Bab 1

"Mohon maaf Clara Sabrina, hari ini kamu resmi dipecat dari perusahaan karena kinerjamu yang semakin lama semakin memburuk. Hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja di sini dan untuk gaji bulan ini akan segera saya kirimkan ke rekeningmu secepatnya. Silahkan kembali ke ruanganmu dan mengemasi barang-barangmu. Terima kasih."

Aku tersentak ketika mendengar atasanku berbicara. Apa katanya? Aku dipecat? Memangnya aku membuat kesalahan separah apa hingga sang atasan berani memecatku? Karena masih belum terima dengan perkataan atasanku baru saja, aku pun tidak keluar dari ruangannya. Aku masih membutuhkan penjelasan darinya mengapa bisa memecatku hanya dengan alasan kinerja yang semakin buruk.

"Mohon maaf, Pak. Memangnya kinerja saya seperti apa hingga Bapak sampai memecat saya?" ucapku tidak terima.

Bagaimana tidak, aku sudah bekerja di perusahaan ini selama lebih dari dua tahun. Semua usaha kerja keras aku tuangkan ke dalam perusahaan ini. Aku pun sangat setia kepada perusahaan ini dan tidak memiliki pikiran sama sekali untuk mencari perusahaan lain. Akan tetapi, mengapa perusahaan ini membalasnya dengan memecatku? Aku tidak habis pikir.

"Alasannya jelas, yaitu karena sudah lebih dari satu pekan ini kamu selalu datang terlambat dan tugas yang diberikan kepadamu selalu terlambat lebih dari satu hari," ujar atasanku.

Pikiranku seketika berputar kembali untuk mengingat apa yang terjadi selama satu pekan ini. Dan ternyata memang benar, sudah lebih satu pekan ini aku selalu terlambat berangkat ke kantor karena bangun siang dan sering terlambat mengirimkan tugas kantor karena aku lupa. Aku merutuki diriku sendiri karena semua ini adalah murni dari kesalahanku. Aku pun lantas menunduk kepada atasanku dan pamit untuk keluar dari ruangan.

"Baik, Pak. Terima kasih karena telah mempekerjakan saya selama dua tahun ini dengan baik. Semoga apa yang saya dapatkan di sini bisa berguna di kehidupan selanjutnya. Kalau begitu saya izin keluar. Selamat siang," ucapku kemudian segera berjalan keluar dari ruangan. Aku memijat dahiku pelan sesampainya di depan ruangan. Apa yang setelah ini akan aku lakukan? Ya, menjadi seorang pengangguran.

Perkenalkan, namaku Clara Sabrina tetapi orang-orang biasa memanggilku Clara. Usiaku saat ini sudah menginjak 25 tahun. Cukup tua bukan. Kebanyakan dari teman-temanku yang berusia sama denganku sudah menikah dan mempunyai anak. Namun, aku tidak seperti mereka. Aku lebih memilih untuk membangun karir yang tinggi dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum menikah.

Aku hidup seorang diri. Kedua orangtuaku sudah meninggal akibat kecelakaan parah tiga tahun yang lalu yang langsung merenggut nyawa mereka di tempat. Aku juga berada di mobil yang sama dengan mereka tetapi Tuhan telah menyelamatkanku. Hingga sampai saat ini, aku berusaha membiayai hidupku sendiri dari hasil bekerja dan sisa tabungan kedua orangtuaku. Namun, sepertinya aku tidak bisa membiayai hidupku lagi jika sudah dipecat seperti ini.

Aku berjalan lemas menuju ke ruang di mana aku bekerja. Aku dipecat karena kesalahanku sendiri oleh karena itu aku tidak mengomel dan membantah apa pun. Mungkin sudah seharusnya aku mencari perusahaan lain yang akan menerima diriku. Semua kenangan selama dua tahun ini aku simpan dengan baik dan tentu saja aku tidak akan menyimpan dendam. Aku akan pergi dengan damai.

"Ada apa Clara? Kok tumben kamu dipanggil ke ruangan si Bos?" tanya Erika, salah satu rekan kantor yang dekat denganku ketika aku baru saja memasuki ruangan.

"Aku dipecat, Ka," jawabku sambil tersenyum kecut. Aku pun berjalan menuju ke meja milikku dan segera merapikan berkas-berkas yang terlihat berantakan.

"Hah?! Kok bisa? Kenapa kamu bisa dipecat?" sorak Erika kaget sehingga membuat beberapa karyawan yang ada di ruangan menoleh ke arah kami.

Aku lantas berusaha memberikan kode kepada Erika untuk diam. "Nanti aku ceritain lewat telepon, ya. Sekarang aku mau beresin barang-barangku dulu," ujarku.

Dengan cepat Erika pun mengangguk. Wanita itu langsung membantuku untuk merapikan berkas-berkas yang terdapat di atas meja kemudian meletakkannya di box yang sudah disediakan. Beberapa karyawan yang berada di ruangan melirik ke arah mejaku. Mereka pasti sudah menduga jika aku akan keluar dari perusahaan ini. Erika adalah temanku satu-satunya di sana. Selain itu, tidak ada lagi. Hidupku memang menyedihkan.

Aku membutuhkan waktu sekitar lebih dari dua jam untuk mengemasi seluruh barang-barangku yang ada di kantor. Kini semuanya sudah selesai. Meja kantor yang biasanya terlihat berantakan dengan banyak kertas berserakan serta bungkus makanan yang belum dibuang saat ini sudah tidak terlihat lagi di sana. Hanya tersisa tanaman kaktus dengan bunga kecil yang sudah mekar di atas meja.

"Kaktusnya nggak dibawa, Ra?" tanya Erika.

Aku menggeleng pelan. "Biarin aja dia di sana. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan kalau aku pernah bekerja di sini," ujarku.

"Kamu nih, aku pasti bakal kangen banget sama kamu, Ra. Nanti yang setiap hari bakal temanin aku makan di kantin siapa coba?" ucap Erika merengek.

"Kamu 'kan punya banyak teman di sini, Ka. Makanya cari pacar baru biar ada yang temanin kamu makan di kantin," timpalku terkekeh sambil meledek Erika.

"Mentang-mentang kamu udah punya pacar aja nih, ya," tukas Erika sebal. Aku hanya tertawa pelan merespons perkataan Erika.

Benar. Jika nanti aku sudah tidak bekerja lagi di sini, siapa yang akan menemani Erika makan siang di kantor? Biasanya setiap hari aku dan Erika selalu makan berdua di kantin. Orang-orang kantor pun sudah hafal dengan kami berdua. Jika di sana ada Clara, pasti Erika selalu membuntutinya dan juga sebaliknya. Ah, aku jadi belum siap untuk meninggalkan perusahaan ini.

Semua barang-barang milikku kini sudah diletakkan di dalam beberapa box dan aku hanya tinggal membawanya menuju mobil. Aku bahkan tidak ingin berlama-lama lagi di sini agar kenangan yang indah tidak terus menerus muncul di pikiranku. Namun, sebelum itu aku memutuskan untuk pamit kepada rekan satu divisi di kantorku. Meskipun tidak dekat, setidaknya aku harus mengucapkan salam perpisahan kepada mereka.

Aku pun menyalami satu per satu dari mereka sambil memberikan sekotak bingkisan yang baru saja Erika beli. Ya, aku menyuruh Erika untuk membeli beberapa bingkisan ketika aku sedang mengemasi barang-barangku. Setidaknya aku harus memberikan kesan terakhir kepada mereka dan tentu saja semoga mereka mengingatku.

"Aku yakin pasti setelah ini kamu bakal bekerja di perusahaan yang lebih besar, Clara," ujar Rendy yang merupakan rekan kerja satu divisiku.

Aku mengangguk terharu ketika mendengar ucapannya. Ternyata masih ada orang yang peduli denganku. "Terima kasih, Rendy. Semoga doamu membalik ke kamu juga, ya," timpalku.

Aku pun telah selesai menyalami rekan yang ada di satu divisi denganku. Setelah mengucapkan salam perpisahan terakhir, aku segera beranjak menuju ke parkiran. Terdapat beberapa security yang membantuku untuk membawakan beberapa box menuju ke mobil karena tentu saja aku tidak akan sanggup jika harus membawanya sendiri. Erika pun ikut mengantarku sampai di depan mobil.

"Pokoknya nanti kalau udah sampai apart langsung telepon aku, ya," ucap Erika.

Aku mengacungkan jempol kepada Erika kemudian beralih pada security yang tadi membantuku membawakan barang-barang. "Terima kasih, ya, Pak, sudah mau direpotkan sama saya," ujarku dengan ramah sambil tersenyum.

"Tidak apa-apa Mbak Clara, sudah tugas kami di sini saling membantu," timpal security dengan ramah.

Aku lantas memberikan beberapa bingkisan kepada security tersebut karena sudah menolongku hari ini. "Ini ada bingkisan kecil untuk Bapak. Hitung-hitung sebagai rasa terima kasih saya kepada Bapak karena sudah mau membantu," ucapku.

"Waduh, padahal nggak perlu repot-repot Mbak Clara. Tapi saya terima deh sebagai kenang-kenangan terakhir dari Mbak Clara," timpal security bercanda.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada security yang sudah membantuku, aku pun pamit untuk pulang. Erika baru saja memelukku seperti aku akan pergi selamanya, padahal aku hanya dipecat dari perusahaan. Setelah selesai bekerja nanti, Erika berjanji akan mengunjungi apartemenku. Kami berdua pun telah selesai berpamitan dan aku segera melajukan mobil menuju ke apartemenku.

***

Sebagai seorang wanita yang sudah menginjak usia seperempat abad, tentu saja aku sudah memiliki kekasih. Orang itu adalah Adam. Seorang pria yang sudah menemani hidupku yang tadinya suram menjadi lebih berwarna dalam waktu dua tahun belakangan ini. Aku bertemu dengan Adam satu tahun setelah aku berduka atas kepergian kedua orangtuaku.

Kami berdua tidak sengaja bertemu ketika sedang mengantre membeli kopi di mal. Saat itu pesananku dan Adam tertukar. Aku membawa pesanan milik Adam dan juga sebaliknya. Sebenarnya hal itu hanyalah masalah sepele dan aku tidak terlalu memedulikannya. Namun, ternyata Adam berlari menyusulku hanya sekadar untuk memberikan vanilla late pesananku.

Katanya pada saat itu, "Di cup ini tulisannya have a good day, tapi kalau kamu minum americano punyaku pasti harimu jadi not a good day karena rasanya sangat pahit."

Hal sepele yang Adam katakan pada saat itu ternyata bisa membuat hariku menjadi lebih baik. Hingga mulai saat itu, kami berdua sering bertemu hanya sekadar untuk mengobrol dan mengopi bersama. Ternyata usia Adam dua tahun lebih tua dariku tetapi dia menyuruhku untuk memanggilnya tanpa embel-embel Kak atau Mas. Enam bulan kemudian, Adam pun menyatakan perasaannya kepadaku dan akhirnya kami pun berpacaran sampai sekarang.

Adam adalah sosok yang selalu berada di sampingku ketika aku sedang kesepian. Ketika aku bersedih, Adam adalah orang pertama yang merelakan bahunya sebagai sandaran untukku. Ialah orang pertama yang memberikan tisu ketika aku meneteskan air mata. Bagiku, Adam adalah segalanya. Hidupku berubah menjadi lebih baik setelah bertemu dengan Adam di saat aku baru saja kehilangan kedua orangtuaku.

Adam baru saja memberiku sebuah pesan. Ia mengajakku untuk bertemu di sebuah kafe yang biasa kami datangi. Waktunya sangat tepat karena saat ini aku pun sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritaku. Adam tentu belum mengetahui bahwa aku telah dipecat dari perusahaan. Aku lebih baik memberitahunya langsung dibanding memberinya pesan.

Aku pun segera bersiap untuk pergi ke kafe tersebut karena Adam mengatakan bahwa tiga puluh menit ia akan sampai di sana. Dengan energi yang tersisa, aku beranjak dari ranjang kasur menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Sudah cukup diriku ini merenungi selama beberapa jam setelah baru saja dipecat oleh perusahaan hari ini.

Tanpa berlama-lama, aku segera menjalankan mobil menuju kafe yang dimaksud oleh Adam. Sesampainya di kafe, pandanganku langsung menangkap di mana keberadaan Adam. Sebuah spot tempat duduk favorit kami berdua, yaitu yang berada di sudut ruangan. Aku berjalan pelan menghampiri Adam yang saat ini tampak sedang terfokus dengan ponselnya.

"Hai, udah nunggu lama, ya?" ujarku sesampainya di depan Adam.

Adam sendiri langsung mendongak dan menyadari kehadiranku. Pria itu tersenyum dan menggeleng, "Enggak kok. Udah pesan makanan atau belum?" tanyanya.

"Gampang, nanti aja aku pesannya. Nggak biasanya kamu ajakin ketemuan sore-sore gini. Ada apa?" tanyaku setelah duduk di bangku depan Adam.

"Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu, Ra," ujar Adam.

"Wah, sama dong! Ada sesuatu juga yang mau aku omongin ke kamu. Kebetulan banget," timpalku dengan semangat walaupun sebenarnya apa yang akan aku ceritakan kepada Adam sangat tidak menyenangkan.

"Oh iya? Kalu gitu kamu duluan aja yang ngomong, Ra," ucap Adam sedikit terkejut. Aku bisa merasakan hanya dengan perubahan suara yang ia buat.

Aku menggeleng dengan cepat, "Nggak bisa. Kamu duluan yang ngomong dong 'kan kamu yang ajakin aku ke sini," ujarku.

"Baiklah," tukas Adam singkat.

Pria itu tampak menghela napas sesaat kemudian mengembuskannya perlahan. Suasana di antara aku dan Adam berubah seketika menjadi sunyi dan hening. Hanya ada suara bising yang timbul dari orang-orang di sekitar kami yang juga berada di dalam kafe. Tampaknya apa yang akan Adam katakan cukup serius sehingga pria itu terlihat sedang mempersiapkan sesuatu.

"Aku mau hubungan kita cukup sampai di sini aja, Clara."

Bab 2

Cukup sudah diriku menangisi kejadian buruk yang baru aku alami berturut-turut pada hari ini. Adam baru saja memutuskanku tadi siang. Rasanya seperti tidak nyata dan hanya sebuah mimpi tetapi pada kenyataannya Adam memang memutuskanku. Begitu mendengar perkataan Adam, diriku rasanya seperti tersengat listrik hingga dunia terasa berhenti seketika.

"Aku mau hubungan kita cukup sampai di sini aja, Clara," ucap Adam dengan nada yang pelan tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

Hening sesaat. Baik aku maupun Adam, kami berdua tidak ada yang mengatakan apa pun lagi. Aku sedang sibuk berpikir dengan kepalaku sendiri sementara Adam mungkin sedang menunggu jawaban dariku. Pria itu tampak menatap ke arah bawah dan tidak menatap mataku seperti biasa. Sudah bisa kuduga bahwa saat ini Adam pasti sedang merasa takut dan bersalah. Aku bisa mengetahui itu.

"Clara?" ucap Adam sekali lagi dan saat ini pria itu sudah memberanikan diri untuk menatapku.

Sementara itu, salah satu tanganku kini sudah mengepal di atas meja. Aku menahan amarah. Perlahan, aku pun mulai mendongak dan menatap kedua mata Adam yang saat ini juga sedang menatapku dengan tatapan sayu. Kami berdua tidak saling mengeluarkan suara. Aku dan Adam masih saling menatap seakan kami berdua sedang berbicara hanya lewat tatapan.

"Kamu mau putus sama aku?" tanyaku untuk meyakinkan pertanyaan Adam. Dengan cepat Adam pun mengangguk lemah tanpa menjawab apa pun.

"Kenapa?"

"I have no reason," timpal Adam singkat.

Aku tersentak begitu mendengar perkataannya. Apa katanya? Ia tidak memiliki alasan apa pun untuk memutuskanku? Sangat tidak masuk akal. Begitu Adam menyelesaikan perkataannya, aku hanya terkekeh pelan. Lebih tepatnya aku menyindir Adam dengan sarkas. Setiap perbuatan pasti terdapat alasan. Tidak mungkin jika Adam memutuskanku tetapi ia tidak memiliki alasan apa pun.

"Kamu udah nggak sayang lagi sama aku? Atau kamu selingkuh sama wanita lain?"

Aku tidak sadar jika dua pertanyaan itu berhasil keluar dari mulutku. Kini semua tubuhku sudah dipenuhi dengan ego dan amarah. Adam pun lantas menggeleng dengan cepat kemudian berusaha meraih tanganku. Namun, aku berhasil menarik kedua tanganku di atas meja agar Adam tidak bisa memegangnya. Aku sudah sangat muak dengannya.

"Atau jangan-jangan kamu udah hamilin wanita lain dan akhirnya kamu terpaksa untuk menikahinya?" ucapku sekali lagi dengan perkataan yang menusuk.

"Maksudku bukan seperti itu Clara. Ada sebuah alasan yang nggak bisa aku jelasin ke kamu. Tapi semua yang kamu omongin itu nggak benar, Ra," timpal Adam memohon.

Diriku sudah tidak tahan lagi mendengar perkataan memelas dari Adam. Aku pun langsung bangkit dari duduk sambil membawa tas. "Kalau kamu mau kita putus, fine. Mulai hari ini, udah nggak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita."

Begitu menyelesaikan perkataanku, aku pun langsung berjalan keluar dari kafe dan meninggalkan Adam yang saat ini masih duduk terdiam di dalam kafe. Tidak peduli apakah Adam akan mengejarku atau tidak, yang terpenting saat ini adalah aku harus pergi menjauh darinya sebelum hatiku merasakan sakit yang mendalam. Aku lantas masuk ke dalam mobil dan menancapkan gas ke sembarang arah.

Hari ini memang sungguh sangat sial. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan 'sudah jatuh tertimpa tangga pula'. Begitulah kira-kira yang saat ini sedang aku rasakan. Aku baru saja mendapat masalah setelah dipecat dari perusahaan kemudian masalah bertambah kembali ketika Adam tiba-tiba memutuskanku tanpa alasan yang jelas. Hidupku benar-benar menyedihkan.

Air mataku tampaknya sudah habis karena sepulang dari pertemuan dengan Adam di kafe, aku menangis terus menerus di perjalanan. Aku pun berjalan ke arah cermin dan sangat terkejut melihat penampilanku saat ini. Sungguh berantakan. Kedua mata yang bengkak serta rambut berantakan berhasil memenuhi penampilanku. Wajahku sudah terlihat sangat berantakan dan kumal seperti seorang gelandangan di tepi jalan. This is the worst day ever.

Aku pun beranjak menuju ke ranjang kasur untuk beristirahat dari segala masalah yang menimpaku hari ini. Namun, tiba-tiba saja terdapat sebuah panggilan masuk di ponselku. Hal itu membuatku berbalik dan mengambil ponselku yang masih berada di dalam tas. Semoga saja orang yang saat ini meneleponku bukanlah Adam. Ketika melihat nama di layar, ternyata panggilan tersebut berasal dari nomor asing.

"Halo? Siapa di sana?" ucapku memulai telepon.

"Clara! Ini aku Anya! Masih ingat nggak sama aku?" ucap seseorang dari seberang telepon.

Aku lantas berusaha mengingat nama Anya. Memoriku sekejap kembali berputar ke masa lalu. Anya ternyata adalah teman semasa kuliahku. Kami berdua berada di jurusan yang sama, yaitu ilmu komunikasi. Dahulu, hampir setiap hari aku selalu bersama dengan Anya. Kemana pun aku pergi pasti Anya akan selalu mengikutiku. Sangat menyedihkan karena aku hampir saja melupakannya.

"Oh iya, Anya! Kamu apa kabar? Udah lama kita nggak bertemu lagi," ujarku dengan nada yang kubuat menjadi riang meski suasana hatiku benar-benar sedang buruk.

"Aku baik-baik aja! Kalau kamu gimana?" tanya Anya.

"Kabarku baik Anya! Ada apa malam-malam gini telepon?" tanyaku sambil melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.

"Oh iya! Malam ini aku ngadain pesta di salah satu bar dan aku mengundang kamu buat datang. Kalau kamu berkenan hadir, aku kirimin alamatnya sekarang, ya!" tutur Anya dengan suara riang berharap agar aku bisa hadir.

"Okay, Anya. Nanti aku kabarin lagi, ya. Have fun, enjoy your party," ucapku begitu selesai Anya langsung menutup panggilannya.

Aku kembali berjalan ke ranjang kasur dan lantas membaringkan tubuh di atas kasur yang empuk. Cukup sudah untuk hari yang melelahkan kali ini. Jika saja diriku tidak mengalami kesialan yang beturut-turut, aku pasti akan datang ke pesta yang diadakan oleh Anya. Namun, sepertinya diriku sudah terlalu lelah untuk melakukan kegiatan apa pun lagi. Aku hanya ingin beristirahat untuk melepas penat.

***

Menjilat air ludah sendiri, seperti itulah definisi yang cocok bagiku. Ya, aku akhirnya memutuskan untuk hadir di pesta yang diadakan oleh Anya. Dengan semangat dan energi yang tersisa, aku masuk ke dalam sebuah lounge di mana Anya mengadakan pestanya. Begitu masuk ke dalam, pandanganku dipenuhi dengan orang-orang yang sedang menari di atas lantai dansa.

Kebanyakan dari orang yang hadir di acara ini mengenakan pakaian yang cukup seksi dan minim bahan. Tentu saja, ini adalah sebuah pesta sehingga mereka harus menampilkan yang terbaik. Namun, tidak bagiku. Aku hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam serta baju model sabrina yang memamerkan bahuku. Selain daripada itu, tidak ada yang seksi lagi dari diriku.

Suara musik yang berisik serta lampu dengan penerangan minim memenuhi pandanganku. Hampir sama seperti club, tetapi bedanya adalah lounge ini tampak terlihat lebih sempit karena Anya sengaja menyewa tempat hanya untuk teman-teman terdekatnya. Aku pun berjalan menuju ke sebuah bar untuk mencari Anya. Wanita itu berkata jika saat ini ia sedang berada di bar dengan temannya.

"Clara!" Sebuah panggilan dari arah kejauhan membuat atensiku berpaling. Ternyata yang baru saja memanggilku adalah Anya. Aku pun beranjak menyusulnya.

"Nah ini, best friend-ku waktu kuliah! Kemana aja kamu selama ini, Clara?" sapa Anya begitu aku duduk di sebelahnya.

Aku dan Anya pun berpelukan kembali setelah lama tidak bertemu lagi. Seperti layaknya seorang sahabat lama, aku dan Anya saling menempelkan pipi satu sama lain untuk menyapa. Anya yang saat ini aku lihat sangatlah berbeda dengan Anya yang dahulu aku kenal semasa kuliah. Wanita di depanku tampak lebih dewasa. Selain itu, Anya juga menjadi lebih seksi dengan pakaiannya yang menampilkan sedikit kedua belahan dadanya. Yah, sangat berbeda dengan diriku.

"Aku di sini aja kok, Nya. Kamu aja tuh yang pergi kemana-mana. Sukanya liburan ke luar negeri 'kan?" timpalku dan Anya hanya terkekeh mendengarnya.

"Hahaha, iya. Kerjaanku sekarang banyak di luar negeri, Ra. Tahu aja lah gimana sibuknya travel blogger kayak aku," ujar Anya.

"Pokoknya kapan-kapan kamu harus ajakin aku pergi ke luar negeri juga," ucapku bercanda kepada Anya tetapi aku juga berharap demikian pula.

"Siap, Bos! Kalau gitu aku pergi ke sebelah sana dulu, ya, Ra. Kalau kamu butuh apa-apa tinggal panggil aku aja, okay?" tutur Anya.

Aku mengangguk pelan kemudian tersenyum. Selepas Anya pergi dari hadapanku, aku pun langsung meminta kepada bartender untuk memberikan minuman apa pun kepadaku. Tujuanku datang ke pesta ini sebenarnya hanya untuk melepas penat dengan meminum alkohol. Setidaknya setelah meminum alkohol, seluruh beban yang terkumpul di kepalaku bisa terhempas dan hilang.

Tidak lama kemudian sang bartender pun memberikan satu gelas berisi cocktail dengan bahan campuran contreau, gin, jus nanas, soda, daun mint dan juga jeruk nipis. Sajian cocktail yang sangat menyegarkan untuk diminum pada malam hari seperti ini. Paduan dari jus nanas, daun mint, serta jeruk nipis membuat tenggorokanku menjadi fresh kembali. Dalam sekejap, cocktail yang berada di gelas kecil pun sudah aku teguk sampai habis.

Karena masih belum puas, aku pun kembali meminta kepada bartender. Namun, kali ini aku tidak meminta cocktail, melainkan sebotol vodka. Tidak main-main, aku langsung meminta satu botol vodka seharga tiga belas juta. Aku lantas mengeluarkan kartu debit dan menggesekkannya pada alat pembayaran. Entah di mana kesadaranku saat ini, yang saat ini aku butuhkan hanyalah alkohol.

Begitu sang bartender membukakan botol vodka untukku, aku lantas menuangkannya ke dalam gelas kaca. Aku menghabiskan satu gelas vodka hanya satu tegukan saja dan kembali menuangkan isi vodka ke dalam gelas lalu meminumnya kembali. Sudah sampai tiga gelas berisi vodka aku teguk sampai habis. Aku meminumnya seperti orang yang sedang kecanduan alkohol.

Aku yakin bahwa saat ini sang bartender sedang keheranan melihat sikapku. Ia pasti menganggap diriku sebagai orang aneh yang meminum alkohol tanpa henti. Namun, aku tidak peduli dan tetap meneguk sampai diriku benar-benar kehilangan kesadaran. Saat ini diriku pun sudah dipenuhi oleh alkohol dan aku mabuk.

Ketika sang bartender berusaha menghentikanku dengan meraih botol vodka, aku langsung menatapnya tajam seperti orang gila. Berkat tatapanku yang menusuk itulah akhirnya sang bartender mengalah dan pergi untuk melayani orang lain. Tidak ada yang bisa menghentikanku selain diriku sendiri. Satu botol vodka seharga tiga belas juta pun akhirnya habis kurang dalam waktu satu jam.

Aku langsung menghempaskan kepalaku di atas meja. Namun, tiba-tiba saja terdapat seseorang yang menepuk pundakku. Dengan penuh kesadaran yang hanya tersisa nol sekian persen, aku lantas mengangkat kepalaku. Pandangan mataku tampak buram karena sudah dipenuhi oleh pengaruh alkohol. Samar-samar aku melihat sosok pria yang terlihat sedang menatapku aneh.

"You are drunk," ucapnya.

"I am," jawabku pelan kemudian kembali menjatuhkan kepalaku.

Akan tetapi, tiba-tiba pria itu langsung memegang kedua pipiku. Apa yang baru saja dilakukan oleh pria itu membuatku langsung menepis kedua tangannya. Meskipun aku mabuk, tetapi aku masih bisa menjaga harga diriku. Jangan-jangan pria yang saat ini berada di hadapanku adalah om-om jahat yang suka menculik wanita sepertiku. Aku tidak semudah itu untuk dibohongi, ya.

"Orang mesum!" teriakku setelahnya dan membuat orang di sekelilingku langsung menatap heran. Terutama pria yang saat ini berada di hadapanku, ia langsung menunjukkan raut wajah yang panik akibat teriakanku. Pria itu berusaha menutupi mulutku agar aku tidak berteriak kembali tetapi dengan cepat aku langsung mengigit jarinya sehingga ia langsung menjerit kesakitan.

"Aw! Saya bukan orang mesum! Justru saya mau bantu supaya kamu nggak mabuk lagi! Lihat, dirimu saat ini sudah sepenuhnya dipengaruhi alkohol. Minum ini," ujar pria itu sambil memberikan segelas air putih kepadaku.

"Bohong! Mana ada penjahat mau mengaku! Om mau bawa saya ke hotel, ya?!" Aku meracau sepenuhnya dan tidak sadar jika saat ini diriku sudah benar-benar mabuk.

"Saya nggak bohong! Dan ingat, saya bukan om-om! Saya masih lajang dan belum mempunyai istri," tutur pria itu frustrasi menghadapiku yang sudah seperti orang gila.

"Bohong! Om ini udah kayak orangtua aja masih mengaku lajang! Kalau saya baru lajang karena hari ini saya baru diputusin sama pacar!" teriakku tanpa sadar.

"Oh, jadi kamu habis diputusin sama pacar makanya langsung minum banyak alkohol, ya?" timpal pria itu yang tampak tertarik dengan pembicaraan.

"Bukan itu aja, hari ini saya juga baru dipecat dari perusahaan yang artinya saya menjadi pengangguran!" teriakku kembali yang tanpa sadar membeberkan semua kesialanku hari ini.

"Pengangguran tapi kok beli alkohol yang paling mahal?" tanya pria itu yang kulihat saat ini sedang tersenyum tipis ke arahku. Namun, diriku yang saat ini sudah sepenuhnya dipengaruhi alkohol membuatku tidak kuat lagi untuk menjawab.

"Arkana Halim," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku.

Ketika aku berusaha meraih tangannya, tiba-tiba saja tubuhku ambruk dan kehilangan kesadaran. Aku akhirnya pingsan setelah mabuk total akibat meneguk satu botol vodka seharga tiga belas juta. Hal terakhir yang aku ingat adalah seorang pria yang aku temui mengenalkan dirinya dengan nama Arkana Halim. Hanya itu saja, sisanya aku tidak mengingat apa pun lagi.

Bab 3

Mataku perlahan mulai membuka ketika sinar matahari mulai masuk lewat jendela. Aku meregangkan tubuhku yang terasa sangat kaku. Bau alkohol yang ada pada tubuhku menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku. Ketika benar-benar sudah sadar, aku langsung teringat dengan kejadian tadi malam. Sebentar, bukannya tadi malam aku berada di pesta Anya dalam kondisi mabuk? Lalu siapa yang sudah membawaku pulang sampai ke dalam kamar seperti ini?

Memoriku tidak bisa mengingat lebih jauh lagi karena tadi malam diriku sepenuhnya sudah dipengaruhi oleh alkohol. Hal terakhir yang aku ingat hanyalah terdapat seorang pria yang mengenalkan dirinya dengan nama Arkana Halim. Ah iya, aku ingat! Tadi malam aku berteriak seperti orang gila dan mengatai pria tersebut dengan sebutan orang mesum. Aku memukul kepalaku sendiri karena tingkah aneh yang sudah aku lakukan kepada orang asing.

"Aduh! Kalau dia nggak terima aku katain orang mesum gimana, ya? Jangan-jangan dia bakal laporin aku ke polisi lagi? Bodoh banget kamu Clara!" ucapku merutuki diri sendiri.

Aku lantas teringat kembali jika tadi malam membeli sebotol vodka dengan harga yang sangat mahal, yaitu tiga belas juta! Begitu melihat bill, aku sangat tersentak dengan angka nol yang sangat banyak tertera di sana. Padahal saat ini aku adalah seorang pengangguran dan tidak mempunyai pekerjaan tetapi dengan bodohnya aku membeli sebotol vodka yang tidak berguna itu. Bodohnya Clara.

Tiba-tiba ponselku berdering. Ada seseorang yang meneleponku. Ketika aku membuka ponsel, ternyata saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Yah, diriku memang patut dipecat karena sering sekali bangun terlambat. Untung saja saat ini aku menjadi pengangguran sejenak sehingga aku bisa tidur dan bangun sepuasnya. Aku pun langsung mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Anya.

"Halo, Clara? Kamu udah bangun atau belum?" ucap Anya begitu aku mengangkat panggilan darinya.

"Halo, Anya. Udah dong, kalau belum bangun terus siapa coba yang angkat telepon dari kamu ini," jawabku.

"Hahaha benar juga kamu. Oh iya, gimana keadaanmu sekarang? Tadi malam kamu mabuk berat sampai pingsan, Ra," ujar Anya. Nah, waktu yang sangat tepat karena aku baru saja ingin menanyakan hal itu kepada Anya.

"Kebetulan banget aku juga mau tanya hal itu ke kamu. Kamu tahu nggak siapa yang antar aku pulang sampai ke apartemen tadi malam? Atau semalam aku pulang sendiri? Soalnya aku nggak ingat apa pun, Nya," tuturku menjelaskan kejadian sebenarnya.

"Semalam yang antar kamu pulang ke apartemen itu Arkan, teman aku. Kamu nggak ingat?"

Apa katanya? Arkan? Apakah pria bernama Arkana Halim yang semalam kukatai sebagai orang mesum itu mengantarkanku pulang? Dan bagaimana bisa Anya mengenal pria itu? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku hingga aku lupa jika saat ini masih berada di sambungan telepon dengan Anya. Aku kembali tersadar ketika Anya memanggil namaku.

"Ra? Ada apa kok diam?" ujar Anya.

"Arkan siapa, Nya?" tanyaku sambil berharap semoga Arkan yang dimaksud bukanlah Arkana Halim yang tadi malam berbicara denganku saat sedang mabuk.

"Arkana Halim, temanku. Dulu satu universitas sama kita juga kok, dia kakak tingkat jurusan manajemen. Kamu nggak kenal, Ra?" jawab Anya yang seketika membuat bulu kudukku berdiri. Ternyata pria yang menolongku hingga mengantarku pulang sampai di apartemen adalah pria yang sudah kukatai sebagai orang mesum. Rasa malu serta bersalah kembali memenuhi diriku.

"Aku nggak kenal, Nya. Uhm tapi, semalam dia nggak apa-apain aku 'kan?" tanyaku selidik. Siapa tahu pria bernama Arkan itu memang mesum dengan menggunakan kesempatan ketika aku mabuk untuk melakukan hal-hal aneh.

"Nggak perlu mikir yang aneh-aneh, Ra. Arkan orangnya baik kok jadi dia nggak mungkin macam-macam sama kamu, percaya deh. Lagian juga waktu kamu bangun baju sama celana masih lengkap 'kan?" ucap Anya bercanda yang justru membuatku menjadi semakin malu.

"Apaan sih, Nya!"

Aku menahan malu hingga wajahku kini sudah berubah menjadi kemerahan. Namun, setidaknya aku menjadi lega karena pria bernama Arkan itu tidak melakukan hal aneh kepadaku. Justru aku lah yang seharusnya berterima kasih kepadanya karena telah mengantarku pulang ke rumah dengan selamat.

"Hahaha. Kalau gitu teleponnya aku tutup, ya, Ra. Kapan hari lagi deh kalau aku nggak sibuk kita harus main bareng!"

Aku mengangguk dengan semangat. "Siap! Thanks buat informasinya Anya. Dan terima kasih juga untuk pestamu semalam, asyik banget! Walaupun di sana aku cuma minum aja."

"Okay, Clara, it's fine. See you soon my girl!" tutup Anya.

Begitu menutup ponsel, aku kembali merebahkan diri di atas ranjang kasur yang empuk. Pengaruh alkohol masih tertinggal sedikit sehingga membuat kepalaku terasa agak pusing dan sakit. Dengan sepenuh tenaga, aku berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapan di pagi menjelang siang hari ini.

Akan tetapi, ketika membuka kulkas, tidak ada satu pun bahan makanan yang tersisa di sana. Hanya tersisa beberapa makanan kalengan seperti ikan sarden bahkan telur dan sayuran pun tidak ada. Aku tersenyum miris. Oh, jadi seperti ini rasanya menjadi pengangguran. Sudah kantong kering, kulkas pun ikut kering. Aku pun akhirnya memutuskan untuk membeli makanan di luar melalui aplikasi online.

Sedih rasanya ketika melihat isi dompet dan saldo yang ada di kartu debitku semakin menipis. Jika saja semalam aku tidak membeli sebotol vodka yang harganya tidak masuk akal itu, saldo di kartu debitku pasti tidak akan berkurang. Yang membuat diriku menyesal adalah mengapa aku bisa menghabiskan vodka tersebut sangat cepat? Yah, namanya juga orang mabuk pasti akan bertindak tanpa berpikir.

Aku meraih dompet untuk mengambil uang guna membayar makanan yang sudah aku pesan melalui sebuah aplikasi online. Kurir yang mengantar makanan mengatakan bahwa sebentar lagi akan datang dan aku bergegas untuk segera turun ke lobby apartemen. Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang menangkap perhatianku. Terdapat sebuah kartu nama yang terletak di antara uang di dompetku. Dan ketika melihat isi kartu tersebut, terpampang jelas nama Arkana Halim di sana.

"Kok aku bisa simpan kartu namanya dia, ya?" Aku mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam. Akan tetapi, percuma saja karena aku tidak bisa mengingat apa pun.

"Mungkin semalam nggak sengaja aku bawa kali, ya?"

Aku tidak menghiraukan kembali dan langsung keluar dari unit apartemen untuk mengambil pesanan makanan di lobby lantai bawah. Perutku sudah meronta untuk diberi makanan setelah terakhir kalinya aku makan adalah pagi kemarin, sebelum bertemu dengan Adam di kafe. Pantas saja perutku terasa perih karena dalam keadaan kosong perutku langsung terisi oleh minuman keras berupa vodka.

***

Hingga sampai detik ini, aku masih memandangi kartu nama milik Arkan. Sudah sejak tadi siang aku memiliki niat untuk menelepon pria itu hanya sekadar untuk berterima kasih karena ia telah mengantarku dengan selamat. Namun, rasa malu yang ada pada diriku melebihi niatku untuk berterima kasih. Mau ditaruh di mana mukaku setelah mengatai orang asing dengan perkataan yang tidak pantas?

"Telepon nggak, ya?" Aku masih ragu-ragu. Bagaimana jika nanti saat Arkan menjawab ia malah tidak terima dengan perkataanku semalam? Atau justru Arkan akan mengatakan hal aneh kepadaku karena tingkah mabukku yang sangat aneh dan gila?

"Argh, lebih baik aku tidur aja." Aku lantas menutupi seluruh badanku dengan selimut dan berusaha untuk memejamkan mata.

Namun, ternyata tidak semudah itu untuk tidur jika aku sedang memikirkan sesuatu. Aku pun langsung bangun terduduk sambil berteriak, "Nggak bisa tidur!"

Perasaan aneh terus mengganjal pada diriku. Karena sudah tidak tahan lagi, aku pun langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja sebelah ranjang kasur. Dengan cepat aku langsung memasukkan nomor milik Arkan yang tertera di kartu nama tersebut. Sebelum benar-benar menekan tombol telepon, aku meyakinkan diriku sendiri untuk menghilangkan perasaan gugup.

"Ingat Clara, kamu harus minta maaf dan bilang terima kasih, nggak perlu ngomong yang aneh-aneh."

Begitu menekan tombol telepon, beberapa detik kemudian Arkan langsung mengangkatnya. "Halo? Dengan Arkana Halim di sini," ujarnya di seberang telepon dengan suara yang sama persis aku dengar tadi malam. Cukup berat dan terdengar seksi. Ah! Kembalikan pikiranmu Clara!

"Ha-halo?" Aku tidak sadar jika tiba-tiba suaraku berubah menjadi gagap.

"Siapa di sana?" ujar Arkan sekali lagi yang tampaknya belum mengenali suaraku.

"Saya Clara, Om." Aku menepuk dahiku setelah tidak sadar memanggilnya dengan Om. Bodohnya Clara! Arkan pasti langsung akan mengetahui siapa diriku ini.

"Oh, kamu. Yang baru putus dan dipecat dari perusahaan, ya?"

Aku sudah bisa menebak jika pria itu pasti akan mengungkitnya kembali. Rasa malu yang ada pada diriku menjalar di sekujur tubuh. Sangat malu bukan jika terdapat seseorang yang mengingatmu tetapi dengan kesan yang buruk, yaitu orang yang baru saja putus dengan kekasih serta dipecat dari perusahaan. Sepertinya harga diriku sudah tidak ada lagi di hadapan Arkan. Dan yang lebih parah lagi, Arkan sudah menyaksikan aksi gilaku ketika sedang mabuk. Lengkap sudah.

"Iya benar," jawabku pelan dan telanjur pasrah. Mau bagaimana lagi, pria itu sudah mengetahui segalanya tentang seberapa buruknya diriku.

"Ada apa telepon saya malam-malam seperti ini?"

"Jadi begini, sebelumnya saya mau meminta maaf kalau kemarin saya berkata kasar dalam keadaan mabuk. Kata Anya, kemarin Anda sudah antar saya sampai apartemen dengan selamat. Oleh karena itu, saya sekaligus ingin berterima kasih sama Om," tuturku dan sekali lagi aku keceplosan memanggil Arkan dengan panggilan Om. Pasti sebentar lagi pria itu akan mengomel kepadaku.

"Baik. Sebelumnya, saya minta tolong jangan panggil saya dengan nama om karena saya bukan om-om. Di kartu nama sudah tertera jelas kalau nama saya adalah Arkana Halim, bukan? Panggil saya Arkan jika mau, atau apa pun itu yang terpenting jangan sebutan om. Paham?"

"Paham, Pak." Bodoh, Clara. Panggilan Pak justru lebih parah lagi dibandingkan Om.

"Jangan Pak, saya belum bapak-bapak tahu tidak," seru Arkan dari seberang telepon. Tampaknya pria itu sudah mulai tersulut emosi ketika aku memanggilnya dengan sebutan Om dan Bapak.

"Lalu saya harus memanggil apa?" Aku menjawab dengan bingung. Masa iya aku harus memanggilnya Arkan? Kami berdua bahkan tidak berteman dekat dan baru saling kenal hari ini.

"Panggil Arkan saja."

"Okay, Arkan," ucapku terpaksa untuk mempersingkat waktu karena sebenarnya tujuanku sudah selesai, yaitu untuk meminta maaf dan juga berterima kasih. Sudah bukan? Mengapa pria itu harus memperpanjangnya menjadi rumit.

"Saya terima permintaan maaf dari kamu. Sebenarnya tingkat mabukmu masih rendah jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lebih parah. Saya hanya sedikit terkejut ketika kamu meneriaki saya dengan sebutan orang mesum yang membuat seisi ruangan menjadi menoleh ke arah saya."

Mengapa pria ini semakin lama semakin banyak berbicara? Hal itu membuatku semakin malas untuk melanjutkan sambungan telepon. Saat ini aku seperti mendengar seseorang yang sedang mencurahkan hatinya. Hei, kami berdua bahkan baru kenal dan tiba-tiba saja Arkan tampak merasa sudah akrab denganku. Aneh.

"Halo Clara?" Arkan memanggil namaku karena selama beberapa detik aku tidak merespons perkataannya.

"Eh, iya, maaf. Silakan dilanjut."

"Selanjutnya, saya mau meluruskan mungkin kamu sudah salah paham dengan saya. Ketika saya mengantarmu sampai apartemen, saya berani sumpah jika saya tidak melakukan hal aneh kepadamu. Kamu bisa tanyakan kepada asisten saya karena saya tidak sendirian."

"Iya, Arkan. Saya nggak berpikir macam-macam ke kamu," jawabku berbohong padahal sebenarnya aku sudah berprasangka buruk kepadanya.

"Bagus. Selanjutnya ada lagi yang ingin kamu sampaikan kepada saya?"

Aku menghela napas lega. Akhirnya sambungan telepon kami berdua sudah berada di penghujung acara. Dengan cepat aku langsung menggeleng dan menjawab, "Nggak ada. Kalau begitu terima kasih, saya tutup teleponnya, ya."

"Jangan dulu Clara!"

Aku yang awalnya ingin segera menekan tombol mati lantas tidak jadi ketika Arkan tiba-tiba memanggil namaku. Apalagi sih yang sebenarnya pria ini inginkan? Bukannya aku sudah meminta maaf dan berterima kasih kepadanya? Apakah semuanya masih belum cukup juga?

"Saya lihat kamu baru saja dipecat dari perusahaan bukan? Kebetulan perusahaan saya sedang membuka lowongan pekerjaan. Jika kamu berminat untuk bergabung, besok pagi kamu bisa langsung datang ke alamat yang tertera di kartu nama saya untuk melakukan interview."

Aku yang awalnya sudah malas dan tidak tertarik dengan pembicaraan di telepon sontak bangkit dari tidur ketika mendengar penawaran pekerjaan dari Arkan. Hanya itulah yang saat ini aku butuhkan! Senyuman gembira mulai terukir di bibirku. Akhirnya aku mendapat kesempatan kembali untuk bekerja setelah dua hari ini menganggur. Terima kasih Tuhan.

Aku mengangguk dengan yakin. "Siap Arkan. Besok pagi saya langsung datang ke alamat yang tertera. Terima kasih, ya!"

"My pleasure. Saya tunggu kamu besok di kantor jam delapan pagi, jangan sampai terlambat."

"Siap!" sorakku dengan gembira setelah mendapatkan keajaiban malam ini.

"Kalau begitu saya tutup teleponnya. Selamat malam, Clara."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED