Seorang gadis cantik berusia sekitar 21 tahunan lebih terlihat mulai memasuki sebuah area bakery and cake yang ada dihadapan nya secara perlahan.
Langkah kaki indah dengan penampilan sederhana serta wajah cantik polos tanpa polesan make up namun tetap menampilkan keindahan tersendiri di balik wajah nya tersebut menambah kesan betapa cantiknya gadis tersebut.
Dia terlihat mulai membuka pintu kaca yang bertuliskan kata 'Open' di depannya dengan senyuman indah yang mengambang di balik bibir nya tersebut.
Alessia.
Begitu orang-orang suka memanggil nya, nama sederhana yang dimiliki gadis itu sesederhana kehidupan dan pemikiran nya, gadis cantik dengan bulu mata lentik nan indah,alis mata tebal di padu dengan bibir ranum berwarna pink alami Milik nya, kulit putih serta tubuh indah di padu padankan dengan leher jenjang Milik nya.
Jika di poles dan di kenakan pakaian mahal dan mewah, dipercaya oleh semua orang gadis tersebut jelas akan di sulap menjadi seorang putri dangan Tingkat kecantikan paripurna.
Tapi sayangnya dia hanya lah Alessia, gadis biasa yang Begitu sederhana, yang tinggal di apartemen kelas bawah ditengah hiruk-pikuk kota new York city yang begitu megah dengan jutaan gedung mewah yang menjulang tinggi di mana-mana.
"Kau tidak ingin mencoba untuk naik ke kelas kasta atas dengan kecantikan mu?"Sebaris pertanyaan itu pernah di lontarkan kepada dirinya oleh seseorang.
"Menggoda beberapa anak orang kaya atau bahkan menjadi istri muda seseorang? jika tidak mungkin berbaur dengan beberapa perempuan dan laki-laki di sebuah klub malam dan mulai mencari uang besar untuk mengubah kehidupan mu agar menjadi lebih baik?"Mendengar pertanyaan tersebut membuat gadis itu terlihat mengembangkan senyuman nya.
"Hidup ini bukan hanya soal uang, tapi soal harga diri, seberapa besar uang yang kamu miliki tidak akan berarti ketika kamu sudah mulai kehilangan harga diri"Dan gadis sederhana itu kini berada di sini, berdiri di Bakery and cake, mencari cake ulang tahun untuk seseorang.
Alessia terlihat menatap barisan cake ulang tahun yang ada didalam kaca etalase Bening yang ada di hadapannya untuk beberapa waktu, gadis itu melihat cake mana yang paling terbaik yang harus dia beli saat ini tapi harus bisa dia sesuaikan dengan budget yang ada di kantongnya juga.
Sembari menatap beberapa model cake yang ada di hadapannya itu, gadis itu mencoba menghitung-hitung sisa uangnya yang ada di kantong celana dengan Jemari-jemari indahnya milik nya didalam kantong jaket nya.
Gaji bulan ini dipotong kebutuhan sehari-hari serta uang yang harus dia sisihkan untuk saudara kembar nya yang memang membutuhkan uang tersebut karena sakit di kehamilan nya.
Agnesia jelas membutuhkan banyak uang untuk kehamilan nya yang sedikit bermasalah, perempuan cantik itu harus mengecam pahit nya gagal menikah karena tragedi tidak terduga.
Bagaimana menjelaskan nya? entahlah begitu sulit sekali menjelaskan nya, kembaran nya dulu tinggal di rumah keluarga kaya raya dan menjadi anak angkat disana, akan menikah dengan laki-laki pilihan yang telah di tentukan, tapi Karena satu peristiwa jebakan yang dibuat oleh seseorang hingga sang kembaran harus menelan pil pahit, kehilangan keperawanan nya dan batal menikah, hamil kemudian terusir dari rumah keluarga tersebut.
Entahlah apa kah benar-benar diusir oleh seluruh penghuni nya atau bagaimana Alessia tidak ingin mengoreksi lebih jauh hal tersebut karena takut menambah tingkat frustasi kembaran nya.
Keadaan mental Agnesia tidak bisa di bilang baik-baik saja, sejak kembali dari Jakarta dan dia meminta Agnes menyusul dirinya di sini, Perempuan itu terlihat begitu menyedihkan.
Saat Alessia ingin tahu siapa pelaku yang sebenarnya Agnesia hanya menggelengkan kepalanya, memilih bungkam dan tidak bercerita soal apapun yang menimpa dirinya.
Pada akhirnya benar kata bibi mereka, meskipun Alessia berkata akan melapor kan kasus tersebut pada akhirnya mereka hanya orang miskin yang tidak punya daya untuk mengusut kasus tersebut, pada akhirnya meskipun mencurigai seseorang dan mencoba menaikkan kasus ke polisi pada akhirnya mereka pasti tidak akan mampu membawa kasus tersebut ke meja hijau.
Hanya uang yang bisa mengalahkan apapun di dunia ini, tanpa uang mereka bisa apa, bahkan seorang pengacara yang dibayar pun harus menggunakan uang bukan daun atau kertas.
Gadis tersebut sejenak menghela nafas nya pelan, membuang lamunan nya soal kehidupan miskin mereka dan kembarannya nya
Hari ini adalah hari kelahiran kekasih nya Kallan, ditengah kebingungan apa yang harus dia berikan dan kejutan apa yang harus dia persiapkan pada akhirnya cake ulang tahun menjadi alternatif kejutan paling masuk akal ditambah sedikit lilin kecil di sekitar nya.
Alessia fikir laki-laki manja dan sedikit cerewet itu biasanya suka sesuatu yang sedikit ribet dan di penuhi coklat-coklat untuk dinikmati di waktu Santai nya dan dia tahu di hari hari ulang tahun sang kekasih nya itu pilihan cake yang ada dihadapan nya tersebut mungkin yang paling tepat.
Alessia fikir dia hanya mampu membelikan Kado berupa cake sederhana dan tidak lebih, dia jelas bukan gadis kaya raya dimana dia bisa menadah uang dengan orang tuanya, jelas saja cukup berbeda dengan kekasihnya yang lahir dan dibesarkan dari keluarga kaya raya yang memiliki segala-galanya.
Apapun yang di inginkan Kallan jelas saja laki-laki tersebut langsung berkata dan menunjuk saja dengan jari nya, bak Cinderella atau pangeran dunia di negeri antah berantah Kallan pasti mendapat segalanya.
Dan yah meskipun telah berpacaran dengan Kallan selama lebih dari satu tahun ini dan laki-laki tersebut berulang kali ingin mengajak Alessia datang ke rumah laki-laki tersebut yang bak istana, percayalah gadis tersebut masih belum menyetujuinya dan masih belum berani untuk datang ke tempat tersebut.
Siapa yang tidak tahu bagaimana kehidupan kelas dan gaya orang kaya, dia tahu hubungan itu pada akhirnya akan ditentang, seperti di drama atau film yang pernah dia tonton, pada akhirnya gadis miskin seperti dia tidak akan pantas bersanding ini laki-laki kaya seperti Kallan.
Dia hanya bermimpi terlalu jauh, berandai-andai atau bahkan berharap terlalu tinggi.
Seolah sadar dengan status sosial nya, Alessia hanya sedang berusaha untuk bertahan, karena dia mencintai laki-laki tersebut dan Kallan membutuhkannya untuk proses kedewasaan laki-laki tersebut.
laki-laki itu belum mendewasa di usianya yang telah menginjak 22 tahun, masih begitu manja dan bersikap sedikit kekanak-kanakan, masih tidak tahu bagaimana caranya mengelola usaha dari orang tuanya, hanya menggunakan kartu hitamnya tanpa bisa menghargai yang namanya uang.
Mungkin dia berfikir untuk meninggalkan Kallan jika memang pada akhirnya hubungan mereka di tentang satu hari nanti.
"Mbak?"
Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan lamunan nya.
"Mau ambil yang mana mbak?"
Seketika suara seorang pelayan toko mengejutkan gadis tersebut, dia bertanya kepada Alessia, menunggu gadis itu sejak tadi dengan perasaan tidak sabaran atas pesanan nya.
Bola mata pelayan toko itu terus memperhatikan gerak-gerik Alessia sejak awal gadis tersebut mulai masuk dan membuka pintu kaca di kafe tersebut.
Pelayan tersebut fikir gadis dihadapannya memang cantik, tapi penampilan biasa dengan sandal jepit nya membuat pelayan perempuan berusia 30 tahunan lebih itu sedikit mencibir dan memandang rendah Alessia.
Orang-orang yang masuk ke dalam toko bakery itu merupakan orang-orang dari kelas atas, bahkan rata-rata pelanggan di dalam toko bakery itu merupakan orang-orang penting dan kaya raya, berpenampilan glamour dengan berbagai macam kartu di tangan mereka dan yang jelas tidak membawa uang receh sama sekali, jadi memang sedikit aneh jika hari ini tiba-tiba saja ada orang-orang berpenampilan seperti gadis di depannya masuk ke dalam toko mereka tersebut.
Perempuan tersebut cukup ragu untuk berfikir jika kantong gadis tersebut cukup untuk membeli salah satu dari cake yang ada di dalam kaca etalase mengingat seluruh barang yang di jual di sana di bandrol dengan tarif yang jauh lebih tinggi daripada toko-toko bakery lainnya.
perempuan itu terlihat tidak sabar menunggu keputusan Alessia sejak tadi, sembari bola matanya terus menatap kearah gadis tersebut, apalagi bisa dilihat pengunjung lainnya sudah mulai berdatangan dan ingin dilayani sejak tadi.
Dia pikir seharusnya dia membiarkan teman nya yang melayani gadis tersebut dan dia bisa melayani para pelanggan lainnya.
"Bisa berikan kami keputusan yang mana? kita akan mengeluarkan cake nya dan mulai membuat nama yang di inginkan?"
Perempuan tersebut kembali bicara.
Seolah-olah sadar dia tidak dilayani dengan cukup baik karena kelas ekonomi dan penampilan nya membuat Alessia menjadi sedikit minder, gadis itu menunduk malu dan pada akhirnya memantapkan hati untuk memilih salah satu cake yang cukup menggoda matanya.
Sederhana tapi terlihat begitu manis serta penuh arti.
"yang ini bisa?"
Tanya nya dengan suara yang Begu lembut.
Saat Alessia menunjuk cake yang paling sederhana dan kecil semakin menambah penilaian pelayanan toko tersebut.
"Miskin dan tidak punya uang."
Itu yang terlintas dikepala nya.
Yah itu yang ada di atas kepalanya, orang sekelas gadis itu mana mungkin mampu membeli cake yang lebih besar dari pada cake kecil yang ada di hadapan nya itu.
"mau pakai nama apa?"
Tanya nya sambil memberikan sebuah kertas dan pulpen.
Cara pelayan toko tersebut sedikit tidak sopan, memberikan nya dengan tergesa-gesa kemudian tersenyum ramah dengan pembeli lainnya.
Alessia buru-buru meraih kertas tersebut dan mulai menulis nama serta kata-kata indah di atas kertas tersebut untuk nama serta ucapan yang akan di sematkan di atas kertas tersebut.
"ini saja"
Ucap Alessia pelan sambil menyerahkan kertas kecil itu secara perlahan.
Sejenak Perempuan itu melihat nama yang akan di tulis didalam cake berukuran kecil tersebut, perempuan tersebut hanya menaikkan ujung bibirnya, entah apa yang ada di pikiran perempuan sombong tersebut, dia lantas memberikan cake itu kepada pegawai yang lainnya.
Yang diberikan cake itu hanya mengangguk kan kepala, tidak banyak bicara dan langsung mengambil kertas kecil yang diberikan oleh teman nya itu, kemudian dia melangkah kedalam sambil membawa cake yang ada di tangan nya.
"Anda bisa menunggu sejenak disana"
pelayan itu bicara sambil meminta Alessia untuk duduk di barisan kursi para pengunjung, dia pikir gadis tersebut memang sebaiknya menunggu disana agar tidak mengganggu pemandangan dirinya.
Mendengar permintaan sang pelayan toko membuat Alessia menganggukkan kepalanya, gadis itu bergerak memutar, Menuju kearah belakang dan memilih salah satu kursi disana.
Duduk secara perlahan sembari bola matanya menatap satu persatu orang-orang yang datang.
Benar rata-rata pelanggan yang datang ke toko bakery and cake tersebut merupakan orang-orang yang hadir dengan penampilan tanaman menengah ke atas cukup berbanding terbalik dengannya yang berpenampilan begitu sederhana.
sejenak gadis itu menarik kedua kakinya, mencoba menyembunyikannya di belakang kursi karena malu dengan sandal jepit yang dia gunakan.
Gadis itu menghela pelan nafasnya, merasa cukup malu dengan penampilan sederhana nya saat ini, apalagi ketika dia sadar beberapa pasang mata menatap dirinya dengan pandangan yang sedikit tidak enak.
Alessia hanya menundukkan kepalanya sembari menunggu cake pesanan nya.
Cukup lama gadis itu menunggu di kursi tunggu hingga akhirnya cake yang dia inginkan datang, buru-buru gadis itu berdiri sembari dia bergerak mendekati ke arah kasir sambil tangannya merogoh kantong pakaian nya.
Gadis itu mengeluarkan uang yang ada di dalam kantong celananya.
Begitu melihat untuk yang diberikan Alessia seketika sang pelayan toko tadi langsung benar-benar menampilkan ekspresi kesal nya.
"Uang receh?"
Perempuan itu menghela kesal nafasnya.
"Sungguh merepotkan."
Batin nya lagi kemudian.
Setelah selesai menghitung dan memberikan bon pada gadis itu, sang pelayan sama sekali tidak melebarkan senyuman nya, membiarkan itu gadis tersebut langsung melesat pergi dari toko bakery tersebut.
Tapi ketika sampai di depan pintu kaca tanpa sengaja dia hampir menabrak sepasang suami istri.
"Upssss"
Sang suami berkata sambil mengangkat kedua telapak tangan nya Karena terkejut saat seorang gadis muda hampir menabrak dirinya.
Seketika mata mereka saling bertemu untuk beberapa waktu, Alessia langsung menundukkan kepala berkali-kali untuk meminta maaf.
Laki-laki berusia 40 tahunan lebih namun bergaya Sangat casual, terlihat masih begitu muda dan tampan dan memiliki bola mata yang begitu indah itu jelas menatap dengan pandangan tidak suka ke arah Alessia, dia mengerutkan keningnya sembari sedikit mengumpat.
"Oh shit, tidak kah dia memiliki mata?"
Tanya nya dengan perasaan kesal.
Melihat ekspresi suaminya, membuat istri nya menggelengkan kepalanya.
"sayang dia masih terlalu muda,masih seusia anak-anak kita, seperti Khalid"
Wanita disamping nya dengan wajah pucat dan berusia yang terlihat jauh lebih tua dari laki-laki itu bicara sambil menggelengkan kepalanya.
Alessia masih menundukkan kepalanya berkali-kali tanda meminta maaf.
Mendengar jawaban wanita itu membuat Alessia melirik sejenak ke arah wanita tersebut, ingin melihat dengan jelas wajah nya namun ternyata wanita itu keburu masuk ke dalam sana hingga membuat Alessia hanya bisa melihat punggung nya saja.
Alessia fikir orang kaya ada berbagai macam ragam yang tidak pernah bisa di pahami, tapi kebanyakan dari mereka memang benar-benar sombong, bisa mengumpat sesuka hati tanpa tahu perasaan orang lain.
Seperti suami wanita tadi.
Padahal jelas-jelas dia tidak sengaja dan sudah berkata Maaf, tapi masih saja dia mendengar umpatan di balik bibir laki-laki itu.
kemudian secara perlahan gadis tersebut langsung melesat pergi meninggalkan sepasang suami istri tersebut
apartemen sederhana Alessia
Begitu tiba di depan lobi apartemen sederhana dimana Alessia tinggal, terlihat dua security dan beberapa orang mengembangkan senyuman mereka ke arah Alessia.
Siapa yang tidak mengenal gadis cantik tersebut di apartemen itu?!.
Alessia.
Terkenal dengan keramahan nya, bahkan gadis itu memiliki senyuman cantik yang disukai banyak orang, sifat baik hati dan begitu lembut kepada siapapun, bahkan gadis tersebut sering kedapatan diam-diam membantu orang-orang disekitar nya yang kesusahan tanpa pamrih.
Jangan ditanya bagaimana sepak terjang Alessia di sana, semua orang jelas menyukainya.
Karena itu beberapa laki-laki sering melirik kearah nya, tapi merasa tidak beruntung saat mereka tahu Alessia telah memiliki seorang kekasih.
tapi meskipun ramah dan baik hati, gadis itu selalu bisa menempatkan dirinya, bisa membedakan mana yang harus di ajak mengobrol banyak, mana yang tidak, gadis itu jelas memiliki urat malu untuk sembarang bergaul dengan sembarang laki-laki di kehidupan kota metropolitan.
Untuk seukuran gadis seusia Alessia, dengan wajah yang mumpuni, pekerjaan rendahan dan kehidupan sederhana jelas kebanyakan akan berpaling ke sebuah tempat yang lebih menjanjikan agar bisa menikmati dunia penuh gemerlap di kehidupan di kota metropolitan tersebut.
kebanyakan gadis di usia Alessia akan berada di diskotik, club malam dan lain sebagainya, hilir mudik bersama sembarang laki-laki dan berkutat dengan kehidupan malam yang mengerikan bahkan menjajakan harga diri mereka untuk kehidupan glamor demi sama seperti yang lainnya.
Tergiur pada barang-barang branded dan import dengan cara menggoda banyak laki-laki disekitar nya.
Tapi itu jelas tidak berlaku untuk Alessia, gadis itu memilih hidup dengan cara baiknya dan mempertahankan kesederhanaan nya ditengah sulit nya orang-orang bertahan hidup di pusat kota.
"Siang Miss"
Seorang security menyapa dengan gaya khas nya, bicara sembari mengulum senyumannya.
jangan ditanya bagaimana perasaan nya tiap kali melihat Alessia, bahkan kalau di minta melamar gadis tersebut sekarang juga dia bersedia.
Alih-alih menjawab, Alessia malah balik tersenyum, dia menundukkan kepalanya lantas mengeluarkan sesuatu dari salah satu kantong kresek yang ada di tangan nya.
"Ini untuk semua security dan teman-teman di lantai bawah"
Ucap Alessia sembari menyerah kan bungkusan makanan yang ada di tangan nya.
laki-laki tersebut buru-buru menerima bungkusan yang diberikan gadis tersebut.
"Terima kasih".
ucap laki-laki itu dengan wajah penuh kebahagiaan, setelah itu laki-laki tersebut langsung menekan tombol elevator mini yang menghubungkan tiap gedung apartemen tersebut dari lantai bawah hingga ke lantai atas.
Begitu pintu elevator terbuka, Alessia kembali mendudukkan kepalanya sembari mengucap kan terima kasih.
"Terima kasih"
Ucap Alessia pelan.
"aku akan langsung naik ke atas"
ucap nya lagi.
setelah berkata begitu sang security ikut menundukkan kepalanya diiringi dengan pintu elevator tersebut yang tertutup secara sempurna.
ketika pintu elevator tertutup bola mata Alessia menetap ke arah atas, dia memperhatikan tiap angka yang bergerak di dalam elevator tersebut.
Hingga akhirnya dia sampai pada tujuannya, begitu pintu elevator terbuka Alessia langsung bergerak keluar dari sana.
Bisa di lihat barisan pintu apartemen sederhana dimana di sepanjang dinding apartemen tampak di cat dengan warna cream muda.
begitu gadis itu mendapat nomor kamar apartemen nya, Alessia langsung melesat masuk kedalam sana, melepaskan sandal yang digunakan nya dengan cepat kemudian bergerak menuju kearah ruang tamu.
Apartemen tersebut merupakan apartemen sederhana yang tidak dikatakan begitu luas namun cukup untuk tinggal dua orang di dalamnya atau pasangan pengantin baru dengan satu anak kecil.
Karena apartemen seperti itu memang di rancang khusus dengan desain sederhana menyetarakan isi kantong sang penyewa nya, cukup berbanding terbalik dengan suasana apartemen mewah yang banyak berdiri Kokoh di antara pusat kota.
Kini adis itu meletakkan beberapa kantong kertas yang ada di tangan nya dan meletakkan cake pesanan nya tadi ke atas meja.
Sejenak gadis itu mematung, seolah-olah tengah memikirkan sesuatu apa yang harus dia lakukan berikutnya, akhirnya gadis itu bergerak menuju ke arah kamar nya, dia mendekati lemari tolet kecil dimana di beberapa sudut lemari tersebut mulai terlihat mengelupas.
Gadis itu meraih sebuah kotak kaleng kecil berukuran segi empat dan meraih sesuatu didalam nya.
Sebuah pengikat rambut yang ditata rapi didalam kotak kaleng yang sudah mulai pias warna nya.
Kehidupan sederhana yang dimiliki nya tersebut sama sekali tidak membuat dia malu dan minder, Alessia selalu berujar di dalam hati jika segala sesuatu di dunia ini hanya titipan sementara, satu hari saat Allah ingin mengambil nya mereka bahkan dirinya bisa apa.
SERING kali kita lupa akan hakikat kita diciptakan. Kita diciptakan bukan semata-mata untuk memperkaya diri, atau meninggikan jabatan, juga bukan untuk mengejar cinta manusia. Allah Ta’ala lah memberitahukan jika tujuan hidup yang sebenarnya adalah, Kita diperintahkan hanya untuk beribadah kepada-Nya, bukan yang lain.
“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku,” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Gadis tersebut terlihat beberapa kali menatap cake ulang tahun yang ada di atas meja, sesekali dia mengulum senyuman nya sembari sibuk membuat kan beberapa macam menu makanan.
Dia tahu Kallan paling suka sesuatu yang tidak terlalu pedas, suka makanan inti yang segar dan makanan penutup yang manis, bukankah merayakan ulang tahun dan makan malam bersama akan terlihat begitu manis.
Hingga akhirnya membuat gadis tersebut memutuskan untuk membuat beberapa macam menu makanan untuk kekasih nya tersebut.
Cukup lama Alessia terus berkutat di dapur, menyiapkan beberapa menu makanan kesukaan kekasihnya, dia pikir dia akan menghubungi laki-laki tersebut setelah dia menyelesaikan pekerjaannya.
Karena jika dia menghubungi Kallan saat ini takutnya laki-laki itu keburu datang lebih dulu sebelum dia menyelesaikan semuanya, ini tidak akan menjadi kejutan yang manis untuk laki-laki tersebut pikirnya.
Hingga akhirnya gadis itu menyelesaikan semua pekerjaannya, dengan tatapan puas dia menatap beberapa menu makanan yang telah dibuatnya, aroma lezat dan nikmat tercium di balik hidungnya.
Kemudian gadis itu mulai melirik ke arah cake ulang tahunnya, buru-buru Alicia menancapkan lilin di atas cake ulang tahun tersebut.
Setelah selesai dengan semua hal gadis itu langsung meraih handphone miliknya, dia menjadi nomor Kallan kemudian dengan cepat langsung mengirimi pesan pada laki-laki tersebut.
Lagi seulas senyuman mengembang di balik bibirnya, Alicia fikir ini pasti akan tepat waktu.
Gadis tersebut mulai beranjak pergi dari arah dapur menuju ke arah kamarnya namun tiba-tiba Alessia menghentikan langkah kakinya karena dia merasa kepalanya terasa begitu pusing.
Entah kenapa dia pikir bola mata nya tiba-tiba terasa berkunang-kunang, gadis tersebut berusaha untuk berpegangan pada sisi dinding yang ada di bagian kanan nya.
Tubuhnya tiba-tiba terasa begitu lemas dan tanpa diduga,
Brakkkkkk.
Seketika gadis itu jatuh tumbang ke lantai Begitu saja.