Mungkin menurut orang-orang, ini adalah tempat yang paling menyenangkan. Tapi tidak bagiku. Bar yang paling disukai di new York ini sangatlah ramai. Hiruk pikuk orang -orang dan bau alkohol sangat terasa. Perjudian geng motor serta bau rokok membuatku ingin sekali berteriak.
Sialnya hari ini ada salah satu karyawan yang tidak bisa hadir. Itu menjadikan aku semakin sibuk.
Sebenarnya hari ini aku terpaksa bekerja shift malam. Karena harus membayar sewa rumah. Bulan ini aku yang harus membayarnya. Karena pacarku sudah memenuhi kebutuhan makan harianku. Ya, kami berdua tinggal bersama sudah satu tahun.
"Hai gadis cantik! Lihatlah meja nomer 8! Saya meminta root beer Texas lima gelas! Kenapa Tidak ada satupun!" suara keras itu membuatku kesal.
Aku segera menuju ke meja itu sambil membawakan apa yang mereka minta. Sialnya aku terlalu cepat melangkah hingga menabrak seorang geng motor.
Gelas pecah di lantai. Itu sangat kacau sekali. Pandangan pria geng motor itu seperti ingin mencekik aku. Aku tahu jaket dengan gambar singa di belakang itu sangat di takuti disini.
"Maaf, maaf saya akan bereskan semua ini," ucapku dengan penuh rasa bersalah.
"Oh sial! Bar ini sangat buruk!" wajah pria geng motor itu sangat menyeramkan.
Kini Bos datang dengan wajah seakan ingin memakanku sampai habis.
"Selena, hari ini kau bener benar mengacaukan semuanya!"
"Pecat dia saja! Dia itu karyawan yang lambat dan ceroboh!" ucap geng motor yang merupakan pelanggan di bar ini.
Aku menunduk mendengar ucapan itu. Mataku berkaca kaca sekarang. Hatiku benar benar kacau.
"Selena! Kau benar benar karyawan bodoh! Aku memecatmu sekarang juga!"
"Tolong, jangan pecat saya! Saya harus membayar sewa rumah," ucapku dengan nada memohon.
"pergi sekarang juga! Kemasi barang barangmu sekarang! Aku tidak akan membiarkan bisnis ini rusak karena kau!" ucap bosku dengan nada tinggi.
Aku berusaha memohon dengan berlutut kepadanya . Tapi dia malah menendangku dengan kasar. Hingga pelipisku terluka. Orang orang di sekitarku malah menertawakan kejadian yang aku alami.
Aku keluar dari bar itu dengan mengumpat. Aku harap bar itu akan terbakar secepatnya. Sialan bos itu benar benar gila.
Aku bingung harus berbuat apa lagi sekarang. Pekerjaan satu satunya hilang. Aku bingung harus bekerja dimana lagi.
Sampai di depan pintu rumah. Aku membuka kunci dengan cepat. Berharap Cody memelukku Karena aku sedang tidak baik-baik saja.
"Cody sayang, aku pulang," ucapku sambil berjalan mencari sosoknya.
Mataku membelalak saat melihat kamarku yang berantakan. Apa ada pencuri disini? Lemariku juga sangat kacau. Bahkan kalung berharga pemberian ibuku juga hilang.
Barang barang milik pacarku juga tidak ada. Baju, koleksi sepatu dan laptopnya tidak ada sama sekali. Kulihat dapur yang begitu berantakan. Ingin rasanya berteriak. Di atas meja dapur ada gelas susu yang kotor lalu di bawahnya ada sebuah kertas. Aku membacanya dengan hati yang berdebar.
"Maafkan aku Selena. Tapi kita memang harus segera berpisah. Aku muak menjalin kasih dengan perempuan miskin sepertimu. Kau selalu membuat hidupku susah. Jangan cari aku lagi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu," tanganku bergetar membaca surat ini.
Aku hancur sekali. Tanganku segera melepar gelas kaca ke lantai dengan emosi yang memuncak. Tiba tiba saja suara telfon berbunyi. Aku rasa itu tagihan uang sewa rumah.
"Halo maaf aku belum bisa melunasi uang sewa rumah. Berikan aku waktu," ucapku dengan cepat.
"Ya Ampun! Malang sekali nasibmu. Hei bodoh! Aku menelpon dari pinjaman. Apakah kau perempuan yang bernama Selena Watson?"
"Benar, aku selena Watson. Ada apa sebenarnya? Aku merasa ini pasti salah,"
"Kau adalah penjamin Cody Simpson. Semua panggilan dan tagihan di arahkan kepadamu. Jadi kau harus membayar semua hutang,"
"Maksudmu Cody meminjam uang dengan cara mengatasnamakan aku?" tanyaku dengan pelan.
"Iya kau benar sekali Bu. Tolong lunasi hutangnya,"
"Berapa yang harus saya bayar?"
"Lima ratus ribu dollar,"
"seberapa cepat saya harus membayarnya?" Tanyaku menelan ludah.
"Tiga Minggu dari sekarang. Tolong segera di lunasi. selamat malam," bunyi bip terdengar dan aku hanya bisa mematung dengan mata berkaca kaca.
Pagi harinya aku terbangun dengan sangat buruk. Suara dobrakan Pintu membuatku terbangun. Aku berjalan dengan malas lalu membuka pintu.
"Jam berapa ini selena? Harusnya kau bangun lebih awal!" pemilik rumah melihat rambutku yang berantakan sekali. Semalam memang sangat kacau dan aku memang sangat berantakan sekarang.
"Sekarang kau pergi saja dari rumah ini! Aku tahu kau pasti tidak bisa membayar sewa rumah kan? Heh, dasar gadis pemalas. Sudahlah, aku muak denganmu. Kau Kemasi semua barangmu sekarang juga. Aku akan kesini satu jam lagi. Cepat lakukanlah!" Bentak patty dengan mata melotot.
"Tolonglah Bu patty. Beri aku waktu satu bulan lagi. Aku janji pasti akan membayar uang sewa rumah ini," ucapku dengan wajah memohon.
"Oh tidak, aku benci wajah itu. Kau sungguh miskin. Sudah cepat Kemasi barangmu!" ucap Bu patty lalu berbalik dan pergi dengan cepat.
"Sial! Dasar gendut!" ucapku dengan lirih. aku hanya bisa mendengus kesal.
Kini aku berjalan sambil membawa koper. Sebenarnya aku bingung harus pergi kemana. Jadi aku pergi saja ke taman. Aku duduk di kursi dengan pikiran kacau. Berharap ada keajaiban datang dan aku bisa hidup dengan nyaman.
Saat aku baru saja bersender dari kursi tiba tiba mataku menangkap keberadaan pacarku. Ya ampun dia sedang bersama perempuan di dalam mobil.
Mereka sedang bermesraan. Aku tidak bisa membiarkan mereka bahagia di atas penderitaanku.
Tanganku menggedor gedor kaca mobil dengan keras. Wajahku begitu marah sekali.
"Keluar kau Cody! Dasar pria tidak tahu diri! Keluar sekarang juga!" Teriakku dengan lantang membuat pejalan kaki menyororti wajahku.
"Sial!" Cody membuka pintu dengan wajah meledak.
"Hei! Kau sekarang bukanlah pacarku. Jadi pergi saja kau dari hadapanku!" ucap Cody dengan keras.
"Cody? Bagaimana bisa kau melakukan itu kepadaku? Dulu Kau mengatakan kepadaku jika kau sangat mencintai aku. Kau juga berkata jika akan menikahi aku. Tapi kenapa kau pergi dengan wanita jelek itu, hm?"
"Jangan asal bicara kau!" Cody mendekat ke wajahku.
"Kau itu perempuan tidak berguna. Kau itu hanya seorang karyawan di bar. Gajimu itu sedikit. Kau sungguh miskin dan jelek!"
Aku menatap wajahnya dengan rasa marah di dalam dada. Dia berani sekali memaki aku di depan umum.
"Bagaimana dengan hutangmu cody? Kau yang berhutang, kenapa harus aku yang membayarnya? Kau jahat sekali cody!" Ucapku dengan berteriak. Aku tidak malu sama sekali.
"Ayo sayang, kita pergi saja dari sini," ucap wanita yang ada di dalam mobil.
Mereka berdua mengendarai mobil dengan cepat . Sementara aku melihat kepergian mobil itu hanya bisa terdiam seperti patung. Cody benar benar menghancurkan aku.
"Ya Tuhan? Bagaimana caranya untuk membayar hutang lima ratus ribu dollar?"
Cristian's pov
"Kau sangat manis Cristian. Aku sangat menikmati kencan ini," ucap jeslyn dengan wajah bahagia.
Aku hanya tersenyum malas. Entahlah mungkin jeslyn hanya sebagai hiburan aku saja. Aku tidak pernah peduli dengannya sedikitpun.
aku menikmati sajian makan malam di hotel yang mewah ini dengan senang. Mereka benar benar menjamu aku dengan sangat baik. Itu karena mereka tahu jika aku adalah anak dari seorang milyader.
Ponselku berdering ketika aku sedang menikmati caviar yang ada di mulutku.
"Halo, Ayah," ucapku dengan ramah.
"Cristian, aku berharap kau menemui Ayah secepatnya. Ini penting sekali,"
"Baik, Ayah aku segera menemuimu," ucapku dengan cepat lalu memasukkan ponselku ke dalam saku celana.
"Kau mau kemana Cristian?" tanya Jeslyn dengan wajah seolah tidak ingin aku pergi.
"Itu bukan urusanmu," ucapku dengan datar. Aku berdiri dan melangkah namun Jeslyn menggenggam lenganku dengan keras.
"Kita berdua bahkan belum sampai ke tahap selanjutnya yang lebih romantis. Kau mau kemana sayang? Jangan buru buru. Aku sangat merindukanmu," ucap Jeslyn dengan suara manja.
"Lepaskan wanita murahan!" ucapku dengan tegas. Aku segera melangkah cepat menuju ke mobil.
Sekarang aku tidak peduli dengan Jeslyn. Karena dia adalah perempuan yang sama seperti perempuan yang pernah aku kencani. Mereka semua tentu hanya sebagai penghibur aku saja jika aku sedang suntuk.
Gerbang tinggi berbahan besi yang sangat rumit itu kini terlihat. Mobilku masuk ke dalam halaman aspal yang berkelok. Pepohonan yang begitu indah terlihat di sisi jalan. Rumah besar milik Ayahku ini sangatlah nyaman sekali. Sampai di depan pintu rumah. Entah kenapa hatiku merasa berdebar. Aku takut terjadi sesuatu dengan Ayahku. Mengingat dia mempunyai penyakit yang cukup serius.
"Selamat datang, pak," ucap pelayan perempuan dengan sopan.
"Ayah, ayah," panggilku dengan cemas sambil berjalan melewati ruang tamu dan ruang tengah. Aku tidak mempedulikan beberapa karyawan ayah yang memberi hormat kepadaku.
Kulihat ayah berdiri di balkon dengan perawakan yang sudah tua. Aku menyapanya dengan pelan. Sepertinya dia terlihat baik baik saja. Dia tersenyum kepadaku dengan hangat.
"Aku kira kau tidak akan ke sini," kata Ayah tertawa kecil sambil menepuk lenganku dengan akrab.
"Tidak mungkin aku hanya diam saja, ketika kau memerintahkan aku menemuimu,"
"Kau memang anak yang baik Cristian. Ya setidaknya kau tidak seperti Lucas," ucap Ayah lalu menghela nafas dengan berat.
"Ayah, aku mendengar dari ibu bahwa kau sering mengunjungi dokter secara teratur. Apa kau baik baik saja? Bagaimana dengan kankermu?"
Tangannya mengelus lenganku dengan lembut sambil memandang wajahku.
"Kau sungguh memperhatikan Ayahmu. Sungguh kau sangat berbeda sekali dengan Lucas adikmu,"
"Ayah tolonglah... Aku serius," ucapku mengerutkan dahi.
Ayah mengangguk angguk pelan.
"Baiklah, kali ini ayah akan berbicara serius denganmu. Jadi sebenarnya aku sudah tidak mampu untuk memimpin bisnis. Kau lihat sendiri bukan? bagaimana Ayah sekarang?" Ayahku membentangkan kedua tangannya sejenak. Kulit wajahnya yang tampak keriput seakan menggambarkan betapa dia begitu berjuang dalam mengembangkan bisnisnya.
"Ayah ingin sekali kau yang memegang bisnis. Ayah ingin mempercayakan bisnis ini untukmu. Ayah tidak mungkin menyerahkan bisnis perusahaan kepada adikmu Lucas. Karena kau tahu 'kan? Jika pengeluaran dia sangat banyak. Dia tidak bisa mengontrol apa yang penting dan tidak penting. Jadi Ayah hanya bisa berharap kepadamu," ucapnya berhenti sejenak lalu dia menatapku dengan serius.
"Ayah juga mempunyai syarat untukmu. Syaratnya adalah kau harus segera menikah. Kau tahu Julia? Dia sangat pandai dalam berbisnis. Keluarganya juga sangat baik. Kecantikan Julia tidak di ragukan lagi. Apa kau...?
"Tunggu tunggu, maksud Ayah?"
"Ya maksudku, mungkin Julia sangat cocok denganmu,"
"Maaf, tapi aku sudah mempunyai tunangan," ucapku dengan spontan. Itu karena aku tidak tertarik dengan Julia. Kita pernah bertemu dan mengobrol dalam acara bisnis. Sungguh aku tidak tertarik dengan Julia sedikitpun. Hal lain yang menjadi alasanku belum menikah karena aku tidak percaya jika benar benar ada wanita yang mencintaiku. Ibuku bahkan menceraikan Ayah. Ibuku seorang yang sangat sombong dan ia hanya cinta dengan harta Ayahku.
"Bagus itu. Fantastis! Kapan kita akan berbicara? Aku ingin sekali mengobrol dengan kalian berdua," ucap ayah dengan antusias.
"Secapatnya ayah, akan aku atur," ucapku dengan yakin. Sial, bagaimana aku harus mencari tunangan? Aku tidak bisa mendapatkan tunangan secepat itu.
"Baiklah , begini saja. Kau undang tunanganmu itu ke acara pesta pensiun Ayah. Oke, hari Sabtu ya?"
Hari Sabtu adalah tiga hari lagi dari sekarang. Oh tuhan! Apa ayahku bercanda.
"Baik ayah, Hari Sabtu,"
Bagiamana mungkin aku berkata seperti ini. Aku bahkan tidak memiliki tunangan sekarang.
***
Kini aku di depan rumah sahabatku. Karena aku tidak tahu harus pergi kemana lagi. Mungkin hanya Lili dan Sarah yang bisa menolongku sekarang.
Aku memencet bel dengan tangan bergetar. Karena di luar cuacanya sangat dingin lalu di tambah dengan perasaanku yang hancur. Itu menambah semakin tersiksanya aku.
Wajah yang pertama kali kulihat sekarang adalah Lili. Dia sahabatku saat di sekolah SMA. Gadis dengan rambut keriting itu memelukku. Dia mengatakan jika sangat merindukan aku. Lalu dia melepas pelukannya dan melihat wajahku dengan kasihan.
"Ya Tuhan! Apa yang terjadi denganmu? Apa kau menangis semalaman? Matamu tampak sangat sedih,"
Aku hanya bisa mengangguk mendengar kalimat yang terucap dari mulut Lili.
"Ya Tuhan, cepat masuklah Selena," kata Lili menarik pergelangan tanganku dengan cepat.
Sarah kini keluar dari kamarnya dan dia juga sangat kaget melihat kedatanganku. Tentu dia kaget karena seakan aku adalah gelandangan. Aku membawa tas besar dan wajahku juga sangat kusut.
"Ceritakan kepada kami berdua apa yang terjadi?" Sarah memegang kedua pergelangan tanganku.
Aku semakin menangis sesegukan. Mengingat betapa jahatnya Cody.
"Apa kau tersakiti karena Cody? Apa dia meminta putus denganmu?" tanya Lili sangat penasaran.
Aku mengangguk tiga kali dan kini aku mulai berbicara. Aku berusaha mengontrol emosiku.
"Aku sangat kacau sekarang. Hidupku benar benar seperti sampah. Aku di pecat dari pekerjaanku. Cody juga tiba tiba memutuskan hubungan denganku. Dia pergi membawa uang dan kalung emas milikku. Bahkan dia meminjam uang atas nama aku. Sekarang aku yang harus membayar semuanya. Kalian tahu berapa jumlahnya? Lima ratus ribu dollar!" Ucapku dengan mata membelalak. Aku menghela nafas dengan berat.
"Dasar! Cody gila! Aku berjanji akan menonjoknya jika aku bertemu dengan Cody!" teriak Sarah dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Sebaiknya kau bekerja di tempatku saja!" ucap Lili dengan antusias.
Aku terdiam sejenak. Pekerjaan Lili di sebuah hotel. Ia menjadi tukang bersih bersih hotel. Itu artinya harus membersihkan setiap kamar yang kotor di hotel.
"Baiklah mungkin itu tidak terlalu buruk. Aku akan mencobanya," ucapku dengan menganggukkan kepala.
Untuk sementara aku tinggal di rumah Lili dan Sarah. Hanya mereka yang saat ini bisa membantu aku.
Beberapa hari setelahnya aku sudah siap untuk bekerja di hotel. Lili mengajariku banyak hal tentang pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih.
"Lili, sebenarnya aku gugup sekali bekerja di hotel semewah ini. Karena semua tamu yang ada di hotel ini adalah orang orang penting. Aku takut akan membuat kecerobohan," ucapku dengan lirih.
"Kau tenang saja. Jika sudah terbiasa kau pasti bisa melewati semuanya dengan baik. Sekarang giliranmu membersihkan kamar nomer 311,"
Kini aku mendorong peralatan bersih bersih ku. Ada lap dan segalam macem alat kebersihan. Aku melihat pintu kamar itu dan ternyata tidak terkunci. Ya, mungkin tamu itu lupa mengunci pintu setelah keluar kamar.
Aku berjalan dengan santai dan tiba tiba saja aku melihat sepasang kekasih sedang ada dalam satu selimut di atas tempat tidur.
"Maaf, maafkan saya. Saya benar benar tidak tahu ada orang di kamar ini," seruku dengan cepat dan segera melangkah keluar tapi tiba tiba saja pria itu berteriak kencang.
"Hei! Wanita bodoh! Sini kau!" Seru pria itu dan aku terpaksa harus menghentikkan langkah.
Aku berbalik dengan pelan. Kulihat wajah pria itu tampak marah.
"Kemari kau!" Perintahnya dengan tegas. Sementara kulihat wanita yang ada di sampingnya melihatku seperti sampah.
"Jika kau tidak ingin di pecat. Jangan sampai kau mengatakan kejadian ini pada siapapun. Kau mengerti?"
"Baik saya mengerti Tuan," ucapku dengan menunduk. Karena aku benar benar takut sekali. Lagi pula aku akan bercerita kepada siapa. Aku bahkan tidak mengenal pria di depanku ini.
"Keluar sekarang juga!" ucap pria itu dengan tegas.
Kini aku segera saja pergi dari kamar itu dan menutup pintu dengan rapat. Bola mataku melihat ke atas sambil menarik nafas berat berjalan di lorong yang panjang.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa ceroboh sekali. Sebenarnya pria itu juga salah. Kenapa dia tidak mengunci pintunya? Dasar pria gila. Ah sudahlah. Aku tidak perlu memikirkan pria itu. Aku berharap tidak akan bertemu dengan pria itu lagi," ucapku dengan penuh harap di dalam hati.
Cristian's pov
"Aku sudah tidak bernafsu lagi," ucapku dengan cepat duduk.
Wanita yang merupakan sekertarisku ini tiba tiba berwajah cemberut.
"Christina tolonglah. Jangan membuat aku marah. Aku masih menginginkanmu Christian," ucap Kitty dengan wajah cemberut. Dia begitu manja sekali.
"Kapan-kapan saja kita akan melanjutkan lagi," ucapku dengan malas. Meski aku tidak tahu kapan aku akan tertarik lagi dengan Kitty.
Kini aku segera pergi ke kamar mandi. Setelahnya aku sudah siap untuk menemui klien di hotel ini. Satu jam lagi meeting akan di mulai. Aku berniat pergi ke restoran hotel ini untuk makan.
Kitty memegang lenganku dengan manja. Wajahnya sangat terlihat memohon.
"Crhistian aku berharap kau tidak akan melupakan kejadian ini sayang,"
"Lepaskan aku Kitty," ucapku dengan tegas sambil menggerakkan tanganku dan Kini aku terlepas dari genggamannya.
"Christian!" Panggil Kitty dengan nada marah.
"Hentikan suara kerasmu itu. Aku tidak suka! kuberikan kau uang saja," ucapku dengan cepat membuka ponsel dan mengirimnya sejumlah uang.
Kitty segara melihat layar ponselnya dan terlihat nominal yang sangat banyak menurut Kitty.
"Ini terlalu banyak Christian. Kau sangat baik sekali," ucap Kitty dengan tersenyum manis melihat layar ponselnya.
"Nikmatilah!" Kini aku pergi dengan langkah cepat setelah mengatakan itu.
Sampai di sebuah restoran yang ada di hotel ini. Terlihat oranamen yang begitu mewah sekali dengan lapisan emas. Semuanya serba berwarna emas. Kesan mewah sangat kental sekali di ruangan ini.
Saat aku sedang menikmati makanan lezatku tiba tiba saja seseorang menyenggol siku tanganku. Sial, ternyata dia adalah tukang bersih bersih hotel yang salah masuk ke kamarku.
"Kenapa kau selalu saja ceroboh! Dasar wanita bodoh!" ucapku dengan kesal.
"Maaf tuan, maafkan saya," ucapnya dengan wajah bersalah. Tangannya memegang alat bersih.
"Kau pasti tidak akan percaya harga makanan ini. Ini makanan sangat mahal. Kalau sampai jatuh aku yakin kau tidak akan mampu membayarnya," ucapku dengan kesal sambil melihat makanan lezatku yang hampir saja berantakan gara gara gadis bodoh di depanku ini.
"Maaf tuan, sekali lagi saya minta maaf," ucapnya dengan tidak fokus melihat wajahku. Gadis ini melihat ke belakangku dan tiba tiba saja dia berjalan dengan cepat ke arah yang ada di belakangku. Dasar tidak sopan sekali gadis tukang bersih ini.
"Cody! Untuk apa kau ada di hotel mahal ini? Kau bahkan bisa makan di restoran ini. Ya Tuhan, aku tidak percaya ini," ucap gadis tukang bersih itu dengan nada tinggi. Ia memarahi seorang pria yang sedang duduk bersama dengan wanita cantik.
Sialnya aku mendengar pertengkaran mereka dan itu membuatku tidak nyaman.
"Hei! Selana! Jangan membuatku marah. Sekarang kau ini bukan lagi menjadi kekasihku! Sebaiknya kau pergi sana!" Bentak pria itu dengan marah.
"Bagaimana bisa kau makan dengan gadis yang ada di sampingmu itu di sebuah hotel yang mahal seperti ini? Sedangkan kau mempunyai hutang lima ratus ribu dollar! Dan aku harus melunasi hutang itu! Kau benar benar jahat Cody! Kenapa kau harus memakai namaku untuk meminjam hutang itu?"
Tiba tiba saja saat gadis itu selesai berbicara. Pria itu menggebrak meja. Aku yang penasaran melihat mereka berdua. Karena beberapa orang juga melihat mereka yang sedang bertengkar .
Kulihat pria itu menampar dengan kasar gadis itu. Entah kenapa aku sangat marah sekali dengan tindakan pria itu.
Gadis tukang bersih- bersih itu melawan pria itu dengan berusaha menonjok tapi sayangnya gadis itu terlalu lemah. Gadis itu mendapat pukulan di wajahnya hingga hidungnya berdarah. Sial! Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlangsung. Aku sangat benci dengan pria yang menyakiti gadis seperti itu. Aku berjalan cepat menuju ke meja itu.
"Jangan sakiti gadis ini! Jika kau tidak pergi dari sini sekarang juga. Aku akan mengusirmu dari sini!" Bentakku kepada pria itu dengan kasar.
Dia melihatku dengan sinis. Tapi setelahnya dia terlihat ketakutan. Mungkin karena penampilanku yang menandakan aku adalah orang kaya. Itu membuat pria dan gadis di sampingnya itu memilih pergi dengan cepat dari meja restoran .
"Apa kau baik baik saja?" tanyaku dengan khawatir kepada gadis tukang bersih-bersih itu. Kulihat ia menunduk dengan memegangi hidungnya yang berdarah.
Aku memegang tangannya dengan cepat.
"Ikut aku ke rumah sakit sekarang," ucapku dengan cepat.
Sampai di rumah sakit aku menunggu di ruang tunggu. Aku berharap gadis itu baik baik saja. Karena aku sungguh kasihan melihat gadis yang terluka seperti itu.
"Apa kau baik baik saja?" tanyaku dengan cemas melihat gadis yang ada di depanku.
"Aku sudah merasa baik-baik saja sekarang," jawab gadis itu sambil memegangi bibirnya yang terlihat lebam. Hidungnya kini juga sudah tidak lagi keluar darah.
"Maaf, tapi aku tidak bisa membayar kebaikan anda tuan, saya sungguh akan mengganti uang nya jika saya mendapatkan gaji di hotel itu. Atau mungkin aku akan di pecat. Tapi aku janji akan membayar biaya rumah sakit," kata gadis itu dengan sungguh sungguh.
Aku menarik nafas dengan pelan. Aku mempunyai ide yang cemerlang sekarang. Mungkin gadis ini sangat membutuhkan uang yang banyak. mengingat percapakan dia dengan mantan pacarnya saat di hotel tadi.
"Ini kartu namaku. Aku harap kau mau bekerja di tempatku," ucapku dengan tegas.
Gadis itu menerima kartu namaku dengan wajah heran.
"Aku pergi dulu, sampai ketemu lagi," ucapku dengan cepat melangkah pergi.
Semoga saja dia akan menemuiku di kantor besok pagi. Karena aku sangat membutuhkan gadis itu.