagi untuk kembali ke sini." Sally mengulas senyum kepahitan.
"Ya sih … Eh. Terus gimana dengan tunangan yang kamu ceritakan itu?" tanya Ning intens.
"Ning-Ning, aku nggak ingin membahas apapun tentang David. Jadi aku ingin melupakan semua rasa kecewa yang ditinggalkan pria itu padaku," ucap Sally sendu, terlihat rasa tidak nyaman dari wajahnya.
Ning-Ning pun menghentikan pertanyaan itu, dengan menceritakan keseruannya di Jepang. Sampai sepasang mata yang sedari tadi duduk di belakangnya menghampiri mereka berdua.
"Hai, boleh aku duduk disampingmu nona manis." Tegur seorang pria pada dua wanita yang tengah duduk.
Bab 03. Wanita Bar
Seketika mata Sally membulat, melihat pria yang sudah duduk disebelahnya adalah orang yang sama di bar.
"Kamu! Ngapain disini?" tanya Sally sedikit ketus.
"Nggak boleh? Inikan tempat umum," jawabnya santai.
"Meja lain, 'kan banyak." Usirnya.
"Aku lebih suka disini," ujarnya ringan dengan mata yang tak lepas menatap Sally.
Sally berdehem pelan menatap pria itu dengan ekspres sedikit kagum, pria yang duduk di meja mereka terlihat tampan, dan Sally baru menyadari saat tatapan mereka saling bertautan.
Ning-Ning yang sedari tadi mengamati tingkah dua sejoli tersebut merasa penasaran. Terlihat rasa ketertarikan antara pria yang meminta duduk pada Sally.
"Tuan tampan, apa anda punya pacar?" tanya Ning-Ning blak-blak, 'kan.
"Tidak," jawabnya singkat. Pria yang memiliki tatapan hangat pada Sally justru ketus padanya, seolah menunjukkan dia hanya tertarik pada teman di sebelahnya.
"Lalu, apa kamu sedang menyukai seseorang?" tanya Ning-Ning kembali, dengan mengernyit.
"Ning, topik seperti ini. Apa terlalu tidak sopan," sanggah Sally.
"Untuk saat ini tidak ada," jawab Glenn santai. Ning-Ning menghentikan pertanyaannya.
Sally terlihat tidak nyaman akan kehadiran sosok Glen, dia berkali-kali mengalihkan wajahnya saat mata mereka saling bertemu.
"Berikan aku nomor ponselmu." Pintanya pada wanita itu.
Sally melirik temanya. Permintaan tersebut justru ditolak.
"Jangan salah, aku minta nomormu bukan maksud lain. Aku meminta biaya makan dan plester yang kamu kenakan," ujarnya tersenyum semringah.
Mendengar tagihan tak terduga tersebut membuat Sally tersentak malu.
'Apa, aku kira dia tulus. Malah minta kompensasi.' runtuknya dalam hati, menatap geram pria tersebut.
Setelah memberikan nomor ponsel tersebut pria itu pun pergi, dengan senyum menyebalkan.
"Fuhh … serius ada pria perhitungan seperti dia," goda Ning-Ning yang sedari tadi tidak bisa menahan tawa.
Melihat temanya tertawa membuatnya kesal, dia lalu menyuapi Ning-Ning kasar dengan kentang goreng yang sedari tadi mereka pesan.
"Uhuk … uhuk." Ning-Ning tersedak, dia pun langsung menyeruput kopi hitam miliknya.
"Sally … kamu hampir membuat ku tidak bisa bernafas," celetuknya sembari mencebikan bibirnya.
Sally terkekeh-kekeh melihat temanya. Percakapan tersebut kembali mencair. Dia cukup pendengar yang baik, mendengar celetuk temannya tentang perjalanan asmaranya di Jepang.
Sembari menikmati secangkir kopi susu serta ditemani kentang goreng. Dengan menikmati visual persawahan di tengah kafe, membuat agenda miliknya menyenangkan.
Sejenak patah hati yang dirasakannya hilang, saat mendengar kisah cinta temannya.
Ning-Ning berencana menghabiskan liburan musim panasnya selama seminggu di kota Batavia, dengan ditemani Sally wanita yang dikaguminya.
Pada hari minggu, Sally bertemu kembali dengan Ning-Ning. Dia menghabiskan waktu berbelanja dan menemaninya berkeliling di daerahnya.
Sampai mereka berdua berpapasan dengan Helena, adik tiri Sally.
"Eh anak pungut," cibirnya. Mereka berdua menoleh kebelakang mendapati Helena dengan berapa tas belanjanya.
"Siapa yang lu katain anak pungut," ketus Ning-Ning kesal.
"Diem aja lu, gue ngomong sama nih anak pungut!" tegasnya, menunjuk Sally dengan dagunya.
Sally menghela nafas pelan, seolah terbiasa menghadapi adik tirinya. Kali ini dia tidak menghindar, justru membalas didepan David.
"Ngaca dulu, baru ngomong!" bales Sally, membuat nyali Helena seketika menciut.
Helena yang tak terima dengan perlawanan wanita yang dibencinya. Dia menarik rambutnya. Tak terima dijambak dia pun membalasnya. Pertengkaran tersebut disaksikan para pengunjung mall.
Ning-Ning dan David berusaha melerai mereka. Sampai petugas keamanan pun ikut melerai.
"Awas aja," ancam Helens memelototi Sally.
David berusaha menjauhkan calon istrinya dari mantan tunangannya. Sejenak David menoleh menatap sendu wanita yang pernah dia sukai.
"Kamu gapapa kan, Sally." Ning-Ning memperbaiki rambut Sally yang berantakan, serta memungut belanja yang berserakan.
Dia mengangguk pelan, lalu membantu Ning-Ning mengambil tas belanjaan.
Setelah membersihkan tas belanja tersebut, Ning-Ning mengajak Sally pergi ke taman, lalu mereka berdua duduk.
"Sally, kamu tunggu disini, biar aku belikan minum."
"Um, baiklah," ucap Sally berusaha tersenyum.
Tak butuh waktu lama, video perkelahian antara Sally dan Helena mulai menyebar. Di serati rumor buruk yang tak mengenakan. Membuat Ning-Ning bergegas menghampiri temannya.
Kekhawatiran Ning-Ning benar, Sally telah melihat artikel dan video tersebut. Dia berusaha menahan emosi menggantinya dengan senyum.
Sekeras apapun Sally menyembunyikan rasa sakitnya. Ning-Ning memahaminya. Dia pun memeluk Sally mencoba menenangkannya.
Rumor tentang Sally menjual diri di bar, membuat reputasinya sebagai seorang selebgram tercoreng.
Dunia maya sebagai pelariannya, kini dibanjiri hujatan dan kata-kata pedas dari para netizen.
Getar ponsel membuat Sally lekas mengangkatnya. Suara tegas dan sangar membuat Sally terkejut. Dia pun segera meninggalkan Ning-Ning menuju rumah.
Perasan was-was bercampur menjadi satu, mendengar suara sangar yang memaksanya untuk pulang. Sally tak henti-hentinya memainkan jemari-jemarinya dengan perasaan tak keruan. Perasaan tak enak kerap kali dia rasakan.
Perjalanannya menuju rumah terasa begitu menyesakkan, seolah hal buruk sedang menantikannya.
Tak lama kemudian dia pun sampai di kediaman Esteban. Sally menghela nafas panjang, mempersiapkan diri untuk menghadapi orang di balik pintu itu.
Plak
Belum sempat dia melihat siapa yang berdiri di depannya, dia lebih dulu mendapatkan tamparan.
"Dasar wanita tak tahu diri?!" pekik seorang pria paruh baya padanya.
Dua mata tajam seperti silet menghunus tubuhnya, rasa takut menjalar seperti akar.
Pria yang tak segan-segan memukulnya dengan kasar, tak lain adalah ayahnya sendiri. Dia marah akan video serta rumor yang beredar di dunia maya.
"Ay-ayah ak…." suaranya terpotong kala mata itu kembali menatapnya nanar.
"Aku membebaskanmu, bukan malah menghancurkanku?!" mekinya kembali.
Terlihat bu Santi serta Helena, menatap Sally dengan kepuasan. Dia tersenyum seolah-olah bahagia saat Sally mendapatkan kekerasan dari ayahnya sendiri.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku bersumpah. Ayah!" tegasnya membela diri.
"Tutup mulutmu, kau sama saja dengan ibumu!"
Mendengar ibunya yang sudah tiada diseret hanya karena rumor palsu tersebut membuat emosinya tersulut.
"Ayah tidak berhak membawa nama ibu, di antara rumor palsu yang beredar!" Sally menatap ayahnya dengan mata memerah, terlihat rasa emosi yang tak bisa ditahan.
Pak Caesar tertawa mendengar putrinya berani melawan. "Sekarang seekor anjing yang aku besarkan, berani menggigit dan melawanku?!" tukasnya kasar.
Mendengar dirinya disamakan dengan binatang, Sally merasakan perih hati yang tersayat-sayat saat ayah kandung tempat rumah terakhirnya mengatakan hal keji padanya.
Wajah cantik itu tak kuasa menahan tangis, butiran bening mulai membasahi pipinya. Tamparan yang tak seberapa baginya begitu menyakitkan kala disamakan dengan hewan.
Ayah mana yang membuat anaknya kehilangan identitas, dia begitu sabar mengetahui niat ayahnya menjadikan Helena sebagai anak sah serta pewaris. Sedangkan dirinya hanya dikenal sebagai anak adopsi keluarga Esteban. Perih memang, rasanya dia ingin mengambil sebuah belati lalu menusuk dirinya di depan ayahnya.
"Ayah, sejauh yang ku tahu. Ibuku tidak pernah melakukan hal kotor di belakang mu, tapi kenapa di akhir hayatnya. Ayah selalu merendahkan beliau yang sudah meninggal!" teriaknya dengan penuh emosi.
"Itu karena dia melahirkanmu! Seharusnya dia tidak bisa hamil seperti yang seharusnya," ucap pak Caesar sedikit terpancing, membuat Sally tersentak kaget.