Bab 2

"Sayang, serahkan kertasnya agar di tandatangani Gea," ucap Vera pada Alex. Sebelumnya ia sudah berunding menyusun rencana untuk menikahkan Adrian dengan Gea secara kontrak. Tentunya pernikahan ini tidak akan bertahan lama karena di tentukan oleh jatuh tempo wakti sesuai perjanjian diatas kertas kontrak.

Sedikit kebingungan, Gea mencoba berpikir maksud dari ucapan Vera.

Alex menyodorkan selembar kertas berisi perjanjian kontrak pernikahan," Adrian kemarin sudah tanda tangan. Sekarang, giliranmu."

Celine yang sejak tadi merasa senang dan bibirnya tersenyum pun mendadak pudar, ia segera merampas kertas itu. Membacanya secara teliti, matanya terbelalak tak percaya setelah mengetahui isinya. Disana, tertulis tentang perjanjian pernikahan kontrak yang hanya berlaku selama dua bulan saja.

"Maksud anda apa ini? Kenapa ada surat perjanjian nikah kontrak?" Celine tak terima, ia meremas surat itu hingga tak berbentuk rapi lagi.

Alex dan Vera terkejut, ia tak akan menyangka jika reaksi Celine akan begini.

"Maaf Celine, tapi ini bukan perjanjian kontrak biasa. Ada imbalannya nanti, jikalau Gea berkenan menyetujui kontrak pernikahan ini," Vera berkata cukup tenang, ia tau bagaimana perasaan hancur Celine jika putri semata wayangnya terlibat dalam permainan kontrak nikah.

Mendengar kata imbalan, Celine pun mulai tergiur, pasti imbalannya tidak kecil!

"Memangnya apa imbalan itu? Aku tidak mau menyetujuinya terlalu mudah, apalagi rugi. Kasihan nasib Gea, dia itu benar-benar serius mencari cinta," wajah dengan tatapan sinis tadi berubah menjadi penuh iba, Celine kembali duduk dan merengkuh bahu Gea penuh kasih sayang, ia menujukkan betapa sayang dan berharganya Gea.

Adrian sendiri juga tidak ingat kalau kemarin surat yang ia tanda tangani secara asal-asalan tanpa membaca isinya ternyata surat pernikahan kontraknya dengan Gea.

'Aduh, kenapa aku ceroboh sekali sih? Kalau Laras sampai tau aku menikah dengan Gea, bisa gawat! Laras menjauhiku nanti!' batin Adrian merasa tidak tenang, meskipun tidak akan berumah tangga bersama Gea selamanya, namun biasanya Alex mengundang semua rekan karyawannya. Belum lagi ada beberapa reporter yang meliput jika ada acara pernikahan megah yang di selenggarakan secara besar-besaran dan meriah. Jelas akan tersiarkan di stasiun televisi ataupun radio. Adrian tidak mau sampai Laras tau.

"Imbalannya, uang dan perhiasan emas bertabur berlian. Kalau Gea bersedia, setelah selesai masa kontrak pernikahan, imbalan itu akan di serahkan sepenuhnya kepada Gea," jelas Vera.

Celine menarik Gea menjauh dari mereka, ia ingin menyuruh Gea agar setuju langsung dan segera menandatangani surat kontrak nikah itu.

"Apa mama gila? Aku cinta sama Adrian itu tulus ma. Lagipula bukan karena harta," kesal Gea tidak suka.

"Kamu bisa cari pria lain yang lebih tulus. Adrian itu tidak akan pernah mencintaimu. Buang jauh-jauh harapanmu itu, Gea," tekan Celine sedikit gemas, purtinya ini hanya memikirkan cinta dan cinta, bukan imbalan fantastis itu.

"Tapi ma, Adrian itu cuek. Beda dengan pria lain diluaran sana. Walaupun aku gak munafik tergiur imbalan itu, tapi yang aku suka adalah sifat dingin Adrian. Pasti dia tidak mudah berbaur dengan wanita manapun, ma," Gea mencoba menjelaskan tentang perasaannya, ia berubah pikiran, menikah dengan Adrian hidupnya pasti terjamin, tapi hanya sementara waktu dan bukan selamanya. Gea merasakan kesan kagum, pastinya Adrian itu benar-benar tiper pria yang ia cari selama ini. Sangat mustahil Adrian mudah tergoda oleh wanita lain.

"Buka mata kamu lebar-lebar. Tadi mama di permalukan, mama pikir orang tua Adrian meminangmu karena sudah cocok sesuai kriteria menantunya. Kamu dengar? Vera memujimu cantik, berarti apa? Kamu cocok menikahi Adrian. Tapi manfaatkan hartanya selama Adrian menafkahimu nanti. Rawat dirimu sedemikian rupa melebihi bidadari."

"Ingat ya, Gea. Semua ini, tidak datang dua kali. Pikiran baik-baik dan jangan kecewakan mama!" Celine melangkah pergi kembali ke tempat duduknya. Ia harap Gea menerimanya, tapi ia juga harus sering memperingati Gea untuk tidak jatuh cinta terlalu dalam terhadap Adrian.

"Aku setuju menikah. Aku terima tawaran kalian," ucap Gea. Membuat Adrian terkejut bukan main.

'Terima? Dia sudah gila! Dasar wanita mata duitan! Pasti mengincar uang keluargaku saja,' kesal Adrian dalam hatinya.

"Terima kasih, kami sangat lega mendengarnya. Besok, surat kontraknya akan di buatkan ulang. Kamu tanda tangani ya?" Vera tersenyum senang, bisnis suaminya akan selamat, tidak akan ada lagi yang menghina Adrian gay, sebutan sensitif dan menyakitkan. Vera muak mendengarnya.

"Maaf atas kemarahanku tadi," Celine sedkit malu, seharusnya tadi ia lebih bisa mengontrol emosinya. Tapi karena terkejut bercampur malu, tentu hatinya lebih di dominasi perasaan kecewa dan sakit.

"Tidak apa-apa. Sekarang, ayo pesan makanan. Kita terlalu lama mengobrol," Vera mencoba mencairkan suasana yang sempat menegangkan tadi.

Berbeda dengan Adrian yang mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tau dirinya sedang di perhatikan oleh Gea. Tatapan wanita iti tak mau lepas. Adrian merasa kurang nyaman.

"Hmm, maaf. Mama, aku baru ingat kalau hari ini ada janji temu dengan teman lamaku. Aku harus pergi," Adrian segera bergegas pergi meninggalkan meja makan itu, ia ingin menghilangkan pikirannya sejenak tentang masalah nikah kontrak. Batinnya cukup tertekan dan tidak siap.

"Adrian! Jangan pergi! Kamu belum makan!" seruan Gea itu samar-samar Adrian dengar. Ia tak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya keluar darisana.

"Astaga, anak kita. Dia memang sibuk terus. Teman lama yang mana? Pasti wanita," Vera menggeleng heran.

"Bukan, memang Adrian ada teman lama. Satu jurusan kelas bahasa waktu SMA dulu," ucap Alex membenarkan, daripada nantinya Gea berpikiran negatif dan tidak tenang.

"Oh, aku kira wanita," Celine tersenyum kecut, ia juga tidak suka dengan sikap Adrian yang seenaknya. Tak menghargai pertemuan penting ini.

Gea melamun, ia memikirkan nasibnya nanti setelah menikah bersama Adrian. Apakah sikap Adrian akan tetap dingin dan selalu mengabaikannya?

***

Tempat lapangan basket yang cukup terkenal di kota, disitulah Adrian bertemu dengan Arshaka. Teman masa SMA-nya dulu.

Sambil memantulkan bola basket, Arshaka merasakan Adrian sedang di landa stress, terlihat dari raut wajah lesu itu, "Ada masalah?" tanyanya.

Adrian mengangguk samar, "Pernikahan kontrak. Aku harus menikah, dan calon wanitanya bukan Laras. Aku pikir mau di nikahkan dengan Laras. Tapi, itu terdengar mustahil apalagi kedua orang tuaku tidak suka, menilai Laras seperti wanita ber-ekonomi kelas rendah."

"Nikah kontrak sementara saja. Jangan di khawatirkan, kalau masa waktunya sudah habis, kamu bebas."

"Tapi, masalahnya ayahku menggelar pernikahan itu besar-besaran. Pastinya berita pernikahanku tersebar ke ranah publik," ujar Adrian sedikit kesal.

"Kalau memang pernikahan ini tujuannya adalah kontrak, seharusnya bisa di selenggarakan secara tertutup."

Adrian mengangguk, "Ya, aku pikir begitu."

"Apa mungkin, nikah kontrak ini sekedar settingan?"

Bab 3

"Settingan? Itu tidak mungkin. Orang tuaku saja tadi membuat surat kontraknya. Bagaimana bisa itu settingan? Sedangkan keselamatan bisnis keluargaku jauh lebih penting di bandingkan perasaanku kepada Laras," omel Adrian kesal. Hidupnya terlalu di stir oleh kedua orang tuanya, padahal masalah cinta itu ia bisa memilih pasangan sendiri. Tidak perlu menikah kontrak, dan mengenal wanita matre seperti Gea.

"Begini saja, nanti setelah menikah dengan Gea. Kamu tidak perlu tidur satu ranjang, tidurlah di sofa atau ruang tamu. Daripada nanti Gea nafsu dan terjadi hal diluar batas? Lebih baik cari yang aman saja," Arshaka memberikan sebuah saran yang cemerlang.

Adrian tersenyum senang, "Wah! Idemu bagus. Terima kasih ya. Jadi aku tidak menyentuh Gea. Biarlah dia tetap suci. Dan keperjakaanku hanya untuk Laras. Bukan wanita manapun," sekarang semangat Adrian kembali, yang tadinya merasa khawatir, stress dan tertekan memikirkan pernikahan kontrak seketika hilang, Arshaka telah memberikannya solusi yang tepat.

"Sama-sama. Jangan lupa, bicarakan masalah ini juga dengan Laras, agar dia tidak salah paham."

***

Disinilah Adrian berada, ia akan menjelaskan secara jujur tentang pernikahan kontraknya dengan Gea yang akan segera di selenggarakan beberapa hari lagi.

"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan padamu, Laras," ucap Adrian menatap mata Laras begitu lekat.

Laras mengaduk es tehnya, ia bisa menemui Adrian ketika jam istirahat kantor.

"Katakan saja," ujar Laras tanpa melihat Adrian, ia belum tau jika Adrian memiliki perasaan lebih kepadanya.

Adrian menarik nafasnya dalam-dalam. Semoga saja Laras tidak marah.

"Sebenarnya, aku mau nikah. Tapi ini nikah kontrak," ungkap Adrian terlalu cepat, ia takut reaksi Laras justru marah bercampur kecewa. Adrian tidak ingin menyakiti perasaan Laras.

"Nikah kontrak? Oh ya? Dengan siapa?" bibir Laras tersenyum tipis, matanya beralih menatap Adrian. Sungguh ini adalah berita yang sedikit mengejutkan.

"Kamu setuju?" tanya Laras lagi.

Adrian mengangguk, "Demi keselamatan bisnis keluargaku. Agar para investor dan rekan kerja ayahku tidak memandangku sebagai pria gay yang tak ada ketertarikan pada perempuan," jawabnya kesal. Entah siapa yang membuat rumor buruk itu. Ingin sekali Adrian hajar habis-habisan orangnya, tak peduli pria atau wanita. Karena sebutan gay itu, ia di haruskan menikah kontrak, yang jelas tak bisa menikahi Laras, menunggu habisnya jatuh tempo sesuai tanggal perjanjian surat pernikahan kontraknya.

Laras terkekeh, "Lucu sekali ya. Mereka cuma iri dengan kesuksesanmu. Tapi, kenapa ya orang tua kamu sampai berpikiran menikahkan putranya secara kontrak? Kenapa tidak menikah sepenuhnya saja?" heran Laras.

Melihat wajah bahagia Laras, hati Adrian terasa tenang, apalagi senyuman manis Laras itu menggetarkan hatinya. Sungguh ketika Laras senyum, kecantikan naturalnya bersinar.

"Siapa calon wanitanya? Pasti cantik ya?"

'Lebih cantik kamu, Laras,' batin Adrian menjawab, ia sama sekali tidak tertarik dengan Gea.

"Ya, seperti wanita pada umumnya. Kalau wanita pasti cantik, tidak mungkin tampan."

"Jangan lupa undang aku ya?"

Adrian sebenarnya tak mau mengundang Laras, pasti Vera mencibirnya nanti membandingkannya dengan Gea. Adrian tak mau Laras sakit hati karena ucapan mamanya sendiri.

"Jangan datang ya. Pernikahan ini cuma di hadiri oleh tamu-tamu penting. Maaf," ucap Adrian terpaksa sedikit berbohong.

Laras mengangguk mencoba mengerti, "Ok. Kamu pulang saja ya. Aku mau kembali kerja lagi, jam istirahatnya sudah berakhir," Laras melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya.

"Aku pasti akan mengirim pesan, sesibuk apapun," ucap Adrian sebelum pergi, agar ia terus berkomunikasi dengan Laras. Setidaknya ia tidak fokus ke wanita bernama Gea yang akan menjadi mempelainya.

"Semoga pernikahanmu lancar ya. Kalau bisa, buatlah pernikahan itu menjadi sepenuhnya. Bukan cuma janji diatas materai kontrak," Laras bergegas pergi meninggalkan Adrian. Bohong jika ia tidak kecewa, ia menghadiri pernikahan Adrian hanya ingin mengucapkan selamat dan doa. Ia sadar diri, tamu penting yang di maksud adalah rekan kerja dan tamu kalangan atas, sedangkan drinya karyawan biasa dengan gaji yang pas-pasan.

'Laras, aku sayang kamu. Aku cinta banget sama kamu, tolong tunggu aku ya? Aku janji setelah kontraknya selesai, aku segera melamarmu,' batin Adrian pilu, ia menatap punggung Laras.

Ketika orang tua sudah bertindak, Adrian tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun tentang pernikahan sementara, tapi Adrian juga ingin membatalkannya.

***

Gea duduk di sebuah mini bar sambil menikmati minumannya. Tiba-tiba, ia melihat Livia dan Mia yang berada di sebelahnya dan tanpa ragu-ragu, ia langsung memamerkan kabar bahagianya kepada mereka. "Kalian tahu Adrian, bukan?"

"Adrian si CEO muda itu?" tanya Livia dan Mia serempak.

"Iya, itulah dia. Dan kalian tidak akan percaya kabar yang saya bawa. Aku akan menikah dengannya!" tambah Gea sambil tersenyum lebar. Tapi ia tidak jujur jika pernikahannya sekedar status kontrak.

Livia dan Mia terkejut mendengar kabar itu. Mereka tahu bahwa Gea telah lama memendam perasaan terhadap Adrian. Namun, mereka tidak pernah membayangkan bahwa Gea akan menikah dengan pria tersebut.

"Wah, Gea! Kamu beruntung sekali!" ucap Livia sambil memberikan pelukan.

 "Kita senang mendengarnya," tambah Mia.

Gea tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Walaupun disisi lain hati kecilnya merasa sedih sekaligus karena ini bukanlah nikah sungguhan yang di landasi atas dasar cinta, melainkan surat kontrak dan imbalan sebagai bayaran-nya.

"Kapan tanggal pernikahannya?" tanya Livia penasaran.

"Kita harus foto dan berpesta!" Mia sangat antusias, apalagi ia menyukai bagian di acara melempar bunga. Ingin sekali ia mendapatkan bunga dari sang pengantin, agar ia bisa di segerakan menyusul.

"Dua minggu lagi," jawab Gea, setelah berunding dengan Vera dan Alex, akhirnya tanggal pernikahan telah di putuskan. Bahkan Vera yang akan memesankan gaunnya, mengurus segala keperluannya. Dirinya cukup senang karena tidak perlu repot mengeluarkan banyak biaya.

"Astaga! Mendadak sekali. Apa dia mantanmu? Atau kamu di jodohkan?" Livia syok, sebelumnya Gea tidak pernah dekat bersama pria manapun, Gea lebih suka sibuk menggeluti dunia profesi modelnya di bandingkan cinta-cintaan.

"Mungkin Tuhan sudah waktunya mendatangkan jodoh untukku," jawab Gea tersenyum samar, padahal ia terobsesi dengan Adrian karena memang laki-laki itu tampan dan kaya raya.

"Nanti aku bawakan hadiah baju lingerie, agar malam pertamamu lebih berkesab dan panas," goda Livia.

Gea menunduk malu-malu, mereka gamblang sekali. Padahal belum tentu nantinya ia tidur se-ranjang bersama Adrian.

"Apasih, masih lama kok. Satu minggu lagi."

"Kenalin dong ke kita," Mia merasa kepo seperti apa calon suami Gea. Kalau tampan, ia memujanya dan meminta foto, suatu kebiasaannya ketika bertemu pria tampan.

"Emm. Dia sibuk kerja, tadi kita ketemu sebentar. Mungkin ada jam meeting," senyuman Gea pudar, mengingat betapa datarnya ekspresi Adrian saat itu, jelas hatinya terasa sakit.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED