Adrian berdiri di lobi hotel bintang lima dengan dadanya berdebar-debar. Hari ini adalah hari pertemuan pertamanya dengan Gea, perempuan yang dijodohkan dengannya oleh keluarga mereka. Meskipun Adrian memiliki sedikit perasaan cemas, dia tidak sabar untuk bertemu Gea dan melihat seperti apa wanita yang akan menjadi pasangannya seumur hidupnya.
Adrian memeriksa jam tangannya dan melihat bahwa ia masih punya waktu 10 menit sebelum pertemuan mereka. Dia memutuskan untuk menenangkan dirinya sendiri dengan berjalan-jalan di sekitar lobi. Sambil berjalan, Adrian melihat seorang wanita yang sedang duduk di sebuah sofa, dan segera menyadari bahwa itu adalah Gea.
Adrian mendekat dan menyapa Gea dengan senyum lembut, "Hai, Gea. Apa kabar?"
Gea tersenyum, "Halo, Adrian. Saya baik-baik saja, terima kasih. Bagaimana denganmu?"
Adrian merasa lega bahwa Gea tampaknya sangat santai dan ramah. Mereka duduk bersama dan mulai berbincang-bincang. Adrian menyukai cara Gea berbicara, ia merasa Gea sangat cerdas dan humoris. Mereka mulai berbicara tentang hobi mereka, pekerjaan, dan hal-hal lainnya.
Ketika mereka sedang asyik berbincang-bincang, keluarga mereka tiba di lobi.
"Halo Gea. Ya ampun, kamu cantik sekali ya. Kamu cocok menjadi model, sesuai profesimu," sapa Vera. Ia mengusap bahu Gea seakan bangga mengenalnya. Apalagi Gea tipe wanita yang sempurna dari segi penampilan dan fisik.
Gea tersenyum simpul, "Ah, tante bisa saja. Aku tak begitu cantik, yang terpenting hatinya yang cantik."
Vera berbisik di telinga Adrian, "Lupakan Laras. Dia tidak pantas, lebih baik Gea pilihan mama pasti baik."
Inilah yang Adrian tidak suka, mamanya meminta ia menjaga sikap. Tidak boleh terkesan cuek, bosan ataupun diam.
Laras adalah wanita idaman Adrian, bahkan hampir berhasil menggapai hati Laras. Namun Vera langsung memaksanya menjauhi Laras, jika ia tidak patuh maka akan berimbas ke pekerjaan Laras, karirnya akan berantakan. Adrian enggan hidup Laras kembali sulit setelah ia berhasil membantunya dalam hal pekerjaan.
Jika menilai penampilan Gea, Adrian tidak suka dan ingin mual. Apalagi make up Gea yang terlalu tebal, lipstik merah merona, serta wajah halus Gea seakan tidak menampakkan sekecil pori pun. Gea sengaja berdandan cantik hanya untuk memikatnya.
"Adrian, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanya Gea, ia mengeluarkan ponsel bermerk ternama dari dalam tas selempangnya. Selain ingin mengenal Adrian lebih dekat lagi, Gea berharap Adrian selalu memberikan kabar.
"Aku tidak membawa ponsel. Maaf," tolak Adrian halus, padahal ia membawanya di dalam saku celananya. Siasat Gea meminta nomor sudah ia ketahui, seperti halnya menebak beberapa wanita cantik diluaran sana yang ingin mendekatinya terlalu agresif.
"Adrian, berikan saja. Bukankah tadi kamu sudah mengisi dayanya?"
Adrian berdecak kesal, mulut mamanya tak bisa diam.
Gea sedikit kecewa karena Adrian seolah berusaha menghindarinya, untung saja Vera jujur.
"Tapi, aku belum ganti kartu. Yang ini masa tenggangnya habis. Maaf ya?" Adrian mencari-cari alasan lain, demi ketenangan hidupnya agar tidak di ganggu Gea, apalagi sampai mendapatka pesan wanita itu.
Gea merasa sedikit kecewa namun ia mengerti bahwa kartu tersebut masih dibutuhkan oleh Adrian. Namun, ia tidak mengerti mengapa Adrian tidak mengatakan hal tersebut sejak awal.
"Tapi kenapa tidak bilang dari awal? Aku sudah bertanya beberapa kali dan kau selalu menghindarinya," tanya Gea dengan suara sedikit kesal.
Adrian merasa sedikit terpojok dengan pertanyaan Gea tersebut, ia sebenarnya tidak ingin membuat Gea kecewa, namun ia juga tidak ingin membuatnya marah. Ia lalu mencoba mencari-cari alasan lain, demi ketenangan hidupnya agar tidak di ganggu Gea.
"Maafkan aku, sebenarnya aku lupa akhir-akhir ini tidak mengisi pulsanya. Ya, karena memang di rumahku ada koneksi wifi. Pikirku, tidak perlu membeli itu. Aku sendiri tidak suka membuang uang kalau bukan kepentigan mendesak," jawab Adrian tenang. Bagaimana pun usaha Gea, akan ia gagalkan. Sebisa mungkin dirinya membangun tembok pembatas besar agar Gea tak bisa menembus hatinya.
Gea terdiam sejenak mendengar jawaban Adrian. Ia tidak menyangka bahwa ada orang lain yang juga menginginkan kartu tersebut. Namun, ia tetap tidak bisa menahan rasa kecewanya.
"Aku mengerti, tapi kenapa kau tidak bilang dari awal saja?" ucap Gea dengan suara yang masih sedikit kesal.
Adrian merasa sedikit tersentak dengan pertanyaan Gea tersebut. Ia memang seharusnya lebih jujur sejak awal, namun ia tidak ingin membuat Gea kecewa. Ia lalu meminta maaf kepada Gea karena telah mengecewakannya.
"Maafkan aku Gea, seharusnya aku lebih jujur sejak awal. Aku tidak ingin membuatmu kecewa, tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku masih membutuhkan kartu ini untuk beberapa waktu lagi," ucap Adrian dengan suara yang sedikit menyesal.
Gea merasa sedikit lega mendengar permintaan maaf dari Adrian. Meskipun masih kecewa, namun ia juga mengerti bahwa Adrian tidak bermaksud membuatnya kecewa. Ia lalu mengambil nafas panjang sebelum mengucapkan kata-kata penutup.
"Tidak apa-apa Adrian, aku mengerti. Aku hanya sedikit kecewa karena kau tidak jujur sejak awal. Tapi, aku tetap menghargai kejujuranmu sekarang," ucap Gea dengan senyuman yang menenangkan.
"Nanti kalau kalian butuh kabar, bisa lewat perantara mama saja. Biar nanti Vera memberitahu. Setuju kan Ver?" Celine melempar senyumannya pada Vera. Ia memang dekat dengan Vera karena sama-sama mengikuti arisan para ibu sosialita.
"Kabar memang penting. Komunikasi adalah kekuatan cinta dan rumah tangga yang utuh. Kalian nantinya menjadi pasangan suami istri," timpal Alex, ayah Adrian.
Gea dalam hati bersorak senang, mendapatkan pria kaya, tampan, dan binsinya berkembang pesat. Gea ingin menjadi wanita sukses seperti konglomerat ternama. Kesempatan emas ini tidak akan dirinya sia-siakan.
"Maafkan kami, Gea. Karena terlalu memaksamu untuk menikah dengan Adrian," ucap Ver merasa tak enak hati.
Kedua alis Gea mengernyit heran, apakah ini murni terpaksa? Bukan atas keinginan orang tua Adrian?
Gea menghela nafas mencoba untuk biasa saja, "Memangnya Adrian tidak memiliki pacar?" tanyanya penasaran, siapa tau Adrian sedang menyukai seorang wanita, tapi tak bisa menolak permintaan orang tuanya.
"Aku...awhhh," Adrian meringis ketika kakinya di injak oleh Vera. Ia memberikan tatapan tajam pada Vera. 'Apa-apaan sih! Mama ini! Aku mau jujur soal Laras. Anggap saja dia pacarku, biar perjodohan ini batal,' batin Adrian kesal.
"Adrian lajang. Dia belum pernah dekat dengan wanita manapun. Jangan khawatir," ucap Vera, menenangkan kecemasan Gea.
'Omong kosong! Mama dan ayah hanya pilih-pilih saja! Demi pamer pasangan ke rekan kerja saja harus menikah paksa. Huft, aku harus bagaimana supaya pernikahan ini batal? Memangnya mereka pikir menikah itu gampang bisa memunculkan perasan jatuh cinta seiring waktu? Kalau bukan wanita yang di cintainya itu mustahil,' hati Adrian sedikit frustasi, ia berpikir sejenak mencari jalan keluar agar tidak terikat pernikahan permainan ini. Adrian tidak mau hidup berdampingan dengan wanita semacam Gea.
"Sayang, serahkan kertasnya agar di tandatangani Gea," ucap Vera pada Alex. Sebelumnya ia sudah berunding menyusun rencana untuk menikahkan Adrian dengan Gea secara kontrak. Tentunya pernikahan ini tidak akan bertahan lama karena di tentukan oleh jatuh tempo wakti sesuai perjanjian diatas kertas kontrak.
Sedikit kebingungan, Gea mencoba berpikir maksud dari ucapan Vera.
Alex menyodorkan selembar kertas berisi perjanjian kontrak pernikahan," Adrian kemarin sudah tanda tangan. Sekarang, giliranmu."
Celine yang sejak tadi merasa senang dan bibirnya tersenyum pun mendadak pudar, ia segera merampas kertas itu. Membacanya secara teliti, matanya terbelalak tak percaya setelah mengetahui isinya. Disana, tertulis tentang perjanjian pernikahan kontrak yang hanya berlaku selama dua bulan saja.
"Maksud anda apa ini? Kenapa ada surat perjanjian nikah kontrak?" Celine tak terima, ia meremas surat itu hingga tak berbentuk rapi lagi.
Alex dan Vera terkejut, ia tak akan menyangka jika reaksi Celine akan begini.
"Maaf Celine, tapi ini bukan perjanjian kontrak biasa. Ada imbalannya nanti, jikalau Gea berkenan menyetujui kontrak pernikahan ini," Vera berkata cukup tenang, ia tau bagaimana perasaan hancur Celine jika putri semata wayangnya terlibat dalam permainan kontrak nikah.
Mendengar kata imbalan, Celine pun mulai tergiur, pasti imbalannya tidak kecil!
"Memangnya apa imbalan itu? Aku tidak mau menyetujuinya terlalu mudah, apalagi rugi. Kasihan nasib Gea, dia itu benar-benar serius mencari cinta," wajah dengan tatapan sinis tadi berubah menjadi penuh iba, Celine kembali duduk dan merengkuh bahu Gea penuh kasih sayang, ia menujukkan betapa sayang dan berharganya Gea.
Adrian sendiri juga tidak ingat kalau kemarin surat yang ia tanda tangani secara asal-asalan tanpa membaca isinya ternyata surat pernikahan kontraknya dengan Gea.
'Aduh, kenapa aku ceroboh sekali sih? Kalau Laras sampai tau aku menikah dengan Gea, bisa gawat! Laras menjauhiku nanti!' batin Adrian merasa tidak tenang, meskipun tidak akan berumah tangga bersama Gea selamanya, namun biasanya Alex mengundang semua rekan karyawannya. Belum lagi ada beberapa reporter yang meliput jika ada acara pernikahan megah yang di selenggarakan secara besar-besaran dan meriah. Jelas akan tersiarkan di stasiun televisi ataupun radio. Adrian tidak mau sampai Laras tau.
"Imbalannya, uang dan perhiasan emas bertabur berlian. Kalau Gea bersedia, setelah selesai masa kontrak pernikahan, imbalan itu akan di serahkan sepenuhnya kepada Gea," jelas Vera.
Celine menarik Gea menjauh dari mereka, ia ingin menyuruh Gea agar setuju langsung dan segera menandatangani surat kontrak nikah itu.
"Apa mama gila? Aku cinta sama Adrian itu tulus ma. Lagipula bukan karena harta," kesal Gea tidak suka.
"Kamu bisa cari pria lain yang lebih tulus. Adrian itu tidak akan pernah mencintaimu. Buang jauh-jauh harapanmu itu, Gea," tekan Celine sedikit gemas, purtinya ini hanya memikirkan cinta dan cinta, bukan imbalan fantastis itu.
"Tapi ma, Adrian itu cuek. Beda dengan pria lain diluaran sana. Walaupun aku gak munafik tergiur imbalan itu, tapi yang aku suka adalah sifat dingin Adrian. Pasti dia tidak mudah berbaur dengan wanita manapun, ma," Gea mencoba menjelaskan tentang perasaannya, ia berubah pikiran, menikah dengan Adrian hidupnya pasti terjamin, tapi hanya sementara waktu dan bukan selamanya. Gea merasakan kesan kagum, pastinya Adrian itu benar-benar tiper pria yang ia cari selama ini. Sangat mustahil Adrian mudah tergoda oleh wanita lain.
"Buka mata kamu lebar-lebar. Tadi mama di permalukan, mama pikir orang tua Adrian meminangmu karena sudah cocok sesuai kriteria menantunya. Kamu dengar? Vera memujimu cantik, berarti apa? Kamu cocok menikahi Adrian. Tapi manfaatkan hartanya selama Adrian menafkahimu nanti. Rawat dirimu sedemikian rupa melebihi bidadari."
"Ingat ya, Gea. Semua ini, tidak datang dua kali. Pikiran baik-baik dan jangan kecewakan mama!" Celine melangkah pergi kembali ke tempat duduknya. Ia harap Gea menerimanya, tapi ia juga harus sering memperingati Gea untuk tidak jatuh cinta terlalu dalam terhadap Adrian.
"Aku setuju menikah. Aku terima tawaran kalian," ucap Gea. Membuat Adrian terkejut bukan main.
'Terima? Dia sudah gila! Dasar wanita mata duitan! Pasti mengincar uang keluargaku saja,' kesal Adrian dalam hatinya.
"Terima kasih, kami sangat lega mendengarnya. Besok, surat kontraknya akan di buatkan ulang. Kamu tanda tangani ya?" Vera tersenyum senang, bisnis suaminya akan selamat, tidak akan ada lagi yang menghina Adrian gay, sebutan sensitif dan menyakitkan. Vera muak mendengarnya.
"Maaf atas kemarahanku tadi," Celine sedkit malu, seharusnya tadi ia lebih bisa mengontrol emosinya. Tapi karena terkejut bercampur malu, tentu hatinya lebih di dominasi perasaan kecewa dan sakit.
"Tidak apa-apa. Sekarang, ayo pesan makanan. Kita terlalu lama mengobrol," Vera mencoba mencairkan suasana yang sempat menegangkan tadi.
Berbeda dengan Adrian yang mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tau dirinya sedang di perhatikan oleh Gea. Tatapan wanita iti tak mau lepas. Adrian merasa kurang nyaman.
"Hmm, maaf. Mama, aku baru ingat kalau hari ini ada janji temu dengan teman lamaku. Aku harus pergi," Adrian segera bergegas pergi meninggalkan meja makan itu, ia ingin menghilangkan pikirannya sejenak tentang masalah nikah kontrak. Batinnya cukup tertekan dan tidak siap.
"Adrian! Jangan pergi! Kamu belum makan!" seruan Gea itu samar-samar Adrian dengar. Ia tak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya keluar darisana.
"Astaga, anak kita. Dia memang sibuk terus. Teman lama yang mana? Pasti wanita," Vera menggeleng heran.
"Bukan, memang Adrian ada teman lama. Satu jurusan kelas bahasa waktu SMA dulu," ucap Alex membenarkan, daripada nantinya Gea berpikiran negatif dan tidak tenang.
"Oh, aku kira wanita," Celine tersenyum kecut, ia juga tidak suka dengan sikap Adrian yang seenaknya. Tak menghargai pertemuan penting ini.
Gea melamun, ia memikirkan nasibnya nanti setelah menikah bersama Adrian. Apakah sikap Adrian akan tetap dingin dan selalu mengabaikannya?
***
Tempat lapangan basket yang cukup terkenal di kota, disitulah Adrian bertemu dengan Arshaka. Teman masa SMA-nya dulu.
Sambil memantulkan bola basket, Arshaka merasakan Adrian sedang di landa stress, terlihat dari raut wajah lesu itu, "Ada masalah?" tanyanya.
Adrian mengangguk samar, "Pernikahan kontrak. Aku harus menikah, dan calon wanitanya bukan Laras. Aku pikir mau di nikahkan dengan Laras. Tapi, itu terdengar mustahil apalagi kedua orang tuaku tidak suka, menilai Laras seperti wanita ber-ekonomi kelas rendah."
"Nikah kontrak sementara saja. Jangan di khawatirkan, kalau masa waktunya sudah habis, kamu bebas."
"Tapi, masalahnya ayahku menggelar pernikahan itu besar-besaran. Pastinya berita pernikahanku tersebar ke ranah publik," ujar Adrian sedikit kesal.
"Kalau memang pernikahan ini tujuannya adalah kontrak, seharusnya bisa di selenggarakan secara tertutup."
Adrian mengangguk, "Ya, aku pikir begitu."
"Apa mungkin, nikah kontrak ini sekedar settingan?"
"Settingan? Itu tidak mungkin. Orang tuaku saja tadi membuat surat kontraknya. Bagaimana bisa itu settingan? Sedangkan keselamatan bisnis keluargaku jauh lebih penting di bandingkan perasaanku kepada Laras," omel Adrian kesal. Hidupnya terlalu di stir oleh kedua orang tuanya, padahal masalah cinta itu ia bisa memilih pasangan sendiri. Tidak perlu menikah kontrak, dan mengenal wanita matre seperti Gea.
"Begini saja, nanti setelah menikah dengan Gea. Kamu tidak perlu tidur satu ranjang, tidurlah di sofa atau ruang tamu. Daripada nanti Gea nafsu dan terjadi hal diluar batas? Lebih baik cari yang aman saja," Arshaka memberikan sebuah saran yang cemerlang.
Adrian tersenyum senang, "Wah! Idemu bagus. Terima kasih ya. Jadi aku tidak menyentuh Gea. Biarlah dia tetap suci. Dan keperjakaanku hanya untuk Laras. Bukan wanita manapun," sekarang semangat Adrian kembali, yang tadinya merasa khawatir, stress dan tertekan memikirkan pernikahan kontrak seketika hilang, Arshaka telah memberikannya solusi yang tepat.
"Sama-sama. Jangan lupa, bicarakan masalah ini juga dengan Laras, agar dia tidak salah paham."
***
Disinilah Adrian berada, ia akan menjelaskan secara jujur tentang pernikahan kontraknya dengan Gea yang akan segera di selenggarakan beberapa hari lagi.
"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan padamu, Laras," ucap Adrian menatap mata Laras begitu lekat.
Laras mengaduk es tehnya, ia bisa menemui Adrian ketika jam istirahat kantor.
"Katakan saja," ujar Laras tanpa melihat Adrian, ia belum tau jika Adrian memiliki perasaan lebih kepadanya.
Adrian menarik nafasnya dalam-dalam. Semoga saja Laras tidak marah.
"Sebenarnya, aku mau nikah. Tapi ini nikah kontrak," ungkap Adrian terlalu cepat, ia takut reaksi Laras justru marah bercampur kecewa. Adrian tidak ingin menyakiti perasaan Laras.
"Nikah kontrak? Oh ya? Dengan siapa?" bibir Laras tersenyum tipis, matanya beralih menatap Adrian. Sungguh ini adalah berita yang sedikit mengejutkan.
"Kamu setuju?" tanya Laras lagi.
Adrian mengangguk, "Demi keselamatan bisnis keluargaku. Agar para investor dan rekan kerja ayahku tidak memandangku sebagai pria gay yang tak ada ketertarikan pada perempuan," jawabnya kesal. Entah siapa yang membuat rumor buruk itu. Ingin sekali Adrian hajar habis-habisan orangnya, tak peduli pria atau wanita. Karena sebutan gay itu, ia di haruskan menikah kontrak, yang jelas tak bisa menikahi Laras, menunggu habisnya jatuh tempo sesuai tanggal perjanjian surat pernikahan kontraknya.
Laras terkekeh, "Lucu sekali ya. Mereka cuma iri dengan kesuksesanmu. Tapi, kenapa ya orang tua kamu sampai berpikiran menikahkan putranya secara kontrak? Kenapa tidak menikah sepenuhnya saja?" heran Laras.
Melihat wajah bahagia Laras, hati Adrian terasa tenang, apalagi senyuman manis Laras itu menggetarkan hatinya. Sungguh ketika Laras senyum, kecantikan naturalnya bersinar.
"Siapa calon wanitanya? Pasti cantik ya?"
'Lebih cantik kamu, Laras,' batin Adrian menjawab, ia sama sekali tidak tertarik dengan Gea.
"Ya, seperti wanita pada umumnya. Kalau wanita pasti cantik, tidak mungkin tampan."
"Jangan lupa undang aku ya?"
Adrian sebenarnya tak mau mengundang Laras, pasti Vera mencibirnya nanti membandingkannya dengan Gea. Adrian tak mau Laras sakit hati karena ucapan mamanya sendiri.
"Jangan datang ya. Pernikahan ini cuma di hadiri oleh tamu-tamu penting. Maaf," ucap Adrian terpaksa sedikit berbohong.
Laras mengangguk mencoba mengerti, "Ok. Kamu pulang saja ya. Aku mau kembali kerja lagi, jam istirahatnya sudah berakhir," Laras melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya.
"Aku pasti akan mengirim pesan, sesibuk apapun," ucap Adrian sebelum pergi, agar ia terus berkomunikasi dengan Laras. Setidaknya ia tidak fokus ke wanita bernama Gea yang akan menjadi mempelainya.
"Semoga pernikahanmu lancar ya. Kalau bisa, buatlah pernikahan itu menjadi sepenuhnya. Bukan cuma janji diatas materai kontrak," Laras bergegas pergi meninggalkan Adrian. Bohong jika ia tidak kecewa, ia menghadiri pernikahan Adrian hanya ingin mengucapkan selamat dan doa. Ia sadar diri, tamu penting yang di maksud adalah rekan kerja dan tamu kalangan atas, sedangkan drinya karyawan biasa dengan gaji yang pas-pasan.
'Laras, aku sayang kamu. Aku cinta banget sama kamu, tolong tunggu aku ya? Aku janji setelah kontraknya selesai, aku segera melamarmu,' batin Adrian pilu, ia menatap punggung Laras.
Ketika orang tua sudah bertindak, Adrian tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun tentang pernikahan sementara, tapi Adrian juga ingin membatalkannya.
***
Gea duduk di sebuah mini bar sambil menikmati minumannya. Tiba-tiba, ia melihat Livia dan Mia yang berada di sebelahnya dan tanpa ragu-ragu, ia langsung memamerkan kabar bahagianya kepada mereka. "Kalian tahu Adrian, bukan?"
"Adrian si CEO muda itu?" tanya Livia dan Mia serempak.
"Iya, itulah dia. Dan kalian tidak akan percaya kabar yang saya bawa. Aku akan menikah dengannya!" tambah Gea sambil tersenyum lebar. Tapi ia tidak jujur jika pernikahannya sekedar status kontrak.
Livia dan Mia terkejut mendengar kabar itu. Mereka tahu bahwa Gea telah lama memendam perasaan terhadap Adrian. Namun, mereka tidak pernah membayangkan bahwa Gea akan menikah dengan pria tersebut.
"Wah, Gea! Kamu beruntung sekali!" ucap Livia sambil memberikan pelukan.
"Kita senang mendengarnya," tambah Mia.
Gea tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Walaupun disisi lain hati kecilnya merasa sedih sekaligus karena ini bukanlah nikah sungguhan yang di landasi atas dasar cinta, melainkan surat kontrak dan imbalan sebagai bayaran-nya.
"Kapan tanggal pernikahannya?" tanya Livia penasaran.
"Kita harus foto dan berpesta!" Mia sangat antusias, apalagi ia menyukai bagian di acara melempar bunga. Ingin sekali ia mendapatkan bunga dari sang pengantin, agar ia bisa di segerakan menyusul.
"Dua minggu lagi," jawab Gea, setelah berunding dengan Vera dan Alex, akhirnya tanggal pernikahan telah di putuskan. Bahkan Vera yang akan memesankan gaunnya, mengurus segala keperluannya. Dirinya cukup senang karena tidak perlu repot mengeluarkan banyak biaya.
"Astaga! Mendadak sekali. Apa dia mantanmu? Atau kamu di jodohkan?" Livia syok, sebelumnya Gea tidak pernah dekat bersama pria manapun, Gea lebih suka sibuk menggeluti dunia profesi modelnya di bandingkan cinta-cintaan.
"Mungkin Tuhan sudah waktunya mendatangkan jodoh untukku," jawab Gea tersenyum samar, padahal ia terobsesi dengan Adrian karena memang laki-laki itu tampan dan kaya raya.
"Nanti aku bawakan hadiah baju lingerie, agar malam pertamamu lebih berkesab dan panas," goda Livia.
Gea menunduk malu-malu, mereka gamblang sekali. Padahal belum tentu nantinya ia tidur se-ranjang bersama Adrian.
"Apasih, masih lama kok. Satu minggu lagi."
"Kenalin dong ke kita," Mia merasa kepo seperti apa calon suami Gea. Kalau tampan, ia memujanya dan meminta foto, suatu kebiasaannya ketika bertemu pria tampan.
"Emm. Dia sibuk kerja, tadi kita ketemu sebentar. Mungkin ada jam meeting," senyuman Gea pudar, mengingat betapa datarnya ekspresi Adrian saat itu, jelas hatinya terasa sakit.