Seorang wanita cantik berbalut dress selutut sedang berdiri di sebuah unit apartemen, terlihat dari wajahnya dia sedang menahan kesal. Wanita itu adalah Laura, dia sedang berada di depan apartemen sang kekasih. Sudah lama dia berdiri di sana, namun tidak ada tanda-tanda dari sang pemilik apartemen membuka pintunya.
Wanita berumur 24 tahun itu berdecak kesal lalu merogoh tasnya, mencari ponsel miliknya. Berusaha menghubungi sang kekasih.
"Ck, Jack kemana sih? Apa dia tidak ada di apartemen? Apa aku pergi saja?" Wanita dengan rambut sebahu itu berbicara sendiri.
Ceklek...
Baru saja Laura hendak melangkah pergi, pintu apartemen terbuka. Memunculkan seorang pria tinggi yang memiliki paras paripurna, pria itu tersenyum simpul dengan tatapan sayu.
Jack Bragantara, kekasih dari Laura Auristela. Mereka sudah menjalin hubungan hampir satu tahun, keduanya saling mencintai satu sama lain. Mereka juga sering menghabiskan waktu berdua jika sedang libur kerja.
"Astaga Jack! Kamu mabuk lagi? Ayo masuk," pekik Laura terkejut melihat kondisi Jack yang berantakan.
Laura menggiring Jack masuk kedalam, mengajaknya duduk di sofa depan TV. Wanita itu sedikit kesal karena Jack tidak mendengarkannya untuk tidak meminum alkohol sampai mabuk, tapi melihat Jack yang mabuk dan terus meracau. Laura mengurungkan niatnya untuk marah.
"Jack! Kamu masih sadar tidak? Aku mau tanya, kenapa kamu mabuk seperti ini? Aku sudah pernah bilang, jangan mabuk lagi," ucap Laura tanpa henti.
Jack yang setengah sadar pun tersenyum, membelai lembut pucuk kepala Laura. "Kamu tau kan, masalah di kantor semakin rumit. Liam menyuruh aku bertanggung jawab sendirian," ucapnya seperti orang mabuk pada umumnya.
Laura menghela napasnya, memang sudah seharusnya Liam bertanggung jawab dengan perusahaannya sendiri. Tidak bisa terus mengandalkan Liam sang kakak laki-lakinya. Kakak beradik itu memang seorang pengusaha dan miliader muda, namun Liam lebih unggul jika tentang perusahaan. Karena selama ini hidup Liam hanya di habiskan dengan kerja dan mengurus perusahaannya.
"Iya aku tau, tapi tidak seperti ini juga. Memang seharusnya kamu bisa mandiri tanpa Liam," ujar Laura lembut, takut emosi Jack meledak kapan saja.
"Kamu membela Liam?" sentak Jack mulai emosi, mendorong tubuh Laura kasar.
Laura menggelengkan kepalanya, tertunduk diam tidak berani menatap Jack. Hampir dua tahun mereka menjalin hubungan, Laura masih saja takut dengan sikap tempramen Jack yang tidak bisa hilang. Tak jarang Laura mendapatkan perlakuan buruk ketika Jack sedang emosi, Laura pun tidak tau kenapa dirinya bisa bertahan dengan Jack sampai saat itu. Jawabannya hanyalah karena cinta.
"M-maaf Jack, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya--"
"Sssttt diam, sini." Jack memotong perkataan Laura, tangannya menepuk-nepuk di atas paha.
Laura yang mengerti isyarat Jack pun segera duduk dipangkuan sang pacar. Posisinya membelakangi Jack. "Kenapa?" tanyanya mengedipkan mata polos.
Alih-alih menjawab, Jack justru hanya diam sambil melingkarkan tangannya pada pinggang lau. Tak lupa hidungnya mengendus bagian leher sang kekasih. Sementara Laura hanya mematung ditempatnya, tidak berani menolak ataupun memberontak walaupun Laura merasa tidak nyaman.
"Laura," panggil Jack dengan suara seraknya.
"Hmm?"
"Aku pengen bermain denganmu, boleh tidak?" tanya Jack tepat di samping telinga Laura, karena posisinya masih tenggelam pada leher Laura.
Bulu kuduk Laura seketika merinding saat merasakan hembusan napas Jack yang menerpa lehernya, Laura menengguk ludahnya susah payah. Merasakan tangan Jack yang mulai menelusup dalam dress-nya.
Laura menghentikan pergerakan tangan Jack, memutar kepalanya 45°. Matanya melihat raut muka Jack yang sulit diartikan. "Jack, tapi kita baru melakukannya kemarin. Aku takut hamil kalau terus menerus melakukannya." Laura tidak berbohong, walaupun Laura polos tapi dia dan Jack memang sering melakukan hubungan sex. Itupun awalnya karena paksaan Jack.
Jack seolah menutup pendengarannya, tangannya terus meraba raba paha Laura yang berbalut dress. "Nggak akan Laura, kamu tinggal minum pil pencegah kehamilan yang aku kasih aja nanti. Aku mohon sayang," balasnya dengan enteng seolah tidak melakukan dosa besar.
Laura masih membeku, entah kenapa mendengar ucapan Jack barusan membuat hatinya terasa sesak. Namun apalah daya Laura, dia tidak akan pernah bisa menolak kekasihnya hanya karena landasan kata cinta. Laura pun mengangguk, entah itu cinta atau hanya kebodohan semata.
Melihat persetujuan Laura, Jack pun langsung melancarkan aksinya dengan melumat bibir sang kekasih dengan brutal. Laura hampir kehabisan napas dibuatnya. Tak sampai disitu, tangannya juga terus menjamah bagian tubuh intim Laura.
Jack yang mulai dikuasai oleh nafsu, langsung menggendong Laura tanpa melepaskan tautan bibirnya. Melangkah perlahan sampai di kamarnya, setelah menginjakkan kakinya di kamar. Jack merebahkan Laura di atas ranjang, Laura terlihat sangat menggemaskan ketika wajahnya mulai memerah. Membuat Jack tidak sabar untuk melahapnya.
Tanpa basa basi lagi, Jack melumat mulut Laura dengan mulutnya. Yang awalnya hanya menempel, tapi sedetik kemudian menjadi penuh nafsu.
Sementara Laura hanya bisa pasrah, berusaha memberontak pun tidak ada gunanya, karena tangannya sudah terkunci oleh Jack. Tidak sampai disitu, Jack mulai turun ke leher jenjang milik Laura. Bibirnya mulai menjamah tubuh kekasihnya dengan sensual.
"Ahhhmm, J-jack tapi pelan pelan ya." Desahan mulus terdengar dari mulut mungil Laura, dia tidak bisa menahan suara desahan itu. Tubuhnya mulai terlena dengan sentuhan Jack.
Jack menghentikan aktivitasnya sejenak. "Kita kan sudah melakukannya beberapa kali, pasti tidak akan sakit lagi. Ingatlah kamu bukan perawan."
Hati Laura seketika sakit ketika mendengar perkataan yang cukup menyakitkan keluar dari mulut Jack, Laura pun hanya diam tak berdaya. Sedangkan Jack semakin dikuasai nafsu saat melihat dress Laura yang sedikit terangkat memperlihatkan kaki jenjang miliknya.
"Tapi Jack."
"Apalagi?"
"Kamu janji akan nikahin aku kan?" tanya Laura ragu. Dia tidak mau kehilangan Jack karena keperawanannya sudah direnggut oleh pria itu.
"Iya sayang, aku janji."
"Kamu--"
Tidak mau mendengar ocehan kekasihnya lagi, Jack segera melumat bibir Laura. Tangannya tidak tinggal diam, sibuk menjamah semua anggota tubuh Laura, satu persatu pakaian yang menempel di badan wanita itu dilepaskan. Nafsu Jack semakin menggebu ketika melihat tubuh kekasihnya yang tak tertutupi sehelai kain.
Laura hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya, mengikuti alur permainan sang kekasih. Sesekali menahan suara desahan keluar dari mulutnya, saat Jack mulai menjamah kedua gundukan miliknya. Setelah puas dengan tubuh Laura, Jack mulai memasukkan benda miliknya kedalam milik Laura.
"Ahhhh sayang." Desahan lolos dari mulut Jack.
Jack menikmati permainannya, sementara Laura masih bergelut dengan pikirannya. Laura hanya takut jika Jack bukan jodohnya, padahal keperawanannya sudah dia berikan pada pria itu.
"A-aku sayang kamu Jack, ahhh."
Sudah sebulan berlalu setelah kejadian malam itu, Laura awalnya melakukan aktivitas seperti biasa. Bekerja dari pagi sampai malam, dan melakukan kegiatannya yang lain. Tapi semua itu berubah menjadi kekhawatiran saat dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, Laura selalu merasa pusing dan mual terus terusan selama beberapa hari.
Tidak ada pilihan lain, Laura harus mengeceknya dengan alat mengetes kehamilan yang baru dia beli. Helaan napas terdengar dari Laura yang sedang berada di depan kamar mandi, keraguan menghinggapi dirinya. Laura takut jika kekhawatirannya akan benar benar terjadi.
"Okey, kamu harus cek. Belum tentu kamu hamil," ucap Laura pada dirinya sendiri.
"Tapi kalau beneran hamil gimana? Jack mau tanggung jawab apa nggak ya?" sambungnya menggigit ujung kukunya.
Laura menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran buruk yang terngiang di kepalanya. Dengan berat dia melangkah masuk kedalam kamar mandi, matanya menatap sebuah alat tes kehamilan ditangannya. Beberapa menit Laura meyakinkan diri, akhirnya dia berani memeriksa dirinya hamil atau tidak dengan alat itu.
Beberapa menit berlalu, tidak ada tanda-tanda Laura akan keluar dari sana. Sampai sebuah teriakan menggemparkan seisi rumah.
"Arghh!" Teriakan itu tentunya bersumber dari wanita dalam kamar mandi itu.
Brak..
"Laura! Kamu kenapa sayang?" Monica-bibi Laura membuka pintu kamar dengan kasar, terlihat raut wajahnya khawatir dengan Laura.
"Nggak! Nggak mungkin!" Di dalam kamar mandi, Laura menatap alat tes kehamilan yang baru saja dia gunakan. Air mata sudah menumpuk dalam pelupuk matanya, semburat kesedihan dan penyesalan menyelimuti Laura. Alat yang ada ditangannya menunjukkan dua garis biru, menandakan jika Laura hamil.
"Sayang, aku mohon keluar. Kamu kenapa? Apa yang nggak mungkin?" Monica semakin panik, menggedor pintu kamar mandi dan berteriak lantang.
Ceklek...
Monica terkejut, saat melihat keponakannya terlihat berantakan dengan mata sembab dan hidung yang memerah. Sontak Monica langsung memeluk Laura erat.
"Sayang, cerita sama Tante. Kamu kenapa?"
Laura hanya mematung ditempatnya, pandangannya kosong ke depan tanpa mau menatap sang bibi. Karena tidak berdaya, Laura tidak sengaja menjatuhkan alat yang dia pegang. Saat itu pula Monica menyadarinya, lalu berjongkok mengambil alat itu.
Mata Monica membulat saat melihat benda itu, air matanya tidak bisa ditahan lagi. Bayangkan saja, dia juga wanita dan juga merasakan kesedihan Laura. Apalagi Monica tau jika ayah Laura sangat keras mendidik Laura, dia tidak bisa menyalahkan keponakannya. Bahkan Monica sama hancurnya dengan Laura saat melihat itu.
"Laura! Lihat aku. Ini apa? Ini bukan punya kamu kan? Kamu nggak mungkin melakukan hal itu kan? Jawab Laura!" Monica terus bertanya pada Laura.
Sementara Laura membeku, untuk menjawab saja dia rasa tidak sanggup. Laura sudah mengecewakan orang tuanya yang sudah mengingatkan dari awal, agar Laura menjaga keperawanannya sebelum menikah. Namun Laura mengingkari semua janjinya pada ayahnya, dia bahkan sudah kehilangan keperawanan dari awal menjalin hubungan dengan Jack.
"Jawab Laura!" bentak Monica yang sudah tersulut emosi. Tentu saja dia tidak mau keluarganya melakukan hal seperti itu.
Laura yang awalnya menunduk dalam diam, akhirnya mendongak menatap tantenya. "Iya tante! Itu punya aku, aku hamil! Aku sudah mengingkari janjiku pada ayah," jawabnya dengan nada tinggi, tetapi tetap diakhiri dengan tangisan pilu.
Monica langsung menjatuhkan benda itu, dia tidak menyangka keponakan tersayangnya sudah terjerumus sedalam itu. Monica merasa gagal menjadi seorang tante, yang lebih dia pikirkan adalah bagaiman jika Adnan-ayah Lauda tau.
"Laura, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?"
"Jack, tante."
"Jack bos kamu?"
"Iya tante, dia pacar Laura. Tapi kamu tenang aja, Jack bilang dia akan tanggung jawab kok kalo Laura hamil." Laura menghapus air matanya kasar, mencoba menarik sudut bibirnya walaupun terpaksa.
"Dan kamu percaya itu?"
Laura kembali menundukkan kepalanya, dia juga tidak yakin akan hal itu. Yang ingin Laura lakukan sekarang adalah bertemu dengan Jack, meminta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi. Laura segera beranjak dari tempatnya, menyambar tas serta ponselnya.
"Kamu mau kemana Laura?"
"Aku mau ketemu Jack, aku mau minta dia tanggung jawab," jawab Laura tersenyum tipis seolah memberitahu jika dia baik-baik saja.
"Tapi Laura, kamu--" Belum sempat Monica melanjutkan perkataannya, Laura sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya.
***
Di hari yang cukup terik, Laura duduk di bangku taman dekat komplek rumahnya. Menunggu kedatangan sang kekasih, karena Laura sudah lebih dulu menghubunginya tadi untuk menemuinya sekarang.
Yang Laura lakukan hanyalah berdiam diri sambil mengamati keindahan bunga berjejer cantik didepannya, pikirannya asik bergulat memikirkan reaksi Jack dengan berita ini.
"Apa Jack bakalan mau tanggung jawab?" tanya Laura entah pada siapa.
"Hai sayang, kamu sudah lama? Maaf ya, tadi macet."
Laura menoleh menatap seseorang yang baru saja tiba, akhirnya orang yang dia tunggu datang. Pria berjas abu-abu itu duduk disebelah Laura, membelai lembut pucuk kepala Laura dengan sayang.
Jack mulai sadar dengan perubahan sikap Laura, hari ini penampilan wanita itu bisa dibilang berantakan. Dia memutar tubuh Laura agar menghadapnya, matanya menatap lekat kedua manik mata hazel Laura.
"Kamu kenapa, hm? Ada masalah? Biasanya nggak diem gini."
"Aku hamil." Hanya dua kata itu yang bisa dikatakan Laura.
Terlihat sekali raut muka terkejut dari Jack, dia menggeleng kuat. "Nggak mungkin Laura, kamu nggak minum pil itu?" tanyanya mengintimidasi.
Laura baru ingat setelah adegan panas malam itu, paginya dia lupa meminum pil itu. Laura merutuki kebodohannya sendiri. "Aku nggak bohong, Jack. Aku hamil!" pekiknya dengan mata yang berlinang air mata. Laura merogoh tasnya, mengambil sebuah benda yang tadi dia pakai.
Betapa terkejutnya Jack saat menatap benda ditangannya, mata memanas. Bukan karena ingin menangis melainkan emosinya kembali tersulut, dia menggeram marah meremas benda ditangannya dengan kuat. Rahangnya mengeras dengan tatapan mata tajam menusuk menatap Laura.
Jack membuang benda itu ke sembarang arah, memalingkan wajahnya menahan emosi. "Gugurkan saja," ucapnya dengan enteng.
Hal itu membuat Laura tercengang, dia tidak percaya Jack bisa mengatakan hal kejam seperti itu dengan mudah. Laura semakin menangis dibuatnya, menarik lengan Jack kasar agar menghadapnya. Mata sayu Laura bertemu dengan tatapan tajam Jack.
"Kamu gila! Aku nggak mungkin melakukan hal yang rendah seperti itu, Jack," sarkas Laura tidak terima dengan keputusan Jack.
Rahang Jack semakin mengeras, karena ini pertama kalinya Laura menaikkan volume bicara saat berhadapan dengannya. Dia menghempaskan tangan Laura, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan berlagak suci Laura! Kamu itu udah ternodai sejak lama."
Ucapan Jack begitu menohok sampai hati, Laura menunduk diam menahan sesak dalam dadanya. Kata kata itu sangat menyakitkan bagi Laura, seolah ribuan belati menusuk secara bersamaan. Jack orang yang sangat dia cintai, telah mengatakan hal yang paling menyakitkan. Walaupun yang dikatakan Jack itu adalah sebuah fakta.
Melihat Laura diam, Jack kembali bersuara. "Aku nggak mau tau, Laura. Gugurkan bayi itu atau kita selesai disini!" ucapnya penuh penekanan sambil mengangkat dagu Laura.
"Kamu jahat, Jack! Mana janji kamu dulu? Kamu bilang bakalan tanggung jawab. Lalu apa ini? Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama aku?" Laura mulai histeris menahan Jack agar tidak pergi.
"Aku cinta sama kamu Laura, tapi aku belum siap buat menikah. Masalah kantor belum selesai, papa dan mama pasti marah besar kalau tau semua ini. Aku nggak siap," jelas Jack melemah, itu memang alasan yang sesungguhnya dari dalam hatinya.
Laura menggelengkan kepalanya tidak mengerti jalan pikiran Jack. "Terus aku gimana? Kamu mikirin nggak sih kehidupan aku kedepannya gimana? Bunda aku udah tau semuanya, aku mohon sama kamu tanggung jawab," balas Laura dengan tangis tak terkendali.
"Aku tidak peduli! Itu urusan kamu, aku sudah bilang kan tinggal gugurkan saja. Lagipula itu belum tentu anak aku kan? Aku harus pergi sekarang, banyak urusan." Setelah mengatakan itu Jack segera pergi meninggalkan Laura yang masih menangis sesenggukan di taman.
"Apa maksud kamu Jack!"
"Aku mohon berhenti!"
Tidak ada jawaban dari Jack, pria itu pergi tanpa memperdulikan keadaan Laura saat ini. Hari ini adalah awal mula kehancuran seorang wanita yang sedang tertunduk dalam, dia terlalu bodoh dengan mempercayai seorang pria. Kaki Laura melemas, dia terduduk di atas rumput hijau taman. Tak lama kemudian rintikan air hujan turun dari langit, seolah langit tau jika ada seseorang yang sedang menangis sendirian.
"Kamu jahat Jack! Aku harus gimana?" Laura menangis dibawah guyuran air hujan, merasakan sesak dalam dadanya seorang diri. Rasa menyesal, takut dan benci pada dirinya sendiri, hujan menjadi saksi bisu kehancuran hidup seorang Laura Stefhanie.
Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan tidak akan membuat semuanya kembali seperti semula.
Wanita yang baru saja merasakan penyesalan kini sedang berjalan di pinggir jalan, Laura melangkah tanpa tau arah. Memikirkan kedua orang tuanya yang mungkin harus menahan malu atas perbuatannya, Laura terlalu termakan omong kosong Jack.
'Ayah. Maafin aku,' ucap Laura dalam hati.
Tinn...
"Laura!"
Terdengar teriakan dari seseorang yang familiar ditelinga Laura, dia pun menghentikan langkahnya. Menoleh kearah mobil yang baru saja berhenti. Pemilik mobil itu turun, seorang wanita seumuran dengan Laura.
"Hey! Lo kenapa? Kok nangis?" Wanita itu sontak memeluk Laura yang terlihat sangat berantakan.
"Flo, gue.. Gue--"
"Apa? Ngomong sama gue? Ada yang nyakitin lo? Gue sahabat lo, cerita aja."
"Gue hamil, Flo. Jack nggak mau tanggung jawab." Tangisan Laura kembali, memeluk erat Floren-sahabatnya.
Floren terpaku di tempatnya, menggeleng tidak percaya apa yang dikatakan sahabatnya. Air matanya ikut menggenang dalam pelupuk mata. "Jangan bercanda, Laura!" pekiknya heboh.
"Gue nggak bercanda, Flo," balas Laura lirih.
Floren hanya membeku, tidak menanggapinya lagi. Dia memeluk kembali Laura, seolah merasakan apa yang Laura rasakan. Floren sudah bersahabat dengan Laura dari kecil, jadi apapun penderitaan sahabatnya, pasti Flo ikut merasakannya.
"Sudahlah, semuanya pasti baik-baik saja kok. Kalo perlu gue bakal bakar rumah Jack setelah ini, biar dia mati sekalian," tukas Flo menggebu, berusaha menenangkan Laura.
Drrrrttt..
Tak lama kemudian, dering ponsel milik Laura terdengar. Keduanya mengurai pelukan hangat itu, Laura segera menggeser ikon hijau saat melihat nama ayahnya di layar ponsel. Laura mengambil napas dalam, sebelum menempelkan ponsel ke telinga.
"H-halo, papa. Ada apa?"
[Pulang sekarang!]
Tuttt...
Laura terkejut saat ayahnya tiba-tiba memutuskan sambungannya, nada bicara Adnan-ayahnya juga tidak seperti biasanya. Terdengar dingin dan mungkin emosi.
"Kenapa? Siapa yang telepon? Jangan-jangan Jack ya? Atau orang salah sambung?" Floren dengan jiwa penasarannya menyahut dengan berbagai pertanyaan.
Laura menghela napasnya jengah, sahabatnya sangat cerewet dan heboh. Laura menggeleng pelan lalu berkata, "Ayah yang menelpon, gue disuruh pulang."
"Yasudah, ayo pulang!"
"Tapi gue takut, Flo."
Floren tersenyum simpul, melingkarkan tangannya pada bahu Laura. Mendorong paksa sahabatnya masuk ke mobil. "Sudah nggak usah takut, gue ikut sama lo. Kalo paman Adnan ngamuk biar gue yang hadapin," ucapnya menyombongkan diri.
Alis Laura saling berkerut, menunjukkan pandangan pada Flo dengan tatapan yang tak biasa. "Emang lo berani?" tanya Laura.
Flo tersenyum memperlihatkan deretan giginya, menggeleng pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mana mungkin Flo berani melawan Adnan yang sangat buas ketika marah. Sementara Laura tanpa sadar sudut bibirnya terangkat, walaupun hatinya sedang gelisah memikirkan reaksi ayahnya jika tau semuanya.
Sepuluh menit menembus jalanan, akhirnya keduanya sampai di rumah Laura. Flo benar-benar ikut masuk kedalam bersama Laura, dia tidak mungkin membiarkan sahabatnya sendiri menghadapi ayahnya.
Plakk...
Baru saja membuka pintu rumah, Laura sudah disambut sebuah tamparan keras dari sang ayah. Adnan menatapnya dengan penuh amarah, rahangnya mengeras.
"Apa ini yang aku ajarkan sama kamu, Laura! Apa kamu mau mempermalukan keluarga kamu ini? Dimana janji kamu waktu itu?" sentak Adnan dengan napas menggebu, Adnan memang tipe orang yang keras terutama pada anaknya.
Bentakan itu membuat nyali Laura menciut, air mata Laura kembali turun disertai tangis yang memilukan. Dia menatap Monica yang kini tengah menangis juga, seolah mengatakan jika Adnan sudah tau semuanya. Flo sendiri terkejut dengan apa yang dia lihat, amarah Adnan sangat menakutkan. Bahkan Flo tidak berani mendekat.
"Daddy, aku minta maaf." Laura menunduk dalam, dia tidak punya keberanian untuk menatap sang ayah.
"Maaf kamu bilang? Kalau semua rekan bisnis ayah tau, apa kata mereka? Kamu itu memalukan Laura!" Adnan kembali bersuara dengan tegas, tidak lagi bisa menyaring kata-katanya.
"Kenapa paman malah mikirin bisnis dari pada anak kamu? Laura nggak sepenuhnya salah!" Flo yang merasa kasihan dengan Laura, akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.
"Diam kamu! Pasti kamu juga yang sudah membuat Laura jadi berani seperti ini!"
"Papa cukup! Ini salah aku. Flo nggak ada hubungannya sama sekali!" Laura mengangkat dagunya, memekik tidak terima.
"Diam Laura! Katakan sama aku. Siapa yang sudah membuat kamu hamil!" bentak Adnan dengan tegas.
Laura membeku ditempatnya, matanya menatap Monica dan Flo bergantian. Mereka berdua hanya mengangguk mengisyaratkan Laura agar memberitahu yang sebenarnya, Laura memejamkan matanya erat. "P-pacarku, papa," jawabnya lirih.
"Siapa?!"
"Bos Laura di kantor."
Tak lama setelah mengucapkan itu, Laura merasakan tangannya ditarik paksa. Siapa lagi pelakunya jika bukan Adnan, tidak tahu kemana Laura akan dibawa. Adnan dengan paksa mendorong Laura masuk mobil tanpa mengatakan sepatah kata apapun, sedangkan Laura hanya bisa pasrah dan menurut. Laura tidak punya banyak nyali untuk memberontak.
Monica dan Flo yang khawatir dengan Laura, mengikuti Adnan dengan mobil Flo.
"Flo! Laura mau dibawa kemana? Tante khawatir," tanya Monica panik.
"Tante tenang aja, duduk diam. Biar aku fokus ngejar paman Adnan, oke!"
Kembali pada Adnan yang sudah berhenti didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi, nama Gantara Group terpampang di gedung itu. Adnan segera turun, kembali menarik Laura masuk kedalam secara paksa.
"Papa! Kenapa bawa aku kesini?"
"Kamu bilang bos kamu yang sudah membuat kamu hamil, dan sekarang ayah mau bertemu dengan dia. Meminta pertanggungjawaban atas dosa kalian," jawab Adnan penuh penekanan, terus menyeret Laura layaknya peliharaan. Tidak peduli dengan semua pasang mata yang memperhatikan mereka dengan heran.
Laura diam, tidak bisa berkata-kata lagi. Memilih menangis dalam diam, entah kenapa saat ayahnya mengatakan itu hatinya terasa nyeri. Tapi Laura tidak memperdulikan itu, yang dia pikirkan hanyalah bagaimana jika ayahnya mengamuk ketika Jack menolak pertanggungjawaban.
"Beritahu saya dimana bos kalian?" tanya Adnan pada resepsionis.
"Maaf apa ada janji sebelumnya?"
"Saya nggak perlu janji! Cepat katakan!atau saya pastikan perusahaan ini hancur!" Adnan tidak bisa mengendalikan emosinya, membuat seluruh karyawan disekitar menjadikan mereka berdua pusat perhatian.
"Di ruangan sana pak."
Tanpa berkata sepatah kata apapun, Adnan membawa putrinya menuju ruangan itu. Di satu sisi Laura terus berdoa, agar Jack tidak ada di sana. Laura tidak mau keributan kembali terjadi.
Brakk...