Matahari terbenam dengan sinar jingga yang memancar lewat celah-celah jendela rumah tua itu, menebarkan warna keemasan pada lantai kayu yang sudah lama tak tersentuh. Nara memandang dinding yang retak, dinding yang seakan menyimpan segala rahasia dan penderitaan. Sebuah rumah yang dulu dipenuhi tawa, kini hanya tinggal sepi dan sunyi, mirip dengan hatinya yang terluka.
Tiga bulan sudah berlalu sejak malam itu-malam di mana Kieran, pria yang tak pernah sekalipun memandangnya dengan penuh kasih, berdiri di hadapan altar dan mengucapkan janji yang kini terasa seperti kenangan pahit. Pernikahan mereka bukanlah pilihan, melainkan akibat dari keputusan yang diambil oleh ayahnya, yang terjerat utang pada keluarga Kieran. Utang yang kini bersemayam di antara mereka, seolah-olah menjadi bayangan gelap yang tak bisa dihindari.
Nara menghela napas panjang, merasakan perasaan terhimpit oleh ketidakpastian. Beberapa bulan terakhir, Kieran lebih sering menghilang, entah ke mana. Jika pun ia berada di rumah, mereka hanya berbagi ruang dalam keheningan yang mencekik. Nara tidak pernah berani untuk memulai percakapan. Setiap kali dia mencoba, tatapan tajam Kieran membuat lidahnya kelu, seolah kata-kata yang ingin diucapkannya dipatahkan oleh rasa takut.
"Apa yang harus kulakukan?" bisik Nara pada bayangannya yang terpantul di cermin retak di samping tempat tidurnya. Rambutnya yang panjang terurai, berkilau di bawah sinar temaram. Ia masih mengenakan gaun tidur lusuh yang semakin hari semakin tak layak dikenakan. Ia tahu, dalam sekejap, kebahagiaan yang pernah ia impikan seperti habis disapu angin.
Tiba-tiba, suara langkah kaki di luar pintu menarik perhatian Nara. Dengan jantung yang berdebar keras, ia melangkah menuju pintu. Pintu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Kieran dengan pakaian hitam yang rapi. Matanya yang gelap menatapnya sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangan. Ia masuk tanpa sepatah kata pun, meninggalkan jejak aroma anggur dan parfum mahal yang masih menempel di jasnya.
"Selamat datang," kata Nara, suara yang dipaksakan ceria, meskipun di dalam hatinya hanya ada kehancuran. Kieran hanya mengangguk, lalu duduk di kursi kayu di dekat jendela. Ia menatap keluar, seolah-olah mencari sesuatu di luar sana yang tidak bisa dilihat oleh Nara.
Nara berdiri diam, mencuri pandang dari balik tirai. Melihat Kieran dalam diam membuatnya merasa seolah-olah ada dinding kaca yang memisahkan mereka. Kieran, pria yang penuh misteri dan keangkuhan, pria yang tidak pernah menunjukkan perasaan apapun. Satu-satunya bukti kasihnya adalah pernikahan ini, yang dilakukannya demi memenuhi kewajiban. Tapi cinta, cinta itu tidak pernah ada di antara mereka.
Malam itu, Nara memutuskan untuk tidak membiarkan kesunyian menghancurkannya. Ia mendekat dan duduk di kursi di seberang Kieran, mencoba untuk mengatur napasnya yang mulai tidak teratur. "Kieran," ia memulai, suaranya bergetar, "kenapa kau menikah denganku?"
Kieran menoleh, alisnya sedikit terangkat, seakan-akan pertanyaan itu adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ia tertawa kecil, tapi tawanya itu lebih terdengar seperti gemerisik angin yang tidak menyenangkan. "Kau sudah tahu jawabannya, Nara. Aku tidak menikahimu karena ingin. Ini bukan tentang aku. Ini tentang kewajiban, tentang menepati janji yang telah dibuat ayah kita."
Tiga bulan pernikahan, dan itu adalah pertama kalinya Kieran mengakuinya. Kata-kata itu menyusup seperti racun, mengalir dalam pembuluh darahnya, membuat jantungnya berdegup lebih cepat, lebih nyeri. Perasaan terluka itu menahan napasnya. "Tapi, bagaimana dengan kita? Dengan hidup kita?"
Kieran mengalihkan pandangan, menatap bintang-bintang di luar sana. Sejenak, ada keheningan yang memadati ruang di antara mereka. Nara ingin sekali mendekat, tapi rasa takut yang mencekam membuatnya terhenti di tempat.
"Tidak ada 'kita', Nara," katanya, suara keras dan tegas, membuat Nara hampir terjatuh dari kursi. "Ini hanya perjanjian, sebuah kewajiban. Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu."
Nara merasa duniannya runtuh, seolah-olah langit di atasnya terbelah, dan kegelapan merayap ke seluruh jiwanya. Namun, ia tetap bertahan, menggenggam harapan yang semakin menipis. "Tapi... jika kau terus seperti ini, bagaimana kita bisa bertahan? Aku tidak bisa terus hidup dalam kebencian ini."
Kieran menoleh ke arahnya, ekspresinya masih sama, tapi matanya menyimpan sesuatu-sesuatu yang sulit diungkapkan. "Itulah masalahnya, Nara. Kau terlalu berharap."
Nara tidak tahu harus berkata apa. Kieran benar, ia terlalu berharap. Harapan itu seperti api yang perlahan menyala, hanya untuk ditiup angin dan mati dalam sekejap. Semua kenangan tentang tawa dan impian yang pernah ia miliki seakan-akan lenyap begitu saja, ditelan oleh kegelapan yang menyelimuti hati mereka.
Namun, malam itu, Nara membuat keputusan. Ia tidak akan membiarkan harapan itu mati begitu saja. Jika Kieran tidak akan bertarung untuk mereka, maka ia sendiri yang harus mencari cara untuk memperbaiki semuanya.
Dalam keheningan yang mencekam, ia memandang Kieran yang masih tidak mengalihkan pandangan dari jendela, seolah-olah bintang-bintang di langit dapat memberi jawaban yang dia cari. Dan dalam kesendirian malam itu, Nara tahu, jalan yang harus ia tempuh tidak akan mudah. Tapi, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia merasa ada sesuatu yang harus diperjuangkan.
Pagi itu, sinar matahari yang menembus celah jendela rumah tua itu seolah membangunkan Nara dari mimpi buruk yang berulang. Ia duduk di tepi ranjang, memandang sekelilingnya dengan pandangan kosong. Suara kicau burung di luar sana tak mampu mengusir rasa hampa yang mengisi dadanya. Beberapa jam lalu, Kieran meninggalkan rumah dengan ekspresi yang sama seperti malam sebelumnya-dingin, tanpa emosi. Tetapi, kali ini, Nara merasakan ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat hatinya semakin bingung.
Ia menghembuskan napas berat, mencoba menenangkan diri. Untuk pertama kalinya, ia merasa ingin berbicara. Ia harus menemukan jawaban, entah apa pun yang akan terjadi. Tanpa menunggu lama, Nara bergegas mengenakan pakaian sederhana, gaun biru muda yang dulu sering dipakai ayahnya saat masih hidup. Ia memandang ke cermin, melihat bayangan dirinya yang tak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya, hanya kali ini matanya lebih tajam, penuh tekad.
Suara pintu yang terbuka membuatnya terkejut. Kieran sudah kembali, dan kali ini, ia berdiri di ambang pintu seperti seorang raja yang tak bisa diganggu. Nara bisa merasakan hawa dingin yang menyertai kehadirannya. Tanpa berkata apa-apa, Kieran melewati Nara, menuju meja makan di sudut ruangan. Matanya menyapu sekeliling, seolah-olah memeriksa, memastikan semuanya tetap seperti seharusnya.
Nara merasa hatinya seperti dibekukan es. "Kieran, bisa kita bicara?" Suaranya terdengar lebih tenang dari yang dirasakannya, meskipun jantungnya berdegup keras.
Kieran menoleh dengan ekspresi yang sulit dibaca. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mendesah, lalu duduk di kursi yang menghadap jendela. "Kita tidak punya apa-apa untuk dibicarakan," katanya dengan suara datar, seolah-olah kata-katanya adalah hukum yang tidak bisa diganggu gugat.
Nara merasa kata-kata itu menampar wajahnya, namun ia tetap bertahan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. "Kieran, mungkin aku tidak tahu banyak tentang hidupmu. Mungkin aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Tapi, setidaknya beri aku kesempatan untuk mengetahui siapa dirimu, sebelum semuanya berakhir."
Kieran menyeringai sinis, mata hitamnya menatap Nara dengan penuh kebencian yang dalam. "Sebelum apa? Sebelum perjanjian ini selesai? Nara, aku tidak punya waktu untuk permainan ini. Aku sudah cukup terjebak dalam dunia yang penuh dengan perjanjian dan aturan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah memahami apa itu kebahagiaan."
Perkataan itu seperti pisau yang mengiris jantungnya, membuat Nara terdiam. Ia ingin bertanya, apa sebenarnya yang membuat Kieran sekeras itu? Mengapa ia menolak untuk membuka hati? Tapi, seolah-olah ada dinding tak terlihat di antara mereka, dinding yang dibuat dari kemarahan dan kebencian yang tak bisa dihancurkan.
"Kenapa kau selalu seperti ini, Kieran?" tanyanya, suaranya bergetar. "Apa kau benar-benar tidak peduli tentang kita?"
Kieran menatapnya lama, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Angin pagi masuk, mengibaskan tirai, membawa aroma bunga liar dari kebun belakang rumah. Suasana itu begitu kontras dengan perasaan Nara yang sesak di dadanya. Kieran diam, seolah-olah kata-katanya akan menghancurkan segalanya.
"Apa yang kau harapkan, Nara?" Suaranya kini lebih lembut, seolah-olah menyesal telah mengucapkan kata-kata yang membuatnya begitu jauh dari dirinya. "Kau hanya seorang gadis desa yang terjebak dalam perjanjian yang tak bisa kau ubah. Aku..." ia terdiam, tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Aku tidak ingin menghancurkanmu lebih dari yang sudah terjadi."
Nara menatapnya dengan mata basah. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak takut, bahwa ia bisa menghadapi kenyataan, tetapi perasaannya sudah berada di luar kendali. "Kieran, aku tahu ini sulit. Tapi jika kita terus seperti ini, kita hanya akan semakin jauh."
Kieran menoleh, kali ini tatapannya tidak sekeras biasanya. Ia terlihat lelah, seolah beban hidupnya terlalu berat untuk dipikul sendirian. Untuk sejenak, Nara bisa melihat secercah keraguan di matanya, seolah-olah ia mempertimbangkan sesuatu yang belum pernah dipikirkannya sebelumnya.
"Jangan membuat aku berharap, Nara," kata Kieran, suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku tidak ingin kau terluka lebih dalam."
Nara merasa seperti ada api yang menyala di dalam dirinya, mengusir kegelapan yang selama ini membekap hatinya. "Aku tidak akan terluka, Kieran, jika kau mau memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa lebih dari sekadar perjanjian ini. Aku ingin tahu siapa dirimu, apa yang membuatmu begitu terluka, dan kenapa kau begitu takut untuk mencintai."
Kieran menutup matanya, seolah-olah mencoba menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk. Ia tahu, jika ia membiarkan Nara terus berbicara, ia akan kehilangan kendali atas segalanya. Ia tak pernah membiarkan siapa pun mendekat, apalagi mencoba memahami dirinya. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang menolak untuk ditepis. Sesuatu yang ingin ia sembunyikan, sesuatu yang mungkin bisa mengubah segalanya.
"Mungkin aku memang takut, Nara," kata Kieran akhirnya, dengan suara yang begitu pelan hingga Nara hampir tidak mendengarnya. "Tapi aku juga takut kehilanganmu."
Nara terdiam, perasaannya seperti terhempas angin yang kencang. Kata-kata itu, yang keluar begitu tiba-tiba, membuatnya merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia rasakan. Sebuah harapan, sebuah perasaan yang melawan logika, sebuah rasa ingin tahu yang tumbuh di antara dinding kesedihan dan kebekuan di dalam dirinya.
"Jika kau takut kehilangan, maka kita masih punya peluang, Kieran," bisik Nara, suaranya penuh keyakinan. "Mari kita mulai dari awal. Beri aku kesempatan untuk membuatmu percaya bahwa kita bisa lebih dari ini."
Kieran menatap Nara, matanya memancarkan cahaya yang samar-samar, seperti pagi yang berusaha menembus malam yang gelap. Meskipun hatinya masih penuh dengan kebingungan, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia tidak tahu bagaimana perasaan ini akan berakhir, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa ingin mencobanya.
Malam masih panjang, dan bayangan di antara mereka masih luruh di udara, tetapi di dalam diri mereka berdua, ada secercah harapan yang sulit diungkapkan-sebuah harapan yang mungkin bisa mengubah nasib mereka selamanya.
Hari itu, langit tampak cerah, seolah merayakan keputusan yang baru saja dibuat di rumah tua itu. Nara merasa matanya masih terpejam dengan rapat saat sinar matahari menyelinap masuk melalui celah jendela. Pagi itu, ada perasaan baru yang mengisi dadanya-perasaan yang sangat jarang ia rasakan sejak pernikahan mereka dimulai: harapan.
Ia bangkit dari tempat tidur dengan langkah ringan, menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang masih sama, penuh dengan barang-barang yang diabaikan dan kenangan pahit. Namun, kali ini ia tidak merasa takut. Ada semangat baru, seperti api yang menyala di dalam dirinya, mengusir bayangan gelap yang selama ini mengelilinginya.
Di luar, suara ayam berkokok dan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah membuat Nara tersenyum kecil. Ia tahu, langkah pertama yang harus ia lakukan adalah memperbaiki hubungan dengan Kieran, meskipun ia tahu tidak akan mudah. Tadi malam, Kieran sempat menatapnya dengan pandangan yang aneh-sedikit ragu, namun ada secercah harapan yang berpendar di mata gelapnya. Itu sudah cukup untuk membuat Nara merasa lebih bersemangat.
Ia menuju ke dapur, mengisi teko dengan air dan meletakkannya di atas kompor. Tanpa sadar, matanya melirik ke jendela, tempat Kieran sering duduk di pagi hari. Namun, hari itu, tempat itu kosong. Ia menyadari bahwa Kieran pasti masih sibuk dengan urusannya di luar, di dunia yang tidak pernah ia kenal. Dunia yang penuh dengan kebesaran dan kekuasaan, yang kadang-kadang membuatnya merasa seperti seorang pendatang yang tak diinginkan di tempat itu.
Tak lama kemudian, langkah kaki di luar terdengar semakin mendekat. Nara berbalik dan melihat Kieran berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih yang bersih, dasi hitam yang melilit lehernya, dan ekspresi serius yang biasa. Tapi, kali ini, ada sesuatu yang berbeda-ada kelelahan yang samar di wajahnya, dan matanya tampak lebih lembut dari biasanya.
"Selamat pagi, Kieran," sapa Nara, suaranya dipenuhi harapan dan keberanian. Kieran menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Pagi, Nara," jawabnya, suaranya berat, seolah-olah setiap kata yang diucapkannya membutuhkan usaha besar untuk dikeluarkan.
"Apakah kau ingin sarapan?" tanya Nara, berusaha membuat suasana lebih santai. Ia tahu, untuk mendekatkan Kieran padanya, ia harus mulai dengan hal-hal kecil.
Kieran mengangkat alisnya, kemudian melangkah mendekat, duduk di kursi yang ada di dekat meja makan. Matanya masih mengawasi Nara, penuh rasa ingin tahu yang sulit dijelaskan. "Sarapan? Tidak, aku... hanya ingin tahu apa yang kau rencanakan hari ini," jawabnya dengan nada yang tetap cemas, tapi ada ketulusan di baliknya.
Nara tersenyum, meskipun hatinya berdebar keras. "Aku berpikir untuk menghabiskan waktu denganmu. Mungkin kita bisa berjalan-jalan di kebun belakang, berbicara tentang apa pun yang ingin kita bicarakan."
Kieran terdiam, menatap Nara seolah-olah sedang menimbang-nimbang kata-kata itu. Beberapa saat berlalu, kemudian ia mengangguk perlahan. "Baiklah, kita bisa mencoba itu," katanya, meskipun suaranya terdengar ragu.
Mereka berjalan keluar rumah, menyusuri jalan setapak di kebun belakang yang penuh dengan bunga liar. Udara pagi itu segar, membawa aroma tanah basah dan bunga yang mekar. Nara berusaha menahan napasnya, berusaha membuat dirinya terlihat sepercaya mungkin, meskipun hatinya terus berdebar.
Kieran berjalan di sampingnya, tangan yang terlipat di dada seperti sebuah pertahanan. Ia tidak tahu harus memulai dari mana, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Nara adalah gadis yang penuh misteri baginya-gadis yang begitu sederhana dan jujur, yang membuatnya merasa seperti seorang asing di dunia yang selalu dia kenal.
"Kieran," Nara memulai, suaranya lembut, "apakah kau pernah berpikir tentang masa depanmu? Tentang apa yang benar-benar kau inginkan dalam hidup ini?"
Kieran menghentikan langkahnya sejenak, menatap Nara dengan sorot mata yang sulit dimengerti. "Masa depan? Aku hanya berusaha menjalani hari-hari dengan memenuhi kewajiban yang ada. Aku tidak pernah punya waktu untuk berpikir tentang apa yang aku inginkan."
Nara merasakan sakit di dalam hatinya mendengar itu. Ia tahu, Kieran telah dibesarkan dalam dunia di mana kebebasan adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dia miliki. Ia ingin meraih tangan Kieran, tapi takut jika ia terlalu cepat, ia justru akan membuat pria itu menarik diri.
"Kau tahu," kata Nara, melawan rasa takutnya, "hidup tidak hanya tentang kewajiban. Ada kebahagiaan yang bisa kita ciptakan, bahkan dalam kesulitan sekalipun. Jika kau mau, aku bisa membantu menemukan itu, Kieran."
Kieran menoleh ke arah Nara, dan untuk pertama kalinya, Nara melihat senyum yang hampir tak terlihat di wajahnya. Senyum itu datang dan pergi secepat kilat, namun cukup untuk membuat jantung Nara berdetak kencang.
"Terima kasih, Nara," kata Kieran, suaranya terdengar seperti desah lega. "Mungkin aku memang butuh bantuan, meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya."
Nara meraih tangannya dengan lembut, dan kali ini Kieran tidak menarik diri. Sentuhan itu memberikan rasa hangat yang mengalir melalui tubuh mereka, menyatukan dua jiwa yang terpisah oleh kenyataan.
"Jangan takut untuk mencoba," bisik Nara, matanya bertemu dengan mata Kieran. "Kita tidak akan tahu apa yang bisa kita capai jika kita tidak mencoba."
Kieran menatapnya dalam-dalam, mencari jawaban di mata gadis itu. Ada sesuatu yang tumbuh di dalam dirinya-perasaan yang tidak bisa dia pahami sepenuhnya, tapi perasaan itu terasa benar. Ia mengangguk, merasakan sebuah kelegaan yang aneh dan menyakitkan pada saat yang sama. "Mungkin kau benar, Nara. Mungkin aku harus mencoba."
Di bawah langit yang cerah itu, di tengah bunga-bunga liar yang bergoyang di angin, mereka berdiri berdekatan, seolah-olah dunia di sekitar mereka berhenti sejenak, memberi mereka kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru. Sebuah awal yang belum pasti, namun cukup untuk memberi harapan di hati mereka yang terluka.
Dan meskipun perjalanan mereka penuh dengan ketidakpastian, di saat itu, mereka berdua tahu bahwa mereka sudah melangkah ke arah yang benar-menuju masa depan yang bisa mereka ciptakan bersama, meskipun penuh dengan tantangan dan luka lama yang harus disembuhkan.