Jantung Riani serasa ingin copot.
Dia tidak bisa memproses informasi itu dengan baik. Kepalanya mulai berputar. Dia mengambil napas dalam-dalam dan menghibur adiknya, "Jangan khawatir. Aku akan segera mentransfer 200 juta ke rekeningmu. Kamu uruslah formalitas masuk rumah sakit untuk Nenek terlebih dahulu. Aku akan mencari cara untuk mengumpulkan uang untuk biaya operasi."
Riani menutup telepon, mengumpulkan semua uang yang dia tabung, dan segera mentrasfernya ke adiknya.
Nenek Riani membesarkan dia dan adiknya seorang diri. Neneknya harus berjuang selama bertahun-tahun, dan wanita malang itu kini terkena kanker.
Riani ingin menyelamatkan neneknya yang tercinta, bagaimanapun caranya. Namun, dia tidak tahu bagaimana cara mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Meskipun dia mencoba menjual apartemennya, dia tidak akan menemukan pembeli dalam waktu sesingkat itu.
Dia berpikir untuk meminjam uang dari orang lain.
Dia mulai menelepon teman-teman SMA dan kuliahnya satu per satu.
Akan tetapi, hal itu tidak banyak membantu. Dia menelepon banyak orang tetapi tidak berhasil mengumpulkan cukup banyak uang. Beberapa teman sekelasnya bahkan tidak mengangkat teleponnya.
Saat dia sedang putus asa mencari jalan keluar, sebuah iklan mencari jodoh di internet menarik perhatiannya.
Spesifikasi yang dicantumkan pada iklan itu tampak sederhana.
Pihak pria yang mencari pasangan adalah karyawan dari sebuah perusahaan terkenal. Dia mencari wanita muda yang penuh kasih untuk dinikahi. Dia bersedia menawarkan satu miliar untuk calon istrinya. Satu-satunya syarat adalah pasangannya tersebut harus menjaga kakeknya selama enam bulan.
Hati Riani tersentak saat melihat jumlah uang tersebut.
Dia tidak punya waktu memikirkan apakah itu sungguhan atau tidak. Dia segera menelepon nomor yang tertera pada iklan itu.
Nomor yang dia hubungi sibuk sepanjang waktu, dan perutnya bergejolak dengan rasa cemas. Dia khawatir orang lain akan mendapatkan satu miliar itu lebih dulu darinya.
Akhirnya, telepon itu tersambung.
Namun, tidak terdengar suara apa-apa. Tidak ada yang berbicara di seberang sana.
Mengira kalau ini pasti penipuan, Riani menutup telepon.
Saat melihat gadis itu menutup telepon karena cucunya diam saja, Rusman Sutrisno merasa cemas. Dia menyodok keras cucunya dengan tongkatnya.
Dia memerintahkan sang cucu untuk segera menelepon kembali gadis itu.
Ponsel Riani kembali berdering. Setelah ragu-ragu sejenak, dia pun menjawab panggilan tersebut.
Kali ini, dia mendengar suara yang dalam dan merdu dari ujung telepon.
"Maaf, sinyalnya tadi buruk."
"Tidak masalah."
"Baiklah. Aku akan mulai dengan memberitahumu tentang diriku. Namaku Rizky Sutrisno, umurku dua puluh delapan tahun. Aku bekerja di perusahaan IT sebagai programmer. Aku memiliki penghasilan enam puluh juta sebulan, tidak termasuk bonus akhir tahun. Aku punya rumah dan mobil, dan aku tidak punya kebiasaan buruk."
Setelah jeda sejenak, Rizky menekankan, "Kakekku sakit, dan aku harus merawatnya. Oleh karena itu, aku harus tinggal bersamanya selama enam bulan setelah menikah. Kuharap kamu bisa mengurus rumah tangga dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Aku akan memberikan seluruh gajiku padamu. Tentu saja, kamu juga berhak bekerja, dengan syarat kamu masih punya waktu untuk merawat kakekku. Apakah kamu bersedia menerima semua ini?"
Riani sedikit ragu. Terlepas dari fakta bahwa dia harus melepas pekerjaannya untuk merawat kakek dari pria itu, dia merasa tawaran itu cukup menggiurkan.
Selain itu, pria itu tidak memaksanya untuk menjadi ibu rumah tangga. Dia hanya akan sedikit kesulitan untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan tugas yang diberikan padanya.
Akan tetapi, jika melihat dari sudut pandang itu, syarat yang pria itu ajukan tampak cukup masuk akal.
Riani berpikir sejenak.
"Aku akan memberimu satu miliar. Apakah kamu masih punya permintaan lain?"
"Tidak," jawab Riani dengan tegas.
Merasa bahwa semua ini terlalu mudah, Rizky bertanya dengan curiga. "Sungguh tidak ada? Maksudku, misalnya, apa kamu ingin namamu ada dalam sertifikat kepemilikan rumah, atau ...."
"Tidak perlu. Milikmu adalah milikmu, milikku adalah milikku."
Rizky kembali terdiam.
Saat Riani mengira sinyalnya melemah, dia kembali mendengar suara Rizky yang dalam.
"Baiklah. Bawa KTP-mu dan datanglah ke kantor catatan sipil besok pagi. Aku akan menemuimu di sana jam sembilan." Kemudian, dia menutup telepon.
Riani tidak percaya mereka akan segera mendaftarkan pernikahan mereka. Semuanya terjadi terlalu cepat sehingga dia agak bingung.
Riani tidak mendapat kesempatan untuk bertanya kapan dia akan mendapatkan satu miliar.
Adiknya menelepon lagi dan mengatakan bahwa operasi neneknya akan menelan biaya setidaknya dua miliar rupiah.
Riani bahkan curiga ada yang mencoba menipu adiknya demi uang. Namun, ketika dia pergi ke rumah sakit dan melihat surat pemberitahuan tentang operasi, dia akhirnya menerima kenyataan yang kejam itu.
Pikirannya kacau balau, membuatnya terjaga sepanjang malam.
Keesokan paginya, Riani keluar dari rumah. Dia tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang lelah.
Dia tiba di kantor catatan sipil pada jam sembilan.
Musim liburan baru saja berakhir. Banyak orang menunggu di luar kantor catatan sipil. Mereka juga datang kemari untuk menikah.
Riani pun menyadari sosok seorang pria di antara kerumunan. Pria itu mengenakan setelan biru tua yang disetrika dengan rapi. Kancing atas kemejanya terbuka, memperlihatkan jakunnya. Dia tidak mengenakan aksesoris apa pun selain jam tangannya. Dia tampak rapi dan gagah.
Anak rambutnya yang agak keriting di dahinya berwarna kuning keemasan karena semburat matahari pagi. Bulu matanya yang panjang dan tebal seperti menyembunyikan emosinya.
Riani menatap pria itu, lalu melihat foto di ponselnya. Saat dia bertanya-tanya apakah pria tampan itu adalah calon suaminya, pria itu berjalan ke arahnya.
Keduanya saling menyapa dengan sopan dan berjalan ke dalam kantor catatan sipil bersama-sama.
Rizky mendapatkan nomor urut, dan mereka berdua menemukan kursi untuk duduk dan menunggu.
Setelah ragu-ragu untuk waktu yang lama, Riani akhirnya angkat bicara, "Tuan Rizky, maafkan aku. Sebelum kita mendaftarkan pernikahan, bolehkah aku mengajukan permintaan kecil padamu?"
Rizky mengangguk. "Silakan."
"Selain uang yang kamu janjikan, bisakah aku meminjam satu miliar lagi darimu?" tanyanya dengan hati-hati.
Rizky menoleh dan mengamati wajah Riani dengan eskpresi tidak senang. Dia ingat apa yang dikatakan kakeknya saat mereka meninjau profil dari wanita ini kemarin.
"Gadis ini pernah belajar keperawatan. Dia berasal dari keluarga sederhana. Ditambah lagi, dia terlihat cantik dan menawan. Dari yang kulihat, kurasa dia wanita sederhana."
Semua penampilan itu kini terasa menipu.
"Aku sedang sangat membutuhkan uang." Riani buru-buru menjelaskan. "Aku akan segera membayar utang itu begitu aku berhasil menjual apartemenku. Aku bahkan bisa membayarnya dengan bunga jika kamu mau."
"Kenapa kamu tidak menyebutkannya di telepon kemarin?" Rizky bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari sana. Dia merasa tertipu.
Saat dia tiba di gerbang, dia menerima telepon dari Rusman.
"Apakah kamu sudah mendaftarkan pernikahanmu?"
Sementara itu, Riani menyusulnya. Dia menekankan bahwa dia benar-benar dalam masalah dan bukan pembohong.
Mendengar kegembiraan dan harapan dalam suara kakeknya, Rizky akhirnya memilih untuk berkompromi.
Penyakit Rusman tidak bisa disembuhkan, dan dia hanya bisa hidup selama enam bulan. Satu-satunya keinginannya adalah melihat Rizky menikah dan memiliki anak.
Rizky menutup telepon dan mengamati wajah Riani. "Pertama, ini bukan jumlah uang yang sedikit. Aku berjanji akan berusaha untuk mengatur uang itu untukmu. Kedua, saat kamu sudah dapatkan uangmu, kamu harus langsung membayarku. Ketiga, jangan harap aku akan membantumu lagi!"
Riani mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Aku akan mengembalikan uangmu segera setelah aku menjual apartemenku. Aku berjanji, dan aku tidak akan meminjam uang darimu lagi. Kamu dapat memercayaiku."
Rizky berbalik dan berjalan kembali ke dalam tanpa mengucapkan apa-apa.
Segera saja, tiba giliran Riani dan Rizky untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Rizky tampak mengirim pesan di ponselnya sepanjang waktu. Riani tidak tahu pria itu sedang sibuk melakukan apa.
Setelah menyelesaikan semua formalitas dan mendaftarkan pernikahan mereka, Rizky mengatakan bahwa dia harus kembali ke perusahaan. Dia meminta Riani untuk pulang, mengemasi barang-barangnya, dan pindah ke rumahnya besok malam.
Kemudian, Rizky memanggil taksi dan pergi.
Riani bertanya-tanya jika dia sudah berbuat lancang. Rizky sudah berjanji akan memberinya satu miliar, dia malah meminjam satu miliar lagi. Pantas saja jika dia bersikap dingin padanya.
Akan tetapi, dia tidak punya pilihan lain.
Sementara itu, Rizky keluar dari taksi pada persimpangan pertama, lalu berjalan ke sebuah mobil Bentley hitam yang diparkir di sisi jalan.
Dia menelepon kepala pelayan di perjalanan dan memintanya untuk memindahkan semua perabot dan ornamen berharga di rumah kakeknya dan menggantinya dengan barang bekas dari pasar. Dia juga meminta sang kepala pelayan untuk membelikannya mobil bekas seharga dua ratus juta rupiah.
Rizky menaiki mobil Bentley hitamnya dan melepas arloji berliannya yang bernilai dua puluh miliar lebih.
Kemudian, dia memeriksa dirinya lagi.
Setelah memastikan bahwa dia tidak memiliki barang berharga selain tas dan ponselnya, Rizky menghela napas lega.
Riani jelas tidak tahu bahwa dia baru saja menikah dengan seorang triliuner.
Riani saat ini pergi ke agen real estat, mendaftarkan apartemennya untuk dijual di internet, kemudian bergegas menuju ke perusahaan.
Begitu tiba di perusahaan, dia melihat Sintia sedang mengeluhkan dirinya kepada resepsionis.
Karena berdiri membelakangi Riani, Sintia masih membicarakannya dengan penuh semangat.
"Saat masa sekolah, dia merayu seorang guru laki-laki. Aku dengar, guru laki-laki tersebut bahkan membantunya menulis tesis kelulusannya."
"Itu adalah hal yang wajar, siapa suruh dia begitu cantik!" ucap resepsionis tersebut dengan nada cemburu.
"Apa gunanya berwajah cantik kalau hanya bisa merayu pacar orang lain," ucap Sintia dengan tidak senang.
"Itu karena dia punya kemampuan seperti itu. Dengar-dengar pacarnya sangat tampan, apakah dia juga teman sekelas kalian?"
"Huh! Ferry adalah pacarku sekarang," ucap Sintia dengan bangga.
"Wah! Sejak kapan?" tanya resepsionis tersebut dengan penuh semangat. "Jadi, Riani sudah dicampakkan olehnya?"
"Apakah kamu begitu senang mendengarku dicampakkan?" Suara Riani yang muncul dengan tiba-tiba membuat keduanya merasa sangat terkejut.
"Hei! Kamu benar-benar seperti hantu. Kamu bahkan berjalan tanpa suara, benar-benar membuatku kaget setengah mati," ucap Sintia sambil memelototi Riani.
"Sintia, kalau kamu punya begitu banyak waktu untuk bergosip, lebih baik kamu membantu Ferry untuk memasukkan beberapa resume kerja ke perusahaan. Kalau tidak, hanya dengan mengandalkan gajimu, kamu tidak akan sanggup untuk membiayainya."
Sintia dan Riani adalah teman sekelas, tapi Riani sudah lama menjadi kepala bagian keuangan, sedangkan Sintia hanyalah seorang kasir. Oleh karena itu, gaji yang didapat oleh Riani lebih banyak daripada Sintia.
Meski begitu, dia tetap saja masih harus mengambil dua pekerjaan paruh waktu. Pada akhir pekan, dia harus membagikan selebaran di jalan. Selain itu, dia juga bekerja sebagai model di sebuah perusahaan periklanan dan alasannya melakukan semua ini karena pengeluaran Ferry sangat besar.
Sehari-hari, yang dilakukan oleh pria itu hanyalah bermain video game, membeli barang-barang mewah dan bersenang-senang di bar sepanjang malam. Dia sangat boros dan menghabiskan uang seperti air yang mengalir.
Tentu saja, Riani tidak akan begitu berbaik hati mengingatkan Sintia akan hal ini. Bahkan sampai saat ini, wanita itu masih mengira kalau dia telah menemukan harta karun. Jadi saat mendengar kata-kata ejekan yang keluar dari mulut Riani, Sintia hanya menganggap kalau Riani cemburu padanya.
Karena itu juga, dia pun tertawa mengejek dan berkata, "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Perusahaan Sutrisno sudah menelepon dan meminta Ferry untuk pergi melakukan wawancara kerja. Pernahkah kamu mendengar tentang Perusahaan Sutrisno? Itu adalah perusahaan yang sangat besar, gaji yang mereka tawarkan padanya adalah 100 juta per bulan."
Sintia mengulurkan kesepuluh jarinya dan melambaikannya di depan mata Riani. "Kamu iri, bukan?"
"Kekanak-kanakan!" Riani berjalan melewati Sintia dan kembali ke kantornya.
Begitu dia masuk ke ruang kantornya, dia melihat adanya tumpukan tagihan yang belum diproses menumpuk di mejanya.
"Bukankah ini tugas kasir? Kenapa jadi diberikan kepadaku?" tanya Riani pada asistennya.
"Tuan Evan mengatakan bahwa Sintia sedang tidak enak badan akhir-akhir ini, jadi dia memintamu untuk mengambil alih pekerjaannya," jawab asisten tersebut.
"Menyuruhku mengambil alih pekerjaannya lagi?" ucap Riani sambil melempar map dokumen tersebut di atas meja hingga membuat tagihan-tagihan tersebut berserakan di lantai.
Ini bukanlah pertama kalinya dia seperti itu. Sebelumnya, Riani tidak tahu bahwa Sintia ternyata begitu licik dan sekarang, dia baru sadar kalau dirinya benar-benar sangat bodoh. Selama ini, dia bahkan menganggap Sintia sebagai sahabatnya dan telah membiarkan wanita licik tersebut masuk ke dalam kehidupannya.
Karena hal itu, Riani jadi sangat sibuk sepanjang hari ini. Dia bahkan tidak punya waktu untuk minum air, apalagi makan siang, hingga sampai malam hari ketika dia sampai di rumah, dia baru sempat makan mi instan.
Setelah itu, dia melakukan panggilan video dengan neneknya Siska. Saat ini, neneknya masih belum tahu kalau dirinya mengidap kanker dan Riani juga tidak memberitahunya. Dia hanya meminta neneknya untuk menuruti perkataan dokter dan mengobati penyakitnya tanpa perlu memikirkan masalah biaya.
Namun, Siska yang tahu kalau Riani sangat sibuk malah berbalik menghiburnya dan memintanya untuk tidak terlalu khawatir dengan penyakitnya.
Sebenarnya, Riani sudah beberapa kali ingin memberi tahu neneknya tentang pernikahannya, tapi saat kata-kata itu sudah sampai ke ujung bibirnya, dia pun menelannya kembali.
Keesokan paginya, Riani merasa sedikit demam, seluruh tubuhnya terasa pegal. Karena itu, dia akhirnya pun meminta cuti dari perusahaannya.
Siangnya, setelah merasa lebih baik, dia pun mulai mengemasi barang-barangnya dan berencana untuk pindah ke kediaman Keluarga Sutrisno malam ini. Saat membayangkan kalau dirinya akan tidur seranjang dengan seorang pria asing membuatnya merasa sangat gugup.
Malamnya, Riani pun membawa kopernya dan beberapa barangnya pergi ke alamat yang dikirim oleh Rizky padanya.
Alamatnya adalah Gang Bajari, No.88. Gang Bajari terletak di kawasan pemukiman tua. Jalanan di sana sangat sempit, kedua sisi jalannya penuh dengan sepeda, becak listrik dan juga barang-barang rongsokan.
Riani menyeret kopernya dan berjalan dengan terseok-seok. Sambil berjalan, dia mencari tahu, di mana alamat tersebut, tapi bagaimanapun juga dia tetap tidak bisa menemukan di mana rumah nomor 88 tersebut.
Lama kelamaan, dia merasa kalau dia telah tersesat, karena makin dia berjalan masuk ke dalam, lingkungan di sana makin mewah dan bersih. Jalanan di sana juga semakin lebar, ditambah lagi dia juga melihat beberapa rumah yang memiliki garasi pribadi.
Namun, Riani tetap saja tidak bisa menemukan rumah tersebut.
Dia lalu menanyakannya kepada beberapa orang yang dia temui di jalan dan mereka semua menyuruhnya untuk berjalan lebih ke dalam, tapi saat dia hampir mencapai ujung Gang Bajari, dia tetap saja tidak menemukan rumah tersebut.
Riana tidak punya pilihan lain selain menelepon Rizky, tapi dia sama sekali tidak menjawab teleponnya ....
Pada akhirnya, ponselnya malah dimatikan.
Seketika itu, Riani merasa cemas sekaligus marah, dia benar-benar tidak bisa mengerti, apa yang terjadi dengannya?
Rizky-lah yang memintanya untuk pindah ke rumahnya malam ini dan dia juga tidak mempermasalahkan kalau dia itu tidak menjemputnya. Namun sekarang, di saat dia tersesat, Rizky malah tidak menjawab teleponnya.
Riani yang merasa sedikit pusing pun lalu berjongkok di tangga batu di samping sekumpulan tanaman. Beberapa saat kemudian, sebuah cahaya lampu yang menyilaukan mata berhenti beberapa kaki di depannya.
Riani mendongakkan kepalanya dan melihat Rizky yang membelakangi cahaya keluar dari mobilnya. Dia lalu mencoba untuk berdiri, tetapi karena dia berjongkok terlalu lama, kakinya jadi mati rasa dan saat dia berdiri dia langsung terjatuh ke depan. Untung saja, Rizky segera menangkapnya dengan lengannya yang kuat.
"Terima kasih," ucap Riani dengan malu-malu.
"Kenapa kamu tidak masuk ke dalam?"
"Aku tidak tahu di mana rumah nomor 88."
"Apakah kamu yang meneleponku tadi?" Karena ponsel Rizky terus berdering saat dia sedang rapat dengan para eksekutif senior, jadi dia langsung mematikannya.
"Ya, kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" Melihatnya yang berpura-pura bodoh, Riani jadi merasa sedikit marah.
"Ayo masuk ke dalam." Rizky sama sekali tidak memberinya penjelasan, dia lalu mengeluarkan kunci rumahnya dan berjalan menuju ke rumah yang ada di seberang Riani.
'Inikah rumah nomor 88?' gumam Riani dalam hati. Dia melihat nomor pintu yang terhalang oleh ranting pohon dan ternyata memang benar.
Setelah Rizky membuka pintu gerbang, seorang wanita berusia lima puluhan keluar dari rumah.
"Bibi Dian, apakah Kakek sudah tidur?"
"Belum, dia sedang menunggumu."
Rizky lalu melangkah melewati pintu gerbang, dia sama sekali tidak memperhatikan Riani yang sedang menyeret kopernya dengan sekuat tenaga di belakangnya.
Karena tangganya sangat tinggi, Riani yang telah berusaha dengan sekuat tenaga tetap saja tidak berhasil naik ke satu anak tangga pun.
Saat ini, sebuah tangan yang besar tiba-tiba terulur keluar dan mengambil kopernya dari tangannya.
Saat Riani mendongak dan melihat bahwa ternyata Rizky yang membantunya, dia merasa sangat tersentuh.
Di dalam ingatannya, Ferry tidak pernah membantunya, bahkan saat terakhir kali dia pindah rumah, Ferry sama sekali tidak mengulurkan tangannya untuk membantunya. Riani sendirilah yang memindahkan barang-barang mereka ke atas.
Meskipun begitu, Ferry masih saja mengeluh dan mengatakan kalau dia sangat malas. Dia mengatakan bahwa barang yang dipindahkan ke atas hanya diletakkan begitu saja dan tidak dibereskan sama sekali, sementara dia sendiri hanya bermain gim. Dia bahkan menyuruhnya untuk memesan makanan untuknya.
"Kenapa kamu tidak masuk?" Suara Rizky yang tidak senang menghentikan lamunannya.
Mendengar perkataan Rizky, Riani pun buru-buru melangkah masuk ke dalam. Halamannya tidak terlalu luas, tapi sangat bersih dan rapi. Beberapa pot tanaman tampak diletakkan berjejer di sepanjang dinding.
"Aduh!" teriak Riani tiba-tiba. Karena sibuk melihat ke sekeliling, dia tanpa sengaja menginjak batu besar dan hampir terjatuh.
Mendengar teriakannya, Rizky pun berbalik dan menatapnya.
"Aku baik-baik saja." Riani buru-buru melambaikan tangannya dengan canggung.
Rizky lalu melirik ke arah kerikil yang ada di tanah, kemudian berjalan mendekat dan menendangnya ke samping, setelah itu dia mengulurkan tangannya pada Riani.
Pembuluh darah di tangannya tampak menonjol dan kapalan di telapak tangannya menunjukkan kalau dia sering berolahraga.
Riani menatapnya dengan bingung. Dia tidak tahu apa yang sedang Rizky lakukan.
Melihat wajah Riani yang tampak bingung, Rizky pun mengatupkan bibirnya. Dia lalu mengambil inisiatif untuk memegang tangan Riani.
Seketika itu, kehangatan dari telapak tangannya membuat jantung Riani berdegup dengan kencang, ada rasa hangat yang mengalir ke dalam hatinya.
Rizky lalu menyerahkan koper itu kepada Bibi Dian, setelah itu dia pun membawa Riani pergi ke kamar kakeknya.