Keira. Aku benci nama itu. Selama dua puluh tujuh tahun, nama itu identik dengan 'gadis baik-baik', 'gadis yang tahu diri', 'gadis yang menyimpan mahkotanya untuk malam pertama'.
Sekarang, nama itu cuma jadi bahan tertawaan se-Jakarta Selatan.
Semua orang tahu. Semua. Mulai dari tante-tante arisan di Menteng sampai penjual kopi keliling di depan kantor Ayah, mereka semua tahu: Pernikahan Keira dan Adnan batal seminggu sebelum hari-H. Alasannya klise, menjijikkan, dan sangat menusuk harga diri: Adnan menghamili wanita lain.
Dan kenapa dia menghamili wanita lain? Karena Keira terlalu suci.
"Lo bilang lo mau jaga diri, Keira! Demi apa?! Demi mahkota yang sebentar lagi jadi barang rongsokan?! Demi dia?" Sarah, sahabatku sejak SMP, membanting segelas es kopi di meja kafe yang sepi. Matanya merah, lebih marah daripada mataku sendiri.
Aku cuma menatap genangan es kopi yang mulai mencair di meja marmer. Kenapa aku harus repot-repot memarahi Adnan, kalau seluruh alam semesta sudah melakukan itu untukku?
"Gue nggak bilang gue nyesel," kataku pelan, suaraku serak. Gaun pengantin yang rencananya mau kupakai sudah tergantung rapi di lemari, dikelilingi sarung plastik. Setiap melihatnya, perutku serasa diaduk-aduk. Bukan cuma marah, tapi jijik pada diriku sendiri.
Aku menjaga prinsip itu mati-matian. Bertahan dari godaan Adnan selama tiga tahun pacaran. Malam Minggu kami selalu diakhiri dengan kecupan di kening, bukan desahan di kamar hotel. Aku bangga. Aku merasa istimewa.
Ternyata, Adnan merasa bosan.
"Dia bilang, dia nggak kuat, Keira. Nggak kuat," Sarah mengulang kata-kata yang sempat Adnan bisikkan padaku dalam telepon memohon maaf dua hari lalu. "Sinting! Lo tunangannya, lo yang seharusnya jadi satu-satunya. Kenapa lo masih anggap prinsip itu mulia kalau akhirnya lo yang dicampakkan?"
Aku terdiam. Ya, kenapa?
Aku menyimpan sesuatu yang sangat berharga, yang kubayangkan akan kuserahkan pada suamiku di malam sakral pernikahan. Aku membayangkan momen itu sebagai penobatan, sebagai perayaan kesetiaan.
Ternyata, di mata Adnan, 'kesetiaan' dan 'kesucian' itu cuma jadi rem. Rem yang dia injak sampai dia menemukan jalan lain, jalan tol yang lebih cepat, ke wanita lain yang tak punya rem.
"Gue capek jadi suci," bisikku pada Sarah, nyaris tak terdengar.
Sarah langsung menoleh, wajahnya tegang. "Maksud lo?"
Aku mengangkat pandangan, menatap Sarah lurus-lurus. Di bola matanya, aku melihat pantulan Keira yang baru: mata yang mati, tapi menyimpan api yang siap membakar.
"Gue bakal nikah, Ra. Dalam dua minggu ini."
Sarah terbatuk. "Lo serius? Sama siapa? Siapa yang mau sama lo setelah skandal ini?"
Sakit. Tapi benar. Siapa yang mau? Aku bukan lagi 'gadis baik-baik' yang siap dinikahi. Aku adalah Keira, korban pengkhianatan yang gagal nikah.
"Sama siapa aja yang mau. Tapi bukan nikah biasa. Ini marriage of convenience."
Awalnya, ide itu muncul seperti bisikan setan. Setelah malam nangis-nangis di kamar, aku membuka laptop. Mencari apa saja. Dan tak sengaja menemukan forum gelap tentang jasa pernikahan kontrak.
Awalnya itu cuma lelucon, tapi semakin kupikirkan, semakin masuk akal. Ini bukan tentang cinta lagi. Ini tentang membuktikan. Membuktikan pada Adnan, pada keluargaku yang malu, dan yang paling penting, pada diriku sendiri, bahwa Keira tidak lagi takut pada sentuhan.
Keira bisa memilih. Keira bisa mendominasi.
"Syarat utama gue cuma satu," lanjutku, suaraku kini lebih tegas. "Gue nggak mau nikah kontrak yang cuma formalitas. Gue nggak mau pisah kamar. Gue nggak butuh cinta atau harta, tapi gue butuh malam itu."
Sarah mencondongkan tubuh, matanya membesar. "Lo... lo mau jual mahkota lo, Keira?"
"Jual?" Aku tertawa, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Bukan jual. Ini transaksi. Aku udah simpan ini baik-baik, tapi dia jadi alasan aku dikhianati. Sekarang, aku mau kasih ini ke pria yang nggak peduli sama sekali. Pria yang nggak akan pernah mengungkit 'kesucian' ini lagi. Aku mau buang beban ini."
Aku menghubungi kontak yang kudapat dari forum itu. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang bergerak cepat. Nama pria itu muncul: Dion. Profilnya minim. Pengusaha, usia sekitar tiga puluhan, butuh 'istri' untuk memenuhi syarat warisan atau perjanjian bisnis. Transaksional. Sempurna.
Pertemuan pertama kami diadakan di sebuah kantor pengacara yang sangat dingin, di lantai paling atas gedung pencakar langit. Dion duduk di seberang meja kaca tebal, didampingi pengacaranya yang tampak kaku.
Dia adalah pria yang tenang. Sangat tenang. Terlalu tenang, malah. Wajahnya tampan dengan garis rahang tajam, mata gelap yang sangat profesional, dan setelan jas yang terlihat mahal. Dia memancarkan aura 'uang' dan 'bisnis', bukan 'cinta' atau 'gairah'.
"Jadi, Nona Keira," kata pengacaranya, suaranya kering, "Anda sudah membaca draf kontraknya. Anda setuju dengan durasi satu tahun, kompensasi finansial, dan tidak adanya hak waris?"
Aku mengangguk, melirik Dion yang hanya menatapku tanpa ekspresi, seolah aku adalah sebuah proposal investasi yang kurang menarik.
"Saya setuju dengan semuanya," kataku. Aku menarik napas dalam-dalam, ini bagian tersulit. Aku harus menyerang langsung. "Kecuali satu klausul. Tentang skinship."
Pengacara itu mengangkat alis. "Klausul 4.1 menyatakan bahwa keintiman fisik tidak diwajibkan dan akan didiskusikan dari waktu ke waktu. Apa keberatan Anda?"
Aku mendorong map tebal itu ke tengah meja. Mataku lurus menatap Dion, mengabaikan pengacaranya.
"Keintiman fisik tidak diwajibkan, tapi saya mewajibkannya," kataku. "Saya tahu ini pernikahan kontrak. Tapi saya mau satu hal dari Anda, Tuan Dion."
Dion akhirnya bereaksi, meski hanya sedikit. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, pandangannya tetap datar. "Apa itu?"
Aku memaksakan senyum, senyum paling tajam dan paling menyakitkan yang pernah kubuat. "Saya mau malam pertama itu terjadi. Saya ingin ini menjadi pernikahan yang sah, seutuhnya. Saya ingin... menyerahkan diri saya pada Anda. Saya tidak mau menunggu. Malam itu harus terjadi."
Pengacara itu tersentak. Dion tetap diam, tapi aku melihat ada sesuatu yang berkelebat di matanya-mungkin rasa jijik? Atau keheranan?
"Nona Keira," ujar pengacara itu, nadanya menuduh, "apakah ini permintaan tambahan kompensasi? Karena jika ya-"
"Bukan!" potongku cepat. "Ini bukan tentang uang. Ini syarat saya. Saya lelah disebut gadis baik-baik. Saya mau menyingkirkan label itu, dengan siapapun, dan Anda adalah yang termudah."
Aku sengaja menggunakan kata-kata yang kasar dan telanjang. Aku ingin dia tahu betapa terlukanya aku, betapa gilanya keputusanku. Aku ingin dia menganggapku sebagai wanita yang putus asa dan agresif.
Dion akhirnya berbicara, suaranya rendah dan serak, memecah keheningan ruangan. "Anda agresif."
"Ya. Anda butuh istri. Saya butuh suami untuk tujuan tertentu. Saya tidak mau pernikahan yang cuma foto dan tanda tangan. Saya mau semuanya." Aku mencondongkan tubuh. "Tuan Dion, saya seorang perawan. Mantan tunangan saya mencampakkan saya karena saya mempertahankan status itu. Saya mau Anda mengambilnya. Bukan karena cinta, bukan karena gairah, tapi murni sebagai transaksi. Anda menyelesaikan masalah saya, saya menyelesaikan masalah Anda."
Keheningan melayang. Pengacara itu sibuk berbisik di telepon, jelas terkejut dengan permintaan yang tidak profesional ini.
Dion mengambil pena. Dia memutar-mutarnya di antara jari-jarinya yang panjang.
"Baik," katanya, suaranya sedingin es. "Saya terima."
Jantungku langsung berdebar kencang, antara lega dan teror. Aku berhasil.
"Tapi ada tambahan klausul dari saya, Nona Keira," lanjut Dion, mengabaikan pengacaranya yang mulai protes. "Saya terima tuntutan Anda. Namun, perlu Anda ketahui: Saya tidak berjanji akan bergairah. Saya tidak menjamin Anda akan mendapatkan kepuasan. Saya hanya berjanji akan melaksanakan tugas sebagai suami. Jika Anda gagal menarik perhatian saya, itu risiko Anda."
Kalimat itu menohokku lebih keras daripada kabar pengkhianatan Adnan. Dion baru saja bilang aku tidak semenarik itu, bahkan saat aku menawarkan diri secara total. Harga diriku yang baru saja kupaksakan untuk tegak, roboh lagi.
"Saya... saya terima risiko itu," kataku, mencoba terdengar mantap.
"Bagus," Dion menandatangani kontraknya tanpa ragu. "Pernikahan akan dilakukan tujuh hari dari sekarang. Upacara tertutup, hanya melibatkan pihak pengacara dan keluarga terdekat."
Semudah itu. Dalam sepuluh menit, aku menjual sisa-sisa kehormatanku pada pria asing yang jelas-jelas tidak tertarik.
Tujuh hari kemudian, aku berdiri di depan cermin, mengenakan gaun putih. Bukan gaun pengantin yang kubeli untuk Adnan, tapi gaun sederhana nan elegan, dibeli Dion secara terburu-buru.
Sarah masuk ke kamar rias, matanya sembap. "Lo yakin, Keira? Ini gila banget."
"Gila apanya? Cuma tukar status. Setelah setahun, gue bebas, Adnan kaget, dan gue bisa tidur nyenyak tanpa bayang-bayang masa lalu," kataku, memaksakan senyum palsu.
Tapi jauh di lubuk hati, aku tahu ini bukan tentang bebas. Ini tentang hukuman. Hukuman untuk Adnan, tapi terutama, hukuman untuk diriku sendiri yang terlalu naif.
"Dion itu ganteng, Keira. Really ganteng," Sarah mengakui. "Tapi dia sedingin bongkahan es. Kenapa dia setuju sama syarat gila lo itu?"
Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin dia lagi iseng. Atau mungkin dia butuh hiburan yang nggak terduga."
Namun, ucapan Dion di kantor pengacara terus terngiang: Saya tidak berjanji akan bergairah.
Itu tantangan. Adnan bilang aku terlalu dingin. Dion bilang aku tidak menarik. Aku akan buktikan pada Dion bahwa aku bisa sangat agresif, sangat menggoda, sampai dia lupa semua kontrak dan trauma. Aku akan gunakan tubuh yang kujaga mati-matian ini untuk balas dendam paling manis: membuat pria yang tidak tertarik padaku, bertekuk lutut.
Malam harinya, setelah upacara singkat dan formal, kami tiba di penthouse Dion yang super mewah dan steril. Tidak ada karangan bunga, tidak ada dekorasi romantis, hanya furnitur mahal dan keheningan yang mematikan.
"Anda bisa memilih kamar tamu," kata Dion tanpa melihatku, sibuk membuka kancing mansetnya.
Aku berbalik, menyilangkan tangan di depan dada. Gaunku sedikit terbuka di bagian punggung, dan aku tahu aku terlihat menarik.
"Nggak, Tuan Dion," kataku, suaraku rendah dan menggoda. "Saya sudah bilang, ini bukan pernikahan formalitas. Malam ini, saya mau kamar utama. Bersama kamu."
Aku berjalan mendekat, aroma parfumku tercium di antara kami. Aku sengaja menabrak lengannya saat melewatinya menuju kamar tidur utama.
"Kontrak kita mulai berlaku sekarang. Dan saya mau mahkota yang saya jaga selama ini, langsung hilang. Malam ini juga. Lo siap, Suamiku?" tantangku, menatapnya tajam.
Dion menoleh, pandangannya masih datar, tak terbaca. Dia melepaskan jasnya.
"Saya siap," jawabnya. "Tapi saya peringatkan sekali lagi, Nona Keira. Keputusan Anda ini mungkin akan jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan mantan tunangan Anda."
Dia tidak terdengar mengancam, melainkan memperingatkan. Aku tak peduli. Aku hanya melihat api di depanku, dan aku harus melewatinya. Aku ingin segera terbakar, agar aku bisa memulai hidup yang baru dari abu.
Aku membuka ikatan gaun, membiarkannya meluncur ke lantai marmer dengan suara desiran. Hanya tersisa pakaian dalam renda yang seksi.
"Kita lihat saja, Tuan Dion," bisikku. "Siapa yang akan menyesal besok pagi."
Namun, di dalam diri, Keira yang hancur itu berbisik balik: Aku hanya ingin sakit hati ini selesai. Dengan cara apa saja. Dan itulah konflik terbesar di malam ini. Aku datang ke pernikahan ini dengan nafsu balas dendam, padahal pria di depanku hanya menawarkan profesionalitas dan... penolakan.
Apakah dia akan tetap sedingin itu, bahkan saat aku sudah melepaskan seluruh bentengku?
Setelah malam pertama yang berakhir ambigu-Dion menatapku tanpa ekspresi, aku telanjang di lantai-semuanya bergerak terlalu cepat. Malam itu, Dion tidak menolak, tapi juga tidak menyambut. Dia cuma mengambil selimut, menutupiku, dan bilang, "Kita bahas lagi besok. Malam ini, istirahat saja."
Malam itu, aku tidur di sofa ruang tamu penthouse-nya. Marah, kecewa, tapi anehnya, sedikit takut. Pria itu menakutkan, bukan karena dia marah, tapi karena dia datar.
Pagi harinya, kami kembali ke kantor pengacara yang sama, tapi kali ini bukan untuk menikah, melainkan untuk meresmikan detail dari bencana yang disebut kontrak ini.
Aku duduk di kursi yang sama, tapi kini lebih tegar. Semalam, aku gagal membangkitkan gairahnya. Aku gagal menggunakan tubuhku sebagai senjata. Hari ini, aku akan menggunakan kata-kataku.
Pengacara Dion, namanya Pak Bima, mulai bicara soal kompensasi, tunjangan bulanan, dan jadwal pertemuan sosial yang harus kami hadiri sebagai pasangan. Aku mengangguk, semua itu omong kosong.
"Bisa kita langsung ke Klausul 4.1?" potongku, tatapanku langsung ke Dion. Dia mengenakan kemeja biru muda yang terlihat sangat rapi, kontras dengan kekacauan di hatiku.
Dion mengangguk, "Silakan, Keira."
"Aku sudah bilang, aku nggak mau ini cuma pernikahan di atas kertas. Aku mau skinship," kataku, mengulang kata-kata yang kubayangkan akan membuat Adnan menangis darah.
Pak Bima berdeham. "Nona Keira, kami sudah jelaskan. Kontrak ini murni bisnis. Tuan Dion tidak memiliki kewajiban untuk-"
"Aku nggak peduli kewajiban atau bukan," sergahku, suaraku meninggi sedikit. "Aku butuh malam pertama yang kubayangkan itu. Aku butuh mengakhiri statusku ini. Aku mau mahkota ini hilang malam itu juga, karena status ini yang bikin aku dihina."
Aku melihat kerutan tipis muncul di dahi Dion. Dia sedang menganalisis, bukan emosi.
"Apa motif Anda, Nona Keira?" Dion bertanya, suaranya tenang, seperti suara ombak yang menarik pasir.
"Motifku? Aku mau balas dendam pada mantanku, Adnan," jawabku, jujur dan blak-blakan. Aku memutuskan untuk membuang semua topeng. "Dia ninggalin aku karena aku pertahanin keperawananku. Sekarang, aku mau ngasih ini ke pria yang nggak peduli, biar dia tahu betapa nggak berharganya yang aku jaga selama ini. Puas?"
Pak Bima terlihat ngeri, tapi Dion hanya menyeringai tipis, hampir tidak terlihat.
"Menarik," kata Dion. "Sebuah pengorbanan yang cukup besar hanya untuk membuktikan poin."
"Bukan pengorbanan. Ini pelepasan," koreksiku tajam. "Aku nggak mau status ini jadi beban seumur hidup. Jadi, syaratku: Malam pertama harus terjadi, paling lambat 48 jam setelah penandatanganan kontrak. Kalau nggak, kontrak batal, dan lo harus bayar penalti yang jumlahnya fantastis."
Aku sengaja membuat klausul ini jadi pedang bermata dua. Kalau Dion menolak, dia bayar mahal. Kalau dia setuju, dia harus melakukannya. Aku akan menang, entah bagaimana caranya.
Dion menatapku lama, pandangannya menelusuri wajahku. Aku bisa merasakan dia mencoba membaca setiap pikiran liarku. Aku balas menatap, mempertahankan api yang kupasang di mataku.
Akhirnya, dia mengambil pena, membuat coretan di klausul 4.1.
"Saya setuju," kata Dion, suaranya kembali dingin. "Tapi ada revisi. Saya akan laksanakan, tapi saya punya hak penuh untuk menentukan kapan, di mana, dan bagaimana. Dan setelah itu terjadi, klausul skinship di masa depan kembali seperti semula: tidak diwajibkan."
Pak Bima tampak lega, sementara aku tercekat. Dia mengubahnya jadi permainan kucing-kucingan. Dia setuju mengambilnya, tapi dia yang akan jadi penentu waktu. Itu berarti aku harus terus-terusan agresif dan menggoda, sampai dia capek dan mau melakukannya.
"Deal," kataku cepat, tanpa memikirkan konsekuensinya. Aku terlalu fokus pada kemenangan kecilku. Aku memaksakan diriku tersenyum. "Selamat, Tuan Dion. Anda akan menjadi yang pertama."
Dion hanya mengangguk, seolah aku baru saja menyerahkan kunci mobil, bukan sesuatu yang kuanggap mahkota.
Setelah penandatanganan itu, hidupku langsung pindah ke penthouse Dion. Pindah yang terasa seperti diasingkan.
Penthouse itu terlalu besar, terlalu bersih, dan terlalu sepi. Warnanya didominasi abu-abu, hitam, dan kaca. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada foto keluarga, tidak ada buku yang berserakan, tidak ada bekas kehidupan. Dion, sebagai suami, sama seperti rumahnya: minim data, minim emosi.
"Dion punya kamar lain nggak, selain kamar utama ini?" tanyaku pada Mbak Yuni, asisten rumah tangga di sana, saat aku menata bajuku di lemari raksasa.
Mbak Yuni, wanita paruh baya yang tenang dan sopan, tersenyum kecil. "Ada, Bu. Tapi Tuan Dion selalu di kamar utama. Kamar lain cuma dipakai kalau ada tamu penting."
Hanya kamar utama. Berarti, kami harus tidur di ranjang yang sama. Klausul ini yang paling membuatku cemas sekaligus bersemangat.
Malam itu, aku mengenakan kimono sutra tipis berwarna merah. Aku sengaja memilih warna yang paling berani dan paling bertentangan dengan diriku yang lama. Ketika Dion masuk kamar, dia baru selesai mandi. Rambutnya basah, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa.
Dia melihatku, lalu melihat kimono-ku. Tidak ada perubahan di matanya. Tidak ada detak jantung yang terlewat.
"Di sofa saja, Keira," katanya, sambil mengambil bantal tambahan dari lemari.
"Sofa?" Aku tertawa hambar. "Dion, lo baru aja setuju sama klausul gila itu. Lo cuma punya waktu 48 jam. Dan lo nyuruh istri lo tidur di sofa?"
Dion menatapku. "Aku butuh tidur nyenyak. Aku ada rapat jam lima pagi. Aku tidak mau terganggu, dan aku yakin kamu juga butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Menangkan diri dari apa? Dari fakta bahwa aku gagal lagi membangkitkan gairah lo?" kataku, suaraku tajam.
Dion berjalan ke ranjang, membuka selimut. "Tidak. Menenangkan diri dari fakta bahwa kamu menikahi pria asing hanya karena dendam. Itu bukan kondisi mental yang stabil untuk memulai keintiman, Keira. Apalagi yang pertama."
Brak.
Kata-katanya seperti palu godam. Dia tidak memarahiku, dia tidak menolakku karena aku jelek, dia menolakku karena motifku yang kotor.
"Lo... lo pikir lo siapa, menilai gue?" gumamku, mataku mulai panas.
"Saya suami kontrak Anda," jawab Dion datar. "Tugas saya memastikan kontrak ini berjalan lancar. Kalau Anda sakit mental karena keputusan gegabah ini, kontrak terancam. Jadi, malam ini, tidur di sofa. Besok, kita mulai sesi 'mengenal suami' agar Anda tidak terlalu kaget ketika 'malam itu' tiba."
Aku ingin berteriak, merobek kimono ini, dan membuktikan betapa salahnya dia. Tapi aku terlalu lelah. Lelah melawan orang yang bahkan tidak mau melawan.
Aku mengambil selimut di sofa. "Oke, Dion. Tapi ingat, waktu lo cuma tinggal 46 jam."
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menjalankan peran 'istri agresif' yang kubayangkan.
Aku mengikuti Dion ke ruang kerjanya. Ruangan itu didominasi komputer dan dokumen.
"Mau kopi?" tawarku, mencoba ramah, tapi tanganku gemetar.
"Sudah dibuatkan Mbak Yuni, terima kasih," jawab Dion, bahkan tanpa mendongak dari tabletnya.
"Gue bisa pijitin leher lo," kataku lagi, berjalan mendekat.
Dion akhirnya mengangkat pandangan. "Keira. Kamu tidak perlu melakukan itu. Tugasmu hanya menjadi istri di depan publik, dan memenuhi klausul yang kamu buat sendiri. Saat ini, kita masih dalam mode profesional."
"Mode profesional?" Aku mendengus. "Gue cuma mau nunjukkin kalau gue bisa jadi istri yang perhatian, nggak cuma istri kontrak yang nuntut."
Dion mematikan tabletnya, menyandarkan punggung, dan menatapku dengan tatapan serius yang menusuk.
"Baiklah. Mari kita bicara serius tentang 'kebutuhan' Anda," katanya. "Kenapa begitu penting bagi Anda untuk melepaskan itu sekarang? Kenapa Anda tidak bisa menunggu sampai Anda bertemu pria yang benar-benar Anda cintai setelah kontrak ini berakhir?"
Pertanyaannya membuatku terdiam. Aku tak pernah memikirkan itu.
"Karena... karena itu beban!" kataku, nyaris berteriak. "Itu alasan aku dikhianati. Aku capek. Aku mau buktikan pada semua orang, pada Adnan, bahwa aku nggak selemah itu. Bahwa aku bisa bangkit dan memilih, bahkan jika pilihannya adalah melepaskan kehormatan pada pria sedingin es kayak lo!"
Dion mendengarkan dengan sabar. "Jadi, Anda menganggap tubuh Anda sebagai senjata untuk balas dendam?"
"Lo sebut aja apa pun! Senjata, tameng, bom bunuh diri-gue nggak peduli!"
"Dan Anda berpikir, setelah 'malam itu' terjadi, sakit hati Anda akan hilang?"
Aku terdiam. Jawabannya adalah, tidak. Aku tahu itu. Tapi aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa itu akan berhasil.
Dion bangkit dari kursinya, berjalan ke jendela besar, dan menatap pemandangan kota.
"Dua hari lagi, aku ada acara makan malam amal yang sangat penting. Aku butuh kamu di sana. Kamu harus tampil sempurna, anggun, dan terlihat sangat mencintaiku," kata Dion, tanpa menoleh. "Setelah acara itu selesai, kita pulang. Dan malam itu akan jadi malammu, Keira. Malam pertama yang kamu tunggu."
Aku tersentak. Dia memberi kepastian. Tapi dia juga memberi syarat: Aku harus memainkan peran istri sempurna dulu.
"Kenapa setelah acara itu?" tanyaku penuh curiga. "Lo nggak mau malam ini? Lo takut?"
Dion menoleh, menyunggingkan senyum yang bukan senyum, tapi lebih mirip ekspresi rasa kasihan.
"Saya tidak takut, Keira," katanya, berjalan mendekat. Jarak kami menipis, dan baru kali ini aku merasakan auranya yang mendominasi. "Saya hanya ingin memastikan, ketika Anda menyerahkan mahkota itu, Anda sadar penuh bahwa Anda melakukannya untuk diri sendiri, bukan untuk Adnan. Lakukan tugasmu besok, dan sisanya terserah aku."
Dia menyentuh bahuku sekilas, sentuhan profesional yang membekukan.
"Oh, ya, satu hal lagi," tambah Dion saat ia hendak keluar ruangan. "Di depan semua orang, kamu adalah istriku yang penuh gairah, yang mencintaiku sampai mati. Tapi di kamar, kamu harus membuktikan bahwa kamu lebih seksi dan lebih agresif daripada yang kamu pikirkan. Karena kalau kamu gagal membangkitkan gairahku, Keira, aku akan minta maaf, tapi malam itu tidak akan pernah terjadi."
Dia menutup pintu. Aku berdiri terpaku di tengah ruangan, darahku mendidih. Dia baru saja menantangku.
Dia ingin melihat Keira yang seksi dan agresif, yang tak pernah kulihat selama ini. Baik, Tuan Dion. Aku akan memberikannya. Aku akan buktikan bahwa tubuh yang kusediakan untuk cinta sejati, juga bisa berfungsi sebagai mesin pembalasan dendam yang tak tertahankan.
Dua hari. Aku cuma punya waktu dua hari untuk berubah dari Keira yang polos menjadi Keira yang Dion tantang: seksi, agresif, dan tak tertahankan.
Aku berdiri di depan cermin besar, bukan cermin di kamarku dulu, tapi cermin di walk-in closet Dion yang ukurannya sebesar kamar kos-kosan. Di tanganku, tergantung gaun. Bukan gaun pengantin putih yang gagal kupakai, tapi gaun backless berwarna zamrud yang kupilih sendiri, didesain untuk menarik perhatian. Belahan kakinya tinggi, dan bagian atasnya membuatku terlihat... berbahaya.
"Lo beneran mau pake ini, Keira?" tanya Sarah, yang kupaksa menemaniku di tengah kesibukan mengurus pembatalan katering pernikahan.
"Kenapa? Terlalu seksi?" Aku memutar tubuh, melihat punggungku yang terbuka lebar.
Sarah mengembuskan napas panjang. "Nggak. Itu terlalu 'bukan lo'. Dan kalau lo pakai ini di depan Dion, dan dia tetap nggak bergerak, hati lo bakal lebih hancur dari yang kemarin."
Aku berjalan ke wastafel marmer, mencuci muka. "Justru itu. Aku harus buktikan. Kalau dia nggak turn on sama gaun ini, sama tatapan mata ini, berarti dia punya masalah. Dan kalau dia punya masalah, itu bukan salahku lagi."
Aku memutuskan: aku nggak akan lagi jadi korban. Hari ini, aku jadi pemain.
Aku menghabiskan waktu dua jam untuk merias diri. Aku fokus pada mata, membuatnya tampak lebih tajam, lebih menggoda. Aku menyemprotkan parfum yang selama ini kusimpan, yang katanya punya aroma 'perangkap'. Rambutku kubiarkan tergerai, sedikit berombak.
Saat Dion memanggilku dari luar, jantungku berdebar kencang. Ini bukan karena gugup mau ketemu calon mertua. Ini karena performance anxiety.
Aku keluar. Dion sudah menungguku di ruang tengah. Dia mengenakan tuksedo hitam, terlihat seperti pangeran dari film drama dingin-sempurna, tapi tanpa hati.
Dia menoleh, matanya menatap dari ujung kaki hingga ujung kepalaku. Diam. Lama. Aku merasakan sensasi yang aneh. Bukan nafsu, tapi... evaluasi.
"Gaun yang bagus," komentarnya datar.
"Hanya bagus?" tantangku. Aku berjalan mendekat, pinggulku sedikit bergoyang, seperti yang kulihat di film-film. Aku tahu aku cantik. Aku tahu aku seksi. Kenapa dia cuma bilang 'bagus'?
"Warnanya cocok dengan kulitmu," lanjut Dion. "Tapi performa di acara nanti yang lebih penting, Keira. Gaun ini hanya pembuka."
Aku berdiri tepat di depannya, mendongakkan kepala sedikit. Wajahnya terlalu dekat. Aku bisa mencium aroma maskulin dari sabunnya.
"Aku nggak akan mengecewakan lo," bisikku, sengaja merendahkan suaraku. "Aku bakal bikin semua orang percaya kalau aku cinta mati sama lo. Dan aku akan bikin lo percaya kalau aku layak buat lo sentuh."
Dion mendadak meraih pinggangku, cepat dan kuat, menarikku rapat ke tubuhnya. Sentuhannya mengejutkan, tapi di matanya masih tak ada gairah. Itu murni kontrol.
"Kalau begitu, mari kita berlatih," katanya, suaranya pelan dan mengancam. "Di depan umum, kamu bisa agresif. Tapi di sini, aku yang memegang kendali. Kamu harus terbiasa dengan sentuhanku, Keira. Agar kamu tidak kaget saat kita di hadapan banyak orang."
Dia mencondongkan wajah, dan aku berpikir, Ini dia! Tapi dia hanya membisikkan sesuatu di telingaku, suaranya sangat rendah.
"Jangan lupa tersenyum. Dan anggap aku adalah Adnan. Balas dendammu dimulai sekarang."
Acara amal itu diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima. Lampu kristal, musik orkestra, dan ratusan wajah-wajah penting Jakarta ada di sana. Ini adalah lingkungan alami Dion. Bagiku, ini kandang singa.
Saat kami memasuki ruangan, aku langsung menggandeng lengan Dion dengan posesif. Aku menyematkan diriku ke lengannya, seolah aku takut dia akan lari.
Seketika, bisik-bisik langsung terdengar. Tentu saja. Keira yang gagal menikah, sekarang muncul mendadak sebagai istri pengusaha dingin Dion.
"Ya ampun, itu Keira?"
"Loh, bukannya dia tunangan Adnan?"
"Cepat banget pindah. Tapi si Dion ini kan... ah, sudahlah."
Aku bisa mendengar semuanya. Tapi kali ini, bisikan itu nggak membuatku malu. Bisikan itu membuatku kuat.
"Tersenyumlah, Istriku," bisik Dion di telingaku.
Aku tersenyum, senyum paling manis dan paling palsu. Lalu, aku melakukan apa yang nggak pernah kulakukan di depan umum. Aku menoleh ke Dion, dan dengan sengaja, aku mengecup pipinya, lama, di depan semua orang.
"Aku rindu kamu," kataku, cukup keras agar orang-orang di sekitar kami mendengarnya.
Dion kaget. Matanya melebar sedetik, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Dia membalas kecupanku di kening, dan tangannya yang tadinya hanya menggandeng lenganku, kini turun ke pinggangku, mencengkeramnya erat.
"Aku juga," jawabnya, suaranya seperti madu di telinga orang lain, tapi bagiku terdengar seperti ancaman. Pintar sekali bermain, Keira.
Kami berjalan menyapa beberapa kolega Dion. Aku memutar peran. Setiap kali ada wanita yang terlalu dekat dengan Dion, aku akan menyentuh lengan Dion, merapikan dasinya, atau berbisik sesuatu ke telinganya. Semua itu bahasa tubuh yang mengatakan: Dia milikku.
Lalu, mataku bertemu dengan mata yang paling kuhindari: Adnan.
Dia ada di sana. Bersama wanita yang dia hamili, yang sekarang jadi istrinya. Wanita itu, dengan perutnya yang mulai membesar, berdiri canggung di samping Adnan. Wajah Adnan terlihat kurus dan cemas, jauh dari kesan bahagia.
Saat Adnan melihatku, pandangannya terbelalak. Dia melihat Keira yang memakai gaun zamrud, yang tertawa lepas, dan yang dipeluk erat oleh Dion.
Aku nggak membuang muka. Aku malah menarik tangan Dion, dan dengan berani, aku mendekat ke Adnan.
"Adnan! Senang bertemu denganmu," kataku, suaraku riang dan penuh kemenangan. Aku menatap istrinya sekilas, lalu kembali ke Adnan. "Selamat ya atas pernikahan dan kehamilannya. Maaf kami nggak sempat kirim bunga, karena pernikahan kami juga mendadak."
Aku menyentuh dada Dion, seolah memujanya. "Aku sangat bahagia, Nan. Dion ini... dia tahu persis apa yang dibutuhkan wanita. Kami tidak bisa menunggu lebih lama."
Sengaja. Aku sengaja menekankan kata 'tidak bisa menunggu'. Itu kode untuk: Dia mengambil apa yang kau sia-siakan.
Wajah Adnan pucat pasi. Dia melihat ke arah tanganku yang menempel di dada Dion, lalu ke arah gaunku yang seksi. Dia melihat segalanya yang dulu dia bilang terlalu sulit untuk dia dapatkan.
"K-Keira..." Adnan terbata.
"Sudah ya, Sayang," potong Dion, suaranya lembut, tapi matanya dingin. Dia tahu aku sedang bermain api, dan dia harus jadi pemadamnya. Dia menarikku menjauh dengan genggaman di pinggang yang makin erat. "Kita harus menyapa Tuan Hartono. Maaf, Adnan."
Dion menarikku pergi, meninggalkan Adnan yang terlihat seperti baru saja melihat hantu. Kemenangan. Itu yang kurasakan. Balas dendamku baru dimulai.
Sisa malam itu berjalan seperti mimpi. Aku menjadi aktris terbaik yang pernah ada. Aku tertawa, aku bersandar pada Dion, aku memegang tangannya di bawah meja saat makan malam. Aku mencoba membangkitkan gairahnya, bukan dengan sentuhan eksplisit, tapi dengan kehadiran yang dominan dan intim.
Setiap sentuhan yang kuberikan, dibalas Dion dengan sentuhan yang lebih kuat. Dia menciumku di depan Tuan Hartono yang penting, menciumku dengan intens, tapi anehnya, ciuman itu terasa seperti segel, bukan gairah. Dia menciumku untuk membuktikan pada dunia, bukan untuk merasakanku.
Ketika akhirnya kami meninggalkan acara itu, jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Kami masuk ke mobil, dan keheningan langsung menyelimuti kami. Kontras sekali dengan hiruk-pikuk dan drama yang baru saja kami jalani.
"Performa yang luar biasa," kata Dion, melepaskan dasi kupu-kupu-nya.
"Terima kasih. Aku dapat Oscar untuk kategori 'Istri yang Mencintai Suami Mati-matian'," sahutku, tertawa hambar.
"Kamu berhasil membuat Adnan menyesal. Dan kamu berhasil membuat semua orang percaya pernikahan kita didasari gairah yang membara."
"Lalu?" tanyaku, nadaku berubah serius. Jantungku mulai berdebar kencang lagi. Ini sudah lewat tengah malam. Batas waktu 48 jam yang dia tetapkan untuk 'malam itu' sudah semakin dekat.
"Lalu... kita kembali ke penthouse. Sekarang, giliranmu membuktikan padaku, bukan pada publik."
Begitu tiba di penthouse, aku bahkan nggak sempat menyalakan lampu. Aku langsung mendorong Dion ke dinding lorong dekat pintu masuk.
"Waktu sudah habis, Tuan Dion," bisikku, tanganku merayap ke kerah kemejanya. "Aku sudah lakukan tugasku. Aku seksi di depan publik. Aku agresif di depan Adnan. Sekarang, aku mau kamu memenuhi janjimu."
Aku menarik kerahnya, menciumnya dengan liar, semua amarah dan dendamku kutumpahkan di bibirnya. Aku ingin dia merespons, aku ingin dia membalas ciuman ini dengan gairah yang sama liarnya.
Dion merespons. Dia membalas ciumanku, tangannya memeluk pinggangku, menekan tubuh kami rapat-rapat. Ciumannya dalam, tekniknya sempurna. Tapi, tetap saja, terasa aneh. Ada penghalang, seperti ada dinding kaca di antara kami.
Aku menjauh, terengah-engah. Mataku menatap matanya. Matanya gelap, tapi anehnya, kosong.
"Kenapa?!" tanyaku, setengah berteriak. "Kenapa tatapan mata lo nggak pernah ikut saat lo cium gue, Dion?! Lo nggak tertarik sama sekali?!"
Dion menahan napas. Dia melepaskan pelukannya, langkahnya mundur sedikit, memecah keintiman yang baru saja kubangun.
"Aku tertarik, Keira," katanya, nadanya rendah, serius. "Aku akui kamu wanita yang sangat menarik. Kamu agresif. Kamu berhasil membangkitkan sesuatu."
Aku merasa lega. Hampir menang.
"Lalu kenapa?" tanyaku.
Dion menoleh ke samping. Tiba-tiba, ia merobek kemeja yang baru saja kupeluk tadi, tepat di bagian dada kirinya. Kancingnya mental. Aku terkejut.
Di bawah kemeja itu, aku melihat sesuatu. Bukan otot six-pack yang kubayangkan. Tapi ada bekas luka sayatan, tipis dan panjang, membentang dari bahu hingga ke tulang rusuknya. Luka lama, tapi terlihat menyakitkan.
"Kamu mau aku mengambil mahkota yang kamu jaga, Keira," kata Dion, menatap luka itu, bukan aku. Suaranya berubah. Ada kepahitan di sana. "Aku tahu kamu melakukan ini karena dendam. Aku nggak mau kamu menyalahkan diriku, atau menyalahkan momen ini, setelah kamu sadar bahwa itu tidak menyembuhkan lukamu."
Dia kembali menatapku, matanya kini dipenuhi rasa sakit yang mendalam, bukan dingin.
"Aku sudah bilang, aku nggak janji akan bergairah," katanya. "Aku menerima tantanganmu. Tapi malam ini, aku menolaknya, karena kamu belum siap."
Aku terperanjak. Aku melihat luka di dadanya, luka yang mematahkan seluruh bayanganku tentang Dion yang sempurna.
"Luka apa itu?" bisikku.
Dion hanya menyeringai kecut. "Luka yang membuatku tidak lagi menganggap sentuhan fisik sebagai sesuatu yang biasa. Dan luka yang membuatku harus menunda malam yang kamu inginkan itu, sampai kamu mengakui padaku, bahwa kamu melakukan ini bukan lagi untuk Adnan, tapi untuk dirimu sendiri."
Dia mengambil selimut dari sofa, melemparkannya ke arahku.
"Istirahat, Istriku. Kamu sudah bekerja keras malam ini. Besok, kita mulai hidup sebagai suami istri sungguhan. Tapi tidak di ranjang yang sama."
Dion masuk ke kamar, mengunci pintunya.
Aku berdiri sendirian di lorong penthouse, masih dengan gaun zamrud, gaun yang seharusnya memberiku kemenangan. Aku dicampakkan lagi. Kali ini, bukan karena aku suci, tapi karena aku terlalu fokus pada dendam.
Dan yang paling membuatku bingung, bukan penolakannya. Tapi luka di dadanya itu. Apa yang sudah dialami pria sedingin Dion? Dan apakah aku, dengan dendamku ini, bisa menembus benteng pertahanannya yang sempurna?