Setelah malam pertama yang berakhir ambigu-Dion menatapku tanpa ekspresi, aku telanjang di lantai-semuanya bergerak terlalu cepat. Malam itu, Dion tidak menolak, tapi juga tidak menyambut. Dia cuma mengambil selimut, menutupiku, dan bilang, "Kita bahas lagi besok. Malam ini, istirahat saja."
Malam itu, aku tidur di sofa ruang tamu penthouse-nya. Marah, kecewa, tapi anehnya, sedikit takut. Pria itu menakutkan, bukan karena dia marah, tapi karena dia datar.
Pagi harinya, kami kembali ke kantor pengacara yang sama, tapi kali ini bukan untuk menikah, melainkan untuk meresmikan detail dari bencana yang disebut kontrak ini.
Aku duduk di kursi yang sama, tapi kini lebih tegar. Semalam, aku gagal membangkitkan gairahnya. Aku gagal menggunakan tubuhku sebagai senjata. Hari ini, aku akan menggunakan kata-kataku.
Pengacara Dion, namanya Pak Bima, mulai bicara soal kompensasi, tunjangan bulanan, dan jadwal pertemuan sosial yang harus kami hadiri sebagai pasangan. Aku mengangguk, semua itu omong kosong.
"Bisa kita langsung ke Klausul 4.1?" potongku, tatapanku langsung ke Dion. Dia mengenakan kemeja biru muda yang terlihat sangat rapi, kontras dengan kekacauan di hatiku.
Dion mengangguk, "Silakan, Keira."
"Aku sudah bilang, aku nggak mau ini cuma pernikahan di atas kertas. Aku mau skinship," kataku, mengulang kata-kata yang kubayangkan akan membuat Adnan menangis darah.
Pak Bima berdeham. "Nona Keira, kami sudah jelaskan. Kontrak ini murni bisnis. Tuan Dion tidak memiliki kewajiban untuk-"
"Aku nggak peduli kewajiban atau bukan," sergahku, suaraku meninggi sedikit. "Aku butuh malam pertama yang kubayangkan itu. Aku butuh mengakhiri statusku ini. Aku mau mahkota ini hilang malam itu juga, karena status ini yang bikin aku dihina."
Aku melihat kerutan tipis muncul di dahi Dion. Dia sedang menganalisis, bukan emosi.
"Apa motif Anda, Nona Keira?" Dion bertanya, suaranya tenang, seperti suara ombak yang menarik pasir.
"Motifku? Aku mau balas dendam pada mantanku, Adnan," jawabku, jujur dan blak-blakan. Aku memutuskan untuk membuang semua topeng. "Dia ninggalin aku karena aku pertahanin keperawananku. Sekarang, aku mau ngasih ini ke pria yang nggak peduli, biar dia tahu betapa nggak berharganya yang aku jaga selama ini. Puas?"
Pak Bima terlihat ngeri, tapi Dion hanya menyeringai tipis, hampir tidak terlihat.
"Menarik," kata Dion. "Sebuah pengorbanan yang cukup besar hanya untuk membuktikan poin."
"Bukan pengorbanan. Ini pelepasan," koreksiku tajam. "Aku nggak mau status ini jadi beban seumur hidup. Jadi, syaratku: Malam pertama harus terjadi, paling lambat 48 jam setelah penandatanganan kontrak. Kalau nggak, kontrak batal, dan lo harus bayar penalti yang jumlahnya fantastis."
Aku sengaja membuat klausul ini jadi pedang bermata dua. Kalau Dion menolak, dia bayar mahal. Kalau dia setuju, dia harus melakukannya. Aku akan menang, entah bagaimana caranya.
Dion menatapku lama, pandangannya menelusuri wajahku. Aku bisa merasakan dia mencoba membaca setiap pikiran liarku. Aku balas menatap, mempertahankan api yang kupasang di mataku.
Akhirnya, dia mengambil pena, membuat coretan di klausul 4.1.
"Saya setuju," kata Dion, suaranya kembali dingin. "Tapi ada revisi. Saya akan laksanakan, tapi saya punya hak penuh untuk menentukan kapan, di mana, dan bagaimana. Dan setelah itu terjadi, klausul skinship di masa depan kembali seperti semula: tidak diwajibkan."
Pak Bima tampak lega, sementara aku tercekat. Dia mengubahnya jadi permainan kucing-kucingan. Dia setuju mengambilnya, tapi dia yang akan jadi penentu waktu. Itu berarti aku harus terus-terusan agresif dan menggoda, sampai dia capek dan mau melakukannya.
"Deal," kataku cepat, tanpa memikirkan konsekuensinya. Aku terlalu fokus pada kemenangan kecilku. Aku memaksakan diriku tersenyum. "Selamat, Tuan Dion. Anda akan menjadi yang pertama."
Dion hanya mengangguk, seolah aku baru saja menyerahkan kunci mobil, bukan sesuatu yang kuanggap mahkota.
Setelah penandatanganan itu, hidupku langsung pindah ke penthouse Dion. Pindah yang terasa seperti diasingkan.
Penthouse itu terlalu besar, terlalu bersih, dan terlalu sepi. Warnanya didominasi abu-abu, hitam, dan kaca. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada foto keluarga, tidak ada buku yang berserakan, tidak ada bekas kehidupan. Dion, sebagai suami, sama seperti rumahnya: minim data, minim emosi.
"Dion punya kamar lain nggak, selain kamar utama ini?" tanyaku pada Mbak Yuni, asisten rumah tangga di sana, saat aku menata bajuku di lemari raksasa.
Mbak Yuni, wanita paruh baya yang tenang dan sopan, tersenyum kecil. "Ada, Bu. Tapi Tuan Dion selalu di kamar utama. Kamar lain cuma dipakai kalau ada tamu penting."
Hanya kamar utama. Berarti, kami harus tidur di ranjang yang sama. Klausul ini yang paling membuatku cemas sekaligus bersemangat.
Malam itu, aku mengenakan kimono sutra tipis berwarna merah. Aku sengaja memilih warna yang paling berani dan paling bertentangan dengan diriku yang lama. Ketika Dion masuk kamar, dia baru selesai mandi. Rambutnya basah, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa.
Dia melihatku, lalu melihat kimono-ku. Tidak ada perubahan di matanya. Tidak ada detak jantung yang terlewat.
"Di sofa saja, Keira," katanya, sambil mengambil bantal tambahan dari lemari.
"Sofa?" Aku tertawa hambar. "Dion, lo baru aja setuju sama klausul gila itu. Lo cuma punya waktu 48 jam. Dan lo nyuruh istri lo tidur di sofa?"
Dion menatapku. "Aku butuh tidur nyenyak. Aku ada rapat jam lima pagi. Aku tidak mau terganggu, dan aku yakin kamu juga butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Menangkan diri dari apa? Dari fakta bahwa aku gagal lagi membangkitkan gairah lo?" kataku, suaraku tajam.
Dion berjalan ke ranjang, membuka selimut. "Tidak. Menenangkan diri dari fakta bahwa kamu menikahi pria asing hanya karena dendam. Itu bukan kondisi mental yang stabil untuk memulai keintiman, Keira. Apalagi yang pertama."
Brak.
Kata-katanya seperti palu godam. Dia tidak memarahiku, dia tidak menolakku karena aku jelek, dia menolakku karena motifku yang kotor.
"Lo... lo pikir lo siapa, menilai gue?" gumamku, mataku mulai panas.
"Saya suami kontrak Anda," jawab Dion datar. "Tugas saya memastikan kontrak ini berjalan lancar. Kalau Anda sakit mental karena keputusan gegabah ini, kontrak terancam. Jadi, malam ini, tidur di sofa. Besok, kita mulai sesi 'mengenal suami' agar Anda tidak terlalu kaget ketika 'malam itu' tiba."
Aku ingin berteriak, merobek kimono ini, dan membuktikan betapa salahnya dia. Tapi aku terlalu lelah. Lelah melawan orang yang bahkan tidak mau melawan.
Aku mengambil selimut di sofa. "Oke, Dion. Tapi ingat, waktu lo cuma tinggal 46 jam."
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menjalankan peran 'istri agresif' yang kubayangkan.
Aku mengikuti Dion ke ruang kerjanya. Ruangan itu didominasi komputer dan dokumen.
"Mau kopi?" tawarku, mencoba ramah, tapi tanganku gemetar.
"Sudah dibuatkan Mbak Yuni, terima kasih," jawab Dion, bahkan tanpa mendongak dari tabletnya.
"Gue bisa pijitin leher lo," kataku lagi, berjalan mendekat.
Dion akhirnya mengangkat pandangan. "Keira. Kamu tidak perlu melakukan itu. Tugasmu hanya menjadi istri di depan publik, dan memenuhi klausul yang kamu buat sendiri. Saat ini, kita masih dalam mode profesional."
"Mode profesional?" Aku mendengus. "Gue cuma mau nunjukkin kalau gue bisa jadi istri yang perhatian, nggak cuma istri kontrak yang nuntut."
Dion mematikan tabletnya, menyandarkan punggung, dan menatapku dengan tatapan serius yang menusuk.
"Baiklah. Mari kita bicara serius tentang 'kebutuhan' Anda," katanya. "Kenapa begitu penting bagi Anda untuk melepaskan itu sekarang? Kenapa Anda tidak bisa menunggu sampai Anda bertemu pria yang benar-benar Anda cintai setelah kontrak ini berakhir?"
Pertanyaannya membuatku terdiam. Aku tak pernah memikirkan itu.
"Karena... karena itu beban!" kataku, nyaris berteriak. "Itu alasan aku dikhianati. Aku capek. Aku mau buktikan pada semua orang, pada Adnan, bahwa aku nggak selemah itu. Bahwa aku bisa bangkit dan memilih, bahkan jika pilihannya adalah melepaskan kehormatan pada pria sedingin es kayak lo!"
Dion mendengarkan dengan sabar. "Jadi, Anda menganggap tubuh Anda sebagai senjata untuk balas dendam?"
"Lo sebut aja apa pun! Senjata, tameng, bom bunuh diri-gue nggak peduli!"
"Dan Anda berpikir, setelah 'malam itu' terjadi, sakit hati Anda akan hilang?"
Aku terdiam. Jawabannya adalah, tidak. Aku tahu itu. Tapi aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa itu akan berhasil.
Dion bangkit dari kursinya, berjalan ke jendela besar, dan menatap pemandangan kota.
"Dua hari lagi, aku ada acara makan malam amal yang sangat penting. Aku butuh kamu di sana. Kamu harus tampil sempurna, anggun, dan terlihat sangat mencintaiku," kata Dion, tanpa menoleh. "Setelah acara itu selesai, kita pulang. Dan malam itu akan jadi malammu, Keira. Malam pertama yang kamu tunggu."
Aku tersentak. Dia memberi kepastian. Tapi dia juga memberi syarat: Aku harus memainkan peran istri sempurna dulu.
"Kenapa setelah acara itu?" tanyaku penuh curiga. "Lo nggak mau malam ini? Lo takut?"
Dion menoleh, menyunggingkan senyum yang bukan senyum, tapi lebih mirip ekspresi rasa kasihan.
"Saya tidak takut, Keira," katanya, berjalan mendekat. Jarak kami menipis, dan baru kali ini aku merasakan auranya yang mendominasi. "Saya hanya ingin memastikan, ketika Anda menyerahkan mahkota itu, Anda sadar penuh bahwa Anda melakukannya untuk diri sendiri, bukan untuk Adnan. Lakukan tugasmu besok, dan sisanya terserah aku."
Dia menyentuh bahuku sekilas, sentuhan profesional yang membekukan.
"Oh, ya, satu hal lagi," tambah Dion saat ia hendak keluar ruangan. "Di depan semua orang, kamu adalah istriku yang penuh gairah, yang mencintaiku sampai mati. Tapi di kamar, kamu harus membuktikan bahwa kamu lebih seksi dan lebih agresif daripada yang kamu pikirkan. Karena kalau kamu gagal membangkitkan gairahku, Keira, aku akan minta maaf, tapi malam itu tidak akan pernah terjadi."
Dia menutup pintu. Aku berdiri terpaku di tengah ruangan, darahku mendidih. Dia baru saja menantangku.
Dia ingin melihat Keira yang seksi dan agresif, yang tak pernah kulihat selama ini. Baik, Tuan Dion. Aku akan memberikannya. Aku akan buktikan bahwa tubuh yang kusediakan untuk cinta sejati, juga bisa berfungsi sebagai mesin pembalasan dendam yang tak tertahankan.
Dua hari. Aku cuma punya waktu dua hari untuk berubah dari Keira yang polos menjadi Keira yang Dion tantang: seksi, agresif, dan tak tertahankan.
Aku berdiri di depan cermin besar, bukan cermin di kamarku dulu, tapi cermin di walk-in closet Dion yang ukurannya sebesar kamar kos-kosan. Di tanganku, tergantung gaun. Bukan gaun pengantin putih yang gagal kupakai, tapi gaun backless berwarna zamrud yang kupilih sendiri, didesain untuk menarik perhatian. Belahan kakinya tinggi, dan bagian atasnya membuatku terlihat... berbahaya.
"Lo beneran mau pake ini, Keira?" tanya Sarah, yang kupaksa menemaniku di tengah kesibukan mengurus pembatalan katering pernikahan.
"Kenapa? Terlalu seksi?" Aku memutar tubuh, melihat punggungku yang terbuka lebar.
Sarah mengembuskan napas panjang. "Nggak. Itu terlalu 'bukan lo'. Dan kalau lo pakai ini di depan Dion, dan dia tetap nggak bergerak, hati lo bakal lebih hancur dari yang kemarin."
Aku berjalan ke wastafel marmer, mencuci muka. "Justru itu. Aku harus buktikan. Kalau dia nggak turn on sama gaun ini, sama tatapan mata ini, berarti dia punya masalah. Dan kalau dia punya masalah, itu bukan salahku lagi."
Aku memutuskan: aku nggak akan lagi jadi korban. Hari ini, aku jadi pemain.
Aku menghabiskan waktu dua jam untuk merias diri. Aku fokus pada mata, membuatnya tampak lebih tajam, lebih menggoda. Aku menyemprotkan parfum yang selama ini kusimpan, yang katanya punya aroma 'perangkap'. Rambutku kubiarkan tergerai, sedikit berombak.
Saat Dion memanggilku dari luar, jantungku berdebar kencang. Ini bukan karena gugup mau ketemu calon mertua. Ini karena performance anxiety.
Aku keluar. Dion sudah menungguku di ruang tengah. Dia mengenakan tuksedo hitam, terlihat seperti pangeran dari film drama dingin-sempurna, tapi tanpa hati.
Dia menoleh, matanya menatap dari ujung kaki hingga ujung kepalaku. Diam. Lama. Aku merasakan sensasi yang aneh. Bukan nafsu, tapi... evaluasi.
"Gaun yang bagus," komentarnya datar.
"Hanya bagus?" tantangku. Aku berjalan mendekat, pinggulku sedikit bergoyang, seperti yang kulihat di film-film. Aku tahu aku cantik. Aku tahu aku seksi. Kenapa dia cuma bilang 'bagus'?
"Warnanya cocok dengan kulitmu," lanjut Dion. "Tapi performa di acara nanti yang lebih penting, Keira. Gaun ini hanya pembuka."
Aku berdiri tepat di depannya, mendongakkan kepala sedikit. Wajahnya terlalu dekat. Aku bisa mencium aroma maskulin dari sabunnya.
"Aku nggak akan mengecewakan lo," bisikku, sengaja merendahkan suaraku. "Aku bakal bikin semua orang percaya kalau aku cinta mati sama lo. Dan aku akan bikin lo percaya kalau aku layak buat lo sentuh."
Dion mendadak meraih pinggangku, cepat dan kuat, menarikku rapat ke tubuhnya. Sentuhannya mengejutkan, tapi di matanya masih tak ada gairah. Itu murni kontrol.
"Kalau begitu, mari kita berlatih," katanya, suaranya pelan dan mengancam. "Di depan umum, kamu bisa agresif. Tapi di sini, aku yang memegang kendali. Kamu harus terbiasa dengan sentuhanku, Keira. Agar kamu tidak kaget saat kita di hadapan banyak orang."
Dia mencondongkan wajah, dan aku berpikir, Ini dia! Tapi dia hanya membisikkan sesuatu di telingaku, suaranya sangat rendah.
"Jangan lupa tersenyum. Dan anggap aku adalah Adnan. Balas dendammu dimulai sekarang."
Acara amal itu diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima. Lampu kristal, musik orkestra, dan ratusan wajah-wajah penting Jakarta ada di sana. Ini adalah lingkungan alami Dion. Bagiku, ini kandang singa.
Saat kami memasuki ruangan, aku langsung menggandeng lengan Dion dengan posesif. Aku menyematkan diriku ke lengannya, seolah aku takut dia akan lari.
Seketika, bisik-bisik langsung terdengar. Tentu saja. Keira yang gagal menikah, sekarang muncul mendadak sebagai istri pengusaha dingin Dion.
"Ya ampun, itu Keira?"
"Loh, bukannya dia tunangan Adnan?"
"Cepat banget pindah. Tapi si Dion ini kan... ah, sudahlah."
Aku bisa mendengar semuanya. Tapi kali ini, bisikan itu nggak membuatku malu. Bisikan itu membuatku kuat.
"Tersenyumlah, Istriku," bisik Dion di telingaku.
Aku tersenyum, senyum paling manis dan paling palsu. Lalu, aku melakukan apa yang nggak pernah kulakukan di depan umum. Aku menoleh ke Dion, dan dengan sengaja, aku mengecup pipinya, lama, di depan semua orang.
"Aku rindu kamu," kataku, cukup keras agar orang-orang di sekitar kami mendengarnya.
Dion kaget. Matanya melebar sedetik, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Dia membalas kecupanku di kening, dan tangannya yang tadinya hanya menggandeng lenganku, kini turun ke pinggangku, mencengkeramnya erat.
"Aku juga," jawabnya, suaranya seperti madu di telinga orang lain, tapi bagiku terdengar seperti ancaman. Pintar sekali bermain, Keira.
Kami berjalan menyapa beberapa kolega Dion. Aku memutar peran. Setiap kali ada wanita yang terlalu dekat dengan Dion, aku akan menyentuh lengan Dion, merapikan dasinya, atau berbisik sesuatu ke telinganya. Semua itu bahasa tubuh yang mengatakan: Dia milikku.
Lalu, mataku bertemu dengan mata yang paling kuhindari: Adnan.
Dia ada di sana. Bersama wanita yang dia hamili, yang sekarang jadi istrinya. Wanita itu, dengan perutnya yang mulai membesar, berdiri canggung di samping Adnan. Wajah Adnan terlihat kurus dan cemas, jauh dari kesan bahagia.
Saat Adnan melihatku, pandangannya terbelalak. Dia melihat Keira yang memakai gaun zamrud, yang tertawa lepas, dan yang dipeluk erat oleh Dion.
Aku nggak membuang muka. Aku malah menarik tangan Dion, dan dengan berani, aku mendekat ke Adnan.
"Adnan! Senang bertemu denganmu," kataku, suaraku riang dan penuh kemenangan. Aku menatap istrinya sekilas, lalu kembali ke Adnan. "Selamat ya atas pernikahan dan kehamilannya. Maaf kami nggak sempat kirim bunga, karena pernikahan kami juga mendadak."
Aku menyentuh dada Dion, seolah memujanya. "Aku sangat bahagia, Nan. Dion ini... dia tahu persis apa yang dibutuhkan wanita. Kami tidak bisa menunggu lebih lama."
Sengaja. Aku sengaja menekankan kata 'tidak bisa menunggu'. Itu kode untuk: Dia mengambil apa yang kau sia-siakan.
Wajah Adnan pucat pasi. Dia melihat ke arah tanganku yang menempel di dada Dion, lalu ke arah gaunku yang seksi. Dia melihat segalanya yang dulu dia bilang terlalu sulit untuk dia dapatkan.
"K-Keira..." Adnan terbata.
"Sudah ya, Sayang," potong Dion, suaranya lembut, tapi matanya dingin. Dia tahu aku sedang bermain api, dan dia harus jadi pemadamnya. Dia menarikku menjauh dengan genggaman di pinggang yang makin erat. "Kita harus menyapa Tuan Hartono. Maaf, Adnan."
Dion menarikku pergi, meninggalkan Adnan yang terlihat seperti baru saja melihat hantu. Kemenangan. Itu yang kurasakan. Balas dendamku baru dimulai.
Sisa malam itu berjalan seperti mimpi. Aku menjadi aktris terbaik yang pernah ada. Aku tertawa, aku bersandar pada Dion, aku memegang tangannya di bawah meja saat makan malam. Aku mencoba membangkitkan gairahnya, bukan dengan sentuhan eksplisit, tapi dengan kehadiran yang dominan dan intim.
Setiap sentuhan yang kuberikan, dibalas Dion dengan sentuhan yang lebih kuat. Dia menciumku di depan Tuan Hartono yang penting, menciumku dengan intens, tapi anehnya, ciuman itu terasa seperti segel, bukan gairah. Dia menciumku untuk membuktikan pada dunia, bukan untuk merasakanku.
Ketika akhirnya kami meninggalkan acara itu, jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Kami masuk ke mobil, dan keheningan langsung menyelimuti kami. Kontras sekali dengan hiruk-pikuk dan drama yang baru saja kami jalani.
"Performa yang luar biasa," kata Dion, melepaskan dasi kupu-kupu-nya.
"Terima kasih. Aku dapat Oscar untuk kategori 'Istri yang Mencintai Suami Mati-matian'," sahutku, tertawa hambar.
"Kamu berhasil membuat Adnan menyesal. Dan kamu berhasil membuat semua orang percaya pernikahan kita didasari gairah yang membara."
"Lalu?" tanyaku, nadaku berubah serius. Jantungku mulai berdebar kencang lagi. Ini sudah lewat tengah malam. Batas waktu 48 jam yang dia tetapkan untuk 'malam itu' sudah semakin dekat.
"Lalu... kita kembali ke penthouse. Sekarang, giliranmu membuktikan padaku, bukan pada publik."
Begitu tiba di penthouse, aku bahkan nggak sempat menyalakan lampu. Aku langsung mendorong Dion ke dinding lorong dekat pintu masuk.
"Waktu sudah habis, Tuan Dion," bisikku, tanganku merayap ke kerah kemejanya. "Aku sudah lakukan tugasku. Aku seksi di depan publik. Aku agresif di depan Adnan. Sekarang, aku mau kamu memenuhi janjimu."
Aku menarik kerahnya, menciumnya dengan liar, semua amarah dan dendamku kutumpahkan di bibirnya. Aku ingin dia merespons, aku ingin dia membalas ciuman ini dengan gairah yang sama liarnya.
Dion merespons. Dia membalas ciumanku, tangannya memeluk pinggangku, menekan tubuh kami rapat-rapat. Ciumannya dalam, tekniknya sempurna. Tapi, tetap saja, terasa aneh. Ada penghalang, seperti ada dinding kaca di antara kami.
Aku menjauh, terengah-engah. Mataku menatap matanya. Matanya gelap, tapi anehnya, kosong.
"Kenapa?!" tanyaku, setengah berteriak. "Kenapa tatapan mata lo nggak pernah ikut saat lo cium gue, Dion?! Lo nggak tertarik sama sekali?!"
Dion menahan napas. Dia melepaskan pelukannya, langkahnya mundur sedikit, memecah keintiman yang baru saja kubangun.
"Aku tertarik, Keira," katanya, nadanya rendah, serius. "Aku akui kamu wanita yang sangat menarik. Kamu agresif. Kamu berhasil membangkitkan sesuatu."
Aku merasa lega. Hampir menang.
"Lalu kenapa?" tanyaku.
Dion menoleh ke samping. Tiba-tiba, ia merobek kemeja yang baru saja kupeluk tadi, tepat di bagian dada kirinya. Kancingnya mental. Aku terkejut.
Di bawah kemeja itu, aku melihat sesuatu. Bukan otot six-pack yang kubayangkan. Tapi ada bekas luka sayatan, tipis dan panjang, membentang dari bahu hingga ke tulang rusuknya. Luka lama, tapi terlihat menyakitkan.
"Kamu mau aku mengambil mahkota yang kamu jaga, Keira," kata Dion, menatap luka itu, bukan aku. Suaranya berubah. Ada kepahitan di sana. "Aku tahu kamu melakukan ini karena dendam. Aku nggak mau kamu menyalahkan diriku, atau menyalahkan momen ini, setelah kamu sadar bahwa itu tidak menyembuhkan lukamu."
Dia kembali menatapku, matanya kini dipenuhi rasa sakit yang mendalam, bukan dingin.
"Aku sudah bilang, aku nggak janji akan bergairah," katanya. "Aku menerima tantanganmu. Tapi malam ini, aku menolaknya, karena kamu belum siap."
Aku terperanjak. Aku melihat luka di dadanya, luka yang mematahkan seluruh bayanganku tentang Dion yang sempurna.
"Luka apa itu?" bisikku.
Dion hanya menyeringai kecut. "Luka yang membuatku tidak lagi menganggap sentuhan fisik sebagai sesuatu yang biasa. Dan luka yang membuatku harus menunda malam yang kamu inginkan itu, sampai kamu mengakui padaku, bahwa kamu melakukan ini bukan lagi untuk Adnan, tapi untuk dirimu sendiri."
Dia mengambil selimut dari sofa, melemparkannya ke arahku.
"Istirahat, Istriku. Kamu sudah bekerja keras malam ini. Besok, kita mulai hidup sebagai suami istri sungguhan. Tapi tidak di ranjang yang sama."
Dion masuk ke kamar, mengunci pintunya.
Aku berdiri sendirian di lorong penthouse, masih dengan gaun zamrud, gaun yang seharusnya memberiku kemenangan. Aku dicampakkan lagi. Kali ini, bukan karena aku suci, tapi karena aku terlalu fokus pada dendam.
Dan yang paling membuatku bingung, bukan penolakannya. Tapi luka di dadanya itu. Apa yang sudah dialami pria sedingin Dion? Dan apakah aku, dengan dendamku ini, bisa menembus benteng pertahanannya yang sempurna?